JEJAK DI AMBON Explore D' East I

                                     

Ambon, kota yang telah akrab di telingaku semenjak masa kanak-kanak. Bukan saja karena nama kota ini sering disebut dalam pelajaran sejarah, tetapi lagu daerah ambon seperti: Ayo Mama, Sarinande, Burung Tantina, dan lain-lain, telah begitu akrab di telinga di masa-masa termanis dalam hidup kita.

Dari berbagai hal, kota ini juga memiliki kenangan khusus bagi keluargaku. Di masa kemerdekaan keluarga dari Ibuku banyak yang merantau ke Maluku khususnya Ambon dan Tual. Mereka sampai kawin mawin (asimilasi). Entah sudah generasi ke berapa saat ini. Selain itu Ayahku yg bekerja di Zeni AD sering ke Ambon dalam proyek AMD mengerjakan pemasangan jaringan listrik. Di Ambon pula abangku menemukan jodohnya. 

 


Ambon memang memiliki banyak pesona yang diam-diam menyalakan hasrat hati siapa pun untuk berkunjung. Seperti yang kerap terlihat di layar televisi, pemandangan laut yang dikelilingi bukit-bukit hijau, hamparan pantai yang indah serta warna air laut yang masih biru, memanjakan mata dengan eksotime alam yang relatif masih murni.

  

  

Bagi para pelancong sejarah, kota Ambon juga memiliki banyak jejak penting. Sebagaimana diketahui, setelah sukses menapaki Malaka pada tahun 1511 Masehi, maka target perburuan rempah-rempah orang Portugis berikutnya adalah Kepulauan Maluku, yang di dalamnya termasuk kota Ambon. Portugis sudah mulai mendarat di Maluku pada tahun 1512, tepatnya di Pulau Banda. Kawasan Ambon mulai mereka sentuh pada tahun 1513. Ambon mengabadikan jejak bangsa Portugis dalam beberapa peninggalan sejarah berupa benteng Victoria, benteng Amsterdam, serta berbagai senjata dan perlengkapan benteng yang digunakan pada masa itu.

  
Bertemu kelg di dermaga Namlea/ Buru

   

Berbekal tautan sejarah dan rasa ingin tahu tapak tilas jejak Ayah maka aku menggelorakan semangat untuk menjajaki kota ini. Aku memasukkan Pulau Ambon dan Pulau Tual dalam perjalanan avonturir/seorang diri dalam tajuk Explore The East : Makassar, Raja Ampat, Ternate, Tidore, Banda Naira, Ambon. Meski di Tual banyak rantai keluarga Ibu yang aku belum pernah ketemu, terpaksa aku skip karena kelelahan dan rindu keluarga kecilku di Bintaro. Ini sudah pekan ke empat Juni 2023 aku berkelana. 

    

 

Dari Banda Naira aku menumpang KM Sangiang tujuan Ambon.  Di Banda Naira aku menginap di Allan Bungalow Resort yang terletak di bawah gunung api dan di seberangnya sepelemparan batu (gak bakal sampe batunya ke pelabuhan heheh) terletak pelabuhan Banda sehingga dari kamar bungalow kita bisa melihat kapal penumpang yang lagi berlabuh. Jadi ketika tampak KM Sangiang mulai bersandar aku tak perlu buru-buru berkemas.  Sekitar sore jam setengah lima aku menyeberang ke pelabuhan dgn perahu ketingting dgn pilot Bang Anto ditemani Dini, teman backpacker dari Subang yang ketemu di Bungalow. 5 menit menyeberangi laut Banda yang mempesona dan akan selalu kurindukan. Ada gurat sedih harus menyelesaikan perjalanan sampai di sini. Menulis bagian ini aku menghela nafas panjang...benarlah kata Sutan Sjahrir "Jangan mati sebelum ke Banda Naira".

  

Sirene panggilan kapal berbunyi yang ke dua kali. Bersama Dini aku ke Port Adm di sisi dermaga untuk mengambil Boarding Pass. Ransel seberat 8 Kg kusampirkan dipunggung.

"Dini..rasanya waktu cepat banget ya?..yaah memang cepat sih..heheh" kataku menghela. Dini tersenyum. Ujung hijabnya melambai tertiup angin pantai. Mata indahnya berbinar berkilau cahaya senja.
Aku harus berangkat duluan. Sayang ya kapal kita tak sama. Hmm..telepon aja Nakhoda kapalmu buruan jemput. Biar kita ketemu lagi di Ambon atau di Makassar" kataku mencandai.

Sirene panggilan terakhir kapal berbunyi yang ketiga kali artinya kapal segera angkat jangkar.

"Hati-hati Din? saling berkabar ya?. Mudah2an kita bisa ketemu di Subang atau di Bintaro..."
Kami lalu berpisah aku segera menapaki tangga kapal menuju dek 3. Sedih juga berpisah dengan Dini yang jadwal kapalnya datang  ke Banda Naira masih 3 hari lagi sebelum kembali ke kotanya > Subang dengan menumpang kapal KM Nggapulu tujuan Ambon Makassar dan Surabaya. Dari Surabaya Dini akan naik kereta ke Bandung.
Sampai berjumpa kembali Dini..Selamat berpisah Banda Naira..selamat berpisah Pak Allan owner Allan Bungalow..selamat berpisah warga Banda yang baik hatinya...yang kaya dengan sejarah perjuangan. Yang kaya dengan keindahan alam. Yang kaya dengan keindahan bangunan2 heritage peninggalan kolonial (Spanyol, Portugis, Belanda). Heritage Building yg terbengkalai, minim informasi, gedung2 yg tidak terawat. Ruangan2 kotor, sampah  lawang2, vandalisme. Di situ aku sedih..! Mudah2an penguasa mendatang lebih memperhatikan dgn memberikan anggaran yg memadai. Atau ada tapi dikorupsi? Demikian kata tokoh setempat. Kalo pemerintah mendatang juga tidak peduli maka harus dikritik habis2an... 🤓 Aku masih menyimpan harapan dapat kembali ke Banda Naira.

 


KM Sangiang meninggalkan pelabuhan Banda jelang maghrib. Dari geladak kapal kupandang Dini dan Pak Allan di bawah dermaga sana diantara para pengantar yang melambai-lambaikan tangannya. Kupandangi Allan Bungalow di seberang...akh rasa hati ini sungguh tak terbilang kata, tak ada diksi yang mampu kurangkai untuk mewakili rasa hatiku. Membaur jadi satu dalam belaian ombak Banda dan terpaan hembusan angin Naira. Senja ini mengharu biru. Pulau Banda kian menjauh ditelan senja berganti malam. Ku masukkan gadgetku ke dalam saku blue jeans lusuh yang beberapa bagiannya sobek dalam jejak-jejak avonturir. Aku melangkahkan kaki ke musholla Ibnu Batutah di dek lima, mengambil wudhu membersihkan diri menyeka perasaan membilas bathin. Membentangkan sajadah menengadahkan tangan kepada Sang Mahadaya memohon doa  keselamatan dan keberkahan kepada semua orang baik yang kutemui di perjalanan ini.  Sudah ber mil-mil  belahan bumi kujelajahi namun romantisme Banda sungguh memberi kesan yang teramat sophisticated.... 

Backpacker juga manusia.

 


Hanya selang sehari, sekitar jam 09.00 kapal KM Sangiang berlabuh di pelabuhan Slamet Riyadi Ambon. Aku turun di sini dan nanti malam pukul 23.00 melanjutkan dengan kapal KM Doloronda menuju Makassar. Sementara KM Sangiang berlayar menuju Ternate.  Turun dari kapal aku melangkah keluar pelabuhan jalan AM Sangaji. Mampir di sebuah warung kopi melepaskan kepenatan. Secangkir kopi menyegarkan badan dan pikiran sebelum eksplor singkat. Mengenali Kota Ambon dengan berjalan kaki dari titik Masjid Al Fatah. Tentu tidak banyak sudut kota dan ikon wisata yang bisa kujangkau dalam waktu sesingkat ini. Tak apalah. Berdasarkan arahan adik Iparku, orang Ambon yg kakak perempuannya menikah dgn kakakku, aku menghubungi Ari, putera mantan Bupati Namlea. Meski dulu dia sering ke Makassar dan mampir ke rumah kakak tapi aku tak pernah bertemu karena aku sdh merantau jauh sejak tamat SMA. Kami ngobrol2 di warkop lalu melanjutkan kegiatan. Karena kebetulan beliau sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal maka ia mengantarku ke Monumen Gong Perdamaian lalu kami berpisah.

Gong Perdamaian Dunia.

Lokasi tidak begitu jauh dari Masjid Al Fatah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki, kurang dari 15 menit. Gong Perdamaian Dunia di Ambon adalah salah satu dari banyak Gong Perdamaian yang tersebar di berbagai negara. World Peace Gong, adalah simbol persaudaraan dan perdamaian.

  

Pendirian monumen berupa Gong Perdamaian di Kota Ambon tidak terlepas dari sejarah konflik Sara yang pernah menghancurkan kota ini. Di Bangun pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diresmikan pada tanggal 25 November 2009. 



Memiliki bentuk bangunan yang mirip, yakni sebuah gong besar dengan dengan tulisan World Peace Gong dan dikelilingi gambar bendera negara-negara pendukung perdamaian, dua pilar penyangga. Ukuran Gong atau diameternya mungkin juga berbeda satu sama lain.

Gong Perdamaian di Kota Ambon berdiri di tengah Taman Pelita, di pusat Kota Ambon. Posisi Gong Perdamaian layaknya sebuah monumen, agak berada di ketinggian. Untuk mencapai posisi Gong Perdamaian, mesti menapaki undukan yang lumayang tinggi dari dasar atau jalan taman. Tempat ini memang menjadi salat satu tempat favorit untuk pengambilan foto.


Konsep monumen yang menyatu dengan taman kota sudah barang tentu dilengkapi dengan tempat nongkrong yang bikin kerasan. Bentuk bangunan yang melingkar di tata menjadi taman yang asyik untuk joging atau sekedar jalan-jalan santai.

Nah, yang menarik. Di bawah monumen Gong Perdamaian ternyata ada bangunan. Mengambil jalan agak melingkar, di sisi kanan bawah Gong, akan ada pintu masuk yang di atasnya tertulis “Museum Gong Perdamaian Dunia Ambon”.
Rupanya ruang yang persis berada di bawah monumen tersebut berbentuk segi delapan. Ruang melingkar mengitari sebuah dinding yang menjadi tempat meletakkan sebuah plakat bertulis “World Peace Gong” yang dilengkapi nama-nama negara yang mungkin hadir dalam peresmian tersebut. Ada 35 nama negara yang tercantum di sana, di antaranya: China, India, Mozambique, Mesir, Jerman, Aljazair, dan lain-lain.
Di setiap sesi dinding museum tertempel aneka peristiwa yang terkait dengan isu perdamaian. Ada foto deklarasi damai, ada juga gambar peringatan hari perdamaian internasional, Perjanjian Malino, foto-foto ritual cuci negeri, dan ada juga foto sebuah angkot warna kuning yang di duga sebagai pemicu konflik Sara di Ambon pada tahun 1999.
Semoga monumen Gong Perdamaian Dunia mampu terus menghidupkan silaturrahmi dan rasa persaudaraan di antara kita.

Masjid Raya Al Fatah.

Masjid yang megah dengan gaya arsitektur Timur Tengah. Dua menara besar di sisi kanan dan kiri masjid, di tengahnya melengkung indah kubah masjid dengan ornamen kuning coklat.



Masjid ini memang menjadi salah satu ikon Kota Ambon dan menjadi tujuan wisata religi yang kerap menjadi target utama kunjungan para wisatawan. Bukan sekedar untuk mengagumi keindahan dan kemegahannya, banyak juga pelancong yang menyempatkan diri untuk mampir ke masjid ini karena pertimbangan sejarah.
Masjid ini telah dirintis pendiriannya semenjak tahun 1936 masehi. Konon, untuk menggantikan posisi Masjid Jami Kota Ambon yang sudah mulai terasa sempit. Ada dua peristiwa sejarah yang penting yang memiliki pertalian langsung dengan masjid ini.

Pertama, masjid ini diberi nama sebagai Masjid Al Fatah oleh aktor sejarah yang sangat penting di negara kita, yakni Presiden Soekarno. Penamaan itu beliau lakukan pada saat peletakan batu pertama perluasan bangunan masjid pada tanggal 1 Mei 1963. Tanggal dan tahun tersebut ternyata bertepatan dengan penyerahan Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kedua, aspek historis yang juga lekat dengan masjid ini adalah pada saat terjadi konflik di Maluku. Masjid Al Fatah menjadi benteng sekaligus pusat komando kaum muslimin pada saat itu. Bukan untuk mengenang konfliknya, tetapi untuk mengenang berbagai mukjizat yang diyakini terkadi di kawasan masjid ini. Misalnya, kemunculan pasukan berkuda dan bersorban putih pada saat kaum muslimin terkepung di masjid ini. Konon, pasukan berjubah putih inilah yang membantu kaum muslimin mampu memukul mundur para pengepungnya.

Masjid yang terletak di seberang Jalan Sultan Babullah, Kota Ambon, memiliki luas lahan 5000 m2. Luas bangunannya sendiri mencapai 2.200 m2. Masjid ini mampu menampung 1000 orang jamaah lebih. Letaknya yang berada di jantung Kota Ambon membuat masjid ini selalu ramai dipadati jamaah.
Suasana sore di depan masjid terasa indah. Lapangan masjid yang luas dengan deretan kursi-kursi besi di beberapa sisinya memang mendukung untuk healing sambil menatap keindahan masjid yang sedang bermandikan cahaya senja.

Banyak penduduk setempat dan mungkin juga musafir yang nampak duduk-duduk santai di selasar masjid. Selasar yang cukup luas, membentuk sebuah lorong yang menghubungkan bangunan utama masjid dengan tempat wudhu, kamar mandi, dan ruang belajar di lorong sebelah kanan.
Di belakang selasar  ada tanah kurang lebih 20 x 15 meter yang difungsikan sebagai taman. Ada banyak pepohonan di taman itu. Di sisi-sisi taman juga dilengkapi dengan kursi-kursi besi. Taman ini sangat mendukung untuk kegiatan membaca atau menulis, atau menghafalkan ayat Al-Quran. Mitra kerja kami, yang juga mengantar kami jalan-jalan, ternyata menyelesaikan tesisnya sebagian besar di taman ini. Taman mungil ini menjadi sentuhan yang indah dan melengkapi kemegahan masjid.

Mencari Jejak Bapak di Masjid  Al Fatah.

Siang ba'da Jumatan aku mencari jejak almarhum Bapak di Masjid Al Fatah ini. Di manakah shaf yg sering diisi Bapak. Sisi kiri kah? Sisi kanan kah? Atau di tengah dekat Imam? Doeloe ketika aku masih kecil beliau sering bercerita tentang tempat "nongkrong"nya di Al Fatah ini. Kadang pulang ke Makassar belanja material, sebulan kemudian berangkat lagi ke Ambon dengan kapal laut.  Ketika membayangkan itu aku  seolah 'melihat' beliau sedang tafakkur ..aku tak bisa lagi menahan sesak di dada. Tak sanggup kelopak mata menahan bergulirnya cairan hangat dari sisi mata. Bersandar di tiang masjid, menundukkan wajah menyembunyikan kesedihan  mengenang perjuangan beliau mencari nafkah keluarga dari Makassar sampai ke Ambon. Mengenang keluarga2 Ibuku yg doeloe sekali sebelum masa kemerdekaan merantau ke Ambon dan Tual.





Keluar dari halaman masjid kususuri jalan diantar Ari yang mengetahui jejak keluarga. Menurut cerita keluarga, beliau tinggal ngontrak tak jauh dari masjid Al Fatah. Tak sampai seratus langkah, kutemukan jalan Soabali. Alhamdulillah kutemukan sebuah rumah tua, Di sinilah beliau mengontrak rumah bersama kakakku di sekitar awal tahun 1972-an, saat aku masih di SD Muhammadiyah. Aku mohon ijin kepada pemilik rumah yang sangat ramah untuk beristirahat sejenak. Bermeditasi menembus lorong waktu mengikuti jejak Bapak.




Jejak Bapak di kawasan Soabali, Ambon

Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi kemuliaan perjuangannya. Semoga Allah menempatkan Bapak di tempat_Nya yg terbaik.


Masjid Jami Ambon, Saksi Peradaban

Tak jauh dari gerbang jalan Soabali hanya berjalan sekitar 50 langkah aku sudah sampai di Masjid Jami' yang berada di Jalan Sultan Babullah, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang menjadi saksi peradaban di kota ini.

Masjid yang terletak di dekat sungai dan menghadap ke tepi laut itu mengalami kerusakan dahsyat berkaki-kali. Ada yang mengistilahkan Masjid Jami' merupakan "ibu" dari masjid termegah di sampingnya, yaitu Masjid Raya Al Fatah.
Konon, Masjid Jami' sendiri merupakan cikal bakal lahirnya masjid megah Al Fatah di pusat Kota Ambon ini. Masjid Jami' sendiri didirikan pada 1860 di atas tanah wakaf oleh seorang janda bernama Kharie.
"Tanah masjid ini merupakan pemberian oleh seorang janda," ujar salah satu pengurus Masjid Jami' Salem Jamalilel.

Kala itu, konstruksinya tak sekokoh sekarang. Saat itu Masjid Jami' dibangun sederhana, berdinding dan beratapkan daun rumbia (pohon aren, enau) dengan tiang kayu.

Dulu, masjid tersebut merupakan pusat aktivitas keagamaan umat Islam di Kota Ambon dan menjadi salah satu sarana syiar Islam pada zaman kolonial.
Hingga pada 1898 masjid sederhana yang ditopang kayu itu direnovasi dengan atap seng dan areanya diperluas.
Namun, kokohnya bangunan Masjid Jami' kala itu tetap roboh ketika diterjang banjir dahsyat akibat luapan Sungai Wai Batu Gajah dan bangunannya hanyut bersama rumah-rumah warga pada 1933.

Tiga tahun berselang dari bencana tersebut, pengurus masjid serta warga pun berbondong-bondong membangun kembali masjid dengan semi-permanen pada 1936 dan selesai pada 1940.
 

 


Pada 1940 menjelang berakhirnya Pemerintahan Kolonial Belanda di Maluku, serdadu kompeni membuka keran minyak yang berada di sebelah hulu Sungai Wai Batu Gajah sehingga permukaan sungai digenangi oleh minyak kemudian dibakar. Tujuannya, untuk menghalau masuknya pasukan Jepang di Kota Ambon.
Lautan api pun berkobar di kota yang dikenal dengan julukan Ambon Manise itu.
Masjid Jami' pun juga tak luput dari kobaran api. Bangunan tempat ibadah itu hangus hingga rata dengan tanah.
Namun, masjid itu kembali dibangun secara swadaya oleh umat Islam di Ambon sebagai wujud mempertahankan bangsa dan agama.


 
 


Masjid Jami' menjadi saksi peristiwa demi peristiwa bersejarah di Kota Ambon, mulai dari penjajahan Belanda, kedatangan Jepang, operasi Permesta pada 1957, kekuasaan PKI pada 1965, hingga kelompok separatis bersenjata RMS setelahnya.

JMP (Jembatan Merah Putih)

Pada awalnya dinamai Jembatan Galala Poka. Akan tetapi, warga Desa Rumah Tiga yang wilayahnya juga dilewati oleh jembatan ini merasa keberatan dengan nama tersebut.

Pasalnya, warga Desa Rumah Tiga merasa bahwa mereka tidak ikut dicantumkan dalam nama jembatan.  Menjawab penolakan, Kementerian PUPR lalu mengadakan rapat bersama Gubernur Maluku, Bappenas, DPRD dan masyarakat ketiga desa bersangkutan untuk mencari solusi penamaan jembatan.







Berdasarkan hasil rapat, jembatan tersebut pada akhirnya dinamai Jembatan Merah Putih karena Maluku merupakan salah satu dari 8 provinsi pertama yang sudah ada sejak Indonesia merdeka.
Jembatan Merah Putih terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu jembatan pendekat di sisi Desa Poka sepanjang 520 meter, dan jembatan pendekat di sisi Desa Galala sepanjang 320 meter. Sedangkan jembatan utama terbentang sepanjang 300 meter.  

Jembatan Merah Putih saat ini merupakan ikon Kota Ambon, Maluku. Jembatan ini menjadi yang terpanjang di Indonesia timur. Jembatan yang membentang di atas Teluk Ambon sepanjang 1.140 meter ini dibangun sejak 2011, yang menghubungkan Desa Rumah Tiga (Poka) dengan Desa Hative Kecil (Galala). 

Sebelum ada Jembatan Merah Putih, jarak Bandara Internasional Pattimura ke Kota Ambon yang berkisar 35 kilometer harus ditempuh selama 60 menit dengan memutari Teluk Ambon. Dengan kehadiran Jembatan Merah Putih ini dapat mempersingkat jarak dan waktu tempuh dari Kota Ambon menuju Bandara Internasional Pattimura dan sebaliknya, sehingga biaya operasional kendaraan dapat berkurang.


 


Setelah menghabiskan waktu sampai sore mengelilingi seputar kawasan bisnis Ambon Plaza dengan berjalan kaki sekedar window shopping dan jajan Coto Makassar, kaos pela gandong, aku kembali ke Masjid Tua untuk sholat maghrib. Makan malam sekitar masjid lalu kembali ke rumah tua di jalan Soabali. Lantai bawah rumah ini terlantar tak berpenghuni. 

Jam 21.00 ransel dan isinya kutata ulang, pakaian kotor paling bawah..nanti di Makassar baru cuci samua. Aku pamitan dengan penghuni rumah lalu naik ojek ke pelabuhan Slamet Riyadi.
Penumpang tujuan Bau-Bau, Makassar dan Surabaya sudah memadati dermaga. Aku segera check in mengambil boarding pass kelas Ekonomi Dewasa yang kubeli via aplikasi Pelni. Aku naik ke kapal KM Doloronda.  Penumpang berserakan di koridor2. 
Beruntung aku dapat tempat tidur / kasur busa di dek. Ada beragam bau manusia di sini. Ada orang Makassar, Bugis, Buton, Ambon, Jawa, Manado. Suasana di dek hiruk pikuk dengan bahasa daerah,  dialek melayu dgn intonasi yang sangat kaya....inilah salah satu keindahan IndonesiA. 

For unity in diversity, juara !


  

  


 Tidak seperti umumnya penumpang dengan seabrek bawaannya sehingga perlu waktu untuk menata agar tidak menghalangi jalan, aku hanya membawa ransel yang kuletakkan di atas kepala. Ruangan dek cukup dingin AC nya. Toilet untuk mandi dan pup tak jauh. Meski tak terlalu bersih yg penting kran airnya mengalir cukup kencang. 

<Hari ini sudah 29 hari aku berjalan seorang diri. Start dari Makassar > Sorong > Raja Ampat > Ternate > Tidore > Pulau Buru > Ambon > Banda > Ambon > kembali melanjutkan perjalanan ke Makassar dengan durasi perjalanan 3 malam 4 hari, transit di pelabuhan Bau-Bau Buton, Sulawesi Tenggara. 

Edan. Menggelegak rasa kangen Makassar. Aku pengin makan coto, ikan bakar, pisang ijo dan seribu kuliner khas Makassar sebelum melanjutkan, kembali ke perantauan di Bintaro.....







  


 
Tiket Pelni 4 tujuan

 
  

 
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata. 
Imam Ali. Tidak suka hujan


              Travel through the Land, QS. 29 : 20
                                              wa-SS-alam






JEJAK DI AMBON Explore D' East I JEJAK DI AMBON Explore D' East I Reviewed by Sofyan Saleh on Juni 14, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!