PALEMBANG, Jejak Masa Lalu

 

Napak Tilas ke Palembang – Desember 2024

Setelah 13 tahun berlalu sejak kunjungan terakhirku, akhirnya langkah ini membawaku kembali ke Palembang, kota penuh kenangan. Palembang bukan sekadar tempatku bekerja sebagai Branch Manager TGA Bookstore Cabang Palembang di Internasional Plaza selama periode 1996 hingga 1999, tetapi juga kota yang telah memberikan warna dalam perjalananku. 13 tahun tidak menginjakkan kaki di Palembang, sekarang aku kembali ke kota ini untuk mengenang masa-masa indah selama bekerja  di Internasional Plaza. Perjalanan ini menjadi kesempatan berharga untuk menelusuri jejak kenangan, meskipun hanya dalam waktu tiga hari. 

Dari Tangerang pagi sekitar jam 07.00 bersama sahabat baik sekaligus tetangga, kami mengendarai mobil menuju Merak lalu tanpa mengantri kendaraan kami langsung naik ke kapal ferry eksekutif KMP Sebuku. Kondisi cuaca dan hembusan angin cukup baik sehingga dalam tempo 1.5 jam kapal tiba di Bakauheni dan langsung menuju lintas tol Lampung - Palembang. Sekitar jam 16.30 kami keluar gate tol Kramasan melaju masuk kota yang sedang traffic jam di beberapa titik. Kami tiba di kawasan Sukamaju pas saat magrib, kami sholat qoshar  di Masjid Al Mukhtar, milik keluarga besar sahabat kami. Setelah beristirahat sejenak (makan malam) di rumah keluarga yang halamannya sangat luas (6000 Sqm) kami melanjutkan ke hotel terdekat yaitu Airish Hotel, Sukabangun I Kenten, Palembang. Istirahatkan body persiapan utk perjalanan menyusuri lorong waktu, mengulik otak mengingat-ingat map kota Palembang...


Hari Pertama


Kami memulai perjalanan dengan mengunjungi sanak keluarga untuk menjalin kembali silaturahmi. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Al Mahmudiyah (Suro), masjid tua yang memancarkan keanggunan sejarah. Kami kemudian menuju Bayt Al Quran, tempat yang menampilkan karya seni Islam yang mengagumkan.

Siang harinya, kami menikmati suasana di sekitar Benteng Kuto Besak, dan mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Pemandangan megah Jembatan Ampera berwarna merah mencolok, terlihat indah dari sisi Patung Belida di tepian Sungai Musi, menjadi penutup hari yang menyenangkan.


Hari Kedua


Aku memilih berjalan sendirian untuk mengenang masa-masa lama. Perjalanan dimulai dari kawasan Masjid Agung dan Pasar 16 Ilir, kemudian ke pertokoan Gaya Baru dan Dika Plaza, tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari keseharianku. Aku melanjutkan perjalanan ke sepanjang Jalan Sudirman, melewati ruko-ruko lama yang tetap berdiri kokoh.

Tujuan utama hari itu adalah Internasional Plaza, tempatku pernah bertugas (mutasi dari Cabang Jakarta). Aku mengunjungi setiap lantai, hingga lantai 5, menatap tiap sudut sambil mengenang aktivitas sehari-hari di lingkungan plaza ini. Setelah puas bernostalgia, aku baik  Gojek menuju Kampung Pempek di Jalan 26 Ilir. Kawasan ini penuh dengan pengunjung yang membeli berbagai olahan pempek, ikon kuliner khas Palembang.


Hari Ketiga


Di hari terakhir, aku dan teman-teman melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung, masjid yang menjadi kebanggaan Palembang. Seusai salat, kami makan siang di Warung Sate Pardi di Jalan Rajawali, menikmati cita rasa khas yang tak tergantikan.

Perjalanan tiga hari ini berhasil menghidupkan kembali kenangan masa lalu sekaligus menghadirkan pengalaman baru. Palembang telah berkembang pesat, tetapi tetap mempertahankan kehangatan dan budayanya yang kental.


LINI MASA DESTINASI 


1. Masjid Al Mahmudiyah (Masjid Suro)

Masjid Al Mahmudiyah, yang dikenal pula sebagai Masjid Suro, merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Palembang Darussalam dan menyimpan nilai sejarah yang tinggi, baik dari segi arsitektur maupun peranannya dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Masjid ini didirikan pada tahun 1820-an atas prakarsa Kyai Haji Ahmad Mahmud, seorang ulama besar yang sekaligus merupakan penggerak dakwah Islam di Palembang. Nama masjid ini diambil dari nama beliau, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.

Lokasi dan Nama "Suro"

Masjid ini terletak di kawasan Kampung Suro, yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Ilir Barat II, Palembang. Nama "Suro" berasal dari nama wilayah di sekitarnya, sehingga masyarakat setempat lebih sering menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Suro.

Arsitektur Masjid

Masjid Al Mahmudiyah memiliki ciri khas arsitektur tradisional Palembang yang dipadukan dengan sentuhan budaya Islam. Atap masjid berbentuk limas bertingkat tiga, yang melambangkan tingkatan dalam ajaran Islam: iman, Islam, dan ihsan. Pilar-pilar kayu yang kokoh, ukiran tradisional, serta bentuk bangunannya mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Sejak didirikan, masjid ini menjadi pusat aktivitas keagamaan, pendidikan, dan sosial. Selain digunakan untuk salat berjamaah, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat pengajaran Al Quran, kajian Islam, dan musyawarah masyarakat. Pada masa perjuangan, masjid ini juga sering dijadikan tempat berkumpulnya para pejuang untuk merumuskan strategi melawan penjajah.

Renovasi dan Pelestarian

Seiring berjalannya waktu, Masjid Al Mahmudiyah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga keutuhan struktur bangunan tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi salah satu landmark penting di Palembang, sekaligus saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Sumatera Selatan.


 







2. Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, yang dikenal sebagai Masjid Agung Palembang, adalah salah satu masjid terbesar dan tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di pusat Kota Palembang, Sumatera Selatan, dan menjadi simbol kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

Pendiri dan Pembangunan

Masjid Agung Palembang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1738 dan selesai dibangun pada tahun 1748. Pembangunan masjid ini mencerminkan peran besar Palembang sebagai pusat kebudayaan dan agama Islam di Sumatera pada masa itu.

Arsitektur dan Keunikan

Arsitektur Masjid Agung merupakan perpaduan gaya tradisional Melayu, Tionghoa, dan Eropa.

  • Atap Bertingkat: Atap masjid berbentuk limas bertingkat, khas Palembang, yang melambangkan harmoni dalam kehidupan.
  • Pengaruh Tionghoa: Gaya arsitektur Tionghoa terlihat pada ornamen masjid, seperti pada bagian ukiran dan bentuk menara.
  • Pengaruh Eropa: Elemen bangunan Eropa terlihat pada pilar dan lengkungannya, yang memberikan kesan megah.

Pada awalnya, masjid ini memiliki luas sekitar 1.080 meter persegi dan dapat menampung 1.200 jamaah. Seiring waktu, luas masjid telah diperluas menjadi lebih dari 15.000 meter persegi untuk mengakomodasi kebutuhan jamaah yang terus meningkat.

Masjid Agung Palembang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan politik selama masa Kesultanan Palembang. Pada masa penjajahan Belanda, masjid ini sempat digunakan untuk berbagai kegiatan strategis oleh para pejuang kemerdekaan.

Renovasi dan Perkembangan

Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi besar, termasuk pembangunan menara pada tahun 1753. Renovasi modern dilakukan pada abad ke-20 dan ke-21, yang menambahkan fasilitas modern tanpa menghilangkan keasliannya.

Kini, Masjid Agung Palembang menjadi ikon kota sekaligus destinasi wisata religi. Dengan kapasitas yang mencapai puluhan ribu jamaah, masjid ini juga menjadi pusat perayaan hari besar Islam di Sumatera Selatan.



















3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah salah satu museum bersejarah di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Museum ini tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan dan memamerkan warisan budaya, tetapi juga merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Palembang Darussalam hingga masa penjajahan Belanda.

Lokasi dan Bangunan

  • Lokasi: Museum SMB II terletak di kawasan Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi, tidak jauh dari Jembatan Ampera.
  • Bangunan Bersejarah: Gedung museum ini dulunya adalah istana Kesultanan Palembang yang dibangun pada tahun 1823. Bangunan ini mengadopsi arsitektur tradisional Palembang yang berpadu dengan gaya kolonial Eropa.

Sejarah Singkat

  • Gedung ini awalnya merupakan Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang digunakan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan Belanda.
  • Setelah Kesultanan Palembang takluk oleh Belanda pada tahun 1821, istana ini diambil alih oleh pemerintah kolonial dan digunakan untuk kepentingan administrasi.
  • Pada tahun 1984, bangunan ini difungsikan sebagai museum untuk memperingati jasa Sultan Mahmud Badaruddin II dan melestarikan budaya serta sejarah Palembang

Museum ini menyimpan berbagai artefak bersejarah yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah Palembang, antara lain:

  1. Artefak Kesultanan: Koleksi peninggalan Kesultanan Palembang, seperti senjata tradisional, pakaian adat, perhiasan, dan alat musik.
  2. Replika Al-Qur'an Al-Akbar: Sebuah mushaf Al-Qur'an besar yang menampilkan seni kaligrafi khas Palembang.
  3. Keramik dan Porselen: Barang-barang yang berasal dari Tiongkok dan Eropa, menunjukkan hubungan perdagangan internasional Palembang di masa lalu.
  4. Diorama Perjuangan: Diorama dan lukisan yang menggambarkan perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II melawan kolonialisme Belanda.

Fungsi dan Peran

  • Pelestarian Budaya: Museum ini menjadi tempat untuk menjaga warisan budaya dan sejarah Palembang.
  • Edukasi: Menyediakan informasi mendalam tentang sejarah Kesultanan Palembang, perjuangan kemerdekaan, dan kehidupan masyarakat di masa lampau.
  • Destinasi Wisata: Menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Palembang, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah kota ini.

Arsitektur dan Keindahan

Bangunan museum yang terbuat dari kayu dan batu bata ini masih mempertahankan keaslian arsitekturnya. Pemandangan indah Sungai Musi yang mengalir di dekat museum menambah daya tariknya sebagai tempat wisata sejarah.

TipSS Berkunjung

  • Luangkan waktu untuk melihat setiap koleksi secara detail.
  • Datanglah pada pagi atau siang hari untuk menghindari keramaian.
  • Bawa kamera untuk mengabadikan momen di sekitar museum, terutama dengan latar belakang Sungai Musi dan Jembatan Ampera.

Museum SMB II adalah jendela untuk memahami sejarah dan kebudayaan Palembang yang kaya. 






                                       



4. Benteng Kuto Besak

Benteng Kuto Besak (BKB) adalah benteng bersejarah di Palembang, Sumatera Selatan, yang menjadi simbol kekuatan dan kemegahan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini memiliki nilai penting dalam sejarah, budaya, dan arsitektur di Indonesia.

Benteng Kuto Besak dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1780, dan pembangunannya selesai pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Bahauddin pada tahun 1797. Pembangunan benteng ini menunjukkan perkembangan teknologi pertahanan di masa Kesultanan Palembang.

Benteng ini didirikan sebagai pengganti Kuto Lamo, istana lama Kesultanan Palembang. Tujuannya adalah untuk memperkuat pertahanan dari serangan musuh, terutama dari Belanda, yang saat itu sedang memperluas kolonialisme di Nusantara.

Keunikan Arsitektur

Benteng Kuto Besak adalah salah satu benteng di Indonesia yang dibuat dari batu bata besar dan kapur sebagai bahan utama, bukan tanah seperti benteng tradisional lainnya.

  • Bentuknya persegi dengan panjang sisi sekitar 288 meter, tebal dinding mencapai 1,99 meter, dan tinggi sekitar 9,14 meter.
  • Memiliki empat bastion (menara penjaga) di setiap sudut, serta tiga gerbang utama. Salah satu gerbangnya menghadap langsung ke Sungai Musi.
  • Interiornya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tempat tinggal sultan, dan markas pertahanan.

Peran Sejarah

Benteng ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Palembang sekaligus benteng pertahanan melawan serangan Belanda. Namun, setelah serangkaian pertempuran, Kesultanan Palembang akhirnya ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1821, dan benteng ini jatuh ke tangan kolonial.

Pada masa kolonial, Benteng Kuto Besak digunakan sebagai markas militer Belanda, dan kemudian oleh pemerintah Indonesia, benteng ini dialihfungsikan sebagai markas Kodam II/Sriwijaya.

Saat ini, Benteng Kuto Besak menjadi destinasi wisata sejarah dan ikon kota Palembang. Bagian luar benteng sering digunakan untuk berbagai acara budaya dan festival, sementara kawasan tepi Sungai Musi di sekitar benteng menjadi tempat favorit wisatawan untuk menikmati pemandangan Jembatan Ampera.







5. Jembatan Ampera

Jembatan Ampera, yang membentang megah di atas Sungai Musi, adalah salah satu jembatan paling terkenal di Indonesia. Jembatan ini menghubungkan kawasan Seberang Ilir dan Seberang Ulu di Palembang, menjadikannya bagian penting dari infrastruktur sekaligus ikon budaya kota.

Awal Pembangunan

  • Gagasan pembangunan jembatan ini muncul pada tahun 1950-an untuk mengatasi kesulitan transportasi antara Seberang Ilir dan Seberang Ulu yang sebelumnya hanya mengandalkan perahu dan kapal penyeberangan.
  • Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pembangunan dimulai pada tahun 1962 dengan pendanaan dari reparasi perang Jepang. Perusahaan Jepang, Fujikawa Construction Co. Ltd., ditunjuk sebagai pelaksana proyek.

Jembatan ini selesai pada tahun 1965 dan diresmikan dengan nama Jembatan Bung Karno untuk menghormati Presiden Soekarno. Namun, setelah peristiwa G30S 1965, nama jembatan ini diganti menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat), sesuai aspirasi masyarakat saat itu.

Desain dan Fitur

  • Panjang: Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.177 meter, dengan bentangan tengah sepanjang 71,9 meter.
  • Desain Gantung: Pada awalnya, bagian tengah jembatan dapat diangkat hingga setinggi 10 meter menggunakan sistem hidrolik, memungkinkan kapal besar untuk melewati Sungai Musi. Namun, mekanisme ini dihentikan pada tahun 1970-an karena dianggap mengganggu lalu lintas kendaraan.
  • Warna: Awalnya berwarna abu-abu, tetapi kemudian dicat merah terang, menjadikannya lebih mencolok dan menjadi identitas visual Palembang.

Jembatan Ampera memainkan peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, perdagangan, dan pariwisata Palembang. Sebagai penghubung utama di atas Sungai Musi, jembatan ini membantu meningkatkan aktivitas ekonomi antara Seberang Ilir dan Seberang Ulu.

Ikon Wisata dan Budaya

Selain menjadi sarana transportasi, Jembatan Ampera juga menjadi daya tarik wisata. Pada malam hari, jembatan ini dihiasi lampu warna-warni yang memperindah panorama Sungai Musi. Kawasan sekitar jembatan, seperti Benteng Kuto Besak dan Patung Belida, sering menjadi tempat wisatawan menikmati keindahan kota.


 








6. Internasional Plaza (IP) – Pusat Perbelanjaan Modern Pertama di Palembang

Internasional Plaza (IP) adalah salah satu pusat perbelanjaan modern pertama di Kota Palembang, yang berdiri megah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, salah satu jalan utama di pusat kota. Kehadirannya menjadi tonggak baru perkembangan ekonomi dan gaya hidup modern di Palembang sejak akhir 1980-an hingga 1990-an.

Internasional Plaza dibangun sebagai respons atas perkembangan kebutuhan masyarakat Palembang akan pusat perbelanjaan yang lebih modern, menggantikan konsep pasar tradisional yang selama ini mendominasi.

  • Diresmikan pada akhir 1980-an, IP menawarkan pengalaman belanja yang baru dengan konsep ruang tertutup, ber-AC, dan dilengkapi dengan tenant-tenant terkenal pada masanya.
  • Pusat perbelanjaan ini menjadi simbol kemajuan ekonomi dan modernisasi kota, serta menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan.

Internasional Plaza memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya pionir di Palembang:

  1. Beragam Tenant: IP menghadirkan toko-toko retail modern Nasional, seperti Matahari Departemen Store,  TGA Bookstore, pusat elektronik, jaringan bioskop 21 hingga restoran cepat saji.
  2. Tata Letak Modern: Dibangun dengan struktur bertingkat, pengunjung dapat menikmati pengalaman belanja yang terorganisir dan nyaman.
  3. Lokasi Strategis: Terletak di pusat kota, menjadikan IP mudah diakses oleh masyarakat Palembang dan sekitarnya.

Peran dalam Kehidupan Kota

  • Pusat Gaya Hidup: Pada masa kejayaannya, Internasional Plaza menjadi tempat berkumpul keluarga, remaja, dan komunitas.
  • Daya Tarik Kota: IP sering menjadi salah satu tujuan wisatawan yang ingin melihat pusat perbelanjaan modern di Palembang.
  • Landmark Bersejarah: Meskipun kini banyak pusat perbelanjaan baru bermunculan, IP tetap diingat sebagai pionir yang mengubah wajah retail di Palembang.

Seiring perkembangan zaman dan munculnya mal-mal modern lain seperti Palembang Icon dan PTC Mall, Internasional Plaza mulai kehilangan dominasinya. Namun, bagi masyarakat yang pernah mengalami masa kejayaannya, IP tetap menjadi bagian penting dari sejarah modernisasi Palembang.









 

 




7. Kampung Pempek 26 Ilir – Pusat Kuliner Khas Palembang

Kampung Pempek 26 Ilir merupakan salah satu destinasi kuliner ikonik di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kawasan ini dikenal sebagai pusat penjualan pempek, makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Berlokasi di Jalan 26 Ilir, kawasan ini menjadi tujuan utama wisatawan dan warga lokal yang ingin menikmati kelezatan kuliner tradisional.

Sejarah Kampung Pempek

  • Asal Usul: Nama "26 Ilir" merujuk pada wilayah administratif di Palembang yang terkenal sebagai tempat produsen dan pedagang pempek terbaik. Sejak dulu, kawasan ini dihuni oleh banyak keluarga yang mewarisi keahlian membuat pempek secara turun-temurun.
  • Evolusi Menjadi Destinasi Wisata: Awalnya, pempek di 26 Ilir hanya diproduksi untuk kebutuhan lokal. Namun, seiring popularitasnya, tempat ini berkembang menjadi pusat kuliner yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Keunikan Kampung Pempek

  1. Sentra Pempek: Sepanjang Jalan 26 Ilir dipenuhi toko dan kios yang menjual berbagai jenis pempek, seperti pempek lenjer, pempek kapal selam, pempek keriting, hingga pempek kecil seperti adaan dan kulit.
  2. Pilihan Beragam: Selain pempek, pengunjung juga dapat menemukan makanan khas Palembang lainnya, seperti tekwan, model, laksan, dan kerupuk kemplang.
  3. Suasana Ramai dan Autentik: Kawasan ini selalu ramai dengan pengunjung, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Suasananya mencerminkan dinamika kuliner lokal yang hidup dan autentik.

Pengalaman Wisata di 26 Ilir

  • Pengunjung dapat mencicipi langsung pempek yang baru dibuat atau membelinya sebagai oleh-oleh. Banyak penjual menyediakan pempek dalam kondisi siap saji atau mentah yang bisa dibawa pulang.
  • Kampung Pempek juga menjadi tempat ideal untuk melihat langsung proses pembuatan pempek secara tradisional, dari mencampur adonan hingga menggorengnya.
  • Akses Mudah: Lokasi Kampung Pempek yang strategis memudahkan wisatawan untuk mencapainya menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.
  • Warisan Budaya: Tempat ini bukan hanya sekadar pusat kuliner, tetapi juga bagian dari warisan budaya Palembang yang melestarikan kekayaan kuliner lokal.

TipSS Berkunjung :

  • Datanglah pada pagi atau siang hari untuk menikmati pempek yang masih segar.
  • Jangan ragu untuk bertanya tentang bahan dan kualitas ikan yang digunakan, karena setiap penjual memiliki keunikan resep masing-masing.

Kampung Pempek 26 Ilir bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga cerminan kebanggaan masyarakat Palembang terhadap salah satu warisan kuliner terbaik mereka. 


 

 



 




8. Museum Al-Qur'an Al Akbar – Rumah Al-Qur'an di Palembang

Tempat ini dikenal juga dengan nama Museum Bayt Al-Quran Al-Akbar yang berarti tempat wisata Al-Quran raksasa. Bayt Al-Qur'an adalah salah satu destinasi wisata religi dan edukasi di Kota Palembang, Sumatera Selatan.   Museum ini menjadi simbol kecintaan masyarakat Palembang terhadap Al-Qur'an sekaligus menjadi pusat pembelajaran Islam yang menonjolkan seni mushaf dan budaya Islam. 

Lokasi dan Latar Belakang

  • Lokasi: Bayt Al-Qur'an terletak di Jalan M. AMin Fauzi, Soak Bujang, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus. Tepatnya di kawasan pondok pesantren Al Ihsaniyah Gandus Palembang.
  • Tujuan: Didirikan untuk melestarikan seni mushaf Al-Qur'an, memperkenalkan nilai-nilai Islam, dan menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda dan masyarakat umum.

Keunikan Bayt Al-Qur'an

  1. Mushaf Raksasa: Salah satu daya tarik utama Bayt Al-Qur'an adalah koleksi mushaf Al-Qur'an raksasa yang diukir di atas kayu tembesu khas Palembang. Mushaf ini menunjukkan keindahan kaligrafi Islam dengan detail ukiran yang mengagumkan.
  2. Koleksi Seni Islam: Selain mushaf raksasa, tempat ini juga memiliki berbagai koleksi seni Islam, termasuk ornamen kaligrafi dan hiasan yang terinspirasi dari budaya lokal.
  3. Nuansa Religius dan Edukasi: Bayt Al-Qur'an sering menjadi tempat kunjungan siswa, santri, dan wisatawan yang ingin memperdalam pemahaman tentang Al-Qur'an dan seni kaligrafi.

Peran Museum

  • Pusat Wisata Religi: Menjadi destinasi wisata religi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengenal lebih jauh tentang tradisi Islam di Palembang.
  • Sarana Dakwah dan Pembelajaran: Bayt Al-Qur'an digunakan untuk kegiatan pendidikan, seminar, dan pengajian yang bertujuan memperdalam pemahaman Islam.
  • Warisan Budaya: Tempat ini juga berperan dalam melestarikan tradisi seni Islam yang berpadu dengan budaya lokal Palembang.

Pengunjung dapat merasakan suasana yang tenang dan religius saat berada di Bayt Al-Qur'an. Keindahan kaligrafi, seni ukiran, dan arsitektur tempat ini menciptakan pengalaman mendalam yang menggugah rasa keimanan dan penghargaan terhadap Al-Qur'an.











KOMPILASI DOKUFOTO









 


























 


 

   











-------Sampai jumpa dalam rihlah / perjalanan berikutnya--------





PALEMBANG, Jejak Masa Lalu PALEMBANG, Jejak Masa Lalu Reviewed by Sofyan Saleh on Desember 11, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!