ROAD TO MECCA DIARY, EPISODE 2

Berikut lanjutan story perjalanan spiritualku menunaikan ibadah haji berlabel "Haji Pejalan Mandiri" episode ke dua saat di Mekkah Al Munawaroh melaksanakan puncak haji di Armuzna : Arafah - Muzdalifah - Mina. Saya tulis dgn gaya narasi reflektif, humanis dan jenaka. Ada  penerbit menawarkan untuk diterbitkan menjadi buku. Kubilang Sudah tapi Belum hheheh.. Semoga diary ini tidak menghibur, silakan hina hujat dan kata-katain. Bersamamu aku siap salah....  Peace & Love!💜


   



 Umrah Sunnah Ketiga untuk Kakek


Hari ini kutunaikan umrah sunnah yang ketiga. Umrah ini khusus aku niatkan untuk almarhum kakekku, Daeng Paharu—beliau adalah ayah dari Ayahku. Aku memang tak pernah bertemu dengannya, karena saat aku lahir, beliau telah lama tiada. Namun namanya selalu hadir dalam silsilah keluarga, dan hari ini, di tanah suci ini, aku ingin menghadiahkan doa dan amal umrah ini untuknya. Semoga arwah beliau diberi ketenangan di sisi Allah, dan semoga doa yang kupanjatkan benar-benar sampai dan menjadi cahaya baginya di alam sana.

Selepas salat Ashar, aku mengambil miqat di Masjid Tanim/Aisha. Dari sana, aku melanjutkan ke Masjidil Haram untuk memulai rangkaian umrah.

Kondisi Baitullah sudah sangat padat. Aku merasakan bahwa gelombang jemaah haji kedua telah banyak yang masuk Makkah, sehingga suasana semakin ramai dan padat. Meski begitu, langkahku tetap mantap melangkah, dengan niat yang terus kukukuhkan dalam hati.

Aku mulai tawaf dengan niat umrah untuk almarhum kakek. Tujuh putaran mengelilingi Ka'bah, kuhitung perlahan-lahan. Langkah demi langkah terasa begitu bermakna. Saat putaran terakhir selesai, waktu Maghrib telah masuk. Aku pun berhenti sejenak untuk salat, kemudian melanjutkan ke sa’i.

Sa’i kali ini juga penuh dengan penghayatan. Antara Shafa dan Marwah, aku menapaki tujuh kali lintasan—seolah membayangkan perjuangan Siti Hajar mencari air untuk anaknya, Ismail. Dan ketika langkah terakhir selesai, adzan Isya pun berkumandang. Kurasakan betul bahwa waktuku di Tanah Haram ini begitu terisi penuh, tak ada yang sia-sia. 




    
   


Bukit Shafa


Selesai semuanya, aku pulang kembali ke hotel menumpang bus nomor 1 dari terminal Shib Amir. Badan lelah, tapi hati terasa penuh syukur. Satu lagi ikhtiar untuk berbakti kepada leluhur telah kutunaikan hari ini.

Mekkah, Rabu, 21 Mei 2025


Persiapan Armuzna, Rehat di Hotel

Hari ini aku memutuskan untuk beristirahat penuh di hotel. Tidak ada kegiatan luar, hanya menenangkan diri dan menjaga stamina. Seusai salat Dzuhur di masjid hotel, aku mengikuti pengarahan dari tim PPHI Kemenag Tangsel. Materinya sangat penting: penjelasan teknis mengenai pelaksanaan rangkaian puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Petugas menjelaskan secara rinci urutan kegiatan, termasuk hal-hal yang harus dibawa dalam ransel saat perjalanan nanti. Intinya, jangan membawa barang yang tidak perlu. Ransel harus ringan karena akan dibawa sambil berjalan kaki dari Mina menuju Aqobah untuk melontar jumrah. Aku mencatat dengan seksama agar tidak ada yang terlewat.




Sebenarnya aku sempat berencana untuk ke Pasar Kakiyah selepas Magrib, tapi rencana itu batal. Di masjidnya hotel diadakan tahlilan atas wafatnya salah satu jemaah dari kafilah Jakarta Barat. Aku memilih untuk hadir dan mendoakan almarhum. Suasana menjadi hening dan khidmat, mengingatkan bahwa dalam ibadah suci ini, segala kemungkinan bisa terjadi.

Hari ini kuisi dengan refleksi dan persiapan batin. Waktu menuju puncak haji semakin dekat.

Mekkah, Kamis 22 Mei 2025


Jumat di Tengah Teriknya Kota Makkah

Hari ini sebenarnya aku telah merencanakan untuk melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram. Membayangkan bisa kembali meresapi suasana Jumat di depan Ka'bah adalah hal yang amat kurindukan. Namun, rencana tak berjalan sesuai harapan.

Sejak pagi, beredar kabar bahwa bus shalawat dihentikan operasionalnya mulai pukul 07.00. Rupanya, kepadatan dan kemacetan di sekitar Masjidil Haram sudah luar biasa. Gelombang jemaah haji yang terus berdatangan membuat jalanan sekitar penuh sesak. Aku pun mengurungkan niat untuk ke Masjidil Haram—daripada memaksakan diri, lebih baik cari alternatif.

Menjelang pukul 11 siang, aku bersiap berangkat menuju masjid terdekat dari hotel, berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter. Cuaca terasa sangat terik—sekitar 41°C—dan sengatan panasnya benar-benar menggigit kulit. Namun, langkah tetap kuteruskan.




Sesampainya di masjid Sheik Abdullah bin Humaid, suasana sangat padat sampai luber ke jalan. Haddeuh di jalan puanase poll. Makanya meski sudah penuh aku memaksakan diri masuk meniti melangkahi jamaah sampai ke tengah. Alhamdulillah dpt space nyempil. Beruntungnya punya body slim diantara orang2 Turki guede heheh..
Imam memimpin salat Jumat dengan bacaan yang sangat singkat—Surat Al-‘Ashr dan Al-Kautsar. Aku tersenyum kecil, tak bisa menahan rasa senang dan bersyukur karena khutbah dan salat berjalan singkat namun tetap khusyuk. Di tengah cuaca panas seperti ini, benar-benar menjadi nikmat tersendiri.

Saat aku kembali ke hotel, jamaah yang memilih salat Jumat di lantai 3 hotel juga baru saja bubar. Kami sempat saling sapa dan berbagi cerita tentang pengalaman Jumat hari ini.



       


Setelah itu, aku makan siang di kamar lalu turun ke lobby hotel menulis catatan di sofa empuk sesekali ngobrol dan canda dgn Inggeris tarzan sama Mbak Abeer petugas  dari Syarikah. Hari ini sederhana, tapi tetap menyimpan kesyukuran. Allah beri kemudahan di balik perubahan rencana.


Tanah Haram, Jumat, 23 Mei 2025


Window Shopping di Sekitar Zamzam Tower

Hari ini tidak ada kegiatan khusus. Setelah Ashar, sekitar pukul 16.00, aku keluar menuju area sekitar Zamzam Tower dan Al Shofwa Suasana cukup ramai, para jamaah dari berbagai negara terlihat sibuk mencari cinderamata Saudia.

Aku menyusuri beberapa toko yang menjual beragam barang khas Makkah – mulai dari kurma, cokelat, sajadah, tasbih, minyak wangi, toys hingga perhiasan emas. Banyak pilihan, tinggal pintar-pintar menawar dan memilih yang cocok di kantong penjelajah proletar
.


    


    





Sholat maghrib dan isya kulaksanakan di pelataran Shafwa Tower bersama ratusan orang yang tidak dapat masuk ke masjid karena full. 

Menjelang pukul 21.00, aku kembali ke hotel dengan kantong belanja yang terisi cukuplah..
Alhamdulillah, sebagian cinderamata sudah terkumpul hari ini.

Mekkah, Jumat 23 Mei 2025



Hari Istirahat dan Silaturahmi

Seharian ini aku memilih untuk beristirahat penuh di hotel. Tubuh rasanya perlu rehat setelah beberapa hari ke luar cukup intens. Waktu banyak kuhabiskan di kamar: tidur, membaca, dan ke lobby menulis catatan harian. Sesekali dibagi coklat sama Abeer yg diletakkan di toples kecil di mejanya.
Selepas Maghrib, aku berjalan kaki sekitar 15 menit menuju hotel tempat menginap teman sekantor, Mbak Santi dan suaminya, lalu  Bapak Mustiko & Pak Kholis – rekan dari ormas IWM yang juga tergabung dalam rombongan haji dari Tangerang Kota. Kami bersilaturahmi santai sambil ngopi bersama di lobi hotel. Obrolan ringan tapi hangat, menambah semangat dan rasa syukur atas kesempatan berhaji ini.


   

 

Dalam perjalanan pulang ke hotel, aku sempat mampir ke  AlSharif Bakery Sweet yang terkenal dengan roti fresh from the oven, melayani 24 jam. Aroma rotinya menggoda, dan kuputuskan membeli beberapa pieces untuk camilan malam, berbagi teman sekamar dan temen kopi besok pagi.
Hari ini ditutup dengan tenang dan manis – dalam arti harfiah dan makna.

Mekkah, Sabtu, 24 Mei 2025



Ikhtiar Menuju Hajar Aswad dan Sholat di Bawah Terik Mentari

Pagi ini, pukul 10.00, aku berangkat ke Masjidil Haram mengenakan pakaian ihram. Meski terik 40°C niatku kuat: ingin melakukan tawaf sunnah, sholat Dzuhur tepat di depan Ka'bah, dan yang paling utama, mencium Hajar Aswad.
Setibanya di Terminal Bus Shib Amir, aku tersentak sadar — aku lupa membawa topi penahan panas yg sering kubasahi dan,..yang paling penting, aku lupa kartu identitas Nusk Card. Haddeuh ! Rasa khawatir langsung menyergap, mengingat ketatnya pemeriksaan petugas (Askar) di beberapa titik. Terbersit pikiran untuk kembali saja ke hotel. Tapi sayang rasanya, kesempatan ini sudah di depan mata. Aku memutuskan tetap maju. 
Bismillah. Semoga Allah mudahkan.


      
Nusk Card dan Bucket Hat


Alhamdulillah, aku berhasil masuk melenggang melewati beberapa ring askar yg tumben gak memeriksaku, apa pandangannya dihalangi malaikat? heheh aku langsung menuju area tawaf. Dalam putaran ketiga, aku mencoba mendekat dari arah Rukun Yamani, perlahan mengikuti arus menuju titik Hajar Aswad. 
Kerumunan sangat padat. Aku sempat terpental ke luar beberapa kali. Dalam upaya itu, aku hanya berhasil menyentuh dinding Ka'bah dan kemudian menepi ke Hijr Ismail (yang sempat lupa namanya tadi), tempat aku bisa berdoa dengan lebih tenang.

Di putaran keempat, aku kembali mencoba. Suasana makin padat. Tubuhku yang kurus terombang-ambing, seolah dihantam gelombang besar. Aku tidak menyerah. Aku kembali merangsek ke dalam, dihimpit dan menghimpit, berharap bisa lebih dekat. Tapi lagi-lagi, aku terpental keluar. Ommaleee....!

    
    
 

https://www.instagram.com/reel/DKSiohptJbz/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==


Untuk ketiga kalinya aku gagal, Arus manusia makin bergelombang dan kali ini aku pasrah lagi. Aku amankan diriku dan mundur ke pinggir lingkaran thawaf.

Aku berteduh sejenak dari terik matahari yang mencapai 42°C. Kuluangkan waktu untuk sholat sunnah dan tafakur, menunggu azan Dzuhur. Saat azan berkumandang, aku maju ke shaf kelima, tepat di depan Ka'bah. Inilah yang sejak tadi kuimpikan: merasakan sholat Dzuhur di bawah langit terbuka, langsung disiram cahaya matahari di tanah suci.

Selesai sholat, aku berdoa panjang, menyebut satu per satu nama keluarga dan sahabat. Setelah itu aku mundur sedikit, mengambil tempat untuk sholat sunnah dan melanjutkan doa-doa pribadi.

Setelah selesai perlahan aku keluar dari zona Masjidil Haram. Tanpa kaca mata hitam yang tadi pecah dan tanpa topi penahan panas, aku melangkah menuju terminal bus. Panas menyengat luar biasa, namun air zamzam yang kucipratkan ke wajah dan kepala membawa kesegaran yang menyejukkan.



https://www.youtube.com/shorts/T31fDmqUyC8


Aku bersyukur. Meski belum berhasil mencium Hajar Aswad, aku sudah berikhtiar sepenuh hati, dan Allah memberiku kesempatan luar biasa: bisa sholat tepat di depan Ka'bah, langsung di bawah terik mentari. 
Alhamdulillah.

Mekkah, Ahad 25 Mei 2025


Ziarah ke Jannatul Ma’la dan Masjid Jin

Pagi ini aku memulai hari dengan minum susu kambing selepas Subuh. Sejujurnya, aku tidak suka susu. Tapi dalam perjalanan ibadah yang panjang dan melelahkan ini, aku mencoba memaksakan diri demi menjaga daya tahan tubuh. Sarapanku pagi ini cukup lengkap: ayam goreng, kentang, dan roti Arab (jatah Kemenag). 

Pukul 06.20 aku meninggalkan hotel seorang diri menuju Terminal Shib Amir dengan bus. Di bus aku bertemu rombongan2 kecil dari berbagai kafilah. Cuma aku yang alone. Kenapa gak ngajak teman? aku emang lbh suka bermain solo. Ngider sono sini tanpa beban. Freestyle. Emang rada2 yee type ISFP (MBTI Test).

Nah sesuai rencana semalam, aku ingin berziarah ke Jannatul Ma’la, kompleks pemakaman tertua di Mekkah, yang sudah ada bahkan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di sana dimakamkan para tokoh penting dalam sejarah Islam. Setelah itu, aku juga berniat singgah ziarah ke Masjid Jin untuk salat sunnah siapa tau bisa kenalan sama salah satu jin Muslim di sana. 

Dari terminal Shib Amir, aku melanjutkan perjalanan ke Jannatul Ma'la dengan berjalan kaki— “jappa paruntang.” Karena kuota internetku habis, aku tidak bisa menggunakan Google Maps. Tapi aku percaya diri. Aku kembali menggunakan metode lama kaum Hippies: bertanya kepada orang-orang lokal. Seperti kata pepatah: "malu bertanya, sesat... malu-maluin!" Hehe…

Setibanya di kompleks makam, aku langsung menuju tujuan. Seorang petugas kebersihan membantuku menunjukkan lokasi-lokasi makam para tokoh yang ingin kuziarahi. Tanpa bantuannya, aku pasti akan kebingungan. Semua makam di sana tak memiliki nisan bernama, hanya tumpukan batu sebagai penanda.

Di depan kompleks makam Ibunda Sayyidah Khadijah, aku bertemu kafilah Iran dan seorang Mullah yg memimpin doa. Aku mengikuti meski tak mengerti bahasanya tapi aku tau maksudnya pasti baik. Setelah mereka pergi berpindah ke makam lain, aku tetap duduk dan melamun bahasa kerennya meditasi. Benakku seperti terbawa dalam lorong waktu, ke zaman awal dakwah Rasulullah SAW. Saat beliau dicaci, dikatakan gila, diludahi, bahkan menjadi target pembunuhan oleh kaum Quraisy—namun tetap tegar dan sabar menjalankan amanah risalah. Kurasakan kehangatan cairan bergulir di kelopak mataku yang tak mampu kubendung.
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa ala ali Muhammad.


 

            


           
Makam Sayyidah Khadijah


Beberapa makam yang kuziarahi hari ini:

1. Sayyidah Khadijah RA – istri tercinta Rasulullah, pendukung pertama dalam dakwahnya. Beliau wafat di masa awal Islam, tahun ke-10 kenabian, yang disebut Tahun Kesedihan (Aamul Huzn).

2. Abdul Muthalib – kakek Nabi Muhammad, pemimpin Quraisy yang sangat dihormati.

3. Asma binti Abu Bakar – wanita pemberani yang turut membantu perjuangan Rasul saat hijrah.

4. Imam Nawawi Al-Bantani – ulama besar asal Banten yang berdakwah dan mengajar di Mekkah.

5. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani – ulama karismatik Mekkah, tokoh spiritual yang banyak dihormati.

6. Syekh Yasin Padang – ulama asal Sumatera Barat, ahli sanad yang masyhur.

7. KH. Maemun Zubair – ulama kharismatik dari Sarang, wafat tahun 2019 dan dimakamkan di sini.

Usai ziarah, aku melanjutkan perjalanan ke Masjid Jin, yang hanya berjarak sepelemparan batu dari makam Ma’la. Sayangnya, masjid itu ditutup untuk umum diluar waktu sholat dan tampak area publiknya sangat tidak memadai. Terasnya hanya sekitar 3-4 meteran, kurang nyaman. Aku pun tidak bisa melaksanakan salat sunnah ataupun membaca surat Al-Jin seperti yang telah kurencanakan. Aku harus balik di hari mendatang.

Padahal, Masjid Jin menyimpan sejarah penting. Di sinilah, sekelompok jin mendengarkan Rasulullah membaca Al-Qur’an dan akhirnya memeluk Islam. Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin. Tempat ini sejatinya saksi dari luasnya dakwah Rasul, tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada bangsa jin.

https://www.instagram.com/reel/DKShc9XN4M0/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==


          


Hari ini sungguh penuh kesan. Aku merasa seolah dibawa menyusuri jejak perjuangan dan pengorbanan luar biasa dari Rasulullah dan para sahabat. Doa-doaku kupanjatkan untuk mereka semua—semoga Allah SWT mengangkat derajat mereka dan melimpahkan rahmat-Nya. Aamiin.

Refleksi hari ini:

Sayang sekali, aku merasa tempat-tempat bersejarah ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah Saudi. Banyak yang tampak urang terawat, minim penjelasan, dan kurang menarik dari sisi presentasi.  Apakah paham Wahabi dari rezim Saudi mempengaruhi? Padahal nilai sejarah dan spiritualnya sangat besar dan monumental. Semoga di masa mendatang, situs-situs ini bisa dikelola dengan lebih baik agar generasi Muslim dari seluruh dunia dapat mengambil pelajaran dan inspirasi darinya.


Mekkah, Selasa 26 Mei 2025


Gedung Baru Masjidil Haram

Di tengah teriknya mentari dengan suhu sekitar 40°C, tepat pukul 14.15 waktu setempat, aku melangkah sorangan wae keluar menuju halte bus yang akan membawaku ke Terminal Shib Amir. Meski panas menyengat, semangatku tak surut karena hari ini telah kurencanakan untuk menunaikan salat Asma'i : Ashar, Magrib, dan Isya  di Masjidil Haram.

Kaki ini kulangkahkan menyusuri rute yang biasa kulalui. Namun, tampaknya hari ini ada perubahan arah. Beberapa petugas tampak mengatur arus jemaah, mengarahkan kami ke jalur berbeda dari biasanya. Rupanya ada pergerakan pengerjaan proyek perluasan Masjidil Haram yang tengah berlangsung dengan area kerja mencapai 1,5 km. Awalnya sempat bingung, tetapi tak kusangka inilah yang menjadi keberuntunganku hari ini.

Gedung baru Masjidil Haram, yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan, ternyata sudah mulai difungsikan dan sebagian area ibadahnya telah dibuka untuk umum. Aku termasuk di antara para jemaah yang diarahkan masuk ke dalamnya.

Subhanallah... gedung tambahan ini benar-benar megah. Pintu-pintunya tinggi menjulang, besar dan kokoh, seperti gerbang kerajaan. Lampu-lampu gantung berwarna emas terpasang berjajar rapi, menambah keanggunan ruang dalam. Sinar matahari yang menembus celah roster/kerawang  jendela menciptakan efek cahaya luar biasa—pantulan pada dinding dan lantai marmer tampak berpendar, membentuk nuansa warna-warni pelangi. Keindahan ini membuatku tertegun beberapa saat. Sungguh menakjubkan!


 




Nonton yuk video shortnya : https://www.youtube.com/shorts/cG1JiLlKvko

https://www.youtube.com/shorts/L-EjQpDJPy4

Bangunan perluasan ini sungguh memukau. Perpaduan antara teknologi modern dan arsitektur Islam yang anggun terasa di setiap sudutnya. Kubah-kubah besar, baik yang bergerak maupun tetap, berdiri gagah. Pintu dan jendela kaca mewah dihiasi ratusan kristal, memantulkan cahaya dengan elegan. Kisi-kisi logam berhias  menambah sentuhan klasik yang mencerminkan semangat artistik Islam.

Dinding dalamnya pun tak kalah menggetarkan jiwa. Prasasti ayat-ayat Al-Qur’an membentang sepanjang 2.700 meter persegi, menciptakan ruang spiritual yang menyentuh hati. Seolah mengingatkan bahwa modernitas dan kekhidmatan bisa berjalan berdampingan.
Konon, proyek perluasan ini menelan biaya sebesar Rp 1.638 triliun—sebuah angka fantastis untuk mendukung modernisasi infrastruktur Masjidil Haram, meningkatkan kapasitas jemaah, serta memberikan kenyamanan dan keamanan yang lebih baik bagi para tamu Allah dari seluruh dunia.


 

Video short : https://www.youtube.com/shorts/L-EjQpDJPy4

Setelah menunaikan salat Ashar, aku mengambil beberapa foto dan video interior masjid yang sangat indah dan elegan. Di salah satu ruang ibadah bahkan sedang berlangsung eksibisi tentang struktur Ka'bah. Di sana ditampilkan secara dijital replika kiswah, tahapan proses pembuatan dan sulamannya yang rumit, hingga tata cara pemasangannya setiap tahun. Sungguh menambah wawasan dan rasa takjub terhadap keagungan Ka'bah sebagai pusat spiritual umat Islam.

    


 


Menjelang malam, sambil menanti waktu Magrib, aku menyusuri area hotel termahal  Intercontinental, Zamzam Tower, dan sekitarnya.
.
Nonton video short nya : https://www.youtube.com/shorts/l8WaPHtE8Xc
https://www.instagram.com/reel/DKCjjZvo2QC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

https://www.instagram.com/reel/DKTua0eo4I3/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==



Malam itu suasana Al-Haramain, baik di dalam maupun luar, dipenuhi jemaah dari berbagai bangsa dan latar belakang—beragam bahasa, warna kulit, dan budaya. Aku paling sering berpapasan dengan saudara-saudara dari Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Turki, Iran dan China. Bahkan, seorang jemaah dari Nigeria sempat menyapaku dan bertanya apakah aku berasal dari China. Aku tersenyum dan menjawab, “No, I’m Indonesian.”


 

 

   


Bersama para jemaah dari berbagai negara itu, aku menunaikan salat Magrib dan Isya berjamaah di area terbuka di bawah langit, proyek yang masih dalam proses pembangunan. Walau belum sepenuhnya rampung, suasananya tetap sakral dan penuh kekhusyukan.




Jam menunjukkan pukul 22.05 aku memutuskan kembali ke hotel. Betisku terasa tegang, tubuh basah oleh peluh, namun hati ini penuh dengan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Sampai di hotel teman sekamar sudah pada tidur. Subuhnya mereka komentar : "Wah bapak ini ngilang melulu.." Heheheh..

Hari ini menjadi salah satu hari istimewa dalam perjalananku menunaikan ibadah haji—hari di mana sejarah, teknologi, dan spiritualitas menyatu dalam satu pengalaman yang luar biasa.

Mekkah, 27 Mei 2025


Jama'ah Proletarian di Tanah Haram 

Jam 11.00 siang, aku dan bis Shalawat Shib Amir berpisah di Gate C1. Dengan langkah mantap dan bekal keinginan kuat buat jalan kaki (karena naik ojek haram alias ndak ada), aku menyusuri trotoar. Kanan kiri toko suvenir dan makanan Turki-India menggoda iman dan kantong. Ngintip-ngintip harga sambil komat-kamit: “Duh, ini kebab atau cicilan motor?”

Tiba-tiba mataku menangkap kios penukaran uang. Bergegas kuhampiri dengan sisa uang perangku: 9 USD dan 50 MYR. Hasilnya? Lumayan buat jajan dan hidup hedon sepekan ke depan. Udah kayak anak kuliahan akhir bulan.


 


Target hari ini: Masjid Jin. Minggu lalu ke situ, dikunci kayak hati gebetan. Sekarang penasaran, pengin masuk. Tiba di sana... wuih, jamaah tumpah sampai ke pintu. Aku udah kayak pasukan semut mau masuk celah kue, merangsek dengan sopan brutal: “Afwan... afwan... numpang lewat, ana mau ibadah bukan ngonten TikTok.”

Akhirnya dapet spot. Celah agak sempit, tapi Alhamdulillah bisa sujud tanpa kejedot bokong orang. Sambil nunggu adzan, aku sholat sunnah, baca Surat Al-Jin (biar matching ama lokasinya skalian biar diterima jadi sohib jin muslim yg doeloe suka kubaca di komik karya Djair). Habis dhuhur, lanjut Surat Al-Mulk dan doa panjang. Doanya, tentu: “Ya Allah, mudahkan aku pulang ke hotel dengan selamat dan diskon Sop Konro pas balik Indo.”


     

https://www.instagram.com/reel/DKJjl6jNdoB/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Keluar dari Masjid Jin, perut mulai orkestra. Cari makan siang—eh, yang ada restoran Turki dan India semua, harga bisa bikin dompet merintih. Cancel. Lalu, ketika mau balik ke terminal Shib Amir, takdir berubah! Sebuah Makkah Bus mewah melintas perlahan, menggoda dengan tampilan kinclong dan AC ngademin iman. Aku langsung ke konter beli tiket 4 riyal tak perduli jurusan kemana toh nanti balik ke terminal ini lagi mosok ke terminal Blok M, feeling lucky kayak nemu diskon di e-commerce.


   
 


Bus ini ternyata keliling kawasan elite Aziziyah, tempat di mana bangunan tingginya nyaris bisa nyundul langit. Sepanjang jalan, aku tak melihat satu pun motor. Mungkin karena motor di sini cuma kuat dua putaran lalu jadi arang. Mobil-mobil sedan Hyundai lewat kayak kafilah, tapi... banyak yang penyok dan kotor. Mungkin di sini mencuci mobil dianggap kurang afdal?




Sejam berlalu gedung-rumah makin jarang berganti panorama gurun dan perbukitan berwarna coklat. Penumpang sudah banyak yg turun, tinggal aku sendiri. Tetiba sopir berhenti di halte mana gak tau lah awak, sopir keluar dari box berseru: “Halas!”
Aku: “Halas apaan bang? Abis disini? Ini busway bukan sih? Kok gak muter balik?”

Ternyata sodara-sodara, busnya cuma searah mentok gurun dan gunung. Dan baliknya? Harus beli tiket lagi, lewat aplikasi. Masalahnya? Kuota STC-ku udah wafat sejak pekan  lalu. Mau nangis tapi takut dikira drama Korea kegemarannya bini. Mana air minum abis, haus en lapar  beneran bangeet...Waktu Asar sdh masuk aku bergegas ke sebuah tenda terbuka yang ada sajadah2 kusut dan bertabur debu gurun. Percis kayak di pilem petualangan Indiana Jones. Aku memutuskan segera ambil wudhu, kepalaku kukeramasin air.. huft sueggernya, mayaan minum dikitlah air wudhu heheh...

Selesai  sholat dan ngaso sesaat, aku melihat polisi Arab baru turun dari mobil patroli.. Segera aku bergegas mencari pertolongan. Datang dengan wajah lugu nan lelah, aku bilang dengan basa enggres sekenanya :
“I’m lost. Help me. I want go to Al Haram. Please.”
Polisinya kumisan, nampak kalem. Dia melirik ke temannya dan berkata dengan bahasa alien:
“𝘠𝘢 𝘈𝘩𝘮𝘢𝘥, 𝘩𝘢𝘵𝘩𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘴𝘺𝘰𝘪 𝘢𝘪𝘯𝘰𝘰...”
Yang kira-kira artinya: “Gue gak ngerti, tanyain sono temen gue.”

Si temen habibi juga gak ngerti Inggris. Jadi aku ganti strategi: bahasa Makassar!
“Tabe' Om Polisi... mauka pigi ke Mesjid Haram, naik apa kodong? Tolong  sai ka kasiyang”
Muka kupasang mode anak yatim ketinggalan panti.
"Ka'bah..yes Ka'bahh you know Ka'bah too? sa mau ke sana" sambil tanganku nunjuk2 tanah gurun, menarik garis membentuk kubus segi empat.

Ajaib! Si habibi kayaknya ngerti. Dia tunjuk arah sambil ngoceh kayak ngaji... tapi bukan Al-Baqarah, apalagi Yasin. Intinya aku memaknai:
“Jalan lurus, di sana ada terminal, naik bus warna ijo nomor 16.”
Aku jawab penuh cinta dengan bahasa Tenabang :
“Syukron, tengkyuuuh, semoga rejeki ente halal dan berkah.” 




Sampai di terminal yang kering dan tandus dengan suhu berkisar 40°C, lagi lapar-laparnya dan pasrah, Cari warung makan gak ada, cari kopi starling gak ada. Haddeuh.. ets barakallah tiba-tiba aku melihat ada mobil truk sedekah! Air mineral, es krim Conello, dan Payung !. Alhamdulillaahhh...Serasa menang kuis dadakan. Setelah menerima sedekah aku naik ke bus, duduk manis, makan es krim di bawah payung. Keren, kan?
Eh, baru sadar... nengok kiri kanan belakang, satu bus isinya jama'ah orang India semua. Gelap. Giginya doang yg putih. Aku seperti pempek digenangan cuka. Berasa kecemplung di syuting pilem Bollywood Kuch kuch kotahe... Acchaaa..acchaaa..!



Nonton disini video short : https://www.youtube.com/shorts/V4qoclIdcx0

Akhirnya... setelah perjalanan spiritual plus nyasar level medium rare, aku pun tiba dengan selamat di Terminal Ajyad, yang letaknya... Pas banget di belakang Zamzam Tower.
Reaksi pertama:
“Ya Allah... ini kalo jalan kaki menuju ke Shib Amir sejauh 15 menitan, lutut bisa minta cuti duluan.”
Tapi sebagai pewaris gen pelaut yang tangguh dan pejalan mandiri bersyariah, kuteguhkan hati:
“Pantang pulang sebelum kaki gempor. Biarlah ada ‘bombang tallua’ (gelombang dasyat), asal langkah tetap istiqomah.”

Sudah tanggung sampe hotel n mall segede gaban, ya udah...sebagai mantan pekerja berbagai mall bertaon-taon (Jkt, Bdg, Palembang, Surabaya, Bali), sesungguhnya aku eneg masuk mall. Dlm setiap perjalananku, tempat yang namanya mall gak masuk dalam wishlist. Aku lebih suka ke museum, pasar tradisional, panorama alam lautan gunung...Ya sutralah ngider mall lagi sekalian! Pokoke menolak menua tanpa cerita!
Di basement aku melihat bus2 besar nan kinclong bongkar muatan, wow ada flag merah putih berarti jamaah Indonesia yg baru datang. Oww ini jama'ah haji pleus pleus yang nginepnya dimari : Pullman dan Intercontinental. Di media aku baca rombongan mantan Wapres jokowi tiba sore ini.
Aku melintas cepat kuatir papasan dgn rombongan Kyai Ma'ruf Amin yang dibimbing Ust. DR Indrianto Faisal 🙏ntar katenya nih santri gue knape nyasar di sini? 




Daripada bikin malu Pak Kyai dan Ust. DR. Indrianto Faisal, mana kostumku cuek gini amat  buruan aku ngacir masuk Mal Abraj Avenue. 
Lah, ini mall apa Tanah Abang edisi surga? Semua ada!. Outlet branded ada semua ngumpul dimari wuidiiihh..serreeemm!
Pas di lantai UG aku lihat kerumunan orang rame banget.
Sempet mikir:
“Wah, jangan-jangan ada tukang sulap, atau pengajian Ustaz TikTok live?”
Eh rupanya emak-emak Indonesia ngerubungin coklat Arjoon yang harganya udah kayak harga emas putih.
Katanya sih “buat oleh-oleh”, tapi kayanya lebih cocok buat mas kawin.
Dan di saat inilah aku tersadar: statistik kemiskinan Indonesia resmi diragukan. Di sini emak-emak udah kayak sultan semua. Dompet tebel, tas branded, dan niat belanja sampe ke puncak menara!



Lanjut naik ke lantai P4, misi utama cari nasi ayam : Al Baik.
Katanya sih antri kayak mau naik Haji lagi.
Tapi qadarullah, pas aku datang... sepi!
Aku langsung masuk, tapi tetep harus lewat lintasan tali antrian zigzag mirip ular tangga.
Mungkin biar kita inget perjuangan hidup.




Depan konter, di atasnya crew ada menu digital berjalan. Pilihan menunya banyak, tapi...tanpa gambar

Mampuslah !, aku udah rabun jauh, dan kacamata minus ilang tertinggal waktu wudhu dua pekan lalu di Masjid Tan'im!
Dengan penglihatan blur kureka-reka menu berjalan ampe 2-3 kali, aha kutemukan menu paling kompetitif dan liquid :
Chicken Fillet Burger termurah 8 SAR...hahahah
Gak peduli rasanya kayak kapur barus atau chicken nugget sekolahan, yang penting bisa update: "Aku pernah makan Al Baik di Zamzam Tower, cuy!"
Setelah suapan terakhir, aku khawatir...
"Jangan-jangan abis ini banyak yang salah doa: ‘Allahumma Al Baik, Laa syarika laka Al Baik’…”
Bisa-bisa disemprit Asykar!
“Hajjiii... Haraam! Itu doa apa promo burger!”




Selesai makan, turun ke lantai-lantai berikutnya, window shopping ceria.
Liat-liat outlet official parfum Channel, Dior, Hermes, Svarouski, jam Rolex, Tag Heur, dan produk branded lain yang harganya bisa bikin migrain sebelah.
Tapi... semuanya hanya untuk dipandangi dan diabadikan lewat kamera.
Belanja di mata, simpan di galeri.

Dari keriuhan duniawi itu, aku kembali menapaki langkah menuju Terminal Shib Amir.
Perjalanan sekitar 1 kilometer yang penuh kontemplasi dan deg-degan.
Lah, Masjidil Haram kulewati, masa gak mampir?
Tenang aja, sodara-sodara...
Aku udah sholat Ashar bareng Pak Polisi Kumis di terminal Aziziyah tadi.
Jadi aman secara syar’i dan rohani!

Tiba-tiba perut goyang lagi... lapar encore edition!
Kukira sudah cukup dengan es krim dan burger 8 riyal seuprit. 
Tapi kenyataannya: itu cuma teaser.
Sambil menahan lapar dan keimanan, ehhh...
Datanglah emak-emak Arab berhidung mancung mata bulat belok, bagaikan bidadari padang pasir, menebar sedekah roti!
Langsung kuteriakkan dalam hati: “Alhamdulillaaah...Subhanallah!”
Roti langsung lhepp masuk mulut.
Belum selesai kunyahan, eh ada truk datang...Truk pembawa sedekah!
Aku diberikan 1 pouch besar  yang isinya: jus apel, roti keju, muffin, air mineral!
Masya Allah Tabarakallah ini rezeki level plot twist.
Gak sempet ngeluarin dompet, tapi kenyang level kenyataan!

Sambil duduk manis di dalam bus menuju hotel, kukenang semua rezeki hari ini:
Es krim, air mineral, payung, burger, roti, muffin, jus apel.
Semua datang tanpa aku minta. Terimakasih ya Allah..Terimakasih ya Rasulullah..

Dan aku pun menatap langit (lewat kaca buram bus) sambil berkata:

"Fabiayyi ‘alaaa irobbi kuma tukadzzibaan…."
Alhamdulillaaah…

Tanah Haram, Ahad 1 Juni 2025
Video short : https://www.youtube.com/shorts/MGhM-W4Wd6c

Menuju Padang Arafah

Pagi itu, langit Mekkah tampak lebih redup dari biasanya. Tapi hati justru terasa terang. Hari yang dinantipun tiba aku dan jutaan jemaah lainnya akan bergerak menuju Arafah.  Sejak subuh, suasana hati terasa berbeda. Ada debar haru dan rasa syukur yang menggema dalam dada. Setelah salat Subuh, aku mandi sunnah ihram, membasuh tubuh dengan niat membersihkan jiwa menyambut perjalanan agung ini.

Pukul enam pagi, aku sudah mengenakan kain ihram kembali. Dua helai kain putih sederhana, tapi sarat makna: kesetaraan, ketundukan, dan kesiapan menghadap Allah. Tak lupa, aku melaksanakan salat sunnah sebelum wukuf, menyiapkan hati untuk puncak ibadah haji yang sesungguhnya.

Menjelang siang, tepat pukul 12.45, aku dan rombongan menaiki bus yang akan membawa kami ke Padang Arafah. Sepanjang perjalanan, bus dipenuhi suasana talbiyah "Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik", menuntun hati yang masih rapuh agar kami dapat diterima di jalan-Nya. Di luar jendela bus, padang tandus menyambut. Tanpa pohon rindang. Tanpa gedung tinggi. Hanya barisan tenda putih seperti titik-titik kecil di hamparan debu. Di sinilah kita akan wukuf

Kami tiba dan masuk ke tenda JKG 8 Banten. Tenda ini akan menjadi tempat kami bermalam menjelang wukuf esok hari. Di sini, semua sama: pejabat, petani, backpacker, pensiunan. Semua mengenakan ihram dan menunggu panggilan langit.


 

Wukuf bukan sekadar berada di tempat. Tapi tentang hadir secara utuh. Di tubuh. Di hati. Di jiwa. 

https://www.youtube.com/shorts/MGhM-W4Wd6c

https://youtu.be/0pWFKBgZbLE?si=wJy3oEwpX2tdQNrX


 

             Pakai payung berlindung dari kedinginan di dalam tenda Arafah

Saat matahari condong ke barat, kami salat dzuhur dan ashar secara jamak-qashar. Setelah itu, semua hening. Tiap orang masuk ke ruang sunyi masing-masing. Ada yang berdoa keras-keras. Ada yang menulis di buku kecil. Ada yang menangis dalam diam. Aku duduk bersila, menunduk, menengadahkan tangan:

"Ya Allah, ini aku, yang penuh dosa, yang sering tersesat bukan hanya secara geografis tapi juga secara iman... Jangan pulangkan aku dari tempat ini kecuali Engkau telah mengampuniku..."

Langit Arafah berawan. Hujan turun sebentar, gerimis yang seperti salam dari langit.
Seorang teman berkata, "Kalau hujan di Arafah, insyaAllah doa diijabah..."

Aku hanya mengangguk. Tenggorokanku tercekat. Waktu berjalan lambat. Tapi suasana sangat cepat menyentuh batin. Inilah puncak spiritualitas Islam. 

Waktu Maghrib tiba, kami melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak qashar. Setelahnya, ada tausiyah yang menguatkan bathin. Malam Arafah adalah malam refleksi. Malam mengulang kembali perjalanan hidup. Malam untuk merenung dan menangis dalam keheningan tenda.

Setelah makan malam dgn menu opor daging dengan kacang merah. Kombinasi unik yang memberi tenaga. Kafilah mengaji bersama, melantunkan wirid dan dzikir dalam suasana tenang. 

𝙱𝚎𝚝𝚊𝚙𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚒𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚕𝚖𝚊𝚛𝚑𝚞𝚖 𝚔𝚎𝚍𝚞𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚊𝚔𝚞. 𝚃𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚍𝚘'𝚊-𝚍𝚘'𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚕𝚞𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚋𝚞𝚜 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚒𝚝, 𝚊𝚔𝚞 𝚢𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚑𝚔𝚞 𝚝𝚊𝚔𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚔𝚎 𝚃𝚊𝚗𝚊𝚑 𝚂𝚞𝚌𝚒 𝚒𝚗𝚒. 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚔𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚔𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚓𝚒 𝚒𝚗𝚒, 𝚓𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚕𝚒𝚛 𝚋𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚝𝚒𝚊𝚍𝚊. 𝙳𝚒 𝚜𝚎𝚝𝚒𝚊𝚙 𝚓𝚎𝚓𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚔𝚒𝚔𝚞 𝚍𝚒 𝚋𝚞𝚖𝚒 𝚑𝚊𝚛𝚊𝚖 𝚒𝚗𝚒, 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚘𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊𝚖𝚎𝚗𝚍𝚘𝚛𝚘𝚗𝚐𝚔𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚜𝚝𝚒𝚐𝚑𝚏𝚊𝚛.

Hingga akhirnya, mata ini perlahan terpejam… menanti esok hari—hari wukuf, saat Allah dekat dan rahmat-Nya tercurah tiada batas.


Padang Arafah, 04 Juni 2025

 

Muzdalifah: Bumi Beralas Langit

Khutbah wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, setelah kami melakukan sholat jamak Duhur dan Asar dilanjutkan dgn khutbah oleh Gus Isqowi kemudian jamaah memulai ibadah wukuf (berdiam diri) di Arafah hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah.sebagai bagian penting dari puncak ibadah haji. Khutbah ini disampaikan untuk memberikan pemahaman spiritual dan moral. Maghrib, wukuf selesai. Tapi bukan berarti perjalanan selesai. Kami mendengar berita duka seorang jamaah di tenda sebelah meninggal dunia.
Kami bersiap menuju Muzdalifah, untuk mabit (bermalam) di tanah terbuka. Bus mengantri panjang. Sebagian jemaah memilih berjalan kaki.

Selepas jam 21.00 aku dan kawan2  dapat giliran naik ke bus meninggalkan tenda Arafah, Meski penuh dan panas, tidak satu pun dari kami mengeluh. Semua diam. Lelah, tapi bahagia. Kami tahu: ini adalah malam di mana dosa berguguran, dan harapan ditegakkan kembal. Kami bergerak menuju Muzdalifah, padang luas dan terbuka tanpa tenda, tanpa atap. Di sinilah kami akan mabit—bermalam di bawah langit terbuka, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.

Bus melaju pelan. Lalu lintas padat. Ratusan ribu jemaah bergerak serentak, ada yang naik bus, ada yang berjalan kaki menyusuri gelapnya jalanan dengan bekal senter dan tekad. Kami tiba di Muzdalifah menjelang tengah malam. Bus parkir, dan kami semua turun membawa alas seadanya: terpal, sajadah, atau tikar lipat. Gurun penuh sesak. Sulit untuk berjalan, kami harus melangkahi hamparan tubuh2 manusia. Rasanya tak mungkin dapat space sekedar buat ngampar lurusin punggung. Aku terus berjalan sampai mendekati pagar pintu keluar. Ajaibnya tetiba ada jamaah Afrika yang beringsut mau keluar ke bus. Amazing ! kuasa Allah aku tidak menyangka akan dapat space yg cukup lega utk berbaring di atas tikar. Alhamdulillah wa syukurillah...


    


Angin malam gurun terasa menusuk, tapi juga menenangkan. Aku rebahan di atas tikar, memeluk tas ransel, sambil menatap langit. Langitnya jernih. Bintang-bintang bertaburan. Udara kering menyelimuti, tapi dalam keheningan itu, terasa hangatnya kasih sayang Allah SWT.

Di Muzdalifah, aku memungut batu2 kecil di bawah alas tikar, yang akan kugunakan untuk lempar jumrah tiga hari ke depan. Batu-batu itu kupungut perlahan sambil berzikir, seolah setiap butir adalah simbol dari ego, amarah, dan dosa yang ingin kulempar jauh-jauh.

Beberapa teman tidur dengan pulas. Yang lain sibuk membungkus batu dengan plastik ziplock. Aku? Separuh tidur, separuh sadar. Takut kehilangan sandal yang menjadi sahabat spiritual. Kupeluk saja sebelah kanan, dan kuletakkan satu lagi di bawah kepala. Aman.

Pagi itu, setelah Subuh, aku bersama dua teman mulai bergerak keluar dari Muzdalifah. Kepadatan jamaah yg luarbiasa dgn pintu keluar hanya selebar 1.5 meter yang tutup buka sesuai kedatangan bus. Aku mencari akal utk bisa keluar dari pagar besi. Losta masta!  Melalui pintu kafilah Afika bodyku yang slim memudahkanku menyelinap kerumunan dari sisi samping pagar dan sampai dlm sekejap depan pintu kerumunan emak2 negro.

Dengan setelan sinetron Indosiar kubilang pada petugas  jaga pintu dan emak2 “Please, I'm about to faint. Get me out of here. I'm alone “ dramatisasi dgn muke mo pingsan. Pintu dibuka sedikit agar aku bisa keluar. “Thankyou Bro, thanks Ma’am..” kataku ke petugas & emak2 Afrika yg itemnya kebangetan dan cantik, mungkin kasian padaku wkwkwk…

Aku berlari  ke arah teman2 di pintu 35 yg masih di dalam pagar. Ayo lempar tasnya !. Satu demi satu ransel Armuzna/tas jamaah Serpong dioper dari dalam ke luar pagar. Ransel dan tas sekitar 25 buah aku tumpuk di sisi jalan. Berkeringat? Ya! Tapi teman2 jadi mudah berdesakan keluar ke pintu tanpa membawa beban tas. Bus datang kami bertiga bergegas duluan naik bus.Teman yg lain menunggu istrinya keluar. Suasana riuh dan penuh sesak. Tak butuh waktu lama untuk melihat betapa padatnya jalanan. Bus-bus tertahan, nyaris tak bergerak. Banyak jemaah akhirnya memilih turun jalan kaki ke Mina, sekitar 5 kilometer jauhnya.



https://www.instagram.com/reel/DNkOzkBzyzM/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Aku  bertahan di dalam bus, kedua temanku memutuskan turun  dengan berjalan kaki. Aku memilih tetap duduk di kursi, berharap macet segera terurai. Ternyata aku harus menunggu hampir 4 jam! Bus nyaris tak bergerak sepanjang waktu itu.

Akhirnya sampai di kawasan Mina, aku turun dan berjalan sendiri mencari maktab 33. Matahari sudah tinggi, jam menunjukkan pukul 9 pagi, dan panasnya menyengat luar biasa. Aku bertanya ke sana kemari, tapi arah yang kuterima simpang siur. Jalanan terasa membingungkan. Baterai Hp dan kuota internet sudah “tewas”, membuatku tak bisa menghubungi siapa pun. Orang-orang lokal yang kutanya pun kebanyakan tak paham bahasa Inggris. Petugas haji yg kutemui di jalan hanya menebak arah, iapun sedang mencari maktabnya wkwkwk..


Prosesi puncak haji

Sekian lama berjalan dgn kebingungan, aku bertemu dengan seorang jemaah dari maktab 38 yang baik hati. Ia membantu menghubungi teman yang berada di tenda JKG 8. Sekitar jam 11 siang, akhirnya berhasil bertemu teman yang sudah menunggu di depan gang maktab 33. Alhamdulillah…Rasanya seperti selamat dari serangan heat stroke. Aku benar-benar nyaris tumbang karena kelelahan dan dehidrasi. Ndilalah..temanku melihat ranselku terbuka, obat2anku komplit sekantong pouch, handuk, creme 21, deodoran, sabun muka dsb hilang tercecer tidak kusadari, udah haus, lapar...udah kleyengan …

Perjalanan hari itu sungguh melelahkan, apalagi aku secara yakin memutuskan tidak mengambil skema tanazul & murur. Keputusan ini bukan sekadar soal tempat tidur, tapi soal kesiapan mental: menghadapi panas terik dan kepadatan luar biasa, tidur di tenda sempit bersama ribuan jemaah lain, serta setiap hari berjalan kaki  Jamarat pp untuk melempar jumrah. Tidak ada pintu keluar cepat—sekali memilih, aku harus bertahan di sini hingga akhir hari-hari tasyriq.

Malam harinya, setelah Isya, kelelahan fisik belum juga pulih, tapi aku harus melangkah lagi. Aku dan dua teman (yg lain belum kuat)  berjalan bergerak lagi menuju Jamarat - tempat pelaksanaan lempar jumrah, simbol perlawanan terhadap godaan setan.

untuk melaksanakan lempar jumrah aqabah. Kami menyusuri terowongan panjang Mina yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Langkah demi langkah terasa berat, kakiku mulai lecet kena gesekan sendal gunung namun irama takbir dan kesadaran bahwa inilah puncak ibadah memberi kekuatan tersendiri. Hari itu adalah hari Nahr, 10 Zulhijah. Kami hanya melempar Jumrah Aqabah, tujuh lemparan batu, sambil mengucapkan:

Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!

Tiap lemparan kulontarkan dengan seluruh tenaga jiwa. Bukan cuma melempar batu, tapi juga amarah, dendam, keangkuhan, rasa sombong, dan malas mengaji.


  


Ada rasa lega setelah selesai. Seolah satu tahap penting telah ditunaikanSetelah menyelesaikan lempar jumrah, kami kembali ke maktab 33 lewat rute yang sama. Total jarak pulang-pergi mencapai sekitar 9 kilometer. Selanjutnya kami istirahat untuk persiapan menyelesaikan rangkaian ibadah hari-hari berikutnya: tahallul tsani, dan dua hari tasyriq dengan melanjutkan lempar jumrah berikutnya

Entah bagaimana, tubuh yang letih masih sanggup melangkah. Padahal panitia haji mendaftarkan aku dalam skema tanazul dan murur karena alasan medis (A- Unspecifik) dan faktor “U”.  Mungkin karena tekad ibadah dan pertolongan Allah. Kalau hanya mengandalkan fisik semata, rasanya sulit bagiku menyelesaikannya.

Alhamdulillah, satu tahap penting telah dijalani.  

Tenda Mina, 06 Juni 2025 / 10 Dzulhijjah



Tawaf Ifadah & Lempar Batu, Lempar Ego, Lempar Kesabaran

Pagi 11 Zulhijah aku bangun lebih awal dari biasanya. Subuh kulalui dengan khusyuk, lalu mulai bersiap. Tiga kantong batu sudah kusiapkan rapi sejak malam—bukan untuk gaya-gayaan, tapi agar tidak salah sasaran. Hari ini aku akan menunaikan ritual lempar jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing tujuh lemparan. Total dua puluh satu batu. Tidak lebih, tidak kurang.

Ransel kecil kupanggul. Isinya bekal, air minum, dan sisa-sisa semangat yang masih bertahan sejak wukuf. Jalan menuju Jamarat seperti sungai manusia tanpa hulu dan hilir. Dari segala penjuru dunia mereka datang: ada yang bertongkat, ada yang di kursi roda, ada yang digandeng anaknya, bahkan ada yang masih sempat live streaming.

Aku? Fokus. Tidak ingin gagal konsentrasi. Badan boleh lelah, kaki boleh protes, tapi mental harus tetap siaga. Ini bukan sekadar lempar batu. Ini urusan hati.

Setiap batu kulempar sambil berbisik pelan,
“Batu ini untuk syetan ego…”
lempar.
“Batu ini untuk syetan penggoda…”
lempar.
“Batu ini untuk syetan Zionist…”
lempar.

Entah kenapa rasanya plong. Seperti melepaskan beban yang selama ini tak kelihatan tapi terasa berat.

Selesai lempar jumrah, kami bertiga tidak kembali ke Mina. Baru beberapa langkah, kakiku mulai meringis. Lecet. Gesekan sandal yang sudah tak kompromi lagi. Untung handyplast masih setia di saku. Kutempelkan cepat-cepat, lalu kami lanjut jalan. Target berikutnya: tawaf ifadah di Masjidil Haram.

Dengan kaki pincang, tak ada lagi ambisi mencium Hajar Aswad. Realistis saja. Kakiku saja sudah beberapa kali terinjak orang sampai plesternya copot. Aku cuma bisa menahan sakit sambil menghela napas panjang. Alhamdulillah, tawaf ifadah akhirnya tuntas juga.

Dari sana kami menuju Terminal Syib Amir. Naik bus shalawat dengan harapan besar: langsung ke Mina. Eh… ternyata busnya cuma sampai Jamarat.

Lah… kumaha ieu?

Ternyata memang tidak ada bus ke Mina. Pilihannya cuma tiga: gempor jalan kaki 4–5 km,  atau pasrah naik taksi tembak sambil senyum pahit. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Matahari sedang di puncak-puncaknya. Kaki dan perut sudah tak bisa diajak diskusi. Akhirnya kami balik lagi ke Syib Amir.

Di depan terminal, taksi-taksi berjejer seperti tahu situasi. Harga? Jangan ditanya. 600–700 SAR, tanpa argo, tanpa basa-basi. Setelah tawar-menawar penuh ringisan, akhirnya kami dapat sopir Bangladesh yang berbaik hati—atau mungkin kasihan—di harga “termurah”: 450 SAR. Kami patungan bertiga. Deal dengan hati berat tapi kaki bersyukur.




Dengan alasan taksi dilarang masuk kawasan Mina, kami diturunkan di area Misfalah sebuah simpang tiga besar. Katanya, dari situ ada bus ke arah maktab Mina. Dalam hati mulai muncul geram. Tapi kutahan. Kutahan sungguh-sungguh. Ini haji, bukan lomba emosi.

Kami naik bus. Dan… ya, kami diturunkan lagi. Di tempat yang masih jauh. Masih harus jalan kaki sekitar 1,5 km menuju Masjid Quwait yang menjadi patokan maktab kami.

Ya Allah…

Di titik itu, aku cuma bisa tertawa kecil. Tertawa pasrah. Lempar jumrah rupanya belum selesai. Syetan hari itu menyamar jadi rute bus, sopir taksi, dan papan petunjuk yang setengah jujur.

Tapi beginilah haji mandiri. Tidak selalu mulus, tapi selalu penuh pelajaran. Batu sudah dilempar, ego sudah diremukkan, dan kesabaran… sedang diuji level lanjutannya.


Meninggalkan Mina

Hari ini menjadi momen perpisahan kami dengan Mina. Sejak pukul 08.00 pagi, kami mulai mengemas dan merapikan barang-barang ke dalam ransel Armuzna. Ada rasa lega dan gembira membayangkan akan kembali ke hotel, bisa tidur di kasur empuk dan mandi air hangat. Tapi, di sisi lain, ada juga rasa haru yang menyesak—Mina adalah saksi perjalanan spiritual kami yang penuh liku.

Uniknya, tenda kami dipenuhi limpahan makanan—kroisan, bolu, susu, apel, dan pier—semuanya masih dalam kondisi baik, hasil kelebihan jatah karena banyak jemaah sudah lebih dulu kembali ke hotel. Agar tak mubazir, kami putuskan untuk membagikannya ke tenda-tenda jemaah dari Afrika, seperti Mali dan Nigeria. Melihat senyum mereka menerima bingkisan sederhana itu, rasanya hati ini ikut hangat.


       
Dus2 berisi roti, biskuit, jus, buah, air mineral, catering berlimpah


Setelah menunaikan salat zuhur berjamaah untuk terakhir kalinya di Mina, kami pun bergegas naik bus, meninggalkan lembah yang penuh kenangan. Perjalanan ke hotel diiringi suasana hati yang campur aduk. Sepanjang jalan, pikiranku melayang ke berbagai peristiwa dramatis di Armuzna—mulai dari sempitnya tenda, antrean toilet,  berjalan kaki kiloan meter meregang panas menyengat, hingga tangis haru saat melempar jumrah.


 


duduk di tangga pintu bus memandang haru tenda Mina
 

Sesampainya di hotel, niatnya mau langsung istirahat. Tapi badan terasa "ringsek", pegal-pegal menyelimuti seluruh sendi. Rebahan pun tak karuan—mata ingin tidur, tapi tubuh seperti masih menyimpan sisa-sisa letih yang belum tersalurkan dengan benar.


      



Malam harinya, setelah salat isya, aku mengambil keputusan yang agak nekat—kembali ke Jamarat untuk melakukan lemparan jumrah terakhir. Dengan membawa 21 buah batu kerikil, jalan kaki sekitar 3 km pulang-pergi. Berangkat jam 21.00, jalan malam-malam bersama teman2 yg akan melakukan tawaf ifadah, menyusuri  jalanan yang lapang kini sudah jauh lebih lengang. Sekitar jam 12 malam, aku kembali ke hotel berjalan kaki sendirian dgn rasa lega luar biasa.

Alhamdulillah, kini tinggal satu prosesi terakhir untuk menuntaskan rangkaian rukun haji: Tawaf Wada. Sebuah penutup yang sekaligus perpisahan dengan Baitullah... dan entah kapan bisa kembali lagi.

Tanah Haram, Senin 09 Juni 2025


Tawaf Wada, Perpisahan dengan Baitullah

Kondisi fisikku sebenarnya belum pulih sepenuhnya. Tapi di benakku hanya ada satu tekad: lebih cepat, lebih baik. Maka dinihari pukul 00.30, aku beringsut bersama tiga teman menuju halte bus Sholawat yang kini sudah kembali beroperasi. Kami menanti dengan sabar dalam sunyi malam yang mulai terasa menggigit dinginnya. Pukul 01.30 kami tiba di Terminal Shib Ameer dan segera berjalan kaki menuju Baitullah—langkah-langkah pelan namun pasti, penuh harap dan semangat yang tersisa.

Begitu sampai, rekayasa arus jamaah mengarahkan kami naik ke lantai 2. Pelataran Ka'bah sudah penuh sesak. Tawaf dari lantai atas tentu membuat jarak putaran menjadi lebih panjang dan waktu yang dibutuhkan lebih lama. Tapi kupikir, inilah pilihan terbaik. Tawaf dari atas terasa lebih aman bagi kakiku yang masih lecet, bekas keinjak saat Tawaf Ifadah kemarin. Di lantai dua, ruangnya lebih longgar, langkah lebih terjaga. Di pelataran, risikonya terlalu besar—aku masih ingat betapa kakiku beberapa kali terlindas kaki-kaki besar dari jamaah negeri seberang.

Alhamdulillah, tujuh putaran Tawaf Wada berhasil kutuntaskan tanpa jeda. Meski tubuhku semakin lemah, hatiku tetap kuat. Ini adalah penutup, perpisahan dengan penuh cinta dan harap agar bisa kembali lagi suatu hari nanti.

Selesai tawaf, aku bergegas ke toilet nomor 9 untuk berwudu, lalu mengambil tempat duduk di pelataran luar masjid. Aku benar-benar tak kuat untuk masuk ke dalam masjid lagi. Di halaman luar inilah aku duduk bersandar, menanti Subuh. Sambil berdzikir, kupasrahkan segalanya kepada-Nya. Tak banyak yang kupinta, hanya semoga seluruh ibadahku diterima dan menjadi pemberat amal di akhirat kelak.

Pukul 06.00 pagi, aku sudah tiba kembali di hotel. Ada rasa lelah, tapi jauh lebih besar rasa puas dan lega—karena semua rangkaian rukun dan wajib haji telah kutuntaskan. Kini, saatnya bersiap pulang. Koper besar dan kecil mulai kupersiapkan. Tak sabar rasanya kembali ke tanah air, membawa segenggam kenangan, secercah perubahan, dan segudang syukur atas nikmat yang tak terkira.

Masjidil Haram, 10 Juni 2025


Menghitung Hari

Semalam tubuhku terasa makin ringsek. Batuk kering dan pilek menyerang bersamaan. Aku pun memutuskan untuk pergi ke dokter meminta obat. Setelah menelan obat yang diresepkan, aku langsung bersegera tidur bakda Isya. Tubuh ini perlu istirahat total.

Alhamdulillah, pagi ini aku bangun dengan kondisi badan yang jauh lebih baik. Setelah sarapan pagi dan mandi, aku merasa cukup segar untuk menjalani hari. Jam 07.00 aku menyeduh kopi hitam—booster wajibku setiap kali hendak menulis. Aku membawa secangkir kopi itu ke pojok lobi hotel, tempat favoritku untuk menuangkan cerita perjalanan haji dan mengedit video. Di sudut ini, imajinasiku bebas mengalir. Kalimat-kalimat seolah datang sendiri, lancar tanpa hambatan.

Koper besar sudah kuturunkan ke lobi untuk proses penimbangan oleh tim haji. Koper-koper yang telah ditimbang sore ini akan segera diangkut sebagai kargo menuju bandara. Rasanya waktu pulang semakin dekat. Dan setiap detik itu membuat hati berdebar-debar. Campur aduk rasanya—antara belum rela meninggalkan Tanah Haram dan rindu luar biasa untuk segera bertemu keluarga dan sahabat di tanah air.

Aku mulai benar-benar menghitung hari

Mahabbah, 12 Juni 2025


Babak Akhir: Kembali ke Tanah Air

Subuh masih jauh ketika aku membuka mata. Pukul 03.00 dini hari, aku segera bangun, bergegas mandi, lalu menunaikan salat lail dan kontemplasi Subuh. Ada getaran haru di dada—hari ini, aku dan rombongan akan kembali ke Indonesia. Perjalanan spiritual ini nyaris usai, dan sebentar lagi kami akan meninggalkan Tanah Haram, tempat di mana segala doa dan air mata tumpah tanpa sekat.

Koper kecil seberat 6,9 kg sudah kubawa keluar ke lorong kamar—nyaris penuh batas maksimal 7 kg. Sementara koper besar hanya 22 kg dari 32 kg yang diizinkan. Semua sudah kukemas sejak kemarin, rapi dan siap berangkat.


      

Setelah sarapan, aku turun ke lobi hotel. Rombongan kami bersiap naik bus yang akan mengantar menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.


 

    

https://www.instagram.com/reel/DK6nYN6TkWk/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==


Tgl 13 Juni 2025 sekitar pukul 07.00 pagi, semua koper plus plus milik jamaah telah masuk ke bagasi bus, dan setelah pemeriksaan dokumen manifest, bus mewah mulai bergerak membelah kota Makkah yang mulai beranjak dari fajar menuju terang.

Sepanjang perjalanan, suasana dalam bus diwarnai oleh lantunan shalawat dan testimoni dari beberapa jemaah tentang pengalaman mereka selama berhaji. Ada tawa, ada haru, ada kisah-kisah lucu sekaligus menyentuh hati. Rasanya seperti menonton film dokumenter spiritual, tapi pelakunya adalah kami sendiri.

Nonton di sini : https://youtu.be/qnHli3VMusk?si=eGWrxBN5kQg0WppU

https://www.instagram.com/reel/DMDKi_hzLar/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==


Setiba di bandara, kami melewati berbagai proses: pemeriksaan, pengecekan paspor, boarding. Ada rasa sendu yang menggelayut di hati. Meninggalkan Makkah bukan perkara ringan. Setiap langkah menjauh seolah menarik seutas tali kenangan yang tak ingin putus.


 




Sehari sebelumnya, suasana sempat sedikit tegang. Banyak jemaah—terutama para emak-emak kolektor oleh-oleh "Sagala Aya"—cemas soal berat bagasi. Apalagi setelah viralnya video dari kloter pertama Makassar yang koper dan oleh-olehnya terpaksa dibongkar karena over-bagasi. Tapi ternyata, kekhawatiran itu berlebihan. Pemeriksaan rombongan tim Haji Mandiri Serpong ini sangat longgar. Bahkan ada yang berhasil membawa air zamzam dalam ransel/ tas  tambahan, hingga cerek Mekkah, dan semua lolos tanpa masalah. Keberkahan utk Pejalan Mandiri?.

Bagi kami yang telanjur disiplin mengatur barang sesuai aturan, justru sempat merasa dongkol. “Ah shit!” begitu celetuk seorang teman, mencairkan ketegangan. Ada yang terpaksa batal beli cokelat, kacang arab, abaya karena takut kelebihan. Ternyata, semua kekhawatiran itu sia-sia. Tapi, ya sudahlah—namanya juga perjalanan ibadah. Yang penting pulang dengan hati yang bersih, bukan koper yang penuh.

 

        

 
Thanks to Garuda Indonesia


Pukul 15.30 waktu Jeddah, pesawat kami take off. Sebuah lambaian terakhir pada Tanah Haram dari balik jendela pesawat. Sepanjang perjalanan pulang, hati ini campur aduk: bahagia, haru, dan entah apalagi namanya.

Dan tepat pukul 05.30 pagi waktu Indonesia, roda pesawat menyentuh landasan Soekarno-Hatta. Alhamdulillah. Kami kembali ke Bumi Ibu Pertiwi. Setelah proses kedatangan, kami langsung diangkut ke embarkasi Cipondoh.

Langit Tangerang masih redup. Udara pagi terasa hangat dan lembab. Pohon-pohon tropis menyambut dengan hijaunya. Hembusan anging mammiri seolah mengucapkan selamat datang. Rasanya seperti pulang ke surga yang lain—surga tropis Indonesia, dengan semua kerinduan yang tak pernah putus selama kami di tanah rantau spiritual.



                             Welcome Home!


Perjalanan ibadah ini telah mencapai garis akhir. Tapi semoga, ini bukan akhir dari perubahan diri. Semoga menjadi awal baru yang lebih baik—lebih taat, lebih ikhlas, lebih peduli.

Ya Allah… Terima kasih telah mengundangku menjadi tamu-Mu. Terima kasih atas setiap peluh, airmata, dan keajaiban yang Kau perlihatkan. Kini aku pulang. Tapi hatiku akan selalu punya sudut khusus yang tertinggal di bawah langit Makkah dan Madinah.

https://youtube.com/shorts/l6qIXwevj3M?si=vFslNTyFyjjQtxJ_

Anggrek Loka, Dinihari 15 Juni 2025


FEATURES DALAM PERJALANAN

Tentang Gelar "Haji"

Setelah pulang dari tanah suci, banyak yang akan dengan tulus memanggil aku dengan sebutan "Pak Haji", atau menambahkan huruf "H" di depan nama.

Saya menghargai niat baik itu, tapi izinkan aku menyampaikan: aku lebih nyaman tetap dipanggil seperti biasa, tanpa embel-embel gelar kehormatan.

Bagiku, ibadah haji adalah perjalanan spiritual, bukan status sosial. Menjadi haji bukan berarti naik kelas di tengah masyarakat. Justru, semangat haji seharusnya meruntuhkan sekat-sekat sosial—menghapus rasa lebih tinggi karena jabatan, gelar, atau harta.

Aku lebih suka berdiri di tengah-tengah, sebagai saudara sesama muslim, sesama manusia. Yang ingin terus belajar rendah hati dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan, sebagaimana ajaran Islam yang aku yakini.

Cukup panggil aku seperti biasa. Karena kemuliaan, sejatinya bukan pada gelar, tapi pada ketulusan amal dan keikhlasan hati.

Mekkah, 19 Mei 2025
#LiterasiAnggrekJingga21



Haji dan Politik

Beberapa teman kirim WA ke saya menyampaikan semacam nasehat : " Fokus ibadah ...tidak usah fikir politik karena lagi haji " Hal tsb krn postingan2 saya ttg politik Indonesia dan Palestina. 
Memang, banyak orang yang beranggapan bahwa saat menjalankan ibadah haji, fokus seharusnya sepenuhnya pada ibadah dan hubungan dengan Tuhan. Namun, menurut saya, pendapat ini bisa bersifat subjektif dan tergantung pada niat serta kondisi masing-masing individu.
Menurut saya, penting untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai individu yang terlibat dalam masyarakat dan sebagai seorang hamba yang sedang menjalankan ibadah haji. Tidak ada salahnya memberikan pandangan, selama itu dilakukan dengan niat baik dan tidak mengganggu ibadah. 
Naik haji bukan berarti menanggalkan kesadaran sosial dan politik. Justru, banyak tokoh besar Indonesia dulu yang sekembalinya dari Tanah Suci, menjadi lebih tajam pandangannya terhadap ketidakadilan dan lebih berani dalam perjuangan. Di masa kolonial, gelar "Haji" bahkan dianggap semacam badge of resistance oleh Belanda. Karena itulah, banyak haji dicurigai dan diawasi — mereka diyakini telah mendapatkan semangat perlawanan dari pergaulan lintas bangsa selama di Makkah, di mana isu keumatan dan perlawanan terhadap penjajahan bergaung kuat.
Haji bukanlah pelarian dari dunia, melainkan proses penyucian diri yang justru bisa memperkuat tekad untuk membela yang benar sepulangnya nanti. Selama aktivitas kita tidak mengganggu kekhusyukan ibadah, dan dilakukan dengan niat baik serta penuh tanggung jawab moral, maka tidak ada yang salah dengan tetap bersuara, termasuk soal politik.

Lagipula, menyampaikan pendapat secara kritis tentang kebijakan yang menyangkut nasib banyak orang juga bagian dari amar makruf nahi munkar — dan itu pun ibadah, selama dilakukan dengan adab.

Kesimpulannya: fokus ibadah iya, tapi bukan berarti abai terhadap realitas. Kita beribadah bukan di ruang hampa, dan seorang Muslim idealnya tetap waras, peduli, dan bertanggung jawab — bahkan saat di Tanah Suci.

Tanah Haram, 11 Juni 2025


𝙇𝙊𝙋𝙀𝙍 𝙆𝙊𝙍𝘼𝙉 𝙉𝘼𝙄𝙆 𝙃𝘼𝙅𝙄

Di antara hiruk pikuk tenda Mina yang padat oleh jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, saya dipertemukan dengan sosok luar biasa yang tak saya duga sebelumnya: Pak Cholik Akhmad. Seorang bapak—atau tepatnya seorang kakek—berusia 72 tahun, yang dengan langkah tegap dan semangat membara tetap mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji, tanpa sedikit pun mengeluh kelelahan.

Pak Cholik bukanlah siapa-siapa di panggung besar dunia. Ia hanya seorang loper koran. Ya, hanya seorang loper koran—pekerjaan yang kian hari makin dilupakan seiring lenyapnya lembar-lembar berita cetak dari meja para pembaca. Namun, di balik profesinya yang sederhana itu tersimpan cerita hidup yang jauh lebih dalam dan menggetarkan.

Lahir pada 20 Nopember 1953, Pak Cholik memulai karirnya sebagai loper koran sejak usia 13 tahun, tepatnya pada 1966. Tak sempat menyelesaikan pendidikan SD karena himpitan ekonomi keluarga, ia memilih turun ke jalan mencari nafkah. Sejak fajar, ia berjalan kaki dari rumahnya di kawasan Jalan Hidup Baru, Fatmawati, menuju agen koran besar (Sihite & Siregar) di Terminal Blok M. Di sana ia mengambil koran—Jakarta Post, Kompas, Sinar Harapan, Pos Kota, Bisnis Indonesia dan lainnya—untuk diantar ke pelanggan setianya di Kantor PLN Pusat, Trunojoyo, Jakarta Selatan.




Pak Cholik bukan sekadar mengantar koran. Ia mengantarkannya dari meja ke meja—dari direktur hingga staf biasa—dengan senyum, disiplin, dan kepercayaan tinggi. Keuletannya dalam menjaga integritas membuahkan kepercayaan besar dari pelanggan. Perlahan ia mendapat kepercayaan lebih luas untuk mendistribusikan koran ke kantor PLN lainnya seperti di Gambir, Ragunan, dan Tanah Abang. Di titik itu, usahanya mulai berkembang. Ia dibantu sepupunya dan mulai menggunakan motor untuk menjangkau area yang lebih jauh.

Dulu, ketika masa kejayaan media cetak masih membahana, Pak Cholik bisa meraup penghasilan hingga Rp 30 juta per bulan—angka fantastis untuk seorang loper koran. Ia bekerja mulai pukul 06.00 hingga 11.00 setiap hari, memastikan koran dan majalah sampai ke tangan pelanggan tepat waktu. Dari hasil kerja kerasnya itu, ia berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga ke jenjang S1: putra sulungnya lulus dari Universitas Indonesia, sementara putri bungsunya adalah alumni UIN. Kini keduanya bekerja di BUMN dengan posisi manajerial.

Namun, zaman berubah. Media digital menjamur, media cetak tergerus. Banyak surat kabar berhenti terbit, dan jumlah pelanggan menyusut drastis. Pak Cholik pun merasakan dampaknya secara langsung. Penghasilannya kini hanya sekitar Rp 10 juta per bulan—sepertiga dari masa jayanya dulu. Tapi ia tetap setia menjalani profesinya. Kini ia tak lagi berjalan kaki. Setiap pagi, ia menumpang busway dari kawasan Kedawung, Ciputat, menuju Blok M, mengantarkan koran kepada segelintir pelanggan lama yang masih bertahan—umumnya jajaran direksi dan komisaris.

"Saya ini hanya loper koran," ujarnya merendah di sela-sela obrolan kami di Mina. Namun sinar mata dan napas syukurnya mengisyaratkan bahwa hidupnya bukan hidup yang sia-sia. “Tapi Allah tetap panggil saya ke sini, ke tanah suci. Masya Allah…”

Di tengah kejatuhan industri media cetak, Pak Cholik adalah simbol dari keteguhan dan loyalitas yang tak lekang oleh zaman. Ia bukan hanya loper koran, tetapi penjaga kepercayaan, pejuang kehidupan, dan contoh nyata bahwa kerja keras, kejujuran, dan kesetiaan pada profesi sekecil apapun bisa membuahkan hasil luar biasa—bahkan mengantarkan seseorang ke tamu agung-Nya, di panggilan suci bernama Haji.

Pak Cholik Akhmad: Loper koran yang tak sekadar mengantar berita, tapi juga mengantar mimpi hingga ke tanah haram.


Tenda Mina, Kamis 4 Juni 2025
#𝙻𝚒𝚝𝚎𝚛𝚊𝚜𝚒𝙰𝚗𝚐𝚐𝚛𝚎𝚔𝙹𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊
#𝙺𝚒𝚜𝚊𝚑𝙷𝚞𝚖𝚊𝚗𝚒𝚘𝚛𝚊




ROAD TO MECCA DIARY, EPISODE 2 ROAD TO MECCA DIARY, EPISODE 2 Reviewed by Sofyan Saleh on Januari 02, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!