LANGKAWI, KEDAH, IPOH, MELAKA Jejak Flashpacker
PRO-LOE-GUE...Prolog!
Ketika pandemi Covid-19 pertama kali merebak di Wuhan, seluruh dunia dihadapkan pada situasi yang tak terduga. Rencana petualangan soloku ke Beijing dan Xi'an brantakan seketika ketika maskapai membatalkan semua penerbangan. Namun, keinginan untuk menjelajah tak terhenti di situ. Saya memutuskan untuk mengubah rute perjalanan menjadi petualangan darat yang cukup menantang: menyeberangi perbatasan dari Kuala Lumpur hingga ke Pattani dan Krabi, Thailand Selatan.
Saya berdoa agar tetap sehat dan tak terhalang oleh protokol ketat ini. Alhamdulillah, dengan izin Allah, saya berhasil melewati setiap pos pemeriksaan baik di Malaysia, Thailand, hingga kembali ke Indonesia tanpa masalah berarti. Itu adalah momen yang tak terlupakan, penuh tantangan dan ketegangan, tetapi juga pelajaran tentang ketabahan dan adaptasi.
Kini setelah sekian lama, saya kembali memulai perjalanan solo ke kawasan negara bagian di Malaysia. Perjalanan ini bukan sekedar penjelajahan, tapi juga harapan untuk bertemu orang-orang baik di sepanjang perjalanan. Dengan rencana menjelajahi kota-kota bersejarah di Malaysia seperti Langkawi, Kedah, Ipoh hingga Melaka, saya berharap dapat lebih mendalami warisan budaya dan sejarah negara Melayu ini.
Hari Keberangkatan - Hasil Cek Darah dan Penentuan
Pagi itu, sebelum memulai perjalanan yang sudah lama kurencanakan, aku menuju laboratorium untuk melakukan pemeriksaan darah. Pengecekan ini penting bagiku, mengingat beberapa waktu belakangan aku merasa kurang fit. Fokus utama adalah mengecek kadar Asam Urat dan Hemoglobin (Hb).
Menjelang siang hari, hasil lab keluar. Sungguh di luar dugaanku—kadar Asam Uratku berada di level 14.4 (batas toleransi 7) dan Hb di 7.2 (batas toleransi 12). Saat membaca hasilnya, aku langsung merasa nervous. Pikiran-pikiran mulai berseliweran, "Apakah aku harus membatalkan perjalanan ini? Bagaimana kalau di jalan terjadi sesuatu? Apa aku siap menghadapi kondisi ini jauh dari rumah?"
Namun setelah berpikir sejenak, dengan keyakinan bahwa Allah SWT selalu menjaga, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Aku tidak ingin membiarkan rasa khawatir menahan langkahku. The show must go on !. Itenerary perjalanan Solo trip yang telah kusiapkan sejak awal April dengan itinerary detail ini harus direalisasikan. Bismillah, semoga Allah memberikan kekuatan dan perlindungan sepanjang perjalanan ini.
Keputusan untuk tetap berangkat meski ada hasil lab yang mengejutkan menguji keberanian/kenekadan dan keyakinan. Semoga perjalananku lancar dan penuh berkah, serta selalu sehat sepanjang perjalanan. Tetap semangat, dan semoga setiap langkahku terlindungi dari ancaman marabahaya dan selalu dipertemukan dengan orang baik di perjalanan.
Semoga perjalanan kali ini diberkahi, dan setiap langkah yang diambil membawa kebahagiaan serta pengalaman baru yang tak terlupakan. Karena setiap perjalanan adalah cerita, dan setiap cerita adalah bagian dari perjalanan hidup.
Petualangan solo ini dimulai dari rumah, dengan penuh antusiasme untuk menjelajahi salah satu pulau terindah di Malaysia, Pulau Langkawi. Saya berangkat ke Bandara Soeta dgn naik ojek motor ke Stasiun Batu Ceper lanjut dgn kereta api - Kalayang. Pesawat Air Asia QZ 208 take off dari Soekarno Hatta pada pukul 19.00, langsung menuju Kuala Lumpur dan tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA T2) pada pukul 21.30 waktu setempat (1 jam lebih cepat dari waktu Indonesia).
Tanpa istirahat sekitar pukul 22.00, saya melanjutkan perjalanan menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) dgn bus Kesatuan seharga RM 14. Tiba di TBS sekitar jam 23.30. Setelah membeli tiket go show bus Maraliner ke Alor Setar Negeri Kedah sebesar RM 38 saya memutuskan untuk rehat sejenak , lapar banget. Makan nasgor sambil menikmati secangkir kopi O Malaysia, menikmati suasana malam di terminal yang mulai lengang.
Entah sudah berapa kali saya melewati terminal ini. Namun yg kuingat, pertama kali saya tiba dan melihat suasana TBS, saya jadi cengok, jadi auto gagap kota, hahaha. Ibarat kata, saya jadi kaya orang kampung udik dari Galesong Makassar yang baru pertama kali datang ke kota Jakarta, trus mulut ngangga liat monas, hahaha. Lebay sih perumpamaan saya, tapi begitulah istilahnya, saya sungguh kagum dengan terminal TBS ini, saya langsung ber-woooww.
TBS atau bisa juga disebut Tasik Bandar Selatan atau kadang juga disebut Bandar Tasik Selatan (BTS). Intinya adalah terminal terpadu yang berada di bagian selatan Kuala Lumpur. Terminalnya keren banget. Udah kaya mall aja suasana ruang utamanya. Ngga terlihat kalau bangunan tersebut sebenarnya terminal. Jadi, walaupun itu terminal tapi penampilannya melebihi beberapa bandara di negara Asean termasuk Konoha yang pernah saya mampirin. Makanya di paragraf atas saya bilangin saya kaya jadi katro, orang udik, hehehe.
Di TBS ini semua tersedia moda transportasi antar berbagai kota di semenanjung Malaysia, Singapura dan Hat Yai, kota di Thailand, perbatasan Malaysia – Thailand. Selain bus, terdapat stasiun KLIA Transit, LRT dan stasiun kereta api KTM. Dulunya terminal ini digunakan untuk terminal bus bagi bus-bus daerah selatan Kuala Lumpur .
Sekarang semua bus dari arah utara ataupun selatan tersedia di sini. Sistem tiketing bus di TBS ini sudah pakai sistem digital tiket tidak lagi dijual sendiri-sendiri oleh perusahaan oto bis di loket-loket bis, tetapi sudah dijual terintegrasi melalui tiket online. Sistem tiketing yang terintegrasi ini (mungkin) di-handle oleh manajemen terminal BTS (saya juga ngga tau sih, mungkin kamu tau?). Semua tiket bus apa saja dilayani secara online satu pintu dgn jadwal yang on time. Jadi penumpang hanya membeli di tiketing, lalu nantinya bisa memilih jam keberangkatan yang tersedia, tanpa menentukan mau naik bus merek apa.
Sama seperti kita membeli tiket pesawat di outlet travel tour, semua tiket penerbangan apa saja tersedia. Di TBS/BTS ini terdapat dua puluhan konter tiketing bus yang berjejer menjual berbagai jenis tiket PO bus ke berbagai kota di semenanjung Malaysia, Singapura dan Hat Yai, Thailand selatan. Mau ke mana saja kita, bisa dilayani oleh satu orang saja. Kebanyakan menggunakan aplikasi RedBus, Easybook dan 123Go. Setelah kita punya tiket, kita masuk ke ruang tunggu keberangkatan yang berada di lantai dasar. Yang bisa masuk ke ke ruang tunggu keberangkatan ini hanya penumpang yang mempunyai tiket. Selain itu masuknya juga harus yang sesuai dengan jadwal boarding pass-nya. Jadi kalau tiket jam 9 teng, boarding pass jam 8.30, sebelum jam 8.30 ngga boleh masuk dulu. Keren banget kan ya, udah kaya keberangkatan di bandara aja. Di dalam ruang tunggu ini terdapat layar segede gaban kek bandara yang menampilkan semua jadwal bus dari kedatangan dan keberangkatan secara real time. Keberangkatan bus di terminal TBS ini, on time. Berangkat jam 00.30 jam 00.20 bus tiba di platform yg sudah ditentukan untuk menaikan penumpang. Setelah proses penumpang naik selama 10 menit, bus pun berangkat meninggalkan area terminal. Berapa pun jumlah penumpang yang ada, langsung diangkut saja, ngga tunggu-tunggu-an dulu alias ngetem. Terisi 5 orang penumpang saja, bus jalan. Sangat efisien.
Ngarap banget terminal di Indonesia (khususnya Jakarta) juga ada yang kaya gitu, hehehe.
Tepat pukul 00.30, saya naik bus paling awal menuju Alor Setar Kuala Kedah. Bus Maraliner yang saya tumpangi sangat nyaman, membuat saya bisa tidur nyenyak selama perjalanan. Ketika matahari mulai terbit, bus tiba di terminal Shahab Perdana Kuala Kedah. Saya kontak Ust. Fawwaz yang kebetulan sedang ada jadwal dakwah di Kedah. Saya menunggu di sebuah warung kopi sambil sarapan roti cane dan teh tarik.
Perjalanan dengan feri berlangsung sekitar 1.5 jam dalam kondisi cuaca cerah. Setibanya di Pelabuhan Langkawi Jetty, saya langsung mencari rental motor untuk sarana transportasi selama di pulau. Deal pada harga RM 35 dengan Cik Meri yang muda dan cantik pemilik motor Honda Beat, kami ngobrol penuh canda, dia rupanya dari Serawak dan punya armada motor dan mobil. setelah buat video dgn Cik Meri saya langsung tancap gas menuju ke Gecko Guesthouse, tempat saya akan menginap di kawasan Pantai Cenang.
| Gecko Guesthouse |
Setelah check-in, mandi dan istirahat sejenak, tanpa menunggu lama, saya langsung melanjutkan petualangan menuju Langkawi SkyCable, destinasi pertama yang ingin saya kunjungi di pulau ini. Motor Honda Beat kupacu melintasi Padang Matsirat, melewati bandara dan hutan2 kecil yang banyak monyet di tepi jalan yg berkelok sehingga harus berhati-hati.
| Laksa ikan Seqot |
Saat malam, saya menikmati keramaian Pasar Malam Temoyong yang penuh dengan aneka kue-kue khas Melayu seperti onde-onde, kuih seri muka, kuih lapis, dan kuih ketayap. Selain itu, ada juga beragam makanan lainnya seperti nasi lemak, mee goreng, kebaab, coconut shake dan sate yang bisa dinikmati sambil berdiri atau dibungkus untuk dibawa pulang, karena di sini tidak disediakan kursi dan meja untuk duduk. Suasananya sangat hidup dengan suara pedagang dan aroma makanan yang menggugah selera.
Sekitar jam 7 pagi check out dari Gecko kupacu motor ke arah Dataran Lang. Mampir menikmati pagi dgn sarapan nasi minyak dan kopi O di sebuah kafe yang ramai karyawan yg akan brangkat kerja. Setelah itu kupacu motor ke Taman Patung Elang, ikon kebanggaan Langkawi, adalah salah satu momen yang tidak boleh dilewatkan. Saya menghabiskan waktu di sana, mengambil foto dan membuat video untuk menangkap keindahan kawasan ini. Pemandangan Patung Elang yang megah dengan latar laut biru yang tenang benar-benar memukau. Ini adalah tempat yang sempurna untuk bersantai, sambil menikmati suasana pagi yang damai dan indah.
Langkawi, yang sering disebut permata Kedah, mendapatkan namanya dari elang laut berpunggung merah yang mendominasi langit pulau tersebut. Menurut cerita rakyat, istilah 'Lang' berasal dari kata Melayu 'helang', yang berarti Elang. 'Kawi' berasal dari kata yang berarti marmer atau cokelat kemerahan. Sekelompok Elang berwarna cokelat kemerahan yang terbang tinggi di langit menambah legenda dan simbol Langkawi. Dalam bahasa Melayu, 'Dataran' berarti persegi, yang membawa kita ke 'Dataran Lang' atau Eagle Square Langkawi.
Kedah Darul Aman
Perjalanan solo ini memberi saya kebebasan untuk bergerak sesuai dengan ritme saya sendiri, menikmati keindahan alam, dan menemukan sisi lain dari Pulau Langkawi yang mungkin tidak terlihat dalam perjalanan grup biasa. Setiap tempat yang saya kunjungi menghadirkan pengalaman baru, menjadikan perjalanan ini lebih dari sekadar liburan, tetapi juga sebuah petualangan yang memperkaya jiwa.
| Kembali menyeberang ke Kedah |
Kesultanan Kedah menjadi kesultanan tertua di wilayah Semenanjung Malaya dan diyakini menjadi kesultanan tertua di dunia. Kesultanan Kedah ini pada awalnya erat kaitannya dengan agama Hindu sebelum akhirnya berubah menjadi kesultanan Islam.
Kota Alor Setar merupakan ibu kota negeri Kedah, Malayasia. Tempat kelahiran Tunku Abdul Rahman Putera Al Haj yang merupakan Perdana Menteri Malaysia yang pertama. Beliau adalah keturunan Bugis Makassar yang datang Semenanjung Melayu di abad 18. Namanya diabadikan sebagai nama jalan penghubung kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Mayoritas penduduk Kedah adalah dari suku Melayu Kedah, diikuti oleh suku Tionghoa dan India. Masyarakat Melayu lainnya termasuk Melayu Pattani.
Alor Setar adalah gabungan dari kata ‘Alor’ dan ’Setar’. Setar adalah nama sejenis pohon, buahnya apabila masak berwarna kuning kemerahan, rasanya masam-masam manis dan ukurannya besar sedikit daripada buah rumbia yang termasuk dalam kelompok pohon kundang dengan nama ilmiahnya ‘Boeya Macrophlla’.
Ketika selesai mengantarku ke halte di simpang Batu Gajah, beliau langsung mau ngacir tak mau bin menolak dibayar. MashaAllah.. Lagi-lagi ke sekian kalinya Allah mengirim orang baik sebagai penolongkui. Meski begitu dgn gerak cepat saya menyelipkan uang RM 5 ke motornya. Beliau pun berlalu tanpa sempat saya tanya, namanya....
Kellie's Castle adalah sebuah bangunan bergaya kolonial yang dibangun pada awal abad ke-20 oleh seorang pengusaha Skotlandia bernama William Kellie Smith. Kastil ini dirancang sebagai rumah besar untuk keluarganya, tetapi pembangunannya terhenti setelah kematian mendadak Kellie Smith pada tahun 1926, serta gangguan akibat Perang Dunia I.
Kellie’s Castle awalnya dimaksudkan sebagai rumah mewah dengan arsitektur bergaya campuran Moor, India, dan Eropa. Bangunan ini memiliki ruangan besar, koridor panjang, dan bahkan lift pertama di Malaya. Sayangnya, proyek ini terhenti setelah kematian Kellie, dan bangunan itu dibiarkan tak terselesaikan.
Efek Mistik dan Cerita Hantu
Kellie’s Castle sering disebut-sebut memiliki aura mistis yang kuat, dan telah lama dikaitkan dengan cerita-cerita hantu. Beberapa pengunjung maupun pemandu wisata menyatakan mereka pernah melihat penampakan dan mendengar suara-suara aneh di sekitar kastil. Berikut beberapa kesan mistik dan cerita hantu yang sering didengar:
1. Penampakan William Kellie Smith : Ada cerita bahwa arwah William Kellie Smith sering terlihat di area kastil, terutama di lorong-lorong dan balkon. Beberapa pengunjung mengaku melihat sosok pria dengan pakaian zaman kolonial berdiri di salah satu jendela atau berjalan-jalan di dalam kastil.
2. Anak Perempuan dan Istrinya : Beberapa orang juga melaporkan melihat sosok perempuan dan anak kecil yang diduga merupakan istri dan anak perempuannya. Mereka dikabarkan tampak melintas di antara ruangan atau terlihat di area tangga.
3. Koridor Bawah Tanah : Kastil ini memiliki koridor bawah tanah yang dianggap angker oleh banyak orang. Ada cerita tentang suara langkah kaki atau bisikan-bisikan halus yang terdengar di sini, meskipun tidak ada orang lain di sekitar.
4. Kejadian Mistis Lain : Beberapa pengunjung dan pemandu wisata mengaku merasakan suasana yang “berat” atau energi yang berbeda saat berada di dalam kastil, terutama di area tertentu seperti kamar-kamar atau lorong yang jarang dilewati.
Meski penuh dengan cerita mistik, Kellie’s Castle tetap menarik banyak wisatawan, baik karena arsitekturnya yang unik maupun karena cerita seramnya. Pengalaman setiap pengunjung bisa berbeda-beda, ada yang merasa tempat ini sekadar bangunan bersejarah, sementara lainnya merasakan atmosfer yang lebih menyeramkan.
Banyak pengunjung yang merasakan aura aneh atau perasaan "dingin" dan tidak nyaman di beberapa bagian kastil, terutama di ruang bawah tanah dan area yang tidak selesai dibangun. Suasana kastil yang terbengkalai, dikelilingi oleh alam liar, menambah kesan seram..
Selama di castle ini, saya benar-benar dibuat takjub dengan arsitektur bangunan kuno yang megah ini, bahkan vibes nya pun tak menggambarkan kalau saya sedang berada di Asia Tenggara melainkan di Eropa. Kujelajahi kastil yang penuh misteri, nikmati arsitektur unik, dan ambil beberapa foto di sudut-sudut yang ikonik.
Saya melanjutkan perjalanan kembali ke kota menuju Old Town yang masih banyak terdapat sisa-sisa bangunan peninggalan gaya Peranakan Melayu. Di kawasan ini terdapat Masjid Panglima Kinta dan Masjid Sultan Idris Shah II serta Concubine Lane, sebuah jalan kecil yang terkenal dengan seni mural warna-warni. Di sepanjang koridor ini saya menemukan berbagai mural yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dan sejarah Ipoh. Suasananya sangat ramai, dengan kafe-kafe kecil dan toko suvenir berjejer di jalanan.
| Menara Jam Memorial Birch |
Menara jam ini dibangun untuk memperingati James WW Birch, Residen Inggris pertama di negara bagian Perak dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1909 dengan biaya $25.000
Setelah cukup puas menikmati kuliner dan keindahan kota Ipoh, aku berjalan kaki ke terminal Medan Kidd diiringi hujan rintik. Saat berjalan di aspal yang basah sol Adidasku "kelelahan" lidahnya menjulur kayak herder hehehe. Sampai di terminal Adidas kuganti dgn slipper dan naik bus terakhir yang kembali ke Terminal Meru Raya Amanjaya untuk melanjutkan perjalanan dengan bus malam Express menuju Melaka. Bus malam ini memberikan kesempatan untuk beristirahat setelah hari yang penuh petualangan, dan saya menikmati tidur di dalam bus yang nyaman.
Boarding bus Kesatuan di platform 4 jam 23.45 dan bus tiba subuh sekitar jam 05.30 di Terminal Bus Sentral Melaka. Saya ke Musholla sholat subuh lalu ke medan selera sarapan roti cane kari + kopi susu. Setelah segar saya naik bus S100 menuju kawasan Jonker, cuma RM 1.2. Ahad yang ramai saya menyusuri Dutch Red Square menuju 3 Little Birds Home, di sebelah Casa Del Rio Resort, tempat saya akan menginap selama dua malam.
Melaka adalah kota yang mempesona dengan banyak peninggalan bangunan peninggalan masa kolonial, museum-museum menarik, serta kuliner yang kaya perpaduan antara budaya Melayu, Peranakan Tiongkok, Arab, dan lainnya.
| Masjid Selat Melaka |
| Ziarah ke Makam Hang Jebat |
| 3 Little Birds Home, rumah pertemuan Antar-Bangsa |
| Pemilik 3 Little Birds Home, Tn. Mohd Sharom |
*Tuan Sharom dan “All Inclusive Tanpa Invoice”*
Di Melaka, saya menginap di
3 Little Birds Home.
Lokasinya strategis.
Dekat dengan
Casa del Rio Melaka
dan kawasan Jonker yang ramai.
Homestay-nya sederhana.
Tapi hangat.
Dan yang membuatnya berbeda…
adalah pemiliknya:
Mohd Sharom.
Beliau tidak tinggal di sana.
Tapi hampir setiap hari datang.
Kontrol.
Ngobrol.
Menyapa tamu.
Gaya beliau santai.
Murah senyum.
Dan yang paling terasa…
tulus.
Kadang beliau datang bersama istri dan putranya.
Suasananya jadi seperti…
rumah sendiri.
Saya pikir awalnya:
“Ini homestay biasa…”
Ternyata saya salah.
Ini homestay dengan fitur tambahan:
“pemilik ikut jadi tour guide.” 🤣
Suatu hari, beliau mengajak saya city tour.
Naik mobil Strada Hi-Lux yang kinclong.
Saya duduk di samping beliau.
Kami ngobrol tentang keluarga, traveling. Dsb
Dalam hati mulai bertanya:
“Ini nanti… dihitung paket tambahan nggak ya?” 😄
Kami meluncur ke berbagai titik..
Salah satunya ke Pantai Klebang.
Di sana kami menikmati:
Coconut Ice Cream yang lagi viral.
Sambil makan, beliau bercerita tentang pedagang kelapa:
dari usaha kecil…
hingga berkembang besar.
Saya mendengarkan.
Sambil sesekali berpikir:
“Ini saya lagi wisata… atau lagi ikut seminar kewirausahaan?” 😄
Setiap kali saya mau bayar…
tangan saya ditepis pelan.
“Jangan…”
Singkat. Tapi tegas.
Saya menyerah.
Malam terakhir di Melaka,
beliau mengajak makan malam di
Al Dubai Restaurant.
Menu Timur Tengah.
Lengkap.
Nikmat.
Saya mulai menghitung dalam hati:
biaya inap…
ditambah city tour…
ditambah es krim…
ditambah makan malam…
Hasilnya:
tidak masuk akal.
Saya bayar homestay…
tapi dapat layanan seperti paket premium.
Dalam hati saya berkata:
“Ini bisnis apa… amal jariyah?” 😄
Saat saya hendak melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur malam hari,
sekitar pukul 21.00…
Tuan Sharom kembali menunjukkan kelasnya.
Beliau mengantar saya ke
Terminal Melaka Sentral.
Lengkap.
Tanpa drama.
Tanpa tarif.
Saya hanya bisa diam.
Dan bersyukur.
Di perjalanan seperti ini,
saya sering bertemu orang baik.
Tapi Tuan Sharom…
adalah salah satu yang “levelnya beda”.
Bukan hanya membantu…
tapi memuliakan tamunya.
Setelah berpisah,
kami tetap berhubungan lewat media sosial.
Saling berkabar.
Dan saya tahu…
kalau suatu hari saya kembali ke Melaka,
saya tidak hanya punya tempat menginap.
Tapi juga…
punya seseorang yang bisa saya sapa sebagai teman.
#Kelana_AnggrekJingga21
#IndonesiaCintakuTakSebatasKata
Penutup Perjalanan : Malacca Strait
Melaka, sebuah kota yang penuh sejarah dan budaya, adalah salah satu permata berharga dalam peradaban Melayu. Didirikan oleh Parameswara, seorang pangeran dari Palembang, pada awal abad ke-15, Melaka tumbuh menjadi pusat perdagangan maritim yang strategis di Asia Tenggara. Letaknya yang berada di Selat Melaka menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan para pedagang dari China, India, Arab, dan Eropa.
Pada masa keemasannya, Kesultanan Melaka berkembang sebagai pusat penyebaran agama Islam di Nusantara dan memainkan peran penting dalam jalur perdagangan dunia. Kejayaan Melaka menarik perhatian bangsa-bangsa asing, dan pada tahun 1511, kota ini jatuh ke tangan Portugis, kemudian direbut oleh Belanda pada tahun 1641, dan akhirnya dikuasai oleh Inggris pada awal abad ke-19.
Setiap bangsa yang pernah menguasai Melaka meninggalkan jejak arsitektur, budaya, dan tradisi yang masih bisa kita lihat hingga hari ini, seperti Gereja St. Paul, Benteng A Famosa, dan bangunan bersejarah lainnya. Warisan ini menjadikan Melaka sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2008.
Melaka bukan hanya kota sejarah, tapi juga simbol keberagaman budaya, kuliner, dan warisan kolonial yang harmonis. Setelah menikmati setiap sudut kota yang penuh kenangan ini, perjalanan saya pun akhirnya sampai di ujungnya. Dari Melaka, saya kembali melangkah pulang ke Graha Raya Bintaro Tangsel, membawa pulang cerita, pengalaman, dan pelajaran berharga dari setiap tempat yang saya kunjungi.
Setiap perjalanan selalu memberikan makna tersendiri, dan Melaka menjadi bab penutup yang indah dari petualangan kali ini. Hingga jumpa pada perjalanan berikutnya, insya Allah!
https://www.facebook.com/share/v/fge7AtNPhYqV336y/

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar