AVONTURIR BORNEO & CELEBES
Ada hari-hari dimana saya merasa sangat cemburu dan perasan mellow di hati melihat teman-teman yang posting foto-foto seru liburan atau traveler yang bisa traveling dalam jangka waktu lama sementara diriku sedang hectic di meja kerja mengerjakan pekerjaan kantor seperti tidak ada habisnya. Kapan ya saya bisa puas traveling dalam waktu lama kayak mereka?
Setelah melewati perumahan kompleks Patra Pertamina saya sampai di depan sebuah masjid yg cukup megah, namanya Masjid Agung Attaqwa. Saya turun di sini.
Karena sudah masuk waktu maghrib saya segera mandi. Kamar mandinya bersih terawat. Segar banget setelah jalan seharian.
Ba'da Isya mulai sepi, saya menemui Pak Dodi satpam masjid untuk ijin numpang tidur di masjid. Tas ransel saya umpetin di kolong tangga masjid kemudian saya ke teras masjid lt. 2 membuka AlQuran dan mengaji...
Baring di teras masjid sembari mengingat perjalananku hari ini dan rencana besok ke Bukit Bangkirai, masih area Taman Nasional Bukit Soeharto, kira2 bagaimana..tembus gak ya? Ya Allah tolong beri hambamu kesanggupan ...
Sekitar jam 22.00 saya keluar mencari makan. Adanya cuma penjual ketoprak (Rp. 10K)..ngeri2 sedap dgn asam urat yg kayanya mau kambuh. Ya sudahlah gak ada yg lain...
"jangan banyak kacangnya Bang.." :)

Di sinilah saya beristirahat, hotelnya Allah bagi musafir petualang
Seorang teman di komunitas backpacker Kaltim mengirim pesan ke saya :
Let see..
Setengah tujuh pagi saya sudah di angkot menuju terminal Batu Ampar (Rp. 4K). Sarapan pagi di seberang terminal dgn nasi kuning, telor, kopi, pisgor dan bekal 1 botol Aqua 600 ml (Rp. 16K)
Naik bus AC AKAP tujuan Samarinda. Turun di simpang tiga Semboja km 38 sekitar jam 9. Bingung. Naik apa ke dalam lokasi? tidak ada angkutan khusus, bahkan ojek saja tidak ada dan suasananya sepi banget. Saya bertanya warung rokok,Mas Imam, dia bilang memang gak ada angkutan khusus ke Bukit Bangkirai. Pelancong yg datang biasanya sewa mobil. Kadang2 ada yg mau ojekin dgn tarif sekitar 150 ribu (aww!) itu juga klo hari minggu. Sekarang hari rabu ! gak ada yg tur hari gini. Aww!
30 menit berlalu, mulai galau. Memotivasi diri, sebagai keturunan pelaut : meski gelombang menghadang pantang pulang sebelum tiba ditujuan. Tetiba ilham datang untuk melakukan hitchhiking.
Dalam "backpackology" hitchhiking artinya mencari tumpangan. Istilah ini juga sering disebut dengan thumbing dan autostop. Hitchhiking biasanya dilakukan menggunakan kode dan gestur tubuh tertentu. Di banyak negara, kode yang digunakan adalah merentangkan tangan ke samping sambil menggenggam telapak tangan namun membiarkan jempol teracung. Inilah kenapa istilah ini juga disebut dengan thumbing. Kadang ada pula yang menulis tujuan pada kertas untuk memudahkan calon pemberi tumpangan. Di beberapa negara bahkan ada rambu-rambu lalu lintas khusus untuk para hitchhiker. Di mana mereka boleh mencari tumpangan dan di mana mereka dilarang mencari tumpangan.
Hitchhiking membutuhkan mental baja. Kita harus menjadi orang yang bermuka tebal. Kalau dipikir lebih jauh lagi hitchhiking sebenarnya bisa meningkatkan interpersonal skill karna mau tak mau kita harus sering berinteraksi dengan orang lain. Ini akan meningkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Melakukan perjalanan dengan cara hitchhiking mau tak mau membuat kita harus lebih sering berinteraksi dengan lebih banyak orang, khususnya orang lokal. Hal ini akan membuat perjalanan menjadi lebih intim dan bermakna yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan batin.
"Bang Imam, apakah ada mobil atau truk yg melewati jalan ini?"
"Kalau pagi bus2 karyawan tambang ada pak. Siang begini sesekali ada sih truk tambang yg masuk ke kawasan tambang tapi belum tentu masuk ke kawasan hutan bangkirai"
"Ok, kabar baik tks Bang"
eh dasar anak soleh, tak sampai 5 menit sebuah truk engkel mengangkut batu bergerak ke arah tujuan. Saya sigap merentangkan tangan. Truk berhenti saya menyapa sopir dan kenek lalu mengutarakan niat saya utk numpang masuk ke kawasan hutan. Sopir yg bernama Agus mengatakan bahwa ia akan menurunkan batu muatannya dulu di pool baru melanjutkan perjalanan ke areal tambang. Namanya numpang tentu saya tidak keberatan. Ini juga bersyukur banget dapat tumpangan.
Perjalanan ke dalam sekitar 13 km dgn jalan bebatuan yg bikin sakit perut. Tiba di sebuah jalan bercabang yg terdapat gapura bertuliskan Selamat Datang di Kawasan Alam Bukit Bangkirai dgn logo Inhutani. Saya diturunkan mas Agus.
Jalan di sekitar gapura banyak tumbuhan tanaman kantong semar. Saya melangkah di jalan yg sepiiii dan sendiri. Rasanya pengin pipis tapi gak berani, ini di pinggir hutan, aura mistis begitu terasa..
Saya menahan dan terus berjalan. Kata Bang Agus jarak dari gerbang inhutani sampai gerbang hutan Bangkirai 1Km, omg! i'm walking alone...
Sekitar 100 m dari gerbang Inhutani ada pos satpam + palang kayu yg dijaga 1 orang petugas. masih berjarak 25 meteran Pak Satpam sdh berteriak menyapa saya, mgkin dia heran juga melihat saya berjalan seorang diri dgn tampilan agak lain dgn pekerja tambang: celana cingkrang, jaket ngatung, topi rimba adventure.
"Assalamualaikum mau kemana?"
"Mau ke Bukit Bangkirai Pak, mohon ijin lewat pak" jawabku setengah teriak
"Masih jauh mas sekitar 6 Km ke pos Naventes. Dari Pos Naventes tinggal jalan kaki 1 km ke Canopy Bridge" Awww.. aww..
Pak satpam yg berusia sekitar 55 tahun menjelaskan bhw kalo pagi banyak seliweran kendaraan angkutan pegawai tambang bisa numpang, kalo sdh jam segini sudah tidak ada. Kalau beruntung sesekali ada mobil operasional tambang yg lewat tp lama sejam dua jam.
"Baik pak saya nunggu eh Pak ijin pipis saya sdh nahan dari gapura pak". Sambil menunjukkan wc di belakang pos satpam yg reot. WCnya tidak kalah reot, cuma papan yg disusun ala kadarnya 1 M2, tidak berpintu, tidak ada kloset, hanya ada pancuran air yang airnya segar bangett.
Saat lagi pipis Pak Satpam teriak lagi : "Mas buruan ada mobil mau lewat". Buru2 saya menyelesaikan hajat, sambil tak hentinya mengucap syukur dan bertakbir. Pertolongan Allah datang! dari kejauhan terdengar deru mobil.
Tak lama muncullah mobil SUV 4WD Mitsubishi berisi officer tambang 3 orang. Pak Satpam membukakan palang kayu kemudian beliau menyampaikan : Pak, tolong nih mas ini kasian sendirian mau ke dalam". "Ouh mari silakan..."
Ya Allah, di kawasan hutan yang asing ini, di tempat yg tidak ada kendaraan umum, begitu cepat Engkau datangkan orang2 baik untuk menolongku..Allahu Akbar.
Di dalam mobil kami berkenalan (Pak Budi & Pak Wawan).
"Mas wartawan?"
"Bukan pak, saya hanya musafir.. "
"Peneliti? tugas survey.." mulai kepo
"Bukan Pak, saya backpacker..pejalan mandiri"
"Oo penulis yah ?"
"gak juga pak, kebetulan memang saya bisa sedikit menulis catatan perjalanan yang nanti saya share di komunitas"
"Aneh juga ya, hebat..dari Tangerang keliling Kalimantan sendirian, apa enaknya ya, kalo terjadi apa-apa bagaimana?" rada bingung dan sedikit rasa kagum.
"Asyik kok Pak. Justru dengan berjalan sendiri saya merasa tidak sendiri. Ada Allah bersama saya. Allah mengirimkan orang baik seperti bapak. Allah menjalankan bapak di waktu yg tepat, saat saya membutuhkan pertolongan. Setidaknya Allah tidak mengirimkan orang jahat yg akan mencelakai saya".
hmm dakwah on the street ini mah :).
Saya menceritakan pengalaman2 solo trip sebelumnya.
Tiba di pos Naventes di mana mestinya saya turun tapi pak Budi meneruskan perjalanan.
"Mas saya antar sampai ke gerbang Bukit Bangkirai ya"
"Wah ngerepotin pak, gak papa disini saja"
"ou gak pak kami senang antar mas, Hati2 ya Mas soalnya kalo hari kerja begini jarang ada wisatawan masuk ke hutan, kalo akhir pekan sih adalah biarpun sedikit"
"terimakasih banyak Pak, Hanya Allah yg dapat membalas kebaikan Bapak2 semua"

Villa Inhutani di tepi bukit Bangkirai

Bukit Bangkirai.
Di kawasan wisata seluas 1.500 hektar yang diresmikan pada tanggal 14 Maret 1998 ini kita bisa menikmati pemandangan dan sejuknya hutan hujan tropis yang masih alami dengan kicauan burung dan suara hewan penghuni hutan ini. Kawasan wisata ini juga dilengkapi dengan kebun buah seluas 4 hektar. Bukit Bangkirai mempunyai 45 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam yang menjadi maskot Kalimantan Timur. Selain itu pohon bangkirai merupakan tumbuhan yang mendominasi kawasan hutan ini dengan umur rata-rata lebih dari 150 tahun, tinggi 40-50 meter dan diameter 2,3 meter. Itulah sebabnya kawasan ini dinamakan Bukit Bangkirai. Terdapat pula beragam aneka satwa yang menghuni hutan ini diantaranya : 113 jenis burung, monyet ekor panjang, babi hutan, owa-owa, beruk, lutung merah, bajing terbang dan rusa sambar.
Selain keindahan dan kesejukan hutan dengan aneka ragam flora dan fauna yang ada, di kawasan wisata ini kita bisa mencoba tantangan dengan meniti jembatan tajuk gantung (Canopy Bridge) yang menjadi daya tarik tersendiri di Bukit Bangkirai. Jembatan tajuk ini terbentang sepanjang 64 meter diatas ketinggian 30 meter dari permukaan tanah yang menghubungkan 5 pohon bangkirai dengan masing-masing pohon berjarak sekitar 10-15 meter.


Sendiri di puncak Canopy Bridge ketinggian sekitar 30 meter di dalam hutan konservasi Bukit Bangkirai Kalimantan Timur. Selasa yang sepi, tidak ada orang /pengunjung lain. Hening....yg terdengar hanya suara gemerisik daun, burung2 yg ramai bercengkrama dan serangga yang bernyanyi.
Untuk memotret diri sendiri saja sulit...lalu kalau terjadi sesuatu saat saya melintasi jembatan gantung selebar 50 cm ini, siapakah yang akan menolong saya? Saat menyusuri jalan setapak yg lembab dan seperti gang, di kiri kanan pepohonan besar2 sy merasa seperti ada yang mengikuti. Kadang saya berhenti tiba2 lalu menoleh ke kiri/kanan...kosong, hanya hembusan angin menggesek dedaunan.
Dalam kesendirian fisik, saya tahu dan saya merasakan aura mistis kehadiran makhluk2 yg tidak bermateri di sekitar saya di dalam hutan ini..tapi saya yakin, selalu yakin Allah setiap saat menjaga dan telah menetapkan takdir-Nya untuk setiap mahluk ciptaan-Nya.
Di dalam hutan ini, 30 km dari jalan raya poros Balikpapan-Samarinda, bergemuruh di dalam hati lantunan dzikir dari mahluk yg kurus, jelek, yg masih lemah iman, yang punya banyak dosa, yang dinilai orang maybe "gak nyunnah" yg pakaiannya sleboran gak Islami..Ampunilah aku ya Allah!
O, Karaeng Allah Ta'ala kamma minne sarengku...Ya Allah Yang Maha Daya kupasrahkan nasibku pada-Mu.
Jam 08 pagi KM Doloronda berlabuh di Port Pontoloan Sulteng.
Dari pelabuhan langsung diantar motor oleh Azwar pake ngebut ke pool Lorena Travel. Sampai di pool, minivan bersiap berangkat karena sudah terisi penuh, kurang 1 orang lagi yg dinanti yaitu saya...!
Wow minivannya keren, 12 seat (incl. driver) masih baru, joknya empuk dan lapang, kaki bisa selonjor. Cukup nyaman untuk menempuh perjalanan sekitar 12 jam ke Toli-toli








Dpn KM Umsini sebelum berlayar dr Toli2 ke Palu siang ini... I believe I can...swim
Tiba di Palu
Menuju Kawasan Konflik : Poso
"Tentu saja, akan sangat bagus dan
merekomendasikan untuk mengunjungi kami. Saya tinggal di Tentena, tepatnya di
tepi Danau Poso. Dari Palu (Pelabuhan Pantoloan) ke Poso , Dari Poso bisa
langsung ke Tentena sekitar 60 km, ditempuh dengan 1,5 jam perjalanan. Di
Tentena, di sekitar Danau Poso Sofyan bisa keliling Danau Poso, bisa kunjungi
Desa Wisata (Desa Dulumai) yang sedang diorganisir oleh Mosintuwu, juga ke Air
terjun Saluopa 20 tingkat (atau lebih), bisa ke pantai Danau Poso, mengunjungi gua-gua,
termasuk ikut pesta panen (jika waktunya bertepatan dan beruntung). Termasuk
tentu saja bisa kunjungi Sekolah Perempuan, kebun organik, rumah bambu kami dan
sebagainya. Bertepatan dengan apa yang Sofyan katakan sebelumnya, pekerjaan
kami sekarang mau mengubah persepsi orang tentang Poso, bukan lagi wilayah
konflik tetapi Poso itu tanah harapan." (Lian Gogali, Tokoh LSM).
To be continued ...
petualangan berikutnya
CELEBES OVERLAND
Kesimpulan dari hasil observasi yang saya lakukan adalah jika saya memutuskan resign dari kantor, pekerjaan apa yang akan saya lakukan selama traveling dalam waktu lama. Lalu saya galau, hati saya mengkeret mengingat tidak punya sepupu / Om pejabat, tidak punya koneksi ke vendor2 agency atau brand, tidak ada saham dan deposito yang saya miliki, tabungan juga jumlahnya bikin mengelus dada, dada sendiri..., Yaah cuma punya skill seupil di bidang marketong dan jurnalistik. ditambah lagi tidak punya warisan...awww!
Saya harus menerima nasib tetap jadi karyawan kantoran yang dikejar deadline, musti ketemu bos, client yang kadang nyebelin, musti bangun pagi sambil menggerutu dan pulang kecapekan saat malam. Begitu terus setiap hari selama 20 tahun, rutinitas yang harus saya jalani demi bisa terima gaji rutin ditanggal 28 setiap bulan.
Sebulan lalu saya memutuskan untuk resign dari kantor tempat saya bekerja (sebuah perusahaan retail Nasional) sebagai Branch Manager . Sungguh ini keputusan yang tidak mudah bagi saya, terlalu banyak what if di kepala yang membuat saya maju-mundur mengambil keputusan tersebut.


Keluar dari zona nyaman memang sulit dan berat oleh karena itu jangan resign karena ikut-ikutan orang lain yang menceritakan betapa enaknya traveling setelah resign, setiap orang memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda-beda. Hanya kamu sendiri yang paling tahu tentang dirimu, kekuatan, kelemahan, ketakutan-ketakutan dan kegalauanmu, berilah cukup waktu ke dirimu sendiri untuk berpikir, menimbang, menghitung dan mempersiapkan sebelum mengambil keputusan untuk resign karena setelah resign kamu tidak bisa mundur atau memutar waktu untuk kembali.
Sekarang saya siap melakukan avonturir - petualangan panjang seorang diri selama 21 hari menyusuri Kalimantan dari arah selatan ke arah timur. Kemudian kembali ke selatan untuk melintasi samudera menuju Pantoloan, Sulteng lalu merambat ke arah Manado dgn minivan lalu balik ke Palu dgn Kapal Motor Umsini. Selanjutnya menyusuri via darat ke kawasan konflik Poso (basis Muslim) terus ke Tentena (basis Nasrani) lanjut ke Palopo, Toraja, Maros dan berakhir di Makassar lalu pulang ke Bintaro Tangsel.
September 2013, jam 08.45 dengan memanggul ransel saya melakukan boarding pass di konter Citilink Flight QG-860, seat 5 via enter gate C2 T1. Cuaca cerah. Berat backpack 8 Kg, lebih 1 Kg dari standar namun petugas bilang gak apapa. Kaki terasa nyut nyut, indikasi asam urat mau beraksi.
Jam 14.20 burung besi Citilink landing dgn manis di Bandara Sepinggan Balikpapan.
Ruang Tunggu Bandara Soeta
Jarak bandara dgn jalan raya utama tidak begitu jauh. Saya putuskan untuk berjalan kaki ke jalan raya lalu naik angkot no. 7 menuju Terminal Damai. Setelah sholat musafir di musolla terminal lanjut naik angkot no. 6 menuju Pasar Inpres Kebun Sayur. Kenapa ke sana saya juga tak tahu hehehe hanya feeling saja, keliling kota sambil mencari hostel.
Berkunjung ke Pasar Inpres Kebun Sayur barangkali semacam surga bagi penyuka souvenir. Di tempat ini banyak
pedagang berbagai pernak-pernik, oleh-oleh, kain tenun, sampai perhiasan
khas Kota Balikpapan dan Kalimantan Timur dari manik-manik sampai batu permata yang beraneka warna siap menggoda. Dari yang berbentuk cincin, kalung, gelang, bross , dompet, tas dan batik khas tersedia dengan harga yg terbilang murah.
Puas muter2 di pasar akhirnya kepincut juga membeli suvenir sarung samarinda dan batu permata.
Sekitar jam 17..lama juga ya menahan lapar, aku mampir di warung, makan soto + teh hangat (Rp. 14K). Alhamdulillah.
Tak jauh dari pasar ada Hotel Andika dgn tarif Rp 75.000/malam. Tidur di sini? gak ah. Agar rasa ngebolangnya 'dapet' saya memutuskan tidur di masjid. Dari Pasar Kebun Sayur naik angkot No. 6. Setiap naik angkot saya selalu mengambil posisi duduk di samping sopir. Tujuannya agar mudah leluasa melihat wajah kota dan yang terpenting adalah bisa ngobrol, tanya2 pak sopir.
| sebuah rumah di kompleks Patra Pertamina tampak dari angkot |
Karena sudah masuk waktu maghrib saya segera mandi. Kamar mandinya bersih terawat. Segar banget setelah jalan seharian.
Ba'da Isya mulai sepi, saya menemui Pak Dodi satpam masjid untuk ijin numpang tidur di masjid. Tas ransel saya umpetin di kolong tangga masjid kemudian saya ke teras masjid lt. 2 membuka AlQuran dan mengaji...
Baring di teras masjid sembari mengingat perjalananku hari ini dan rencana besok ke Bukit Bangkirai, masih area Taman Nasional Bukit Soeharto, kira2 bagaimana..tembus gak ya? Ya Allah tolong beri hambamu kesanggupan ...
Sekitar jam 22.00 saya keluar mencari makan. Adanya cuma penjual ketoprak (Rp. 10K)..ngeri2 sedap dgn asam urat yg kayanya mau kambuh. Ya sudahlah gak ada yg lain...
"jangan banyak kacangnya Bang.." :)
Di sinilah saya beristirahat, hotelnya Allah bagi musafir petualang
![]() |
| dari masjid Attaqwa siap melanjutkan perjalanan |
"enaknya kalo mau ke hutan Bangkirai dari Balikpapan, naik bus Samarinda turun di Samboja ( bilang aja arah bukit bangkirai ), masuknya jauh
sangat...usul aku sih kalo mau kesini mending sewa mobil and rame2 biar ga
terlalu mahal ( pengalamanku ) , kalo ngojekpun ampun2an jauhnya, bukannya
menjelekan tempat wisata negeri kita yah,,terus terang akses kesini supers susah
and pengunjungnya dikit banget. Perlu kerja keras dinas pariwisata kaltim yg
lebih gerrrrrr biar tempat wisata ini jadi salah satu destinasi andalan wisata
kaltim.
Sekedar tips #
Kalo kesini bawa air mineral yg cukup soalnya didalam hutan ga ada orang jualan ( yang ada katanya malah beruang madu kalo kebetulan ketemu hehhehehheheh,,mudah2an sih jgn nerkam )"
Sekedar tips #
Kalo kesini bawa air mineral yg cukup soalnya didalam hutan ga ada orang jualan ( yang ada katanya malah beruang madu kalo kebetulan ketemu hehhehehheheh,,mudah2an sih jgn nerkam )"
Let see..
Setengah tujuh pagi saya sudah di angkot menuju terminal Batu Ampar (Rp. 4K). Sarapan pagi di seberang terminal dgn nasi kuning, telor, kopi, pisgor dan bekal 1 botol Aqua 600 ml (Rp. 16K)
Naik bus AC AKAP tujuan Samarinda. Turun di simpang tiga Semboja km 38 sekitar jam 9. Bingung. Naik apa ke dalam lokasi? tidak ada angkutan khusus, bahkan ojek saja tidak ada dan suasananya sepi banget. Saya bertanya warung rokok,Mas Imam, dia bilang memang gak ada angkutan khusus ke Bukit Bangkirai. Pelancong yg datang biasanya sewa mobil. Kadang2 ada yg mau ojekin dgn tarif sekitar 150 ribu (aww!) itu juga klo hari minggu. Sekarang hari rabu ! gak ada yg tur hari gini. Aww!
30 menit berlalu, mulai galau. Memotivasi diri, sebagai keturunan pelaut : meski gelombang menghadang pantang pulang sebelum tiba ditujuan. Tetiba ilham datang untuk melakukan hitchhiking.
Dalam "backpackology" hitchhiking artinya mencari tumpangan. Istilah ini juga sering disebut dengan thumbing dan autostop. Hitchhiking biasanya dilakukan menggunakan kode dan gestur tubuh tertentu. Di banyak negara, kode yang digunakan adalah merentangkan tangan ke samping sambil menggenggam telapak tangan namun membiarkan jempol teracung. Inilah kenapa istilah ini juga disebut dengan thumbing. Kadang ada pula yang menulis tujuan pada kertas untuk memudahkan calon pemberi tumpangan. Di beberapa negara bahkan ada rambu-rambu lalu lintas khusus untuk para hitchhiker. Di mana mereka boleh mencari tumpangan dan di mana mereka dilarang mencari tumpangan.
Hitchhiking membutuhkan mental baja. Kita harus menjadi orang yang bermuka tebal. Kalau dipikir lebih jauh lagi hitchhiking sebenarnya bisa meningkatkan interpersonal skill karna mau tak mau kita harus sering berinteraksi dengan orang lain. Ini akan meningkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Melakukan perjalanan dengan cara hitchhiking mau tak mau membuat kita harus lebih sering berinteraksi dengan lebih banyak orang, khususnya orang lokal. Hal ini akan membuat perjalanan menjadi lebih intim dan bermakna yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan batin.
"Bang Imam, apakah ada mobil atau truk yg melewati jalan ini?"
"Kalau pagi bus2 karyawan tambang ada pak. Siang begini sesekali ada sih truk tambang yg masuk ke kawasan tambang tapi belum tentu masuk ke kawasan hutan bangkirai"
"Ok, kabar baik tks Bang"
eh dasar anak soleh, tak sampai 5 menit sebuah truk engkel mengangkut batu bergerak ke arah tujuan. Saya sigap merentangkan tangan. Truk berhenti saya menyapa sopir dan kenek lalu mengutarakan niat saya utk numpang masuk ke kawasan hutan. Sopir yg bernama Agus mengatakan bahwa ia akan menurunkan batu muatannya dulu di pool baru melanjutkan perjalanan ke areal tambang. Namanya numpang tentu saya tidak keberatan. Ini juga bersyukur banget dapat tumpangan.
Perjalanan ke dalam sekitar 13 km dgn jalan bebatuan yg bikin sakit perut. Tiba di sebuah jalan bercabang yg terdapat gapura bertuliskan Selamat Datang di Kawasan Alam Bukit Bangkirai dgn logo Inhutani. Saya diturunkan mas Agus.
Jalan di sekitar gapura banyak tumbuhan tanaman kantong semar. Saya melangkah di jalan yg sepiiii dan sendiri. Rasanya pengin pipis tapi gak berani, ini di pinggir hutan, aura mistis begitu terasa..
Saya menahan dan terus berjalan. Kata Bang Agus jarak dari gerbang inhutani sampai gerbang hutan Bangkirai 1Km, omg! i'm walking alone...
| Gerbang Inhutani |
"Assalamualaikum mau kemana?"
"Mau ke Bukit Bangkirai Pak, mohon ijin lewat pak" jawabku setengah teriak
"Masih jauh mas sekitar 6 Km ke pos Naventes. Dari Pos Naventes tinggal jalan kaki 1 km ke Canopy Bridge" Awww.. aww..
Pak satpam yg berusia sekitar 55 tahun menjelaskan bhw kalo pagi banyak seliweran kendaraan angkutan pegawai tambang bisa numpang, kalo sdh jam segini sudah tidak ada. Kalau beruntung sesekali ada mobil operasional tambang yg lewat tp lama sejam dua jam.
"Baik pak saya nunggu eh Pak ijin pipis saya sdh nahan dari gapura pak". Sambil menunjukkan wc di belakang pos satpam yg reot. WCnya tidak kalah reot, cuma papan yg disusun ala kadarnya 1 M2, tidak berpintu, tidak ada kloset, hanya ada pancuran air yang airnya segar bangett.
Saat lagi pipis Pak Satpam teriak lagi : "Mas buruan ada mobil mau lewat". Buru2 saya menyelesaikan hajat, sambil tak hentinya mengucap syukur dan bertakbir. Pertolongan Allah datang! dari kejauhan terdengar deru mobil.
Tak lama muncullah mobil SUV 4WD Mitsubishi berisi officer tambang 3 orang. Pak Satpam membukakan palang kayu kemudian beliau menyampaikan : Pak, tolong nih mas ini kasian sendirian mau ke dalam". "Ouh mari silakan..."
Ya Allah, di kawasan hutan yang asing ini, di tempat yg tidak ada kendaraan umum, begitu cepat Engkau datangkan orang2 baik untuk menolongku..Allahu Akbar.
Di dalam mobil kami berkenalan (Pak Budi & Pak Wawan).
"Mas wartawan?"
"Bukan pak, saya hanya musafir.. "
"Peneliti? tugas survey.." mulai kepo
"Bukan Pak, saya backpacker..pejalan mandiri"
"Oo penulis yah ?"
"gak juga pak, kebetulan memang saya bisa sedikit menulis catatan perjalanan yang nanti saya share di komunitas"
"Aneh juga ya, hebat..dari Tangerang keliling Kalimantan sendirian, apa enaknya ya, kalo terjadi apa-apa bagaimana?" rada bingung dan sedikit rasa kagum.
"Asyik kok Pak. Justru dengan berjalan sendiri saya merasa tidak sendiri. Ada Allah bersama saya. Allah mengirimkan orang baik seperti bapak. Allah menjalankan bapak di waktu yg tepat, saat saya membutuhkan pertolongan. Setidaknya Allah tidak mengirimkan orang jahat yg akan mencelakai saya".
hmm dakwah on the street ini mah :).
Saya menceritakan pengalaman2 solo trip sebelumnya.
Tiba di pos Naventes di mana mestinya saya turun tapi pak Budi meneruskan perjalanan.
"Mas saya antar sampai ke gerbang Bukit Bangkirai ya"
"Wah ngerepotin pak, gak papa disini saja"
"ou gak pak kami senang antar mas, Hati2 ya Mas soalnya kalo hari kerja begini jarang ada wisatawan masuk ke hutan, kalo akhir pekan sih adalah biarpun sedikit"
"terimakasih banyak Pak, Hanya Allah yg dapat membalas kebaikan Bapak2 semua"
Villa Inhutani di tepi bukit Bangkirai
Bukit Bangkirai.
Bagi yang suka berwisata dengan tantangan
sambil menikmati keindahan alam, boleh ke Bukit Bangkirai, yang merupakan wisata hutan hujan tropis yang masih alami. Berada di poros Jalan Raya
Soekarno-Hatta Km. 38, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara,
Balikpapan, Kalimantan Timur. Lokasi ini dikelola oleh PT. Inhutani I Unit Manajemen
Hutan Tanaman Industri (UMHTI). Kawasan ini berjarak 20 km dari ibukota
Kecamatan Samboja, 58 km dari kota Balikpapan dan 150 km dari kota Tenggarong
atau Samarinda.
Di kawasan wisata seluas 1.500 hektar yang diresmikan pada tanggal 14 Maret 1998 ini kita bisa menikmati pemandangan dan sejuknya hutan hujan tropis yang masih alami dengan kicauan burung dan suara hewan penghuni hutan ini. Kawasan wisata ini juga dilengkapi dengan kebun buah seluas 4 hektar. Bukit Bangkirai mempunyai 45 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam yang menjadi maskot Kalimantan Timur. Selain itu pohon bangkirai merupakan tumbuhan yang mendominasi kawasan hutan ini dengan umur rata-rata lebih dari 150 tahun, tinggi 40-50 meter dan diameter 2,3 meter. Itulah sebabnya kawasan ini dinamakan Bukit Bangkirai. Terdapat pula beragam aneka satwa yang menghuni hutan ini diantaranya : 113 jenis burung, monyet ekor panjang, babi hutan, owa-owa, beruk, lutung merah, bajing terbang dan rusa sambar.
| Jalan setapak melewati hutan tropis yg lembab menuju Canopy Bridge |
| Portal masuk lintasan trek 2 ke bridge |
| melompati batang pohon tumbang |
Selain keindahan dan kesejukan hutan dengan aneka ragam flora dan fauna yang ada, di kawasan wisata ini kita bisa mencoba tantangan dengan meniti jembatan tajuk gantung (Canopy Bridge) yang menjadi daya tarik tersendiri di Bukit Bangkirai. Jembatan tajuk ini terbentang sepanjang 64 meter diatas ketinggian 30 meter dari permukaan tanah yang menghubungkan 5 pohon bangkirai dengan masing-masing pohon berjarak sekitar 10-15 meter.
| Canopy Bridge di puncak pohon Bangkirai |
Konstruksi jembatan ini dibuat di Amerika
Serikat dan dibangun pada tahun 1998 dengan standar keamanan yang cukup bagi
pengunjung. Terbuat dari kabel, dengan dasarnya papan dan berdinding jala tali
nilon yang dirancang khusus dengan bahan kayu dan besi antikarat sehingga
jembatan ini akan kuat 15-20 tahun. Canopy bridge di Bukit Bangkirai ini
merupakan yang pertama di Indonesia, kedua di Asia dan kedelapan di dunia.
![]() |
| Simpang. Lupa jalan kembali, belok kiri apa kanan? Ikuti kata hati saja. Sendiri !. |
Sebelum meniti jembatan, saya harus menaiki anak
tangga menuju menara yang terbuat dari kayu ulin. Saat pertama menjejakkan kaki
di jembatan tajuk, jembatan akan bergoyang. Semakin melangkah ke tengah maka
jembatan akan semakin bergoyang. Jembatan tajuk ini tidak boleh dilewati oleh
banyak pengunjung sekaligus demi keselamatan. Menikmati pemandangan hutan yang
indah dan sejuk di atas jembatan setinggi 30 meter di atas permukaan tanah yang
bergoyang dan hanya terbuat dari papan yang disusun dengan tambang, it's like a
wow!
| on the top Canopy Tower |
Sendiri di puncak Canopy Bridge ketinggian sekitar 30 meter di dalam hutan konservasi Bukit Bangkirai Kalimantan Timur. Selasa yang sepi, tidak ada orang /pengunjung lain. Hening....yg terdengar hanya suara gemerisik daun, burung2 yg ramai bercengkrama dan serangga yang bernyanyi.
Untuk memotret diri sendiri saja sulit...lalu kalau terjadi sesuatu saat saya melintasi jembatan gantung selebar 50 cm ini, siapakah yang akan menolong saya? Saat menyusuri jalan setapak yg lembab dan seperti gang, di kiri kanan pepohonan besar2 sy merasa seperti ada yang mengikuti. Kadang saya berhenti tiba2 lalu menoleh ke kiri/kanan...kosong, hanya hembusan angin menggesek dedaunan.
Dalam kesendirian fisik, saya tahu dan saya merasakan aura mistis kehadiran makhluk2 yg tidak bermateri di sekitar saya di dalam hutan ini..tapi saya yakin, selalu yakin Allah setiap saat menjaga dan telah menetapkan takdir-Nya untuk setiap mahluk ciptaan-Nya.
Di dalam hutan ini, 30 km dari jalan raya poros Balikpapan-Samarinda, bergemuruh di dalam hati lantunan dzikir dari mahluk yg kurus, jelek, yg masih lemah iman, yang punya banyak dosa, yang dinilai orang maybe "gak nyunnah" yg pakaiannya sleboran gak Islami..Ampunilah aku ya Allah!
O, Karaeng Allah Ta'ala kamma minne sarengku...Ya Allah Yang Maha Daya kupasrahkan nasibku pada-Mu.
| jangan lihat ke bawah! |
| serasa Indiana Jones ? |
Keluar dari kawasan hutan Bangkirai saya berjalan kaki sekitar 1 km ke pos Naventes. Hufft ! Ngap juga krn medannya turun naik meski udara hutan masih terasa menyegarkan. Lagi berjalan seorang pengendara motor mendekati dan menawarkan tumpangan ke pos Naventes. Subhanalloh, begitu banyak orang baik dikirimkan Allah kepadaku..!
Di pos satpam Naventes saya ngaso sambil melihat haul truk pengangkut batu bara berseliweran. Baru sekali ini liat ban mobil yg ukurannya setinggi saya..reflek saya raih kamera dan memotretnya.
.
Tetiba saya didatangi satpam berbadan kekar menegur. .
"Mas wartawan?"
"Bukan, saya backpacker"
"Di sini dilarang mengambil foto, hapus ya"
"Baik pak.."
"Mau kemana? saya mau keluar ke Semboja Pak, nunggu truk yg keluar"
"Nanti ada truk air, Mas bisa ikut"
"Alhamdulillah, terimakasih Pak"
Tetap tenang menghadapi situasi sulit. Jalan keluar pasti ada.
Samarinda.
Hampir waktu Asar saya tiba kembali di simpang Samboja. saya mampir di warung Pak Imam mengucapkan terimakasih. Saya memberikan suvenir CD Rasil berisi ceramah Ust. Husein Al Atthos kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Samarinda..
Dari atas bus AKAP di atas jembatan Barito yang melintasi sungai Mahakam pemandangan pertama yg kusaksikan memasuki kota Samarinda adalah Islamic Center.
Matahari mulai merendah, setelah menunaikan sholat di terminal Sungai Kunjang saya naik angkot arah ke pasar Segiri sambil cari hostel.
Jelang maghrib saya menyusuri jalan Pahlawan menikmati suasana kota sambil mencari hostel. Tentu tak lupa nanya informasi sana sini ke tukang parkir atau penjual K-5. Kalau malu ya tersesat...heheh.
Akhirnya saya menemukan penginapan kost-kosan di dekat Robinson Dept Store dan Mall Lembuswana di jalan Muh. Yamin dgn tarif Rp 50.000/malam.
Setelah mandi dan sholat di masjid dekat penginapan saya bergegas keluar untuk kulineran khas Banjar.
Soto Banjar Kuin Bapukah.
Soto Banjar ini udah terkenal banget di Banjarmasin. TKPnya di Jl. Pahlawan, Kampung Melayu. Buka Pagi sampai sore.
Seperti halnya soto ayam, bumbu soto Banjar berupa bawang merah, bawang putih dan merica, tetapi tidak memakai kunyit. Bumbu ditumis lebih dulu dengan sedikit minyak goreng atau minyak samin hingga harum sebelum dimasukkan ke dalam kuah rebusan ayam. Rempah-rempah nantinya diangkat agar tidak ikut masuk ke dalam mangkuk sewaktu dihidangkan.
Penjual soto Banjar biasanya menyajikan sate ayam sebagai menu pendamping. Uniknya, jika kita ingin mengganti ketupat dengan nasi, maka kita harus memesan dengan nama Nasi Sop, bukan Nasi Soto.
Pulang ke penginapan, besok mau sholat subuh di masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Istiqlal. eksplor kampung tenun di Samarinda Seberang dan kampung Dayak di Pampang. Sekarang aatnya tidur mengembalikan tenaga dan semangat...
Suara raungan motor yang ramai membangunkan, kupikir aku kesiangan. Saya langsung bangun, mandi lalu sholat subuh. Aku keluar penginapan dan berjalan sekitar 300 m ke simpang Mall Lembuswana. Kok masih gelap dan sepi?
Ternyata suara raungan motor itu berasal dari anak2 ABG yg sedang trek-trekan, ough baru jam 4, waktu subuh saja belum masuk! Cukup lama menunggu sampai 45 menitan baru dapat angkot yg ke arah Masjid Islamic Center di tepi sungai Mahakam. Sampai di masjid sholat subuh sdh selesai.
Kampung Tenun.
Kampung Tenun Samarinda merupakan sentra pengerajin sarung Samarinda, berlokasi di Samarinda sebrang, tepat nya di Gang Pertenunan dengan deretan rumah panggung yang dibangun di area bekas rawa dan pinggir Sungai Mahakam. Kampung tenun adalah representasi keragaman budaya yang keadaannya tidak terlepas dari sejarah panjang terbentuknya kota Samarinda.
Pada tahun 1668, orang-orang Bugis wajo berhijrah dari Kesultanan Goa ke Kesultanan Kutai, karena tidak mau patuh dan tunduk atas Pemerintahan Hindia Belanda. Mereka dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkoda, rombongan ini diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Kutai dan diberi tempat dataran rendah di sebrang Sungai Mahakam, nama Samarinda sendiri berasal dari kata "Sama rendah" yang bermakna penduduk pendatang, dan suku asli, suku kutai, dan banjar berderajat sama saling menghormati dan menghargai. Datang dan menetapnya suku bugis memberi warna baru dalam tatanan budaya masyarakat lokal termasuk tradisi menenun. Lahir dari tangan penenun bugis, sarung tenun Samainda berkembang menjadi produk berkualitas tinggi dengan perpaduan motif bugis, dayak, dan kutai.
dari kampung tenun naik angkot ke pasar Segiri (Rp 4K) lanjut angkot ke Pampang (Rp. 12K). Turun di sebuah simpang ada plang desa budaya kemudian naik ojek ke dalam lokasi kampung konservasi orang Dayak (Rp 20K).
Kampung Dayak, melihat & bersalaman dg para sepuh Dayak dg penampilan original, telinga panjang, tatoo indah sekujur tubuh, totem, aroma mistis sangat terasa... Asyiknya pencinta keberagaman indonesia! Salam pejalan mandiri..
| foto dgn Orang Dayak (Rp 50K) |
Selesai eksplore lgsung balik ke penginapan, sholat, makan siang depan penginapan kemudian bergegas ke terminal Sungai Kujang. Naik bus AKAP (Rp 25K) kembali Balikpapan. Membeli oleh2 berupa sarung Samarinda di Pasar Kebun Sayur. Hari semakin sore saya naik angkot ke Pelabuhan. Makan malam di pelabuhan sebelum naik ke kapal KM Doloronda menyeberangi samudera menuju pelabuhan Pontoloan Sulawesi Tengah melanjutkan petualangan...
@ km.
doloronda from borneo to celebes/toli2: menulis catatan perjalanan, manual -
tanpa gadget, di tengah suasana dek ekonomi kerakyatan yang hiruk pikuk
...beruntung tidak ada poster caleg disini sebagaimana di hampir seluruh
warung/pasar/angkot yg kulalui. poster caleg lebih gampang membuatku mabuk laut
dan muntah ketimbang ombak besar bombang tallua!
Naik ke kapal jam 20.45. Pada jam 23.00 kapal angkat jangkar memulai pelayaran ke Pontoloan dan diperkirakan tiba pukul 09.00 pagi .
| pemeriksaan tiket |
| membuat catatan perjalanan di dek kapal |
Jam 04.00 bangun tidur sholat subuh di buritan. alhamdulillah lumayan badan segar. Mandi air panas
Tiba di Port Pantoloan, Sulawesi Tengah
Dari pelabuhan langsung diantar motor oleh Azwar pake ngebut ke pool Lorena Travel. Sampai di pool, minivan bersiap berangkat karena sudah terisi penuh, kurang 1 orang lagi yg dinanti yaitu saya...!
| view dari minivan |
| Jam 13.00 mampir ishoma siang |
| Jam 19.00 mampir ishoma malam |
Sepekan di Toli-Toli

![]() |
| Jeram towelei |
| Pantai Lalos |
![]() |
| Duren Ps. Susunbolan |
Kapurung
Binte Biluhuta
| Pisang goreng + minuman khas Sarabba |
| Ditraktir makan siang oleh Bpk. Ismail, Ka. Perpustakaan Daerah Toli-toli |
![]() |
| Masjid Al Mubarak |

| Empang |
Toli-Toli ke Pantoloan
Suasana di geladak KM Umsini

Dpn KM Umsini sebelum berlayar dr Toli2 ke Palu siang ini... I believe I can...swim
Tiba di Palu
![]() |
| memandang ke arah Teluk Donggala |
| Masjid Al Khairat, penyebar Islam di Sulteng |
To be continued ...
petualangan berikutnya
CELEBES OVERLAND
AVONTURIR BORNEO & CELEBES
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 16, 2019
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 16, 2019
Rating:








































Tidak ada komentar