ROAD TO MECCA DIARY EPISODE 1

KATA PENGANTAR

Haji bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi juga sebuah kisah panjang penuh lika-liku, tawa getir, keharuan, dan pembelajaran hidup. Dalam catatan ini, saya—dengan segala keterbatasan sebagai seorang backpacker / pejalan mandiri yang biasa mengarungi dunia dengan ransel—mencoba merekam jejak langkah saya selama berhaji. Semoga kisah ini bisa menjadi cermin, hiburan, sekaligus pengingat akan betapa indahnya panggilan Allah itu.


P R O L O G

Flashback : Menunaikan Amanah Ibu


"Kapan kamu berangkat haji, Nak? Menyusul kakakmu yang sudah berhaji. Banyak negeri yang sudah kamu datangi. Namun yang ibu harapkan, kamu bisa sampai ke Mekkah dan Madinah..."

Kalimat itu keluar dari lisan ibuku yang lembut, saat aku pulang kampung menemuinya sekitar tahun 2012. Ucapan yang terdengar biasa, tapi terasa magis di hati. Bukan hanya harapan, tapi seakan menjadi amanah, yang diam-diam mengikat langkahku sejak saat itu.

"Insya Allah, Bu," jawabku lirih. Jawaban sederhana yang penuh keraguan, tapi juga tekad. Aku tahu, ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah mimpi suci yang harus kuikhtiarkan dengan sungguh-sungguh.


Maka pada April 2013, aku melangkah ke Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan. Aku mendaftarkan diri untuk berhaji. Sebuah langkah awal yang kecil, tapi penuh harap. Waktu tunggu sekitar 10 tahun membuatku merenung—haruskah aku menanti selama itu? Naluri perjalananku sebagai backpacker, sebagai penjelajah negeri-negeri asing tertantang. Aku mulai merancang rute Umrah alternatif.

Tahun 2015, tanpa memberi tahu Ibu, aku diam-diam menyusun rencana nekat: perjalanan melintasi beberapa negara menuju Tanah Suci.
Rutenya: Jakarta – Manila – Dammam (Arab Saudi), lalu naik bus darat menyusuri padang pasir menuju Madinah, Mekkah, hingga Jeddah.
Aku ingin memberikan kejutan terbesar dalam hidupku kepada Ibu saat aku tiba nanti :

“Bu, aku telah sampai di Baitullah...”

Tapi Allah punya rencana lain.


Di bandara Manila, aku ditolak naik pesawat menuju Dammam. Petugas menyatakan visa umrahku tak berlaku untuk jalur itu. Aku bahkan terancam dideportasi.
Itinerary yang sudah kususun rapi, tiket pesawat dan hotel yang sudah dibayar—semuanya hangus. Aku tersedak. Aku terisak. Aku merasa haru lara dan pilu sampai kemudian akhirnya pesawat Philipine Airlines take off tanpa aku di kabin pesawat. Aku harus menerima kenyataan pahit ini.
Suasana di airport ramai tapi aku merasa sangat kesepian. Aku merasa terasing. 

Aku ke toilet mengambil wudhu kutenangkan hati dari kegetiran perjalanan ini. Air wudhu dan air mata berbaur menjadi satu.
Langit di luar.
Langit di badan.
Bersatu dalam jiwa.

Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku ya Allah…. kuserahkan semuanya kepada Yang Maha Mengatur.


 


Di tengah kekacauan itu, teman2 Muslim Moro yang kukenal di Musholla Matare (Ust. Sultan, Arham dkk) mencoba menghiburku. Sungguh mereka sangat baik. Mereka perantauan dari Mindanau Philipina Selatan yang bekerja di Bandara. Suasana hati mulai tenang aku menghubungi Ibuku melalui hubungan internasional ke Makassar. Ternyata ibuku sedang sakit. Kata kakak, beliau  suka menanyakan aku karena dapat info dari istriku sedang menuju Mekkah lewat jalur Manila yang tak biasa. Astaghfirullah al azhiim, jiwaku terguncang lagi..

Dengan terbata dan penuh sesal, aku ceritakan bahwa rencana kejutan ke Tanah Suci gagal total.
Ibu hanya terdiam... lalu pelan menjawab dalam bahasa Makassar,
"Nda papa, Nak. kembali saja ke Bintaro ... Ibu sangat mengkuatirkanmu dan ibu kangen."

Aku menghela nafas panjang penuh sesal. Dalam hati aku berdoa,

"Ya Allah, sehatkanlah ibuku. Ampunilah aku yang mencoba menempuh jalan sendiri, tanpa restunya."
Keesokan harinya, aku memutuskan pulang. Tapi tidak ke rumah di Bintaro. Aku terbang dari Manila ke Makassar—menemui ibuku, mencium kakinya, meminta maaf dan memeluknya erat-erat melepaskan kerinduan dgn penuh kehangatan. 

Sejak saat itu, aku berjanji, aku akan ke Baitullah dengan cara yang benar, dengan niat yang lurus, dan restu dari ibu yang menjadi pijakan langkahku. Dan kini, setelah 12 tahun menanti, panggilan Karaeng Allah Ta'ala tiba.

Dan aku melangkah, membawa amanah ibuku dalam hati, menuju Tanah Suci...

Bismillah!


Anggrek Loka, 23 April 2025


Puncak Rihlah Seorang Backpacker: Menjawab Panggilan Baitullah

Aku seorang pejalan mandiri yang rada nekad.  Seorang avonturir yang, menurut Google Timeline th. 2019, telah menjelajahi 50% wilayah dunia. 

 


Catatan  Google di atas belum termasuk perjalanan ke Timur (Papua, Maluku) dan tambahan ke Barat (Pattani, Krabi, Penang, Langkawi, Kedah, Ipoh, Melaka) dan tahun ini ke Madinah dan Mekkah.
Dari Asia Tenggara, Indo China sampai ke Timur Tengah. Dari gang-gang kecil di Hanoi sampai pulau tropis Boracay, dari Sabang di Barat hingga Raja Ampat di Timur, dari Kuala Lumpur hingga ke Tokyo.

Perjalananku bukan tanpa drama. Pernah tersesat di Hanoi karena terlalu percaya diri jalan kaki tanpa arah, nyasar di Bukittinggi karena “sok tahu”, dan di Kuala Lumpur  kehilangan paspor, ditendang ke sana-sini saat mengurus passpor sementara. Bahkan Polisi Diraja mengira aku TKI ilegal. But hey, at least I looked employable.


 
Hanoi Cafe
 

  

            

 

Handphoneku juga pernah hilang di Ho Chi Minh City. Alih-alih panik, aku memutuskan menjajal pengalaman “traveling tanpa gadget”, seperti pengelana zaman batu. Di Boracay tahun 2015, aku sengaja tak beli kartu SIM. Aku ingin merasakan kembali "keprimitifan" para hippies: berjalan tanpa peta digital, bertanya pada penduduk, dan mampir ke warung internet untuk sekadar kirim kabar via Facebook. Sekarang, warung internet sudah punah. Seperti dinosaurus.

Tapi di antara semua itu, ada satu perjalanan yang selalu kusebut “belum”: Tanah Haram. Mekkah dan Madinah. Tak sedikit teman pun keluarga yang nyinyirin:

"Keliling ke mana-mana tapi belum pernah umrah apalagi haji. Buat apa?"

Aku hanya senyum. Mungkin mereka tak paham : setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing. Aku percaya, seluruh rihlahku selama ini adalah latihan mental dan spiritual menuju satu titik klimaks: menjawab panggilan Baitullah.

April 2025. Sebuah notifikasi resmi dari Kemenag membuat detak jantungku berubah irama: Aku berangkat haji tahun ini !. Perjalanan ini bukan sekadar ziarah spiritual. Ini adalah puncak semua rihlahku. Aku tidak lagi sekadar pelancong.  Aku adalah tamu Allah.


 


Bismillah...Perjalanan agung ini dimulai.

Medio, April 2025


Catatan Hati Ibadah Haji

Menjelang keberangkatan ini, ada rasa haru dan syukur yang mendalam. Tapi bersamaan dengan itu, ada pula rasa sedih dan getir yang sulit aku ungkapkan.

Dalam hati kecilku, aku menangis. Aku merasa belum sepenuhnya pantas untuk menerima kehormatan ini—dipanggil Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Ada sosok-sosok luar biasa dalam hidupku yang menurutku jauh lebih layak untuk menyandang gelar haji adalah : M. Saleh & Khadijah, Ayah dan Ibuku. 


  


Ayah - ibu bukan orang yang bergelimang harta. Mereka menjalani hidup dengan sangat bersahaja. Namun dari kesederhanaan itulah, mereka menebar banyak kebaikan. Ayah tidak pernah menagih sewa kontrakan rumah untuk tetangga yang kesulitan. Ayah mengajak orang-orang yang membutuhkan pekerjaan untuk ikut bekerja bersamanya sebagai instalatir listrik—berbagi rezeki dari keringatnya sendiri.


Sebagai pensiunan Zeni TNI AD dengan penghasilan yang sangat terbatas, beliau tak pernah mengeluh. Justru dengan penghasilan kecil itulah beliau tetap istiqamah membantu orang lain. Setiap menjelang Hari Pahlawan dan HUT TNI, ayah menjadi relawan  memasang lampu warna-warni di makam pahlawan dan di markas kesatuannya. Ia juga aktif di masjid, selalu menjaga salat berjamaah, dan turut serta dalam program AMD listrik masuk desa yang membuatnya sering bepergian ke Kendari, Ambon. Dulu beliau juga senang bepergian ke kota2 di Jawa.

Kami dibesarkan 9 bersaudara dalam suasana yang sederhana, tapi penuh cinta dan nilai kehidupan. Mereka mungkin tidak pernah berangkat haji secara fisik, karena memang tak pernah ada kesempatan atau kemampuan untuk menabung sebesar itu.

Namun hari ini aku sadar, bahwa aku bisa berhaji karena doa dan didikan mereka. Karena kesungguhan mereka membentuk anak-anaknya menjadi manusia yang kuat, menjaga komitmen, dan bertanggung jawab. Dan karena itulah, menurutku mereka telah lebih dulu berhaji. Mereka adalah haji dalam makna yang sejati: mereka menuju Allah lewat kebaikan yang tak terhitung jumlahnya.

Maka bila kelak besok hari  aku menapak tanah suci, aku membawa nama dan cinta mereka. Aku berniat menyempurnakan cinta itu dalam setiap langkah thawaf, setiap doa di Arafah, dan setiap sujud di hadapan Ka'bah.

Ya Allah... terimalah haji ini bukan hanya untukku, tapi juga sebagai persembahan untuk kedua orang tuaku tercinta, yang kuyakini telah lebih dahulu Engkau muliakan.


Anggrek Loka,Selasa 15 April 2025.


H-1, Milad Kelahiran Isteriku

Hari ini adalah hari yang istimewa. Di antara hiruk-pikuk persiapan keberangkatan haji, Allah anugerahkan satu momen penuh kehangatan: hari ulang tahun istriku tercinta.

Kami akan merayakannya dengan sederhana, namun penuh kehangatan, di sebuah kafe kecil yang tenang dan cozy. Tak ada pesta meriah, tak ada hiasan gemerlap. Hanya kami berempat—aku, istriku, dan dua puteri kami—berbagi tawa, doa, dan cinta yang tak terucap kata.

Di balik senyum istriku hari ini, aku menangkap cahaya ketegaran. Di balik matanya yang bening, ada haru yang dalam. Ia tahu, hari-hari ke depan akan penuh rindu. Tapi ia tidak mengeluh. Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat, seolah berkata: “Pergilah, aku ridha.”

Aku terharu. Betapa luar biasa perempuan ini. Dalam diamnya, ia adalah penopang hidupku. Dalam lembutnya, ia adalah kekuatan yang selama ini menopang langkahku, hingga aku sampai pada titik ini—siap berangkat menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hari ini, aku tak hanya bersyukur atas usianya yang bertambah. Tapi juga bersyukur karena Allah memberikan aku kesempatan untuk berhaji menyusul isteriku yang lebih dulu menunaikan ibadah haji tahun 2005 lalu. Aku bersyukur Allah menitipkan seorang istri yang sabar, setia, dan penuh cinta. Seandainya ada yang boleh aku pinta, aku ingin pulang nanti—dalam keadaan selamat, sehat, dan menjadi pribadi yang lebih baik—untuknya, untuk anak-anak kami, untuk keluarga kecil yang telah kami bangun bersama.

Selamat ulang tahun, istriku. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keberkahan untukmu. Doakan aku, dan aku pun akan terus mendoakanmu, dari tanah suci yang jauh, tapi dengan cinta yang tak pernah surut.


 


Pandangan Mata untuk Aini

Engkaulah teduh di terikku,

senja di letihku,

pelabuhan tenang saat gelombang menghempas.

Dalam diammu ada kekuatan,

dalam doamu ada jalan pulang.

Tetaplah bersinar di hatiku,

seperti hari ini, dan selamanya.


Anggrek Loka, Jumat 02 Mei 2025.


Menuju Embarkasi Pondok Gede. 

Bismillah.

Hari ini, langkahku benar-benar dimulai.

Pagi datang dengan cahaya yang berbeda. Udara terasa lebih syahdu, angin menyapa lembut seakan membisikkan doa-doa langit. Dari dalam hati, aku tahu: inilah hari yang selama ini kutunggu—hari aku berangkat memenuhi panggilan-Nya.

Rumah pagi ini tak seperti biasanya. Ada pelukan-pelukan yang lebih erat, dan mata-mata yang basah namun penuh doa. Satu per satu aku menatap wajah mereka—istriku, anak-anakku. Ada keikhlasan yang terasa, tapi juga rindu yang mulai mengendap sejak sebelum berpisah.

Kupeluk istriku, lebih lama dari biasanya. Kugenggam tangan anak-anakku, dan dalam hati kutitipkan seluruh cinta dan harapanku. Tak banyak yang kuucapkan, hanya kalimat sederhana, “…Maafkan segala kesalahanku dan doakan aku, semoga Allah memudahkan semua…”

Ketika bus beranjak meninggalkan Islamic Center BSD menuju titik kumpul jamaah haji di embarkasi Pondok Gede, kulihat lambaian tangan mereka yang semakin menjauh. Namun justru di sanalah terasa: cinta yang sesungguhnya tidak pernah menjauh. Ia menetap, menguatkan dari dalam. Aku melambaikan tangan, sambil menahan derasnya perasaan. Bukan karena perpisahan, tapi karena kebesaran momen ini. Aku tengah menuju panggilan suci.


   


Sesampainya di titik keberangkatan, suasana berubah jadi lautan seragam batik. Jamaah dari berbagai penjuru datang dengan semangat dan wajah penuh harap. Kami semua sama: menanggalkan atribut dunia, menyatukan hati dalam satu tujuan—menjadi tamu Allah.

Kini aku hanya ingin berserah. Menyandarkan seluruhnya pada Allah. Segala lelah, cemas, dan haru biarlah luruh dalam doa yang kupanjatkan dari hati yang terdalam.

Ya Allah, terimalah aku sebagai tamu-Mu.
Tuntunlah setiap langkahku.
Lindungilah keluargaku yang kutinggalkan.
Dan izinkan aku kembali membawa cahaya dari Tanah Suci,
untuk menerangi rumahku, hidupku, dan keturunanku. 

Pondok Gede, Jakarta Timur, Ahad 4 Mei 2025.


Madina Aku Datang! 


Pesawat Garuda take off dari Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Durasi penerbangan sekitar 9 jam terasa sangat membosankan. Badan pegal, tidur pun tidak nyaman. Namun, layanan dari awak kabin Garuda sangat baik. Menu makanan dan snack yang disajikan terasa enak dan memuaskan. 


 


Beruntungnya aku menempati seat no 371 di sisi aisle sehingga aku leluasa bergerak. Bayangkan kalo di sisi jendela kabin..ruang gerak terbatas, mau kencing saja rempong keluar dari kursi. Saat jenuh dan pegal aku berdiri dan berjalan mengelilingi aisle dari belakang sampai ke dekat ruang pilot. Lain waktu aku berdiri merenggangkan kaki di galley dekat toilet, area Pramugari menyiapkan makanan. Di galley aku ngobrol dengan Pramugari2 yang ramah dan cantik. Keuntungan lain berada di sisi asley, kalo pramugari mendorong trolley makan/minum lebih mudah berkomunikasi dgn Pramugari saat memilih menu yang ditawarkan....

Tepat pukul 12.30 waktu setempat, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Madinah. Rombongan kami dijemput dengan bus dan langsung dibawa menuju Hotel Mirage At-Taubah, yang letaknya persis di depan kompleks Pemakaman Baqi.

   

 


Masuk ke lobby hotel koper-koper jamaah sedang diturunkan. Aku bersama Suwarji kawanku meninggalkan pengurusan koper di lobby. Kami cepat bergegas  menuju masjid Nabawi yang berjarak 650 m, tak sabar hati ingin berada di masjid Rasulullah. Begitu kaki melangkah masuk, auranya luar biasa—sebuah getaran batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Selaksa rasa bergemuruh dalam dada.

Ya Allah, akhirnya aku bisa hadir secara fisik di tempat ini. Menggemakan rindu kepada Rasul-Mu, memohon agar Engkau mengakuiku sebagai umatnya. Memohon diberikan syafa’atnya kelak...


  


Lorong Waktu

Jam 5 sore aku kembali ke masjid Nabawi utk shalat Maghrib dan Isya. Setelah shalat Maghrib, aku duduk tenang, memanjatkan doa dengan khusyuk. Perlahan, kuselami keheningan, mencoba bermeditasi dan membiarkan batin ini mengembara. Seolah aku memasuki lorong waktu, kembali ke masa 1.400 tahun silam—ke era Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya.




Kubayangkan bagaimana kehidupan mereka di sekitar Masjid Nabawi ini. Derap langkah para mujahid, lantunan wahyu yang turun, percakapan penuh hikmah antara Nabi dan para sahabatnya. Rasanya begitu dekat, begitu nyata. Hatiku dipenuhi haru dan rindu, seolah aku adalah bagian kecil dari sejarah besar itu.

Salat Isya kulaksanakan dengan hati yang masih dipenuhi getaran spiritual. Di antara ribuan jamaah dari berbagai penjuru dunia dgn ragam suku, bahasa, ragam madzhab (Sunni-Syiah). Aku merasa kecil, namun sekaligus tersambung dalam ikatan ukhuwah yang besar dan agung. Untuk Islam yang Satu. 

Usai salat, aku duduk sejenak di pelataran masjid, menikmati suasana malam di Madinah. Angin gurun bertiup lembut, membawa aroma damai yang sulit digambarkan. Kubasuh wajah dengan air zamzam, sambil terus bersyukur atas karunia luar biasa ini—kesempatan menjadi tamu Allah dan Rasul-Nya.

  

Sejarah Masjid Nabawi >https://www.bbc.com/indonesia/majalah-50206166


Malam pertama di Hotel Mirage At-Taubah kulewati dengan kelelahan yang membuncah, namun hati terasa ringan. Sebelum terlelap, aku sempat menatap ke arah Masjid Nabawi dari jendela kamar, mengucapkan salam perlahan:

“Assalamu ‘alaika ya Rasulullah… semoga esok aku diberi kesempatan untuk menyapamu lebih dekat.”

Madinah, Ahad 4 Mei 2025. 


The Miracle Of Mother's Ring

Ketika tiba di Bandara Sultan Aziz Madinah, aku baru menyadari jemariku tak lagi mengenakan cincin pemberian ibuku puluhan tahun lalu. Cincin sederhana dengan pengikat gemstone/batu akik berbahan alpaka. Gemstone memancarkan  konfigurasi warna hijau dan kuning berpendar saat tertimpa cahaya, cincin itu selalu menemaniku dalam perjalanan jauh sebagai pengingat kasih dan doa seorang ibu.


 


Kuingat, cincin itu kulepas saat sebelum melintasi mesin x-ray di embarkasi sesuai arahan petugas imigrasi. Karena antrian sangat padat dan aku tak ingin memperlambat antrian, cincin itu kucemplungkan cepat-cepat ke dalam goodybag punggung. Kupikir aman.

Aku terkesiap dan gundah, tanganku panik merogoh-rogoh dasar goodybag itu. Tak ada. Kukeluarkan semua isinya: snack, buku bacaan, syal, oralit, botol semprot. Tak ada. Kubuka tas paspor, mencari di sela-sela saku. Tak ada juga. Kukeluarkan semua isi tas. Kurogoh sudut-sudutnya berkali-kali. Hampa.

Hatiku haru lara pilu. Cincin itu tak ternilai—bukan karena harganya, tapi karena maknanya. Aku sengaja membawanya ke Tanah Suci, agar tiap tatapanku ke cincin itu menjadi penguat semangat dalam menapaki jejak haji panggilan Allah dan amanah Ibu. Kini hilang karena keteledoranku..

Aku termenung. Jauh dari tanah air, tak mungkin kembali ke imigrasi bandara untuk mencarinya. Di benakku terbayang cincin itu mungkin tergelincir keluar saat koper dan Goodybag yang tak punya kancing penutup melewati mesin x-ray. Aku kecewa... bukan pada takdir, tapi pada kelalaianku sendiri.

Sore itu aku tinggalkan hotel, menuju Masjid Nabawi untuk salat Maghrib dan Isya. Usai Maghrib, aku pindah ke tempat yang lebih lapang. Duduk bersandar sambil membaca Al-Qur’an, menunggu waktu Isya. Kubuka mushaf dan menuntaskan sepuluh halaman. Tapi rasa kantuk tiba-tiba menyerang. Mungkin karena jetlag, atau tubuh yang belum menyesuaikan waktu Madinah.






Adzan Isya tinggal lima menit lagi. Aku raih tas paspor, ingin mengambil buku saku doa. Saat kutarik buku itu—Subhanallah!—tiba-tiba cincin ibuku menyembul dari sela halaman buku tersebut.

Aku tertegun. Napasku tercekat. Beberapa detik hening. Lalu gemetar kutatap cincin itu, kutatap dalam-dalam seolah menatap wajah ibuku sendiri. Tak kuasa menahan haru, kucium cincin itu penuh syukur.

“Allahu Akbar… Astaghfirullah al-Azim… Subhanallah walhamdulillah… Walaa hawla walaa quwwata illa billah.”

Betapa Maha Penyayangnya Allah. Cincin itu tak pernah hilang. Ia hanya tersembunyi untuk mengajarkanku tentang sabar, tentang tawakal, dan tentang keyakinan bahwa tak ada yang benar-benar hilang jika Allah belum menghendakinya.

Dan malam itu, aku pun salat Isya dengan perasaan yang berbeda.

Di bawah tiang Masjid Nabawi, Senin 5 Mei 2025, jam 13.15.


ASKAR & EMBLEM BENDERA PALESTINA

(Sebuah Catatan Kecil dari Halaman Masjid Nabawi)

Pagi ini, usai salat Subuh di pelataran Masjid Nabawi—karena bagian dalam sudah penuh sesak—aku mengalami langsung realitas dari asumsi yang selama ini hanya kudengar: bahwa rezim Saudi (bukan rakyatnya) bersikap akomodatif terhadap kepentingan zionis Israel.

Usai salat, aku berjalan menuju pagar keluar. Tiba-tiba seseorang menepuk punggungku. Seorang askar berseragam loreng memintaku ikut beberapa langkah ke dalam. Dengan bahasa Arab, ia menanyakan visa dan paspor. Kujawab dengan Inggris ala backpacker:
“I didn’t bring my visa and passport ID because during the Hajj they’re kept by the vendor—the syarikah, understand?”

Tiba-tiba seorang pemuda berkaus oblong, rambut keriting, berkumis, ikut nimbrung. Ia menunjuk ke arah rompi yang kupakai, lalu berbicara dengan si askar. Apakah dia intel? Entahlah. Tapi jelas ada yang mencurigakan dari rompi itu di mata mereka. Aku tunjukkan kartu identitas PPHI, tapi si askar tetap ngotot minta visa. Ketika kuangkat kamera ponsel hendak memotret, ia segera melarang, “La… laa!

"Whats the problem, Akhi?" tanyaku. Sambil berkomunikasi lewat HT (kayaknya dengan komandannya), si askar menunjuk emblem kecil bendera Palestina yang menempel di dada kanan rompi dan logo "Masjid Al-Barkah." di dada kiri. Ah, rupanya ini sumber masalahnya! Aku memang pernah baca, simbol-simbol Palestina dilarang muncul di ruang publik Arab Saudi.
“But this is just a tiny emblem, only 3 x 5 cm!” protesku dalam hati—meski bibirku cuma nyengir onta dan kepala mengangguk pelan. Nggak mau ngegas. Menahan diri drpada nanti  panjang urusannya dan gagal ikut city tour


 



Akhirnya aku “diarahkan” ke pos jaga askar di pintu 367. Di sana, aku dibawa ke ruangan interogasi. Seorang komandan—botak plontos, kulit gelap, tinggi sekitar 175 cm, wajahnya sangar mirip Samuel L. Jackson—sudah menunggu bersama petugas piket yang membuka komputer. Mereka memotret wajahku dari depan dan samping—rasanya kayak Keanu Reeves di The Matrix. Data diriku dicek, termasuk afiliasi dengan Masjid Al-Barkah. Komputernya bahkan menampilkan Google Maps untuk melacak posisi masjid tersebut.


 



Proses ini cukup membuatku tegang. Apakah aku akan dikarantina? Apakah aku bisa dideportasi untuk hal sepele ini? Aku berusaha tenang dan tidak menunjukkan sikap perlawanan. Aku pasrah. Aku harus santai dan bersyukur, setidaknya ini menjadi secuil perjuangan politikku utk menunjukkan pembelaan pada rakyat Palestina. 

Dua askar menginterogasiku, sementara Askar yang menggiringku main Hp. Mereka meminta rompi MJAB yang kupakai dilepas. Proses tanya-jawab berlangsung dalam “Aralish” (Arab-English), aku menjawab dengan “Tanglish” (Tangerang-English). Saling tak paham. Bahasa Tarzan jadi andalan. Tapi aku berusaha tetap tenang, berdzikir, bershalawat, dan meyakini Rasulullah yang makamnya hanya sekitar 50 langkah dari ruang ini sedang “menyaksikan” kejadian ini.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.
Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Kuulang-ulang.

Meski berusaha kalem, tetap saja ada rasa waswas ditinggal bus. Aku kuatir pemeriksaan ini berlarut-larut dan ditinggal pergi City Tour yang seharusnya dimulai pukul 06.30 pagi ini.

Setelah sekitar 45 menit yang terasa seperti seabad, akhirnya aku diizinkan keluar. Rompi MJAB-ku dilipat dan dikembalikan, dengan catatan: tidak boleh dikenakan selama di Arab Saudi. Kata si komandan:

“Haram! Penalty could be prison. Just keep it in your suitcase, Hajj.”

Dengan wajah setelan memelas harularapilu ala sinetron Indosiar, aku menjawab,
“Thank you, Sir! Wassalam.”
(Hihihi, drama sedikit biar cepet keluar dari ruang interogasi...)

Aku ditemani hingga titik awal penahanan. Langkahku cepat seperti pelari 100 meter menuju hotel. Tiba di lobi—Alhamdulillah—bus belum berangkat! Aku naik ke kamar, ganti baju, dan rompi beremblem Palestina langsung kuhapus dari tampilan. Demi keamanan, kusimpan dalam koper besar. Tapi jangan khawatir, rompi itu akan kupakai lagi saat penerbangan pulang.
Karena di pesawat Garuda Indonesia, jelas: kita berpihak pada kemerdekaan Palestina!

✊🏼


Aku berlari dan melompat sigap masuk ke bus  wisata yang crew nya sedang mengabsen peserta City Tour "Sofyan Saleh! "

"Hadir.." sahutku mengangkat telunjuk.

Bus meluncur dgn tujuan : Kebun Kurma, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Parit Khandaq dan Jabal Uhud (Baca cerita di halaman berikutnya). 

Aku bersyukur...hari kedua yang sangat membekas dan berkesan. 

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah...
FREE PALESTINE ! END GENOCIDE NOW !

Masjid Nabawi, Selasa 06 Mei 2025


Ziarah Sejarah di Kota Madinah


Pagi ini, Selasa 6 Mei 2025, Saya mengikuti city tour dari hotel pukul 06.30 dgn tujuan  menyusuri jejak sejarah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat di sekitar Kota Madinah. Meski waktu sangat singkat, semangat saya besar untuk menyerap makna dari tiap tempat yang kukunjungi — meski ada rasa kecewa juga karena beberapa tempat hanya dilewati.


1. Kebun Kurma Abdurrahman

Lokasi pertama yang kudatangi adalah Kebun Kurma. Tempat ini ramai dengan aktivitas jual beli, namun saya tidak terlalu tertarik untuk berbelanja. Saya hanya melihat-lihat. Dalam hati saya mencoba membayangkan suasana kurma dalam kehidupan Nabi SAW.

 

 

Kurma adalah buah yang sangat dicintai Rasulullah SAW. Dalam satu hadits disebutkan:

> “Jika salah seorang dari kalian berbuka, maka hendaklah berbuka dengan kurma, karena ia berkah...”
(HR. Abu Dawud)


2. Masjid Quba

Tempat berikutnya adalah Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah dari Makkah. 
Masjid ini juga menjadi masjid tertua di dunia, diikuti oleh Masjid Nabawi yang dibangun juga pada tahun 622 Masehi.
Masjid Quba memiliki 19 pintu, tiga di antaranya adalah pintu utama. Rasulullah menjadi orang pertama yang meletakkan batu di kiblatnya saat pembangunan Masjid Quba. Mengutip dari welcomesaudi.com, sejak pembangunannya, masjid ini telah mengalami banyak renovasi di bawah banyak khalifah, dan kemudian oleh pemerintah Arab Saudi. Terbuat dari marmer putih, struktur alabaster terlihat kontemporer namun sederhana pada saat bersamaan. Masjid ini ditandai dengan enam kubah dan empat menara. 
Terdapat musala besar yang mengelilingi halaman tengah yang terbuat dari marmer hitam, putih, dan merah. Pelataran memiliki beberapa pintu masuk, di antaranya bagian utara dicadangkan sebagai tempat salat wanita. Masjid ini mampu menampung lebih dari 20 ribu jamaah sekaligus. Saya sangat tertarik dan terkesan saat berada di sana. Meski waktu kunjungan sangat singkat, saya sempatkan shalat dua rakaat dengan penuh haru.





  




Masjid ini dibangun oleh Nabi SAW bersama para sahabat di hari-hari awal kedatangan beliau di Madinah. Mengenai keutamaannya, Rasulullah bersabda:

> “Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba lalu shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya seperti pahala umrah.”
(HR. Ibnu Majah, Tirmidzi)


3. Masjid Qiblatain

Kami hanya bisa melihat masjid ini dari dalam bus. Saya merasa sangat tertarik untuk masuk dan mengetahui lebih dalam. Sayangnya bus tidak berhenti. Ini cukup mengecewakan karena Masjid Qiblatain menyimpan peristiwa penting dalam sejarah Islam.




Masjid ini dulunya bernama Masjid Bani Salamah. Di sinilah terjadi peristiwa perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:

> "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram..."
(QS. Al-Baqarah: 144)


4. Parit Khandaq (Ghazwah Khandaq)

Bus hanya melintas di sekitar lokasi. Tidak ada penjelasan rinci, dan saya tidak bisa melihat tanda-tanda lokasi parit. Lagi-lagi, saya merasa kecewa karena ini adalah tempat bersejarah dalam Islam.




Catatan sejarah:
Perang Khandaq terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah. Atas usulan Salman Al-Farisi, kaum Muslimin menggali parit sepanjang perbatasan Madinah untuk menahan serangan koalisi musyrikin. 
Pada suatu malam pasukan Quraisy yang sudah hampir kehilangan akal untuk menerobos parit mencoba kembali menyeberangi parit dengan pasukan berkuda pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal. Pasukan muslim menebarkan hujan panah. Dalam gelap Rasulullah ﷺ berhasil memanah Ikrimah sehingga pasukan musuh terperosok dan kembali mundur.
Allah menyebut peristiwa ini dalam Al-Qur’an:

> “Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika mata kamu terbelalak dan jantungmu naik sampai ke tenggorokan...”
(QS. Al-Ahzab: 10)


5. Jabal Uhud

Alhamdulillah, bus masuk area dan kami bisa turun di Jabal Uhud. Saya bisa berfoto dan mengambil video. Ini adalah salah satu tempat yang membuat saya paling terharu karena banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari Perang Uhud. Jabal Uhud 
adalah gunung batu dengan tinggi sekitar 1.050 m dan panjang 7 km yang terletak di sekitar 5 kilometer sebelah utara kota Madinah. Jabal Uhud merupakan gunung yang kelak ada di  surga (HR Bukhari). Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambung dengan gunung-gunung lainnya, karena itulah, penduduk Madinah menyebutnya Jabal Uhud, yang artinya "bukit menyendiri".


 



Catatan sejarah :
Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah, dan menjadi ujian besar bagi kaum Muslimin. Sebanyak 70 sahabat gugur, termasuk Sayyidina Hamzah RA, paman Rasulullah SAW. Di dalam perut bumi di kaki Jabal Uhud pula tersimpan 70 jasad para syuhada Perang Uhud 

Rasulullah SAW pernah bersabda tentang Jabal Uhud:

> "Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya."
(HR. Bukhari dan Muslim)





Aku tak sempat sholat sunat di masjid Jabal Uhud karena soal keterbatasan waktu. Kami harus kembali ke Masjid Nabawi sebelum waktu Dhuhur. Waktu city tour terasa sangat singkat, dan banyak tempat hanya dilewati tanpa bisa turun. Perasaan kurang puas masih membekas. Meski demikian, saya tetap bersyukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk menapaki jejak sejarah perjuangan Rasulullah SAW di bumi Madinah.

Mirage Hotel Madinah, Selasa 06 Mei 2025.



Refleksi  Spiritual Ziarah Raudhah.

Hari ini adalah hari yang sangat saya nanti-nantikan sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kota Madinah. Setelah mengunduh aplikasi Nusk, saya  registrasi untuk mendapatkan izin masuk ke Raudhah—taman surga yang berada di dalam Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saya mendapat kuota hari ini pukul 15.20.
Kesempatan ini sangat istimewa, karena akses personal ke Raudhah dibatasi dan hanya dapat diperoleh dua tahun sekali. Maka saya meniatkan sungguh-sungguh untuk memanfaatkan momen berharga ini sebaik-baiknya. 

Ba'da subuh aku berjalan sendiri keluar dari Nabawi berjalan ke arah selatan ke Museum  Al Safiyyah. Museum ini berlokasi tak jauh dari pintu gerbang 303 Masjid Nabawi, Madinah. Karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, jemaah haji yang singgah di Madinah bisa lebih dulu melakukan kunjungan ke museum ini.

Al-Safiyyah Museum and Park  menjadi contoh tempat wisata dan budaya yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan hiburan. Museum tersebut menawarkan banyak elemen inovatif yang memperkaya pengalaman para pengunjung saat berada di Kota Madinah, Arab Saudi.


  

Dengan memiliki luas lebih dari 4.400 meter persegi, Al-Safiyyah Museum and Park terletak di area tengah bagian selatan Masjid Nabawi.


Persiapan Ziarah

Sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW yang akan saya temui secara spiritual, saya mengenakan kemeja gamis putih—pakaian terbaik dan baru pertamakali  saya pakai gamis khusus untuk momen ini. Dalam hati saya bergumam penuh harap:
“Ya Rasulullah, semoga engkau berkenan menerima aku sebagai bagian dari umatmu. Aku datang jauh-jauh sebagai tamumu, membawa cinta, rindu, dan harapan. Aku mengemis syafaatmu, bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk keluargaku. Mohon perkenankan aku kelak bersamamu di telaga al-Kautsar.”

 

 




Raudhah – Taman Surga di Dunia

Raudhah adalah tempat yang sangat istimewa, terletak di antara rumah Rasulullah dan mimbarnya. Di sinilah beliau mengajar, memimpin shalat, dan menerima wahyu. Diwaktu yang terbatas di area ini aku  melaksanakan shalat dua rakaat, memanjatkan doa dengan penuh khusyuk, dan menangis dalam sujud, menyampaikan segala keluh kesah dan harapan hidup. Askar merangsek meminta jamaah segera meninggalkan "Hajjj..Haajj...habis Indonesiaaa.."

Sabda Rasulullah SAW:

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Saya meniatkan ziarah ke makam Rasulullah SAW serta dua sahabat beliau yang mulia: Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA. Dalam diam dan tunduk, saya kirimkan salam dan doa untuk mereka.

  



Refleksi Ziarah

Waktu di Raudhah sangat singkat, namun nilai dan rasanya sangat dalam. Saya sadar tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini. Maka saya bersyukur tak henti-henti, karena hari ini saya telah menjadi tamu Nabi, walau hanya sebentar, dan semoga diterima sebagai tamu yang ikhlas dan rindu.

  

https://www.jejakimani.com/artikel/batas-raudhah-taman-surga-masjid-nabawi

Petang: Menjelajahi Kota Madinah

Sepulang salat Ashar, saya menyempatkan diri berjalan-jalan ke area komersial di sekitar Masjid Nabawi. Saya hanya window shopping, melihat suasana sekitar, menyerap energi khas Kota Madinah yang penuh ketenangan. Wajah-wajah ramah para pedagang dan lalu lalang jemaah dari berbagai bangsa menambah kekaguman saya pada kota ini.
Kota Madinah memang istimewa—kota yang menyatu antara sejarah dan modernitas, antara keimanan dan keramahan.


Penutup Hari

Hari ini adalah hari yang sangat pribadi dan penuh makna. Setelah kekecewaan kecil pada ziarah hari sebelumnya, hari ini Allah beri saya hadiah agung: bisa sujud di Raudhah, menyapa Nabi dengan pakaian terbaik dan hati yang terbuka, dan menyampaikan harap dalam tangis diam-diam.
Semoga Allah SWT menerima ibadah saya hari ini. Semoga Rasulullah SAW berkenan menyampaikan syafaatnya, dan semoga saya termasuk dalam barisan umatnya yang kelak berkumpul bersamanya di akhirat. Aamiin ya Rabb.

Mirage Hotel Madinah, Rabu 07 Mei 2025


Sliding Dome: Perpaduan Kecanggihan dan Seni Arsitektur

Jum’at Mubarak!
Hari ini adalah hari Jumat pertama, dan mungkin juga terakhir bagiku di Madinah. Sebuah hari yang sangat istimewa—hari perjumpaan spiritual dengan Baginda Nabi di masjidnya yang mulia.

Pagi ini, aku memilih mengenakan kemeja koko putih dan sirwal khaki yang bersih, disempurnakan dengan semerbak parfum Sultan. Jam menunjukkan pukul 10.00 saat aku melangkah kaki menuju Masjid Nabawi. Waktu salat Jumat masih dua jam lagi, namun aku bergegas lebih awal demi mendapat tempat di dalam ruangan masjid yang megah ini.


Sunni & Syiah untuk kejayaan Islam


Sambil menunggu waktu khutbah, aku mengisi waktu dengan dzikir, membaca kitab, dan salat sunnah. Suasana begitu khusyuk, damai, dan penuh keberkahan.

Usai salat Jumat, aku menunggu momen yang sangat kunantikan—pergeseran kubah Masjid Nabawi ke arah utara. Ini adalah salah satu keajaiban arsitektur yang tak boleh dilewatkan. Selain payung-payung raksasa yang mengembang dan menguncup secara otomatis, Masjid Nabawi juga memiliki 12 buah kubah yang buka/tutup bergerak (sliding dome) yang luar biasa. Kubah ini bukan hanya sekadar atap—ia adalah mahakarya yang memadukan teknik konstruksi berskala besar, keindahan seni arsitektur Islam, serta teknologi canggih yang memungkinkan pergerakan halus secara otomatis.


 


Aku dengan sigap mengabadikan momen langka ini dalam sebuah video pribadi—sebagai kenangan akan keajaiban modern yang tetap sarat nilai spiritual.


 



Setelahnya, aku menyusuri lautan jamaah dari berbagai penjuru dunia untuk pulang. Topi adventur-ku kusiram dengan air zamzam, sebagai ikhtiar mencegah heat stroke di tengah cuaca panas yang menyengat.

Sesekali aku berhenti di jalan, memotret momen-momen penting yang kutemui. Semua terasa begitu bermakna di hari yang diberkahi ini.

        

 



Alhamdulillah… Aku bahagia di hari yang Mubarak ini.
Terima kasih, ya Allah.
Terima kasih, ya Rasulullah.

Masjid Nabawi, Jumat 09 Mei 2025.



Menapaki Jejak Para Sahabat di Sekitar Masjid Nabawi

Pukul 03.00 dini hari aku berjalan meninggalkan hotel dan tiba di Masjid Nabawi. Suasana begitu khidmat dan penuh ketenangan. Segera kuambil tempat untuk melaksanakan sholat tahajud, lalu kulanjutkan dengan membaca Al-Qur’an dan bermunajat dalam doa yang panjang. Sejuknya malam dan kesyahduan di dalam Masjid Nabawi membuat hati ini terasa sangat dekat dengan Allah.

 



Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah, aku keluar dari masjid melalui pintu yang berlawanan arah dari hotel tempatku menginap. Tujuanku adalah menyusuri kawasan bersejarah di sekitar Masjid Nabawi—tempat-tempat yang menyimpan jejak para sahabat Nabi yang mulia.


1. Mushalla Imam Ali

Tempat ini diyakini sebagai lokasi di mana Sayyidina Ali bin Abi Thalib sering melakukan sholat.
Beliau pernah memimpin shalat Idul Adha pada tahun 35 H, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Selain itu, masjid ini juga dianggap sebagai tempat di mana Nabi Muhammad (saw) pernah memimpin shalat Idul Fitri, dan Ali bin Abi Thalib meneruskannya setelah Nabi wafat. Lokasinya tidak jauh dari sisi barat Masjid Nabawi. 

Namun, di sini aku merasakan kekecewaan yang mendalam—mushalla ini ternyata ditutup untuk umum, sementara mushalla sahabat lainnya justru terbuka dan bisa dikunjungi. Aku hanya bisa berdiri di luar, mengintip bangunannya dari balik pagar. Padahal aku sangat ingin menunaikan sholat sunnah di tempat yang begitu bermakna ini. Sayyidina Ali adalah salah satu sahabat yang paling kukagumi—idola sekaligus panutanku karena kedalaman ilmunya, keberanian, dan kesetiaannya kepada Rasulullah SAW. Harapanku untuk bersujud di tempat beliau sholat harus kutunda, entah sampai kapan.   



 



2. Mushalla Abu Bakar Ash-Shiddiq

Mushalla ini dikenal sebagai tempat sholat Sayyidina Abu Bakar, sahabat terdekat Nabi dan khalifah pertama. Lokasinya berada di area yang sama dan terbuka untuk umum. Keberadaannya menjadi simbol kesederhanaan dan kekokohan iman, mencerminkan kepribadian beliau yang luar biasa dalam mendampingi perjuangan Nabi SAW. 

Ada juga yang mengisahkan bahwa dahulu, Masjid Abu Bakar Shiddiq pernah digunakan Rasulullah dan Abu Bakar untuk Shalat Id. Karena itu, masjid ini juga merupakan salah satu masjid dengan nilai sejarah yang sangat tinggi.



 


Masjid ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Kemudian pada tahun 1254, Masjid Abu Bakar Shiddiq direnovasi oleh Sultan Mahmud II. Dari luar, arsitektur Masjid Abu Bakar Shiddiq tampak antik. Bangunannya berbentuk segi empat dengan panjang rusuk sembilan meter.

Kita bisa melihat tumpukan batu basal yang digunakan untuk membangun masjid ini. Batu basal yang berwarna hitam ini berpadu dengan warna putih pada kubah dan menaranya. Nuansa antik semakin terasa dengan pintu masjid yang terbuat dari kayu. Di dinding bagian selatan, ada jalan yang menuju ke dalam Masjid Abu Bakar Shiddiq. Di sisi kanan dan kirinya, ada dua jendela yang berbentuk persegi panjang.

Masjid Abu Bakar Shiddiq ada di sebelah barat daya. Jaraknya dengan Masjid Nabawi sekitar 335 meter. Kita bisa berjalan kaki ke sini selepas beribadah di Masjid Nabawi. Masjid ini juga berada dekat dengan Masjid Al Ghamamah. Jaraknya dengan Masjid Al Ghamamah hanya sekitar 40 meter. 


3. Masjid Al-Ghomamah

Masjid ini terletak di area terbuka yang bersejarah, tempat Nabi Muhammad SAW pernah menunaikan sholat Istisqa (memohon hujan). Kata "Ghomamah" berarti awan, merujuk pada peristiwa ketika awan menaungi Nabi saat beliau memimpin sholat. Masjid ini menjadi saksi momen penting yang menunjukkan hubungan penuh cinta dan harapan antara Nabi dan Rabb-nya.

 


Dulunya, area masjid Ghamamah dan sekitarnya adalah tanah lapang yang digunakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya untuk menunaikan sholat Idul Fitri, Idul Adha, dan sholat Istiqa' (sholat untuk meminta hujan).

Kata Ghamamah artinya awan atau mendung. Masjid ini diberi nama Ghamamah karena pada waktu itu Rasulullah SAW pernah dimintai oleh penduduk sekitar Madinah yang sedang mengalami kekeringan agar Allah SWT menurunkan hujan kepada mereka.

Kemudian Rasulullah SAW mengajak penduduk sekitar ke tempat tersebut untuk melakukan sholat Istisqa' dan berdoa hingga akhirnya memicu berkumpulnya awan (ghamamah) di langit Madinah pada saat itu lalu turunlah hujan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid, salah satu sahabat Nabi juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajak penduduk sekitar Madinah pergi ke al-Mushalla (tanah lapang tempat sholat) untuk melakukan sholat istisqa'.

Selanjutnya, beliau berdoa kepada Allah SWT sembari menghadap kiblat dan memalingkan punggungnya kepada orang-orang. Beliau membalikkan selendangnya (membuat yang kanan di atas yang kiri) dan shalat dua rakaat mengimami kami dengan mengeraskan bacaannya di kedua rakaat tersebut. Kemudian turunlah hujan kepada mereka. (Shahih Bukhari).

Peristiwa inilah yang kemudian membuat masjid Ghamamah juga disebut sebagai Masjid Awan

Sebenarnya aku ingin melanjutkan perjalanan ke Masjid Usman bin Affan dan Museum As-Syafi’i, namun dua temanku yang seumuran mulai kelelahan. Mereka sudah lapar dan ingin kembali ke hotel untuk sarapan sambil ngopi. Maka kami pun berjalan kaki sejauh 1,3 km dari Mushalla Imam Ali kembali ke hotel Mirage.


 



Menjelang waktu Ashar, aku kembali bergerak menuju Masjid Nabawi. Meski tubuh sudah mulai terasa lelah setelah berjalan cukup jauh tadi pagi, semangatku tetap menyala—karena sore ini aku berniat melaksanakan ziarah kembali ke makam Rasulullah SAW, sang kekasih Allah.

Jelang Asar cuaca terik menusuk. Tiba di Masjid Nabawi, aku menunaikan sholat Ashar terlebih dahulu. Setelah itu, dengan hati yang berdebar dan penuh harap, aku mengikuti arus jemaah yang juga ingin menyapa sang Nabi. Suasana begitu padat, desak-desakan tidak terhindarkan, namun semuanya berjalan tertib. Alhamdulillah, prosesi melintasi makam Rasulullah berjalan dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti.

Dalam hati, kutundukkan jiwa serendah-rendahnya. Kutatap makam suci dari balik pagar, dan kulafazkan salam penuh cinta:

Assalāmu‘alaika Yā Rasūlullāh
Assalāmu‘alaika Yā Nabiyallāh
Assalāmu‘alaika Yā Shafwatallāh
Assalāmu‘alaika Yā Ḥabīballāh

Air mata menetes tanpa diminta. Ada rasa rindu yang terbayar, meski sejenak. Ada kedamaian yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Semoga salam ini sampai dan menjadi penghubung cinta antara hamba yang penuh dosa ini dengan kekasih pilihan Allah.

Alhamdulillah, meski belum semua tujuan tercapai dan ada sedikit rasa kecewa, hari ini tetap menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang berharga. Semoga langkah-langkah kecil ini tetap tercatat sebagai amal yang mendekatkan diri kepada Allah dan cinta kepada para kekasih-Nya.


Masjid Imam Bukhari

Hari ini adalah hari ke-6  di Kota Madinah Al-Munawwarah. Aku masih terus berusaha menyempurnakan Arbain—sholat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Seperti hari-hari sebelumnya, setiap waktu sholat aku berjalan kaki 650 meter menuju Masjid Nabawi. Rasanya damai sekali berada di tengah para jemaah dari berbagai penjuru dunia, semua khusyuk beribadah dengan semangat dan cinta kepada Rasulullah SAW.

 


Selepas sholat Dzuhur, aku kembali ke hotel. Menyantap makan siang yang telah disiapkan, kemudian beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Suasana kamar yang sejuk dan tenang sangat membantu tubuh ini untuk tetap bugar di tengah padatnya aktivitas ibadah.


 


Sekitar pukul 14.00, aku kembali melangkahkan kaki ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Ashar. Usai sholat, aku memilih untuk tetap berada di dalam masjid menunggu waktu Maghrib dan Isya. Namun sebelum masuk waktu Maghrib, saya keluar sejenak dari Nabawi dan berjalan menuju Masjid Imam Bukhari. Di sana saya mengabadikan momen dengan mengambil beberapa foto kenangan. Hati ini tergetar, mengenang jasa besar Imam Bukhari dalam menyusun kitab hadits yang agung.


  




Setelah itu kusempatkan diri berjalan-jalan ke area komersial Shouq Al Bukhari di sekitar masjid Nabawi. Hiruk pikuk para peziarah yang membeli oleh-oleh, cendera mata, dan tasbih-tasbih kecil membawa nuansa khas perjalanan ibadah. Saya membeli beberapa souvenir diantaranya Osma Perfumme untuk keluarga di rumah—sebuah tanda cinta dan kenangan dari Tanah Suci.





Menjelang waktu Maghrib, saya kembali ke Masjid Nabawi. Alhamdulillah, bisa melaksanakan sholat Maghrib dan Isya berjamaah dengan tenang dan penuh rasa syukur. Malam ini saya pulang ke hotel dengan hati yang hangat, bersyukur atas setiap langkah, setiap doa, dan setiap detik yang saya lalui di kota Nabi tercinta ini. 

Masjid Nabawi, Sabtu 10 Mei 2025


Sandal Gunung: Jejak Langkah dan Ikatan Jiwa


Dalam setiap perjalanan backpacker avonturirku, ada satu benda sederhana yang tak pernah absen: sepasang sandal gunung yang telah menemaniku melintasi banyak batas, bukan hanya geografis, tapi juga batiniah. Ia telah menapak di tanah-tanah eksotis Nusantara—Raja Ampat, Ambon, Banda Neira, Ternate, Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan sampai NTT, NTB. Ia juga pernah kubawa menjelajah kota-kota negeri-negeri asing: Jepang, Philipina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

 


Sandal ini bukan sekadar alas kaki. Ia adalah saksi bisu dari setiap langkah, setiap peluh, setiap keheningan dan keterpanaan akan ciptaan Tuhan. Bahkan ketika solnya lepas di Ternate, aku tak tega membuangnya. Aku membawanya ke pasar, mencari tukang sepatu tradisional, dan memintanya dijahit kembali. Bagiku, sandal ini punya jiwa. Ia telah berbagi perjalanan denganku, dan meninggalkannya terasa seperti mengabaikan sahabat setia.

Sejak pulang dari Rinjani, sandal ini kugantung di kamar sebagai barang kenangan—memorable, bukan karena harganya, tapi karena nilai hidup yang ia wakili. Namun, saat akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah, entah kenapa hatiku tergerak untuk mengenakannya lagi. Seolah sandal ini pun harus ikut dalam perjalanan spiritualku yang paling sakral, setelah sekian lama menjadi bagian dari petualangan-petualangan duniawi.

Kini, setiap langkah di Tanah Suci terasa lebih bermakna. Sandal ini kembali menyentuh bumi, bukan hanya sebagai pelindung kaki, tapi sebagai pengingat akan perjalanan panjang hidup yang penuh syukur. Dan aku tahu, saat kelak mengenangnya lagi, aku akan selalu teringat: bahwa bahkan benda sederhana pun bisa menjadi pengikat jiwa—jika ia hadir dalam setiap momen penting dan penuh makna.


  



Ziarah Wada' Raudhah Rasulullah

Kabar yang sangat kami nanti akhirnya tiba. Tim PPHI menyampaikan bahwa ziarah ke Raudhah bagi rombongan Kloter 8 Tangsel dijadwalkan pada dinihari tanggal 10 Mei, pukul 01.00 waktu Madinah. Seketika hati bergetar—impian untuk mengunjungi tempat suci penuh kemuliaan, Raudhah, akan segera terwujud.

Lihat videoku : https://youtube.com/shorts/3AQpA_apgAo

Tepat pukul 00.00 saya bangun, mandi, dan bersiap. Meski rasa kantuk dan lelah masih membekas, saya dan teman-teman dengan penuh semangat bergabung bersama ratusan jamaah dari berbagai penjuru dunia, mengantre dengan penuh harap. Rasa rindu kepada Rasulullah, Sang Pembawa Cahaya Kebenaran, telah mengalahkan segala batas kemampuan fisik kami. Tak terlukiskan perasaan kami malam itu—antara haru, cinta, dan kerinduan mendalam.


  



Sekitar pukul 01.45, sesuai pengaturan dan koordinasi tim PPHI, kami—sekitar 200 orang—akhirnya memasuki Raudhah. Hati ini kembali bergemuruh saat tangan menyentuh dinding makam Nabi Muhammad SAW dan tubuh berdiri tak jauh dari mimbar beliau. Meski mimbar itu tampak kecil, aroma spiritual dan kebesaran jiwa Sang Rasul begitu kuat terasa. Saya ingin berlama-lama di tempat yang disebut sebagai taman surga ini, namun waktu yang tersedia hanya 5–10 menit. Tak apa, saya tak membawa kamera, karena gambar keindahan dan kekhusyukan Raudhah sudah tertanam dalam hati, mengalir dalam darah, dan tersimpan dalam semangat hidup saya. Inilah rindu yang tak pernah padam.


Usai ziarah, sebagian jamaah kembali ke hotel. Saya dan beberapa teman memilih untuk tetap tinggal di Masjid Nabawi. Di antara tiang-tiang suci dan cahaya lampu lembut yang menenangkan, kami bertafakur, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an sambil menanti waktu Subuh.



Setelah Subuh, kami bergegas kembali ke hotel untuk bersiap mengikuti city tour yang dimulai pukul 06.30 pagi. Tiga destinasi utama menanti kami:

Jabal Magnet, sebuah lokasi unik di sekitar Madinah di mana kendaraan dapat melaju tanpa gas, seolah-olah tertarik oleh daya magnet bumi. Banyak yang meyakini ada keajaiban di balik fenomena alam ini, yang membuatnya jadi daya tarik wisata religi.
"Tadi saat kami datang, bus berjalannya terasa berat atau melambat dengan sendirinya. Kalau pulangnya, laju bus terasa cepat. Bahkan tadi sopir memperagakan bus menyala dengan persneling nol namun kendaraan tetap berjalan seperti biasa’’

Percetakan Al-Qur’an Raja Fahdselanjutnya kafilah diantar ke Holy Quran Services Center. Lokasinya di kompleks percetakan Alquran Raja Fahd atau Majma Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif. Jaraknya tak jauh dari Masjid Nabawi atau sekitar 11 kilometer (km). Di sini   tempat dicetaknya jutaan mushaf Al-Qur’an yang dikirim ke berbagai belahan dunia. Di sini kami menyaksikan proses percetakan, penjilidan, hingga pendistribusian mushaf dengan teknologi canggih dan standar ketat.

Kebun Kurma Aswadhan, dibanding kebun kurma sebelumnya kebun ini lebih tertata seperti kafe di tengah kebun. Di kebun ini pengunjung dapat melihat langsung pohon-pohon kurma yang rindang dan mencicipi berbagai jenis kurma segar. Di sini jamaah bisa berbelanja kurma dan coklat yang sudah diolah dan siap dikonsumsi. Tersedia juga masakan khas Indonesia seperti Bakso, Soto. Suasana kebun yang asri dan keramahan para penjaganya menambah kesejukan pagi itu.

   


Menjelang siang, kami kembali ke hotel. Tubuh mungkin lelah dan kantuk masih menggoda, tapi hati penuh syukur. Meski kurang tidur, perjalanan hari ini sangat bermakna. Kelelahan terbayar lunas oleh kenikmatan spiritual dan pengalaman tak ternilai. Alhamdulillah..



Bertemu Sahabat di Gate 328

Setelah sholat Ashar di Nabawi, saya menerima pesan dari Mbak Santi, sahabat  lama yang juga tengah menjalankan ibadah haji bersama suaminya dari kafilah Tangerang Kota. Kami janjian bertemu di pintu 328. Saya pun berjalan kaki dari pintu 356, menyusuri jalur ramai menuju titik temu. Mbak Santi dan kafilahnya menginap di hotel di area ini. Kami berbincang sebentar seputar pengalaman perjalanan di depan Mall Bin Dawood—pertemuan singkat tapi hangat, penuh keharuan, di tanah suci ini.

Setelah Mbak Santi kembali ke hotel, aku melangkah ke area sekitar sampai mengalami 2L, lelah dan lapar . Aku masuk ke mall membeli sebotol jus dan 2 potong bakery untuk mengganjal perut lalu berjalan kembali ke Masjid Nabawi  menunggu datangnya waktu Maghrib. Aku memilih tetap di dalam masjid hingga selesai sholat Isya. Malam pun tiba, aku  berjalan pulang ke Mirage Hotel dengan hati yang tenang, membawa rasa syukur atas setiap pertemuan dan momen yang Allah hadirkan hari ini. 


Madinah, Ahad 10 Mei 2025.


Wada’ Madinah, Menuju Mekkah Al-Mukarramah

Pagi ini, kami memulai hari dengan kesibukan persiapan menuju kota suci berikutnya, Mekkah Al-Mukarramah. Satu per satu barang dikemas, kenangan dibenamkan ke dalam koper dan hati. Tepat pukul 10.00 pagi, koper-koper kami telah berjajar rapi di lobi Hotel Mirage, menanti untuk diangkut bersama harapan dan doa-doa yang tak pernah putus.

Menjelang pukul 11.00, aku bergegas menuju Masjid Nabawi. Ini adalah salat terakhir kami di kota yang diberkahi ini. Salat Dhuhur dan Ashar kulaksanakan secara jama’ taqdim, dengan kekhusyukan yang tak seperti biasanya. Setiap gerakan salat terasa berat, karena hati menolak untuk berpisah dari tempat suci ini.

Usai salat, aku melangkah pelan menembus panas matahari, menyusuri pelataran masjid menuju makam Rasulullah SAW. Ini adalah ziarah wada’—ziarah perpisahan yang sarat makna. Di tengah kerumunan jamaah dari berbagai penjuru dunia, aku melangkah sambil bermunajat lirih. Ya Allah, Ya Rasulullah... betapa perih rasa di dada. Betapa sedih hati ini meninggalkan tanah yang menjadi saksi kerasulanmu.

   



Sekali lagi, aku mengemis syafa’atmu, ya Rasul. Aku tahu tubuhku akan pergi, tapi rinduku akan tetap tertinggal. Aku berjalan perlahan di antara lautan manusia, menunduk dalam doa, menumpahkan segala harapan di hadapan Allah. Semoga setiap lirih doa yang kupanjatkan di tempat ini Engkau ijabah, ya Rabb. Aamiin.

Pukul 17.00 sore, bus rombongan Kloter 8 Tangsel mulai bergerak meninggalkan Hotel Mirage. Dari balik kaca jendela, aku melayangkan pandangan terakhir ke arah Masjid Nabawi, menahan air mata yang tak mampu kubendung.

Selamat tinggal, Madinah...
Kau adalah taman ketenangan, tempat jiwa menemukan kedamaian.
Selamat jalan, Ya Rasulullah...
Namamu akan selalu hidup dalam zikirku, dalam degup rinduku, dalam sujud dan doaku.


                    

Perjalanan menuju Mekkah pun dimulai. Kota haram berikutnya, tempat Baitullah berdiri. Hati ini kini berpindah menanti perjumpaan dengan Ka’bah, kiblat semesta. Tapi jejak Madinah, aroma Raudhah, dan cinta pada Rasul takkan pernah sirna. Ia menetap, mengakar dalam kalbu.

Perjalanan malam itu sunyi dalam renungan. Lelah berganti pasrah. Rindu berganti harap. Semoga langkah kami diberkahi dan ibadah kami diterima.
Bismillah... Mekkah, kami datang.

Mekkah, Senin 11 Mei 2025


Perjalanan Malam Menuju Tanah Suci Mekkah

Sore jelang malam menyelimuti perjalanan panjang kami dari Madinah menuju Mekkah. Proses pengecekan Nusk Card dari panitia haji cukup lama, memastikan tidak ada jama'ah penyusup.  Nusk Card, adalah dokumen digital yang menjadi syarat administratif pelaksanaan umrah. 
Dari Hotel Mirage saya dan kafilah berangkat telah mengenakan pakaian ihram. Bus kafilah Kloter 8 Tangsel mulai bergerak pukul 17.00 waktu Madinah, membawa harapan, rindu, dan haru dari para tamu Allah.  Di dalam bus, sebagian jemaah terlelap dalam kelelahan, sementara sebagian lainnya terjaga, larut dalam dzikir, doa, dan perenungan batin. Hati ini terus bergetar, membayangkan momen pertama menyaksikan Ka’bah—rumah Allah yang selama ini hanya kulihat dari foto dan layar televisi. Kini, dalam hitungan jam, aku akan benar-benar berdiri di hadapannya.

Sekitar pukul 21.00, kami tiba di Masjid Bir Ali, tempat miqat bagi para jemaah dari Madinah. Sejak dari hotel, kami semua telah mengenakan pakaian ihram, menandai kesiapan fisik dan batin untuk menunaikan umrah tamattu’. Di masjid yang sangat besar ini, kami menunaikan salat sunah dua rakaat, lalu melafazkan niat umrah dengan penuh kekhusyukan:

“Labbaik Allahumma 'umrah…”
(Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk menunaikan umrah karena-Mu semata.) 

Kalimat ini meluncur dari lisan, menggema di dalam dada, menyatukan jiwa dalam panggilan suci menuju rumah Allah

Masjid Bir Ali meninggalkan kesan yang mendalam. Arsitekturnya megah dan bersih, dihiasi pohon-pohon kurma yang rindang di pelatarannya. Pencahayaan malam yang temaram membuat bangunan ini tampak tenang dan agung. Suasana sangat mendukung untuk menenangkan jiwa dan mengukuhkan niat suci sebelum memasuki tanah haram.


  



  



Setelah selesai miqat, perjalanan kembali dilanjutkan. Kafilah menuju Hotel Mahabbah di Mekkah. Sepanjang perjalanan, lantunan talbiyah tak henti kami ucapkan. Bus terus melaju menembus padang pasir yang sunyi, sementara hati kami semakin berdebar menanti pertemuan dengan Ka’bah.  Kami tiba sekitar pukul 02.00 dinihari (13 Mei 2025). Di hotel  kami menempati lantai 3, no 326. Koper kami masukkan ke kamar, membersihkan diri, dan beristirahat sejenak.  Menyegarkan tubuh dan mempersiapkan diri untuk ibadah umrah di Masjidil Haram.


Pukul 06.00  pagi, kafilah Kloter 8 Tangsel berangkat menuju Masjidil Haram menggunakan bus umum Shalawat yang haltenya tepat di depan hotel. 
 
 
Di tengah suasana pagi yang mulai sibuk, 
Bus menurunkan kami di terminal Shib Amir, dari sana kami berjalan kaki menembus keramaian menuju Gate Al-Salam—pintu masuk bersejarah yang pernah dilewati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.  Langkah demi langkah membawa kami ke dalam pelataran masjid suci. Dan… di depan mata, Ka’bah berdiri begitu agung, diselimuti cahaya fajar dan air mata kerinduan.

   


Allahu Akbar...

Inilah titik pusat dunia. Inilah rumah Allah.
Setiap pandangan tertuju padanya, setiap doa menyeruak dari dada.

Labbaik Allahumma labbaik...

Subhanallah…
Detik itu, air mata mengalir tanpa diperintah.
Rasa haru, bahagia, dan kecil di hadapan Allah bercampur menjadi satu.
Inilah rumah-Mu ya Allah… akhirnya aku datang menyapa-Mu dari dekat.

Kami memulai tawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah. Setiap langkah adalah doa. Setiap putaran adalah pengakuan atas kebesaran Allah dan kelemahan diri. Rasa letih perjalanan seketika hilang ditelan gelombang syukur.

Selesai tawaf, kami melaksanakan salat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, lalu meminum air Zamzam yang mengalirkan kesejukan sampai ke relung jiwa. Setelah itu, kami melanjutkan dengan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Dalam langkah-langkah itu, kami mengenang perjuangan Siti Hajar—seorang ibu yang dengan penuh keyakinan berlari demi anaknya, dan atas izin Allah, lahirlah berkah zamzam yang tak pernah kering.

Rangkaian umrah diakhiri dengan tahallul, mencukur beberapa helai rambut sebagai tanda lepas dari ihram.
Alhamdulillah...
Umrah Tamattu’ telah kami tunaikan.
Lelah tak terasa, nyeri sendi/arthritis yg kuderita sirna, aku bisa melangkah cepat dan berlari-lari kecil dgn normal karena hati ini dipenuhi bahagia dan rasa syukur yang tak terhingga.

Ya Allah, terimalah umrah ini sebagai amal ibadah. Ampunilah dosa-dosa kami. Jadikanlah perjalanan ini penuh makna dan keberkahan.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ 

"Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanya milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu." 


Mekkah, Selasa 13 Mei 2025


Rehat di Rehab al Mahabbah Hotel, Shisa

Setelah menjalankan Rukun Umrah kemarin yg cukup melelahkan. Hari ini aku dan teman2 memutuskan rehat utk memulihkan tenaga. Sholat di musholla hotel di lantai 3 atau masjid di seberang hotel. Saat santai di lobby hotel aku merangkai kata demi kata tentang aktivitas yang aku jalani kemarin sebagai jejak kenangan yang kelak bisa aku baca kembali


 


Mahabbah Hotel Mekkah, Selasa 13 Mei 2025.



Sholat Subuh di Depan Pintu Ka’bah

Pukul 02.30 dinihari, aku dan 10 orang jama'ah berangkat dari hotel menuju Masjidil Haram, menumpang bus umum Shawal No. Bus 1 yang setia melayani para tamu Allah. Meski malam masih pekat, semangat kami menyala terang—didorong oleh harapan bisa mendekat ke Ka'bah, rumah Allah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia.

Setibanya di area Masjidil Haram, aku memutuskan berpisah dari teman-teman. Ada kerinduan yang sangat pribadi dan kuat dalam hatiku: ingin menyentuh dinding Ka’bah, menempelkan tubuh ke batu gunung yang menjadi saksi sujud jutaan manusia selama berabad-abad.

Aku bergerak pelan tapi pasti, menyelinap dan berjuang menembus barisan tubuh-tubuh besar dari bangsa Turki, Afghanistan, dan Timur Tengah lainnya. Butuh keberanian, kesabaran, dan kekuatan fisik untuk bertahan dalam arus deras manusia. Dan… Alhamdulillah, aku berhasil menyentuh dinding Ka'bah, tepat di samping pintunya. Batu-batu hitam yang keras dan dingin itu seperti memelukku dalam keheningan.




Air mataku jatuh. Tangan ini menempel erat, sementara mulut terus melafazkan doa.
Tak lama kemudian, aku berhasil bergeser ke bawah pintu Ka’bah. Di tengah himpitan yang luar biasa, aku berdiri tepat di titik itu. Menakjubkan! Aku tak ingin beranjak. Meski salat Subuh masih jauh waktunya, aku tetap bertahan di sana. Sakit di kaki dan tubuh yang lelah bukan penghalang. Aku tahu, momen ini mungkin tak akan datang dua kali.


  




Aku bergabung dengan jamaah dari berbagai bangsa, berdiri di saf kedua. Ketika azan Subuh menggema, aku tak kuasa menahan haru. Di tempat paling mulia di dunia, aku salat sunah dengan susah payah, mencoba rukuk dan sujud di sela-sela himpitan manusia yang terus berlalu-lalang. Allahu Akbar… kesabaran benar-benar diuji, dan aku berusaha untuk sabar dan ikhlas.

Di sela-sela waktu, aku berdoa panjang: untuk anak-istriku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan juga Manajemen Insan Permata. Satu per satu kupanggil nama mereka dalam hati, memohonkan kebaikan, keberkahan, dan lindungan Allah bagi mereka semua.

Setelah salat Subuh, aku mencoba untuk merangsek ke Hajar Aswad. Namun kali ini, aku tak mampu menembus. Tubuh-tubuh besar dari Afrika dan Timur Tengah menghadang seperti dinding batu hidup. Aku terjepit, dan akhirnya terlempar ke luar barisan. Saat itu aku sadar, ini bukan soal ambisi. Aku harus rasional dan berserah. Pagi ini belum saatnya. Insya Allah, akan ada kesempatan lain.




Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallah, wallahu akbar.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Hari ini adalah hari penuh syukur.
Hari saat aku dipeluk Ka’bah, disapa keagungan Allah dari balik pintu rumah-Nya.
Hari saat aku merasa sangat kecil, namun sangat dicintai.

Mekkah, Rabu 14 Mei 2025



City Tour : Tempat Pemotongan Hewan – Jabal Tsur – Jabal Rahmah (Arafah & Muzdalifah)

Pagi hari pukul 06.00 waktu setempat, rombongan jemaah haji mandiri asal Serpong Utara memulai perjalanan spiritual menuju Syirkah Manaar Al Masyaair Lilmuqowalaat Al’aamah, sebuah perusahaan besar di kawasan Al Ukaishiyah, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Makkah. Tempat ini menjadi salah satu lokasi utama penyembelihan hewan kurban dan dam (denda) di Arab Saudi. Terletak jauh dari permukiman dan dikelilingi tanah kering yang luas, kawasan ini sangat tertata dengan sistem modern dalam pengelolaan hewan kurban.




Lihat di sini : https://www.youtube.com/shorts/d-0KNmloSkc

Setelah menyelesaikan urusan pemotongan hewan, perjalanan dilanjutkan menuju Jabal Tsur, sebuah gunung yang sangat bersejarah dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Di gunung inilah terdapat Gua Tsur, tempat persembunyian Nabi Muhammad SAW dan sahabat setianya Abu Bakar Ash-Shiddiq selama tiga hari tiga malam ketika dikejar oleh pemuda-pemuda Quraisy yang ingin membunuh beliau saat hijrah ke Madinah.





Dalam misi bersejarah ini, Ali bin Abi Thalib memegang peran sangat penting. Beliau dengan penuh keberanian menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW di tempat tidurnya pada malam rencana pembunuhan itu, demi mengelabui para pemuda Quraisy. Tindakannya yang penuh keberanian dan pengorbanan ini memberi waktu bagi Nabi dan Abu Bakar untuk keluar rumah dan menyelinap menuju Gua Tsur tanpa diketahui.

Dari Jabal Tsur, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Jabal Rahmah di kawasan Padang Arafah. Di sela perjalanan, kami juga menyempatkan menyurvei lokasi wukuf di Arafah dan area bermalam di Muzdalifah, sebagai bagian dari persiapan puncak haji mendatang.

Panas terik terasa begitu menyengat bagi kami yang berasal dari iklim tropis. Angin gurun yang kering dan debu yang beterbangan semakin menguji ketahanan fisik, namun semua itu tidak mengurangi semangat dan kekhusyukan kami.

Jabal Rahmah sendiri merupakan bukit kecil yang diyakini sebagai tempat pertemuan kembali antara Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah sekian lama terpisah di bumi. Di tempat ini pula, Rasulullah SAW menyampaikan Khutbah Wada’ (khutbah perpisahan) saat melaksanakan haji terakhir beliau.





Banyak jamaah  berdoa dari bawah dengan penuh haru. Suasana spiritual sangat terasa, menyatu antara zikir, doa, dan kenangan sejarah agung yang pernah terjadi di tempat ini.

Hari ini kami menapak tilas jejak perjuangan para Nabi dan sahabat, sekaligus menyiapkan jiwa dan raga menuju puncak ibadah haji: wukuf di Arafah.


Refleksi Keberanian Asma’ binti Abu Bakar
Pejuang Sunyi di Balik Hijrah Rasulullah SAW


Pada malam yang gelap di Makkah, suasana terasa mencekam. Pemuda-pemuda Quraisy bersenjata mengepung rumah Nabi Muhammad SAW. Mereka ingin menghabisi beliau sebelum fajar tiba. Tapi Allah telah mengatur rencana yang jauh lebih cermat. Nabi Muhammad SAW diam-diam meninggalkan rumah bersama sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, untuk hijrah ke Madinah.
Mereka bersembunyi di Gua Tsur, sebuah gua di atas bukit yang terjal, jauh dari pandangan manusia. Di tempat sunyi itu, mereka tinggal selama tiga hari tiga malam—dan tentu saja, mereka butuh makanan, air, dan kabar dari kota.
Di sinilah muncul seorang wanita muda yang luar biasa: Asma’ binti Abu Bakar, kakak dari Siti Aisyah. Meski saat itu ia tengah mengandung anak pertamanya, Asma’ tak gentar. Ia berjalan sendiri menyusuri padang pasir, mendaki bukit terjal, dan diam-diam membawa makanan dalam kantung yang diikat dengan sabuk kain dari pinggangnya—hingga ia dijuluki Dzatun Nithaqain, “Perempuan Pemilik Dua Ikat Pinggang”.
Tak hanya itu, adiknya Abdullah juga turut membantu. Ia keluar malam untuk mengintai informasi dari Quraisy, lalu menyampaikan kabar itu kepada Rasulullah pagi-pagi buta. Seorang pembantu mereka, Amir bin Fuhairah, menggiring kambing di sekitar gua untuk menghapus jejak kaki Asma’ dan Abdullah, agar Quraisy tidak curiga.
Di balik peristiwa besar hijrah, ada pengorbanan diam-diam dari seorang perempuan muda yang tak disebut-sebut dalam barisan pasukan atau pemimpin, tapi tanpa bantuannya, sejarah mungkin akan berjalan sangat berbeda.

Usai rangkaian kunjungan ke lokasi bersejarah dan survei persiapan wukuf, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Tubuh terasa lelah, namun hati tetap hangat oleh pengalaman spiritual yang begitu mendalam sejak pagi hari.

Insya Allah, esok akan menjadi lembaran baru yang tak kalah bermakna dalam perjalanan suci ini.

Jabal Tsur, Kamis 15 Mei 2025.


Jumat Mubarak di Masjidil Haram, 

Pagi yang penuh rahmat di kota suci Makkah. Selepas Subuh, aku menyempatkan diri untuk berolahraga ringan dengan berjalan kaki mengelilingi area sekitar hotel. Jalanan mulai ramai. Di sepanjang trotoar, para pedagang kaki lima telah menggelar dagangan mereka. Berbagai oleh-oleh khas untuk jemaah haji Indonesia dijajakan: sajadah warna-warni, tasbih kayu dan batu, minyak wangi Arab, kurma, kacang sangrai, hingga kaos bertuliskan "Makkah 2025". Riuh rendah suara para pedagang yang sesekali menyapa dengan bahasa Indonesia ala kadarnya, menambah warna pagi ini.

Menjelang pukul delapan pagi, aku berangkat menuju Masjidil Haram dgn naik bus Sholawat no 1 dari halte depan hotel. Seperti biasa, aku pergi seorang diri. Aku memang jemaah haji mandiri, dan sejak awal memilih berjalan secara independen. Aku ingin leluasa bergerak, bebas mengatur ritme langkahku sendiri tanpa terpaku pada jadwal rombongan. Perjalanan haji ini adalah perjalanan hati, dan setiap langkahnya ingin kuhayati sepenuh jiwa.

Setiba di kompleks Masjidil Haram, aku menuju lantai 1.Ribuan jemaah telah memenuhi ruang-ruang masjid, berburu tempat terbaik untuk menunaikan salat Jumat. Aku menyusuri barisan, mencari ruang untuk duduk dan menenangkan diri. Udara dingin dari sistem AC begitu terasa, ubin lantai yang kupijak terasa seperti es balok, membuat telapak kaki kaku. Beberapa kali aku harus berpindah tempat karena diarahkan oleh para Askar. 4x aku terusir, tapi aku memaklumi: mereka hanya menjalankan tugas. Aku tetap tenang, karena yang kucari bukan kenyamanan, melainkan keikhlasan.




Khutbah Jumat pun dimulai. Suara khatib menggema megah, menyentuh relung hati. Di antara isi khutbah yang penuh hikmah, ada bagian yang membuat hatiku bergetar: saat khatib mengangkat tangan dan memanjatkan doa khusus untuk rakyat Palestina. Doa itu diulang tiga kali, seperti dalam Qunut Nazilah.
"Allahumma unsur ikhwanana fi Filistin... Allahumma unsurhum fii kulli makaan... Allahumma kun ma’ahum, warham da’fahum, wa asqith 'aduwwahum, ya Rabb al-‘alamin..."

Kalimat demi kalimat keluar penuh kekhusyukan dan semangat. Seisi masjid terdiam. Aku pun ikut larut dalam haru. Doa itu terasa mewakili jeritan hati umat Islam di seluruh dunia. Di tengah kedamaian Makkah, ingatan tentang penderitaan saudara-saudara kita di Palestina kembali menyeruak.

Selesai salat Jumat, aku keluar melalui Gate Al Salam. Arus manusia tumpah ruah di jalanan. Aku menelusuri jalur Shib Amir. Di halte bus Sholawat, ratusan jemaah tampak berdesakan berebut ingin naik ke bus yg terbatas. Suasana sangat padat. Tapi Alhamdulillah, entah bagaimana, aku bisa masuk ke dalam bus paling awal—dengan mudah, dalam berdesakan. Hatiku langsung tersentuh. Dalam hati aku mengucap syukur: ini adalah bentuk nikmat Allah, yang kadang datang tanpa disangka.

Lihat videoku : https://youtube.com/shorts/N8f1q0Et1FU

Bus berjalan perlahan menyusuri panasnya kota Makkah. Sinar matahari membakar. Tapi tubuh ini terasa ringan setelah Jumat yang penuh keberkahan.

Setibanya di hotel dan setelah beristirahat sejenak, pukul 14.00 aku turun ke lantai MZ untuk mencuci pakaian. Hotel tempatku menginap menyediakan 10 mesin cuci otomatis yang bisa digunakan secara mandiri. Fasilitas ini sangat membantu. 
Di sela-sela cucian yang berputar, aku duduk dan merenung. Hari ini sungguh luar biasa—penuh tantangan, peluh, dan sekaligus nikmat tak terhingga.

Refleksi :
Alangkah naifnya jika ada sebagian orang yang menganggap bahwa ibadah hanyalah sebatas ritual lahiriah—salat, puasa, kurban, atau haji semata. Seakan ibadah hanya perkara gerakan fisik dan bacaan, tanpa menyentuh sisi nurani dan tanggung jawab sosial.

Padahal, Islam adalah agama yang utuh. Menyuarakan keadilan, membela yang tertindas, dan mendoakan saudara-saudara kita di Palestina—itu semua adalah bagian dari ibadah.

Bahwa kepedulian pada Palestina bukanlah sekadar isu politik, tapi panggilan iman. Sebab membela yang dizalimi adalah bagian dari ajaran Rasulullah.

Ibadah sejati adalah yang menjadikan kita semakin dekat kepada Allah, sekaligus semakin peka terhadap penderitaan sesama manusia. Maka, siapa pun yang meremehkan suara untuk Palestina sebagai sesuatu di luar ibadah, sungguh mereka sedang kehilangan ruh dari makna Islam itu sendiri.

Hotel Mahabbah, Mekkah, Jum'at 16 Mei 2025: 21.45



Umrah Sunnah untuk Ibuku Tercinta

Hari ini aku memilih tetap berada di hotel dari pagi hingga siang. Awalnya ada niat untuk menjelajah ke Pasar Kakiyah, sebuah tempat yang katanya cukup menarik untuk dikunjungi. Tapi rencana itu aku batalkan. Malam ini aku punya misi khusus: melaksanakan umrah sunnah untuk almarhumah ibuku, Khadijah. Aku harus dalam kondisi fisik yang prima.


  



Kami sekamar berempat di lantai 3. Beberapa malam aku kurang tidur. Tidurku terusik oleh suara noise teman sekamar yang cukup mengganggu. Ada yang ngorok mengigau, ada yang giginya berderit spt sedang mengunyah sate kambing, ada yang diam tapi gadgetnya nyetel tiktok dan bunyi terus meski sdh pulas. Meskipun itu jadi kendala bagiku, aku memilih untuk tidak  mengeluh kepada mereka. Aku anggap ini ujian kesabaran, sekaligus bentuk lain dari nikmat Allah. Setiap ujian membawa pahala jika kita mampu bersikap bijak.

Aku cukup mencari solusi sederhana. Jika sulit terlelap, aku turun ke lantai dasar  ke sofa di pojok lobi hotel, atau kadang ke masjid, aku tidur di situ. Tak ada masalah. Selama niatku lurus untuk ibadah, segala gangguan bisa kuredam. Justru aku belajar menerima bahwa dalam kebersamaan, selalu ada tantangan kecil yang bisa menjadi ladang pahala bila dihadapi dengan sabar dan ikhlas.

 
   


Menjelang malam, selepas salat Maghrib, kami bersiap menuju Masjid Aisyah di daerah Al-Tan'aim untuk mengambil miqat. Di masjid inilah tempat jemaah Makkah memulai ihram umrah. Kami melaksanakan salat Isya di sana, lalu aku shalat sunnah dan meniatkan umrah dengan penuh khusyuk:
"Labbaika ‘umratan ‘an ummi Khadijah."
Semoga Allah menerima niat ini sebagai bentuk bakti kepada ibuku yang telah tiada.


 




Namun ada sedikit ujian. Saat mengambil wudhu, aku lupa menaruh kacamataku dan setelah selesai shalat kembali ke Bus aku baru sadar kacamata minusku tak lagi nangkring dihidungku. Aku dgn cepat berlari ke tempat wudhu. Toilet sudah sepi tidak ada orang lagi. Ya sudah ikhlasin saja. Kecil memang, tapi cukup membuat pandanganku buram. Setelah jaket kini kacamata yg hilang. Ini kelalaianku, pelupa. Mungkin ini bagian dari ujian kecil dalam perjalanan ibadah ini.

Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Haram. Bus menurunkan kami di dekat kompleks Clock Tower. Sekitar pukul 22.00 malam, aku memulai prosesi tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Suasana luar biasa padat. Jutaan manusia dari berbagai bangsa dan warna kulit menyatu mengelilingi Baitullah. Tubuhku terus bergeser, terombang-ambing di antara arus manusia. Tawaf ini benar-benar menguras tenaga, tapi semangatku tetap menyala—ini untuk ibuku.





Selesai tawaf, aku menyempatkan diri menghampiri Maqam Ibrahim. Aku bershalawat, lalu melangkah menuju Multazam—tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang dikenal sebagai titik mustajab doa. Aku sholat sunnah dan memanjatkan doa yang mengalir dari dalam hati: untuk ibuku, ayahku, keluarga, sahabat-sahabatku, dan tentunya untuk Palestina yang masih menangis dalam luka.

Air zamzam menjadi pelepas dahaga sekaligus penyejuk jiwa. Aku minum perlahan, memohon keberkahan dan kesembuhan, seperti yang dicontohkan Nabi.

Aku melanjutkan dengan rukun Sa’i antara Shafa dan Marwa. Tujuh kali perjalanan kaki yang bukan sekadar ritual, tapi zikir panjang menelusuri jejak perjuangan Hajar. Kakiku mulai terasa pegal, tapi hatiku tenang. Di penghujung Sa’i, aku bertahallul—memotong beberapa helai rambut sebagai tanda tahapan umrah telah selesai.

Pukul 01.30 dini hari, aku selesai. Aku ngaso di depan WC no. 9, kududuk di lantai dan mengoleskan Hotcream diclofenak di kaki dan lutut lalu bergegas kembali ke stasiun Shib Amir dan berhasil naik bus Sholawat No. 1 menuju hotel. Badan terasa letih, otot-otot pegal. Tapi hati ini bahagia.

Alhamdulillah, umrah sunnah untuk ibuku tercinta telah kutunaikan. Semoga Allah menerimanya sebagai bentuk bakti dari anaknya yang sangat mencintainya.
Aamiin.

Mekkah, Sabtu 17 Mei 2025




Umroh Sunnah untuk Alm. Ayah

Setelah salat Magrib berjamaah di masjid hotel, aku bersiap menunaikan umroh sunnah dengan niat khusus untuk almarhum ayahku tercinta, Muhammad Saleh. Aku bersama rombongan menuju Masjid Aisyah di Tan’im, tempat miqot bagi penduduk Makkah. Di sana aku mengenakan kembali pakaian ihram, melafalkan niat, dan memantapkan hati untuk menjalankan umroh ini sebagai bentuk birrul walidain—bakti kepada orang tua yang telah tiada.




Sekitar pukul 21.00 aku tiba kembali di pelataran Masjidil Haram, melewati checkpoint Nusuk di depan Zamzam Tower. Mengingat pengalaman umroh sebelumnya yang cukup melelahkan karena memilih jalur tawaf yang terlalu jauh dari Ka’bah, kali ini aku ikhtiar untuk mengambil posisi lebih dekat agar putaran tawaf lebih pendek meskipun harus menyatu dalam keramaian jamaah.




Saat memulai putaran kedua tawaf, aku bergabung dengan rombongan besar berkulit hitam legam, berjumlah sekitar lima puluh orang. Aku tak tahu dari negara mana mereka berasal—mungkin dari Afrika Barat atau Selatan—tapi jelas sekali bahwa mereka sangat kuat dan kokoh. Mereka menembus kepadatan dengan kekompakan luar biasa. Aku mengikuti arus mereka, dan alhamdulillah, akhirnya aku bisa mendekat ke Ka’bah.

Di sana, aku sempat menyentuh dinding Ka’bah lebih lama, menyandarkan wajah, berdoa untuk diri, keluarga, dan sahabat-sahabatku. Aku juga dapat menyentuh Maqam Ibrahim, mengusapnya perlahan, bershalawat, dan bermunajat dalam haru. 

Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, aku keluar dari arus yang semakin padat, lalu melaksanakan salat dua rakaat di tempat yang menghadap lurus ke pintu Ka’bah. Aku minum beberapa teguk air zamzam sambil duduk beristirahat, menguatkan diri untuk melanjutkan ke Sa’i.

 

Sa’i: Sebuah Perjalanan Jiwa antara Shafa dan Marwah

Setelah melaksanakan thawaf, 𝚊𝚔𝚞 melanjutkan rangkaian umrah dengan sa’i, berjalan kaki bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Sa’i bukan sekadar ritual fisik, tapi juga perjalanan spiritual yang sarat makna. Di sinilah aku merenungi kembali perjuangan Siti Hajar—seorang ibu, seorang hamba Allah—yang berlari kecil bolak-balik di tengah panasnya gurun demi mencari setetes air untuk putranya, Ismail.
Langkah demi langkah aku tempuh, melewati lorong panjang yang kini sejuk dan terang. Tapi di benakku, tergambar kerasnya medan di masa lampau, ketika Siti Hajar sendirian dalam ketidakpastian, hanya bersandar pada keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

  



Pada bagian antara dua lampu hijau, aku mempercepat langkah—ini bagian yang dulu Siti Hajar berlari. 
Di titik ini, aku seperti ikut merasakan kegelisahan dan harapan beliau. Doa mengalir dalam hati: semoga Allah karuniakan kepada keluargaku ketabahan, keteguhan iman, dan rezeki yang cukup. Semoga aku mampu menjadi pribadi yang tawakal seperti Hajar, tidak menyerah di tengah ujian hidup.

Sampai di bukit Marwah, aku berhenti sejenak. Tarikan napas terasa lebih berat, bukan karena lelah semata, tapi karena hati ini tergetar oleh makna perjuangan. Setiap langkah sa’i bukanlah langkah hampa—ia adalah jejak cinta, keikhlasan, dan harapan seorang ibu yang diabadikan dalam ibadah umat Islam sepanjang zaman.
Saat memasuki putaran kedua dari Marwah kembali ke Shafa, aku kembali bertemu dengan satu rombongan jamaah dari Afrika. Mereka tampak begitu kompak, berjalan dengan penuh semangat sambil melantunkan doa dan shalawat dengan suara yang menggema. Aku tertarik bergabung, dan menghampiri salah satu dari mereka sambil bertanya :

“Bro, where are you comefrom?” setengah teriak dgn pertanyaan standar pelajaran SMP. 

“Niger..Nigeria!” jawabnya.
“Wow, Nigeria… I love Nigeria!” kataku sambil tersenyum nyengir dan langsung mengikuti langkah mereka.

“I follow you!”
“Yeahh, no problem brother!” sahutnya ramah.

Aku pun ikut larut dalam kekhusyukan mereka. Doa-doa yang dipimpin Ustad mereka begitu jelas dan terarah. Suara rombongan ini membelah keramaian manusia, kuat dan penuh semangat seperti pasukan yang sedang menaklukkan rintangan bersama. Mereka seperti pasukan Rasulullah dalam Perang Uhud—solid, bersatu, dan dipenuhi ruh perjuangan.
Sa’i terasa jauh lebih ringan dan penuh makna saat kulalui bersama mereka. Tanpa terasa, tujuh putaran selesai kutunaikan hanya dalam waktu kurang dari 45 menit.
Setiap langkah di lorong itu serasa menjadi saksi dari kisah luar biasa Siti Hajar—seorang ibu yang tak menyerah dalam kehausan dan kehampaan, tetapi terus berlari karena keyakinannya pada Allah.

Usai bertahalul, aku melangkah pelan ke Stasiun Bus Shib Amir untuk kembali ke hotel. Saat melihat jam Zamzam, waktu menunjukkan pukul 01.20 dinihari.

Alhamdulillah, hati ini penuh syukur. Allah beri kekuatan, pertemuan yang mengesankan, dan pengalaman spiritual yang tak terlupakan. Sa’i bersama kafilah Nigeria dengan langkah-langkah  yang spartan dan solid terasa begitu bermakna, tidak ada keluhan tidak ada lelah sampai putaran ke tujuh. Sa'i kali ini bukan hanya ibadah, tapi juga perjumpaan lintas bangsa yang mengajarkan arti persaudaraan dalam iman.

Mekkah, 18 Mei 2025
#UmmatanWahidah
#LiterasiAnggrekJingga21


BERSAMBUNG KE EPISODE 2
Terimakasih meluangkan waktu membacanya...



ROAD TO MECCA DIARY EPISODE 1 ROAD TO MECCA DIARY EPISODE 1 Reviewed by Sofyan Saleh on Agustus 16, 2025 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!