ROAD TO MECCA DIARY, EPISODE 2
Berikut lanjutan story perjalanan spiritualku menunaikan ibadah haji berlabel "Haji Pejalan Mandiri" episode ke dua saat di Mekkah Al Munawaroh melaksanakan puncak haji di Armuzna : Arafah - Muzdalifah - Mina. Saya tulis dgn gaya narasi reflektif, humanis dan jenaka. Ada penerbit menawarkan untuk diterbitkan menjadi buku. Kubilang Sudah tapi Belum hheheh.. Semoga diary ini tidak menghibur, silakan hina hujat dan kata-katain. Bersamamu aku siap salah.... Peace & Love!💜
Umrah Sunnah Ketiga untuk Kakek
Setelah itu, aku makan siang di kamar lalu turun ke lobby hotel menulis catatan di sofa empuk sesekali ngobrol dan canda dgn Inggeris tarzan sama Mbak Abeer petugas dari Syarikah. Hari ini sederhana, tapi tetap menyimpan kesyukuran. Allah beri kemudahan di balik perubahan rencana.
Tanah Haram, Jumat, 23 Mei 2025
Hari ini tidak ada kegiatan khusus. Setelah Ashar, sekitar pukul 16.00, aku keluar menuju area sekitar Zamzam Tower dan Al Shofwa Suasana cukup ramai, para jamaah dari berbagai negara terlihat sibuk mencari cinderamata Saudia.
Aku menyusuri beberapa toko yang menjual beragam barang khas Makkah – mulai dari kurma, cokelat, sajadah, tasbih, minyak wangi, toys hingga perhiasan emas. Banyak pilihan, tinggal pintar-pintar menawar dan memilih yang cocok di kantong penjelajah proletar.
Sholat maghrib dan isya kulaksanakan di pelataran Shafwa Tower bersama ratusan orang yang tidak dapat masuk ke masjid karena full.
Menjelang pukul 21.00, aku kembali ke hotel dengan kantong belanja yang terisi cukuplah..
Alhamdulillah, sebagian cinderamata sudah terkumpul hari ini.
Mekkah, Jumat 23 Mei 2025
Hari Istirahat dan Silaturahmi
Seharian ini aku memilih untuk beristirahat penuh di hotel. Tubuh rasanya perlu rehat setelah beberapa hari ke luar cukup intens. Waktu banyak kuhabiskan di kamar: tidur, membaca, dan ke lobby menulis catatan harian. Sesekali dibagi coklat sama Abeer yg diletakkan di toples kecil di mejanya.
Selepas Maghrib, aku berjalan kaki sekitar 15 menit menuju hotel tempat menginap teman sekantor, Mbak Santi dan suaminya, lalu Bapak Mustiko & Pak Kholis – rekan dari ormas IWM yang juga tergabung dalam rombongan haji dari Tangerang Kota. Kami bersilaturahmi santai sambil ngopi bersama di lobi hotel. Obrolan ringan tapi hangat, menambah semangat dan rasa syukur atas kesempatan berhaji ini.
Hari ini ditutup dengan tenang dan manis – dalam arti harfiah dan makna.
Mekkah, Sabtu, 24 Mei 2025
Alhamdulillah, aku berhasil masuk melenggang melewati beberapa ring askar yg tumben gak memeriksaku, apa pandangannya dihalangi malaikat? heheh aku langsung menuju area tawaf. Dalam putaran ketiga, aku mencoba mendekat dari arah Rukun Yamani, perlahan mengikuti arus menuju titik Hajar Aswad.
.
Bersama para jemaah dari berbagai negara itu, aku menunaikan salat Magrib dan Isya berjamaah di area terbuka di bawah langit, proyek yang masih dalam proses pembangunan. Walau belum sepenuhnya rampung, suasananya tetap sakral dan penuh kekhusyukan.
"Ka'bah..yes Ka'bahh you know Ka'bah too? sa mau ke sana" sambil tanganku nunjuk2 tanah gurun, menarik garis membentuk kubus segi empat.
Menuju Padang Arafah
Pagi itu, langit Mekkah tampak lebih redup dari biasanya. Tapi hati justru terasa terang. Hari yang dinantipun tiba aku dan jutaan jemaah lainnya akan bergerak menuju Arafah. Sejak subuh, suasana hati terasa berbeda. Ada debar haru dan rasa syukur yang menggema dalam dada. Setelah salat Subuh, aku mandi sunnah ihram, membasuh tubuh dengan niat membersihkan jiwa menyambut perjalanan agung ini.
Pukul enam pagi, aku sudah mengenakan kain ihram kembali. Dua helai kain putih sederhana, tapi sarat makna: kesetaraan, ketundukan, dan kesiapan menghadap Allah. Tak lupa, aku melaksanakan salat sunnah sebelum wukuf, menyiapkan hati untuk puncak ibadah haji yang sesungguhnya.
Menjelang siang, tepat pukul 12.45, aku dan rombongan menaiki bus yang akan membawa kami ke Padang Arafah. Sepanjang perjalanan, bus dipenuhi suasana talbiyah "Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik", menuntun hati yang masih rapuh agar kami dapat diterima di jalan-Nya. Di luar jendela bus, padang tandus menyambut. Tanpa pohon rindang. Tanpa gedung tinggi. Hanya barisan tenda putih seperti titik-titik kecil di hamparan debu. Di sinilah kita akan wukuf
Kami tiba dan masuk ke tenda JKG 8 Banten. Tenda ini akan menjadi tempat kami bermalam menjelang wukuf esok hari. Di sini, semua sama: pejabat, petani, backpacker, pensiunan. Semua mengenakan ihram dan menunggu panggilan langit.
Wukuf bukan sekadar berada di tempat. Tapi tentang hadir secara utuh. Di tubuh. Di hati. Di jiwa.
https://youtu.be/0pWFKBgZbLE?si=wJy3oEwpX2tdQNrX
Pakai payung berlindung dari kedinginan di dalam tenda Arafah
Saat matahari condong ke barat, kami salat dzuhur dan ashar secara jamak-qashar. Setelah itu, semua hening. Tiap orang masuk ke ruang sunyi masing-masing. Ada yang berdoa keras-keras. Ada yang menulis di buku kecil. Ada yang menangis dalam diam. Aku duduk bersila, menunduk, menengadahkan tangan:
"Ya Allah, ini aku, yang penuh dosa, yang sering tersesat bukan hanya secara geografis tapi juga secara iman... Jangan pulangkan aku dari tempat ini kecuali Engkau telah mengampuniku..."
Langit Arafah berawan. Hujan turun sebentar, gerimis yang seperti salam dari langit.
Seorang teman berkata, "Kalau hujan di Arafah, insyaAllah doa diijabah..."
Aku hanya mengangguk. Tenggorokanku tercekat. Waktu berjalan lambat. Tapi suasana sangat cepat menyentuh batin. Inilah puncak spiritualitas Islam.
Waktu Maghrib tiba, kami melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak qashar. Setelahnya, ada tausiyah yang menguatkan bathin. Malam Arafah adalah malam refleksi. Malam mengulang kembali perjalanan hidup. Malam untuk merenung dan menangis dalam keheningan tenda.
Setelah makan malam dgn menu opor daging dengan kacang merah. Kombinasi unik yang memberi tenaga. Kafilah mengaji bersama, melantunkan wirid dan dzikir dalam suasana tenang.
𝙱𝚎𝚝𝚊𝚙𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚊𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚒𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚕𝚖𝚊𝚛𝚑𝚞𝚖 𝚔𝚎𝚍𝚞𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚊𝚔𝚞. 𝚃𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚍𝚘'𝚊-𝚍𝚘'𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚕𝚞𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚋𝚞𝚜 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚒𝚝, 𝚊𝚔𝚞 𝚢𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚑𝚔𝚞 𝚝𝚊𝚔𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚔𝚎 𝚃𝚊𝚗𝚊𝚑 𝚂𝚞𝚌𝚒 𝚒𝚗𝚒. 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚔𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚔𝚞 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚓𝚒 𝚒𝚗𝚒, 𝚓𝚒𝚔𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚜𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚕𝚒𝚛 𝚋𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚝𝚒𝚊𝚍𝚊. 𝙳𝚒 𝚜𝚎𝚝𝚒𝚊𝚙 𝚓𝚎𝚓𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚔𝚒𝚔𝚞 𝚍𝚒 𝚋𝚞𝚖𝚒 𝚑𝚊𝚛𝚊𝚖 𝚒𝚗𝚒, 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚘𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊—𝚖𝚎𝚗𝚍𝚘𝚛𝚘𝚗𝚐𝚔𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚜𝚝𝚒𝚐𝚑𝚏𝚊𝚛.
Hingga akhirnya, mata ini perlahan terpejam… menanti esok hari—hari wukuf, saat Allah dekat dan rahmat-Nya tercurah tiada batas.
Padang Arafah, 04 Juni 2025
Muzdalifah: Bumi Beralas Langit
Khutbah wukuf dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, setelah kami melakukan sholat jamak Duhur dan Asar dilanjutkan dgn khutbah oleh Gus Isqowi kemudian jamaah memulai ibadah wukuf (berdiam diri) di Arafah hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah.sebagai bagian penting dari puncak ibadah haji. Khutbah ini disampaikan untuk memberikan pemahaman spiritual dan moral. Maghrib, wukuf selesai. Tapi bukan berarti perjalanan selesai. Kami mendengar berita duka seorang jamaah di tenda sebelah meninggal dunia.
Kami bersiap menuju Muzdalifah, untuk mabit (bermalam) di tanah terbuka. Bus mengantri panjang. Sebagian jemaah memilih berjalan kaki.
Selepas jam 21.00 aku dan kawan2 dapat giliran naik ke bus meninggalkan tenda Arafah, Meski penuh dan panas, tidak satu pun dari kami mengeluh. Semua diam. Lelah, tapi bahagia. Kami tahu: ini adalah malam di mana dosa berguguran, dan harapan ditegakkan kembal. Kami bergerak menuju Muzdalifah, padang luas dan terbuka tanpa tenda, tanpa atap. Di sinilah kami akan mabit—bermalam di bawah langit terbuka, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Bus melaju pelan. Lalu lintas padat. Ratusan ribu jemaah
bergerak serentak, ada yang naik bus, ada yang berjalan kaki menyusuri gelapnya
jalanan dengan bekal senter dan tekad. Kami tiba di Muzdalifah menjelang tengah
malam. Bus parkir, dan kami semua turun membawa alas seadanya: terpal, sajadah,
atau tikar lipat. Gurun penuh sesak. Sulit untuk berjalan, kami harus melangkahi hamparan tubuh2 manusia. Rasanya tak mungkin dapat space sekedar buat ngampar lurusin punggung. Aku terus berjalan sampai mendekati pagar pintu keluar. Ajaibnya tetiba ada jamaah Afrika yang beringsut mau keluar ke bus. Amazing ! kuasa Allah aku tidak menyangka akan dapat space yg cukup lega utk berbaring di atas tikar. Alhamdulillah wa syukurillah...
Angin malam gurun terasa menusuk, tapi juga menenangkan. Aku
rebahan di atas tikar, memeluk tas ransel, sambil menatap langit. Langitnya
jernih. Bintang-bintang bertaburan. Udara kering menyelimuti, tapi dalam
keheningan itu, terasa hangatnya kasih sayang Allah SWT.
Di Muzdalifah, aku memungut batu2 kecil di bawah alas tikar, yang akan
kugunakan untuk lempar jumrah tiga hari ke depan. Batu-batu itu kupungut
perlahan sambil berzikir, seolah setiap butir adalah simbol dari ego, amarah,
dan dosa yang ingin kulempar jauh-jauh.
Beberapa teman tidur dengan pulas. Yang lain sibuk
membungkus batu dengan plastik ziplock. Aku? Separuh tidur, separuh sadar.
Takut kehilangan sandal yang menjadi sahabat spiritual. Kupeluk
saja sebelah kanan, dan kuletakkan satu lagi di bawah kepala. Aman.
Pagi itu, setelah Subuh, aku bersama dua teman mulai bergerak keluar dari Muzdalifah. Kepadatan jamaah yg luarbiasa dgn pintu keluar hanya selebar 1.5 meter yang tutup buka sesuai kedatangan bus. Aku mencari akal utk bisa keluar dari pagar besi. Losta masta! Melalui pintu kafilah Afika bodyku yang slim memudahkanku menyelinap kerumunan dari sisi samping pagar dan sampai dlm sekejap depan pintu kerumunan emak2 negro.
Dengan setelan sinetron Indosiar kubilang pada
petugas jaga pintu dan emak2 “Please,
I'm about to faint. Get me out of here. I'm alone “ dramatisasi dgn muke mo
pingsan. Pintu dibuka sedikit agar aku bisa keluar. “Thankyou Bro, thanks Ma’am..”
kataku ke petugas & emak2 Afrika yg itemnya kebangetan dan cantik, mungkin kasian
padaku wkwkwk…
Aku berlari ke arah teman2 di pintu 35 yg masih di dalam
pagar. Ayo lempar tasnya !. Satu demi satu ransel Armuzna/tas jamaah Serpong dioper
dari dalam ke luar pagar. Ransel dan tas sekitar 25 buah aku tumpuk di sisi
jalan. Berkeringat? Ya! Tapi teman2 jadi mudah berdesakan keluar ke pintu tanpa
membawa beban tas. Bus datang kami bertiga bergegas duluan naik bus.Teman yg
lain menunggu istrinya keluar. Suasana riuh dan penuh sesak. Tak butuh waktu
lama untuk melihat betapa padatnya jalanan. Bus-bus tertahan, nyaris tak
bergerak. Banyak jemaah akhirnya memilih turun jalan kaki ke Mina, sekitar 5
kilometer jauhnya.
https://www.instagram.com/reel/DNkOzkBzyzM/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Aku
bertahan di dalam bus, kedua temanku memutuskan turun dengan berjalan kaki. Aku memilih tetap duduk
di kursi, berharap macet segera terurai. Ternyata aku harus menunggu hampir 4
jam! Bus nyaris tak bergerak sepanjang waktu itu.
Akhirnya sampai di kawasan Mina, aku turun dan
berjalan sendiri mencari maktab 33. Matahari sudah tinggi, jam menunjukkan
pukul 9 pagi, dan panasnya menyengat luar biasa. Aku bertanya ke sana kemari,
tapi arah yang kuterima simpang siur. Jalanan terasa membingungkan. Baterai Hp
dan kuota internet sudah “tewas”, membuatku tak bisa menghubungi siapa pun.
Orang-orang lokal yang kutanya pun kebanyakan tak paham bahasa Inggris. Petugas
haji yg kutemui di jalan hanya menebak arah, iapun sedang mencari maktabnya wkwkwk..
| Prosesi puncak haji |
Sekian lama berjalan dgn kebingungan, aku bertemu dengan seorang jemaah dari maktab 38 yang baik hati. Ia membantu menghubungi teman yang berada di tenda JKG 8. Sekitar jam 11 siang, akhirnya berhasil bertemu teman yang sudah menunggu di depan gang maktab 33. Alhamdulillah…Rasanya seperti selamat dari serangan heat stroke. Aku benar-benar nyaris tumbang karena kelelahan dan dehidrasi. Ndilalah..temanku melihat ranselku terbuka, obat2anku komplit sekantong pouch, handuk, creme 21, deodoran, sabun muka dsb hilang tercecer tidak kusadari, udah haus, lapar...udah kleyengan …
Perjalanan hari itu sungguh melelahkan,
apalagi aku secara yakin memutuskan tidak mengambil skema tanazul & murur.
Keputusan ini bukan sekadar soal tempat tidur, tapi soal kesiapan mental:
menghadapi panas terik dan kepadatan luar biasa, tidur di tenda sempit bersama
ribuan jemaah lain, serta setiap hari berjalan kaki Jamarat pp untuk
melempar jumrah. Tidak ada pintu keluar cepat—sekali memilih, aku harus
bertahan di sini hingga akhir hari-hari tasyriq.
Malam harinya, setelah Isya, kelelahan fisik belum juga pulih, tapi aku harus melangkah lagi. Aku dan dua teman (yg lain belum kuat) berjalan bergerak lagi menuju Jamarat - tempat pelaksanaan lempar jumrah, simbol perlawanan terhadap godaan setan.
untuk melaksanakan lempar jumrah aqabah. Kami menyusuri terowongan panjang Mina yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Langkah demi langkah terasa berat, kakiku mulai lecet kena gesekan sendal gunung namun irama takbir dan kesadaran bahwa inilah puncak ibadah memberi kekuatan tersendiri. Hari itu adalah hari Nahr, 10 Zulhijah. Kami hanya melempar Jumrah Aqabah, tujuh lemparan batu, sambil mengucapkan:
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Tiap lemparan kulontarkan dengan seluruh tenaga jiwa. Bukan
cuma melempar batu, tapi juga amarah, dendam, keangkuhan, rasa sombong, dan
malas mengaji.
Ada rasa lega setelah selesai. Seolah satu tahap
penting telah ditunaikan. Setelah menyelesaikan lempar
jumrah, kami kembali ke maktab 33 lewat rute yang sama. Total jarak
pulang-pergi mencapai sekitar 9 kilometer. Selanjutnya kami istirahat untuk persiapan
Entah bagaimana, tubuh yang letih masih
sanggup melangkah. Padahal panitia haji mendaftarkan aku dalam skema tanazul dan
murur karena alasan medis (A- Unspecifik) dan faktor “U”. Mungkin karena tekad ibadah dan pertolongan
Allah. Kalau hanya mengandalkan fisik semata, rasanya sulit bagiku
menyelesaikannya.
Alhamdulillah, satu tahap penting telah dijalani.
Tenda Mina, 06 Juni 2025 / 10 Dzulhijjah
Tawaf Ifadah & Lempar Batu, Lempar Ego, Lempar Kesabaran
Pagi 11 Zulhijah aku bangun lebih awal dari biasanya. Subuh kulalui dengan khusyuk, lalu mulai bersiap. Tiga kantong batu sudah kusiapkan rapi sejak malam—bukan untuk gaya-gayaan, tapi agar tidak salah sasaran. Hari ini aku akan menunaikan ritual lempar jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Masing-masing tujuh lemparan. Total dua puluh satu batu. Tidak lebih, tidak kurang.
Ransel kecil kupanggul. Isinya bekal, air minum, dan sisa-sisa semangat yang masih bertahan sejak wukuf. Jalan menuju Jamarat seperti sungai manusia tanpa hulu dan hilir. Dari segala penjuru dunia mereka datang: ada yang bertongkat, ada yang di kursi roda, ada yang digandeng anaknya, bahkan ada yang masih sempat live streaming.
Aku? Fokus. Tidak ingin gagal konsentrasi. Badan boleh lelah, kaki boleh protes, tapi mental harus tetap siaga. Ini bukan sekadar lempar batu. Ini urusan hati.
Setiap batu kulempar sambil berbisik pelan,
“Batu ini untuk syetan ego…”
lempar.
“Batu ini untuk syetan penggoda…”
lempar.
“Batu ini untuk syetan Zionist…”
lempar.
Entah kenapa rasanya plong. Seperti melepaskan beban yang selama ini tak kelihatan tapi terasa berat.
Selesai lempar jumrah, kami bertiga tidak kembali ke Mina. Baru beberapa langkah, kakiku mulai meringis. Lecet. Gesekan sandal yang sudah tak kompromi lagi. Untung handyplast masih setia di saku. Kutempelkan cepat-cepat, lalu kami lanjut jalan. Target berikutnya: tawaf ifadah di Masjidil Haram.
Dengan kaki pincang, tak ada lagi ambisi mencium Hajar Aswad. Realistis saja. Kakiku saja sudah beberapa kali terinjak orang sampai plesternya copot. Aku cuma bisa menahan sakit sambil menghela napas panjang. Alhamdulillah, tawaf ifadah akhirnya tuntas juga.
Dari sana kami menuju Terminal Syib Amir. Naik bus shalawat dengan harapan besar: langsung ke Mina. Eh… ternyata busnya cuma sampai Jamarat.
Lah… kumaha ieu?
Ternyata memang tidak ada bus ke Mina. Pilihannya cuma tiga: gempor jalan kaki 4–5 km, atau pasrah naik taksi tembak sambil senyum pahit. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Matahari sedang di puncak-puncaknya. Kaki dan perut sudah tak bisa diajak diskusi. Akhirnya kami balik lagi ke Syib Amir.
Di depan terminal, taksi-taksi berjejer seperti tahu situasi. Harga? Jangan ditanya. 600–700 SAR, tanpa argo, tanpa basa-basi. Setelah tawar-menawar penuh ringisan, akhirnya kami dapat sopir Bangladesh yang berbaik hati—atau mungkin kasihan—di harga “termurah”: 450 SAR. Kami patungan bertiga. Deal dengan hati berat tapi kaki bersyukur.
Dengan alasan taksi dilarang masuk kawasan Mina, kami diturunkan di area Misfalah sebuah simpang tiga besar. Katanya, dari situ ada bus ke arah maktab Mina. Dalam hati mulai muncul geram. Tapi kutahan. Kutahan sungguh-sungguh. Ini haji, bukan lomba emosi.
Kami naik bus. Dan… ya, kami diturunkan lagi. Di tempat yang masih jauh. Masih harus jalan kaki sekitar 1,5 km menuju Masjid Quwait yang menjadi patokan maktab kami.
Ya Allah…
Di titik itu, aku cuma bisa tertawa kecil. Tertawa pasrah. Lempar jumrah rupanya belum selesai. Syetan hari itu menyamar jadi rute bus, sopir taksi, dan papan petunjuk yang setengah jujur.
Tapi beginilah haji mandiri. Tidak selalu mulus, tapi selalu penuh pelajaran. Batu sudah dilempar, ego sudah diremukkan, dan kesabaran… sedang diuji level lanjutannya.
Sesampainya di hotel, niatnya mau langsung istirahat. Tapi badan terasa "ringsek", pegal-pegal menyelimuti seluruh sendi. Rebahan pun tak karuan—mata ingin tidur, tapi tubuh seperti masih menyimpan sisa-sisa letih yang belum tersalurkan dengan benar.
Masjidil Haram, 10 Juni 2025
Babak Akhir: Kembali ke Tanah Air
Subuh masih jauh ketika aku membuka mata. Pukul 03.00 dini hari, aku segera bangun, bergegas mandi, lalu menunaikan salat lail dan kontemplasi Subuh. Ada getaran haru di dada—hari ini, aku dan rombongan akan kembali ke Indonesia. Perjalanan spiritual ini nyaris usai, dan sebentar lagi kami akan meninggalkan Tanah Haram, tempat di mana segala doa dan air mata tumpah tanpa sekat.
Koper kecil seberat 6,9 kg sudah kubawa keluar ke lorong
kamar—nyaris penuh batas maksimal 7 kg. Sementara koper besar hanya 22 kg dari
32 kg yang diizinkan. Semua sudah kukemas sejak kemarin, rapi dan siap
berangkat.
Setelah sarapan, aku turun ke lobi hotel. Rombongan kami
bersiap naik bus yang akan mengantar menuju Bandara Internasional King Abdul
Aziz di Jeddah.
https://www.instagram.com/reel/DK6nYN6TkWk/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Tgl 13 Juni 2025 sekitar pukul 07.00 pagi, semua koper plus plus milik jamaah telah masuk ke bagasi bus, dan setelah pemeriksaan dokumen manifest, bus mewah mulai bergerak membelah kota Makkah yang mulai beranjak dari fajar menuju terang.
Sepanjang perjalanan, suasana dalam bus diwarnai oleh
lantunan shalawat dan testimoni dari beberapa jemaah tentang pengalaman mereka
selama berhaji. Ada tawa, ada haru, ada kisah-kisah lucu sekaligus menyentuh
hati. Rasanya seperti menonton film dokumenter spiritual, tapi pelakunya adalah
kami sendiri.
Nonton di sini : https://youtu.be/qnHli3VMusk?si=eGWrxBN5kQg0WppU
https://www.instagram.com/reel/DMDKi_hzLar/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Setiba di bandara, kami melewati berbagai proses:
pemeriksaan, pengecekan paspor, boarding. Ada rasa sendu yang menggelayut di
hati. Meninggalkan Makkah bukan perkara ringan. Setiap langkah menjauh seolah
menarik seutas tali kenangan yang tak ingin putus.
Sehari sebelumnya, suasana sempat sedikit tegang. Banyak
jemaah—terutama para emak-emak kolektor oleh-oleh "Sagala Aya"—cemas
soal berat bagasi. Apalagi setelah viralnya video dari kloter pertama Makassar
yang koper dan oleh-olehnya terpaksa dibongkar karena over-bagasi. Tapi
ternyata, kekhawatiran itu berlebihan. Pemeriksaan rombongan tim Haji Mandiri
Serpong ini sangat longgar. Bahkan ada yang berhasil membawa air zamzam dalam
ransel/ tas tambahan, hingga cerek
Mekkah, dan semua lolos tanpa masalah. Keberkahan utk Pejalan Mandiri?.
Bagi kami yang telanjur disiplin mengatur barang sesuai
aturan, justru sempat merasa dongkol. “Ah shit!” begitu celetuk seorang teman,
mencairkan ketegangan. Ada yang terpaksa batal beli cokelat, kacang arab, abaya
karena takut kelebihan. Ternyata, semua kekhawatiran itu sia-sia. Tapi, ya
sudahlah—namanya juga perjalanan ibadah. Yang penting pulang dengan hati yang
bersih, bukan koper yang penuh.
Pukul 15.30 waktu Jeddah, pesawat kami take off. Sebuah lambaian terakhir pada Tanah Haram dari balik jendela pesawat. Sepanjang perjalanan pulang, hati ini campur aduk: bahagia, haru, dan entah apalagi namanya.
Dan tepat pukul 05.30 pagi waktu Indonesia, roda pesawat
menyentuh landasan Soekarno-Hatta. Alhamdulillah. Kami kembali ke Bumi Ibu
Pertiwi. Setelah proses kedatangan, kami langsung diangkut ke embarkasi
Cipondoh.
Langit Tangerang masih redup. Udara pagi terasa hangat dan
lembab. Pohon-pohon tropis menyambut dengan hijaunya. Hembusan anging mammiri
seolah mengucapkan selamat datang. Rasanya seperti pulang ke surga yang
lain—surga tropis Indonesia, dengan semua kerinduan yang tak pernah putus
selama kami di tanah rantau spiritual.
Welcome Home!
Perjalanan ibadah ini telah mencapai garis akhir. Tapi
semoga, ini bukan akhir dari perubahan diri. Semoga menjadi awal baru yang
lebih baik—lebih taat, lebih ikhlas, lebih peduli.
Ya Allah… Terima kasih telah mengundangku menjadi tamu-Mu.
Terima kasih atas setiap peluh, airmata, dan keajaiban yang Kau perlihatkan.
Kini aku pulang. Tapi hatiku akan selalu punya sudut khusus yang tertinggal di
bawah langit Makkah dan Madinah.
https://youtube.com/shorts/l6qIXwevj3M?si=vFslNTyFyjjQtxJ_
Anggrek Loka, Dinihari 15 Juni 2025
FEATURES DALAM PERJALANAN


Tidak ada komentar