CELEBES UNDERGROUND
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.
Setelah menyelesaikan perjalanan avonturir sekitar 8 hari dari Jakarta ke Balikpapan - Samarinda - Balikpapan, lalu menyeberang ke Pontoloan dgn KM Doloronda. Lanjut ke arah utara dgn naik Colt Minivan sampai Toli-Toli kemudian kembali ke Pontoloan dgn KM Umsini (selengkapnya baca Avonturir Borneo & Celebes).
Menginap semalam di Palu kemudian melanjutkan perjalanan...
"Tentu saja, akan sangat bagus dan merekomendasikan untuk mengunjungi kami. Saya tinggal di Tentena, tepatnya di tepi Danau Poso. Dari Palu (Pelabuhan Pantoloan) ke Poso. Dari Poso bisa langsung ke Tentena sekitar 60 km, ditempuh dengan 1,5 jam perjalanan. Di Tentena, di sekitar Danau Poso Sofyan bisa keliling Danau Poso, bisa kunjungi Desa Wisata (Desa Dulumai) yang sedang diorganisir oleh Mosintuwu, juga ke Air terjun Saluopa 20 tingkat (atau lebih), bisa ke pantai Danau Poso, mengunjungi gua-gua, termasuk ikut pesta panen (jika waktunya bertepatan dan beruntung). Termasuk tentu saja bisa kunjungi Sekolah Perempuan, kebun organik, rumah bambu kami dan sebagainya. Bertepatan dengan apa yang Sofyan katakan sebelumnya, pekerjaan kami sekarang mau mengubah persepsi orang tentang Poso, bukan lagi wilayah konflik tetapi Poso itu tanah harapan." (Lian Gogali, Aktivis Sekolah Perempuan).
Jumat 4 Oktober 2013, jam 07.00 setelah sarapan bubur saya bergegas ke beberapa agen bus dan travel di Palu untuk booking seat menuju Poso Tentena malam ini.
Informasi dari beberapa agen travel tidak ada kendaraan yang berangkat malam. Umumnya armada berangkat pagi, bus Damri malah 2 hari sekali ke Poso / Tentena. Mereka semua beralasan sama, jarang sopir yang berani jalan malam karena masih sering ada gangguan gerombolan Santoso di lintasan hutan Poso. Seorang agen travel memberi petunjuk ke agen travel Fauzan. Ini satu2nya travel yang sopirnya nekad jalan malam dengan tujuan akhir Kendari...dan memang ini satu2nya mobil (Colt ELF kapasitas penumpang 13 orang) yang berangkat malam ini jam 19.00. Beruntung saya masih dapat kursi karena beberapa orang setelah saya harus gigit jari, full.
| Satu2nya colt minivan yg nekad menembus jalur Palu ke Kendari via Poso |
Setelah memastikan dapat 1 seat di baris ke 3 (Rp. 120 K), saya menggunakan sisa waktu yang ada mengunjungi Paliudju Bridge, Bukit Arafat dan Museum melihat patung2 megalith dan menhir dari jaman batu (asli dan replika). Konon Sulteng memiliki sedikitnya 1.451 buah arca dari situs megalith dari zaman batu. Lokasinya tersebar di hampir seluruh wilayah ini. Tapi, yang paling banyak berada di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa, Kabupaten Poso. Dari hasil penelitian,megalith Sulteng ini adalah situs megalitikum terluas di Indonesia.
"Memang imajinasi apa yang terjadi di sana jadi lebih liar karena keterbatasan informasi dan banyaknya isu yang simpang siur,” ujarnya. Saat pulang ke Poso pada 1999 karena ayahnya meninggal, Lian melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah dan sekolah habis dibakar, termasuk rumah kakaknya. "Barulah saya mulai menyadari ada yang tidak betul di situ.”
Di dunia, arca megalith yang berupa arca, menhir atau dolmen ini hanya ada di Napu, Besoa, Bada serta di Marquies Island, Amerika Latin.
Iskam Lasarika, petugas Museum Sulawesi Tengah mengatakan, pihaknya hanya memberi nama terhadap patung-patung megalith ini. Salah satu patung megalith yang berdiri sendiri misalnya, dinamai Tadulako yang berarti pemimpin. Tingginya sekitar 170 centimeter. Patung itu berukiran orang. Mungkin saja pembuatnya hendak menggambarkan bahwa begitulah pemimpin di masa zaman pra sejarah itu.
Langit malam kian merekah, ketika kendaraan yang saya tumpangi meninggalkan Kota Palu. melintasi jalan raya yang berada persis di pinggir laut, mata dimanjakan oleh pesona alam anugerah dari Sang Pencipta. Sangat indah!.
Lepas dari kota Palu, melintasi jalan tanjakan dan berkelok tajam. si sopir cukup lihai mengendarai kendaraan ini dengan penguasaan medan yang baik sehingga penumpang tidak terguncang dan masih merasa nyaman berada di kabin. Di sini sopir sengaja tidak menghidupkan AC, selain untuk menjaga kestabilan persneling di kontur jalan yg penuh tanjakan dan turunan juga karena suhu disini cukup dingin. Saya membuka sedikit kaca jendelanya agar bisa leluasa melihat alamnya ditengah kelamnya malam yang mulai beranjak disertai gerimis yang turut menyertai sepanjang perjalanan. Bias sinar sang rembulan pun tak mau ketinggalan ikut menghiasi malam itu. Akhir dari tanjakan ini, ditandai dengan area dataran yang cukup luas, menurut salah satu penumpang daerah ini namanya Kebun Kopi, tempat istirahat sejenak sembari membeli sayur-mayur yang banyak terdapat di warung-warung yang berjejer di sisi kiri jalannya.
Di sekitar kawasan ini mobil berhenti istirahat di sebuah rumah makan yg sederhana dengan menu yang terbatas dan tak menarik. Tapi karena lapar saya makan saja (Rp. 30K).
Mobil kembali melanjutkan perjalanan menembus kelamnya malam. Saya sempat tertidur sejenak dan setelahnya saya kembali bangun ketika tiba2 mobil berhenti dan tau-tau colt kami sudah berada halaman kantor Polres Parigi.
Waktu mendekati jam 23.00. Dari jendela mobil saya melihat ke luar puluhan polisi bersenjata, pakaian dinas pun preman melakukan razia, pemeriksaan. Seluruh penumpang+sopir diminta turun. Kami diperintahkan berbaris lalu check body. Sementara itu aparat yg lain menggeledah seluruh bagasi penumpang. Terlintas pikiran untuk memotret namun kuatir berdampak buruk (misalnya kamera disita dsb) Seru! adrenalin berpacu, ini yg gue cari !
Sempat dengar dari obrolan penumpang dibelakang.
"Di wilayah sini daerahnya rawan, sering terjadi penembakan misterius". kata salah satu penumpang lokal.Saat melintasi pinggiran Poso, di keremangan malam dari balik jendela mobil saya menyaksikan beberapa kerangka rumah2 penduduk sisa dibakar yang ditinggal saat konflik komunal...iihh merinding membayangkan. Mobil terus melaju di pesisir laut, sementara di sisi kanan jalan berjejer pohon-pohon kelapa menghiasi sepanjang perjalanan. Rumah-rumah penduduk sudah jarang terlihat. Semakin jauh, kami mulai memasuki area hutan yang cukup lebat dan masih sangat alami. Saya akhirnya tertidur meski tetap waspada.
"Bang, kita sudah masuk di kota Tentena, Mau turun di mana?".
Seru si sopir mengagetkanku. Sekilas kulihat jam di BB, pukul 3 pagi. buseeett daaaah, masih pagi benar.
"Turunkan saya di tempat aman Pak, di masjid atau di gereja.."
"Di sini gak ada masjid Bang, ini basis Nasrani, banyaknya gereja, bagaimana kalo di Pom Bensin? " katanya melanjutkan.
Kebayang juga kalo turun di gereja, bingung gimana ngomongnya? ketemu siapa di gereja tengah malam begini? lagian meski konflik sudah berakhir kecurigaan itu masih ada. Apalagi saya ini mahluk tak jelas, orang asing dari jauh mo ngapain di sini? jangan2 provokator ? maka pilihan tepat adalah turun di SPBU atau Pom Bensin.
"Ouh boleh Pak. Setuju turun di SPBU...tks banyak"
Jam 03.20 saya turun di SPBU yang sudah tutup di pinggir ruas jalan negara. Alhamdulillah ada mushollanya. Saya membersihkan diri, berwudhu lalu sholat Lail. Ngaji sambil nunggu waktu subuh. Setelah itu kurebahkan diriku ransel kujadikan bantal berharap sedikit memulihkan stamina selama perjalanan panjang sebelumnya.
Sekitar jam setengah enam aku bangun dan mandi. Kuhubungi keluarga di Anggrek Loka. Mengabarkan keadaanku yang sejauh ini (12 hari) masih sehat wal afiat. Mereka sangat mengkhawatirkanku memasuki wilayah konflik Poso, apalagi di Tentena yang merupakan basis Nasrani. Masih kebayang berita2 mengerikan ttg pembantaian sesama anak bangsa yang berbeda agama.
Jam 07 pagi SPBU sudah dibuka tapi masih sepi pengendara. Saya berjalan kaki masuk ke desa Mosintuwu mencari rumah teman yg saya kenal dari facebook. Lian Gogali, Ia seorang Nasrani, wanita aktivis kemanusiaan yang menjadi penggerak perdamaian dan pemulihan mental wanita dan anak korban konflik Poso. Saya berhenti di depan pangkalan ojek dan bertanya tentang rumah Mbak Lian Gogali- aktivis perdamaian. Saya lalu diantar ojek masuk ke desa Mosintuwu menuju rumah Lian di tepi danau Poso.
"Saya sangat tidak percaya konflik di Poso karena dilatarbelakangi agama.” Itulah yang diyakini Lian Gogali, pendiri Institut Mosintuwu di Poso, Sulawesi Tengah.
Saat konflik komunal merebak di Poso pada 1998-2001, ia memang tidak berada di sana. Ia tengah menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. "Kami ini kawin-mawin, kalau mau telusuri dalam satu pohon keluarga, ada yang beragama Islam, Kristen, dan Hindu. Sehingga ikatan keluarga lintas iman itu sangat kuat di Poso,” kata perempuan 40 tahun ini yang kutemui di rumahnya.
| Diskusi bertema konflik Poso di teras rumah Lian |
| Bersama Pak Efren Kades Desa Dulumay |
"Memang imajinasi apa yang terjadi di sana jadi lebih liar karena keterbatasan informasi dan banyaknya isu yang simpang siur,” ujarnya. Saat pulang ke Poso pada 1999 karena ayahnya meninggal, Lian melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah dan sekolah habis dibakar, termasuk rumah kakaknya. "Barulah saya mulai menyadari ada yang tidak betul di situ.”
![]() |
| Membangun perdamaian dgn pendidikan dan perpustakaan |
Lian muak melihat pemberitaan di media yang selalu menyajikan cerita siapa membunuh siapa, dan hitung-hitungan korban terbanyak ada di kelompok mana. Tanpa ada satu pun yang menceritakan ke mana para perempuan dalam konflik tersebut. "Saya jadi semakin penasaran dengan posisi perempuan, apalagi di dalam konstruksi masyarakat Poso yang sangat patriarki, sangat feodal, tidak mendukung posisi perempuan.”
Setelah diskusi cukup panjang kami sarapan pagi berupa nasi goreng buatan Lian. Saya lalu melanjutkan perjalanan ke danau Poso dan air terjun Saluopa di pinggir hutan Poso dengan menyewa ojeker yg direkomendasi Lian. Ngeri juga kalo masuk ke hutan Poso dgn Ojeker tak dikenal. Bagaimana disergap gerombolan Santoso, bagaimana kalo ojeknya yg mencederai saya karena dianggap Muslim "musuh" mereka. Bisa saya mati atau dia yang mati. Qadarullah...
| Ngaso sebentar di tepi jalan menuju hutan Poso di latarbelakang |
| Danau Poso tampak dari ketinggian |
| Tepian danau dgn pasir danau yg kemerahan |
Danau Poso salah satu danau terluas di Indonesia (setelah danau Toba dan danau Singkarak). Udara di Danau Poso sangat sejuk dan dikelilingi oleh pegunungan, karena tempat ini terletak di ketinggian 657 mdpl. Danau ini memiliki luas 512 km persegi dan kedalaman lebih dari 300 meter.
![]() |
| Tepian danau Poso |
Goa Purba Latea
Mulut goa hanya bisa dimasuki satu orang saja, itu pun sambil menunduk menuju pintu masuknya. Di dalam goa yang gelap sudah dibuatkan jalan setapak dengan cara membuat lintasan dari semen. Begitu sampai di dalam dinding-dinding batu gamping dari goa terlihat seperti goa kapur. Stalagtit terlihat terbentuk dengan bentuk beraneka pola.
Goa terletak di di tepian Danau Poso yang indah. Di mulut goa yang ada di lereng bukit, kita bisa menyaksikan Danau Poso dari sisi selatan setelah sebelumnya melintasi jembatan pamona yang membelah Sungai Poso. Akhir dari perjalanan ini, kita seolah dibawa ke masa lalu bagaimana dengan budaya pemakaman mereka sudah memberikan penghormatan kepada leluhur dengan menampatkan jenazah peti mati, menyimpan dalam goa, dan memberikan bekal kubur. Konon awalnya antropolog menyangka bahwa orang Pamona dan Toraja adalah satu keturunan karena memiliki budaya yang sama. Goa Latea menjadi bukti peradaban masa lalu bagaimana menghormati leluhurnya.
Air terjun ini juga dijuluki dengan sebutan air luncur Saluopa. Karena air terjun Saluopa memiliki sumber mata air dari pegunungan setempat yang airnya meluncur deras dari puncak gunung dengan ketinggian sekitar 25 meter. Air terjun Saluopa ini terlihat sangat cantik dan termasuk unik karena memiliki 12 tingkatan dan di setiap tingkatannya tersebut membentuk sebuah kolam kecil yang juga dapat digunakan untuk sekedar berendam, serta tangga batu yang dapat dinaiki karena batu-batu tersebut tidak licin.

Gua Latea merupakan gua yang dijadikan tempat penguburan orang-orang zaman dahulu seperti halnya kuburan batu di Toraja. Gua ini merupakan pekububuran leluhur suku pamona yang berasal dari bukit wawolembo. Namun, tidak seperti halnya di Toraja, di gua ini hanya ditemukan beberapa tengkorak dan tulang belulang saja.
Sistem penguburan seperti ini bagi masyarakat pamona diperkirakan berakhir sekitar abad ke 19 dimana saat itu misonaris-misionaris gereja sudah mulai memasuki wilayah-wilayah suku pamona. Situs ini dipugar tanggal 2 Juni-30 November 1994 oleh ditjen kebudayaan departemen pendidikan dan kebudayaan provinsi Sulawesi tengah. Pada awal penemuan situs ini, ditemukan empat pasang peti mati dan 36 buah tengkorak. Gua latea sendiri merupakan gua kapur yang usianya diperkirakan sekitar 30 juta tahun.
| \ |
Seberkas cahaya terlihat dari atap goa yang berlobang. Saya membayangkan bagaimana jika ada ada cahaya matahari yang menyorot ke dalam menembus uap-uap air dari dasar goa. Ray of lightyang indah akan terurai di dalam goa. Lamunan saya buyar ketika melihat ada tumpukan tulang-belulang di sisi kanan jalan. Tumpukan tulang ini adalah salah satu dari sekian banyak kerangka yang disimpan dalam goa ini.
| tulang belulang manusia purba di dalam goa |
| Ghost ! |
Goa terletak di di tepian Danau Poso yang indah. Di mulut goa yang ada di lereng bukit, kita bisa menyaksikan Danau Poso dari sisi selatan setelah sebelumnya melintasi jembatan pamona yang membelah Sungai Poso. Akhir dari perjalanan ini, kita seolah dibawa ke masa lalu bagaimana dengan budaya pemakaman mereka sudah memberikan penghormatan kepada leluhur dengan menampatkan jenazah peti mati, menyimpan dalam goa, dan memberikan bekal kubur. Konon awalnya antropolog menyangka bahwa orang Pamona dan Toraja adalah satu keturunan karena memiliki budaya yang sama. Goa Latea menjadi bukti peradaban masa lalu bagaimana menghormati leluhurnya.
| View Danau Poso dari tebing |
Air Terjun Saluopa
| |
| Jalan setapak yg sdh disemen menuju air terjun |
Air Terjun Saluopa ini memiliki air yang sangat jernih dan bersih sehingga batu-batuan yang di lewati oleh aliran air terjun akan terlihat dengan sangat jelas. Untuk tangga yang terbuat dari batu, walaupun sudah terkena air hujan dan sudah berlumut tetapi tangga tersebut tidaklah licin sehingga masih bisa di pergunakan sebagai akses untuk menuju pada tingkatan-tingkatan air terjun. Selain di pergunakan sebagai akses menuju tingkatan-tingkatan air terjun, tangga yang terbuat dari batu tersebut juga bisa untuk pepotoan. Terkadang diantara air terjun muncul pelangi yang sangat indah dan momen tersebut bisa sebagai latar belakang foto.
Lokasi air terjun Saluopa sangat mudah diakses. Berada tidak begitu jauh dari Kota Tentena dengan jarak kurang lebih sekitar 12 km. Saya menempuh perjalanan ke air terjun Saluopa dengan menggunakan ojek motor dari komunitas Mosintuwu (Rp 75K). Setelah sampai di lokasi, saya masih harus melanjutkan perjalanan masuk ke hutan dengan jalan kaki untuk sampai di air terjun. Jarak tempuh kurang lebih sekitar 500 meter saja.
Mengunjungi Saluopa ibarat sebuah perjalanan pencarian harta karun, lokasi dari air terjun Saluopa yang berada di dalam hutan tropis mengharuskan kita berjalan ke dalam hutan menuju lokasi dimana air terjun berada. Selama perjalanan menuju lokasi, kita dapat menikmati suasana hutan tropis dengan pepohonan yang lebat dan juga suara-suara alam yang dihasilkan para binatang yang hidup disini.
Dodoha Mosintuwu adalah rumah bambu yang menakjubkan yang terintegrasi dengan markas besar Mosintuwu Institute, LSM yang dibangun Lian dgn berusaha memberdayakan perempuan dan anak-anak di Poso menitikberatkan programnya pada meningkatkan kesadaran gender, agama, toleransi dan perdamaian.
Rumah bambu dirancang oleh Evan Adiwira dibantu 4 seniman bambu dari Bali.
Hari sudah sore saat saya kembali dari Saluopa ke rumah Lian untuk numpang sholat sekaligus pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Toraja.
TORAJA
Salah satu dari kepuasan seorang
backpacker adalah melakukan wisata rohani. Setiap menjelang magrib saya
selalu mencari masjid untuk mandi, sholat dan beristirahat, malam i'tikaf.
Tidur di emperan masjid, sepi dan rada gelap (lampu sdh dimatikan) merupakan
sensasi tersendiri. Seperti misalnya waktu tiba di Rantepao-Toraja dari Poso.
Tiba jam 02.00 dini hari, kota kecil dgn mayoritas Nasrani ini sudah tidur. Saya
melangkahkan kaki memasuki satu2nya masjid di kota kecil ini, Masjid Besar
Rantepao, namanya. Masjid sdh tertutup, pintu teralis ke tempat wudhu sudah digembok.
Saya membaringkan badan di lantai teras masjid, 5 meter dari tepi jalan raya .
Tak lama berselang tiba2 datang sepasang anak manusia dan bertengkar di depan pagar
masjid. Perempuannya sesekali meraung-raung, lalu datang lagi 2 orang lelaki dengan knalpot motor yang suaranya menyalak. Keributan tampaknya masih berlangsung (dgn
bahasa daerah yang saya tak mengerti). Mereka tak mengetahui kehadiran saya di
dalam pagar masjid yg hanya setinggi 100 cm dgn penutup plastik akrilik
berwarna hijau. Saya mulai kuatir, bagaimana kalau terjadi tindak kriminal?
bagaimana kalau mereka mengetahui bahwa ada seseorang di emperan masjid yg
mendengar semua percakapan mereka? (eye witness). Saya berharap ada warga yg
terbangun mendengar keributan dan melerai tapi kok sampai 45 menit belum ada juga yg datang. Tetap
sepi. Tengah malam yang mencekam. Hanya suara orang2 bertengkar dan tangisan perempuan itu yg memecahkan
kesunyian malam. Saya terus berdzikir memohon perlindungan kepada Allah agar mereka tak
mengetahui keberadaan saya yang pura-pura tidur, hanya berjarak 7-8 meter dari mereka.
Saya terus berdoa
semoga malam ini tidak terjadi sesuatu yg dapat menjadi bencana dalam
perjalanan saya. Saya seorang backpacker avonturir. Seorang diri.. hei siapa bilang saya sendiri?
Saya meyakini sepanjang perjalanan yang melelahkan ini, Allah yang tak pernah
lelah..selalu menemani dan menjaga saya. Di tengah malam yang mencekam saya
terus menyebut Asma-Nya karena hanya Dia-lah yang dapat menolong saya bukan
Kiyai, bukan Ustad, apalagi presiden SBY...:)
| Masjib Besar Rantepao |
"Ya Allah, dengarkan aku. Sanggupkan aku dalam keadaan yg sulit. Aku tahu aku mampu dan aku sanggup dengan bantuan-Mu."
Toraja memiliki beberapa bentuk pemakaman yang terbilang unik dan tak biasa. Justru karena hal itulah, malah menjadi objek wisata yang menarik perhatian dan mengundang decak kagum wisatawan.
Pemakaman dalam goa ala orang Toraja tentu tak asing lagi di telinga. Yang paling terkenal adalah objek wisata Londa dan Ke'te Kesu. Goa tersebut berada di sisi tebing dan di dalamnya terdapat ratusan peti mati dan berbagai jasad yang dibalut kain.
Di dalam goa juga terdapat ratusan tengkorak dan tulang-belulang manusia yang berserakan, menandakan bahwa kuburan goa ini telah lama digunakan dan sebagian besar jasad yang dikuburkan di tempat ini sudah berusia ratusan tahun.
Bagaimana sih penampakannya? Inilah kuburan orang Toraja dengan bentuk yang unik, sakral, dan punya kandungan filosofis bagi masyarakat setempat.
Kete'kesu
Kuburan Londa
Kuburan Bayi Passiliran
| Tatapan mata mistis dari patung berusia ratusan tahun |
| Patung leluhur beraroma magis |
Kuburan Batu Lemo
Kuburan Londa
| Django, tukang parkir depan pasar Rantepao |
Mungkin inilah jenis pemakaman orang Toraja yang paling unik sebab diperuntukkan bagi jasad bayi berusia 6 bulan kebawah, belum tumbuh gigi dan masih menyusui. Caranya, pohon tersebut dilubangi menurut ukuran bayi lalu jasadnya dimasukkan dalam keadaan tidak terbungkus. Lubang tersebut kemudian ditutup menggunakan ijuk pohon enau.
Menurut kepercayaan Aluk Todolo yang melakukan praktek ini, menguburkan bayi kedalam pohon berarti mengembalikan bayi ke rahim ibunya. Pohon tarra sendiri dipilih karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu (ASI), dan menguburkan bayi dalam pohon ini berarti juga mengembalikan bayi ke rahim ibunya.
| No Toraja No Tedong |
Setelah 2 malam 3 hari di Toraja berkeliling dgn menyewa motor sekarang waktunya meninggalkan Tana Toraja yg eksotik menuju Kab. Maros (11 jam).
Taman Hutan Batu Kapur Rammang-Rammang ini hanya satu di Indonesia dan terbesar /terluas ketiga di dunia, setelah yang pertama adalah Taman Hutan Batu Tsingy di Madagaskar dan yang kedua adalah Taman Hutan Batu Yunan yang ada di Cina. Praktis terdapat 2 kompleks taman hutan batu yang berada di kawasan ini, yakni yang berada di bagian utara dan selatan.
Karst (pegunungan kapur) merupakan bentuk bentang alam khas yang terbentuk akibat proses pelarutan suatu kawasan batuan karbonat (batuan mudah terlarut), sehingga menghasilkan bentuk permukaan bumi yang unik dengan ciri exokarst (di atas permukaan) dan indokarst (di bawah permukaan).
Rammang-Rammang menawarkan banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, seperti Telaga Bidadari, Taman Hutan Batu Kapur, Gua Telapak Tangan, Gua Bulu Karaka, Sungai Pute, Telaga Bidadari, dan Kampung Berua. Biasanya, yang paling sering dikunjungi adalah Kampung Berua. Kita bisa ke sana dengan menyewa perahu motor kecil yg disebut Katinting, menyusuri aliran Sungai Pute. Perjalanan dimulai dari Dermaga Rammang-Rammang di hulu Sungai Pute. Harga sewa 1 perahu Rp 200K dapat memuat 4 orang.
![]() |
| Dermaga Rammang Rammang |
Kata Rammang-Rammang berasal dari Bahasa Makassar, yaitu sekumpulan awan atau kabut. Terlihat dari kondisi Rammang-Rammang yang selalu berkabut setiap paginya, bahkan di setiap musim apa pun. Yang membuat Rammang-Rammang terkenal adalah adanya pegunungan karst yang mengitari wilayah ini, baik di sisi darat maupun sungainya. Kondisi lingkungan tersebut membuat pemandangan Rammang-Rammang begitu indah dan eksotik!
Kampung Berua termasuk tempat wisata yang jauh dari keramaian karena jalan masuk satu-satunya ke kampung tersebut hanya melalui Sungai Pute. Satu2nya moda angkutan adalah sampan sejauh 3-5 km, bila berjalan kaki melewati perbukitan sekitar 4 km. Area seluas 30 ha ini hanya ada 15 rumah, dikelilingi gunung karts yg supertakjub. Sampan melewati 2 lorong gunung selebar 3 meter dgn stalagtit yg menggantung. Setiap hari sekitar jam 6 sore, ribuan kelelawar keluar sarangnya dr goa di dinding tebing, saking banyaknya hingga membentuk garis hitam di cakrawala, jadi ingat Batman...keren! selama perjalanan menyusuri Sungai Pute, kita akan menemui gugusan bukit karst, hutan daun nipah, dan tanaman bakau air payau. Di Sungai Pute juga ada rambu-rambu yang mengatur lalu lintas di sungai bak rambu-rambu di darat.
| makan malam di rumah Daeng Beta |
| Gunung Kingkong |
Night in Rammang2, no
tv, radio, signal...hening & damai dlm kegelapan pelukan gunung sekelilng
desa Berua dusun Rammang2
Berada di perkampungan ini rasanya seperti berada di sepotong kecil dari bagian dunia yang hilang. Tidak ada jaringan listrik di kampung ini, energi listrik diperoleh dari panel surya bantuan pemerintah, dan hanya digunakan seperlunya ketika pagi sampai sore hari. Sebagian besar digunakan untuk mengisi baterai aki, sekedar menyalakan beberapa peralatan elektronik sederhana seperti televisi atau radio.
Sebuah kampung yang asri dan damai, ditemani oleh hembusan angin yang sejuk dan ternak sapi peliharaan yang sedang mencari makan milik penduduk setempat, semakin menambah indah suasana di Kampung Berua. Ditambah lagi dengan penduduk yang ramah dan bersahaja membuat kita tak ingin cepat untuk beranjak pergi dari kampung ini.
Rammang-rammang sudah terbentuk sejak lama, sekitar 30 juta tahun lalu. Namun, kawasan ini diperkirakan baru mulai dihuni manusia pada 40 ribu tahun lalu. Jejak manusia pada masa lalu tersebut, hingga kini masih bisa dinikmati oleh para pengunjung melalui tulisan tangan atau simbol-simbol yang ada di dinding gunung.
Lokasi Rammang2 berjarak sekitar 40 km arah utara Kota Makassar, dan bisa ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dari Kota Makassar.
Setelah berjalan selama 21 hari : terbang dari Jakarta ke Borneo (eksplor Kalsel & Kaltim), menyeberangi samudera dengan kapal laut dari Balikpapan menuju Palu, menyusuri Sulawesi Tengah sampai ke Toli-Toli arah Menado dengan minivan, kemudian lanjut naik kapal laut balik ke Palu dan menyusuri Sulawesi tengah overland ...akhirnya sampailah di kota kelahiranku tercinta, Makassar, Sulawesi Selatan!
Kembali menginjak rumah...menemui ibu, perempuan yang selama ini membuat saya selalu rindu untuk pulang..
![]() |
| Ziarah ke makam Bapak di Galesong |
![]() |
| Masjid Amirul Mukminin |
| Fort Rotterdam |
| benda pusaka |
| home sweet home |
| Benteng Somba Opu |
![]() |
| Wedang Sarabba Telur |
| Nasi Kuning |
| Pisang Epe' |
![]() |
| Nyuknyang + Burasa' |
| Ikan Kotak only in Makassar |
| Songkolo' |
| Kue Buroncong |
DHT sirup legend
![]() |
| Phinisi, sunset & Pulau Lae-lae |
| Sunset di Pantai Losari |
16 Oktober 2013 kembali ke tanah perantauan, menemui keluarga kecilku yang selalu mendukung perjalananku.
Solo trip yg menyenangkan, bertemu banyak orang yg baik hatinya, melihat kemegahan Indonesa, mendengar meriahnya corak bahasa, menyaksikan beragam kultur & agama.
Damn ... I Love Indonesia !
![]() |
| Khadijah, ibuku yang selalu kurindukan |
CELEBES UNDERGROUND
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 22, 2019
Rating:


























Mantaps sekali membuat iri hati atas diri yang merdeka bepergian sendiri ke antero bumi pertiwi sambil mengasah Qalbu melalui Tadabur ALAM negeri ini yang bermakna mendalam bagaikan kiasan NYATA Surgawi.
BalasHapusTidak semua DIRI mampu memperjalankan diri berkelana kesana kemari seorang diri menerjang malam siang dengan fasilitas utama ditempuh dengan dua kaki merambah alam yang jarang dimiliki oleh lain DIRI.
Tadabur ALAM dengan mengimplementasikan fungsi diri 7(tujuh) latifah lahiriah mulai dari MAta TElinga Hati Akal Tangan kakI yang di imbangi dengan 7(tujuh) latifah bathiniah_inner beauty : Latiful Akfa_Latiful Nafsun Nathiqa_Latiful Kahfi_Latiful Sirri_Latiful Ruhy_Latiful Kulli Jasad.
Wasyukurillah... kebagian juga memaknai tampilan tampilan foto alam yang dikunjungi.... sebagai pelipur lara😊🤗😀🙌
Terimakasih Guru, sy hanya menjalani keinginan DIRI utk merasakan kehadiran Tuhan di setiap ayunan langkah dlm kesendirian yg sunyi... Komentarnya menjadi penyemangat, terimakasih..
Hapus