LABUAN BAJO, SUMBAWA, RINJANI, BANYUWANGI Explore D' East II
Explore The East II
Segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Allah SWT atas kesempatan dan perlindungan-Nya selama perjalanan ini berlangsung. Explore The East II adalah bagian kedua dari petualangan menjelajahi Indonesia Timur, melanjutkan perjalanan sebelumnya, Explore The East I, yang telah sukses diselesaikan pada Mei hingga Juni 2023. Dalam perjalanan pertama tersebut, aku menempuh rute panjang dari Bintaro menuju Makassar, Sorong, Raja Ampat, Ternate, Tidore, Ambon, Banda Naira, Makassar, dan kembali ke Bintaro dalam waktu 33 hari yang penuh kesan mendalam.
Kini, dengan semangat yang sama untuk menjelajahi keindahan Nusantara bagian Timur, perjalanan Explore The East II dimulai. Itinerary kali ini membawaku dari Bintaro menuju Surabaya menggunakan bus AKAP, lalu dilanjutkan perjalanan laut menuju Labuan Bajo. Dari sana, perjalanan berlanjut secara overseas dan overland ke berbagai destinasi menarik di Nusa Tenggara, meliputi Bima, Dompu, Sumbawa Besar, hingga Taman Nasional Rinjani di Lombok. Setelah singgah di Mataram, perjalanan ini diakhiri dengan menyeberang ke Banyuwangi menyaksikan eksotisnya hutan Bunculuk De Djawatan dan akhirnya kembali ke Bintaro.
Meskipun durasi perjalanan ini hanya dua pekan dan tantangannya tak sefenomenal Explore The East I, namun Explore The East II tetap menawarkan pengalaman yang tak kalah berharga. Setiap langkah membawa saya semakin memahami keindahan dan keberagaman budaya Indonesia, sekaligus menguji ketangguhan fisik dan mental di tengah rute yang panjang dan melelahkan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang menjelajahi destinasi, tetapi juga menyelami makna perjalanan itu sendiri. Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca untuk terus menjelajahi keindahan Indonesia dan menjaga kelestariannya.
Selamat menikmati kisah Explore The East II, semoga membawa manfaat dan semangat baru dalam mencintai negeri kita tercinta.
Kamis, 31 Agustus 2023 sore aku meninggalkan rumah nenggunakan ojol menuju ke Pool P.O Bus Sinar Jaya di Jln Mencong Ciledug. Sekitar jam 17.00 bus meninggalkan pool menuju arah tol Simatupang. Ou rupanya mampir ke Pool bus cabang Lebakbulus utnuk jemput penumpang beberapa orang. Jelang maghrib bus kelas eksekutif sudah meluncur dan masuk gate tol dan melaju ke arah Surabaya (Rp 320K). Tiba di terminal bus Purabaya jam 05.00. Setelah sholat subuh aku naik busway keliling kota sampai balik lagi ke terminal. Aku tidak turun dari busway sampai jalan lagi ke rute yang sama heheh. Tiba di kawasan Ampel (Rp 5K - 2x putaran) aku turun lalu lanjut naik Grab (Rp 15K) ke makam Wali Sunan Ampel untuk ziarah.
Setelah boarding dan cukup lama menunggu, penumpang akhirnya dipersilakan naik ke KM Dharma Rucitra 8. Kapal ini cukup besar dan lumayan nyaman untuk perjalanan panjang. Perjalanan laut ke Labuan Bajo pun dimulai sekitar pukul 09.00. Sepanjang perjalanan, aku menikmati suasana lautan yang luas dan angin laut yang segar. Penumpang lain tampak asyik dengan aktivitas masing-masing, mulai dari mengobrol, membaca, hingga menikmati pemandangan laut.
KM Dharma Rucitra 8 ini benar-benar memberikan kesan seperti hotel terapung. Fasilitasnya lengkap dan nyaman:
- Lift: Kehadiran lift memudahkan mobilitas penumpang, terutama yang membawa barang banyak atau ingin mengakses lantai yang berbeda dengan mudah.
- Kamar-kamar bersih: Kamar penumpang dirawat dengan baik, memberikan kenyamanan dan privasi selama perjalanan.
- Live music: Hiburan live music menciptakan suasana santai, cocok untuk melepas penat dan menikmati suasana selama perjalanan.
- Musholla: Fasilitas musholla sangat memadai, memungkinkan penumpang untuk tetap melaksanakan ibadah dengan nyaman.
- Toilet bersih: Kebersihan toilet terjaga, yang merupakan nilai tambah besar dalam perjalanan panjang.
- Makanan enak: Sajian makanannya berkualitas dengan rasa yang memuaskan, membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan.
- Kafe dan kantin: Kafe dan kantin di kapal menyediakan berbagai pilihan makanan ringan dan minuman, sehingga penumpang tidak perlu khawatir kelaparan di tengah perjalanan.
- Lobby yang cozy: Ruang lobby dirancang dengan baik, memberikan kesan mewah dan nyaman untuk tempat bersantai atau mengobrol.
Nonton ya videonya : https://www.youtube.com/watch?v=TGpHxsISQEk&t=6s
https://www.youtube.com/watch?v=f4G_6zEcTXs&t=91s
Secara keseluruhan, pengalaman di KM Dharma Rucitra 8 menawarkan kombinasi kenyamanan, kebersihan, dan fasilitas hiburan, menjadikannya transportasi laut yang layak diandalkan untuk perjalanan panjang.
Perjalanan laut diperkirakan memakan waktu sekitar 18 jam. Ombak pagi itu cukup tenang, dan matahari perlahan naik, menyinari permukaan laut yang luas. Hari berganti malam, dan sekitar pukul 03.00 dinihari, KM Dharma Rucitra 8 akhirnya membuang jangkar di Pelabuhan Ferry Labuan Bajo.
Pagi buta di pelabuhan itu terasa sunyi dan kosong. Tidak ada tempat berteduh, hanya gelap dan kesunyian yang menemani. Mau tak mau, aku menerima tawaran dari seorang sopir taksi Avanza liar yang mangkal di sekitar pelabuhan. Bersama beberapa penumpang lain, kami berjejalan di dalam mobil menuju kota Labuan Bajo dengan tarif Rp 50.000 per orang.
Sesampainya di kota, di subuh yang masih gelap aku diantar ke rumah "Paman Bonito" di pinggir kota, Aku hampir saja salah masuk rumah orang yang masih tidur. Kuketok-ketok tak ada yg keluar. Aku telpon nomor Paman Bonito, diangkat istrinya...astaga ternyata aku salah rumah. Paman Bonito adalah seorang agen travel pemilik Bonito Travel yang kukenal melalui Instagram saat mencari info tentang trip Pulau Komodo.
ONEDAY TRIP KOMODO | SAILING TRIP KOMODO 3D2N | WAEREBO TOUR | SEWA KAPAL OPEN DECK & PHINISI
📞081354332220 IG : @bonitokomodotour
Pertemuan dengan Keluarga Paman Bonito
Pagi itu, saya bertemu dengan Bang Ibrahim, atau sering dipanggil Paman Bonito, seorang pria berusia 39 tahun yang sangat friendly dan humoris. Kepribadiannya yang hangat membuat obrolan kami terasa seperti berbincang dengan seorang teman lama.
Beliau tinggal bersama istrinya, Ibu Mhyra Daeng Ratu, seorang wanita yang tak kalah ramah. Kebaikan hati keluarga ini terasa nyata ketika mereka menyambut saya dengan senyuman tulus dan menghidangkan sarapan pagi berupa nasi kuning yang lezat serta secangkir kopi hangat yang disiapkan sendiri oleh Ibu Mhyra.
Paman Bonito dan Ibu Mhyra memiliki dua putra kecil yang pintar dan ceria, Irham dan Abrisam. Kehangatan keluarga mereka membuat pagi saya terasa istimewa. Saya pamit untuk mencari guest house sebagai tempat menginap, tetapi Paman Bonito dengan murah hati menawarkan ruang kantornya di sebelah rumah sebagai tempat tinggal sementara. Bagi seorang backpacker dengan anggaran terbatas, tawaran ini bagaikan berkah besar yang tak mungkin saya tolak.
Setelah sarapan, Paman Bonito mengajakku berkeliling untuk mengenal lebih jauh suasana kota kecil Labuan Bajo. Dengan sepeda motornya, beliau memboncengku ke beberapa destinasi menarik.
Menggunakan jasa Paman Bonito, aku mengambil paket 1 Day Tour Open Deck ke Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pantai Pink (Rp 650K + fee entrance pulau Komodo Rp 200K bagi pelancong lokal). Perjalanan menuju destinasi ini diikuti oleh sekitar 15 orang turis lokal dan mancanegara.
Santorini Ala Bajo di Puncak Waringin
Destinasi pertama adalah Puncak Waringin, lokasi yang menawarkan pemandangan indah dan nuansa ala Santorini. Beberapa resort di area ini memiliki desain arsitektur putih-biru yang mirip dengan Santorini di Yunani. Kombinasi warna tersebut berpadu sempurna dengan laut biru Labuan Bajo yang membentang di kejauhan. Saya sempat mengambil foto dan video untuk mengabadikan pemandangan ini. Keindahan tempat ini tak hanya memukau, tetapi juga menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bukit Cinta, Panorama Romantis Labuan Bajo
Kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Cinta, sebuah lokasi populer yang menawarkan panorama romantis. Dari sini, terlihat hamparan bukit-bukit kecil berwarna hijau dan laut biru yang memeluknya. Nama "Bukit Cinta" konon berasal dari suasana tenang dan romantis yang sering menjadi tempat favorit bagi pasangan yang ingin menikmati waktu bersama. Saya pun tak lupa menikmati momen ini dengan beberapa foto dan menyerap keindahan alam yang tiada duanya.
Pelabuhan Phinisi
Perjalanan berikutnya adalah ke Pelabuhan Phinisi, tempat perahu phinisi dengan tagline Segara Live a Board milik Paman Bonito sedang dalam perbaikan. Phinisi ini adalah simbol kuat dari budaya maritim Indonesia, dan melihatnya dari dekat memberikan pengalaman yang unik. Suasana pelabuhan yang sibuk dengan aktivitas nelayan dan perbaikan kapal menambah kesan otentik dari Labuan Bajo.
Nonton ya di : https://www.youtube.com/watch?v=Z0VhkFaem4o&t=47s
Link : https://youtu.be/IhM5x_d17Lk
https://youtu.be/IhM5x_d17Lk?si=YWUrcgk_XGtSCg8H
Aku akhirnya bisa bertemu langsung dengan hewan purba yang selama ini hanya ada dalam pikiranku, komodo. Hewan ini berjalan santai namun mengintimidasi dengan ukuran tubuhnya yang besar dan tatapan tajam. Bersama seorang ranger yang berpengalaman, kami menyusuri jalur trekking sambil melihat komodo dari jarak aman. Pengalaman ini benar-benar seperti masuk ke dunia yang berbeda, menyaksikan hewan legendaris ini hidup bebas di habitat alaminya.
Nonton di : https://www.youtube.com/watch?v=o9MXXknlNSw
Kuliner Kampung Ujung
Terletak di dekat pelabuhan, kawasan ini menjadi tempat favorit untuk menikmati hidangan segar sambil merasakan suasana pesisir yang khas.
Pada malam hari, Kampung Ujung berubah menjadi pasar malam kuliner yang ramai. Berbagai warung makan dan kios tenda berjajar, menawarkan aneka pilihan seafood seperti ikan bakar, udang, cumi-cumi, kepiting, hingga lobster. Hidangan biasanya dimasak langsung setelah dipesan, sehingga rasa segar dan aroma bumbunya benar-benar terasa. Salah satu daya tarik utama adalah cara penyajiannya yang sederhana namun autentik, seringkali dilengkapi dengan sambal khas Flores yang pedas, nasi putih, dan plecing kangkung. Harga makanan di sini juga cukup bervariasi, sehingga cocok untuk wisatawan dengan beragam kemampuan "kocek".
Kampung Ujung bukan hanya tentang makanan penggugah selera, tetapi juga tentang pengalaman—suasana ramai, interaksi hangat dengan penduduk lokal, dan kesempatan mencicipi keunikan rasa Labuan Bajo yang autentik dengan latar belakang laut tenang, kapal-kapal yang berlabuh, dan langit malam yang dipenuhi bintang.
Pagi tepat jam 07.00, aku bergegas menuju pelabuhan ferry Labuan Bajo. Dengan menggunakan aplikasi Ferizy, aku membeli tiket KMP Cucut dengan tujuan Pelabuhan Sape di Bima. Kapal ini akan membawaku melintasi laut dalam perjalanan selama kurang lebih 8 jam dengan jarak 70 mil. Di atas kapal, aku sempat menikmati angin laut sambil sesekali berbincang dengan penumpang lain. Suasana di kapal cukup ramai, dengan para penumpang yang membawa barang-barang, mulai dari hasil bumi hingga perlengkapan rumah tangga.
Jelang maghrib, kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Sape, Bima. Di depan pelabuhan, terdapat sebuah terminal kecil dengan beberapa bus ukuran medium yang tampak sudah cukup tua. Setelah bertanya-tanya, aku naik salah satu bus tujuan Kota Bima (Rp 40K), perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam. Meski busnya sederhana dan agak butut, perjalanan tetap menyenangkan karena pemandangan sepanjang jalan yang khas dengan hamparan bukit dan rumah-rumah sederhana penduduk setempat.
Tiba di Kota Bima sekitar jam 20.00, aku harus berganti bus di sebuah simpang jalan. Kali ini, aku naik bus besar P.O "LJ" (Rp 250K). Bus terakhir malam ini dari Bima yang akan membawaku ke Rinjani Lombok via Pelabuhan Pototano di Sumbawa, durasi 9 jam.
Suasana di dalam bus tampaknya kurang menyenangkan dan nyaman karena kenek bus terus saja mengambil penumpang hingga bus terasa pengap dan sesak. Beberapa penumpang terpaksa berdiri dan ngedumel. Melihat kondisi ini, aku mulai kesal melihat ulah awak bus.
Aku memprotes tindakan awak bus yang jelas merugikan penumpang. Aku menegur dan menggertak kenek dgn mengatakan "aku wartawan, unit bus, no plat, kabin yg sesak bus ini sudah kupotret dan akan kukirim ke media" serta menyebut nama-nama tokoh Bima seperti Pak Din Syamsudin dan Fahri Hamzah untuk memberikan tekanan. "Aku temannya Fahri Hamzah dan kenal baik dgn Pak Din, mau saya laporkan?" 😎 Rupanya gertakanku berhasil..wkwkwkwk... Tak jauh dari halte berikutnya, penumpang yang berdiri diturunkan, uang mereka dikembalikan. Alhamdulillah, setidaknya perjalanan menjadi lebih nyaman bagi semua penumpang. Nama Fahri Hamzah ternyata masih cukup menjual 🤓
Bus pun melaju menembus malam, melewati daerah Dompu dan Sumbawa Besar. Pemandangan malam hari di sepanjang perjalanan terasa magis, dengan kelap-kelip lampu dari rumah penduduk di kejauhan dan suara alam yang menemani perjalanan. Meskipun badan mulai lelah, aku mencoba menikmati setiap momen perjalanan ini.
Sekitar dini hari, bus tiba di Pelabuhan Pototano, Sumbawa. Di sini, aku harus menunggu ferry KMP Kabila yang akan membawaku menyeberang ke Pelabuhan Kayangan di Pulau Lombok yang berjarak hanya 31 Kilometer / 1.5 jam. Pelabuhan Pototano, meski tak terlalu besar, memiliki suasana yang tenang dengan udara laut yang segar. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bus naik ke ferry dan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok.
Setelah perjalanan panjang semalaman, akhirnya KMP Kabila buang sauh di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 06.00 pagi. Saat ferry bersandar, bus yang kutumpangi turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan menuju Mataram. Aku meminta kepada kenek bus PO LJ agar menurunkanku di depan Pasar Aikmel, sebuah pasar kecil yang menjadi salah satu titik perhentian menuju Sembalun.
Rasa letih dan penat mulai terasa setelah perjalanan panjang dari Labuan Bajo. Di dekat pasar, aku memutuskan untuk sarapan pagi di sebuah warung sederhana. Nasi campur hangat dengan lauk khas daerah setempat terasa sangat nikmat setelah perjalanan yang melelahkan. Sekitar satu jam kemudian, aku melanjutkan perjalanan dengan hitch hike, menumpang sebuah mobil colt sayuran dengan biaya Rp 45K.
Menuju Desa Sembalun, Gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani
"Selamat Dateng Leq desa Sembahulun dit Gunung Rinjani Iaq Gin lupak leman Kenangan na ! "
Selamat Datang di desa Sembalun dgn keindahan gunung Rinjani yang tak terlupakan !
Akhirnya, aku tiba di alun-alun Desa Sembalun, sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani dan dikenal sebagai salah satu pintu masuk menuju taman nasional. Setelah perjalanan yang panjang dari Labuan Bajo, melalui ferry dan perjalanan darat yang melelahkan, hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah mencari secangkir kopi. Terlebih dahulu aku mengabarkan ke Bang Roy, agen trip Rinjani yang kukenal dari seorang teman di Mataram. Beliau menjemputku di depan alun-alun dengan motor bebek Honda.
Bang Roy berusia sekitar 30 tahun, orangnya ramah dan sangat membantu hingga tak perlu waktu lama untuk beradaptasi. Ia dengan sangat fasih menginformasikan seluk beluk tentang Rinjani dan Sembalun. Bang Roy menikah dan telah dikaruniai 1 orang putera yang ganteng. Beliau tinggal di Dusun Lebak Daya, Desa Sembalun Lawang, tak jauh dari gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani.
Kalau anda traveling ke Lombok khususnya kawasan Gunung Rinjani bisa hubungi Bang Roy, Hp. +62 819-4676-4651 atau IG : @roysembalun
Bale Coffee Sembahulun: Kopi dan Cerita
Berdasarkan referensi dari Bang Roy, kami meluncur ke Bale Coffee. Bale Coffee Sembahulun menjadi tempat sempurna untuk menyegarkan pikiran dan mengembalikan vitalitas. Kedai ini menyajikan kopi lokal dengan metode brew yang khas, dan aromanya saja sudah cukup untuk membangkitkan semangat. Sambil menikmati kopi, aku mengobrol santai dengan Mas Heri - Owner Bale Coffee, seorang pria ramah yang ternyata sebelumnya berprofesi sebagai perawat. Perubahan profesinya menjadi barista diceritakan dengan penuh semangat. Ia berbagi kisah tentang kecintaannya terhadap kopi lokal Sembalun dan bagaimana ia ingin memperkenalkan cita rasa khas daerah ini kepada para pendaki dan pelancong yang datang.
Secangkir kopi di Bale Coffee bukan hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga memberikan momen refleksi setelah perjalanan panjang. Suasana Sembalun yang tenang, udara pegunungan yang sejuk, dan keramahan pemilik kedai membuat pagi itu terasa istimewa.
Simak obrolan kami di :
https://www.youtube.com/watch?v=dBomay6Eeno&t=46s
Sembalun: Pesona di Lereng Rinjani
Sembalun, sebuah kawasan di lereng Gunung Rinjani, dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama bagi para pendaki yang ingin menaklukkan puncak sang gunung legendaris. Sayangnya, fisikku tak memungkinkan untuk mendaki dan menikmati keindahan Rinjani secara langsung, seperti zona Jurassic Park di Torean, danau Segara Anak, ataupun air terjun yang tersembunyi di ketinggian.
Perjalanan yang sudah kutempuh—melalui jalur
laut dan darat sejak dari Surabaya ke Labuan Bajo, lalu menyeberang ke Bima,
hingga menyeberang lagi ke Lombok—cukup menguras tenaga. Aku sadar bahwa
memaksakan diri untuk mendaki bukanlah keputusan bijak, terutama jika hal itu
dapat membahayakan keselamatan diriku sendiri.
Namun, keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk tetap menikmati keindahan Sembalun. Kawasan ini menyajikan pemandangan alam yang luar biasa indah dan kekayaan budaya yang menggugah hati, bahkan di destinasi-destinasi 'ringan' yang tak kalah memukau.
Meski begitu, Sembalun tetap menawarkan pesona yang luar biasa bahkan bagi mereka yang tidak mendaki. Kawasan ini menyuguhkan keindahan alam dan budaya yang memikat hati.
Beberapa spot yang kukunjungi di antaranya adalah:
- Bukit Selong – Tempat ini menyuguhkan pemandangan menakjubkan berupa petak-petak sawah warna-warni yang berpadu harmonis dengan latar pegunungan.
- Desa Adat Sembalun – Sebuah perjalanan menyusuri kehidupan masyarakat lokal yang kaya tradisi dan nilai budaya.
- Taman Wisata Pusuk Sembalun – Hutan yang masih asri dengan udara segar khas pegunungan, tempat yang sempurna untuk melepas penat sambil menikmati panorama Rinjani dari kejauhan.
- Air Terjun Mangku Sakti – Meskipun jalurnya cukup menantang, keindahan air terjun dengan aliran yang deras memberikan sensasi menyejukkan.
- Kebun Stroberi – Pengalaman memetik stroberi segar langsung dari kebunnya menjadi momen yang menyenangkan.
Sembalun mengajarkan bahwa keindahan alam tak selalu harus dicapai dengan mendaki ke puncak. Bahkan dari lembahnya, kecantikan Rinjani tetap terasa menggema, menghadirkan pengalaman yang tak kalah menggetarkan. Perjalanan ini pun menjadi bukti bahwa eksplorasi sejati adalah tentang menikmati setiap langkah, bukan semata mencapai tujuan akhir.
Perjalananku di Desa Sembalun membawa pengalaman yang luar biasa. Sepanjang jalan, pemandangan pegunungan yang menjulang megah terlihat memukau, dengan Gunung Rinjani yang berdiri kokoh di kejauhan. Hamparan sawah, kebun, dan perbukitan hijau yang seakan tak berujung membuatku terpesona. Keindahan alam ini benar-benar menggetarkan hati dan menghapus rasa lelahku.
Di desa Sembalun, aku memilih menginap bukan di hotel, melainkan di rumah penduduk bernama Inaq Wiri (Inaq = Ibu, Amaq = Bapak) seorang wanita tangguh yang sehari-hari bekerja sebagai petani ladang. Aku menempati sebuah kamar berukuran 3 x 2.5 meter yang sederhana namun cukup nyaman, memberikan perlindungan dari udara pegunungan Rinjani yang menusuk dinginnya.
Di depan rumah, terbentang hamparan kebun sayur yang begitu luas, dipenuhi berbagai varian tanaman segar seperti kol, wortel, bawang, dan sawi, yang menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat. Setiap pagi, aku disuguhi kopi khas Sembalun oleh Inaq Wiri, aromanya begitu khas, seolah-olah menjadi energi untuk memulai hari. Makanannya pun luar biasa lezat, dimasak dengan bahan-bahan segar langsung dari kebun.
Selama dua malam menginap, aku sempat berbincang dan berkenalan dengan beberapa warga. Mereka sangat ramah dan menyambutku seperti keluarga sendiri. Meski kadang aku kesulitan memahami percakapan mereka karena bercampur dengan bahasa daerah Sasak, kehangatan dan senyuman mereka mampu menjembatani segala perbedaan bahasa.
Pengalaman ini membuatku semakin menghargai kearifan lokal dan keramahan orang-orang desa yang hidup sederhana namun penuh kebahagiaan. Sembalun bukan hanya tentang keindahan alamnya, tetapi juga tentang orang-orangnya yang luar biasa.😊
Setelah inap dua malam yang mengesankan di Sembalun aku melanjutkan perjalanan ke Mataram dengan mini van Damri (Rp 50K). Aku tak perlu lagi keliling ke destinasi lain, karena setahun lalu aku sudah mengunjungi Kuta Mandalika, pantai Senggigi, dusun adat Sasak Sade, Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air. Selain itu aku mulai merasa agak letih. Langsung naik Grab (Rp 55K) menuju pelabuhan Lembar untuk menyeberang dengan feri ke pelabuhan Ketapang Banyuwangi (Rp 135K).
Kapal berangkat lepas maghrib. Aku melepaskan penat di kapal mengingat masih satu lagi destinasi wisata yang aku eksplor di Banyuwangi yaitu kawasan hutan lumut De Djawatan di Bunculuk. Perjalanan kapal akan menempuh jarak 125 mile dgn waktu 14 jam. Ughh.. !
Berlabuh di Ketapang, Banyuwangi.
Jam 10.15 kapal merapat di Pelabuhan Ketapang. Aku langsung mencari angkutan ke Terminal Brawijaya Karangente, yang berjarak sekitar 12 Km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Namun, tidak ada angkutan umum reguler yang tersedia. Terpaksa aku charter "tembak" angkot dengan biaya Rp 30K. Tiba di terminal, aku istirahat santai dan menikmati makan siang nasi rawon di warung terminal dengan harga Rp 18K.
Menjelang waktu Dhuhur, aku melanjutkan perjalanan dengan bus butut tujuan Jember yang akan membawaku ke De Djawatan Forest, sekitar 30 km dari Terminal Brawijaya. Waktu tempuhnya mencapai dua jam karena bus sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di sepanjang jalan.
Aku turun di jalan lintas Rogo Jampi - Bunculuk, tepat di depan Masjid Jami Al Falah. Alhamdulillah, rasanya seperti pucuk dicinta ulam tiba. Kenapa begitu? karena di itinerary perjalananku, setibanya di Bunculuk aku akan mencari hotel budget. Eh bus AKAP berhenti menurunkan aku persis di depan masjid. Aku percaya ini bukan suatu kebetulan. Allah telah menyediakan rumah-Nya sebagai tempatku beristirahat malam ini. Ini rejeki dan berkah_Nya. Thankyou, Allah!
https://www.youtube.com/watch?v=2Q-zF7JdUVk
Kata Avonturir bijak, "Pergi jauh adalah cita-cita, pulang adalah harapan." Sejauh apa pun perjalanan, pada akhirnya rindu itu selalu mengarah pada rumah, tempat hati kembali, bertemu keluarga. Home sweet home!
Pagi itu, bersama jamaah Masjid Al Falah, aku ikut khataman Al-Qur'an usai sholat Subuh berjamaah. Setelahnya, aku segera mandi dan berkemas, menyiapkan ransel untuk perjalanan pulang. Semalam, aku sudah memesan tiket bus P.O. Pandawa 87 dari Banyuwangi langsung ke Tangerang di agen bus yang 'kebetulan' berada tepat di seberang Masjid Al Falah.
Sekitar jam 09.00, aku berpamitan dengan Bapak Marbot, seorang yang sangat baik hati, dan menyampaikan rasa terima kasihku karena telah diizinkan menginap serta menggunakan fasilitas masjid selama semalam. Kebaikannya sungguh membuat perjalanan ini terasa lebih bermakna.

Tak lama kemudian, bus Pandawa 87 datang menjemput. Aku segera bergegas naik, mengambil kantong kresek di dekat sopir lalu memasukkan alas kali dan nyeker ke dalam. Aku menempati seat di kabin tengah, dekat toilet. Bus nya baru dan nyaman. Di kabin sudah disediakan air mineral dan snack + voucher makan di rest area nanti. Bus tampil gagah menggunakan balutan bodi Jetbus 5 MHD Double Glass Dream Coach. Ciri khas dari bodi dream coach ialah area kabin yang punya desain kursi penumpang yang menyerupai ruangan kapsul. Ada 22 kamar kapsul yang setiap kamar terdiri atas satu kursi model rebahan atau sleeper seat.
Bus akan menempuh rute sepanjang 1.059 km dengan waktu perjalanan sekitar 16 jam, melalui tol Salatiga dan Kertosono. Cukup melelahkan, bukan? Tapi karena ini adalah bagian terakhir dari rangkaian petualanganku, aku memilih sleeper bus untuk menikmati kenyamanan sebelum benar-benar tiba di rumah.
Perjalanan kali ini terasa begitu panjang dan berwarna, dimulai dari Bintaro - Surabaya - Labuan Bajo - Bima - Rinjani - Mataram - Ketapang - Banyuwangi, dan akhirnya kembali ke Bintaro. Melelahkan, tapi sangat mengasyikkan!
Setiap kilometer yang kulewati penuh dengan cerita, pelajaran, dan pengalaman yang memperkaya jiwa. Dan kini, waktunya pulang, membawa rindu dan kebahagiaan. Terima kasih atas setiap momen, setiap kemudahan, dan setiap keajaiban yang telah Allah hadirkan.
GALLERY FOTO
waSSalam





































































Tidak ada komentar