ANDALAS UNDERCOVER Ep. 2
Sejatinya untuk mengenal diri sendiri, lebih baik mencoba melakukan perjalanan sendiri atau yang lebih sering di sebut dengan solo backpacker. Jika masih bingung menentukan tujuan, cobalah solo backpacker ke Danau Toba. Kenapa harus Danau Toba? Karena di Danau Toba kamu dengan mudah menemukan destinasi-destinasi yang apik, orang-orang baru yang bisa mengubah cara pandangmu atau mungkin juga kebudayaan dan sejarah yang ada bisa membuatmu lebih memaknai hidup.
Menjadi backpacker bukan sebatas terkendala masalah biaya. Namun, pengalaman yang terbayar dari perjalanan backpacker tidak dapat tergantikan dengan materi.
Sekitar jam 11 malam mobil Grandmax baru meluncur dari Km 5 Jl Raya Bukit Tinggi menuju jalur Lintas Sumatera.
Kapal ferri merapat di dermaga Tuktuk di desa Ambarita. Saya berpisah dgn teman2 backpacker mancanegara yang akan turun di dermaga Tomok.
Mad Thoysen Cs ke hotel yg mereka telah booking jauh hari. Saya mencari guest house. Kali ini saya gak cari mesjid heheh krn ini wilayah mayoritas Nasrani.
Saya melewati deretan guest house. Alhamdulillah pilihanku ke Mafira Guest House - Cafe & Minimarket yang dimiliki seorang Batak Muslim. Tempatnya luas, nyaman dan terletak di tepi danau. Lantai dasar terdiri dari cafe, rumah tinggal owner GH (kebetulan lagi ke Medan) dan toko suvenir mulai dari pakaian, tas, ikat kepala, gantungan kunci dan kerajinan kayu, hingga tenun ulos—kain khas Batak . Mafir GH hanya ditunggui ibu dan puteranya yang autis berusia sekitar 19 tahun .
Kamarku terletak di lantai 2 kamar paling pojok ukuran 5x3 M dilengkapi dgn kamar mandi, cukup lega untuk saya yg alone. 14 kamar lainnya kosong. View kamar menghadap ke danau dan perbukitan...keren abis!. Tarif kamar cuma Rp 80.000/2 malam, ini murah karena masih low season.
Sekalian saya sewa motor Rp 100.000/hari untuk keliling melihat obyek wisata di pulau Samosir.
Tingkat hunian penginapan sekitar desa Ambarita belum terlalu ramai dgn turis. Katanya sih peak season akan terjadi pada akhir tahun, dua pekan lagi. Di Mafir GH tamunya cuma saya :( rada2 bete juga, gak ada temen untuk kenalan. Suasana penginapan juga jadi terasa horor, apalagi anaknya yang autis itu suka bersikap aneh, lihat hantu? hihihihi...
Malam pertama di kamar yg luas dan sepi, hening...setelah sholat aku mengaji berlindung dari gelapnya malam. Sesekali aku mengintip keluar jendela memandang danau yang terlihat samar beraroma mistis. Aku membaca surah Yaa-siin memohon perlindungan Allah. Secara feeling aku merasa "tidak sendiri" di kamar ini.
Saya berangkat melanjutkan perjalanan ke Medan menggunakan moda bus dgn biaya Rp 22.000,- dari terminal Ajibata. Hanya menunggu selama 10 menit di dalam bus sampai bus berangkat menuju Medan. Jalan dari Ajibata ke arah Tebing Tinggi yang akan dilewati bus ini lumayan kecil dan berbukit-bukit. Beberapa tikungan membentuk sudut yang sangat sempit. Hasilnya… Bus sebesar dan sepanjang ini sangat kesulitan untuk melahap tikungan. Berkali-kali sopir harus memaju-mundurkan bus terlebih dulu sebelum melewati tikungan. Bus terus melewati Jalan Parapat yang naik-turun dan berkelok dengan santai. Naik bus besar seperti ini terasa lebih santai dan tidak ugal-ugalan layaknya jika naik elf maupun L300 yang banyak terdapat di kabupaten-kabupaten kecil. Saya pun bisa lebih rileks dan berusaha tidur. Hehe..
Di masjid ini aku mandi sore lalu sholat musafir sekalian mengamati situasi lingkungan : apakah aman tidur di masjid ini? Kelihatannya gak memungkinkan. Masjidnya terlalu ramai dgn gelandangan, pengemis yg duduk-duduk di tangga masjid dan di gerbang masjid.
Menjadi backpacker bukan sebatas terkendala masalah biaya. Namun, pengalaman yang terbayar dari perjalanan backpacker tidak dapat tergantikan dengan materi.
Sekitar jam 11 malam mobil Grandmax baru meluncur dari Km 5 Jl Raya Bukit Tinggi menuju jalur Lintas Sumatera.
Hari yang melelahkan, malam yang gelap gerimis panjang menyusuri jalan berundak sepanjang gugus Bukit Barisan dari sisi Padang Sidempuan, Tarutung ke Sipirok yang baru saja dilanda longsoran lagi. Kawasan ini memang sering longsor.
Sebagian jalan tertimbuan bebatuan dan rusak parah sehingga hanya bisa dilalui mobil kecil. Mobil van Grandmax yg kami tumpangi spt berjoget kayak track offroad, bikin sakit perut.
Menjelang pagi di tepi hutan kawasan Sipirok mobil mengalami masalah ban robek kayaknya gara2 melintasi tebing yang longsor beberapa jam lalu.
Sopir mengganti dengan ban serep yang menang gundulnya, busyeet!. Mobil kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama, belum 20 menit masalah baru muncul, mobil kok jalannya lenggang kangkung, apalagi kami yg di kursi belakang sangat berasa. Mobil berhenti di pinggir desa yg rumah masih jarang, ternyata baut2 pelek di roda kiri belakang 3 dari 5 bh sudah dol/aus, gak bisa dikunci lagi. Mobil kembali jalan pelan dgn 2 baut saja yg ngunci pelek. Baru berjalan 1 kilometeran 1 buah baut patah. Tidak ada alat yg memadai. Tidak ada bengkel. Rumah jarang-jarang. Mobil dijalankan spt becak, sangat pelan, geol-geol (takut ban lepas) mencari bengkel. Kami yg di atas mobil ya stress takut ban copot dan tebalik. Sekitar 3 km kami menemukan bengkel desa yg tutup (karena hari minggu). Kami menggedor rumah penghuninya. Emergency. Oleh bapak pemilik bengkel skrup dan baut di las permanen, itupun katanya mungkin hanya dapat bertahan 2 jam, artinya kami harus segera sampai di kota kabupaten mencari bengkel besar. Dugaan bapak tsb benar, memasuki kota Balige las-lasannya patah.
Saya dan Mad Thoisen (Denmark) berembug untuk pindah bus, kami sudah sangat terlambat masuk ke Toba dari waktu yg dijadwalkan. Kami berlima bersepakat charter angkot menuju Pelabuhan Parapat yang berjarak 67 Km dari Balige. Saya menyetop sebuah angkot tua hi-jet. Saya mendadak guide untuk nego dgn sopir. Mentok si Abang sopir Rp. 300K. Teman2 setuju dan saya FREE hahaha thankyou...thankyou Friends!

Sopir angkotnya gila ngebutnya. Meluncur kenceng gak pake rem. Kami berlima yang empot2an tapi senang....kata Mad, this is crazier than F1 racing, hahaha seru! Ini Medan Bung!
...akhirnya sekitar jam 5 sore sampai juga di kami di pelabuhan Parapat.
Seorang awak kapal ferri mendekati kami dan menyapa dalam bahasa Inggeris. Ia bertanya ke saya : Are you their guide?. Saya jawab dgn bhs Melayu "Bukan, kami berteman. Dan saya percaya Abang dapat menjadi tuan rumah yang baik. No scam".
Kami dipersilakan membeli tiket, tidak ada calo. Tiket ferri hanya Rp 7K per orang.
Di atas kapal aku merasa lega banget. Panorama danau sungguh menakjubkan.
Kapal ferri merapat di dermaga Tuktuk di desa Ambarita. Saya berpisah dgn teman2 backpacker mancanegara yang akan turun di dermaga Tomok.
Mad Thoysen Cs ke hotel yg mereka telah booking jauh hari. Saya mencari guest house. Kali ini saya gak cari mesjid heheh krn ini wilayah mayoritas Nasrani.
Saya melewati deretan guest house. Alhamdulillah pilihanku ke Mafira Guest House - Cafe & Minimarket yang dimiliki seorang Batak Muslim. Tempatnya luas, nyaman dan terletak di tepi danau. Lantai dasar terdiri dari cafe, rumah tinggal owner GH (kebetulan lagi ke Medan) dan toko suvenir mulai dari pakaian, tas, ikat kepala, gantungan kunci dan kerajinan kayu, hingga tenun ulos—kain khas Batak . Mafir GH hanya ditunggui ibu dan puteranya yang autis berusia sekitar 19 tahun .
Kamarku terletak di lantai 2 kamar paling pojok ukuran 5x3 M dilengkapi dgn kamar mandi, cukup lega untuk saya yg alone. 14 kamar lainnya kosong. View kamar menghadap ke danau dan perbukitan...keren abis!. Tarif kamar cuma Rp 80.000/2 malam, ini murah karena masih low season.
Sekalian saya sewa motor Rp 100.000/hari untuk keliling melihat obyek wisata di pulau Samosir.
Tingkat hunian penginapan sekitar desa Ambarita belum terlalu ramai dgn turis. Katanya sih peak season akan terjadi pada akhir tahun, dua pekan lagi. Di Mafir GH tamunya cuma saya :( rada2 bete juga, gak ada temen untuk kenalan. Suasana penginapan juga jadi terasa horor, apalagi anaknya yang autis itu suka bersikap aneh, lihat hantu? hihihihi...
Malam pertama di kamar yg luas dan sepi, hening...setelah sholat aku mengaji berlindung dari gelapnya malam. Sesekali aku mengintip keluar jendela memandang danau yang terlihat samar beraroma mistis. Aku membaca surah Yaa-siin memohon perlindungan Allah. Secara feeling aku merasa "tidak sendiri" di kamar ini.
| Halaman belakang Mafira GH |
Alhamdulillah, semalam bisa tidur nyenyak dan bangun sholat subuh.
Pagi suasana desa sudah mulai ramai. Aku keluar jalan-jalan sekitar penginapan sambil melihat-lihat suasana kampung sembari mencari kopi dan sarapan pagi. Ketemu beberapa warga kampung, mereka sangat ramah dan selalu tersenyum. Sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar Danau Toba adalah suku Batak.
Jam 08 aku sudah bersiap eksplor Toba dengan Honda Vario. Hal pertama yang kulakukan adalah melihat daftar destinasi wisata : mengunjungi berbagai objek wisata di sekitar Pelabuhan Tomok, seperti situs megalitikum Kompleks Makam Batu Sidabutar, deretan rumah tradisional di Kampung Tuktuk, Kursi Batu Raja Siagilan, serta Rumah Raja Sidauruk yang menampilkan pertunjukan Patung Sigale-gale.
Sigale-gale adalah patung mistis yang terkenal dari Pulau Samosir. Patung ini dibuat dari kayu yang bisa digerakkan saat pertunjukan, sehingga seolah-olah tampak sedang menari dengan lincah. Dengan diiringi alat musik tiup sordam, wisatawan bisa menonton pertunjukan tari Sigale-gale dan muda-mudi yang menari tor-tor.
Berkeliling di Pulau Samosir mengunjungi Museum Huta Bolon, Menara Pandang Simanindo, juga Pantai Sibolazi di wilayah utara. Kemudian, memacu Vario ke arah Pangururan dan mampir ke Pantai Pasir Putih Parbaba, serta beberapa lokasi aek rangat (air hangat). Pengein rasanya berendam di kolam air hangat berbau belerang yang kabarnya berkhasiat untuk kulit dan kecantikan pun kegantengan hihihihi, sayangnya saya tak membawa pakaian salin.
Di dekat Pasar dan Pelabuhan Ajibata. Terdapat belasan rumah makan yang menawarkan berbagai jenis nasi dan lauk, mulai dari ikan mas arsik, mie gomak, ikan bakar, dendeng, hingga saksang. Bagi wisatawan Muslim, ada baiknya kita memilih warung makan yang sudah mencantumkan tulisan “halal” sebab banyak menu non halal seperti babi dan anjing.
Di dekat Pasar dan Pelabuhan Ajibata. Terdapat belasan rumah makan yang menawarkan berbagai jenis nasi dan lauk, mulai dari ikan mas arsik, mie gomak, ikan bakar, dendeng, hingga saksang. Bagi wisatawan Muslim, ada baiknya kita memilih warung makan yang sudah mencantumkan tulisan “halal” sebab banyak menu non halal seperti babi dan anjing.
Aku sudah pernah traveling ke danau Kintamani-Bali, danau Singkarak & Maninjau - Bukit Tinggi, danau Ranau-Palembang, danau Tempe-Sengkang, Sulsel, Danau Poso-Sulteng, namun rasanya pemandangan di danau Toba ini paling indah dan spektakuler..
Sebagai kaldera purba dengan luas yang lebih besar dari Singapura ini, wisatawan dapat menikmati keindahan Danau Toba dari berbagai sisi.
Danau Toba adalah danau alami berukuran besar di Indonesia yang berada di kaldera Gunung Berapi Super. Danau ini memiliki panjang 100 kilometer (62 mil), lebar 30 kilometer (19 mi), dan kedalaman 505 meter (1657 ft). Danau ini terletak di tengah pulau Sumatra bagian utara dengan ketinggian permukaan sekitar 900 meter (2953 ft). Ini adalah danau terbesar di Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia.
Danau Toba adalah lokasi letusan gunung berapi super masif berkekuatan VEI 8 sekitar 69.000 sampai 77.000 tahun yang lalu yang memicu perubahan iklim global.
Di balik proses terbentuknya Danau Toba, terdapat sebuah cerita tentang seorang pemuda yang memarahi anaknya dan melanggar janji istrinya. Sang anak menangis ketika mengetahui identitas asli ibunya yang seekor ikan. Legenda ini pun terus diwariskan hingga sekarang, bahkan nama sang anak Samosir, pun diabadikan sebagai nama pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba.
Di balik proses terbentuknya Danau Toba, terdapat sebuah cerita tentang seorang pemuda yang memarahi anaknya dan melanggar janji istrinya. Sang anak menangis ketika mengetahui identitas asli ibunya yang seekor ikan. Legenda ini pun terus diwariskan hingga sekarang, bahkan nama sang anak Samosir, pun diabadikan sebagai nama pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba.
Rumah tradisional Batak dapat dikenali dari bentuk atapnya (ujungnya melengkung ke atas seperti perahu) dan warna cerah.
Tiap budaya memiliki sejarahnya masing-masing. Seperti rumah Batak Toba ini.
Atap belakang yang lebih tinggi dari atap depan menandakan bahwa sang anak harus lebih sukses dari orang tuanya kelak.
Patung cicak yang menempel di depan pintu memberi makna bahwa orang Batak dapat hidup di manapun, selayaknya cicak yang dapat menempel di mana saja.
Lambang dua payudara yang berada di samping cicak memiliki arti bahwa sang tuan rumah dapat menjamu tamu, lambang kemakmuran dan kejayaan. Konon, dulu lambang payudara ini hanya dimiliki kalangan berada.
Tangga di depan pintu masuk menandakan bahwa masyarakat Batak menuakan raja. Karena ketika masuk ke dalam rumah, tentunya kepala harus menunduk seakan memberi hormat pada tuan rumah.
Sebagai kawasan wisata yang lekat dengan legenda di masyarakat, ada baiknya setiap pengunjung menghormati kepercayaan dan cerita penduduk setempat dengan tidak berlaku dan berkata secara sembarangan. Sebab, tak sedikit pula wisatawan yang memiliki pengalaman mistis tertentu ketika berkunjung ke Pulau Samosir dan Danau Toba saat tidak berperilaku baik.
Malam kedua di Mafira saya mendapat kabar duka dari jakarta, teman kantor meninggal saat bermain futsal.Innalillahi wa inna ilaihi rojiiuun..Ya Allah, padahal masih muda banget, umurnya jauh dibawah saya. Anaknya 2 orang masih kecil2 belum sekolah. Almarhum mantan tim ku sejak di Pluit Megamall. Saat saya mutasi ke Lokasari Plaza saya membawanya. Saya mengkader dan mensupervisinya karena ia anak yg cerdas, loyal dan berkepribadian baik. Alhamdulillah karirnya mulus meniti jenjang karir sampai menjadi seorang Branch Manager di Arion Plaza.
Ketika berada di P.Samosir 2 malam, di Mafira GH sepertinya 'ada' yg selalu mengikuti saya siang pun malam, kadang melintas di depan, di samping..di kamar maupun diluar kamar. Tak tampak tapi berasa.
Indonesia dengan beragam keindahan alam ini tak luput dari beragam kisah mistis dan seram. Beragam kisah yang ada sepertinya mengingatkan kita untuk selalu brsikap baik kepada alam. Apa pun yang kita perbuat di alam, baik ataupun buruk tentu akan kita panen hasilnya sesuai yang kita tanam. Nah, untuk menjaga keindahan alam ingat untuk jaga selalu kebersihannya ya supaya tetap lestari dan yang nggak kalah penting supaya nggak diganggu sama makhluk halus.
Setiap mau tidur saya membaca Quran memohon perlindungan Allah, alhamdulillah biarpun sedikit terganggu tapi tidurnya tetap pulassss...
Ketika berada di P.Samosir 2 malam, di Mafira GH sepertinya 'ada' yg selalu mengikuti saya siang pun malam, kadang melintas di depan, di samping..di kamar maupun diluar kamar. Tak tampak tapi berasa.
Indonesia dengan beragam keindahan alam ini tak luput dari beragam kisah mistis dan seram. Beragam kisah yang ada sepertinya mengingatkan kita untuk selalu brsikap baik kepada alam. Apa pun yang kita perbuat di alam, baik ataupun buruk tentu akan kita panen hasilnya sesuai yang kita tanam. Nah, untuk menjaga keindahan alam ingat untuk jaga selalu kebersihannya ya supaya tetap lestari dan yang nggak kalah penting supaya nggak diganggu sama makhluk halus.
Setiap mau tidur saya membaca Quran memohon perlindungan Allah, alhamdulillah biarpun sedikit terganggu tapi tidurnya tetap pulassss...
Hari ketiga, pagi saya check out dari Mafira Guest House. Saat hendak naik kapal ferri di dermaga dalam area Carolina Cottage , astaga..saya lupa KTP di Resepsionis Mafira, hufft untung belum naik ke ferri. Buru2 aku balik ke Mafira utk mengambil KTP.
travelling sendirian
enaknya tuh jadi punya banyak fotografer, mulai dr tukang becak, pegawai negeri,
mahasiswa, pedagang, turis...pokoknya siapa saja yg lewat dan mau dimintain
tolong jepret. Naa yg repot kalo tempatnya sepi, gak ada yg lewat, fotoin diri
sendiri deh..kadang gak kena atau kena tapi sparoh muka, kena jidatnya doang
atau bisa jadi kena 'sesuatu' yg melesat dibelakang kita hiiyyyyy....
:)
Sepanjang jalan di seputar kawasan danau pemandangan sungguh menakjubkan. Indah sekali!
Saya berangkat melanjutkan perjalanan ke Medan menggunakan moda bus dgn biaya Rp 22.000,- dari terminal Ajibata. Hanya menunggu selama 10 menit di dalam bus sampai bus berangkat menuju Medan. Jalan dari Ajibata ke arah Tebing Tinggi yang akan dilewati bus ini lumayan kecil dan berbukit-bukit. Beberapa tikungan membentuk sudut yang sangat sempit. Hasilnya… Bus sebesar dan sepanjang ini sangat kesulitan untuk melahap tikungan. Berkali-kali sopir harus memaju-mundurkan bus terlebih dulu sebelum melewati tikungan. Bus terus melewati Jalan Parapat yang naik-turun dan berkelok dengan santai. Naik bus besar seperti ini terasa lebih santai dan tidak ugal-ugalan layaknya jika naik elf maupun L300 yang banyak terdapat di kabupaten-kabupaten kecil. Saya pun bisa lebih rileks dan berusaha tidur. Hehe..
Ba'da asar tibalah saya di Medan. Saya langsung menuju Masjid Raya Al Mashun mesjid bersejarah yang menjadi ikon kota Medan.
Di masjid ini aku mandi sore lalu sholat musafir sekalian mengamati situasi lingkungan : apakah aman tidur di masjid ini? Kelihatannya gak memungkinkan. Masjidnya terlalu ramai dgn gelandangan, pengemis yg duduk-duduk di tangga masjid dan di gerbang masjid.
Saya memutuskan mencari homestay. Tak jauh dari masjid saya check in di TRAV-fella Homestay , dari sini juga tidak jauh ke Istana Maimoon, peninggalan kerajaan Melayu Deli.....
Masjid Raya Al Mashun Medan.
Masjid ini merupakan saksi sejarah kehebatan Suku Melayu sang pemilik dari Kesultanan Deli (Kota Medan).
Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan yang ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. Keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun masjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, tetapi konon Tjong A Fie, tokoh kota Medan dari etnis Tionghoa yang sezaman dengan Sultan Ma’mun Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.
Pada awalnya Masjid Raya Al Mashun dirancang oleh arsitek Belanda Van Erp yang juga merancang istana Maimun, tetapi kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman.
JA Tingdeman, sang arsitek merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu dan Timur Tengah. Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik tidak seperti masjid-masjid kebanyakan. Empat penjuru masjid masing-masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing-masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.
Bangunan masjidnya terbagi menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara. Ruang utama, tempat sholat, berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar. Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan Art Nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam.
Merdeka Walk
Istana Maimoon.
Istana maimun adalah istana peninggalan kerajaan Sultan Deli di Kota Medan yang berada di Jalan Brigjend Katamso, Kecamatan Medan Maimun.
Istana Maimun merupakan sebuah bangunan peninggalan sejarah masa kerajaan melayu Sultan Deli ke- IX yaitu Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Istana Maimun mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai selama 3 tahun yang sekaligus diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891.
Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 meter persegi dan terdiri dari 30 ruangan, 2 lantai dan memiliki 3 bagian. Bagian tersebut melingkupi bangunan induk, bangunan sayap kanan dan bangunan sayap kiri. Istana maimun didominasi warna kuning yang melambangkan warna kerajaan melayu.
Sejak tahun 1946 istana maimun dihuni para ahli waris kerajaan deli yang dapat ditemukan sejarah para warisnya didalam gedung istana. Dalam waktu tertentu pihak istana mengadakan sebuah pertunjukan musik tradisional Melayu. Pertunjukan tersebut dihelat dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya. Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana.
Para pengunjung dapat masuk kedalam istana hanya dengan merogoh kocek sebesar Lima ribu rupiah dan akan dipandu oleh guide yang akan menjelaskan secara detail sejarah kerajaan Kesultanan Deli, serta sudah bisa puas melihat-lihat koleksi yang dipajang di dalamnya seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno, sejarah peradaban, berbagai jenis senjata dan beberapa peninggalan sejarah lainnya.
Kini, Sultan Deli dijabat oleh Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam yang masih berusia 18 tahun. Ia diangkat menjadi Sultan tahun 2005 saat berusia tujuh tahun menggantikan ayahnya Tuanku Otteman Mahmud Paderap Perkasa Alam.
"Tuanku Otteman Mahmud yaitu Raja Deli ke 13 meninggal pada kecelakaan pesawat di Aceh tahun 2005 dalam usia 39 tahun. Ia adalah prajurit TNI menjabat Komandan Batalyon Siliwangi. Sesuai adat maka kesultanan digantikan oleh anaknya Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam sebagai raja ke 14. Saat itu usianya baru tujuh tahun. Kini beliau berdomisili di Makassar, dan selalu datang apabila ada acara adat dan hari besar keagamaan," sebut Kepala Juru Pemeliharaan dan Juru Kunci Istana Maimoon,
Ketika di Istana Maimoon tetiba teringat Ibuku, Khadijah yang jauh di Makassar.. mudah2an beliau selalu sehat. Beliau pasti senang mendengar langkah kakiku telah sampai ke Kesultanan Melayu..Aamiin...
| Tahta Raja & Ratu Kesultanan Deli |
Pada hari ke dua saya menyempatkan mencari teman sekolah, Zainal Arifin yang sudah tak berjumpa sejak tamat sekolah 25 tahun lalu di Makassar. Aku merantau ke Jakarta. Waktu itu ia menyuratiku bahwa ia merantau ke Medan dan bekerja di Coca Cola Amatil. Saya ke kantor CocaCola Amatil tapi hasilnya nihil, tak ada yang mengenal. Mungkin ia telah pindah.
Saya menghubungi Sriyuni via SMS mantan tim saya di Palembang tahun 1997. Sri adalah seorang SPG yang handal dalam mengelola konter Fancy dan Kasir di TGA Internasional Plaza Palembang. Posturnya tinggi dan cakap berbahasa Inggeris. Kami janjian temu kangen di teras bandara Polonia. Lagi-lagi saya tidak ketemu. Saya sudah masuk ke dalam untuk boarding saat Yuni baru tiba di bandara. Sayang sekali ya....Insya Allah ketemu di lain waktu.
Perjalanan dari Padang, Bukit Tinggi, Danau Toba selama 8 hari berakhir di sini dengan aman tenteram. Sejuta kenangan dan pengalaman serta ketahanan mental menjadi ujian kehidupan. Ini baru namanya My Life My Adventure, bukan sekedar gagah-gagahan di kaos....hihihi
| Ke Jakarta, aku kan kembaliiii... |
Traveling alone will
be the scariest , most liberating, life changing experience of your life. Go
solo go far..
Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai...
end......
ANDALAS UNDERCOVER Ep. 2
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Juni 13, 2019
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Juni 13, 2019
Rating:














Luar biasa pengalaman pak sofiyan
BalasHapusSangat menakjubkan ....
Alone travelling backpacker...