INDOCHINA Couples Backpacker Nekad Ep.1
IndoChina Overland
Alhamdulillah... akhirnya mimpi menjadi kenyataan: menjelajah ke 5 negara Indochina (Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura), eksplor 11 kota : Saigon, Pnomh Penh, Siem Reap, Bangkok, Hatyai, Pulau Penang, Kuala Lumpur, Melaka, Singapura, Batam, balik lagi Singapura lalu ke Batam lagi (kayak sterikaan ya..) akhirnya pulang terbang ke Jakarta.
Alhamdulillah... akhirnya mimpi menjadi kenyataan: menjelajah ke 5 negara Indochina (Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura), eksplor 11 kota : Saigon, Pnomh Penh, Siem Reap, Bangkok, Hatyai, Pulau Penang, Kuala Lumpur, Melaka, Singapura, Batam, balik lagi Singapura lalu ke Batam lagi (kayak sterikaan ya..) akhirnya pulang terbang ke Jakarta.
Sebuah upaya dan perencanaan serius santai dgn penggunaan semua moda transportasi : Pesawat Terbang, Sleeper Bus, Tour Bus, Kereta Api, Sky Train, Mini Van,Tuk Tuk, Kapal ferry. Perencanaan yang terbilang ser-san berakibat adrenalin terpacu pada kondisi2 tertentu.
Pengalaman yang sangat menyenangkan meski tak mudah tentu saja, menguras energi dan pikiran serta menguji ketahanan mental...
Pengalaman yang sangat menyenangkan meski tak mudah tentu saja, menguras energi dan pikiran serta menguji ketahanan mental...
09 Januari 2014
Sore sekitar jam 17.00 kami meninggalkan rumah dengan
taxi menuju terminal 3 Bandara Soeta. Saat ingin check in ternyata kami salah terminal. Mestinya T1 bukan T3. Astaga, kami segera naik shuttle bus ke T1. Alhamdulillah konter check in baru dibuka
dan kami adalah penumpang yg check in paling awal.
Sejenak kami istirahat, baring2 meluruskan punggung lalu puas2in mandi. Saya bertanya ke recepsionist di mana masjid terdekat? Dia tak tahu. Dari riset kecil sebelum berangkat ada 3 masjid di Saigon ini. Sayangnya kurang dikenal, maklum minoritas dan ini negara Komunis. Terpaksa saya tidak jumatan, ganti dengan sholat musafir saja. Kami Siap mengeksplor kota Saigon sambil mencari makan siang. Pertanyaannya di mana makan siang yang halalan thoyyiban? Maka untuk keamanan kami hanya membeli 1 roti baugeut isi lalapan saja. Sebetulnya ada pilihan isinya yaitu kornet daging, ikan tuna, telur tapi ngeri2 juga dgn inggredient yg lain. Istriku tak sedikitpun tertarik dgn roti bageut yg keras plus jenis dedaunan yg “aneh” jadi dia makan siang dengan biskuit malkist yg kami bawa dari Jekardah.
Sebelum memasuki gedung utama museum ini, pengunjung bisa
melihat diorama kekejaman dari perang Vietnam yang berada di sisi kiri gedung
museum.
Terlihat di sana, fasilitas penyiksaan bagi para tawanan maupun pengkhianat di masa perang Vietnam, mulai dari tempat pemenggalan kepala, penjara bak kandang macan, tempat penyetruman serta sel penjara yang begitu gelap dan sempit
Berseberangan dengan Notre Dame Cathedral terdapat sebuah taman yang dinamai April 30th Park. Pohon-pohon besar mendominasi taman dengan area rumput dan jalan setapak yg berisi beberapa bangku. April 30th Park menjadi arena penyelenggaraan perayaan di Ho Chi Minh setiap tahun di tanggal yg sama.
Jangan kaget kalau berkunjung ke kuil Cao Dai dan mendapati tokoh-tokoh spiritual berpengaruh dalam sejarah dipuja bersamaan. Mulai dari Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus, Joan D'Arc, Buddha, Lao Tse, Sun Yat Sen hingga Victor Hugo dihormati bersama-sama di kuil ini.
Menurut Atlas Obscura, klenteng dengan arsitektur spektakuler di Tay Ninh, 90 kilometer dari Saigon ini merupakan markas dari gerakan Cao Dai, sebuah kepercayaan yang didirikan pada tahun 1926 dan sempat berkembang pesat di Vietnam.
Cao Dai adalah sebuah kepercayaan universal yang beranggapan kalau tokoh-tokoh spiritual besar dari timur dan barat adalah nabi dari satu kebenaran tunggal yang sama.
Wajar saja jika para tentara
Amerika desperate menghadapi gerilyawan Viet Cong. Lha jebakan
betmen-nya serem banget! Besi-besi tajam berkarat ditanam di bawah tanah dan
siap menghunjam siapa saja yang salah langkah.
Buat kita orang dengan ukuran Asia bis ini nyaman-nyaman aja. Kalo buat bule yang badannya kayak Hulk atau Rambo sih sempit banget. Tinggi saya sekitar 170, isteri 156 jadi asyik banget. Kalo kakimu panjang bakal kayak ada dibawah punggung orang yang di depanmu nanti. Susunan duduk, maksutnya, tidurnya satu-satu ada tiga baris dan dua tingkat. Daya tampungnya sekitar 40an orang dan untuk bis yang perjalanannya jauh ada pilihan kamar mandi atau tanpa kamar mandi.
Naik sleeper bus ini bakal lebih murah dibandingkan kita naik kereta. Waktu tempuhnya juga cuma beda dua tiga jam dari kereta. Kami ambil bis jam terakhir atau paling malem. Jadi bisa tidur di bis dan paginya udah sampe di kota Pnom Penh. Lumayan juga selain efisien waktu kita bisa nge-cut cost buat hostel semalem.

Banyak banget bus company yang ngelayanin dari kota manapun ke kota apapun. Biasanya mereka punya kantor di daerah backpacker di kota itu. Jadi gak terlalu ribet nyarinya. Hostel-hostel pun udah pasti punya koneksi dari salah satu dari mereka dan kalo males ribet cari-cari bisa dari hostel aja pesennya. Untuk harga relatif tergantung jarak dan grade company nya, semakin mahal ya semakin bagus. Compare beberapa bus company buat dapet harga yang paling baik.
Menuju Siem Reap :
Perjalanan dari Phnom Penh-Siem Reap sekitar 6 hingga 7 jam menempuh jarak 320 Km. Kondisi minivan cukup bagus (Maklum, harganya cukup mahal dibanding bus. Tapi yang penting ada AC-nya lah ya soalnya panas di Kamboja itu sangat menyengat dan debunya juga ampun-ampunan karena jarang sekali turuh hujan disini). Tapi kalau untuk para backpacker, saya rasa masih sangat enak sekali menempuh perjalanan dengan minivan ini. Dan bukankah setiap satu dolar yang keluar dari kantong kita sangat berharga artinya bukan? Jadi walaupun hanya beda satu-dua dolar, berusahalan untuk memilih yang termurah dan mengenyampingkan “ego kenyamanan” kita. Trust me, di luar negeri kita akan lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang kita walaupun hanya satu dolar, maklum traveler kismin kodong...
Tak lama kemudian Tuk tuk keluar dari jalan utama belok kiri masuk ke jalan kampung yang tak beraspal. Berbatu dan berdebu. Busyeeet. Rasa takut mulai menyelimuti Istriku. Aku berusaha menenangkan. Tuktuk masuk ke halaman sebuah rumah panggung kayu yg besar dengan pepohonan rimbun tak beraturan di sekelilingnya. Munculnya anjing sekitar 8 ekor yg menggonggong dan mengitari tuk tuk menambah suasana mencekam. Sovan turun memanggil petugas homestay. Seorang ibu dgn wajah khas Kamboja keluar menggendong anak kecil. Usia Ibu ini kutaksir sekitar 40 tahun. Homestay ini dikelilingi pepohonan tropis dan bunga-bunga dengan suasana pedesaan yang asli. Rumah ini rupanya milik Mr. Thomas (Perancis) yang beristerikan perempuan tadi, asli Khmer.
Mr Sovan tampak berdialog dengan ibu tersebut lalu Sovan mendekati kami, meminta kami turun sambil mengusir anjing2 yg terus menyalak. Ibu yg ternyata pemilik rumah tsb “memerintahkan” anjing2 tsb pergi, baru deh sedikit terasa plong. Saya pikir kami akan menginap di rumah besar tersebut eh ternyata kami ditunjukkan sebuah ‘paviliun’ berbentuk rumah khas Khmer ukuran 2.5 x 2.5 m yang terletak sekitar 15 meter di samping depan rumah utama yg hanya berisi 1 dipan lengkap dengan kelambunya berwarna pink (kebayang film Suzana) + lampu bohlam 10 Watt agak berdebu krn mungkin jarang ditinggali. Tidak ada toilet/wc...kalo mau ke toilet harus menyeberang ke rumah utama, ooomaigaaad..! SS bin Super Scary !
Sovan berlalu. Kami langsung menutup pintu kayu yg
berderit. Suara mesin tuk tuk makin menjauh sampai akhirnya hilang di telan
kegelapan. Kami merebahkan diri menatap kelambu menembus langit2 kamar beratap
rumbia. Tak perlu saya ceritakan bagaimana kondisi psikis Istriku saat ini.
Scream. Kami membaca semua surah2 yang kami hafal. Tak tahu lagi berapa kali
ayat kursi kami ulang-ulang sampai akhirnya kami tertidur juga.
Handicap kedua muncul lagi. Saat boarding petugas maskapai menanyakan
tiket balik dari Vietnam . saya dan isteri tentu saja tak bisa menunjukkan
karena memang kami belum membeli tiket balik. Rencana perjalanan kami adalah overland,
petualangan dari Vietnam sampai ke Batam
melalui darat!. Karena itu kami tak membeli tiket pesawat pulang lebih dahulu
sebab kami tak bisa memastikan lama perjalanan dan kami akan kembali ke Jakarta melalui penerbangan dari Batam, sesuai
keadaan dan go show saja.
Rupanya aturan antar negara menghendaki seperti itu konon untuk
menghindari TKI illegal. Maka berdebat dengan crew Tiger pun tak dapat dihindari.
Saya diminta untuk membeli tiket. Saya menolak. Saya ke kantor Pengawas Airport minta tolong ke petugas . Ia pun tak mampu memberi
solusi. Ia menyarankan membeli tiket. Panggilan penumpang Tiger untuk segera naik pesawat dari audioline terus bergema, akhirnya..ya sudah terpaksa beli saja. Saya bergegas ke ticketing Tiger Airways, ndilalah konter tiketnya sudah tutup. Baaa!
Waktu terbang semakin mendekat. Penumpang2 check in sdh
naik ke pesawat.
Saya kembali menemui crew. Dengan setelan muka paling
melas sedunia, saya meyakinkan crew bhw kami berdua Backpacker, bukan pekerja illegal tolong bantu kami please... Eh, Crew tsb malah menakut-nakuti kami dengan mengatakan bahwa
setibanya di tujuan, kami dapat ditangkap lalu di karantina semingguan sampai
dideportasi ke tanah air oleh Kedubes
Indonesia. Saya bilang tidak masalah, kalau kami ditangkap itu resiko kami. Kami keukeuh bertahan. Last call penumpang Tiger terdengar “panggilan terakhir penumpang Tiger Airways tujuan Singapore dipersilahkan memasuki pesawat”, Crew boarding tampaknya "menyerah" ia minta kami mengisi formulir surat
pernyataan kesediaan dideportasi dengan biaya tiket ditanggung kami. Tanpa basa basi dengan keyakinan & kepasrahan kepada Allah SWT saya mengisi formulir dan menandatangani pernyataan siap ditangkap dan dideportasi. Belum cukup disitu eh ditanya lagi berapa uang yang
kami bawa dan minta diperlihatkan.
Wadduh ! terpaksa ransel kami bongkar karena
uang dollar yang kami bawa sudah kami selipkan di beberapa bagian termasuk di
dasar ransel...haddeuh kampret!.
Setelah itu barulah boarding pass kami distempel, sementara
pintu pesawat sebentar lagi ditutup. Saya dan isteri berlari-lari kesetanan
menuju gate. Saat tiba di gate menuju ruang tunggu penumpang.
Gotcha ! kami penumpang terakhir masuk pesawat dengan
nafas tersengal-sengal. Semua penumpang serasa melihat kami. Rada malu juga siiih.
Mungkin beberapa penumpang tadi melihat sengitnya saya berdebat dengan crew airline. Berasa dipandangi puluhan mata dengan beragam tafsiran. Buatku itu sih biasa. Hanya satu kata : EGP !
Takkunjunga' bangun turu Na kugunciriki gulingku. kualleanna tallanga na towalia.
(Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai !)
Alhamdulillaaaah.... Jam 20.00 tepat Tiger Airways take
off menuju Singapore yg santer Imigrasinya amat ketat itu. Yaaa Allah tolonglah kami,
jauhkan kami perkara2 yang dapat menyulitkan kami... Aamiin.
Tiba di Singapore sekitar jam 21.30. Keluar ke pelataran penumpang kami tak berani
kemana-mana. Apalagi keluar ke area Imigrasi, kuatir mengundang masalah baru. Sesuai
rencana kami menginap di Changi menunggu penerbangan berikutnya ke Ho Chi Minh
Vietnam Selatan besok pagi. Sesaat kami keliling di area bandara yang luas
banget, muter2 di mall yang hampir tutup dan tentu saja pepotoan di spot2 yg
keren. Setelah capek kami memutuskan
mencari tempat untuk istirahat menunggu subuh. Tengah malam sesekali
polisi berkulit keling berseliweran bikin ngeri juga, takut ditanya-tanya lagi..., Meski
hanya bisa tidur-tidur ayam karena tegang melanda pikiran, perasaan kuatir
dideportasi masih menyelimuti. Malam itu
di Changi berlalu dgn aman. Alhamdulillah Ya Allah...
10 Januari 2014.
VIETNAM, I'M COMING !
Pagi yg
merambat cepat. Changi yang maha luas. Jam 05 seliweran penumpang mulai ramai. Gadget Hp
tanpa paket data, tentu tanpa Google Maps. Dua mahluk nekad lagi linglung dan
bingung : Pesawat yg akan membawa ke Vietnam jam 07.30 di sebelah mana sih?
Saya bertanya ke pak tua petugas cleaning service yg melintas, dia cuma
nyerocos tak keruan dlm bhs inggeris dialek China Melayu yg bikin pusing. Saya
menggandeng tangan isteri sambil berjalan dgn feeling arah yg tepat sambil
mencari orang yang kira2 tepat ditanya agar dapat memberi petunjuk yg benar.
Sebab bertanya ke Google adalah sia-sia hehehe. Waktu makin siang bertanyalah
saya pada seorang wanita peranakan petugas Airlines yg berpapasan di depan
sebuah boutique. Info yang diberikan membuat kami kejat-kejut. Gate transit
Tiger ternyata masih jauh dari tempat kami turun semalam sementara jam sdh
menunjukkan pukul 07.10 kurang dari 20 menit pesawat akan tinggal landas. Maka ..RUN ! dari Gate 7 kami berlari-larian sepanjang koridor bandara melalui gate demi gate
menuju Gate 34..huft!Gilak!
Tiba di ruang tunggu
transit, penumpang sudah antri melewati desk imigrasi yg ditunggui staf pria keturunan Tamil dgn kulit gelap / keling berwajah datar. Kembali hidupku terasa sempit, darah terpacu adrenalin
meningkat. Kutenangkan isteriku, ayo santai...tarik nafas pelaaaan..buang. Keep
smiling jgn berhenti dzikir khofi (dalam hati). Saat petugas memeriksa passport
kupasang senyum yang paling manis. Ia memintaku membuka topi. Ooopss ! cari
gara2 nih saya.. setelah melihatku dgn pandangan menyidik ia mengangkat stempel lalu, mataku mengikuti arah tangannya seperti slow motion ....choopp! leganya gilak!. Saya
lewat. Sesaat kemudian isteriku juga melewati pemeriksaan tanpa hambatan yg
berarti. Isteriku bilang perutnya mual,
pengin muntah.... keep calm, lanjut backpacking Babes!.
Jam 07.40 pesawat Tiger Airways lepas landas meninggalkan
Singapore. Sesaat santai duduk di pesawat namun kecemasan belum berakhir. Satu
bandara lagi yang harus kami lewati negara komunis pula. Terbayang wajah
petugas imigrasi bermata sipit dgn wajah pucat putih tanpa senyum.
Sekitar jam 09.00 waktu setempat pesawat landing di Tanh
Son Nat International Airport. Antri di depan desk imigrasi kembali memicu
adrenalin, bikin jantung berdebar. Seperti dugaan petugas imigrasi berwajah
dingin pucat memeriksa satu demi satu penumpang dengan detil. Saya di depan
isteri agar bila terjadi sesuatu yg tak diinginkan isteri tahu dan bila terjadi
kendala imigrasi dgn isteri saya bisa membantu.
Saat di depan petugas kembali saya harus menunjukkan
wajah Indonesia dgn keramahan tingkat tinggi, tentu dgn salam pendahuluan “Good
morning, Sir..” sok akrab. Wajah tirus pucat kaku itu sedikitpun tak senyum.
Malah nanya “Dalam rangka apa ke Vietnam?” kujawab sambil melirik isteriku yg
tampak pucat “traveling...we both traveller” ditambah sedikit gombal “visiting
Vietnam is our dream coz we are interested in war tourism”.
Dalam hati ... Ya Allah janganlah sampai ia menanyakan
tiket return. Bisa masalah besar. Tolonglah kami ya Allaaaah...
Ketika petugas imigrasi mengangkat tangannya yg memegang
cap stempel imigrasi saya seperti melihat adegan slowmotion lagi, perlahan-lahan lengannya
turun dan....Choops! stempel itu mendarat di halaman passport. Wuih leganya.
Isteri pun lewat tanpa kesulitan yg berarti meski kembali ia ingin muntah karena ketegangan yang melanda. Saat keluar dari Imigrasi kubilang "kayak di pilem petualangan yak". Emang ini petualangan yang sesungguhnya..
Chà o mừng bạn đến Saigon ! Selamat datang di Saigon !
Segera kami menuju konter money changer menukar dollar
dgn mata uang Dong Vietnam.
Keluar dari bandara kami menuju outlet Burger King untuk
membeli Air Mineral. Ketegangan membuat kami haus banget, bangeeet gilak!.
Kami kemudian naik bis No 152 menuju kota Saigon. SaiGon adalah
kota besar di Vietnam yang menjadi pusat ekonomi. SaiGon juga dikenal
dengan sebutan Ho
Chi Minh City – diambil dari nama seorang pahlawan
yang berjasa dalam memerdekakan Vietnam dan membuat dunia menoleh ke negara
yang selama ini kenyang dijajah.
Jalan-jalan di SaiGon cukup menyenangkan. Banyak pilihan
untuk wisata kuliner, menikmati kopi Vietnam yang terkenal, mengamati
bukti-bukti sejarah dan menggagumi kebudayaannya termasuk hasil kerajinan dan
karya seninya.
Wisatawan yang datang ke Vietnam biasanya memulai
perjalanannya di kota SaiGon. Mereka yang kebanyakan berasal dari ranah Eropa,
begitu menikmati suasana negara yang kental dengan pengaruh budaya Perancis –
selain pengaruh dari Amerika yang sangat terasa di kota yang terletak di
Selatan Vietnam ini. Pengaruh budaya Perancis dan Amerika tidak hanya terlihat
dari keragaman kuliner di kota ini, tetapi juga pada karya-karya handycraft,
souvenir dan juga karya seni lainnya yang tersedia sebagai pilihan berbelanja.
Berbekal tourist map kami turun di halte Benh Thanh
Market kemudian berjalan kaki menuju Pham Ngu Lao Distric 1, yang dikenal
sebagai Backpacker Zone. Tak begitu sulit menemukan Backpacking Hostel yg kami
pesan di Booking.com . Kami menurunkan ransel di beranda lalu check in. Setelah
selesai kami menuju kamar kami di lantai
2, dengan WC/kamar mandi di dalam.
Sejenak kami istirahat, baring2 meluruskan punggung lalu puas2in mandi. Saya bertanya ke recepsionist di mana masjid terdekat? Dia tak tahu. Dari riset kecil sebelum berangkat ada 3 masjid di Saigon ini. Sayangnya kurang dikenal, maklum minoritas dan ini negara Komunis. Terpaksa saya tidak jumatan, ganti dengan sholat musafir saja. Kami Siap mengeksplor kota Saigon sambil mencari makan siang. Pertanyaannya di mana makan siang yang halalan thoyyiban? Maka untuk keamanan kami hanya membeli 1 roti baugeut isi lalapan saja. Sebetulnya ada pilihan isinya yaitu kornet daging, ikan tuna, telur tapi ngeri2 juga dgn inggredient yg lain. Istriku tak sedikitpun tertarik dgn roti bageut yg keras plus jenis dedaunan yg “aneh” jadi dia makan siang dengan biskuit malkist yg kami bawa dari Jekardah.
Membeli paket 1 Day Tour ke Chuci Tunnel, Kuil Chao Dai,
berangkat besok pagi pulang maghrib karena lokasinya cukup jauh.
- Membeli tiket sleeper bus tujuan Siem Reap Cambodia.
- City tour dgn jalan kaki menuju :
Ben Tanh Market :
Tempat wisata yang satu ini merupakan kawasan pasar yang
ada di Ho Chi Minh City. Pasar ini merupakan pasar terbesar dan tertua yang ada
sejak abad ke-17 di Saigon dengan nama lokalnya Cho Ben Thanh. Pasar ini
terletak di District 1 dengan ciri khas yang dimilikinya, yaitu Clock
Tower di bagian pintu masuk. Tempat ini sangat cocok untuk berbelanja
oleh-oleh dan berwisata kuliner makanan khas Vietnam. Sehingga tak heran
apabila kebanyakan para wisatawan yang datang ke pasar ini biasanya berburu
handicraft lokal, tekstil, souvenir, dan kuliner lokal. Karena sistemnya
merupakan pasar, maka pembeli bebas melakukan tawar-menawar harga dengan
penjual.
Selain itu, di sebelah pasar ini juga terdapat beberapa
toko yang merupakan toko milik Ben Thanh Group, di mana terkenal lebih murah
harga barang-barangnya jika dibandingkan dengan yang ada di pasar. Bagi
turis yang tidak bisa berbahasa lokal, jangan khawatir karena sebagian penjual
di pasar ini juga menguasai bahasa bahasa Inggris dan Melayu Malaysia. Beberapa
oleh-oleh yang terkenal dan biasanya dibawa pulang oleh para wisatawan ialah
kopi dan manisan buah khas Vietnam.
War Remnant Museum :
Museum ini masih menjadi favorit turis asing untuk
mengenal dan melihat sejarah kelamnya Perang Vietnam. Bertempat di bekas gedung
administrasi Amerika, War Remnants Museum berisi pameran yang dirancang untuk
menunjukkan dampak dari Perang Vietnam bagi penduduknya.
Museum ini dibuka beberapa bulan setelah perang berakhir. Dulunya bernama sebagai Museum AS dan Puppet War Crimes. Tujuan utama dari museum ini adalah untuk menunjukkan kengerian perang.
Museum ini dibuka beberapa bulan setelah perang berakhir. Dulunya bernama sebagai Museum AS dan Puppet War Crimes. Tujuan utama dari museum ini adalah untuk menunjukkan kengerian perang.
Di halaman depan museum ini berjejer pesawat perang, helikopter, kendaraan tank
milik AS yang digunakan saat perang Vietnam. Tak lupa keterangan yang bisa
dibaca pengunjungdisetiap kendaraan perang tersebut.
Pengunjung juga diperbolehkan untuk mengambil gambar ataupun berfoto di depan
kendaraan dari batas yang telah ditentukan. Untungnya, museum ini dikelilingi
pohon-pohon rindang cukup melindungi pengunjung yang datang dari sengatan
matahari.
Terlihat di sana, fasilitas penyiksaan bagi para tawanan maupun pengkhianat di masa perang Vietnam, mulai dari tempat pemenggalan kepala, penjara bak kandang macan, tempat penyetruman serta sel penjara yang begitu gelap dan sempit
Yang tak kalah menarik di museum ini adalah foto-foto
dari korban Agent Orange. Agent Orange merupakan sebutan yang diberikan
untuk zat kimia herbisida dan defolian yang digunakan oleh Militer
Amerika Serikat selama Perang Vietnam.
Dalam peperangan tersebut, Agent Orange digunakan dengan maksud untuk menghancurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan sebagai tempat persembunyian musuh.
Dalam peperangan tersebut, Agent Orange digunakan dengan maksud untuk menghancurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan sebagai tempat persembunyian musuh.
Selama perang Vietnam pada tahun 1957-1975 silam, militer
AS menyemprotkan 80 juta liter cairan Agent Orange dengan menggunakan pesawat
di wilayah selatan Vietnam. Cairan kimia ini berdampak buruk bagi
manusia.
Tidak hanya manusia yang hidup saat itu tapi juga para keturunannya yang hidup pada masa kini di wilayah tersebut. Sebagian besar menderita kelainan genetik.
Foto-foto Agent Orange kembali mengingatkan pengunjung betapa buruk dan sengsaranya peperangan. Selain memakan banyak korban juga menimbulkan luka yang mendalam bagi korban.
Tidak hanya manusia yang hidup saat itu tapi juga para keturunannya yang hidup pada masa kini di wilayah tersebut. Sebagian besar menderita kelainan genetik.
Foto-foto Agent Orange kembali mengingatkan pengunjung betapa buruk dan sengsaranya peperangan. Selain memakan banyak korban juga menimbulkan luka yang mendalam bagi korban.
Central Post Office :
Bangunan ini merupakan peninggalan sejarah yang dibangun
pada akhir abad ke-19, di mana pada saat itu Vietnam masih menjadi bagian dari
French Indo-China. Central Post Office ini terletak di pusat kota Saigon dan
berdekatan dengan Saigon Notre-Dame Basilica. Hal yang bisa dijumpai
apabila berkunjung ke tempat ini ialah dua buah lukisan besar yang sudah tidak
asing lagi bagi orang Vietnam, khususnya penduduk Saigon, yaitu lukisan peta
Vietnam Selatan dan Kamboja dengan judul Lignes telegraphiques du Sud Vietnam
et Cambodge 1892 (Telegraphic lines of Southern Vietnam and Cambodia 1892)
dan lukisan peta kota Saigon dengan judul Saigon et ses environs
1892 (Sai Gon and its environment 1892). Fungsi utamanya pun sama dengan
kantor pos pada umumnya, yaitu untuk mengirim surat dan berbagai barang-barang
atau paket.
| Ubin klasik original |
Gedung ini dirancang dengan gaya Gothic oleh Gustave
Eiffel, yang juga merupakan arsitek terkenal perancang Menara Eiffel di Paris,
Perancis. Kantor pos ini masih berfungsi sampai sekarang, di mana begitu Anda
masuk ke dalam gedung ini akan langsung disuguhkan dengan lukisan Ho Chi Minh
yang terpampang di tengah dinding bagian dalam bangunan. Di samping itu, ada
juga toko yang menjual berbagai macam cendera mata, money charger, dan
barang-barang khas Vietnam dan Saigon lainnya yang unik.
Ho Chi Minh City Hall :
Sebutan singkat untuk tempat yang satu ini ialah City
Hall. Bangunan ini awalnya bernama Hotel de Ville Saigon. City Hall dibangun
pada tahun 1902 hingga 1908 pada masa penjajahan French Colonial. Yang menarik
di tempat ini ialah lampu-lampu di bagian luar gedung yang dinyalakan pada
malam hari sehingga mampu memberikan iluminasi cahaya yang unik. Sedangkan
untuk bagian dalamnya sendiri tidak dibuka untuk public, jadi kita hanya bisa
menikmati bagian luarnya saja.
Selain itu, pengunjung yang datang biasanya menikmati
bagian taman dan patung Uncle Ho di sekitar bangunan utama. City Hall
sendiri terletak di ujung Nguyen Hue Street (Le Thanh Ton Street), di mana bisa
dikunjungi setiap harinya.

Cathedral Notredame :
Basilika Notre-Dame Saigon yang secara resmi
bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata adalah sebuah katedral yang
terletak di pusat kota Ho Chi Minh City.
Dibangun oleh kolonialis Perancis, katedral tersebut dibangun antara 1863 dan 1880.
Gereja tersebut memiliki dua menara lonceng, yang memiliki tinggi 58 meter
(190 kaki).
Setelah penaklukan Perancis atas Indochina dan Saigon, Gereja Katholik Roma mendirikan
sebuah komunitas dan pelayanan keagamaan untuk para kolonialis Perancis. Gereja
pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc pada
masa sekarang. Gereja tersebut merupakan sebuah pagoda Vietnam yang diubah pada
masa perang. Uskup Lefevre yang memutuskan untuk membuat pagoda tersebut
menjadi sebuah gereja.
Pada 1960, Paus Yohanes XXIII mendirikan keuskupan Katolik
Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Hue dan Saigon Katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus
Yohanes XXIII memberikannya status basilika. Pada masa tersebut, katedral ini
disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon.
Berseberangan dengan Notre Dame Cathedral terdapat sebuah taman yang dinamai April 30th Park. Pohon-pohon besar mendominasi taman dengan area rumput dan jalan setapak yg berisi beberapa bangku. April 30th Park menjadi arena penyelenggaraan perayaan di Ho Chi Minh setiap tahun di tanggal yg sama.
Banyak yang bisa dilakukan di taman ini, yang biasanya
jadi ajang tempat berkumpul pelajar. Entah untuk belajar kelompok atau sekedar
ngerumpi waktu sore hari. Main gitar, untuk lokasi foto, dan tempat cuci mata
yang murah meriah. Di sekitar taman juga ada beberapa kedai kopi yang layak
dikunjung
Taman kota di Ho Chi Minh banyak yang tidak langsung
menyatu dalam satu kawasan. Biasanya terdapat jalan besar yang membelah taman
dan membagi menjadi dua hingga empat taman kecil. Seperti di taman ini yang
desainnya berada di pusat sejarah kolonial Ho Chi Minh. Jalanan utama yang
ramai di antara taman-taman penuh pohon. Selain jadi tempat santai, manfaat
lainnya sebagai paru-paru kota.
ReUnification Palace :
Reunification Palace ini juga dikenal dengan nama
Independence Palace, yaitu sebuah bangunan yang dulunya merupakan istana
kepresidenan Negara Vietnam Selatan sebelum bersatu pada tahun 1975. Istana ini
dibangun pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1966, yang mana merupakan hasil
karya arsitek Ngo Viet Thu dengan gaya arsitektur yang memadukan gaya modern
dan tradisional Vietnam. Istana ini terletak di 135 Nam Ky Khoi Nghia Street.
Selain itu, salah satu benda yang bisa Anda jumpai di
sini adalah replika tank yang dipamerkan di pintu gerbang. Yang mana, replica
tank tersebut meniru tank yang dulunya dikendalikan oleh tentara Vietnam Utara
menabrak pintu gerbang istana pada akhir Perang Vietnam atau Fall of Saigon di
tahun 1975. Istana ini dapat Anda kunjungi setiap harinya mulai pukul
07.30-16.00 waktu setempat dengan tiket seharga 30.000 Dong. Bangunan ini juga
merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu bersatu
Vietnam, yaitu antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, atau hari kemenangan
komunis Vietnam melawan Amerika Serikat
Istana ini sangat luas yaitu 12 hektar. Di dalamnya kita
dapat melihat ruang pertemuan, ruang peta, ruang perpustakaan, mini teater, dan
masih banyak lagi. Di gedung ini tidak berpendingin udara, dan tidak ada lift
atau eskalator, jadi siapkan energi ekstra, karena gedung ini cukup luas dan
memiliki beberapa lantai untuk dijelajahi.
Lebih setengah hari kami jalan kaki hanya ngemil malkist
dan jajan minuman ice buble di depan sebuah sekolahan, layaknya di Indonesia
beragam rupa makanan di jajakan abang2 di sepeda dan gerobak : sosis bakar,
baso, gorengan dsb, umumnya pake babi.
Good morning Saigon
Di depan sekolah dekat museum perang gue beli es buble sm
abang2 bersepeda . Gue tanya abangnya "bang gue mau pulang ke Pham Ngu Lao, masih jauh gak? " dia geleng2 ga ngerti trus nanya abang tukang sate
sosis sebelahnya, jg sama bingungnya. Gue nanya pake bhs Makassar, krn gue
yakin pake bhs inggris tanpa cela pun mereka ga paham , apalagi bhs inggris
gue ancur gempa bumi..... , . Aku bilang coba kamu pake bahasa Palembangmu atau Komering.. bini gue sampe tersedak ngakak mau tumpah es bublenya. Kupikir makassar bisa tonji? Ternyata NDAK TONJI!
Jam 21.00 dalam perjalanan kembali ke hostel kami
melewati beberapa jajanan K-5 alias street food di depan ruko-ruko. Perut kami
lapar banget. Kami berhenti di depan gerobak yg menjual seperti martabak,
sesaat kami amati bahannya tidak menggunakan daging, hanya tofu, telor lalu
diberi topping dedaunan aneh dan irisan lobak asinan . Ngantri yg pesan. Saya tanya
kehalalannya, tampaknya percuma, mbaknya cuma menggeleng tak mengerti.. ya
sudahlah cacing2 di perut ini sudah memberontak, saya pesan 1 porsi namanya Bot
Chien. Bismillah saja...
Soal rasa haddeuuh gimana ya jelasinnya, tidak akrab di
lidah. Seporsi Bot Chien kami nikmati berdua. Lumayan bikin lapar kami sirna. Di
depan hostel kami menikmati es kopi Vietnam yg terkenal (ca phe Sua Da), santai
menghabiskan malam bersama backpacker dari mancanegara...
11 Januari 2014
Jam 05.00 kami dibangunkan room boy sesuai request kami.
Sholat subuh lanjut mandi bersiap menikmati 1 day tour wisata perang Vietnam.
Jam 06.30 menu breakfast dari hostel sudah tersedia berupa
Banh Mi sandwich ala Vietnam yang sangat
terkenal. Dikemas rapih dengan roti baguette yang renyah dan diisi berbagai
macam isian sesuai selera. Untuk stabilitas kehalalan saya mengisinya cukup dgn
irisan wortel + lobak + daun seperti selada + Omelet + Pisang Cavendis + hot kopi Vietnam (ca phe Nom) ....Nikmatnya Juara!
Tak lama berselang kami dijemput oleh petugas travel
dengan tour bus yang akan membawa kami ke masa perang Vietnam dengan Amerika. Mudah2an bisa bertemu Rambo.
Dalam per jalanan menuju tempat ini tak begitu banyak hal
yang menarik, tetapi tour guide membawa kami singgah di workshop pembuatan
kerajinan tangan khas Vietnam yang dikerjakan oleh orang-orang handicapped atau
yang memiliki cacat tubuh. Menurut tour guide kami beberapa dari mereka
merupakan korban dari perang Vietnam.
Jangan kaget kalau berkunjung ke kuil Cao Dai dan mendapati tokoh-tokoh spiritual berpengaruh dalam sejarah dipuja bersamaan. Mulai dari Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus, Joan D'Arc, Buddha, Lao Tse, Sun Yat Sen hingga Victor Hugo dihormati bersama-sama di kuil ini.
Menurut Atlas Obscura, klenteng dengan arsitektur spektakuler di Tay Ninh, 90 kilometer dari Saigon ini merupakan markas dari gerakan Cao Dai, sebuah kepercayaan yang didirikan pada tahun 1926 dan sempat berkembang pesat di Vietnam.
Cao Dai adalah sebuah kepercayaan universal yang beranggapan kalau tokoh-tokoh spiritual besar dari timur dan barat adalah nabi dari satu kebenaran tunggal yang sama.
Ritual peribadatannya pun lain dari yang lain. Saat
upacara keagamaan berlangsung, para jemaat dengan baju ala biksu berwarna-warni
menyanyikan lagu-lagu pujian dalam formasi layaknya umat muslim yang sedang
bersembahyang di masjid. Dulu Cao Dai merupakan kepercayaan dengan pemeluk
berjumlah besar di Vietnam. Dan kuil di Tay Ninh tersebut menjadi pusat
keagamaan. Tetapi rezim komunis kemudian membatasi geraknya. Hingga akhirnya
kuil Cao Dai kini sekadar menjadi objek wisata sekaligus tempat peribadatan
sejumlah kecil pengikut Cao Dai yang masih tersisa.

Dari segi arsitektur, bangunan kuil ini memang unik. Desainnya merupakan perpaduan antara masjid dan klenteng, dengan warna-warni cerah dan ukiran rumit ala istana zaman kuno.
Dari segi arsitektur, bangunan kuil ini memang unik. Desainnya merupakan perpaduan antara masjid dan klenteng, dengan warna-warni cerah dan ukiran rumit ala istana zaman kuno.
Di pintu masuk, terdapat lukisan penyair Vietnam Nguyen
Binh Khiem, Sun Yat Sen, dan novelis Victor Hugo "menerima
wahyu dari Tuhan", kata guide.
Cu Chi Tunnel :
Good evening Vietnam, im going to Cu Chi tunnel: used to be a bitter
battleground for many years during The Vietnam War. Over 200 km of tunnels @
Ben Dinh 60 km from HCMC.(facebook 11 Januari 2014)
Deretan pohon karet berjajar rapi di sepanjang jalan.
Selintas, beberapa penyadap terlihat sedang asyik berjalan diantara pepohonan
untuk mengambil getah karet yang sudah terkumpul di wadah. Saya buka jendela
bus sebelah kiri. Angin segar masuk, membaur dengan dinginnya semprotan air
conditioner.
“Kita sudah hampir sampai.” Seru Mr. Nguyen, yang
duduk di kursi depan. Dia adalah guide lokal dari Vinaday.comTravel.
Benar saja, bus lalu berbelok ke kanan, memasuki area
parkir luas yang sudah dipenuhi bus pariwisata dan mobil-mobil yang mengantar
para wisatawan. Kebanyakan dari mancanegara.
“Selamat datang ke Cu Chi Tunnel, Kita wisata sejarah
hari ini. Oke?” sapanya ceria.
“Di kawasan inilah pernah terjadi pertempuran bersejarah
antara Viet Cong melawan tentara Amerika pada sekitar tahun 1955-1975. Sepanjang
sejarah Amerika, baru pada perang Vietnam inilah mereka mengalami kekalahan.” Guide
mengawali ceritanya.
Kami berjalan memasuki lorong panjang
seperti underpass. Lembab. Disini saya mulai merasakan aura yang berbeda.
Langkah demi langkah membuat adrenalin saya mulai terpacu. Rasa penasaran
semakin menjadi ketika saya melihat rumah-rumahan beratap rumbia sebagai
penutup pintu masuk terowongan-terowongan yang ada di bawah tanah.
“Itu salah satu pintu masuk terowongan. Dibawah tanah yang sedang kita injak ini, ada ratusan labirin yang mengular panjang. Bukan hanya di komplek hutan ini, tapi sampai kampung-kampung tetangga. Konon panjangnya mencapai 250 KM. Di dalam ada 3 tingkatan terowongan, ruangan untuk makan, rapat, tidur, bahkan untuk berkelahi pun ada.”
“Itu salah satu pintu masuk terowongan. Dibawah tanah yang sedang kita injak ini, ada ratusan labirin yang mengular panjang. Bukan hanya di komplek hutan ini, tapi sampai kampung-kampung tetangga. Konon panjangnya mencapai 250 KM. Di dalam ada 3 tingkatan terowongan, ruangan untuk makan, rapat, tidur, bahkan untuk berkelahi pun ada.”
Saya cuma bisa melongo mendengar penjelasan Mr. Nguyen.
Tidak terbayang bagaimana proses pembuatan terowongannya, perang gerilyanya,
hingga cara hidup di bawah tanah masyarakat Vietnam yang kala itu sedang
dibawah tekanan tentara musuh. Sekilas kawasan ini hanya seperti hutan biasa,
namun ternyata Cu Chi Tunnel adalah simbol kebanggaan perjuangan revolusi
rakyat Vietnam.
“How do they breathe?” tanya saya kepo.
Membayangkan saja sudah megap-megap.
“Come here!”
Dia mengajak saya maju beberapa langkah menyusuri jalan
setapak diantara lebatnya pepohonan.
“Kamu lihat gundukan tanah ini? Ya, inilah ventilasinya.
Fresh air flew through this hole.”
Saya manggut-manggut sambil membayangkan kalau tiba-tiba
saja ular kobra masuk ke lubang-lubang ventilasi tersebut. Apa jadinya
orang-orang yang hidup di dalam coba?
“Ketika perang, kawasan ini termasuk free shoots. Siapa
saja boleh ditembak, termasuk wanita dan anak-anak. Tentara Amerika juga
menyerbu Cu Chi Tunnel menggunakan tank, dan menghujani kawasan Cu Chi dengan
bom. Tapi gerilyawan Viet Cong tak kalah akal. Mereka juga memasang berbagai
macam jebakan mematikan.
| Mencari Rambo ? |
Cu Chi Tunnel dibagi menjadi 2 area yaitu Ben Duoc Tunnel
dan Ben Dinh Tunnel. Disini kita juga bisa mencoba latihan menembak dengan
peluru tajam, belanja aneka souvenir, melihat pembuatan rice paper, minuman
tradisional dan blusukan ke terowongan bawah tanah seperti yang kami lakukan
berikut ini:
Lepas maghrib kami sampai kembali ke SaiGon. Jalan macet
beriringan hujan rintik. Kami segera bergegas masuk hostel untuk berkemas.
Malam ini kami akan melanjutkan petualangan ke Pnom Penh dengan sleeper bus.
Setelah mandi kami keluar. Dekat penginapan kami ada satu
taman kota yang cukup luas, namanya September 23 Park.
Lokasinya di Jalan Pham Lao Distrik 1 Ho Chi Minh City.
Taman ini sangat strategis karena dikelilingi kawasan backpacker, dekat dengan
Ben Thanh Market dan Quch Thi Trang Square, salah satu pusat perbelanjaan di Ho
Chi Minh.
Sekarang ini September 23 Park menjadi salah satu taman
yang paling sering dikunjungi saking luas dan banyak fasilitas umum yang
tersedia di sana. Sejarah sebelumnya, tempat ini jadi stasiun kereta api dari abad ke-19. setelah 1975, stasiun dihancurkan dan dipindahkan ke distrik
3. Sebagian tanah dibangun kembali menjadi taman dan sisanya dikelola menjadi
pusat turis De Tham Pham Ngu Lao, area backpacker yang juga jadi tempat kami
menginap.
Taman yang bentuknya memanjang ini dimanfaatkan sebagai
pusat kebugaran. Senam dan kegiatan olahraga untuk manula dilakukan setiap
pagi. Mereka melakukan secara berkelompok dan tersebar di beberapa area taman.
Di bagian terluar dilengkapi alat fitnes permanen, yang bisa digunakan siapa
saja. Nggak sebagus seperti alat fitnes di pusat kebugaran, tapi cukuplah untuk
membantu mengolah tubuh dengan gerakan-gerakan tertentu.
Olahraga lain yang populer yaitu foot shuttlecock game
atau orang lokal menyebutnya Da Cau. Olahraga asli dari Tiongkok tepatnya
daerah Jianzi, yang terbawa ketika migrasi ke daratan Indochina. Foot
Shuttlecok game ini merupakan permainan kuno di China sejak 2000 tahun, zaman
pemerintahan dinasti Han.
Area lainnya sangat multifungsi, bisa digunakan untuk
jalur lari atau sekedar tempat kumpul dan meeting point. Banyak tempat duduk
bertebaran yang disediakan. Berbeda seperti di Indonesia, taman yang cukup luas
ini minim pedagang asongan, terutama makanan. Pedagang kaki lima biasanya
menjual mainan atau sekedar air minum. Tempatnya juga bersih dan tertata rapi.
Ho Chi Minh City benar-benar memberikan ruang publik yang memadai dan memiliki
standar bagus.
![]() |
| Wanita bermain Da Cau |
Pas malam hari aktivitas olahraga juga tidak berhenti.
Mereka biasanya latihan main Da Cau yang sudah menjadi olahraga nasional di
Vietnam. Da Cau dimainkan oleh siapa saja dan dari kalangan mana saja.
Permainan dilakukan satu lawan satu, kalau yang sudah jago bisa dengan
satu lawan dua. Main pakai kaki dengan menendang shuttlecock yang
diarahkan ke lawan. Bolanya beda dengan shuttlecock untuk bulutangkis, meski
sama-sama menggunakan bulu binatang.
Permainan ini seru karena nggak cuma laki-laki yang bisa
melakukannya. Bahkan pertandingan amatir yang saya lihat. Ada seorang ibu
melawan dua orang dan memenangkan permainan.
Saat duduk2 seorang Bapak tua penjual kopi keliling menggunakan baju khas Vietnam berpeci spt jamaah tabligh mendekati kami dan menyapa dalam bhs Vietnam. Saya menerka dia berkata “anda Muslim?” sambil menunjuk isteri saya yg mengenakan hijab. Beliau mengatakan bahwa dia seorang “Museleman”. Wah kami senang sekali. Saya pesan kopi es nya sambil ngobrol gak karuan dlm bahasa Tarzan. Saya gak mengerti. Beliau pun tak mengerti. Namun kami yakin secara ruhaniah hati terpaut iman Islam, damai rasanya...
Saat duduk2 seorang Bapak tua penjual kopi keliling menggunakan baju khas Vietnam berpeci spt jamaah tabligh mendekati kami dan menyapa dalam bhs Vietnam. Saya menerka dia berkata “anda Muslim?” sambil menunjuk isteri saya yg mengenakan hijab. Beliau mengatakan bahwa dia seorang “Museleman”. Wah kami senang sekali. Saya pesan kopi es nya sambil ngobrol gak karuan dlm bahasa Tarzan. Saya gak mengerti. Beliau pun tak mengerti. Namun kami yakin secara ruhaniah hati terpaut iman Islam, damai rasanya...
Sekitar jam 21.00 sleeper bus yang akan kami tumpangi sdh
di parkir di depan kantor travel tak jauh dari hostel kami. Kamipun bersiap
meninggalkan SaiGon.
Tuhan memberikan kemampuan bagi setiap manusia untuk berkomunikasi dalam bhs universal... bahasa tarzan!
Bis ini unik banget karena baru saya lihat di Vietnam.
Seperti namanya, Bus ini emang dirancang buat kita bisa tidur dalam bis untuk
perjalanan jauh. Dari luar sih kayak bis biasa aja, tapi dalemnya bukan kursi
yang berjejer tapi kayak kasur (yang gak lurus total sebenernya). Jadi selama
perjalanan kita gak bisa duduk tapi cuma bisa selonjoran.
Buat kita orang dengan ukuran Asia bis ini nyaman-nyaman aja. Kalo buat bule yang badannya kayak Hulk atau Rambo sih sempit banget. Tinggi saya sekitar 170, isteri 156 jadi asyik banget. Kalo kakimu panjang bakal kayak ada dibawah punggung orang yang di depanmu nanti. Susunan duduk, maksutnya, tidurnya satu-satu ada tiga baris dan dua tingkat. Daya tampungnya sekitar 40an orang dan untuk bis yang perjalanannya jauh ada pilihan kamar mandi atau tanpa kamar mandi.
Naik sleeper bus ini bakal lebih murah dibandingkan kita naik kereta. Waktu tempuhnya juga cuma beda dua tiga jam dari kereta. Kami ambil bis jam terakhir atau paling malem. Jadi bisa tidur di bis dan paginya udah sampe di kota Pnom Penh. Lumayan juga selain efisien waktu kita bisa nge-cut cost buat hostel semalem.

Banyak banget bus company yang ngelayanin dari kota manapun ke kota apapun. Biasanya mereka punya kantor di daerah backpacker di kota itu. Jadi gak terlalu ribet nyarinya. Hostel-hostel pun udah pasti punya koneksi dari salah satu dari mereka dan kalo males ribet cari-cari bisa dari hostel aja pesennya. Untuk harga relatif tergantung jarak dan grade company nya, semakin mahal ya semakin bagus. Compare beberapa bus company buat dapet harga yang paling baik.
12 Januari 2014
Tiba2 terdengar hiruk pikuk. Kami dibangunkan oleh awak
bus. Tau-tau di luar sdh terang sekitar jam 6 pagi. Rupanya kami sdh sampai di
perbatasan Vietnam dan Kamboja. Semalam hujan sangat deras, kami tertidur lelap
apalagi AC bis dingin betul. Setelah pemeriksaan di desk imigrasi Kamboja kami
kembali naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari border line bus
berhenti di rest area yg sangat sederhana, mirip penghentian bus antar kota di
Sumatera.
Sekitar jam 8 bus sampai di tepi sungai Delta Mekong, bus
naik ke kapal ferri untuk menyeberang ke kota Pnom Penh.
Sekitar jam 09 pagi kami tiba di tengah kota Pnom Penh dan turun di pool bus. Anyway, tidak ada perjalanan malam untuk bus jurusan Phnom Penh-Siem Reap ini. Jadi kita tidak bisa menggunakan salah satu prinsip backpacker yang menggabungkan pengeluaran transportasi dan penginapan menjadi satu.
Sekitar jam 09 pagi kami tiba di tengah kota Pnom Penh dan turun di pool bus. Anyway, tidak ada perjalanan malam untuk bus jurusan Phnom Penh-Siem Reap ini. Jadi kita tidak bisa menggunakan salah satu prinsip backpacker yang menggabungkan pengeluaran transportasi dan penginapan menjadi satu.
Kami langsung mencari tiket Minivan Hi-ace ke Siem Reap di
beberapa travel agent di sepanjang street 178. Harga HiAce paling murah dari Phnom Penh ke
Siem Reap itu $7/orang. Tapi ini jarang banget ada travel yang bisa ngasih harga
segitu. sampai di ujung jalan yang di depannya adalah sungai Mekong,
di depan café … (maaf saya lupa namanya) ada satu kios yang namanya Mobile
Travel. Nah, kios inilah yang menjual tiket ke beberapa kota tujuan di Kamboja
dengan harga yang kompetitif. Setelah memiliki tiket Minivan yg akan berangkat
jam 13.00.
Kami hanya punya waktu sekitar 4 jam di kota ini hingga
tak mungkin mengeksplore kota ini lebih
lama. Kami menyewa/charter Tuk tuk yang nongkrong di depan kios travel agent
untuk mengantar kami ke beberapa destinasi. Pengemudinya seorang anak muda
bernama Shavi yang sangat ramah dan cukup baik berbahasa Inggris. Hal pertama
yang saya minta ke Shavi adalah mencari makanan halal. Kami di antar ke sebuah
rumah makan di simpang jalan.
Setelah melepaskan lelah dan lapar Mr Shavi mengantar kami ke destinasi berikut :
Setelah melepaskan lelah dan lapar Mr Shavi mengantar kami ke destinasi berikut :
Russian Market :
Russian Market sebenarnya bernama Psah Toul Tom Poung. Dinamai Russian Market bukan karena Kamboja dulu sempat berideologi komunis, tapi karena dulu di tahun 1980-an banyak orang-orang Rusia belanja di pasar ini. Akhirnya orang-orang Phnom Penh menamai pasar ini dengan Russian Market.
Russian Market sebenarnya bernama Psah Toul Tom Poung. Dinamai Russian Market bukan karena Kamboja dulu sempat berideologi komunis, tapi karena dulu di tahun 1980-an banyak orang-orang Rusia belanja di pasar ini. Akhirnya orang-orang Phnom Penh menamai pasar ini dengan Russian Market.
Kalau suka belanja souvenir di sinilah tempatnya. Bagian
depan pasar ini adalah para pedagang souvenir. Mulai dari souvenir kecil-kecil
macam gantungan kunci hingga souvenir macam lukisan dinding ada semua. Harganya
pun murah, sudah begitu masih bisa ditawar sampai mepet.
Di sini juga banyak baju bermerk dengan harga murah.
Konon asli, rembesan dari pabrik tekstil yang diselundupkan ke luar. Di Kamboja
memang banyak pabrik tekstil yang membuat produk kloning dari banyak brand luar.
Industri ini menjadi penopang ekonomi Kamboja. Ongkos produksi dan upah
buruh yang murah membuat banyak brand membuat barangnya di Kamboja. Dari
pabrik-pabrik itulah sebagian barang rembesannya masuk ke Russian Market.
Pasar ini cukup bersih. Tapi kalau soal turis yang
mampir, Russian Market lebih banyak turis yang datang. Mereka berburu barang
unik untuk souvenir, ketika saya menelusup ke lorongnya, ada yang sedang tawar
menawar sebuah lukisan dinding berukuran besar. Saya sampai takjub, bawa ke
negaranya macam apa?.
Sisi lain Russian Market adalah pasar ini juga merupakan
pasar untuk kebutuhan sehari-hari seperti sayur, daging dan beragam kebutuhan
sehari-hari dan di bagian ini yang masuk ke pasar adalah orang-orang lokal.
Berada di bagian ini rasanya seperti pasar di Indonesia, berisiknya sama, tawar
menawarnya sama, beceknya sama, ruwet-ruwetnya sama dan keramahan pedagangnya
sama.
Saya membeli beberapa barang di pasar ini, bayarnya
menggunakan dolar kembaliannya menggunakan Riel. Kamboja memang salah satu
negara yang menggunakan mata uang dolar amerika sebagai mata uang resmi.
Perbandingannya mudah, 1 dolar amerika setara dengan 4000 riel, perbandingan
ini berlaku di seluruh negeri.
Makanya saat ke Kamboja saya tak kesulitan, tinggal bawa
dolar amerika saja dari Indonesia. Harga makanan cukup murah jika disetarakan
dalam rupiah, sekitar 20-39 ribu. Yang lebih ajaib adalah harga bir di Phnom
Penh lebih murah daripada air mineral. Harga bir sekiranya 0,5 dolar amerika
sementara air mineral 0,6 sampai 1 dolar. Ahh..andai bir halal tentu mending beli bir..hahay!
Vihara Wat Phnom :
Wat Phnom, Kuil Budha Teravada yang terletak di tengah kota
ini jangan di datangi jika anda berpasangan (masih pacaran) bisa putus mitosnya
begitu. Sebenarnya ada biaya untuk masuk yaitu $1, tapi berhubung muka kami sudah
seperti orang Kamboja jadi free, kami gak bayar masuk sini, nyamar jadi cambodian...hihihihi..
Tempat Wat Phnom berdiri juga merupakan ruang publik yang
luas. Tamannya hijau dan bersih, ada jam raksasa di sisi bawah Wat Phnom yang
cukup fotogenik dan menjadi latar berfoto bagi banyak berkunjung. Hanya saja
jika ke sini jangan sore atau malam, tempat ini cukup rawan, lebih baik datang
ke Wat Phnom saat pagi atau siang hari.
Royal Palace :
Royal Palace, Keraton Ala Kamboja Ini Terletak di Depan
Sungai Mekong (River Side) Royal Palace mempunyai beberapa bangunan yang
masing-masing mempunyai karakteristik yang khas dan mempunyai desain yang
sangat indah. Nama bangunan-bangunan yang terkenal di Royal Palace antara lain
Preah Thineang Dheva Vinnichay (Throne Hall), Preah Thineang Chan Chhaya
(Moonlight Pavilion), dan Prasat Khemarin (Khemarin Palace). Di sini juga
terdapat bangunan lain dengan ukuran yang lebih kecil, antara lain Hor Samran
Phirun, Hor Samrith Phimean, Damnak Chan, Phochani Pavilion (Dance hall), Serey
Monkol Pavilion (Royal Conference Hall), King Jayavarman VII Pavilion, Vihear
Suor (Royal Chapel), Villa Kantha Bopha, Villa Chumpou, dan Villa Sahametrei.
Saya jalan-jalan ke Istana Kerajaan yang atapnya
megah-megah, di sekitarnya ada tiga empat bangunan dengan atap stupa runcing
ini. Beberapa di antaranya gedung pemerintah. Mungkin demikian jika sebuah
negara masih mempertahankan sistem kerajaan juga sistem aksara tradisionalnya.
Hal-hal yang tradisional masih dijaga dan dipertahankan termasuk bangunan dengan
fasad tradisional masih lestari hingga kini.
Genocide Museum :
Genocide Museum :
Genocide Museum atau Tuol Seng Museum ini awalnya adalah
sekolah menengah umum di Phnom Penh. Pada 17 April 1975, Pemerintahan di bawah
Pol Pot mengubah sekolah ini menjadi penjara yang disebut dengan S.21 (Security
Office 21), dan menjadi penjara terbesar di Kamboja. Namun tempat ini tak hanya
penjara, namun juga tempat penyiksaan bagi ribuan tahanan yang ada
disini.
Sekilas tentang Khmer Merah: Jadi pada tahun 1975,
Kamboja dikuasai oleh rezim di bawah kepemimpinan Pol Pot. Sebenarnya secara
resmi rezim ini hanya berdiri selama 3 tahun 8 bulan. Namun, dalam masa
pemerintahan dari Pol Pot tersebut, 3 juta dari 8 juta rakyat Kamboja tewas,
baik akibat kelaparan atau tewas disiksa.
Sekitar jam 13.00 saya dan isteri diantar Mr Shavi
kembali ke agent travel. Kami menyempatkan mampir menikmati kelapa muda, cuaca
panas banget...wuihhh seggernyah! Shavi menawarkan kami untuk menggunakan jasa
sewa Tuk Tuk saudaranya selama di Siem Reap. Saya menyambut baik tawaran ini
karena keramahannya, apalagi kami akan sampai di Siem Reap sekitar jam 19.00
malam.
Hendak sholat saya nyelonong ke ruko warga setempat
minta ijin sholat dgn bahasa tarzan. Alhamdulillah saya diizinkan. Saya
sholaat persis di depan tempat
sembahyangnya mereka, lengkap dgn hio dan patung Budha.
Satu hal terakhir yang saya suka dari Kamboja adalah banyaknya bangunan tradisional di sudut kota. Di Phnom Penh bangunan dengan stupa runcing berundak mudah ditemukan, bahkan jadi signature khas bangunan.
Satu hal terakhir yang saya suka dari Kamboja adalah banyaknya bangunan tradisional di sudut kota. Di Phnom Penh bangunan dengan stupa runcing berundak mudah ditemukan, bahkan jadi signature khas bangunan.
Rasa lelah yang kami alami beberapa hari ini sebenarnya
tak ada apa-apanya dengan kepuasan yang kami dapatkan. Terima kasih pada Allah
SWT, dan saya berharap selalu mendapatkan kemudahan dan kesehatan selama
melakukan perjalanan
Menuju Siem Reap :
Perjalanan dari Phnom Penh-Siem Reap sekitar 6 hingga 7 jam menempuh jarak 320 Km. Kondisi minivan cukup bagus (Maklum, harganya cukup mahal dibanding bus. Tapi yang penting ada AC-nya lah ya soalnya panas di Kamboja itu sangat menyengat dan debunya juga ampun-ampunan karena jarang sekali turuh hujan disini). Tapi kalau untuk para backpacker, saya rasa masih sangat enak sekali menempuh perjalanan dengan minivan ini. Dan bukankah setiap satu dolar yang keluar dari kantong kita sangat berharga artinya bukan? Jadi walaupun hanya beda satu-dua dolar, berusahalan untuk memilih yang termurah dan mengenyampingkan “ego kenyamanan” kita. Trust me, di luar negeri kita akan lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang kita walaupun hanya satu dolar, maklum traveler kismin kodong...
Perjalanan waktu itu kalau tidak salah melintasi National
Highway 5. Uh jangan harap kamu akan melewati jalan bersih mulus layaknya jalan
Tol Jagorawi. Kanan kiri jalan adalah ladang kering dan tandus, yang kalau
musim hujan akan berubah jadi rawa. Sementara jalanannya sendiri tak berbeda
jauh dengan ladang tandus itu. Saya baca beberapa tips aman jalan-jalan di
Kamboja, akan lebih baik memang tidak naik bus malam, karena pada umumnya,
banyak jalan yang tak mempunyai lampu jalan dan mengingat jalanannya yang tidak
rata serta akan jadi rawa kalau hujan, maka… sebaiknya ya ambil minivan siang.
Tak perlu membayangkan akan seberat apa perjalannya.
Tidak seburuk yang kamu pikirkan kok. Di Indonesia pasti lebih banyak
jalan-jalan yang lebih kacau. Selain rawa-rawa kering, pemandangan rumah-rumah
lokal yang mirip seperti rumah panggung juga akan bisa dinikmati. Warga lokal
di pedesaan nampaknya lebih menyukai tinggal di atas rawa, dengan tumbuhan
eceng gondok dan teratai memenuhi halaman mereka, sementara itu hewan-hewan
seperti bebek maupun kerbau turut berperan serta menghiasi pekarangan rumah
mereka. Sesuatu yang unik.
Di tengah perjalanan bus sempat berhenti dulu untuk
istirahat makan. Ketika berhenti di suatu kedai makan, saya sempat melongok
barang dagangannya. Menu makanannya tidak ada yang menarik. Kemudian mata saya
terhenti pada snack yang dijual. Ternyata ada recheese nabati dan produk-produk
makanan ringan asal Indonesia. huwooo.. hits banget kan?
Sementara itu, selain cuaca yang berganti dari terik, ke
hujan, ke terik lagi, warna langit pun ikut berubah. Mulai dari langit biru,
awan gelap, hingga sunset yang ciamik mengisi perjalanan lintas Kamboja.
Sekitar jam 6 sore, bus belum juga sampai. Perempuan di samping saya terus
gelisah. Kemudian menanyakan ke saya, jam berapa kita akan sampai. “Oh sorry I
don’t know, this is my first time here.” jelas saya.
“ok no problem, it’s my first also”.
“ok no problem, it’s my first also”.
Sekitar jam 8 malam minivan Hi-Ace tiba di Siem Reap.
Kami diturunkan di halaman sebuah swalayan sederhana. Setelah menurunkan bagasi
seorang anakmuda mendekati kami, memperkenalkan diri sebagai Sovan, saudara Mr.
Shafi.
"Hi Sovan, i'm Sofyan. Nice to meet you" (kayak dipelajaran SMA dulu khaann..haha).
Alhamdulillah... tanpa kesulitan saya bertemu dgn orang yg akan menjadi
guide kami. Segera kami bergegas menaiki Tuk tuk. Sovan membantu membawa ransel
ke Tuk tuk. Kami sudah sangat lelah ingin segera sampai ke homestay. Saya
menunjukkan secarik kertas alamat Channa’s Angkor Homestay : Angkor
Archaeological Park, Trapeang Ses, Siem Reap, Kamboja (kami pesan melalui
Booking.com). Channa's Angkor Homestay menawarkan kamar yang terletak di rumah
tradisional Khmer dengan Wi-Fi gratis.
Angkor Wat atau Wat Thmei berjarak 1 km dari Channa's
Angkor Homestay.
‘Tuk tuk menyusuri jalan ke pinggiran kota yg sepi...agak gelap karena kurangnya lampu jalan. Makin lama makin jarang2 rumah. Di kiri kanan pohon2 besar menjulang. Angin berhembus dingin. Hanya terdengar suara mesin Tuk tuk.
Suara Sovan memecahkan keheningan : “are you seriously
nginap di sana? Maukah kuantar ke hostel yg lebih ramai?, saya banyak kenal”
ada nada kekhawatiran Sovan bercampur iklan. “Batalkan saja lalu pindah ke hostel
bujet yg lain...” Saya jelaskan ke Sovan bahwa bookingan ini gak bisa direfund,
jadi sayang kalo batal. Lagi pula saya memang ingin menikmati sensasi tinggal
di rumah tradisional Khmer.
‘Tuk tuk menyusuri jalan ke pinggiran kota yg sepi...agak gelap karena kurangnya lampu jalan. Makin lama makin jarang2 rumah. Di kiri kanan pohon2 besar menjulang. Angin berhembus dingin. Hanya terdengar suara mesin Tuk tuk.
![]() |
| Jalan menuju Channa's Angkor Homestay |
Tak lama kemudian Tuk tuk keluar dari jalan utama belok kiri masuk ke jalan kampung yang tak beraspal. Berbatu dan berdebu. Busyeeet. Rasa takut mulai menyelimuti Istriku. Aku berusaha menenangkan. Tuktuk masuk ke halaman sebuah rumah panggung kayu yg besar dengan pepohonan rimbun tak beraturan di sekelilingnya. Munculnya anjing sekitar 8 ekor yg menggonggong dan mengitari tuk tuk menambah suasana mencekam. Sovan turun memanggil petugas homestay. Seorang ibu dgn wajah khas Kamboja keluar menggendong anak kecil. Usia Ibu ini kutaksir sekitar 40 tahun. Homestay ini dikelilingi pepohonan tropis dan bunga-bunga dengan suasana pedesaan yang asli. Rumah ini rupanya milik Mr. Thomas (Perancis) yang beristerikan perempuan tadi, asli Khmer.
![]() |
| Rumah Inti |
![]() |
| Kamar kami....gilaaak ! |
Mr Sovan tampak berdialog dengan ibu tersebut lalu Sovan mendekati kami, meminta kami turun sambil mengusir anjing2 yg terus menyalak. Ibu yg ternyata pemilik rumah tsb “memerintahkan” anjing2 tsb pergi, baru deh sedikit terasa plong. Saya pikir kami akan menginap di rumah besar tersebut eh ternyata kami ditunjukkan sebuah ‘paviliun’ berbentuk rumah khas Khmer ukuran 2.5 x 2.5 m yang terletak sekitar 15 meter di samping depan rumah utama yg hanya berisi 1 dipan lengkap dengan kelambunya berwarna pink (kebayang film Suzana) + lampu bohlam 10 Watt agak berdebu krn mungkin jarang ditinggali. Tidak ada toilet/wc...kalo mau ke toilet harus menyeberang ke rumah utama, ooomaigaaad..! SS bin Super Scary !
Sovan membantu menurunkan ransel. Kami adalah satu2nya
tamu homestay ini. Masya Allah!
“Be careful” kata Sovan.
“Yupp..thanks!” Saya
mengingatkan Sovan agar tidak telat menjemput kami jam 04.00 ntar subuh
(sekaligus memastikan besok menemukan
kami masih hidup di sini...huhuhu).
![]() |
| gelap gulita di desa Khmer |
Jam 03.00 saya bangun. Kebelet pengin pipis. Terdengar
jelas dari kejauhan suara pendeta Budhis sedang melantunkan seperti doa-doa dengan nada aneh di kupingku. Mungkin semaca dzikir kali yak. Kubangunkan
isteriku untuk siap-siap melanjutkan
perjalanan. Karena kamar mandi ada di
samping rumah besar, mau tak mau suka tak suka serem tak serem kami harus ke
situ, masak kencing di pinggir ranjang?. Aku buka sedikit daun pintu...ngintip
keadaan di luar. Tak seekorpun anjing yang berseliweran. Kemana ya anjing2
semalam? Ngerinya pas kita keluar mereka juga keluar dan menggigit kami.
Isteriku sangat ketakutan. Tapi apa boleh buat. No Choice. Jam 03 pagi bro kami
keluar dari kamar sempit itu mengendap-endap. Kami takut serbuan anjing dan
takut melihat “sesuatu” yang tak perlu kami lihat.
Angin berdesir menggerakkan
pepohonan. Tiba di kamar mandi, kuminta isteriku masuk duluan. Saya berjaga di
depan kamar mandi. Mataku menyisir kebun, kupandangi sekeliling rumah. Anjing2
itu kemana ya?.
Selesai isteriku mandi dan wudhu, giliranku dong.
Isteriku tak mau menunggu di luar kamar mandi...ya sudah . Untung kamar
mandinya cukup luas, silakan dipojok menonton pilem 17 th ke atas tanpa sensor
!...hahaha
Tak lama setelah sholat subuh, terdengar suara mesin tuk
tuk dari kejauhan. Mudah2an Sovan. Ternyata benar. Saya segera menyelesaikan
urusan administrasi dgn Mr. Thomas pemilik homestay. Setelah itu kami langsung
berangkat ke Angkor Wat untuk menyaksikan sunrise di candi utama Angkor.
Saya yakin, satu-satunya alasan mengapa para turis
mengunjungi Siem Reap adalah untuk berwisata ke Angkor Wat. Nah, untuk ke
Angkor Wat kita harus menyewa tuk-tuk karena Angkor Wat itu sangat besar dan tidak
memungkinkan kita berjalan kaki mengelilinginya. Harga sewa tuk-tuk untuk satu
hari mengelilingi Angkor Wat sebesar $15 (tuk-tuk bisa diisi maksimal 6 orang,
kan lumayan murah kalau $15 dibagi 6 orang) saat weekday dan $25 saat weekend.
Apabila tukang tuk-tuk meminta imbalan lebih dari itu,kita tinggal tawar saja
harga yang dia minta. Yang pasti standar untuk sewa tuk-tuk satu hari adalah
segitu. Oh iya, saat tawar-menawar harga jangan lupa untuk menegaskan pada
tukang tuk-tuk seharian itu kita akan dibawa ke candi mana saja karena kalau kita
minta pergi ke candi yang diluar kesepakatan, biasanya tukang tuk-tuk akan
minta uang tambahan. Dan kalau anda ingin menikmati sunset di Angkor Wat, anda
juga harus bilang sebelumnya pada tukang tuk-tuk saat tawar-menawar, karena ya
itu tadi, kalau anda mintanya di akhir, anda pasti akan kena charge tambahan.
Sedangkan untuk bisa masuk ke Angkor Wat, Anda harus membayar $20 untuk one day
visit atau $40 untuk three days visit atau $60 untuk seven days visit.



To be Continued ......


![]() |
| menanti sunrise di Angkor Archaelogical Park |
| Night Market Siem Reap |
Siem Reap ke Bangkok naik Bus (nginap 3 malam)
Bangkok naik kereta ke Hatyai
Hatyai naik minivan ke Penang
Penang naik Bus ke KL
KL naik Bus ke Melaka
Melaka naik Bus ke Singapore
Singapore menyeberang ke Batam via feri
Batam menyeberang lagi ke Singapore
Batam ke Jakarta.......
Bangkok naik kereta ke Hatyai
Hatyai naik minivan ke Penang
Penang naik Bus ke KL
KL naik Bus ke Melaka
Melaka naik Bus ke Singapore
Singapore menyeberang ke Batam via feri
Batam menyeberang lagi ke Singapore
Batam ke Jakarta.......
![]() |
| Cambodia - Thailand Border line |
INDOCHINA Couples Backpacker Nekad Ep.1
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Februari 13, 2019
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Februari 13, 2019
Rating:

















































Tidak ada komentar