MASJID & KATEDRAL DI HANOI
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.
Aku harus mengefektifkan waktu sehari ini di sekitar Old Quarter. Nanti malam aku akan melanjutkan perjalanan ke Sapa, kota paling ujung Vietnam yang berbatasan dengan negara China.
Hari makin siang, alhamdulillah hujan mulai reda. Aku melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Katedral St. Joseph masih di kawasan kota tua. Aku menyusuri jalan menikmati pemandangan gedung2 heritage sentuhan Prancis penjajah Vietnam. Sesekali melirik-lirik restoran, siapa tau ketemu makanan halal. Lapar oii..sedari tadi cuma beli minum, ngemil biskuit halalan thoyyiban hahahah..
St. Joseph Cathedral
St. Joseph Cathedral ini adalah gereja neo-Gotik abad ke-19 yang dibangun dengan meniru desain Notre Dame di Paris. Gereja ini adalah tempat berkumpulnya masyarakat Katolik Roma dalam jumlah besar di Hanoi dan juga terkenal bagi wisatawan. Gereja ini dibangun ketika Prancis pertama kalinya menduduki kota itu. St. Joseph Cathedral adalah contoh arsitektur kolonial di Hanoi yang menarik perhatian.
Untuk membangun gereja itu, Prancis merobohkan pagoda Bao Thien kuno yang telah berdiri di sana selama lebih dari 800 tahun. Perbedaan antara dua tempat ibadah ini sungguh dramatis. Salib, menara, dan bagian dalam gereja bergaya neo-Gotik di St. Joseph Cathedral menunjukkan ciri khas Eropa. Dengan panjang 64,5 meter (211 kaki) dan menara lonceng setinggi 31,5 meter (103 kaki), bangunan ini berdiri dengan megahnya.
Ketika berjalan ke barat dari Danau Hoan Kiem menuju St. Joseph Cathedral, kita dapat melihat eksterior gereja yang nampak kusam itu di kejauhan. Kawasan di sekitar katedral merupakan daerah terkenal dan pepohonan, hotel, serta toko butik berderet di sepanjang jalan. Banyak pengunjung menganggap daerah ini adalah tempat jeda menyenangkan dari kota tua yang lebih sibuk.

Masjid Al Noor Hanoi
Cuaca sekitar Old French Quarter pasca hujan sangat bersahabat, adem. Jalan kaki asyeek2 aja. Meski demikian perut semakin keroncongan nih. Sudah hampir jam 3 sore. Belum makan, belum sholat pula...aihh. Aku bertanya pada beberapa orang arah menuju masjid. Alhamdulillah kayaknya tidak terlalu jauh, tapi lumayaaan...paha dan telapak kaki sudah pegal-pegal cappo !.
Begitu ketemu masjidnya wuiiiih...amazing, masjid satu-satunya di negara Komunis, senangnya bukan main, bikin dada mengharubiru, bikin mata berkaca-kaca...subhanalloooh ya Allah, sesuatu banget. Aku segera menurunkan ranselku, membuka sandal gunung dan segera mengambil wudhu. Begitu membasuh wajah..ya Allah segarnya luarbiasa! aku tak dapat menahan airmata bergulir dan mengalir bersama air wudhu tumpah di bumi Vietnam. Teringat perjuangan Nabi dan Sahabat menyebarkan Islam ke penjuru dunia.
Allahumma sholli'ala Sayyidina Muhammad wa'ala ali Sayyidina Muhammad... Allahu Akbar !
Setelah sholat Dhuhur aku ke samping masjid, di situ ada rumah yg juga berfungsi sebagai warung makan halal food. Pemiliknya asli Vietnam Muslim. Aku pesan nasi goreng. Sembari menunggu aku ngobrol dgn seorang pengunjung yg sedang makan dengn raut wajah dari Timur Tengah. Bapak itu berasal dari Maghribi dan tinggal di Hanoi.
Setelah menghabiskan nasi goreng jumbo, tak lama kemudian waktu Ashar tiba aku kembali ke masjid untuk sholat berjamaah. Ransel kutitip di restoran, aku membawa kamera utk mengambil beberapa gambar sudut masjid.
| Nasi Goreng Sapi 70 rb VND |
Sekilas jika melihat masjid yang terletak di 12 Hang Luoc Street, Hoan Kiem, Hanoi, tak menyangka bahwa bangunan ini adalah tempat ibadah umat Islam. Terlebih, posisinya yang diapit oleh bangunan-bangunan tua bergaya Eropa di kawasan Old French Quarter of Hanoi City ini tak jauh dari Galaxy Hotel dan Dong Xuan market.
Tetapi, bila kedua mata menelusuri lebih jauh, balutan aneka kaligrafi yang terpajang di beberapa titiknya akan menandai bahwa bangunan berdiri kokoh dengan menara pagoda ini, memang benar- benar masjid!. Masjid Al-Noor Hanoi di bangun oleh para pedagang dari anak benua India yang berasal dari Bombai, Karachi (Pakistan) dan Kalkuta di sekitar tahun 1930-an.
Masjid yang renovasi ulangnya diprakarsai oleh komunitas Muslim dari saudagar asal Pakistan dan India pada pascaperang antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan pada 1970-an ini, didesain tak terlalu megah. Ruangan utama pun tak terlalu besar, hanya mampu menampung kurang lebih sekitar 350 jamaah.
Luas keseluruhan masjid yang mengadopsi gaya Eropa ini berdiri di atas lahan kurang lebih sekitar 1.500 meter persegi dengan ruang utama 700 meter persegi.
Bentuk dan pola bangunan Masjid al-Noor, Hanoi, Vietnam, tidak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah besar. Menaranya juga unik. Yakni, mengusung bentuk pagoda, seperti model bangunan khas Tiongkok. Berbeda dengan menara yang lazim ditemukan, bertabur simbol bulan bintang di puncaknya.
Masjid Al-Noor merupakan satu satunya masjid di kota Hanoi. Sebagai masjid satu satunya, masjid Al-Noor menjadi sentral syiar Islam di kota Hanoi. Jamaah masjid ini campur baur dari berbagai kalangan termasuk muslim ekspatriat, pegawai kantor kedutaan dan perwakilan Negara sahabat, termasuk Indonesia.
MASJID & KATEDRAL DI HANOI
Reviewed by Sofyan Saleh
on
April 14, 2017
Rating:









Tidak ada komentar