INDOCHINA Couples Backpacker Nekad Ep.1

IndoChina Overland

Alhamdulillah... akhirnya mimpi menjadi kenyataan: menjelajah ke 5 negara Indochina (Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura), eksplor 11 kota : Saigon, Pnomh Penh, Siem Reap, Bangkok, Hatyai, Pulau Penang, Kuala Lumpur, Melaka, Singapura, Batam, balik lagi Singapura lalu ke Batam lagi (kayak sterikaan ya..) akhirnya pulang terbang ke Jakarta. 
Sebuah upaya dan perencanaan serius santai dgn penggunaan semua moda transportasi : Pesawat Terbang, Sleeper Bus, Tour Bus, Kereta Api, Sky Train, Mini Van,Tuk Tuk, Kapal ferry. Perencanaan yang terbilang ser-san berakibat adrenalin terpacu pada kondisi2 tertentu.
Pengalaman yang sangat menyenangkan meski tak mudah tentu saja, menguras energi dan pikiran serta menguji ketahanan mental...






09 Januari 2014

Sore sekitar jam 17.00 kami meninggalkan rumah dengan taxi menuju terminal 3 Bandara Soeta. Saat ingin check in ternyata kami salah terminal. Mestinya T1 bukan T3. Astaga, kami segera naik shuttle bus ke T1. Alhamdulillah konter check in baru dibuka dan kami adalah penumpang yg check in paling awal.
Handicap kedua muncul lagi. Saat boarding petugas maskapai menanyakan tiket balik dari Vietnam . saya dan isteri tentu saja tak bisa menunjukkan karena memang kami belum membeli tiket balik. Rencana perjalanan kami adalah overland, petualangan  dari Vietnam sampai ke Batam melalui darat!. Karena itu kami tak membeli tiket pesawat pulang lebih dahulu sebab kami tak bisa memastikan lama perjalanan dan kami akan kembali ke Jakarta melalui penerbangan dari Batam, sesuai keadaan dan go show saja.
Rupanya aturan antar negara menghendaki seperti itu konon untuk menghindari TKI illegal. Maka berdebat dengan crew Tiger pun tak dapat dihindari. Saya diminta untuk membeli tiket. Saya menolak. Saya ke kantor Pengawas Airport minta tolong ke petugas . Ia pun tak mampu memberi solusi. Ia menyarankan membeli tiket. Panggilan penumpang Tiger untuk segera naik pesawat dari audioline terus bergema, akhirnya..ya sudah terpaksa beli saja. Saya bergegas ke ticketing Tiger Airways, ndilalah konter tiketnya sudah tutup. Baaa! 

Waktu terbang semakin mendekat. Penumpang2 check in sdh naik ke pesawat.
Saya kembali menemui crew. Dengan setelan muka paling melas sedunia, saya meyakinkan crew bhw kami berdua Backpacker, bukan pekerja illegal  tolong bantu kami please... Eh, Crew tsb malah  menakut-nakuti kami dengan mengatakan bahwa setibanya di tujuan, kami dapat ditangkap lalu di karantina semingguan sampai dideportasi  ke tanah air oleh Kedubes Indonesia. Saya bilang tidak masalah, kalau kami ditangkap itu resiko kami. Kami keukeuh bertahan. Last call penumpang Tiger  terdengar “panggilan terakhir penumpang Tiger Airways tujuan Singapore dipersilahkan memasuki pesawat”, Crew boarding tampaknya "menyerah" ia minta kami mengisi formulir surat pernyataan kesediaan dideportasi dengan biaya tiket ditanggung kami. Tanpa basa basi dengan keyakinan & kepasrahan kepada Allah SWT saya mengisi formulir dan menandatangani pernyataan siap ditangkap dan dideportasi. Belum cukup disitu eh ditanya lagi  berapa uang yang kami bawa dan minta diperlihatkan.
Wadduh ! terpaksa ransel kami bongkar karena uang dollar yang kami bawa sudah kami selipkan di beberapa bagian termasuk di dasar ransel...haddeuh kampret!.

Setelah itu barulah boarding pass kami distempel, sementara pintu pesawat sebentar lagi ditutup. Saya dan isteri berlari-lari kesetanan menuju gate. Saat tiba di gate menuju ruang tunggu penumpang. 
Gotcha ! kami penumpang terakhir masuk pesawat dengan nafas tersengal-sengal. Semua penumpang serasa melihat kami. Rada malu juga siiih. Mungkin beberapa penumpang tadi melihat sengitnya saya berdebat  dengan crew airline. Berasa dipandangi puluhan mata dengan beragam tafsiran. Buatku itu sih biasa. Hanya satu kata : EGP ! 
Takkunjunga' bangun turu Na kugunciriki gulingku. kualleanna tallanga na towalia.
(Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai !)

Alhamdulillaaaah.... Jam 20.00 tepat Tiger Airways take off menuju Singapore yg santer Imigrasinya amat ketat itu. Yaaa Allah tolonglah kami, jauhkan kami perkara2 yang dapat menyulitkan kami... Aamiin.

Tiba di Singapore sekitar jam 21.30. Keluar ke  pelataran penumpang kami tak berani kemana-mana. Apalagi keluar ke area Imigrasi, kuatir mengundang masalah baru. Sesuai rencana kami menginap di Changi menunggu penerbangan berikutnya ke Ho Chi Minh Vietnam Selatan besok pagi. Sesaat kami keliling di area bandara yang luas banget, muter2 di mall yang hampir tutup dan tentu saja pepotoan di spot2 yg keren. Setelah capek kami  memutuskan  mencari tempat untuk istirahat menunggu subuh. Tengah malam sesekali polisi berkulit keling berseliweran bikin ngeri juga, takut ditanya-tanya lagi..., Meski hanya bisa tidur-tidur ayam karena tegang melanda pikiran, perasaan kuatir dideportasi  masih menyelimuti. Malam itu di Changi berlalu dgn aman. Alhamdulillah Ya Allah...



10 Januari 2014.

VIETNAM, I'M COMING !
Pagi  yg merambat cepat. Changi yang maha luas. Jam 05 seliweran penumpang mulai ramai. Gadget Hp tanpa paket data, tentu tanpa Google Maps. Dua mahluk nekad lagi linglung dan bingung : Pesawat yg akan membawa ke Vietnam jam 07.30 di sebelah mana sih? Saya bertanya ke pak tua petugas cleaning service yg melintas, dia cuma nyerocos tak keruan dlm bhs inggeris dialek China Melayu yg bikin pusing. Saya menggandeng tangan isteri sambil berjalan dgn feeling arah yg tepat sambil mencari orang yang kira2 tepat ditanya agar dapat memberi petunjuk yg benar. Sebab bertanya ke Google adalah sia-sia hehehe. Waktu makin siang bertanyalah saya pada seorang wanita peranakan petugas Airlines yg berpapasan di depan sebuah boutique. Info yang diberikan membuat kami kejat-kejut. Gate transit Tiger ternyata masih jauh dari tempat kami turun semalam sementara jam sdh menunjukkan pukul 07.10 kurang dari 20 menit pesawat akan tinggal landas. Maka ..RUN ! dari Gate 7 kami berlari-larian sepanjang koridor bandara melalui gate demi gate menuju Gate 34..huft!Gilak!

Tiba di ruang tunggu  transit, penumpang sudah antri melewati desk imigrasi yg ditunggui staf pria keturunan Tamil dgn kulit gelap / keling berwajah datar. Kembali hidupku terasa sempit, darah terpacu adrenalin meningkat. Kutenangkan isteriku, ayo santai...tarik nafas pelaaaan..buang. Keep smiling jgn berhenti dzikir khofi (dalam hati). Saat petugas memeriksa passport kupasang senyum yang paling manis. Ia memintaku membuka topi. Ooopss ! cari gara2 nih saya.. setelah melihatku dgn pandangan menyidik ia  mengangkat stempel lalu, mataku mengikuti arah tangannya seperti slow motion ....choopp! leganya gilak!. Saya lewat. Sesaat kemudian isteriku juga melewati pemeriksaan tanpa hambatan yg berarti.  Isteriku bilang perutnya mual, pengin muntah.... keep calm, lanjut backpacking Babes!.

Jam 07.40 pesawat Tiger Airways lepas landas meninggalkan Singapore. Sesaat santai duduk di pesawat namun kecemasan belum berakhir. Satu bandara lagi yang harus kami lewati negara komunis pula. Terbayang wajah petugas imigrasi bermata sipit dgn wajah pucat putih tanpa senyum.

Sekitar jam 09.00 waktu setempat pesawat landing di Tanh Son Nat International Airport. Antri di depan desk imigrasi kembali memicu adrenalin, bikin jantung berdebar. Seperti dugaan petugas imigrasi berwajah dingin pucat memeriksa satu demi satu penumpang dengan detil. Saya di depan isteri agar bila terjadi sesuatu yg tak diinginkan isteri tahu dan bila terjadi kendala imigrasi dgn isteri saya bisa membantu.

Saat di depan petugas kembali saya harus menunjukkan wajah Indonesia dgn keramahan tingkat tinggi, tentu dgn salam pendahuluan “Good morning, Sir..” sok akrab. Wajah tirus pucat kaku itu sedikitpun tak senyum. Malah nanya “Dalam rangka apa ke Vietnam?” kujawab sambil melirik isteriku yg tampak pucat “traveling...we both traveller” ditambah sedikit gombal “visiting Vietnam is our dream coz we are interested in war tourism”.
Dalam hati ... Ya Allah janganlah sampai ia menanyakan tiket return. Bisa masalah besar. Tolonglah kami ya Allaaaah...

Ketika petugas imigrasi mengangkat tangannya yg memegang cap stempel imigrasi saya seperti melihat adegan slowmotion lagi, perlahan-lahan lengannya turun dan....Choops! stempel itu mendarat di halaman passport. Wuih leganya. Isteri pun lewat tanpa kesulitan yg berarti meski kembali ia ingin muntah karena ketegangan yang melanda. Saat keluar dari Imigrasi kubilang "kayak di pilem petualangan yak". Emang ini petualangan yang sesungguhnya..




Chào mừng bạn đến Saigon ! Selamat datang di Saigon !

Segera kami menuju konter money changer menukar dollar dgn mata uang Dong Vietnam.
Keluar dari bandara kami menuju outlet Burger King untuk membeli Air Mineral. Ketegangan membuat kami haus banget, bangeeet gilak!.
Kami kemudian naik bis No 152 menuju kota Saigon. SaiGon adalah kota besar di Vietnam yang menjadi pusat ekonomi. SaiGon juga dikenal dengan sebutan Ho Chi Minh City – diambil dari nama seorang pahlawan yang berjasa dalam memerdekakan Vietnam dan membuat dunia menoleh ke negara yang selama ini kenyang dijajah.




Jalan-jalan di SaiGon cukup menyenangkan. Banyak pilihan untuk wisata kuliner, menikmati kopi Vietnam yang terkenal, mengamati bukti-bukti sejarah dan menggagumi kebudayaannya termasuk hasil kerajinan dan karya seninya.
Wisatawan yang datang ke Vietnam biasanya memulai perjalanannya di kota SaiGon. Mereka yang kebanyakan berasal dari ranah Eropa, begitu menikmati suasana negara yang kental dengan pengaruh budaya Perancis – selain pengaruh dari Amerika yang sangat terasa di kota yang terletak di Selatan Vietnam ini. Pengaruh budaya Perancis dan Amerika tidak hanya terlihat dari keragaman kuliner di kota ini, tetapi juga pada karya-karya handycraft, souvenir dan juga karya seni lainnya yang tersedia sebagai pilihan berbelanja.
Berbekal tourist map kami turun di halte Benh Thanh Market kemudian berjalan kaki menuju Pham Ngu Lao Distric 1, yang dikenal sebagai Backpacker Zone. Tak begitu sulit menemukan Backpacking Hostel yg kami pesan di Booking.com . Kami menurunkan ransel di beranda lalu check in. Setelah selesai  kami menuju kamar kami di lantai 2, dengan WC/kamar mandi di dalam.




Sejenak kami istirahat, baring2 meluruskan punggung lalu puas2in mandi. Saya bertanya ke recepsionist di mana masjid terdekat? Dia tak tahu.  Dari riset kecil sebelum berangkat ada 3 masjid di Saigon ini. Sayangnya kurang dikenal, maklum minoritas dan ini negara Komunis. Terpaksa saya tidak jumatan, ganti dengan sholat musafir saja. Kami Siap mengeksplor kota Saigon sambil mencari makan siang. Pertanyaannya di mana makan siang yang halalan thoyyiban? Maka untuk keamanan kami hanya membeli 1 roti baugeut isi lalapan saja. Sebetulnya ada pilihan isinya yaitu kornet daging, ikan tuna, telur tapi ngeri2 juga dgn inggredient yg lain. Istriku tak sedikitpun tertarik dgn roti bageut yg keras plus jenis dedaunan yg “aneh” jadi dia makan siang dengan biskuit malkist yg kami bawa dari Jekardah.




Membeli paket 1 Day Tour ke Chuci Tunnel, Kuil Chao Dai, berangkat besok pagi pulang maghrib karena lokasinya cukup jauh.
- Membeli tiket sleeper bus tujuan Siem Reap Cambodia.
- City tour dgn jalan kaki menuju :

Ben Tanh Market :
Tempat wisata yang satu ini merupakan kawasan pasar yang ada di Ho Chi Minh City. Pasar ini merupakan pasar terbesar dan tertua yang ada sejak abad ke-17 di Saigon dengan nama lokalnya Cho Ben Thanh. Pasar ini terletak di District 1 dengan ciri khas yang dimilikinya, yaitu Clock Tower di bagian pintu masuk. Tempat ini sangat cocok untuk berbelanja oleh-oleh dan berwisata kuliner makanan khas Vietnam. Sehingga tak heran apabila kebanyakan para wisatawan yang datang ke pasar ini biasanya berburu handicraft lokal, tekstil, souvenir, dan kuliner lokal. Karena sistemnya merupakan pasar, maka pembeli bebas melakukan tawar-menawar harga dengan penjual.

Selain itu, di sebelah pasar ini juga terdapat beberapa toko yang merupakan toko milik Ben Thanh Group, di mana terkenal lebih murah harga barang-barangnya jika dibandingkan dengan yang ada di pasar. Bagi turis yang tidak bisa berbahasa lokal, jangan khawatir karena sebagian penjual di pasar ini juga menguasai bahasa bahasa Inggris dan Melayu Malaysia. Beberapa oleh-oleh yang terkenal dan biasanya dibawa pulang oleh para wisatawan ialah kopi dan manisan buah khas Vietnam.






War Remnant Museum :
Museum ini masih menjadi favorit turis asing untuk mengenal dan melihat sejarah kelamnya Perang Vietnam. Bertempat di bekas gedung administrasi Amerika, War Remnants Museum berisi pameran yang dirancang untuk menunjukkan dampak dari Perang Vietnam bagi penduduknya.
Museum ini dibuka beberapa bulan setelah perang berakhir. Dulunya bernama sebagai Museum AS dan Puppet War Crimes. Tujuan utama dari museum ini adalah untuk menunjukkan kengerian perang.


Di halaman depan museum ini berjejer pesawat perang, helikopter, kendaraan tank milik AS yang digunakan saat perang Vietnam. Tak lupa keterangan yang bisa dibaca pengunjungdisetiap kendaraan perang tersebut.
Pengunjung juga diperbolehkan untuk mengambil gambar ataupun berfoto di depan kendaraan dari batas yang telah ditentukan. Untungnya, museum ini dikelilingi pohon-pohon rindang cukup melindungi pengunjung yang datang dari sengatan matahari.



Sebelum memasuki gedung utama museum ini, pengunjung bisa melihat diorama kekejaman dari perang Vietnam yang berada di sisi kiri gedung museum.



Terlihat di sana, fasilitas penyiksaan bagi para tawanan maupun pengkhianat di masa perang Vietnam, mulai dari tempat pemenggalan kepala, penjara bak kandang macan, tempat penyetruman serta sel penjara yang begitu gelap dan sempit
Yang tak kalah menarik di museum ini adalah foto-foto dari korban Agent Orange. Agent Orange merupakan sebutan yang diberikan untuk zat kimia herbisida dan defolian yang digunakan oleh Militer Amerika Serikat selama Perang Vietnam.

Dalam peperangan tersebut, Agent Orange digunakan dengan maksud untuk menghancurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan sebagai tempat persembunyian musuh.
Selama perang Vietnam pada tahun 1957-1975 silam, militer AS menyemprotkan 80 juta liter cairan Agent Orange dengan menggunakan pesawat di wilayah selatan Vietnam. Cairan kimia ini berdampak buruk bagi manusia.



Tidak hanya manusia yang hidup saat itu tapi juga para keturunannya yang hidup pada masa kini di wilayah tersebut. Sebagian besar menderita kelainan genetik.
Foto-foto Agent Orange kembali mengingatkan pengunjung betapa buruk dan sengsaranya peperangan. Selain memakan banyak korban juga menimbulkan luka yang mendalam bagi korban. 

Central Post Office :
Bangunan ini merupakan peninggalan sejarah yang dibangun pada akhir abad ke-19, di mana pada saat itu Vietnam masih menjadi bagian dari French Indo-China. Central Post Office ini terletak di pusat kota Saigon dan berdekatan dengan Saigon Notre-Dame Basilica. Hal yang bisa dijumpai apabila berkunjung ke tempat ini ialah dua buah lukisan besar yang sudah tidak asing lagi bagi orang Vietnam, khususnya penduduk Saigon, yaitu lukisan peta Vietnam Selatan dan Kamboja dengan judul Lignes telegraphiques du Sud Vietnam et Cambodge 1892 (Telegraphic lines of Southern Vietnam and Cambodia 1892) dan lukisan peta kota Saigon dengan judul Saigon et ses environs 1892 (Sai Gon and its environment 1892). Fungsi utamanya pun sama dengan kantor pos pada umumnya, yaitu untuk mengirim surat dan berbagai barang-barang atau paket.






Ubin klasik original


Gedung ini dirancang dengan gaya Gothic oleh Gustave Eiffel, yang juga merupakan arsitek terkenal perancang Menara Eiffel di Paris, Perancis. Kantor pos ini masih berfungsi sampai sekarang, di mana begitu Anda masuk ke dalam gedung ini akan langsung disuguhkan dengan lukisan Ho Chi Minh yang terpampang di tengah dinding bagian dalam bangunan. Di samping itu, ada juga toko yang menjual berbagai macam cendera mata, money charger, dan barang-barang khas Vietnam dan Saigon lainnya yang unik.

Ho Chi Minh City Hall :
Sebutan singkat untuk tempat yang satu ini ialah City Hall. Bangunan ini awalnya bernama Hotel de Ville Saigon. City Hall dibangun pada tahun 1902 hingga 1908 pada masa penjajahan French Colonial. Yang menarik di tempat ini ialah lampu-lampu di bagian luar gedung yang dinyalakan pada malam hari sehingga mampu memberikan iluminasi cahaya yang unik. Sedangkan untuk bagian dalamnya sendiri tidak dibuka untuk public, jadi kita hanya bisa menikmati bagian luarnya saja.
Selain itu, pengunjung yang datang biasanya menikmati bagian taman dan patung Uncle Ho di sekitar bangunan utama. City Hall sendiri terletak di ujung Nguyen Hue Street (Le Thanh Ton Street), di mana bisa dikunjungi setiap harinya.


Cathedral Notredame :
Basilika Notre-Dame Saigon yang secara resmi bernama Basilika Bunda Konsepsi Imakulata adalah sebuah katedral yang terletak di pusat kota Ho Chi Minh City. Dibangun oleh kolonialis Perancis, katedral tersebut dibangun antara 1863 dan 1880. Gereja tersebut memiliki dua menara lonceng, yang memiliki tinggi 58 meter (190 kaki).
Setelah penaklukan Perancis atas Indochina dan Saigon, Gereja Katholik Roma mendirikan sebuah komunitas dan pelayanan keagamaan untuk para kolonialis Perancis. Gereja pertamanya dibangun di Jalan Ngo Duc  pada masa sekarang. Gereja tersebut merupakan sebuah pagoda Vietnam yang diubah pada masa perang. Uskup Lefevre yang memutuskan untuk membuat pagoda tersebut menjadi sebuah gereja.
Pada 1960, Paus Yohanes XXIII mendirikan keuskupan Katolik Roma di Vietnam dan melantik uskup agung untuk Hanoi, Hue dan Saigon Katedral tersebut diberi nama Katedral Pemimpin Saigon. Pada 1962, Paus Yohanes XXIII memberikannya status basilika. Pada masa tersebut, katedral ini disebut Basilika Katedral Notre-Dame Saigon.






Berseberangan dengan Notre Dame Cathedral terdapat sebuah taman yang dinamai April 30th  Park. Pohon-pohon besar mendominasi taman dengan area rumput dan jalan setapak yg berisi beberapa bangku. April 30th Park menjadi arena penyelenggaraan perayaan di Ho Chi Minh setiap tahun di tanggal yg sama.



 


Banyak yang bisa dilakukan di taman ini, yang biasanya jadi ajang tempat berkumpul pelajar. Entah untuk belajar kelompok atau sekedar ngerumpi waktu sore hari. Main gitar, untuk lokasi foto, dan tempat cuci mata yang murah meriah. Di sekitar taman juga ada beberapa kedai kopi yang layak dikunjung
Taman kota di Ho Chi Minh banyak yang tidak langsung menyatu dalam satu kawasan. Biasanya terdapat jalan besar yang membelah taman dan membagi menjadi dua hingga empat taman kecil. Seperti di taman ini yang desainnya berada di pusat sejarah kolonial Ho Chi Minh. Jalanan utama yang ramai di antara taman-taman penuh pohon. Selain jadi tempat santai, manfaat lainnya sebagai paru-paru kota.

ReUnification Palace :
Reunification Palace ini juga dikenal dengan nama Independence Palace, yaitu sebuah bangunan yang dulunya merupakan istana kepresidenan Negara Vietnam Selatan sebelum bersatu pada tahun 1975. Istana ini dibangun pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1966, yang mana merupakan hasil karya arsitek Ngo Viet Thu dengan gaya arsitektur yang memadukan gaya modern dan tradisional Vietnam. Istana ini terletak di 135 Nam Ky Khoi Nghia Street.
Selain itu, salah satu benda yang bisa Anda jumpai di sini adalah replika tank yang dipamerkan di pintu gerbang. Yang mana, replica tank tersebut meniru tank yang dulunya dikendalikan oleh tentara Vietnam Utara menabrak pintu gerbang istana pada akhir Perang Vietnam atau Fall of Saigon di tahun 1975. Istana ini dapat Anda kunjungi setiap harinya mulai pukul 07.30-16.00 waktu setempat dengan tiket seharga 30.000 Dong. Bangunan ini juga merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu bersatu Vietnam, yaitu antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, atau hari kemenangan komunis Vietnam melawan Amerika Serikat
Istana ini sangat luas yaitu 12 hektar. Di dalamnya kita dapat melihat ruang pertemuan, ruang peta, ruang perpustakaan, mini teater, dan masih banyak lagi. Di gedung ini tidak berpendingin udara, dan tidak ada lift atau eskalator, jadi siapkan energi ekstra, karena gedung ini cukup luas dan memiliki beberapa lantai untuk dijelajahi.

Lebih setengah hari kami jalan kaki hanya ngemil malkist dan jajan minuman ice buble di depan sebuah sekolahan, layaknya di Indonesia beragam rupa makanan di jajakan abang2 di sepeda dan gerobak : sosis bakar, baso, gorengan dsb, umumnya pake babi.




Good morning Saigon
Di depan sekolah dekat museum perang gue beli es buble sm abang2 bersepeda . Gue tanya abangnya "bang gue mau pulang ke Pham Ngu Lao, masih jauh gak? " dia geleng2 ga ngerti trus nanya abang tukang sate sosis sebelahnya, jg sama bingungnya. Gue nanya pake bhs Makassar, krn gue yakin pake bhs inggris tanpa cela pun mereka ga paham , apalagi bhs inggris gue ancur gempa bumi.....  , . Aku bilang coba kamu pake bahasa Palembangmu atau Komering.. bini gue sampe tersedak ngakak mau tumpah es bublenya. Kupikir makassar bisa tonji? Ternyata NDAK TONJI!





Jam 21.00 dalam perjalanan kembali ke hostel kami melewati beberapa jajanan K-5 alias street food di depan ruko-ruko. Perut kami lapar banget. Kami berhenti di depan gerobak yg menjual seperti martabak, sesaat kami amati bahannya tidak menggunakan daging, hanya tofu, telor lalu diberi topping dedaunan aneh dan irisan lobak asinan . Ngantri yg pesan. Saya tanya kehalalannya, tampaknya percuma, mbaknya cuma menggeleng tak mengerti.. ya sudahlah cacing2 di perut ini sudah memberontak, saya pesan 1 porsi namanya Bot Chien. Bismillah saja...




Soal rasa haddeuuh gimana ya jelasinnya, tidak akrab di lidah. Seporsi Bot Chien kami nikmati berdua. Lumayan bikin lapar kami sirna. Di depan hostel kami menikmati es kopi Vietnam yg terkenal (ca phe Sua Da), santai menghabiskan malam bersama backpacker dari mancanegara...

11 Januari 2014

Jam 05.00 kami dibangunkan room boy sesuai request kami. Sholat subuh lanjut mandi bersiap menikmati 1 day tour wisata perang Vietnam.
Jam 06.30 menu breakfast dari hostel sudah tersedia berupa Banh Mi  sandwich ala Vietnam yang sangat terkenal. Dikemas rapih dengan roti baguette yang renyah dan diisi berbagai macam isian sesuai selera. Untuk stabilitas kehalalan saya mengisinya cukup dgn irisan wortel + lobak + daun seperti selada  + Omelet + Pisang Cavendis + hot kopi Vietnam  (ca phe Nom) ....Nikmatnya Juara!




Tak lama berselang kami dijemput oleh petugas travel dengan tour bus yang akan membawa kami ke masa perang Vietnam dengan Amerika. Mudah2an bisa bertemu Rambo.
Dalam per jalanan menuju tempat ini tak begitu banyak hal yang menarik, tetapi tour guide membawa kami singgah di workshop pembuatan kerajinan tangan khas Vietnam yang dikerjakan oleh orang-orang handicapped atau yang memiliki cacat tubuh. Menurut  tour guide kami beberapa dari mereka merupakan korban dari perang Vietnam. 




Chao Dai Temple :

Jangan kaget kalau berkunjung ke kuil Cao Dai dan mendapati tokoh-tokoh spiritual berpengaruh dalam sejarah dipuja bersamaan. Mulai dari Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus, Joan D'Arc, Buddha, Lao Tse, Sun Yat Sen hingga Victor Hugo dihormati bersama-sama di kuil ini.



 

Menurut Atlas Obscura, klenteng dengan arsitektur spektakuler di Tay Ninh, 90 kilometer dari Saigon ini merupakan markas dari gerakan Cao Dai, sebuah kepercayaan yang didirikan pada tahun 1926 dan sempat berkembang pesat di Vietnam.

Cao Dai adalah sebuah kepercayaan universal yang beranggapan kalau tokoh-tokoh spiritual besar dari timur dan barat adalah nabi dari satu kebenaran tunggal yang sama.
Ritual peribadatannya pun lain dari yang lain. Saat upacara keagamaan berlangsung, para jemaat dengan baju ala biksu berwarna-warni menyanyikan lagu-lagu pujian dalam formasi layaknya umat muslim yang sedang bersembahyang di masjid. Dulu Cao Dai merupakan kepercayaan dengan pemeluk berjumlah besar di Vietnam. Dan kuil di Tay Ninh tersebut menjadi pusat keagamaan. Tetapi rezim komunis kemudian membatasi geraknya. Hingga akhirnya kuil Cao Dai kini sekadar menjadi objek wisata sekaligus tempat peribadatan sejumlah kecil pengikut Cao Dai yang masih tersisa.




Dari segi arsitektur, bangunan kuil ini memang unik. Desainnya merupakan perpaduan antara masjid dan klenteng, dengan warna-warni cerah dan ukiran rumit ala istana zaman kuno.
Di pintu masuk, terdapat lukisan penyair Vietnam Nguyen Binh Khiem, Sun Yat Sen, dan novelis Victor Hugo "menerima wahyu dari Tuhan", kata guide.

Cu Chi Tunnel :
Good evening Vietnam, im going to Cu Chi tunnel: used to be a bitter battleground for many years during The Vietnam War. Over 200 km of tunnels @ Ben Dinh 60 km from HCMC.(facebook 11 Januari 2014)

Deretan pohon karet berjajar rapi di sepanjang jalan. Selintas, beberapa penyadap terlihat sedang asyik berjalan diantara pepohonan untuk mengambil getah karet yang sudah terkumpul di wadah. Saya buka jendela bus sebelah kiri. Angin segar masuk, membaur dengan dinginnya semprotan air conditioner.
“Kita sudah hampir sampai.” Seru Mr. Nguyen, yang duduk di kursi depan. Dia adalah guide lokal dari Vinaday.comTravel.

Benar saja, bus lalu berbelok ke kanan, memasuki area parkir luas yang sudah dipenuhi bus pariwisata dan mobil-mobil yang mengantar para wisatawan. Kebanyakan dari mancanegara.

“Selamat datang ke Cu Chi Tunnel, Kita wisata sejarah hari ini. Oke?” sapanya ceria.
“Di kawasan inilah pernah terjadi pertempuran bersejarah antara Viet Cong melawan tentara Amerika pada sekitar tahun 1955-1975. Sepanjang sejarah Amerika, baru pada perang Vietnam inilah mereka mengalami kekalahan.” Guide mengawali ceritanya.
Kami berjalan memasuki lorong panjang seperti underpass. Lembab. Disini saya mulai merasakan aura yang berbeda. Langkah demi langkah membuat adrenalin saya mulai terpacu. Rasa penasaran semakin menjadi ketika saya melihat rumah-rumahan beratap rumbia sebagai penutup pintu masuk terowongan-terowongan yang ada di bawah tanah.






“Itu salah satu pintu masuk terowongan. Dibawah tanah yang sedang kita injak ini, ada ratusan labirin yang mengular panjang. Bukan hanya di komplek hutan ini, tapi sampai kampung-kampung tetangga. Konon panjangnya mencapai 250 KM. Di dalam ada 3 tingkatan terowongan, ruangan untuk makan, rapat, tidur, bahkan untuk berkelahi pun ada.”

Saya cuma bisa melongo mendengar penjelasan Mr. Nguyen. Tidak terbayang bagaimana proses pembuatan terowongannya, perang gerilyanya, hingga cara hidup di bawah tanah masyarakat Vietnam yang kala itu sedang dibawah tekanan tentara musuh. Sekilas kawasan ini hanya seperti hutan biasa, namun ternyata Cu Chi Tunnel adalah simbol kebanggaan perjuangan revolusi rakyat Vietnam.






“How do they breathe?”  tanya saya kepo. Membayangkan saja sudah megap-megap.
“Come here!”
Dia mengajak saya maju beberapa langkah menyusuri jalan setapak diantara lebatnya pepohonan.
“Kamu lihat gundukan tanah ini? Ya, inilah ventilasinya. Fresh air flew through this hole.”
Saya manggut-manggut sambil membayangkan kalau tiba-tiba saja ular kobra masuk ke lubang-lubang ventilasi tersebut. Apa jadinya orang-orang yang hidup di dalam coba?

“Ketika perang, kawasan ini termasuk free shoots. Siapa saja boleh ditembak, termasuk wanita dan anak-anak. Tentara Amerika juga menyerbu Cu Chi Tunnel menggunakan tank, dan menghujani kawasan Cu Chi dengan bom. Tapi gerilyawan Viet Cong tak kalah akal. Mereka juga memasang berbagai macam jebakan mematikan. 


Mencari Rambo ?
Wajar saja jika para tentara Amerika desperate menghadapi gerilyawan Viet Cong. Lha jebakan betmen-nya serem banget! Besi-besi tajam berkarat ditanam di bawah tanah dan siap menghunjam siapa saja yang salah langkah.
Cu Chi Tunnel dibagi menjadi 2 area yaitu Ben Duoc Tunnel dan Ben Dinh Tunnel. Disini kita juga bisa mencoba latihan menembak dengan peluru tajam, belanja aneka souvenir, melihat pembuatan rice paper, minuman tradisional dan blusukan ke terowongan bawah tanah seperti yang kami lakukan berikut ini:





Lepas maghrib kami sampai kembali ke SaiGon. Jalan macet beriringan hujan rintik. Kami segera bergegas masuk hostel untuk berkemas. Malam ini kami akan melanjutkan petualangan  ke Pnom Penh dengan sleeper bus.
Setelah mandi kami keluar. Dekat penginapan kami ada satu taman kota yang cukup luas, namanya September 23 Park.
Lokasinya di Jalan Pham Lao Distrik 1 Ho Chi Minh City. Taman ini sangat strategis karena dikelilingi kawasan backpacker, dekat dengan Ben Thanh Market dan Quch Thi Trang Square, salah satu pusat perbelanjaan di Ho Chi Minh.





Sekarang ini September 23 Park menjadi salah satu taman yang paling sering dikunjungi saking luas dan banyak fasilitas umum yang tersedia di sana.  Sejarah sebelumnya, tempat ini jadi stasiun kereta api dari abad ke-19. setelah 1975, stasiun dihancurkan dan dipindahkan ke distrik 3. Sebagian tanah dibangun kembali menjadi taman dan sisanya dikelola menjadi pusat turis De Tham Pham Ngu Lao, area backpacker yang juga jadi tempat kami menginap.

Taman yang bentuknya memanjang ini dimanfaatkan sebagai pusat kebugaran. Senam dan kegiatan olahraga untuk manula dilakukan setiap pagi. Mereka melakukan secara berkelompok dan tersebar di beberapa area taman. Di bagian terluar dilengkapi alat fitnes permanen, yang bisa digunakan siapa saja. Nggak sebagus seperti alat fitnes di pusat kebugaran, tapi cukuplah untuk membantu mengolah tubuh dengan gerakan-gerakan tertentu.

Olahraga lain yang populer yaitu foot shuttlecock game atau orang lokal menyebutnya Da Cau. Olahraga asli dari Tiongkok tepatnya daerah Jianzi, yang terbawa ketika migrasi ke daratan Indochina.  Foot Shuttlecok game ini merupakan permainan kuno di China sejak 2000 tahun, zaman pemerintahan dinasti Han.


Wanita bermain Da Cau
Area lainnya sangat multifungsi, bisa digunakan untuk jalur lari atau sekedar tempat kumpul dan meeting point. Banyak tempat duduk bertebaran yang disediakan. Berbeda seperti di Indonesia, taman yang cukup luas ini minim pedagang asongan, terutama makanan. Pedagang kaki lima biasanya menjual mainan atau sekedar air minum. Tempatnya juga bersih dan tertata rapi. Ho Chi Minh City benar-benar memberikan ruang publik yang memadai dan memiliki standar bagus.
Pas malam hari aktivitas olahraga juga tidak berhenti. Mereka biasanya latihan main Da Cau yang sudah menjadi olahraga nasional di Vietnam. Da Cau dimainkan oleh siapa saja dan dari kalangan mana saja.  Permainan dilakukan satu lawan satu, kalau yang sudah jago bisa dengan satu lawan dua. Main pakai kaki dengan menendang shuttlecock yang diarahkan ke lawan. Bolanya beda dengan shuttlecock untuk bulutangkis, meski sama-sama menggunakan bulu binatang.
Permainan ini seru karena nggak cuma laki-laki yang bisa melakukannya. Bahkan pertandingan amatir yang saya lihat. Ada seorang ibu melawan dua orang dan memenangkan permainan.

Saat duduk2 seorang Bapak tua penjual kopi keliling menggunakan baju khas Vietnam berpeci spt jamaah tabligh mendekati kami dan menyapa dalam bhs Vietnam. Saya menerka   dia berkata “anda Muslim?” sambil menunjuk isteri saya yg mengenakan hijab. Beliau mengatakan bahwa dia seorang “Museleman”. Wah kami senang sekali. Saya pesan kopi es nya sambil ngobrol gak karuan dlm bahasa Tarzan. Saya gak mengerti. Beliau pun tak mengerti. Namun kami yakin secara ruhaniah hati terpaut iman Islam, damai rasanya...
Sekitar jam 21.00 sleeper bus yang akan kami tumpangi sdh di parkir di depan kantor travel tak jauh dari hostel kami. Kamipun bersiap meninggalkan SaiGon.

Tuhan memberikan kemampuan bagi setiap manusia untuk berkomunikasi dalam bhs universal... bahasa tarzan!



Bis ini unik banget karena baru saya lihat di Vietnam. Seperti namanya, Bus ini emang dirancang buat kita bisa tidur dalam bis untuk perjalanan jauh. Dari luar sih kayak bis biasa aja, tapi dalemnya bukan kursi yang berjejer tapi kayak kasur (yang gak lurus total sebenernya). Jadi selama perjalanan kita gak bisa duduk tapi cuma bisa selonjoran.

Buat kita orang dengan ukuran Asia bis ini nyaman-nyaman aja. Kalo buat bule yang badannya kayak Hulk atau Rambo sih sempit banget. Tinggi saya sekitar 170, isteri 156 jadi asyik banget. Kalo kakimu panjang bakal kayak ada dibawah punggung orang yang di depanmu nanti. Susunan duduk, maksutnya, tidurnya satu-satu ada tiga baris dan dua tingkat. Daya tampungnya sekitar 40an orang dan untuk bis yang perjalanannya jauh ada pilihan kamar mandi atau tanpa kamar mandi.

Naik sleeper bus ini bakal lebih murah dibandingkan kita naik kereta. Waktu tempuhnya juga cuma beda dua tiga jam dari kereta. Kami  ambil bis jam terakhir atau paling malem. Jadi bisa tidur di bis dan paginya udah sampe di kota Pnom Penh. Lumayan juga selain efisien waktu kita bisa nge-cut cost buat hostel semalem.


Banyak banget bus company yang ngelayanin dari kota manapun ke kota apapun. Biasanya mereka punya kantor di daerah backpacker di kota itu. Jadi gak terlalu ribet nyarinya. Hostel-hostel pun udah pasti punya koneksi dari salah satu dari mereka dan kalo males ribet cari-cari bisa dari hostel aja pesennya. Untuk harga relatif tergantung jarak dan grade company nya, semakin mahal ya semakin bagus. Compare beberapa bus company buat dapet harga yang paling baik.


12 Januari 2014

Tiba2 terdengar hiruk pikuk. Kami dibangunkan oleh awak bus. Tau-tau di luar sdh terang sekitar jam 6 pagi. Rupanya kami sdh sampai di perbatasan Vietnam dan Kamboja. Semalam hujan sangat deras, kami tertidur lelap apalagi AC bis dingin betul. Setelah pemeriksaan di desk imigrasi Kamboja kami kembali naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari border line bus berhenti di rest area yg sangat sederhana, mirip penghentian bus antar kota di Sumatera.
Sekitar jam 8 bus sampai di tepi sungai Delta Mekong, bus naik ke kapal ferri untuk menyeberang ke kota Pnom Penh.






Sekitar jam 09 pagi kami tiba di tengah kota Pnom Penh dan turun di pool bus. Anyway, tidak ada perjalanan malam untuk bus jurusan Phnom Penh-Siem Reap ini. Jadi kita tidak bisa menggunakan salah satu prinsip backpacker yang menggabungkan pengeluaran transportasi dan penginapan menjadi satu.

Kami langsung mencari tiket  Minivan Hi-ace ke Siem Reap di beberapa travel agent di sepanjang street 178.  Harga HiAce paling murah dari Phnom Penh ke Siem Reap itu $7/orang. Tapi ini jarang banget ada travel yang bisa ngasih harga segitu.  sampai di ujung jalan yang di depannya adalah sungai Mekong, di depan café … (maaf saya lupa namanya) ada satu kios yang namanya Mobile Travel. Nah, kios inilah yang menjual tiket ke beberapa kota tujuan di Kamboja dengan harga yang kompetitif. Setelah memiliki tiket Minivan yg akan berangkat jam 13.00.

Kami hanya punya waktu sekitar 4 jam di kota ini hingga tak mungkin  mengeksplore kota ini lebih lama. Kami menyewa/charter Tuk tuk yang nongkrong di depan kios travel agent untuk mengantar kami ke beberapa destinasi. Pengemudinya seorang anak muda bernama Shavi yang sangat ramah dan cukup baik berbahasa Inggris. Hal pertama yang saya minta ke Shavi adalah mencari makanan halal. Kami di antar ke sebuah rumah makan di simpang jalan.






Setelah melepaskan lelah dan lapar Mr Shavi mengantar kami ke destinasi berikut :

Russian Market :
Russian Market sebenarnya bernama Psah Toul Tom Poung. Dinamai Russian Market bukan karena Kamboja dulu sempat berideologi komunis, tapi karena dulu di tahun 1980-an banyak orang-orang Rusia belanja di pasar ini. Akhirnya orang-orang Phnom Penh menamai pasar ini dengan Russian Market.
Kalau suka belanja souvenir di sinilah tempatnya. Bagian depan pasar ini adalah para pedagang souvenir. Mulai dari souvenir kecil-kecil macam gantungan kunci hingga souvenir macam lukisan dinding ada semua. Harganya pun murah, sudah begitu masih bisa ditawar sampai mepet.


Di sini juga banyak baju bermerk dengan harga murah. Konon asli, rembesan dari pabrik tekstil yang diselundupkan ke luar. Di Kamboja memang banyak pabrik tekstil yang membuat produk kloning dari banyak brand luar. Industri ini menjadi penopang ekonomi Kamboja. Ongkos produksi dan upah buruh yang murah membuat banyak brand membuat barangnya di Kamboja. Dari pabrik-pabrik itulah sebagian barang rembesannya masuk ke Russian Market.




Pasar ini cukup bersih. Tapi kalau soal turis yang mampir, Russian Market lebih banyak turis yang datang. Mereka berburu barang unik untuk souvenir, ketika saya menelusup ke lorongnya, ada yang sedang tawar menawar sebuah lukisan dinding berukuran besar. Saya sampai takjub, bawa ke negaranya macam apa?.
Sisi lain Russian Market adalah pasar ini juga merupakan pasar untuk kebutuhan sehari-hari seperti sayur, daging dan beragam kebutuhan sehari-hari dan di bagian ini yang masuk ke pasar adalah orang-orang lokal. Berada di bagian ini rasanya seperti pasar di Indonesia, berisiknya sama, tawar menawarnya sama, beceknya sama, ruwet-ruwetnya sama dan keramahan pedagangnya sama.

Saya membeli beberapa barang di pasar ini, bayarnya menggunakan dolar kembaliannya menggunakan Riel. Kamboja memang salah satu negara yang menggunakan mata uang dolar amerika sebagai mata uang resmi. Perbandingannya mudah, 1 dolar amerika setara dengan 4000 riel, perbandingan ini berlaku di seluruh negeri.
Makanya saat ke Kamboja saya tak kesulitan, tinggal bawa dolar amerika saja dari Indonesia. Harga makanan cukup murah jika disetarakan dalam rupiah, sekitar 20-39 ribu. Yang lebih ajaib adalah harga bir di Phnom Penh lebih murah daripada air mineral. Harga bir sekiranya 0,5 dolar amerika sementara air mineral 0,6 sampai 1 dolar. Ahh..andai bir halal tentu mending beli bir..hahay!

Vihara Wat Phnom :
Wat Phnom, Kuil Budha Teravada yang terletak di tengah kota ini jangan di datangi jika anda berpasangan (masih pacaran) bisa putus mitosnya begitu. Sebenarnya ada biaya untuk masuk yaitu $1, tapi berhubung muka kami sudah seperti orang Kamboja jadi free, kami gak bayar masuk sini, nyamar jadi cambodian...hihihihi..


 

Tempat Wat Phnom berdiri juga merupakan ruang publik yang luas. Tamannya hijau dan bersih, ada jam raksasa di sisi bawah Wat Phnom yang cukup fotogenik dan menjadi latar berfoto bagi banyak berkunjung. Hanya saja jika ke sini jangan sore atau malam, tempat ini cukup rawan, lebih baik datang ke Wat Phnom saat pagi atau siang hari.
 

Royal Palace :
Royal Palace, Keraton Ala Kamboja Ini Terletak di Depan Sungai Mekong (River Side) Royal Palace mempunyai beberapa bangunan yang masing-masing mempunyai karakteristik yang khas dan mempunyai desain yang sangat indah. Nama bangunan-bangunan yang terkenal di Royal Palace antara lain Preah Thineang Dheva Vinnichay (Throne Hall), Preah Thineang Chan Chhaya (Moonlight Pavilion), dan Prasat Khemarin (Khemarin Palace). Di sini juga terdapat bangunan lain dengan ukuran yang lebih kecil, antara lain Hor Samran Phirun, Hor Samrith Phimean, Damnak Chan, Phochani Pavilion (Dance hall), Serey Monkol Pavilion (Royal Conference Hall), King Jayavarman VII Pavilion, Vihear Suor (Royal Chapel), Villa Kantha Bopha, Villa Chumpou, dan Villa Sahametrei.





Saya jalan-jalan ke Istana Kerajaan yang atapnya megah-megah, di sekitarnya ada tiga empat bangunan dengan atap stupa runcing ini. Beberapa di antaranya gedung pemerintah. Mungkin demikian jika sebuah negara masih mempertahankan sistem kerajaan juga sistem aksara tradisionalnya. Hal-hal yang tradisional masih dijaga dan dipertahankan termasuk bangunan dengan fasad tradisional masih lestari hingga kini.

Genocide Museum :
Genocide Museum atau Tuol Seng Museum ini awalnya adalah sekolah menengah umum di Phnom Penh. Pada 17 April 1975, Pemerintahan di bawah Pol Pot mengubah sekolah ini menjadi penjara yang disebut dengan S.21 (Security Office 21), dan menjadi penjara terbesar di Kamboja. Namun tempat ini tak hanya penjara, namun juga tempat penyiksaan bagi ribuan tahanan yang ada disini. 
Sekilas tentang Khmer Merah: Jadi pada tahun 1975, Kamboja dikuasai oleh rezim di bawah kepemimpinan Pol Pot. Sebenarnya secara resmi rezim ini hanya berdiri selama 3 tahun 8 bulan. Namun, dalam masa pemerintahan dari Pol Pot tersebut, 3 juta dari 8 juta rakyat Kamboja tewas, baik akibat kelaparan atau tewas disiksa.




Sekitar jam 13.00 saya dan isteri diantar Mr Shavi kembali ke agent travel. Kami menyempatkan mampir menikmati kelapa muda, cuaca panas banget...wuihhh seggernyah! Shavi menawarkan kami untuk menggunakan jasa sewa Tuk Tuk saudaranya selama di Siem Reap. Saya menyambut baik tawaran ini karena keramahannya, apalagi kami akan sampai di Siem Reap sekitar jam 19.00 malam.

Hendak sholat saya nyelonong ke ruko warga setempat minta ijin sholat dgn bahasa tarzan. Alhamdulillah saya diizinkan. Saya sholaat  persis di depan tempat sembahyangnya mereka, lengkap dgn hio dan patung Budha.



Satu hal terakhir yang saya suka dari Kamboja adalah banyaknya bangunan tradisional di sudut kota. Di Phnom Penh bangunan dengan stupa runcing berundak mudah ditemukan, bahkan jadi signature khas bangunan.




Rasa lelah yang kami alami beberapa hari ini sebenarnya tak ada apa-apanya dengan kepuasan yang kami dapatkan. Terima kasih pada Allah SWT, dan saya berharap selalu mendapatkan kemudahan dan kesehatan selama melakukan perjalanan

Menuju Siem Reap :
Perjalanan dari Phnom Penh-Siem Reap sekitar 6 hingga 7 jam menempuh jarak 320 Km. Kondisi minivan cukup bagus (Maklum, harganya cukup mahal dibanding bus. Tapi yang penting ada AC-nya lah ya soalnya panas di Kamboja itu sangat menyengat dan debunya juga ampun-ampunan karena jarang sekali turuh hujan disini). Tapi kalau untuk para backpacker, saya rasa masih sangat enak sekali menempuh perjalanan dengan minivan ini. Dan bukankah setiap satu dolar yang keluar dari kantong kita sangat berharga artinya bukan? Jadi walaupun hanya beda satu-dua dolar, berusahalan untuk memilih yang termurah dan mengenyampingkan “ego kenyamanan” kita. Trust me, di luar negeri kita akan lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang kita walaupun hanya satu dolar, maklum traveler kismin kodong...

Perjalanan waktu itu kalau tidak salah melintasi National Highway 5. Uh jangan harap kamu akan melewati jalan bersih mulus layaknya jalan Tol Jagorawi. Kanan kiri jalan adalah ladang kering dan tandus, yang kalau musim hujan akan berubah jadi rawa. Sementara jalanannya sendiri tak berbeda jauh dengan ladang tandus itu. Saya baca beberapa tips aman jalan-jalan di Kamboja, akan lebih baik memang tidak naik bus malam, karena pada umumnya, banyak jalan yang tak mempunyai lampu jalan dan mengingat jalanannya yang tidak rata serta akan jadi rawa kalau hujan, maka… sebaiknya ya ambil minivan siang.



Tak perlu membayangkan akan seberat apa perjalannya. Tidak seburuk yang kamu pikirkan kok. Di Indonesia pasti lebih banyak jalan-jalan yang lebih kacau. Selain rawa-rawa kering, pemandangan rumah-rumah lokal yang mirip seperti rumah panggung juga akan bisa dinikmati. Warga lokal di pedesaan nampaknya lebih menyukai tinggal di atas rawa, dengan tumbuhan eceng gondok dan teratai memenuhi halaman mereka, sementara itu hewan-hewan seperti bebek maupun kerbau turut berperan serta menghiasi pekarangan rumah mereka. Sesuatu yang unik.
Di tengah perjalanan bus sempat berhenti dulu untuk istirahat makan. Ketika berhenti di suatu kedai makan, saya sempat melongok barang dagangannya. Menu makanannya tidak ada yang menarik. Kemudian mata saya terhenti pada snack yang dijual. Ternyata ada recheese nabati dan produk-produk makanan ringan asal Indonesia. huwooo.. hits banget kan?
Sementara itu, selain cuaca yang berganti dari terik, ke hujan, ke terik lagi, warna langit pun ikut berubah. Mulai dari langit biru, awan gelap, hingga sunset yang ciamik mengisi perjalanan lintas Kamboja. Sekitar jam 6 sore, bus belum juga sampai. Perempuan di samping saya terus gelisah. Kemudian menanyakan ke saya, jam berapa kita akan sampai. “Oh sorry I don’t know, this is my first time here.” jelas saya.
“ok no problem, it’s my first also”.

Sekitar jam 8 malam minivan Hi-Ace tiba di Siem Reap. Kami diturunkan di halaman sebuah swalayan sederhana. Setelah menurunkan bagasi seorang anakmuda mendekati kami, memperkenalkan diri sebagai Sovan, saudara Mr. Shafi.
"Hi Sovan, i'm Sofyan. Nice to meet you" (kayak dipelajaran SMA dulu khaann..haha).
Alhamdulillah... tanpa kesulitan saya bertemu dgn orang yg akan menjadi guide kami. Segera kami bergegas menaiki Tuk tuk. Sovan membantu membawa ransel ke Tuk tuk. Kami sudah sangat lelah ingin segera sampai ke homestay. Saya menunjukkan secarik kertas alamat Channa’s Angkor Homestay : Angkor Archaeological Park, Trapeang Ses, Siem Reap, Kamboja (kami pesan melalui Booking.com). Channa's Angkor Homestay menawarkan kamar yang terletak di rumah tradisional Khmer dengan Wi-Fi gratis. 
Angkor Wat atau Wat Thmei berjarak 1 km dari Channa's Angkor Homestay.

‘Tuk tuk menyusuri jalan ke pinggiran kota yg  sepi...agak gelap karena kurangnya lampu jalan. Makin lama makin jarang2 rumah. Di kiri kanan pohon2 besar menjulang. Angin berhembus dingin. Hanya terdengar suara mesin Tuk tuk. 


Jalan menuju Channa's Angkor Homestay
Suara Sovan memecahkan keheningan : “are you seriously nginap di sana? Maukah kuantar ke hostel yg lebih ramai?, saya banyak kenal” ada nada kekhawatiran Sovan bercampur iklan. “Batalkan saja lalu pindah ke hostel bujet yg lain...” Saya jelaskan ke Sovan bahwa bookingan ini gak bisa direfund, jadi sayang kalo batal. Lagi pula saya memang ingin menikmati sensasi tinggal di rumah tradisional Khmer.

Tak lama kemudian Tuk tuk keluar dari jalan utama belok kiri masuk ke jalan kampung yang tak beraspal. Berbatu dan berdebu. Busyeeet. Rasa takut mulai menyelimuti Istriku. Aku berusaha menenangkan. Tuktuk masuk ke halaman sebuah rumah panggung kayu yg besar dengan pepohonan rimbun tak beraturan di sekelilingnya. Munculnya anjing sekitar 8 ekor yg menggonggong dan mengitari tuk tuk menambah suasana mencekam. Sovan turun memanggil petugas homestay. Seorang ibu dgn wajah khas Kamboja keluar menggendong anak kecil. Usia Ibu ini kutaksir sekitar 40 tahun. Homestay ini dikelilingi pepohonan tropis dan bunga-bunga dengan suasana pedesaan yang asli. Rumah ini rupanya milik Mr. Thomas (Perancis) yang beristerikan perempuan tadi, asli Khmer.
Rumah Inti
Kamar kami....gilaaak !

Mr Sovan tampak berdialog dengan ibu tersebut lalu Sovan mendekati kami, meminta kami turun sambil mengusir anjing2 yg terus menyalak. Ibu yg ternyata pemilik rumah tsb “memerintahkan” anjing2 tsb pergi, baru deh sedikit terasa plong. Saya pikir kami akan menginap di rumah besar tersebut eh ternyata kami ditunjukkan sebuah ‘paviliun’ berbentuk rumah khas Khmer ukuran 2.5 x 2.5 m yang terletak sekitar 15 meter di samping depan rumah utama yg  hanya berisi 1 dipan lengkap dengan kelambunya berwarna pink (kebayang film Suzana) + lampu bohlam 10 Watt agak berdebu krn mungkin jarang ditinggali. Tidak ada toilet/wc...kalo mau ke toilet harus menyeberang ke rumah utama, ooomaigaaad..! SS bin Super Scary !



Sovan membantu menurunkan ransel. Kami adalah satu2nya tamu homestay ini. Masya Allah!
“Be careful” kata Sovan.
“Yupp..thanks!”  Saya mengingatkan Sovan agar tidak telat menjemput kami jam 04.00 ntar subuh (sekaligus memastikan besok  menemukan kami masih hidup di sini...huhuhu).

gelap gulita di desa Khmer
Sovan berlalu. Kami langsung menutup pintu kayu yg berderit. Suara mesin tuk tuk makin menjauh sampai akhirnya hilang di telan kegelapan. Kami merebahkan diri menatap kelambu menembus langit2 kamar beratap rumbia. Tak perlu saya ceritakan bagaimana kondisi psikis Istriku saat ini. Scream. Kami membaca semua surah2 yang kami hafal. Tak tahu lagi berapa kali ayat kursi kami ulang-ulang sampai akhirnya kami tertidur juga.

Jam 03.00 saya bangun. Kebelet pengin pipis. Terdengar jelas dari kejauhan suara pendeta Budhis sedang melantunkan seperti doa-doa dengan nada aneh di kupingku. Mungkin semaca dzikir kali yak. Kubangunkan isteriku untuk  siap-siap melanjutkan perjalanan.  Karena kamar mandi ada di samping rumah besar, mau tak mau suka tak suka serem tak serem kami harus ke situ, masak kencing di pinggir ranjang?. Aku buka sedikit daun pintu...ngintip keadaan di luar. Tak seekorpun anjing yang berseliweran. Kemana ya anjing2 semalam? Ngerinya pas kita keluar mereka juga keluar dan menggigit kami. Isteriku sangat ketakutan. Tapi apa boleh buat. No Choice. Jam 03 pagi bro kami keluar dari kamar sempit itu mengendap-endap. Kami takut serbuan anjing dan takut melihat “sesuatu” yang tak perlu kami lihat.

Angin berdesir menggerakkan pepohonan. Tiba di kamar mandi, kuminta isteriku masuk duluan. Saya berjaga di depan kamar mandi. Mataku menyisir kebun, kupandangi sekeliling rumah. Anjing2 itu kemana ya?.
Selesai isteriku mandi dan wudhu, giliranku dong. Isteriku tak mau menunggu di luar kamar mandi...ya sudah . Untung kamar mandinya cukup luas, silakan dipojok menonton pilem 17 th ke atas tanpa sensor !...hahaha

Tak lama setelah sholat subuh, terdengar suara mesin tuk tuk dari kejauhan. Mudah2an Sovan. Ternyata benar. Saya segera menyelesaikan urusan administrasi dgn Mr. Thomas pemilik homestay. Setelah itu kami langsung berangkat ke Angkor Wat untuk menyaksikan sunrise di candi utama Angkor.

 









 


Saya yakin, satu-satunya alasan mengapa para turis mengunjungi Siem Reap adalah untuk berwisata ke Angkor Wat. Nah, untuk ke Angkor Wat kita harus menyewa tuk-tuk karena Angkor Wat itu sangat besar dan tidak memungkinkan kita berjalan kaki mengelilinginya. Harga sewa tuk-tuk untuk satu hari mengelilingi Angkor Wat sebesar $15 (tuk-tuk bisa diisi maksimal 6 orang, kan lumayan murah kalau $15 dibagi 6 orang) saat weekday dan $25 saat weekend. Apabila tukang tuk-tuk meminta imbalan lebih dari itu,kita tinggal tawar saja harga yang dia minta. Yang pasti standar untuk sewa tuk-tuk satu hari adalah segitu. Oh iya, saat tawar-menawar harga jangan lupa untuk menegaskan pada tukang tuk-tuk seharian itu kita akan dibawa ke candi mana saja karena kalau kita minta pergi ke candi yang diluar kesepakatan, biasanya tukang tuk-tuk akan minta uang tambahan. Dan kalau anda ingin menikmati sunset di Angkor Wat, anda juga harus bilang sebelumnya pada tukang tuk-tuk saat tawar-menawar, karena ya itu tadi, kalau anda mintanya di akhir, anda pasti akan kena charge tambahan. Sedangkan untuk bisa masuk ke Angkor Wat, Anda harus membayar $20 untuk one day visit atau $40 untuk three days visit atau $60 untuk seven days visit.





  

 


menanti sunrise di Angkor Archaelogical Park
Night Market Siem Reap

To be Continued ......
                             Siem Reap ke Bangkok naik Bus (nginap 3 malam)  
                             Bangkok naik kereta ke Hatyai
                             Hatyai naik minivan ke Penang
                             Penang naik Bus ke KL
                             KL naik Bus ke Melaka
                             Melaka naik Bus ke Singapore
                             Singapore menyeberang ke Batam via feri
                             Batam menyeberang lagi ke Singapore 
                             Batam ke Jakarta.......



Cambodia - Thailand Border line 

INDOCHINA Couples Backpacker Nekad Ep.1 INDOCHINA Couples Backpacker Nekad Ep.1 Reviewed by Sofyan Saleh on Februari 13, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!