HUE CITY Kam Tse U ?

Setelah delay 1 jam akhirnya pintu Gate 7 dibuka. Antrian panjang bingits, biasalah pintu dibuka para kamtse upeng sdh ngantri takut ditinggal apa sdh ga sabaran pengin naik kapal terbang bo..? Aku tetap duduk sampe 5 antrian terakhir. Aku masuk antrian. Pas giliranku, petugas memeriksa tiketku lalu mendelik dgn bhs Vilis-'vietnam english' artinya kira-kira : "lo salah cuy..pesawat yg ke Hue pindah ke Gate 11!! Kan udeh diumumin dr tadi keulees..."

HAAA ?! Pengumumannya pake basa Vietkong, mene kutehe Nciiih .. takut missed fligh aku langsung ngacir ambil langkah duarebu Gundala Putra Petir. Sampe di Gate 11 aku penumpang terakhir yang masuk pake tiket pake ngos-ngosan.
Huuft..gila, beta su jadi old school !

Masuk ke kabin dgn nafas tinggal sepenggal. Para citizen kam tse upeng pade ngeliatin, chit chat bahasa ngik ngok . . Aku ke bagian tengah, duduk di seat 22 D, sebelahku seat 22E-F diisi 2 perempuan (ehm..sambil perbaiki topi Indiana Jones). Seat 22 F dekat jendela seorang gadis sipit manis berkacamata. Seat 22 E, tengah diisi nenek2. Hellooo..?




                                               
Penerbangan ke Hue, Vietnam Tengah dengan Viet Jet ini adalah salah satu penerbangan paling lucu yang pernah aku alami. Kocak bener, karena isinya kebanyakan orang Vietnam yang mau balik ke daerah asalnya. Sebagian besar dari mereka (maaf) rada ndesit, hehehe. Rame bener di pesawat macam naik metromini 69 Ciledug - Blok M. Mereka foto-fotoan di dalam pesawat, ngobrol sambil teriak-teriak dan macam-macam lagilah. 

Aku segera masuk ke kabin, suasana di dalam pesawat sangat gaduh seperti suasana di pasar. Penumpangnya didominasi oleh warga lokal Vietnam yang rata-rata membawa barang bawaan ke kabin gak kira-kira seperti mau pindahan rumah saja. Heboh, rame dan berisik mewarnai penerbangan pada sore ini.

Beberapa saat ketika pesawat akan lepas landas, masih terdengar suara telepon genggam yang berbunyi dan dijawab oleh pemiliknya. Duh.....aku kira penumpang dari negara kita saja yang tidak tertib dan disiplin, ternyata masih ada warga dari negara lain yang lebih parah tingkat disiplin serta etikanya di dalam pesawat.

Trus waktu pesawat mau landing, mereka duduk sebentar, pake sabuk pengaman dan sesaat kemudian, ketika pesawat menukik ke bawah dan bersiap landing, mereka berdiri dan foto-foto dkti jendela pesawat :kereen.. sampe-sampe pramugarinya pada bingung gitu. Saat pesawat baru menyentuh tanah, mereka sudah langsung berdiri gitu, ngambil tas dan lain-lain (tentunya foto-fotoan juga,hehehe). Kocak benerlah, sampe ngakak sendiri aku. Mbak2 pembantu yg mudik ke Jawa apa begitu juga ya?




# Beda agama? Beda madzhab? Beda budaya? Beda bahasa? Bukankah hal itu yang sesungguhnya mengajarkan bahwa makin banyak perbedaan akan semakin indah? Gagap bahasa dan lost in translation disuatu negara itu sudah sangat biasa. Malahan bakalan seru! Yang seharusnya bisa kita syukuri adalah kesempatan kita untuk melihat banyak hal-hal yang jauh berbeda dari apa yang biasanya kita lihat dirumah. Isn't it fascinating to learn something from other people? Bukankah menarik belajar sesuatu dari orang lain. Kamu juga sertamerta akan belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan. 
Jujur, semenjak intensif traveling sendirian, saya tidak mudah percaya dengan isu-isu negatif yang banyak beredar di dunia maya maupun media radio/tivi karena saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan memiliki kesempatan untuk memahami lebih jauh setiap destinasi yang saya kunjungi.

Hue City, adalah kota tua yg terletak di Provinsi Thua Thien Hue, Vietnam Tengah yang masuk dalam World Heritage Site UNESCO yg menjadi salah satu destinasi trip saya di Vietnam.

Kota ini dikenal sebagai Vietnam’s Old Imperial City atau kotanya para raja sekaligus kota makam yang penuh kisah dan bangunan bersejarah peninggalan dinasti Nguyen, kerajaan yang pernah berkuasa pada abad ke-17 hingga 19 di Vietnam. Kota ini dibelah oleh Sungai Perfume yg sangat bersih dgn airnya yg kehijauan. Di sisi kiri kanan sungai tidak ada pemukiman melainkan taman bunga. Bunga dari kebun sekitaran Huế mengapung di permukaan airnya, membuat sungai ini memiliki aroma harum. 
Bagi penyuka sejarah, kota kuno kayak gini menarik banget untuk dikunjungi. Aku sendiri jatuh hati dan penasaran dengan Hue sejak pertama kali lihat ulasannya di NatGeo dan komunitas Backpacker.

Cuaca buruk hujan deras dan angin kencang membuat otoritas bandara menunda penerbangan sekitar 2 jam. Waktu menunjukkan pkl. 17.00 saat pesawat Vietjet Air yang kutumpangi dari Tan Son Nath Airport Int’l Ho Chi Minh City mulai take off .
                    
Di udara pesawat sempat mengalami turbulensi, terhentak naik kemudian turun dgn cepat, rasanya spt mobil yg jalan tanpa masuk perseneling (kosong). Jantung berdesir cepat, huuuft…!

Tahun 2015 lalu saat terbang dari Manila ke Boracay Island dengan pesawat turbo propheller kapasitas 72 penumpang, aku juga mengalami turbulensi tapi rasanya tidak mencekam seperti ini. Pilot dan crew sigap menyampaikan utk tetap tenang dan mengencangkan seat belt.


                

Karena takut mati sendirian di kampung orang aku terus berdzikir...
Subhanallah,ngerasain sensasi turbulensi yg bikin dzikir kencang mohon pertolongan Allah SWT.







Alhamdulilah…setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam akhirnya pesawat dapat melakukan landing dengan mulus di landasan pacu Phu Bai Int’l Airport. Keluar dari pesawat, aku & penumpang Vietjet lain langsung digiring menuju bus bandara ke gedung arrival. Lucunya baru sebentar bus jalan, arrival hall nya sudah sampai. Ternyata jarak pesawat dan gedung arrival lumayan dekat, kayaknya bisa dicapai dengan jalan kaki juga (kalo nggak malu jalan sendirian ya).

Karena bandara ini memang tak terlalu besar, masuk arrival hall aja bisa langsung lihat meja conveyer belt bagasi di sebelah kiri, toilet di sebelah kanan, dan pintu keluar di bagian depannya.
Perjalanan dari bandara Phu Bai ke pusat kota Hue menggunakan bus AC dg tiket 50k Vnd / Rp 30rb dgn lama perjalanan sekitar 45 menit dengan kondisi jalan yang lenggang & beraspal mulus. Setelah tiba di pusat kota, jalanan mulai terlihat ramai, didominasi dengan motor yang berlalu lalang, meski tak seramai Saigon.

Aku bilang sama driver agar diturunkan di kawasan backpacker. Aku kemudian diturunkan di depan sebuah hotel besar. Aku lalu berjalan kaki bersama Mr Truong, 56 th yg aku kenal di Gate 11 pas “Gundala” tadi lagi ngos2an. Di pesawat kami tak sempat ngobrol karena beda seat. Keluar dari dari pesawat baru kami ngobrol, naik bis bareng. Beliau org asli Hue, yg tinggal di Saigon sejak melanjutkan kuliah, menikah dan punya anak 3 org. 1 org sdg kuliah di US. Beliau mudik utk menemui Ayahnya yg sedang sakit. Kami saling bertukar cerita dgn segala keterbatasan bahasa. Mungkin dari penampilanku dia mengira aku seorang Journalist. Aku jelasin aku cuma seorang pejalan tunggal..alone!.
Saat berjalan kaki sekitar 200 m tiba2 aku merasa ada yg aneh : periksa kantong jean.. dompet tidak ada! aku mengingat ngingat, apakah kecopetan di bandara? ..blank. Atau jangan2 org yg berpenampilan white collar disamping aku ini adalah pencopet professional? Ah tidak mungkin tutur sapanya sangat halus, bhs inggrisnya sangat baik, gak Vielish-vietnam english, gak spt aku yg Tangism, tangerang english makassar.

Tiba masa tiba ingatan! : Dompet geletakin di jok bus, lupa masukin ke saku jean. Maka… sekonyong-konyong perlu Gundala lagi utk berlari secepat kilat, kembali ke titik awal berjalan kaki. Namun kami ini bukan Gundala dan Godam, kami 2 org old school, rambut sdh acak memutih, asam urat level 8, anemia bla blaa blaaa..

Akhirnya kami berjalan cepat sahaja. Yakin Allah Maha Penolong. Tak pandang agamanya apa, 2 orang old school ini saling tolong menolong. Amazing ! bis bandara masih ngetem di lokasi seberang jalan. Teman baruku inilah yg berbicara dgn sopir bus. Alhamdulillah... kata Pak Sopir yg baik hatinya dompetku ia temukan tergeletak di jok bus. Ia menyimpan dgn aman di laci, isinya masih komplit..lagi2 Allah menunjukkan pertolongan-Nya pada mahluk-Nya yg unyu2 ini. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illalah wallahu akbar wala haula walaa quwwata illah billah...




Mr. Truong Canch Cuc



Setelah mengantarku ke simpang 4 jalan Hung Vurong, aku berpisah dgn Mr Truong. Aku melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan Tran Cao Van, Phuong Phu Hoi, tidak sampai 10 menit melewati beberapa hostel dan café, akhirnya aku menemukan no 46 lokasi hostel Lucky Homestay yang aku pesan 6 bulan lalu melalui situs booking.com

Aku langsung check in dgn pemiliknya Mr. Thung kemudian masuk ke dormitory yang berisi 3 unit tempat tidur susun.
Aku meletakkan ransel, hufft..capek sekali… aku langsung merebahkan diri di ranjang. Di ranjang sebelah saya 2 org gadis bule muda sedang ngaso dgn pakaian ala kadarnya. Kami kenalan, mereka Backpacker dari Nederland. Gadis satunya mempunyai Opa asal Indonesia. Hemm..

Makan malam, saya tidak mau kehilangan kesempatan kulineran dengan langsung menyantap makanan khas Hue, yaitu mie yang disajikan dengan sayuran dan daging panggang (bun thit nuong) dipadankan dengan es kopi ala Hue. Maknyuuuss…

Hari yg sungguh melelahkan & memacu adrenalin tapi nikmat. Kenikmatan dr Allah itu beragam bentuknya. Fabiayyi ala irabbikuma tukadzibaan..

Pengeluaran :
- SimCard                                                     Rp   90.000
- Pho Ayam                                                   Rp   30.000
- Kopi Viet                                                    Rp   12.000
- Bus Bandara No 152                                    Rp    5.000
- Bus Bandara AC                                          Rp   10.000
- Tiket promo AA Jkt – HCMC                         Rp 270.000
- Tiket Vietjet HCMC –Hue                             Rp 447.000
- Lucky Homestay                                         Rp   66.000

To Be Continued, Petualangan ke Vietnam Tengah Harmoni di Hue City
HUE CITY Kam Tse U ? HUE CITY Kam Tse U ? Reviewed by Sofyan Saleh on Maret 17, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!