HARMONI DI HUE CITY

27 Juli 2016


Good morning Hue City !

Setelah sholat subuh kesiangan, sekitar jam 07.00 aku keluar ke jalan yang mulai rame di sekitar Homestay. Rasanya aku menjadi sosok yg aneh & mencuri perhatian saat city walking dengan sarungan bersama beberapa bekpeker bule. Orang2 di warung kopi/pho, ojek, tricycle pada nengok ngeliatin. Jadi pusat perhatian warga lokal. Ada yg menghampiri nanya : “from Myammar? Thailand?”
No, i come from Indonesia... and I’m  Muslim.
#yang biasa menjadi tak biasa di tempat berbeda.

Lucky Breakfast 
                                                     


Umumnya para traveler singgah dan menghabiskan waktu minimal 3 hari 2 malam di Hue. Sayangnya karena terbatas waktu aku cukup 2D1N, aku menjadikan Hue sebagai titik tengah dalam rangkaian perjalanan dari Vietnam Selatan (Ho Chi Minh) menuju Vietnam Utara _ Hanoi hingga ke Sapa, ujung Utara perbatasan Vietnam dengan China.
Hue adalah kota kuburan. Tempat dimana makam para emperor Vietnam berada. Tapi jangan berpikir makam berarti hanya lahan perkuburan dengan batu nisan saja. Makam para kaisar ini bisa berbentuk banyak bangunan yang terletak di atas tanah yang luasnya berhektar-hektar!.

Ada yang unik nih di Vietnam. Di setiap pinggiran jalan, tiap beberapa meter pasti terlihat sekumpulan orang yg sedang duduk santai di kursi, sekedar ngobrol atau makan. Gak peduli waktu, pasti ada!! kayaknya orang-orang Vietnam hobby kongkow-kongkow. Sempat heran juga, apa gak kerja tu orang? kok kongkow terus...terus2an kok kongkow ? 




Untuk keliling Hue, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan seperti sewa mobil, taxi, motor, sepeda, ikut open tour atau private tour dari tour agent lokal atau hotel yang ada di pusat kota Hue. Berhubung cuma sendirian, terbatas waktu, dan ingin menentukan sendiri spot yang mau dikunjungi, aku memilih private motorbike tour dari tour agent Lucky Homestay dengan harga 200.000 VND atau IDR 120.000 untuk 4 destinasi wisata. Sekalian aku pesan tiket bus dari Hue ke Hanoi dan Hanoi ke Sa Pa. Alot juga negonya sama pemilik homestay. Aku terus menekan dan merayu Mr. Thung untuk mendapatkan harga terbaik alias termurah…heheh
Sekitar jam 08.00 waktu setempat ojek motor  (Honda Bebek) yang saya pesan semalam sudah datang menjemput. Ojek ini bukan sembarang ojek loh! Bapak yang mengendarai motornya adalah orang yang ramah dan selalu bertanya ke saya, “Are you happy?” Sebuah pertanyaan yang perlu di contoh rasanya untuk ditanyakan ke orang-orang dewasa ini. Sejujurnya selama perjalanan kami, saya selalu happy, tapi tidak mengurangi shock jantung saya, karena si bapak menyetir sambil menengok ke belakang terus dengan bertanya, “Are you happy?” Ok fine, saya teriak “I am happy! Just please drive carefully!” Saya worry berat karena di depan kami biasanya banyak bus dan mobil yang cukup kencang dan kebut-kebutan. “Relax, relax, we are happy,” seru si bapak lagi. 
Setiap kali berhenti ia membukakan dan memakaikan / mengikatkan helm. Setelah aku duduk Pak Ojek nengok kebelakang memastikan : “are you ready?” “Yeah …I’m ready”
Lets go…!

Ojeker Mr. Nguyen 

Jembatan di atas Parfum River

Tujuan pertama kami adalah menjangkau situs terjauh yaitu makam Raja Khai Dinh Tomb. Alhamdulillah cuaca cukup mendukung untuk menempuh jarak sekitar 10 km ke pinggiran kota Hue.

Melewati pasar Cho Dong Ba aku minta Mr. Nguyen  berhenti sejenak di depan pasar untuk mengambil beberapa gambar. Pasar ini laiknya pasar kebanyakan di Kota Tangerang seperti Anyar, maupun Pasar Lama. Ada rumah toko (ruko) di bagian depan, dan lapak-lapak di pelataran maupun di dalam pasar terbesar di Kota Hue ini. 




Tak jauh dari pasar kami melintasi sungai Perfume River. Dinamakan Perfume River karena pada jaman dulu setiap musim kemarau bunga-bunga yang terdapat pada pohon buah di sepanjang bantaran sungai merontok dan menyebarkan aroma wangi seperti parfum.



Sungai Parfum sepanjang 30 km ini membelah kota Hue menjadi dua bagian dan menjadi sumber kehidupan bagi sebagian manusia perahu.

  Kelompok manusia perahu telah hidup di daerah sepanjang aliran sungai selama beberapa generasi. Segala aktifitas sehari-sehari dilakukan di atas perahu dari masak, mandi, cuci dan tidur. Namun demikian kondisi di sepanjang sungai masih terjaga baik. Kami tidak melihat limbah plastik bekas pembungkus makanan, botol-botol bekas, dan sampah-sampah lainnya.

Kehidupan manusia perahu tersebut konon sangat memprihatinkan. Sumber penghidupan mereka hanyalah menambangi pasir sungai dengan perahu kecil/sampan dan menjualnya ke pabrik-pabrik yang berada di kota Hue dengan harga yang sangat murah.

Perjalanan kami lanjutkan, sekitar 7 km kami mampir untuk istirahat ngopi di tempat pembuatan dupa dan canonical hat. Coba tebak, apa itu canonical hat? Bahasa Jawanya sih caping (bahasa Indonesianya apa ya?) yang biasa dipakai pak tani itu loh.. Weleh, kami merasa dibodohi.. Yang begini sih di Indonesia banyak…tapi kenapa di Indonesia tidak dijadikan tempat wisata ya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang..


Gak ada macet di Hue

Dupa

To Be Continued, berkunjung ke Makam Raja- Raja Vietnam...




HARMONI DI HUE CITY HARMONI DI HUE CITY Reviewed by Sofyan Saleh on April 02, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!