SIAPA BILANG SAPA?

Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.

Ngarets .... Sejak jelang magrib aku sudah di travel agent bus, katanya bus jam 20.00 berangkat. Menunggu sungguh membosankan, kalau tau begini mah aku muter2 dulu di kawasan ini.  Uuhh ! Gerimis kembali bertabur di atas Hanoi.
Penumpang2 lain mulai berdatangan, ruang tunggu agen yang sempit mulai penuh sesak dgn orang dan barang cargo. Aku kenalan dengan sepasang kekasih usia sekitar 25 th, traveller lokal dari Hanoi. Keduanya ramah sekali. Kami saling bercerita dgn bahasa Inggeris sebisa kami. English kami sama2 pas-pasan. Wuihh serunya gak karu2an. Catatan pentingnya biarpun komunikasi verbal kita terkendala, namun komunikasi antar-hati/batin, gesture kita nyambung..

Sekitar jam 21.30 bus baru datang. Penumpang dari berbagai negara dipersilakan masuk ke bus. Karena gak ada no bus jadi berebutan deh. Aku kebagian di sheat blakang  bareng traveller dari Kanada. Teman baru saya Nga Tham dan Graffity di depanku.
Bismillah...
Jam 22.00 Sleeper Bus mulai melaju membelah jalan-jalan Hanoi menuju Sapa, kota paling ujung utara mentok berbatasan dengan negeri tirai bambu RRC. Mudah2an cuaca membaik. Insya Allah…. Laa hawla wa laa quwwata, illa billah.


Sapa Terrace





29 Juli 2016
Good Morning Sa Pa !

Sa Pa merupakan sebuah kota kecil di perbatasan sebelah barat daya Vietnam, tepatnya di Provinsi Lao Cai. Jaraknya sekitar 350 km dari Hanoi atau sekitar 8 - 9 jam perjalanan naik bus atau kereta api.
Kota ini berhawa sejuk dengan suhu udara rata-rata harian hanya berkisar 15 - 18 derajat Celcius dan hampir selalu diselimuti kabut, karena terletak di lereng Gunung Fansipan yang memiliki ketinggian 1.600 mdpl. (Puncak Gunung Fansipan 3.143 meter di atas permukaan laut). Pada musim dingin, sekitar Bulan Desember - Februari, suhu udara sangat dingin, hanya berkisar 8 - 12 derajat Celcius sehingga bisa dipastikan kabut pun selalu menyelimuti kota ini. Karena cuacanya yang sering berubah-ubah, Sa Pa dikenal sebagai kota dengan empat musim dalam sehari, yaitu musim semi di pagi hari, musim panas di siang hari, musim gugur di sore hari dan musim dingin di malam hari.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam waktu setempat akhirnya Queen sleeper bus merapat ke terminal SaPa sekitar jam 05 subuh dengan cuaca yang masih kurang bersahabat. Sejak semalam hujan terus dan di sini dinginnya minta ampun. Untung sudah saya antisipasi dengan memakai kaos 3 lapis plus sarung tangan dan kaos kaki. 
Turun dari bus aku masuk ke sebuah warung pho depan terminal. Warung belum rame. Pelayan menawarkan Pho, hemm sangat menggoda..asap mengepul dari kuah pho, irisan daging babi dan pho/bihun gepeng. Aku pesan kopi saja dah! nongkrong ngopi menunggu hujan reda sambil mikirin ”jalan mana yg akan kutempuh” kayak judul lagu ya heheheh… 
Sesekali ada sopir taxi atau ojek yg menawarkan untuk mengantar ke hotel dgn bahasa yg sama sekali aku tak paham. Aku hanya menjawab “sorry…no thanks” sambil geleng kepala. Aku memang tak akan nginap di kota kecil yg indah ini, sebuah kota kecil yang tertata rapi yang memiliki danau di tengah kota. Bangunan-bangunan tua ala Perancis yg masih dipertahankan dan satu lagi yang sangat menarik, kota itu sangat bersih. Tidak tampak sampah berserakan di mana-mana. Berbeda sekali dengan negara kita. Suasananya teduh karena saat itu masih gerimis dan kabut masih menutupi kota. Udara saat itu cukup dingin padahal sudah bulan Juli dan bukan musim dingin, gugur atau semi.

Mencoba ..Hufft!
Ngeganja ?
     





Notre Dame Cathedral

Suku Black Hmong

Girl in Lake

















Hujan gerimis  tampaknya awet. Sudah habis segelas kopi khas Vietnam hujan belum juga reda. Di pojok meja ada sebuah ember kecil dgn sebatang bambu ukuran setengah meter yang digunakan pelayan warung untuk mengisap tembakau (ganja?). Saya bukan perokok tapi saya penasaran untuk mencoba sensasinya. Ternyata susah ngisapnya, lubang bambunya gede banget!.
Hari makin siang, walaupun masih gerimis, aku memutuskan  bergegas membayar kopi, membeli air mineral serta rain coat di warung kecil seharga 20.000 Dong. 
Sapa bukan kota besar. Hanya ada satu danau, satu pasar, dan satu alun-alun di tengah kota. Dengan berjalan kakipun kita bisa mengelilingi kota ini. Aku  menyusuri pertokoan dan berhenti di tour agent menyewa motor matic seharga 80.000 Dong/hari.  
Aku akan menyisiri Sapa dengan tujuan pertama adalah Silver Falls. Di depan danau Sa Pa aku mampir isi perut dulu dengan membeli sebuah Banhmi, roti baguette isi sayuran + ayam yg dipanggang. Lumayan ngenyangin dingin2 begini.
Sapa menjadi sangat terkenal karena disinilah suku-suku minoritas bertempat tinggal, terutama di kaki gunung Fanxipan atau dibukit yang tersebar di kota kecil ini. Setidaknya, terdapat lima suku/etnis minorotas yang tinggal di kaki gunung (lembah) di sekitar Sa Pa, yaitu : Etnis Black Hmong, Red Dao, Tay, Giay dan sebagian kecil Xa Pho. Kelima etnis minoritas tersebut tinggal menyebar di berbagai desa di sekitar Sapa, dengan gaya hidup yang masih tradisional. Keunikan etnis-etnis tersebut adalah busana dan aksesoris yang biasa mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari. Etnis-etnis tersebut (khususnya kaum wanita), selalu mengenakan busana dan aksesoris meriah dan berwarna-warni. Bagi kaum wanita dari Etnis Hmong dan Dao, pakaian selain sebagai penanda identitas juga menjadi simbol penting dalam relasi sosial. Keunikan busana dan aksesoris berbagai etnis minoritas di Sapa, mengundang para turis dan fotografer dari berbagai penjuru dunia untuk mengunjungi Sapa.

Aku yang datang pada hari  rabu, sempat bertemu dengan suku Black H’mong dan Red Dao yang kebetulan datang setiap hari ke pasar di kota Sapa untuk berdagang souvenir hasil kerajinan tangan mereka atau berjualan kebutuhan sehari-hari dan hasil bumi.

Thac Bac Waterfall (Silver Falls)


Aku memacu motor ke arah air terjun Thac Bac Waterfalls atau Silver Falls yang berjarak 13 km dari Sapa melalui jalan Tram Ton Pass, melewati lereng gunung Fansipan yang tertinggi di Vietnam .  Pemandangan di sepanjang jalan sangat indah dan menakjubkan. Di kiri kanan berdiri bukit-bukit tinggi dan hijau. Indah sekali. Aku pun melihat beberapa suku asli Sa pa sedang berjalan di jalan yang menanjak. Mereka mengenakan baju hitam hitam dengan aksesoris dgn warna2 yang menarik. Rupanya mereka adalah suku minoritas Black Hmong. 

Berbeda dgn di Indonesia yg menggunakan stir kanan jadi aku rada kagok mengendarai motor karena posisi kita di jalur kanan sementara dari arah berlawanan jalurnya di kiri (alias stir kiri). Makin ke atas  hujan makin kencang dan kabut makin tebal membatasi jarak pandang. Bhrrr ! dingin sekitar 12-15 derajat. Aku mulai menggigil. Gigi gemerutuk. tanganku yg menggunakan sarung tangan mulai berasa kaku. Di Km. 8 rasanya aku sudah mau menyerah. Aku mampir bertanya di sebuah rumah desa : apakah masih jauh?, tak ada yg mengerti maksudku. Mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Inggeris. Kupacu lagi motorku menerobos hujan deras dan dingin yang menembus 4 lapis pakaian yang kugunakan. Dari kejauhan mulai tampak kemilau air terjun. Semangat!.
Akhirnya sampai juga di lokasi dan alhamdulillah hujan reda. Air yang sangat jernih hingga bebatuan yang sangat menawan. Pemandangannya pun sangat cantik ..terbayar semuanya!





Vietkong
Sungguhlah saya iri sama cara Vietnam ‘menjual’ segala sumber daya yang bisa dijadikan tujuan wisata. Bahkan kebun buah-buahan di belakang rumah orang pun bisa jadi destinasi. Tentu saja, sasaran utama mereka bukanlah turis sesama-Asia-Tenggara yang kayaknya udah biasa banget lihat hal-hal ‘begituan’.
Makanya saya seneng kalo dapet travelmate ‘bule’ pas lagi jalan, soalnya mereka masih punya reaksi ‘wow-effect’ setiap ngelihat destinasi yang kadang menurut saya biasa aja. Dan kalo mereka tanya ke saya, “What do you think? Do you like it?” saya seringnya jawab, “It’s just okay. And a little bit like home.”






Dalam perjalanan ke Cat Cat Village, kenalan dgn seorg ibu dan anak gadisnya. Mereka ramah sekali dan ngajakin ngobrol tentang keindahan alam Sa Pa.
“Have ever you been to Bali?” aku bertanya dgn lagak gak mau kalah.
“Someday I’ll go to Bali”….Jiaaah dia belum pernah ke Bali.

Ngobrol lah kita tentang keindahan Bali. Seperti biasa aku menggunakan bahasa Tangish-Tangerang English.
Ibu dan anak sama cantiknya dan mereka.. orang Yahudi! Hiikss.. WOW!

seorang zionist pasti yahudi, seorang yahudi belum tentu zionist

Namanya juga kota kecil, sore aku sudah balik ke Sa Pa. Tentu tak lupa mampir ke Can Cau Market, pasar kecil yang terletak dekat perbatasan Cina. Benar benar sangat indah dengan kostum berwarna-warni etnis minoritas. Pasar yang menawarkan berbagai produk lokal yang tidak dapat ditemukan di daerah lain , serta barang-barang dari Cina .
Setelah sholat maghrib di travel agent dan mengembalikan motor, aku menggunakan sisa waktu walking in the city – jalan2 sore seputar Quang Truong Square, tepat di pusat kota dan tepat di seberang katedral Notre Dame. Tempat untuk warga lokal bermain dan bersosialisasi dengan satu sama lain. Kemudian melintasi dan mengambil beberapa gambar di tepi danau Sa Pa.


Lalu makan malam? Wadduh pusing…umumnya pake babi!
Cat Cat Village
Cau Cau Market

bersambung ...., kalo ada waktunya hihihi



SIAPA BILANG SAPA? SIAPA BILANG SAPA? Reviewed by Sofyan Saleh on April 21, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!