Setelah seharian mengitari kawasan Angkor Archaeological
Park seluas 4 Ha, menjelang maghrib kami balik ke pusat keramaian Siem Reap.
Kami diturunkan Mr. Sovan, driver tuktuk di agen bus. Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Sovan yang seharian menjadi guide kami. Selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan dgn bis malam menuju ke Thailand jam 21.00 WIB. Waktu penantian
yang cukup panjang ini kami gunakan untuk mengunjungi Night Market Siem Reap belanja sedikit suvenir dan mencari makan malam yang halalan thoyyiban.
 |
| "liat2 saja ya Ma, perjalanan kita masih jauh..." mengingatkan :) |
Sekitar jam 21.00 kami balik ke agen bus. Penat dan letih berjalan seputar pasar malam. Bus dari Pnom penh yang akan kami tumpangi ke Thailand belum juga datang.
Bete menunggu. Sleeper Bus baru datang sekitar jam 23.00. Kami berdua segera naik, pengin segera tidur... AC nya dingin bikin kami pulasss!
Bangkok
Bergabung dengan Demonstran Anti PM Ying Luck
Suara berisik awak bus membangunkan. Sudah subuh rupanya. Fajar sudah terbit. Rupanya sudah sampai di perbatasan Kamboja dan Thailand. Seluruh penumpang turun untuk pemeriksaan passport di imigrasi. Setelah melalui imigrasi Kamboja kami berjalan sekitar 50 meter ke imigrasi Thailand melakukan proses pemeriksaan yang sama. Setelah melewati border line kedua negara kami tidak lagi naik ke bus. Bus kembali ke Pnom Penh. Kami dioper ke minivan (Hi ace) yang akan mengantar kami ke Bangkok. Kami tidak membayar lagi. Kami menunggu mini van di depan Tourist Information.
 |
| Penjual lotto di Rest Area |
Minivan tiba, kami bergegas naik bersama beberapa turis2 bule dari
berbagai negara.
Saat tiba di Bangkok suasana lagi kurang kondusif. Di Indonesia pemerintah
telah mengeluarkan travel warning bagi WNI yang akan ke Bangkok.
Kondisi
tersebut mengakibatkan banyak jalan2 utama di blokir tentara. Sehingga kami diturunkan
di halte depan stasiun BTS (Bangkok Train Services) Ratchathewi. Tujuan kami adalah ke kawasan backpacker di Khaosan Road tapi tidak ada bus maupun taksi yang beroperasi. Setelah bertanya petunjuk arah ke warga lokal kami bersama backpacker lain memutuskan berjalan dari arah Petchabury Road menuju kawasan Khaosan Road sejauh 5 Km .
Pemerintah Thailand meningkatkan keamanan di ibukota Bangkok
terkait unjuk rasa yang digelar akhir
pekan tsb. Pemerintah setempat bahkan menerapkan UU keamanan khusus untuk menghadapi
aksi demo yang diikuti oleh puluhan ribu
orang.
 |
Walking in Bangkok. Tag bagpack "I'm Indonesian" merah-putih
|
Demonstrasi besar-besaran berlangsung di Royal Plaza, Bangkok . Aksi
demo tersebut digelar oleh kelompok pendukung kerajaan Pitak Siam, yang
menentang pemerintahan Perdana Menteri (PM) Yingluck Shinawatra.
Oleh karena itu, dengan adanya UU Keamanan Dalam Negeri (ISA),
aparat setempat disiagakan di tiga
distrik utama Bangkok selama 9 hari berturut-turut.
 |
| berjumpa demonstran anti PM Ying Luck |
 |
| Babes, you are my Model ! |
 |
| Monumen Demokrasi |
Agar tidak tersesat sesekali kami berhenti bertanya pada warga lokal arah jalan ke Khaosan Road. Di setiap simpang jalan kami bertemu satuan2 pleton tentara yg siaga, demikian juga dgn rombongan2 demonstran yg berjalan kaki sambil meneriakkan yel-yel anti pemerintah. Tampaknya mereka sedang menuju satu titik kumpul.
Hampir sejam jauh kami berjalan kaki, berpeluh dan betis meriang disko...kami berhenti ngaso sejenak di depan Monumen Demokrasi Rakyat. Monumen itu menunjukkan empat sayap raksasa yang mewakili angkatan bersenjata Thailand: udara, darat, angkatan laut, dan polisi yang melindungi sebuah buku (konstitusi) yang dibawa oleh dua mangkuk persembahan. Ini mencerminkan visi Phibun, penguasa militer pada saat itu dibuat pada tahun 1939. Perhatikan bahwa pada relief di dasar struktur tidak ada gambar raja Thailand yang terlihat, tetapi terutama tentara yang melindungi orang biasa.
Monumen itu dinamai monumen demokrasi, karena militer pada 1930-an Thailand melihat diri mereka bertindak atas nama rakyat yang dalam pandangan mereka berarti demokrasi.
Dari sini sudah dekat ke Khaosan Road. Alhamdulillah akhirnya sampailah kami ke Kawin Guesthouse di Khaosan Road yg hingar bingar.
 |
| di sini tempat kami Kawin |
Kawin Place Guesthouse saya pesan 3 bulan yang lalu lewat booking.com untuk 3 malam. Setelah check in kami langsung masuk kamar di lt. 2. Hufft...peggeeeelll ! Jalan kaki 5 kilometer masbro!
Khaosan Road
Khao San Road menjadi tempat favorit para backpacker dunia. Banyak yg menyebutnya sebagai surga para backpacker. Lokasinya berupa lorong jalan atau dapat pula disebut sebagai gang jalan kecil. Meskipun terkesan kecil, namun di Khao San Road ini terdapat beragam fasilitas yang menunjang para backpacker dari budget minimun hingga maksimum segaligus. Heheh.
Apa aja yang ada di Khao San Road? beberapa andalannya mulai dr jajanan berbagai macam makanan dr yang biasa sampai yg ekstrim hingga pilihan beragam jenis hotel, homestay, hostel, dorm dan laundry tersedia. Selain itu, di sana juga banyak jenis pertokoan, bar, cafe hingga pedagang baju kaos, souvenir, agen visa, bahkan agen turis dan travel dengan harga yang relatif murah yang juga siap melayani para backpacker untuk traveling di sekitar wilayah Thailand.
 |
| ishhh...! |
Tidak ada kata wajib untuk mengunjungi satu tempat dalam kamus traveling saya. Meski tempat wisata yang dimaksud masuk dalam katagori must visit. Tetapi terkadang saya mengingkari kata wajib itu kalau memang tidak cocok dengan waktu dan bujet. Nah ngomongin soal must visit, kalau jalan-jalan ke Bangkok, Thailand, kamu harus mengunjungi Grand Palace. Komplek istana Raja Thailand yang berada di jantung kota Bangkok.
Grand Palace ini amatlah luas. Luasnya 500 x 300 meter. Ada 35 bangunan di dalamnya. Istana ini mulai dibangun pada tahun 1782, pada masa pemerintahan Raja Rama I. Istana ini berfungsi sebagai kediaman resmi Raja-raja Thailand dari abad ke-18 hingga tahun 1945. Setelah itu, itu lebih banyak digunakan sebagai tempat menggelar upacara dan ritual kerajaan. Raja Thailand pun tinggal di Istana Chitralada.
Selain istana raja, di komplek ini ada pula kuil paling suci di Thailand, Wat Phra Kaew atau Temple of Emerald Buddha. Inilah atraksi utama di Grand Palace. Letaknya di Outer Court. Jadi ada tiga bagian dalam Grand Palace ini. yakni outer court, middle court, dan inner court. Selain itu, ada Museum Coins and Decorations. Bangunan-angunan di komplek Grand Palace begitu indah dan menarik. Perpaduan arsitektur khas Thailand dan gaya neo-Baroque. Dekorasinya sangatlah rumit.
Buka: pkl.08.30-15.30. Tiket: THB 500.

/./
Wat Po
Kuil
yang lebih tua dari Kota Bangkok ini berlokasi di sebelah Grand Palace. Di sini
terdapat patung Buddha yang sangat besar dalam posisi tidur. Warnanya
keemasan. Sayangnya, ruangan tempat patung Buddha ini terasa sesak ditambah
dengan berjubelnya turis, plus pilar-pilar di sekelilingnya yang membuat sulit
dapat foto dengan angle optimal.
Buka: pkl.08.00-17.00.Tiket: THB 100 (gratis
1 botol air minum).
 |
| Budha Reclining |
Wat Arun
Karena letaknya di seberang Wat Po, dibatasi Sungai Chao Praya, maka cara paling mudah ke sini dengan naik kapal, ongkos menyeberangnya THB 3. Wat Arun disebut juga Temple of the Dawn. Tinggi pagodanya bervariasi dari 66-86 m dengan hiasan porselen warna warni sehingga dari kejauhan pagoda ini berkilauan bila ditimpa sinar matahari. Wat Arun bagus untuk melihat sunset. Kalau mau beli T-shirt murah, kios-kios di luar Wat Arun adalah pilihan yang tepat. Bisa dapat THB 70 untuk satu kaus (tapi harus beli banyak, minimal 5). Buka: 08.00-17.30. Tiket: THB 100.

Chao Phraya River
Bagi yang pernah Bangkok pasti mengenal sungainya yang legendaris, Sungai Chao Phraya. Di pinggir sungai ini kita bisa menemukan banyak tempat untuk berjalan-jalan seperti Asiatique The Riverfront yang terkenal
Sungai Chao Phraya menjadi sarana transportasi yang vital sejak kota Bangkok didirikan tahun 1782. Sungai ini merupakan pertemuan empat sungai kecil, Ping, Wang, Yom, dan Nan, di daerah Nakhon Sawan yang berada di wilayah utara Thailand. Sepintas sungai ini mirip dengan Sungai Musi di Kalimantan.
Panjang aliran sungai Chao Phraya mencapai 372 kilometer. Bahkan hampir seluruh kota di Thailand dari Utara sampai Selatan dilalui sungai ini, seperti kota Chainat, Ang Tang, Ayyutaya, dan masih banyak lagi. Aliran sungai ini mengalir dari Bangkok hingga bermuara di Teluk Thailand.
MBK Shopping Centre
dan Siam Paragon
Mal ini dengan mal lainnya dihubungkan dengan skyline, sehingga tak perlu repot
menyeberang jalan. MBK singkatan dari Mahboonkrong, merupakan pusat
perbelanjaan berlantai 8 yang terletak di Phayathai Rd, Pathum Wan. MBK jadi
favorit turis Indonesia terutama yang mau berburu snack sebagai oleh-oleh, dari
snack halal maupun nonhalal ada di sini. Sementara Siam Centre ya seperti mal
pada umumnya, segala ada. Kedua mal ini jam bukanya pkl.10.00-22.00.
Mal ini adalah tempat belanja murah terbaik yang ada di Bangkok untuk berbelanja barang bermerek, termasuk gadget IT dengan harga menarik, merupakan surga lain dari pencinta high-street brand karena koleksi di sini cukup lengkap, memiliki sekitar 250 butik dari merek-merek top seperti MNG, Armani, Gap, Zara, dan masih banyak lagi. Terdapat pula Food Court yang lengkap, dan bioskop 4D dan IMAX 3D. Siam Paragon terletak di daerah Pathum Wan district, dan dekat dengan beberapa tempat belanja di Bangkok. Bersebelahan dengan Siam Center dan Siam Discovery Center. Di seberangnya ada Siam Square dan MBK Center juga dekat dari sini, yang terhubung dengan jembatan penyeberangan yang nyaman. Di tempat ini juga terdapat tempat wisata Museum Madame Tussauds dan Ocean World Bangkok
Mencari makanan halal?
Di food court mal umumnya ada satu atau dua gerai
yang memasang lambang halal, seperti food court di Siam Paragon, MBK, Platinum dll, atau tentunya di sekitar
masjid. Banyak mal yang juga menyediakan musholla. Di food Court
lantai 5 dan lantai 6 terdapat gerai makanan halal dan makanan
Indonesia (Restoran Jimbaran), Yana
Halal Restaurant.

Chatuchak Weekend
Market
Pasar
wiken terbesar di Asia Tenggara dengan >15.000 kios yang menjual
apa aja dengan harga murah asal jago nawar. Biasanya turis ke sini
untuk membeli suvenir atau barang kerajinan khas Thailand, juga aneka T-shirt
dan snack. Minimal setengah hari lah keliling, baru puas. Jam bukanya
pkl.06.00-18.00 (hanya Sabtu dan Minggu). Jika 1 Januari pas jatuh di akhir pekan,
pasar ini buka seperti biasa.
Chatuchak memiliki sekitar 10.000 gerai, yang setiap weekend dikunjungi sekitar 250.000 pengunjung. Pasar ini juga merupakan tempat belanja favorit masyarakat Bangkok, jadi yang datang kesini bukan hanya wisatawan saja. Terdiri dari 27 sections atau bagian, yang menjual berbagai rupa barang, mulai dari produk fashion, furnitur, kain, cinderamata, perhiasan, binatang peliharaan dan banyak lagi.
Untuk yang baru pertama kali ke Chatuchak, mungkin berpikir akan pusing juga mencari barang yang diinginkan, karena harus berputar-putar memasuki berbagai gang tempat jualan dengan kondisi tanpa AC yang dingin seperti di mall. Sebenarnya Chatuchak tidak terlalu sulit untuk dinavigasi. Tips-nya adalah begitu sampai, langsung cari peta tempat ini, dan lihat kira-kira barang apa saja yang mau dilihat atau dibeli.
Mencari makanan halal? Di dalam pasar ini banyak kedai yang menjual makanan halal dan memasang lambang حلال.
Hawa Pochana, 389 KamphaengPhet Road (seberang Otokor Market) Chatuchak.
Saman Islamic Food , Di tengah pasar Chatuchak, di dekat tugu jam.
Platinum Fashion
Mall
Adalah
surga belanja produk fashion murah tapi keren. Ssstt... bahkan
seleb-seleb kita aja banyak yang belanja baju di sini lho.
Busana yang dijual sangat mengikuti tren mode yang sedang berkembang. Ada lebih
dari 1.500 kios di area belanja yang menempati 6 lantai ini. Lorong antar
barisan kios cukup lebar. Seluruh ruangan ber-AC. Ada eskalator dan lift. Jam
bukanya pkl.09.00-20.00, setiap hari (tapi banyak toko yang sudah mulai tutup
menjelang jam 6 sore).

Jejak Perlawanan Petualangan leluhur Makkasares di Kerajaan Ayutthaya
Kata "Makkasan" berasal dari nama suku bangsa Makassar, yang kini juga menjadi nama dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Pada masa lampau, kawasan ini merupakan daerah perkampungan orang Makkasan (orang Makassar).
Orang Makkasan adalah warga Muslim pendatang dari Pulau Sulawesi yang sudah menetap di Negeri Siam semenjak zaman Kerajaan Ayutthaya menjelang akhir masa pemerintahan Raja Narai. Orang Siam kala itu menyebut mereka Khaek Makkasan (แขกมักกะสัน). Dalam bahasa Thai, khaek secara harfiah berarti tamu, dan digunakan sebagai sebutan bagi warga pendatang yang bukan berasal dari dunia Barat (Thai : ฝรั่ง, farang, Peringgi) atau orang-orang non-Kristen, yakni orang-orang yang sebagian besar beragama Islam seperti orang India, orang Melayu, orang-orang asal Timur Tengah, dan sebagainya.[2]
Dari catatan Claude de Forbin, Perwira Angkatan Laut Prancis yang pernah tinggal di Kerajaan Ayutthaya, diketahui bahwa orang Makkasan bangkit memberontak pada 14 Juli 1686. Para penguasa Ayutthaya bersama bangsawan-bangsawan asing semisal Konstantinos Gerakis harus bersusah payah menggunakan kekerasan untuk mengakhiri pemberontakan itu. Meskipun demikian, keganasan orang Makkasan selamanya membekas dalam kenangan orang Siam yang mengumpamakan mereka sebagai para Yaksa[3]. Peristiwa ini disebut "Pemberontakan Makkasan" (กบฏมักกะสัน, ขบถมักกะสัน).[3] (Sumber Wikipedia)
 |
Menuju Distrik Makassar (Makkasan Din Daeng)
|
Ketika Raja Buddha Yodfa Culaloka (Raja Rama I) mendirikan Kerajaan Ratnakosindra (sekarang, Kota Bangkok) pada 1782, ia mengizinkan orang Makkasan dari Ayutthaya untuk berkampung di kawasan ini. Daerah hunian orang Makkasan ini juga dinamakan "Makkasan" sampai sekarang.[3] Kata "Makkasan" juga dijadikan nama sejumlah bangunan yang berada di kawasan ini, misalnya Stasiun Makkasan (stasiun transit angkutan cepat terbesar dalam Jaringan Kereta Api Bandara Suwarnabumi), Stasiun Kereta Api Makkasan (salah satu stasiun kereta api kelas 1), Bueng Makkasan (sebuah waduk di pusat Kota Bangkok yang dibangun pada 1931 oleh Jawatan Kereta Api Thailand), Simpang Susun Makkasan (bagian dari dua jalan bebas hambatan terkendali di Kota Bangkok, yakni Jalan Raya Chaloem Maha Nakhon dan Jalan Raya Sirat), dan lain-lain.[4][5] (Wikipedia)
https://firmanimmanksyah.xyz/daeng-mangalle-kisah-epic-orang-makassar-di-negeri-thailand/
 |
Buku Bernard Dorlens dgn cover Makkasan bersarung
|
Ada nilai Siri' Na Pacce' dan keyakinan yang dipertahankan sehingga orang rela mati dalam hunusan pedang lawan. Tapi keberanian di luar nalar itu memang sering muncul dalam detik-detik kebuntuan, cul-de-sac.
Claude de Forbin utusan Raja Louis XIV merekam perlawanan mengerikan itu, terkepung ribuan personel gabungan kerajaan Siam, Prancis, Inggris dan Portugis di pedalaman Thailand, 23 September 1686. Bernard Dorleans merangkum kisah heroik ini dalam Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai XX.
Tersebutlah Daeng Mangalle, bangsawan Gowa-Tallo dan kerabatnya diduga terlibat persekongkolan kelompok Melayu, Campa dan Makassar di Ayuthia. Mereka dituduh hendak menjarah kerajaan dan menghabisi Raja.
Raja Siam yang mengetahui rencana itu mengirim personel bersenjata termasuk bantuan pasukan Prancis yang berpusat di Bangkok. Orang-orang Melayu dan Champa mendapatkan pengampunan setelah meminta maaf kepada Raja.
Namun tidak bagi Daeng Mangalle. Ia merasa tak bersalah atas semua tuduhan itu. Sebagai bangsawan, pantang baginya mengacau di rumah orang. Karena itu ia merasa tak perlu meminta ampun.
Akibatnya perkampungan Makassar dikepung ribuan tentara. Lengkap dengan senjata terbaik di masa itu.
Dalam beberapa kali negosiasi Daeng Mangalle tetap kukuh tak bersalah. Tapi semua tuduhan didakwakan padanya. Setelah insiden berdarah di sebuah pavilliun, 23 September malam ribaun pasukan bergerak ke kampung Makassar di Ayuthia. Mereka datang bersama dua kapal perang, 60 kapal kecil dan 22 kapal dayung.
Dalam perang tak seimbang itu Daeng Mangalle tahu betul ia dan kerabatnnya pasti kalah. Namun ia telah bersumpah akan memberi perlawanan setimpal yang takkan dilupakan Thailand sampai kapaupun. Baginya lebih baik tumbang daripada menjadi budak di negeri orang.
Seluruh pintu keluar kampung di tepi sungai itu telah dikepung. Dalam keheningan subuh, serbuan dimulai. Bola-bola api mulai ditembakkan ke perkampungan. Api merah menyala menjilat seisi desa. Melihat semuanya hangus Koalisi Siam-Eropa sempat merasa menang. Namun perang sebenarnya justru baru saja dimulai.
Seperti laron menerjang sinar, orang-orang Makassar satu persatu keluar dari parit dan menerjang apapun yang mungkin mereka serbu. Perang, serang terjang. Balasan itu membuat Kapten Coates dari Inggris tumbang. Ribuan pasukan gabungan itu dipaksa itu mundur menunggu bala bantuan datang.
Serangan berlanjut hingga siang. Sisa-sisa orang Makassar semakin terkepung. Namun mereka tak mundur. Keberanian mereka membuat Claude de Forbin dan kawan-kawan bergidik ngeri. Bagaimana 200 pria dengan keris dan tombak bisa demikian menggila melawan lebih dari 3000 tentara.
Daeng Manggale sendiri terhuyung oleh lima tusukan tombak. Namun dalam kondisi itu nyalinya tak padam. Sebelum napasnya berakhir ia sempat menerjang seorang Menteri Siam dan menghabisi seorang Inggris. Daeng Mangalle baru benar-benar rubuh setelah dihujani peluru Perancis.
Forbin mencatat kesaksian Pastor Tachard tentang bagaimana sisa-sisa orang Makassar ini dihukum. Kepala dijepit dan dipasak sebelum menjadi santapan macan. Ada juga yang dibakar dan dikubur setengah badan hingga mati perlahan. Sisanya kepala mereka dipenggal dan dipamerkan sebagai peringatan.
Selebihnya adalah sejarah yang hingga kini membuat penduduk Thailand terpana. Mereka terkenang kisah keteguhan hati dan perlawanan tak terperikan. Bayangkan, 200 lelaki Makassar yang terkepung mampu menghabisi tak kurang seribu prajurit Siam dan 17 tentara Eropa. Dengan senjata seadanya. Ya…. senjata seadanya  |
| Stasiun Kampung Makassar |
Shutdown Bangkok Demonstran Oposisi PM YingLuck
Dalam perjalanan dari Siem Reap menuju Bangkok saya mendapat informasi di perbatasan bahwa ada demo besar-besaran yang dilaksanakan pada tanggal 13-14 Januari 2014 dengan tujuan untuk melumpuhkan Bangkok dengan tema "Shutdown Bangkok Restart Thailand". Dari facebook saya membaca bahwa pemerintah RI telah mengeluarkan Travel Warning bagi warga Indonesia. Waduh! Sedikit ada keraguan tapi mau gimana lagi? masa' balik lagi ke Siem Reap atau langsam ke Thailand Selatan? Pengembaraan di Bangkok harus diteruskan, the show must go on! kata orang Bule. Kata orang Makassar : Takkalami ! Tidak ada kata mundur sebelum pelabuhan tercapai...
Sasaran demonstrasi adalah menduduki pusat-pusat pemerintahan, memblokir jalan-jalan untuk menghambat para pegawai pemerintahan yang akan menuju kantornya, bahkan mengancam akan memutus aliran listrik dan air ke pusat-pusat pemerintahan. Mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat demonstrasi tersebut, salah satu atraksi kolosal spektakuler yang sangat diminati oleh wisatawan yaitu Siam Niramit menyatakan akan meniadakan pertunjukkan pada tanggal tersebut. Alasannya karena pertimbangan keamanan dan transportasi. Syukur alhamdulillah demo besar-besaran yang di lancarkan oleh kelompok oposisi tersebut berlangsung damai tanpa insiden yang berarti.
Bahkan selama 2 hari saya ikut masuk ke tengah2 pendemo di kawasan mal MBK.


 |
| Kawasan MBK, dibelakang itu adalah tenda raksasa para pendemo |
 |
| Makan di tenda demonstran Bangkok di kolong MRT |
 |
| 2 orang pelajar menolong kami keluar dari eskalasi demo yg meningkat dan mengantarkan kami melalui jalan tikus menuju stasiun MRT |
 |
Di depan panggung raksasa di tengah persimpangan jalan, panggung orasi layaknya panggung konser
|
Daerah MBK dan sekitar jalan ditutup kudu jalan kaki 15
menitanlah... klo naik taksi sih mungkin bisa mendekat. Kantor juga banyak tutup. Semakin hari eskalasi makin
meningkat. Kemarin saya ke stasiun KA Hua Lamphong penuh demonstran tiduran di
hall depan loket. Di beberapa simpang 5 strategis mrk mendirikan tenda guedee. Di
sekitar MBK tenda kecil2 ratusan di depan kantor, mall. Klo sekitar Khao San
Ramvutri sih aman2 saja. Yang penting waspada dan ingat semangat perjuangan Daeng Ngalle bersama laskarnya di Dinh Daeng abad 16 di Kerajaan Ayutthaya,..hehe
Ketika masuk ketengah demo dan berdiri dekat panggung yg gede amiiir... dapat jatah deh
kaos pendemo. Malah kalo gak kuatir kandungan babi ikut antri saya di depan dapur umum demonstran wkwkwk.., lumayan makan gratis !. Sy lebih takut sama "porky" drpd
demonstran. Kan sesama demonstran dilarang saling mendahului ...demonstran impor dari Jakarta hehehe
Museum Nasional
Bangkok
Terletak di
Jalan Na Phra That, museum ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Grand
Palace ataupun Khao San Road. Museum yang menempati bekas istana raja ini
memamerkan koleksi yang menceritakan sejarah dan seni Thailand dari berbagai
era. Ambil peta saat Anda memasuki kompleks museum dan tentukan apa saja yang
ingin Anda lihat, karena kalau merambahi satu demi satu, butuh waktu berjam-jam
di sini. Tiket masuk THB 200. Jam buka pkl. 09.00-16.00 (Rabu-Minggu).
Jim Thompson House
Tempat
ini jarang dilongok turis, padahal cukup legendaris. Tiket masuk sudah termasuk
pemandu berbahasa Inggris. Jim Thompson seorang veteran perang dari Amerika
yang jatuh cinta dengan Thailand, membangun rumah di Bangkok di samping
mengembangkan sutera Thailand. Rumahnya dijadikan museum dan tempat pembuatan
sutera yang telah diekspor ke mancanegara.
Buka: pkl.09.00-17.00.
Tiket: THB
100. Cara ke sana: Naik BTS ke National Stadium dan keluar di exit 1.
Di
sini juga ada toko suvenir berisi produk-produk sutera. Sayang, harganya menguras dompet, gak kuku dah...
 |
| Kucing Siam |
Hua Lamphong Railway Station
Saya tak akan pernah berhenti bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang selalu Dia berikan. Sebagai makhluk hidup yang suka mengembara dan "memasrahkan diri", saya bersyukur punya kemampuan untuk bisa tidur di mana saja. Dari bus antar kota antar propinsi kelas eksekutif hingga kelas ekonomi ala perang dunia kedua, hal tersebut bukanlah masalah. Kereta api kelas ekonomi pun tak mengapa, hanya saja otot pantat harus diurut sedemikian rupa karena bekerja terlalu keras. Tidur di emperan masjid, pelabuhan, dek kapal, atau bandara bukanlah barang baru. Kejamnya hawa dingin gunung sekalipun tak mengurangi kenikmatan beristirahat di dalam tenda nan tipis.
Sebagai makhluk hidup yang punya kemampuan khusus tersebut, Stasiun Hua Lamphong di Bangkok adalah lebih dari sekadar indah. Stasiun Hua Lamphong sangat besar. Rute kereta ke seluruh penjuru Thailand rasanya ada di stasiun tersebut, termasuk juga rute dari Singapura dan Malaysia. Menuju perbatasan Kamboja dan Laos juga bisa digapai kereta dari Stasiun Hua Lamphong. Loket pembelian tiket barangkali ada lebih dari lima belas buah. Di depan pintu masuk stasiun, beberapa pemuda siap sedia membantu para pengunjung mengenai tiket kereta api dan seluk beluk stasiun. Mereka bukanlah calo, mereka bagian resmi dari pelayanan stasiun dan menguasai bhs Inggeris.
 |
| area khusus bagi para monk, bentuk penghormatan pada "Ulama" |
Hat Yai
Mini Van
Jarak dari Hat Yai ke Bangkok adalah 945 km, dengan jarak tempuh antara 16-18 jam tergantung kereta apa yang kita pilih. Kami memilih Special Express 37: Depart Bangkok: 3.10pm Arrive Hat Yai: 7.18am
Karena check out pukul 12.00 siang, kami sengaja santai-santai karena kereta api dari Bangkok ke Hat Yai akan berangkat pukul tigaan. Saat check out, kami duduk-duduk dulu di communal room hostel yang ada sofa empuknya, lumayan untuk mengulur waktu. Sekitar pukul 13.00 kami naik bis kota ke Stasiun Hua Lamphong dengan ditemani sinar matahari Bangkok yang menyengat. Tak lupa juga kami take away makanan, camilan dan minuman di 711 karena kereta ini akan menempuh perjalanan selama 16 jam! Bisa modar kan kalau 16 jam tak ada apa-apa yang masuk ke perut?


kereta api dijadwalkan tiba di Hat Yai pukul 07.30. Saya dan soulmate pun sudah siap-siap. Herannya, sampai pukul 08.00 kereta tidak ada habisnya berjalan walaupun lambat. Saya memperhatikan nama stasiun dimana kami sedang berhenti. Patallung? Wah dimana neh? Ternyata tidak terlalu jauh dari Hat Yai. Tapi...kecepatan kereta pun sedang saja dan berhenti di stasiun kecil-kecil. Untuk mengalihkan perhatian, kami lihat pemandangan pagi hari di Thailand bagian selatan yang di dominasi perbukitan serta perkebunan kelapa sawit dan karet.
Kegelisahan kami akhirnya terjawab sekitar pukul 11.30 petugas pun teriak-teriak di gerbong.
"Hat Yaiiii, Hat Yaiiii, Hat Yaiii!!!"
Kami langsung turun untuk mengejar Van pukul 12.00 siang. Kami turun bersama puluhan tentara Thai. Keluar kereta dan masuk stasiun, langsung deh dikerubutin calo-calo tiket.
"Going to Butterworth? Penang? You are going to Malaysia, right? Come come, i provide van to Penang!"
Kami langsung straight ke jalan utama dan mencari van menuju Penang. Rata-rata pasang tarif THB 300 sih. Ditawar pun tidak bisa. Bule yang ikut dengan rombongan kami pun nawar.
"Is it not 200 Bath? I read online the fare is 200 Bath."
"One year ago you can get 200 Bath, Miss! kata petugas travel.
Ya sudah lah, kami akhirnya bayar 300 Bath untuk van dari Hat Yai ke Penang. Sebelum naik, kami menyempatkan makan di rumah makan dekat kantor travel. Karena Hat Yai ada di Thailand Selatan yang berpenduduk mayoritas Muslim, menemukan makanan halal sangat mudah. Kami segera kembali ke kantor travel dan beberapa menit kemudian dijemput.
Ternyata...keputusan kami untuk mengambil langsung Van tersebut adalah benar adanya karena Van berputar-putar di sekitaran wilayah tersebut dan mengambil penumpang ke tiap kantor. Yailah...penumpang yang lain pun dapat 300 Bath. Untung juga kami tidak terlalu picky untuk memilih travel karena modelnya kerja sama. Jadi si sopir van mengambil penumpang ke beberapa kantor travel, sehingga kemungkinan besar tarifnya sama.
Sekitar pukul 13.00, van meninggalkan pusat kota Hat Yai untuk menuju perbatasan Thailand-Malaysia. Sudah 23 jam dari Bangkok dan kami masih di jalanan!
Penang
Nasi Kandar
Ibukota Penang, George Town, adalah salah satu dari dua kota Malaysia yang termasuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO karena berhasil melestarikan warisan kolonial Inggris-nya sejak akhir abad ke-18. Karena lokasi strategisnya di Selat Malaka, Penang menjadi pengantara utama antara Timur dan Barat. Populasi Peranakan, atau Cina Selat, hasil pernikahan antara imigran Cina dan penduduk Melayu, meninggalkan warisan arsitektur, makanan, pakaian, dan budaya. Kemakmuran Cina juga memegang peran penting – lihat saja kuil, dermaga milik klan, aula pertemuan, dan rumah-rumah besar yang mencirikan tempat ini. Penang tersohor akan hidangan kakilimanya yang membuat liur menetes; jangan pulang dulu sebelum mencicipi laksa Penang, kwetiauw, rujak, mie kari dan nasi kandar.
Di Penang menikmati iklim hutan hujan tropis dengan suhu rata-rata harian 28°C, dengan Desember hingga Maret yang lebih kering dan panas. Bulan-bulan basah dimulai Mei hingga awal November.
Bus ulang-alik gratis, Rapid Penang CAT, menghubungkan George Town dari Weld Quay hingga Penang Road, dengan 19 perhentian di tempat-tempat wisata. Becak yang sekarang dikayuh paling pas untuk menyusuri gang-gang sempit George Town; ongkos bisa dinegosiasikan sebelum naik. Ada beberapa tempat penyewaan sepeda di Penang, yang memungkinkan pengunjung melihat-lihat sesukanya. Beberapa di antaranya: Leaf Bike Rentalopens in new window, Metro Bike opens in new window, dsb.opens in new window.
Kuala Lumpur
Souvenir di Central Market
Dari terminal Komtar di sebelah Prangin Mall kami meninggalkan Penang dengan bus menuju Terminal Pudu Sentral di Kuala Lumpur sekitar jam 10 malam. Perjalanan ke KL lamanya sekitar 3-4 jam. Tiba di terminal Pudu menjelang subuh. Kami menyewa loker RM 10 untuk menyimpan ransel kami agar tidak merepotkan ditenteng saat eksplore KL seharian dan malam ini kembali ke terminal untuk melanjutkan perjalanan ke Malaka.
Sebagian dari kita pasti sudah pernah mengunjungi Kawasan Kota Tua di Jakarta. Namun, coba bayangkan jika nuansa Kawasan Kota Tua Jakarta menjadi sebuah kota yang bisa kita kunjungi. Ya, itulah kota Melaka yang terletak di negara sahabat, Malaysia. Melaka adalah sebuah kota pesisir pantai di sebelah selatan kota Kuala Lumpur.
Berkunjung ke Melaka dengan menggunakan bus melalui beberapa terminal yang ada di Kuala Lumpur, seperti Pudu Raya. Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Melaka ditempuh kira-kira 2 jam lamanya. Sesampainya di Melaka perjalanan dimulai dari Melaka Sentral dimana tempat perhentian untuk semua bus dari berbagai daerah di Malaysia. Dari sana, kami naik taksi menuju berbagai tempat di Melaka dengan biaya yang cukup murah. Melaka sendiri mempunyai berbagai jenis wisata yang ditawarkan. Mulai dari wisata sejarah, wisata bermain ataupun wisata kesehatan.

Anda belum dianggap berkunjung ke Melaka jika belum berada di tempat bernama Dutch Square atau biasa dikenal oleh masyarakat lokal dengan nama Bangunan Merah atau Jam Besar. Di Dutch Square, hampir semua bangunan tua di sekitarnya berwarna merah tua. Dan semua bangunan tua itu terawat dengan baik dan masih memperlihatkan pesonanya sampai sekarang. Sebuah taman dengan kincir angin buatan nampak berdiri elok di seberang sebuah tugu jam berukuran besar yang sekilas mirip Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebuah tugu dengan air mancur yang biasa disebut Queen Victoria Fountain berdiri indah sebagai pusat perhatian di Dutch Square. Tugu air mancur ini sendiri dibangun pada tahun 1901 oleh Inggris ketika berada di Malaysia dan masih berfungsi dengan baik sampai saat ini.







Di dekat Dutch Square ada sebuah tempat bernama Jonker Street. Cukup menyeberangi Sungai Melaka untuk menuju tempat ini dari Dutch Square tadi. Jonker Street adalah sebuah jalan dimana di sepanjang jalannya banyak toko yang menjual barang-barang antik, souvenir, makanan khas peranakan dan juga olahan makanan yang menjadi ciri khas Melaka yaitu segala olahan buah durian. Bangunan di sepanjang Jonker Street sendiri sebagian besar adalah bangunan tua yang masih dirawat dengan baik.
Daya Tarik Melaka, telah membuahkan Badan dunia UNESCO menetapkan sebagai Kota Warisan Budaya Dunia atau Melaka World Heritage sejak 2008 lalu. Di titik nol kota tersebut, tampak bangunan bersejarah The Stadthuys. Bangunan kokoh bercat nerah bata ini, dahulu adalah rumah kediaman gubernur Belanda saat memerintah di Malaysia. Bangunan kuno inilah yang menjadi ikon Melaka karena banyak wisatawan yang berfoto di sana.
MASIH ingat Hang Tuah? Laksamana gagah berani sebagai ikon pahlawan Melayu? Konon dengan keris Tamingsari yang diperoleh dari senopati Mataram beliau berhasil menjadi panglima di kerajaan Melaka.
Namun yang menarik, hingga kini masih menjadi misteri besar, dari manakah sebenarnya asal Hang Tuah dilahirkan. Nama Hang Tuah banyak digunakan sebagai nama Perguruan tinggi dan sejumlah sekolah di tanah air, bahkan digunakan nama kapal latih Indonesia. Karena semuanya berawal dari legenda, bahwa laksamana gagah perkasa tersebut dilahirkan di wilayah Goa, Sulawesi Selatan. Namun bukti yang lain, tokoh legendaris tersebut dilahirkan di wilayah Melaka, Malaysia.
Singapura
Diinterogasi dgn Lie Detector.
Sore dari Melaka kami lanjutkan perjalanan ke Singapore via Johor Baru. Saat melewati imigrasi Malaysia berjalan sangat mulus. Tanpa banyak tanya paspor saya pun distempel keluar Malaysia. Namun saat memasuki wilayah imigrasi Singapura di Woodlands sekitar jam 11 malam, masalah pun terjadi. Saat ingin di cap paspor dan petugas menanyakan kepada saya apakah saya punya tiket pulang dari Singapura, bukti buking hotelnya?. Saya pun menjawab tidak ada karena saya hanya bermaksud melintasi Singapura menuju Batam.
Petugas mengatakan bahwa kapal ferry yang ke Batam sudah tutup jam 22.00 Mau tidur di mana? di pelabuhan Ferry kataku. Semenit dua menit nungguin… tapi dari gelagatnya agak aneh dan super lama ngeliatin passport aku, dibolak balik, liatin aku… liatin layar komputernya, dan sempat intip2 dikit nih… emang banyak banget foto-foto yang sepertinya “tersangka/terduga” DPO sejenisnya gitu. Laaaaaaah aku yang merasa gak ada apa-apa merasa santai aja sih awalnya. Tipikalnya petugas imigrasi itu sepertinya arogan sih ya pada umumnya… walaupun ada juga yang ramah dan terkadang suka ngajakin ngobrol santai ( namun hati-hati ini terkadang bagian dari SOP mereka :p ). Lalu aku di minta masuk di konternya yang sempit. Ia kemudian menelpon temannya. Giliran istriku ke meja, sama juga. Tak lama kemudian temannya datang, kami berdua seperti 'digiring di bawa ke kantor mereka di lantai 3. dan di sana juga ada 2-3 orang yang duduk di ruang tunggu seperti seorang tersangka menunggu diinterogasi, ada yang karena passportnya hampir exp, ada yang karena namanya dsb. Kami ? gak tau karena apa....Ya Allah rasanya gak enak banget, gimana kalo saya ditahan, istriku bebas..bagaimana dia tau jalan pulang?

Satu persatu dari mereka udah dipanggil masuk, tapi aku masih dianggurin dan mulai diliat dengan muka nggak enak oleh petugas *nyebelin bikin galau. Lalu datang satu petugas tanpa seragam dengan logat melayu ngampirin aku dan secara giliran diajak ke ruang interogasi, ruang khusus kayak box wartel - , saya diperiksa dg menggunakan mesin Lie Detector, 4 jari kiri
dijepit alat spt scanner?, mic headset + layar monitor berisi pertanyaan2 yg harus
dijawab cukup dgn "Ya" atau "Tidak". Sementara petugas memonitor dari ruang lain dgn CCTV.
Naaaaaah disini nih perasaan makin nggak enak, walaupun sebenarnya dan seyakin-yakinnya nggak pernah berbuat aneh-aneh dan merasa passport nggak ada cacat sama sekali. Saya pasrah saja dan berusaha tenang. Saya & isteri backpacker bukan
imigran gelap atau kurir narkoba jadi kami ikuti saja prosedurnya yg memakan waktu sekitar 2 jam. Pertanyaan di monitor dlm bahasa Melayu antara lain : "Apakah anda pernah mencuri uang majikan anda?" "Apakah anda pernah ikut demonstrasi?" "Apakah anda pernah beropposisi (berkali-kali Pakcik dari jaman Petisi 50 sampe now!). Sekitar 50 pertanyaan yg diacak dan dijawab dgn menggunakan mic headset. Ada yang lucu, sempat saya iseng ketika menjawab pertanyaan : "Apakah anda pernah terlibat mengedarkan barang dadah?" Saya menjawab "Ngapain? Ya enggaklah saya orang baik2, rajin ke masjid" petugas imigrasinya datang mengingatkan dgn ketus "you cakap YA atau TIDAK sahaja!" Baiklah Encik...hahahahah
Bagi kami
ini pengalaman yg sensasional, mendebarkan, istriku pucat pasi, saya bisa merasakan guncangan dijiwanya. Pengalaman traumatis bagi isteri tapi tidak buatku. Kejadian ini menjadi
kenangan indah...
Lepas dari hadangan random check sampling gaya Singapura yg somse' bis yg kami tumpangi sudah meninggalkan kami. Hari sudah malam banget. Sekitar 40 menitan kami bengong di Woodland. Kereta sdh habis. tinggal nunggu bis terakhir.
Di bis Causeway Link tinggal kami berdua penumpangnya. Sampai di terminal Queen Street Bugis tengah malam.
Terminalnya sangat simpel, cuma lapangan segi empat tidak ada bangunan, warung2 K5. Cuma ada bangunan kecil sekitar 4x5 berisi bangku2 gandeng ruang tunggu (kami ingin istirahat di situ tapi dilarang sama Ngkoh2 tua ngheselin banget. Kami berjalan kaki 300 meter ke arah masjid Sultan. Sesampainya di sana, boro2 cuci muka, wudhu ..masjidnya ditutup, pagarnya digembok. Akhirnya kami putuskan naik taksi ke Harbour front untuk menyeberang ke Batam pagi hari.

 |
| Masjid digembok |
Batam
Di Batam kami istirahat dan menginap di rumah ponakan. Lega rasanya. Tinggal selangkah lagi kami sampai ke rumah yang sangat dirindukan. Pengin segera ketemu anak2 dan menceritakan petualangan kami...
Mendengar kisah perjalanan kami di Singapura yang haru lara pilu, ponakan kami jadi kesiyyaaan...hiihihih
Kami lalu ditraktir diajak kembali melancong ke Singapura di hari kedua. Yuhuu lagi2 rejeki anak sholeh....
Eh, balik ke Singapore lagi !
Dengan tiket ferri seharga Rp 500 K per orang, pagi2 kami merapat kembali di Singapore. Alhamdulillah...
 |
| Rafless Heritage |
Back to Bintaro
Home Sweet Home
Alhamdulillah ...pesawat Lion mendarat mulus di Bandara Soeta dari Hang Nadim Batam. Huft! bersyukur banget akhirnya bisa kembali ke rumah setelah mengembara 15 hari di :
5 Negara : Singapore, Vietnam Selatan, Thailand, Cambodia, Malaysia
10 Kota : Singapura, Saigon, Bangkok, Pnom Penh, Siem Reap, Hat Yai, Penang, Kuala lumpur, Batam, Melaka.
 |
| Bahagianya sampai di rumah... |
Banyak yang merasa takut atas hal yang sebenarnya tidak perlu
ditakuti. Traveling dapat membantumu mengatasi rasa
takut dengan cara keluar dari zona nyaman sehari-hari. Mulailah hidup yang baru
dan tinggalkan rasa takut sambil menikmati keindahan dunia.
Ketika
kamu melakukan traveling, kamu akan meninggalkan rumah, mobil, pekerjaan dan
hanya membawa barang-barang penting di dalam tas ransel kecil. Tanpa kamu sadari,
traveling adalah perjalanan " metafora" dari akhirat. Setelah kamu
meninggal, kamu akan meninggalkan segalanya, rumah, mobil, pekerjaan dan hanya
membawa amal kebaikan
000000000 __________________ 000000000
Panggil
saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang,
warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan
Tidak ada komentar