JELAJAH CELEBE.SS 092025
Prolog – Ketika Jalan Memanggil, Tubuh Menawar
“Kadang semesta menunda langkah kita bukan
untuk membatalkan, tapi untuk mengajari cara berjalan dengan lebih bijak.”
Rencana perjalanan yang kususun sejak akhir
Juli — dengan riset destinasi dan semangat
menggelegak membuat itinerary rapijali ala travel planner sejati —
ternyata harus di-pause. Tubuh memberi sinyal protes pasca transfusi,
dan dr Jasmine, Sp.PD pun angkat alis: “Sebaiknya tunda dulu, Pak, itu
perjalanan bukan piknik, itu ekspedisi!”
Baiklah, aku nurut. Padahal bahkan playlist
jazzy tunes di ponsel sudah kusiapkan, suka tak suka #JelajahCelebeSS 2025 resmi
ditunda. Tubuh kalah tipis dari semangat, tapi niat menjelajah tetap hidup.
Padahal rencana awal sungguh menantang:
✈️ Terbang dari Jakarta ke Manado, lanjut bus AKAP 9 jam ke Gorontalo.
⛴️ Menyeberang Teluk Tomini 14 jam dgn feri menuju Luwuk Banggai.
🚐 Dari Luwuk lanjut ke Morowali dan Kendari selama 23 jam (itu bukan
perjalanan, itu ujian kesabaran tingkat wali).
🛥️ Lanjut lagi menyeberang Teluk Bone ke Syiwa, terus naik ke Palopo, dan
pulang ke Makassar.
Tapi karena kondisi badan lebih cocok untuk
perjalanan “versi low impact”, maka itinerary ku-save draft dulu —
mungkin buat jilid dua nanti > Merauke Pojok Indonesia 2026.
Aku ubah rute jadi lebih soft edition:
✈️ Jakarta – Makassar, lanjut kapal laut menuju Bau-Bau (Pulau Buton),
Raha (Pulau Muna), dan Kendari.
Total: dua malam tiga hari di laut — paket “Go Slow Go Soul”.
“Kadang, rencana hebat cukup disimpan di
hati—agar yang berjalan adalah keikhlasan, bukan ego.”
Aku memulai perjalanan ini dengan Bismillah. Jam 23.00 aku nge-Grab menuju bandara Soetta. Take off dinihari pukul 01.30 dan landing dengan smooth di bandara internasional Sultan Hasanuddin.
Sehari kemudian aku ke ticketing Pelni untuk membeli tiket KM Tilongkabila tujuan Bitung Manado dan aku akan turun di Kendari.
KM Tilongkabila angkat jangkar dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, menyeberangi birunya lautan menuju Bau-Bau, Raha, dan akhirnya Kendari. Di setiap pelabuhan, selalu ada wajah ramah yang menyambut, selalu ada aroma laut yang menegur :
“Ombak
mengajarkan, bahwa arah bisa berubah, tapi tujuan tetap sama: pulang dengan
cerita.”
Ada rasa khas setiap kali aku melangkahkan kaki ke pelabuhan: bau asin laut,
aroma solar, dan teriakan para porter yang berlomba menawarkan jasa dengan
suara sekeras toa masjid waktu subuh. Di antara hiruk-pikuk itu, aku berdiri
menatap kapal besar yang akan membawaku menyeberang ke Bau-bau.
Kapal laut, bagiku, adalah ruang meditasi paling jujur. Tak ada sinyal, tak
ada notifikasi, tak ada hiruk kota— yang ada hanya ombak, langit, dan diriku
sendiri yang mencoba berdamai dengan waktu. Kapal berlayar perlahan,
meninggalkan bayangan Makassar yang makin mengecil di cakrawala.
Malam menjelang, dan laut berubah menjadi hamparan hitam berkilau—seperti
langit yang terbalik.
Aku berbaring di geladak dengan tas sebagai bantal, menatap bintang.
Dalam diam aku merenung:
kita sering takut kehilangan arah, padahal kadang arah itu baru muncul setelah
kita berani melangkah ke tengah ketidakpastian.
Di dek atas, angin laut menampar wajah seperti sapaan keras dari sahabat
lama:
“Masih kuat, Bro?” katanya seolah menantang.
Aku hanya bisa tertawa, meneguk air mineral yang rasanya seperti air kehidupan
bagi traveler budget. Seorang ibu paruh baya dengan logat Buton yang lembut,
bertanya ke mana tujuanku.
“Ke Kendari, Bu, lanjut ke Palopo.”
Ia tertawa kecil. “Jauh sekali, Nak, punggungmu kuat?”
Aku menjawab santai, “Kalau hati kuat, punggung biasanya ikut.”
Ia tertawa makin keras—dan aku tahu, semesta sedang baik padaku.
Ombak kadang tenang, kadang menggila; persis suasana hati orang yang
ditinggal pesan ‘read’ tanpa balasan.
Tapi di situlah serunya: antara mabuk laut dan mabuk rindu rumah, mana yang
lebih berat?
Yang jelas, laut punya cara sendiri mengajarkan kesabaran. Tidur di laut itu
aneh—antara mimpi dan goyangan kapal, entah mana yang lebih nyata.
Saat fajar tiba, tampak garis daratan Sulawesi dari kejauhan.
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk: letih, bahagia, dan sedikit tak
percaya bahwa tubuh ini masih setia menanggung rindu perjalanan.
Di laut, tongkang-tongkang berlalu-lalang. Dengan mataku sendiri kulihat mereka mengangkut berton-ton bahan mentah nikel menuju Morowali, lalu entah ke mana lagi—katanya sampai ke negeri jauh. Mesin-mesin menderu, ritmenya kontras dengan debur ombak yang biasanya menenangkan.
Kabar yang kudengar di geladak kapal membuat dada menghangat sekaligus perih: pekerja tambang pribumi digaji jauh lebih kecil dibanding tenaga kerja dari luar. Sementara di darat, warga setempat menanggung gangguan lingkungan—debu, bising, dan bayang-bayang smelter. Alam yang dulu jadi penyangga hidup kini dipaksa menanggung beban berlebih.
Aku terdiam. Jika hutan terus dibabat dan lereng dibiarkan telanjang, hujan akan datang membawa air bah. Longsor bukan lagi ancaman jauh, melainkan janji yang menunggu waktu. Dan seperti biasa, rakyatlah yang paling dulu merasakan akibatnya.
Perjalanan ini mengajarkanku bahwa menjadi penjelajah bukan sekadar melihat yang indah, tetapi juga berani menatap kenyataan. Nurani ikut berjalan bersama langkah kaki.
Tiga hari dua malam di laut adalah paket lengkap: goyangan ombak, suara
mesin kapal, dan kopi sachet yang selalu habis di waktu paling tidak tepat.
Tapi justru di sanalah ketenangan hadir—laut seolah memberi ruang untuk
berdialog dengan diri sendiri. Dan begitu kaki menjejak pelabuhan Kendari, aku
tahu:
perjalanan darat panjang menanti.
Turun di Pelabuhan Bunkutoko Kendari, aku langsung
naik ojek ke Masjid Raya Al Kautsar depan Korem 143 Halu Oleo. Masjid ini
sangat besar. Aku menemui Takmir minta ijin utk menginap. Setelah itu aku
mengeksplor kota dengan naik angkot, asal naik saja tak peduli jurusan kemana
hehe..Abis Dhuhur aku naik ojek Maxim ke Masjid Agung Al Alam yang berdiri
megah di tengah teluk Kendari bergaya arsitektur yang mengingatkan Dubai.
Setelah mengambil dokumentasi eksterior dan interior masjid aku ke area kuliner
di sisi parkiran masjid mengembalikan tenaga dgn doping kopi hitam zonder gula dan
pisang goreng. Hembusan semilir angin
teluk. Amboii….ugh paten.
Aku mencari rental motor bertanya sana sini hasilnya nihil. Salah satu niatku
ke kota ini adalah untuk menelusuri jejak Ayah yang meninggal dalam perjalanan
musafirnya di desa Pamandati Konawe Selatan thn 1995. Lokasi ini cukup jauh
sekitar 3 jam naik motor dan aku tidak tau persis TKPnya di mana? Karena tak
orang ada orang yang kukenal, tak ada orang yg bisa memberi petunjuk titik
peristiwa, dengan sangat terpaksa rencana ini aku Skip. Maafkan aku Ayah…
Masjid Raya Al Kautsar
Masjid Raya Al-Kautsar di Kendari adalah masjid utama yang berfungsi sebagai pusat dakwah dan kebudayaan Islam di Sulawesi Tenggara, dibangun untuk menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) nasional ke-21 pada tahun 2006. Nama "Al-Kautsar" dipilih karena memiliki arti nikmat yang melimpah, sesuai dengan Surah ke-108 dalam Al-Quran. Masjid ini terletak di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan menjadi salah satu simbol penting keagamaan di kota tersebut. Masjid ini mampu menampung jamaah sekitar 2.000 orang.
Masjid Al Alam
Tugu Religi Sulawesi Tenggara, yang juga dikenal sebagai Tugu MTQ, adalah monumen setinggi 99 meter yang terletak di Korumba, Mandonga, Kota Kendari. Dibangun pada tahun 2004 untuk mempersiapkan Kota Kendari sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXI pada tahun 2006, tugu ini menjadi salah satu ikon kota.
Dirancang oleh arsitek Danny Pomanto, yang kemudian menjabat sebagai Wali Kota Makassar, tinggi tugu ini melambangkan 99 asmaulhusna. Struktur tugu ditopang oleh empat sudut yang merepresentasikan empat kabupaten pertama di Sulawesi Tenggara: Kendari, Buton, Muna, dan Kolaka. Empat pilar tersebut membentuk "mutiara persatuan" di puncak tugu.
Kerajaan Luwu merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang didirikan pada abad ke-10 Masehi oleh Batara Guru. Kerajaan ini awalnya berpusat di Ussu sebelum pindah ke beberapa lokasi seperti Mancapai, Kamanre, Pao, dan akhirnya Palopo pada abad ke-17. Kerajaan Luwu pernah menjadi kerajaan yang kuat dan memiliki hubungan perdagangan yang luas, terutama hasil bumi
Perjalanan overland sejauh 636 km menuju Palopo siap direalisasikan. Medan berliku, tikungan menggoda iman, aspal halus berpadu tanjakan curam. Alam Sulawesi memperlihatkan wajah terbaiknya—indah sekaligus melelahkan. Melintasi kota, desa, gunung, hutan dan lembah. Melelahkan, tapi setiap jengkalnya mengajarkan keteguhan.
Seorang traveler sejati tak hanya membawa
ransel, tapi juga membawa kesabaran, mental positif, dan keyakinan pada takdir
Sang Mahadaya. Punggung sedikit lecet, tapi hati penuh syukur.
“Perjalanan bukan untuk menemukan dunia, tapi
untuk menemukan siapa dirimu yang sesungguhnya.”
“Lelah di jalan bukan tanda lemah, tapi bukti
bahwa langkahmu sungguh nyata.”
“Kadang, perjalanan jauh justru membawamu pulang ke kenangan lama yang tak pernah benar-benar pergi.”
Aku meneguhkan mental dan kesiapan fisik untuk menempuh perjalanan darat
menuju Palopo.
Rute ini bukan main-main: 636 kilometer, durasi sekitar 20 jam, dan
katanya,
“yang kuat iman dan punggung saja yang boleh coba.” 😅
Aku naik minivan Siegra yang sudah
kelihatan seperti veteran medan tempur. Kotor berdebu karena baru datang dari
Toraja.
Sopirnya, seorang pria asal Toraja bernama Erwin, membuka obrolan dengan
kalimat klasik:
“Kalau mabuk darat, bilang saja, kita berhenti.”
Aku nyengir, “Yang mabuk kehidupan aja belum berhenti, apalagi darat, Bos.”
Seisi mobil tertawa. Alhamdulillah aku naik moda apa saja : perahu, kapal,
kuda, truk, pesawat, bajaj tak pernah mabok. Naik Onta yang belum pernah kucoba
hihihi..
Dan sejak itu suasana perjalanan jadi seperti reuni para pengembara tanpa
rencana.
Jalanan dari Kendari menuju Palopo itu seperti
ujian kesabaran versi alam. Aspalnya kadang mulus seperti janji manis di awal, kadang
berlubang seperti realitas setelahnya.
Kami melintasi pesisir pantai, lembah hijau, dan gunung-gunung batu
yang berdiri gagah seolah berkata: “Kau kecil, tapi kalau niatmu besar,
lewatlah.”
Sesekali kami berhenti ngaso di warung pinggir
jalan.
Menyeruput kopi hitam, makan pisang goreng, dan menertawakan nasib.
Di warung sederhana itu, aku sadar— tidak ada kopi seharga Rp 5.000 yang
rasanya selegendaris kopi setelah lima jam duduk di mobil sempit.
Kelelahan mendadak berubah jadi teman akrab yang sabar menemaniku menuju selatan.
Di tengah perjalanan, punggung mulai protes. Seakan
berkata, “Bro, kita ini tulang, bukan baja.”
Aku balas dalam hati, “Sabar, ini petualangan, bukan pijat refleksi.”
Dan betul saja, pemandangan sepanjang jalan seperti obat penenang alami: pohon
kelapa menari ditiup angin, langit biru tak bertepi,
dan laut yang sesekali muncul di balik bukit seolah mengedipkan mata menggoda.
Malam datang perlahan. Lampu minivan memotong
gelap seperti jarum menembus kain hitam. Aku melirik jam—baru separuh jalan.
Tapi anehnya, semakin lama di jalan, rasa lelah berubah jadi rasa syukur.
Syukur karena masih bisa bepergian sejauh ini, masih bisa berbincang dengan
orang-orang baru, dan masih punya tenaga untuk menatap langit malam yang penuh
bintang di atas pegunungan Sulawesi.
Subuh menggeliat Siegra menepi di sebuah warung depan Pantai Tamborasi. Sang driver edan istirahat tidur, aku mengambil air wudhu dan sholat subuh di bale-bale. Secangkir kopi hitam tanpa gula menjadi booster stamina utk melanjutkan perjalanan melewati Lasusua, Malili sampai dhuhur di pertigaan Tenggere. Si sopir edan kembali tidur di bale2 beratap seng yg puanasnya pool. Kok bisa yaa. Aku ke masjid utk membersihkan diri dan sholat musafir.
Magrib menjelang saat kami akhirnya tiba di Palopo. Tubuhku seperti
habis di-“remix”, tapi hatiku damai. Kota ini menyambut dengan udara sejuk dan
aroma laut yang lembut.
Aku merapat ke rumah Rahma, teman masa
kecil di Makassar. Ibunya, perempuan sepuh asal Ciwidey, masih sehat di
usia 83 tahun.
“Barakallah, Bu,” kataku sambil mencium tangan beliau.
Aku disuguhi teh panas dan pisang goreng—dan entah kenapa, rasanya seperti
pelukan masa lalu.
Tiga malam aku tinggal di Palopo. Menghidupkan
kembali kenangan lama, tertawa mengenang masa kecil, dan merasakan kembali
hangatnya silaturahmi.
Tiga hari di Palopo, ditemani Rauf adik Rahma aku diajak melihat-lihat kemajuan
kota dan kulineran.
Ditemani Rauf, adik Rahma aku mengunjungi beberapa destinasi seperti :
-
Masjid Jami Tua yang dibangun Kesultanan Luwu
tahun 1604 sehingga termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia :
-
Istana Kedatuan Luwu yang kini menjadi Museum
Sejarah Kerajaan Luwu :
- Gereja Toraja Pniel dibangun Belanda th1920 :
- Gedung RSUD Sawerigading dibangun tahun 1920 :
P Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pontap di teluk, ikan sungguh murah2 di sini :
-
- Green Kambo Resto : di atas gunung di mana kita bisa melihat kerlap kerlip kota Palopo dan pantai dibawah sana.
Suatu Ketika dalam sela obrolan sore, Rahma bilang,
“Dulu kita main Ular Tangga, dende2 / taplak meja, lempar karet, sekarang kau main jarak.”
Kami tertawa keras.
Ya, hidup memang lucu—kadang yang kita kejar tak lagi di langit, tapi kenangan
di kepala. Obrolan malam, teh manis hangat, dan tawa masa kecil jadi obat
mujarab bagi rindu yang lama tertunda.
Di kota ini, aku belajar bahwa silaturahmi
adalah rest area terbaik dalam perjalanan hidup.
✨ “Setiap perjalanan panjang adalah latihan melepas kendali.
Bukan tentang cepat sampai, tapi tentang bagaimana kita menikmati setiap detik
di jalan.”
“Terkadang, takdir datang dalam bentuk
notifikasi.”
Dari Palopo, aku lanjut ke Bone. Perjalanan
lima jam dengan minivan Avanza yang entah bagaimana, hanya berpenumpang aku
dan… satu motor trail yang dibaringkan manis di sebelahku. Rasanya seperti road
trip bareng robot tidur. 🤭 Kalau ada
lomba traveler paling absurd, mungkin aku menang kategori “berdampingan
dengan motor di minivan.” 😂
Dalam perjalanan ke Bone, kejutan datang dari
langit WhatsApp. Keluarga kirim kabar: “Di Bone itu ada ponakan, loh.”
Ternyata benar! Ia menghubungi aku. Meski ponakan sedang tugas di Pinrang, anaknya yang SMA kelas 1
masih di Bone. Maka rencana menginap di Masjid Raya Bone langsung cancel by
destiny. Malam itu aku tidur di rumah keluarga sendiri. Aku dijamu makan dgn menu spesial — bonus tak terduga
dari Allah yang selalu pandai menyusun kejutan. Allah memang punya cara lucu
menulis skenario perjalanan: selalu acak, tapi selalu indah..
Bersama Ayman aku ditemani ke
beberapa destinasi. Ayman menjadi travel guide termuda di dunia heheh.
Dalam dua hari itu aku mengunjungi kawasan yg terjangkau saja,:
- Istana Kerajaan yang habis terbakar dan menyisakan sepotong ruang depan. Sayangnya sampai kini belum dibangun kembali
- Monumen Badik, Monumen Kilometer Nol Bone, Monumen JK, Monumen Arung Palakka
- Masjid Raya Bone
- Perajin Songko Recca dan aku dihadiahi sebuah songko recca dari Ayahnya Ayman.
Barakallah..tarimakasi jaidudu Ananda Abdillah Khomeini.
Tugu JK Tanjung Palette
Bab 4 –
Menuju Makassar: Panorama dan Perenungan
“Semesta tak pernah pelit pada mereka yang mau
berjalan.”
Usai menjelajah Bone, aku menutup etape
perjalanan ini menuju Makassar dengan Toyota Hi-Ace berpenumpang 5 orang yang
melaju lembut di jalur penuh keindahan. Gunung, lembah, dan laut berbaris rapi
seolah memberi standing ovation untuk perjalanan panjang ini. Lima jam
terasa singkat. Tiba di Makassar dengan rasa syukur—bukan hanya karena selamat,
tapi karena setiap belokan menghadirkan pelajaran, setiap lelah menghadirkan
nikmat, dan setiap perubahan rencana ternyata membawa kejutan yang lebih indah
dari rencana awal.
Langit Sulawesi hari itu berwarna biru
pucat—tenang, seperti hati yang tahu ia sedang menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan silih berganti:
laut sesekali muncul di sela pepohonan, sawah menguning, bukit berbaris gagah.
Aku duduk di kursi dekat jendela, tersenyum kecil sambil bergumam,
“Sebentar lagi aku sampai… di kota di mana tangisku dulu pertama kali didengar
dunia.”
Begitu papan bertuliskan Selamat Datang di Kota Makassar muncul,
ada sensasi hangat yang sulit dijelaskan.
Rasanya seperti kembali ke pelukan seseorang yang dulu pernah kau rindukan
tanpa kata.
Makassar—kota yang dulu kutinggalkan, kini menyambutku seperti sahabat
lama.
Langitnya tetap terang, lautnya tetap biru, dan orang-orangnya tetap bicara
keras tapi berhati lembut.
Aku menjejakkan kaki di pelataran kota dan berbisik dalam hati,
“Assalamu’alaikum, kampung halaman.”
Tiba di Makassar, aku seperti kembali ke
halaman pertama hidupku. Kota tempat aku dilahirkan — di rumah tua belakang RS Tentara
Pelamonia — kini tampak jauh lebih ramai dan modern. Dulu, kawasan ini hanya
berisi barisan rumah dinas militer, lapangan bola dengan deretan pepohonan asam
yang tinggi dan rindang serta rumah jabatan Gubernur dan Pangdam. Sekarang
berdiri megah hotel-hotel, Balai Prajurit Convention Hall prestisius, Monumen
Pembebasan Irian Barat dan penampakan RS Tentara yang semakin luas dan
mentereng.
Langkah pertamaku tertuju ke tempat bersejarah. Bersama teman geng sekolah dulu aku ziarah ke Makam Pangeran Diponegoro, pahlawan yang wafat jauh dari tanah Jawa tapi dimuliakan di tanah Sulawesi. Di sana aku bertemu Raden Hamzah Diponegoro, keturunan generasi kelima sang Pangeran sekaligus juru kunci pemakaman keluarga. Kami berbincang seru di teras tamu makam.
Kami berdialog tentang sejarah, perjuangan, dan filosofi hidup sang pahlawan, tentang film Diponegoro versi AI, tentang pameran 200 tahun Perang Jawa di Museum Galleri Nasional yang aku saksikan bulan lalu—pembicaraan yang membuat kopi di tanganku terasa lebih bermakna. Dari beliau aku belajar bahwa perjuangan sejati tak pernah pensiun—hanya berganti bentuk perjuangan, dan arti pengasingan.
Aku hanya bisa mengangguk, sambil menahan getar di dada.
“Kadang, kita memang harus pergi jauh untuk memahami arti rumah,” katanya.
Aku tersenyum — karena kalimat itu seperti menampar lembut seluruh perjalananku.
Berikutnya aku bergerak ke pesisir Pantai menuju
benteng peninggalan bersejarah yang menjadi ikon kota ini . Awalnya,
benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi'
Kallonna, sebagai benteng pertahanan Kesultanan Gowa-Tallo. Nama aslinya
adalah Benteng Ujung Pandang,
sesuai dengan lokasi tempat benteng ini berdiri.
Benteng ini terbuat dari tanah liat pada awal
pembangunannya, tetapi kemudian Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin,
memperkuatnya dengan batu padas yang berasal dari Pegunungan Karst di sekitar
Maros. Benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai pusat pertahanan dan simbol
kekuatan Kesultanan Gowa yang saat itu merupakan salah satu kerajaan maritim
terbesar di Nusantara.
Pada tahun 1667, setelah Perjanjian Bongaya, benteng
ini jatuh ke tangan Belanda. Cornelis Speelman, seorang pemimpin
Belanda, memerintahkan renovasi benteng dan mengganti namanya menjadi Fort
Rotterdam, sebagai penghormatan kepada kota kelahirannya di Belanda.
Benteng ini kemudian menjadi pusat administrasi dan pertahanan Belanda di
kawasan timur Nusantara.
Benteng Rotterdam memiliki desain arsitektur berbentuk menyerupai
penyu yang sedang merangkak ke laut. Karenanya masyarakat Makassar menyebut
juga namanya Benteng Pannyua. Bentuk ini melambangkan filosofi Kesultanan Gowa
sebagai kekuatan yang berakar di darat tetapi memiliki dominasi di lautan.
Kini, benteng ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting di
Makassar, menyimpan banyak artefak budaya di Museum La Galigo yang berlokasi di dalam kompleksnya.
Setelah itu, aku menuntaskan rasa ingin tahu
di Center Point of Indonesia (CPI). Kawasan ini ibarat wajah baru
Makassar: tertata rapi, dihiasi sculpture ikan dan koloni kuda, berdampingan
dengan Masjid 99 Kubah yang berdiri megah di tepi laut, kubah berkilau diterpa
mentari sore.
Di sini, sore menjelma jadi panggung warna: langit jingga, laut berkilau, dan deretan kafe modern tempat orang-orang berburu sunset, berolahraga sekaligus melepas kepenatan hidup dan tentu saja jajan….
Pantai Losari kini juga tampil ekspresif—lebih lebar, lebih hidup. Suara debur ombaknya bersahut dengan obrolan anak muda dan aroma kuliner yang menggoda iman.
Di tepi pantai, orang-orang berfoto, komunitas bersepeda, komunitas motobike free style, ada juga yang hanya duduk diam menatap cakrawala. Aku ikut duduk memesan kopi hitam di kafe booth dan menatap matahari yang perlahan menenggelamkan dirinya di ufuk barat, yang menampilkan drama manusia dari berbagai latar—dari mahasiswa idealis sampai pensiunan penuh cerita.
Di sana, sambil menyeruput kopi hitam, aku menulis catatan ini.
Tentang perjalanan yang melelahkan tapi menyembuhkan,
tentang pertemuan yang singkat tapi menghidupkan.
Di belakangku berdiri patung-patung ikan dan kuda, di depanku laut yang luas dan di dalam dadaku, rasa syukur yang tak bisa ditakar.
Makassar kini tampak lebih modern, lebih hidup—tapi di balik segala perubahan itu, aku tetap bisa menemukan aroma imajinasi masa
kecilku:
suara becak, tawa riang teman kecilku saat kami berenang di bibir pantai (sekarang dilarang), dan wangi coto dari warung sebelah.
Dan tentu, Makassar tanpa kuliner adalah dosa
kecil bagi traveler sejati.
Aku menunaikan “ibadah wajib” itu dengan khusyuk:
☕ Warkop demi warkop kutelusuri : Azzahra, Dottoro, Phoe Nam, dll
🍲 Coto, Sop Saudara, Sop Ubi, Sop Kepala Ikan kulahap penuh kenangan,
🍌 Mie Titi, Pisang Epek jadi penutup manis,
🥣 Jalangkote, Otak2, Ikan Bakar, Kapurung, Pallubasa, Bassang, Nyuknyang + Burasa jadi alasan untuk menunda diet.
—semuanya kudatangi dengan niat tulus: “demi
riset budaya kuliner.” 😋
Dua puluh dua hari berlalu sejak awal perjalanan. Banyak wajah, tempat, dan kisah menumpuk di memori. Dari udara ke darat lalu ke laut. Dari tawa ke letih, dari masjid ke masjid.
Kini tiba saatnya kembali ke Jakarta—kembali ke keluarga tersayang di Graha
Raya.
Tiket pesawat di tangan, tapi hati masih ingin menunda pulang barang sehari.
Namun waktu tak bisa diajak kompromi.
Aku menatap jendela pesawat saat burung besi itu melaju di landasan pacu Bandara Internasional Hasanuddin.
Langit Makassar biru cerah, dan aku berbisik pelan:
“Terima kasih, kampung halaman. Aku pergi lagi, tapi tidak pernah benar-benar
meninggalkanmu.”
Di kursi sempit itu, aku sadar: perjalanan bukan soal sejauh apa kau melangkah,
tapi sejauh mana kau bisa membawa pulang cerita.
Dan aku pulang dengan banyak sekali cerita—
tentang laut, gunung, tawa, dan doa. Hati berbunga, badan letih, tapi jiwa terasa penuh.
Perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak, tapi menempuh diri sendiri.
Semoga Allah SWT memberi umur panjang dan tenaga yang cukup untuk melanjutkan langkah-langkah berikutnya — menuju jalan-jalan baru, kisah baru, dan kejutan-kejutan-Nya yang tak pernah habis.
Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.
Epilog – Filsafat di Jalan Panjang
Perjalanan panjang selalu punya dua sisi: yang
tampak di luar dan yang tumbuh di dalam.
Yang tampak di luar—laut biru, gunung hijau, jalan berkelok, dan wajah-wajah
baru yang tersenyum tanpa pamrih.
Yang tumbuh di dalam—rasa syukur, kesabaran, serta kemampuan untuk tertawa di
tengah kelelahan dan kejutan-kejutan kecil yang kadang absurd tapi indah.
Aku belajar, bahwa tubuh bisa lelah, tapi
semangat jangan pernah pensiun.
Karena bagi seorang Avonturir, setiap perjalanan adalah doa yang bergerak. 🌅
“Perjalanan sejati bukan tentang sejauh apa
kaki melangkah, tapi sejauh mana hati bertumbuh.”
"Dari Sabang sampai Merauke..
Berjajar pulau-pulau.."
#IndonesiaCintakuTakSebatasKata
#PergiJauhJanganLupaPulang
#MenolakMenuaTanpaCerita
#AvonturirAnggrekJingga21
#FREEPALESTINE
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Oktober 20, 2025
Rating:


.jpg)
.jpeg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar