BANDA NAIRA Explore D' East I

Pasca jumatan di Masjid Kesultanan Ternate menyaksikan peristiwa ritual 4 Muadzin adzan serentak dibalut sentuhan keislaman yang kuat saya bergegas ke rumah ibu Nurhidayah yang kutumpangi selama di Ternate. Setelah dijamu makan siang Papeda + ikan kuah kuning +sambal pedas yang menyegarkan saya pamitan dgn rasa terimakasih yang tak terbilang. 

Saya dibonceng Sachrul Daeng Talu ke pelabuhan Achmad Yani, boarding langsung masuk ke kapal KM Sangiang yang akan berangkat jam 15.00 dengan transit di pulau Bacan, pulau Sanana, pulau Ambon, Bandaneira, Geser, Tual dgn tujuan akhir Fak-Fak Papua. Saya turun di Bandaneira dengan durasi perjalanan dari Ternate total 3 malam 4 hari,..semriwing di laut luas. Angin cukup kencang terindikasi dari gelombang ombak yang cukup kuat, sesekali membuat kapal oleng dan beberapa penumpang mengalami mabuk laut. 
Alhamdulillah, beruntungnya saya termasuk mahluk Allah yang bisa cepat beradaptasi dgn alam. Saya tak gampang mabuk dengan beragam moda transportasi : bus, pesawat, kapal laut, perahu. Dari beragam obat yg siapkan utk perjalanan, Antimo tak pernah masuk dalam list. 

 

Kini perjalanan memasuki pekan ketiga melintasi laut Maluku yg terletak di barat Samudra Pasifik dekat Provinsi Maluku. 

Sepanjang mata memandang hanya laut biru berhias riak-riak tebal ditingkahi burung2 cemara terbang menari-nari bak ballerina dgn iringan simponi Mozart No. 40 in G minor.. Sesekali terbang tinggi lalu menukik ke bawah dgn kecepatan tinggi menusuk laut mencengkeram seekor ikan. Sesekali gelombang samudera menampar dinding kapal, menggoyang kapal, ayunannya membuat adrenalin di dada serasa melayang turun naik. Saat sholat di mushola Ibnu Batutah, palka dek 5 tumpuan kaki berpindah-pindah menyesuaikan irama tango ombak (semoga bukan bide'ngah)🤭 Sementara sinyal Simpati sebagai operator satu2nya andalan di Timur sering senyap. Makin ke tengah samudera makin ss, sunyi sepi 😂.

Laut ini membatasi Laut Sulawesi di Utara dan Laut Banda di Selatan. Pulau pulau yang membatasi laut ini adalah kepulauan Indonesia seperti Halmahera, Ternate,  Bacan,  Seram, Buru, dan Sulawesi.

KM Sangiang

                             

Tampak di horison gugusan pulau-pulau : pulau Bacan, pulau Obi, pulau Sanana, pulau Buru/Namlea dan sebagainya  seolah sambung menyambung. Sesungguhnya mereka terpaut sekian mil meski kenyataannya saling mencinta sebagai saudara se-Nusa dan sesama makhluk Allah SWT. Kalo teroris OPM dan RMS yang mau cerai biar didoakan  dpt hidayah keindonesiaan atau  ditenggelamkan saja..hhihihi

SELAT CAPALULU
Kepulauan Sula Maluku Utara

Selat Capalulu yang berada di Kecamatan Mangole Barat terkenal dengan derasnya putaran ombak yang bahkan menjadi selat dengan arus terkuat di Indonesia. Pada musim tertentu, daerah ini dilarang untuk beraktivitas karena pernah menelan korban jiwa hingga ratusan orang. Selat ini juga merupakan daerah pelayaran, apabila cuaca sedang buruk biasanya nahkoda kapal berhenti di desa Pas Ipa. Tempat ini cocok bagi pelancong yang mencari wisata ekstrim, namun tidak perlu khawatir karena nakhoda disini sudah terbiasa melewati Selat Capalulu. Lokasi ini dapat ditempuh  dengan jarak tempuh sekitar 5 jam dari Sanana. 

Predikat selat dengan arus terkuat di Indonesia ini dari berbagai situs, salah satunya di laman kementrian energi dan sumber daya mineral  menyebutkan bahwa selat dengan arus pasang surut terkuat ada antara pulau Taliabu dan Pulau Mangole, di Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, dan itu berarti Selat Capalulu. 

Dalam situs tersebut juga menyebutkan kekuatan arus yang ada pada selat capalulu mencapai 5 m/detik (18 Km/J  atau 9.72 Knot/Jam), berbeda dengan selat yang ada di pulau-pulau nusa tenggara yang mencapai 2.5 sampai 3 meter per detik ( 9Km/Jam - 4.85 Knot sampai 10.8Km/J - 5.83 Knot/Jam ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi perjalanan wisata adalah mengenai pengetahuan untuk melakukan perjalanan (travel awareness) yang meliputi informasi tentang daerah tujuan wisata serta ketersediaan fasilitas dan pelayanannya. So, jangan asal trip aja, baca2 referensi sekitar area kunjungan kalian supaya safety..

 


Bersama anak2 penumpang yg menjadi "fotografer'ku


TIBA DI BANDA NAIRA

Di geladak kapal dalam perjalanan dari Ternate menuju Banda Naira (3 malam 4 hari) saya searching Homestay/Guesthouse/Hotel dgn harga terjangkau melalui aplikasi dan Google. Ada beberapa guesthouse/hotel yg saya hubungi. Eh Alhamdulillah tak sengaja malah dpt info bungalow baru yg tdk ada diaplikasi. Lokasinya di kaki tebing gunung berapi, di atas laut.
Ya, konstruksi Bungalow dgn 5 unit kamar ini dibangun di atas air, "Nyender" di punggung gunung. Transportasi sehari-hari dgn perahu katinting yg diparkir di depan Bungalow utk ke kampung Bandaneira di seberang laut. Hotel2 yg lain adanya di Bandaneira.
Maka menimbang sensasinya tidur di atas air di belakangnya tebing gunung api dan atmosfirnya yg mistis (Parakang, Poppo, uka2 dan mahluk astral lainnya), kemungkinan binatang melata turun gunung...sepiiiii..heniiing serta harga promo yg cocok di kantong traveler kismin, akhirnya via telepon dari dek kapal saya deal dgn Pak Allan pengelola Bungalow.
Sekitar jam 9 pagi KM Sangiang berlabuh di pelabuhan Bandaneira. Saya dijemput oleh Pak Allan langsung. Ternyata  selain saya ada 1 orang penumpang kapal juga yg akan menginap di Allan Bungalows, bernama Dini. Itu saya ketahui dari kertas A4 bertuliskan nama saya dan Dini yg diacung-acungkan oleh Pak Allan sebagai pengenal saat menjemput di Pelabuhan yg terletak di seberang Bungalow berjarak hanya 5 menit naik katinting.
Hmmm...Dini adalah seorang gadis yang manis dan anggun dengan busana muslimah syar'i. Berusia sekitar 25 thn, tinggi 160-an. Dini seorang backpacker introvert, female solo trip dari Subang yg ke Bandaneira melalui Ambon (dengan pesawat) lalu dari Ambon menumpang KM Sangiang ke BandaNeira. Kapal yg sama yang saya tumpangi transit Ambon.
Sebenarnya kami sdh ketemu beberapa kali di musholla kapal tapi kami belum saling mengenal. Aku hanya memuji dalam diam.
Saat tiba di Allan Bungalow kami disajikan special breakfast : kopi Banda + roti bakar + selai buah Pala, coklat dan omelet serta buah semangka & pisang susu. Sambil bincang bertiga tentang banyak hal, mulai dari sosial kemasyarakatan, politik lokal dan paling menarik sejarah Bandaneira yang memukau dari era Spanyol, Portugis, Belanda sampai pengasingan Tokoh Bangsa Moh. Hatta, Sutan Sjahrir. Nah termasuk kenapa Pak Allan enggan menawarkan bungalownya melalui aplikasi on-line. Pak Allan sangat ramah menjelaskan sehingga diskusi jadi hidup. Sejurus kemudian beliau pamit kembali ke Neira dgn perahu katinting;

Setelah sarapan jadilah saya dan  Dini (krn belum ada tamu lain) merencanakan  mengeksplor bareng keindahan Bandaneira . Sebagai pria gentleman menjadi kewajiban bagiku untuk memandu, melindungi Dini di sepanjang laut, gua, gunung, perahu, benteng2 kolonial, kebun cengkeh, makan sampai sholat qoshor berjamaah. Termasuk menemaninya ngobrol di teras Bungalow saat lampu padam berjam-jam krn gensetnya kehabisan solar.

Cahaya bulan berpendar di atas laut Banda yg sedang tenang memberi efek pencahayaan dramatis di teras bungalow tempat kami ngobrol melepas malam menanti listrik normal kembali..
Suara serangga dan burung dari gunung api ditingkahi gemericik ombak menghempas tebing seperti sebuah orkestra alam yang mengalun sangat indah. Harmoni bunyi-bunyian semesta yg tak mungkin dapat dinikmati di kota besar. Sementara di seberang tampak indah kerlap kerlip lampu rumah penduduk dan pelabuhan Banda Naira...
Ya Allah..terimakasih atas semua berkah keindahan yang Kau berikan pada kami malam ini....
Alhamdulillah..beruntung sekali ada teman untuk jalan bareng mengeksplor Banda Naira. Apalagi dari sikapnya Dini adalah gadis yang santun dan ramah sehingga kami cepat "klik". Memang sih, seorang Backpacker kudu mudah bergaul dengan tetap menjaga sikap dan kehormatan.









Ketika turun dari kapal dan menjejakkan kaki pertama kali di Pelabuhan Banda Naira apakah yg pertama kali terpikir di ruang kepalaku? Yang pertama adalah rasa syukur bahwa selama tiga pekan perjalanan rihlah dari Raja Ampat - Ternate - Tidore - Pulau Buru sampai Banda Naira ini aku masih sehat bugar. Alhamdulillah..
Yang kedua adalah bersegera mengunjungi masjid tertua, legend,  yang kubaca dlm riset Bandaneira. 

Masih pagi, dari Pelabuhan Naira saya naik ojek  melewati rumah Des Alwi-Diplomat, anak angkat Moh. Hatta & Sjahrir, rumah pengasingan Hatta, Syahrir, benteng Belgica dan bebrapa rumah2 bergaya kolonial yang kurang terawat. 

"Banda Naira itu kecil, tidak butuh lama untuk melihat suasana kota di pulau Banda. Tetapi butuh waktu lama mengenal sejarah Banda Naira".

    


Tidak sampai 10 menit  sampailah saya di Masjid Besar. Berwudhu menyegarkan badan lanjut sholat sunnah. kemudian mengelilingi masjid, mengamati arsitektur, ragam etnik dekor interior dan eksterior sambil mengambil gambar dan bikin video. Rehat berbaring di pelataran masjid. Mencoba meditasi memasuki lorong waktu ke tahun 1865 melihat suasana saat rakyat bergotong royong membangun masjid ini.



Prasasti Masjid Besar Banda Th. 1889
 
Masjid Besar ini telah berusia ratusan tahun dan merupakan masjid tertua di Banda Naira.
Masjid bersejarah ini berada di negeri Kampung Baru, Kecamatan Banda Naira, Maluku Tengah.
Mesjid ini mulai dibangun tahun 1865 dan dikukuhkan pada th. 1889. Masjid ini telah mengalami pemugaran selama tiga kali. Tahun berdirinya masjid ini dapat kita lihat di prasasti dekat pintu masuk masjid. Menurut hikayat sejarah, masjid ini dibangun pertama kali oleh jamaah Masjid Kota Maraak.

Hal ini bermula dari insiden di Desa Lonthor, Banda Besar. Pada tahun 1599, armada Belanda datang dibawah pimpinan Admiral Yacob van Remsker ke Pulau Banda Besar. Kedatangan Belanda mendapatkan perlawanan dari penduduk yang telah beragama Islam.

Mereka memberikan perlawanan dengan senjata seadanya, tentu hal ini bisa ditepis dengan mudah oleh Belanda. Di bawah pimpinan Guru Islam Tuan Nirawati Watro, dibantu dua orang khatib bernama Nura Hasan dan Nira Mahmud, juga dua orang kapitang, Taman Bustami dan Maitaman dan orang kaya Patty Kiat, serta 40 orang pengikutnya pindah ke Pulau Naira.
Sesampai di Naira, mereka membangun sebuah kampung bernama Kampung Kiat yang berarti kampung musyawarah. Atas usulan sang Guru dan Patty Kiat, penduduk Kampung Kiat memutuskan untuk membangun sebuah mesjid . Berbekal dari beberapa benda yang mereka bawa dari Desa Lonthor, sebuah tifa (beduk), pedasang (tempat wudhu), satu buah mimbar, serta dua pasang caripu (sendal jepit dari kayu).

Sampai sekarang benda-benda terebut dan beberapa peninggalan lainnya seperti pucuk kubah pertama, helm prajurit Portugis, pedasang masih tersimpan dgn baik di museum mini yg terletak di sisi masjid. Sementara beduk, mimbar, pedasang masih bisa dilihat, tapi tidak dengan caripu. Sendal tersebut telah punah dimakan usia," ujar takmir masjid..
Selain menjadi tempat ibadah, mesjid ini dahulunya juga berfungsi sebagai tempat musyawarah, tempat berkumpul dan membina kader pejuang, dan juga menjadi tempat pemerintahan bercorak dan berlandaskan Islam ☪

TEMPAT PENGASINGAN PEJUANG KEMERDEKAAN

Banda adalah sebuah kota kecil di Pulau Neira, masuk ke dalam gugusan Kepulauan Banda yang terletak di sebelah Tenggara Maluku. Walaupun kecil, kota ini sudah terkenal sejak abad beberapa yang lalu. Berawal dari misi pencarian sumber rempah-rempah oleh beberapa bangsa Eropa pada abad XVI. Hingga akhirnya mereka berhasil menancapkan kukunya untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah hingga lebih dari satu abad.
Kota kecil ini menyimpan banyak bangunan peninggalan masa keemasan rempah-rempah tersebut. Beberapa benteng yang masih berdiri tegak dan bangunan-bangunan lainnya turut menjadi bukti dari masa tersebut.
Beberapa bangunan rumah tinggal berlanggam arsitektur Hindia (Indische Woonhuis) terdapat di kawasan lama kota ini. Beberapa dari rumah-rumah tersebut memiliki arti penting bagi perjalanan sejarah bangsa.

                

Dikutip dari Cagarbudaya.kemendikbud.go.id, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir tiba di Banda pada 11 Februari 1936 dan tinggal untuk sementara waktu di rumah Mr. Iwa Koesoemasoemantri. Satu minggu kemudian, Bung Hatta dan Sjahrir pindah ke rumah yang mereka sewa melalui seorang tuan tanah seharga f.12,50 ($ 5,00) perbulan. Rumah pengasingan tersebut berbatasan langsung dengan penjara di bagian timur. Kebutuhan pokok mereka di sana dipenuhi oleh sipir penjara Belanda yang memang bertugas di sana. Rumah tersebut hanya dibatasi oleh sebuah jalan sempit dari rumah sakit yang terletak tidak jauh dari rumah dan Kompleks Istana Mini-Tim. Mereka tinggal bersama sampai beberapa bulan hingga Sjahrir memutuskan untuk pindah.
 
Di sisi lain, rumah yang ditinggali Sutan Sjahrir menyimpan banyak kenangan berupa foto-foto dan mesin ketik antik Underwood peninggalan Bung Syahrir. Di sana juga ada gramofon kuno lengkap dengan piringan hitam berlabel Daphnis dan Chloe Suite Symphonique buatan Columbia. Ada lemari kayu juga di kamarnya serta sejumlah buku catatan di dalamnya, alat tulis, pakaian, dan surat pengangkatan sebagai perdana menteri oleh Presiden Sukarno. 
 
Pada 1944, rumah pengasingan Bung Hatta dibom sekutu hingga hancur. Rumah tersebut kemudian dibangun kembali seperti saat ini dan menjadi salah satu destinasi wisaya di Pulau Banda.

RUMAH PENGASINGAN BUNG KETJIL

Rumah pengasingan Sutan Sjahrir terletak di depan jalan Said Tjong Baadillah/Ratu Laguar di samping dari Rumah Budaya Banda yang bersebrangan dengan Hotel Delfika. Sebelum digunakan sebagai rumah pengasingan Bung Sjahrir rumah ini dulu milik seorang pemilik perkebunan pala yang sudah tidak ditinggali lagi dan kemudian disewa untuk tempat tinggal Bung Kecil selama pengasingan di Banda Naira.
    
  

Bangunan bergaya Eropa dengan enam pilar di teras depan. Bangunan ini terdiri dari bangunan utama dan bangunan di belakang. Pada bangunan utama terdapat lima ruangan dan dua teras, di depan dan di belakang. Beratap seng dengan atap bertipe pelana, plafon menggunakan papan kayu, dan lantai menggunakan terakota. Pada bangunan belakang berbentuk persegi panjang terdiri dari lima ruangan. Terdapat pula pintu masuk dengan daun pintu berbahan kayu dengan bagian atas berbentuk melengkung. Pintu ini berada di samping  utara dari teras depan.

Pada bangunan utama, tiga ruangan bagian depan digunakan sebagai museum yang memamerkan koleksi foto-foto tentang Bung Sjahrir milik Des Alwi. Terdapat pula gramofon yang dulu digunakan oleh Sutan Syahrir untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaan beliau, serta ada juga mesin ketik yang digunakan Bung Syahrir untuk menulis surat dan menuangkan isi pikirannya mengenai pergerakan perjuangan Indonesia.

Bangunan belakang gedung ini saat ini ditinggali oleh sebuah keluarga, mereka menempati bangunan ini sudah lama dan menggunakan dua ruangan belakang dan teras belakang pada bangunan utama dan bangunan belakang.


RUMAH PENGASINGAN MR IWA KOESOEMASOEMANTRI


Iwa Kusumasumantri merupakan salah satu pahlawan nasional yang menjabat sebagai Menteri Sosial setelah kemerdekaan Indonesia. Dirinya diasingkan di Banda Naira sampai 1941, karena tulisan pedasnya di koran Matahari Indonesia pada 17 Juli 1930. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar sampai Jepang masuk ke Indonesia.

Selama di Banda Naira, ia tinggal di sebuah bangunan satu lantai seluas 358 meter persegi di atas lahan seluas 672,07 meter persegi. Berlokasi di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Dwiwarna, Kecamatan Banda, Maluku Tengah, lokasinya dekat dengan Gedung Klasis Gereja Banda.

Rumah Mr. Iwa Koesoemasoemantri terdiri dari tiga bangunan yang terdiri dari bangunan utama dan 2 bangunan di bagian belakang di sisi kanan dan kiri. Bangunan utama merupakan bangunan paling besar jika dibandingkan dengan dua bangunan lainnya. Bangunan utama memiliki atap dengan tipe perisai tumpuk dengan atap menggunakan seng. Plafon menggunakan papan kayu dan kerangka atap menggunakan balok-balok kayu. Lantai yang terbuat dari ubin dengan motif bunga-bunga.

Teras depan terdapat pagar kayu dengan tinggi 1 meter dengan tiang-tiang dari besi dengan bentuk lingkaran. Terdapat motif pada listplang di teras depan. Ada pula tangga di samping kanan dan kiri teras depan dengan bentuk seperempat lingkaran. Pintu dan jendela menggunakan model daun pintu dan daun jendela berlapis, pada bagian dalam merupakan pintu dan jendela yang menggunkaan panel-panel kaca, sedangkan bagian depan merupakan daun pintu dan jendela dengan bahan kayu. Pada bangunan utama ini terdiri dari lima ruangan dan teras depan serta teras belakang.

 


Bangunan sisi kanan (timur), bangunan ini tidak menempel pada bangunan utama dan berada di belakang bangunan utama. Secara umum bangunan ini telah hancur dan menyisakan dinding, pintu dan jendelanya saja. Begitu pula dengan bangunan di sisi kiri (barat) bangunan inijuga rusak parah yang tersisa hanya dinding, jendela dan pintu saja. Kedua bangunan tersebut rusak akibat kerusuhan yang terjadi pada tahun 1999 dan hingga saat ini tidak diperbaiki.

Pada bagian belakang terdapat halaman belakang yang terdapat pohon di bagian tengahnya. Terdapat pula pintu samping di sebelah timur dari teras depan. Pintu terbuat dari kayu dengan bagian atas berbentuk melengkung. Terdapat ornamen yang mencirikan gaya Eropa pada pintu tersebut.

RUMAH PENGASINGAN DR. TJIPTO MANGOENKOESOEMO

Rumah pengasingan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo terdiri dari tiga bangunan yakni bangunan utama dimana bangunan ini gunakan sebagai tempat tinggal dr. Tjipto, selain itu juga terdapat paviliun kanan di sisi timur dan paviliun kiri di sisi barat. Secara keseluruan bangunan ini bergaya hindis (campuran gaya eropa dan gaya lokal).

Di bagian teras depan dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari beton dengan tinggi 50 cm, memiliki pilar di teras depan dengan gaya doria, plafon menggunakan papan kayu dan atap bertipe perisai tumpuk dengan menggunakan atap berbahan seng. Secara umum pintu dan jendela di bangunan utama dibuat berlapis, bagian luar biasanya mengunakan model “krepyak” dan bagian dalam berupa pintu dengan panel-panel kaca, jendela dan pintu semua terbuat dari kayu. Di atas jendela dan pintu terdapat sebuah ventilasi yang bermotif. Lantai terbuat dari terakota dengan ukuran 30×30 cm.

Bangunan utama terdiri dari 5 ruangan, yang salah satunya merupakan ruangan yang pernah digunakan sebagai kamar tidur dr. Tjipto. Pada ruangan tersebut masih tersimpan tempat tidur, peralatan dokter dan baju dokter dari dr. Tjipto, sedangkan ruangan lainnya tidak diketahui fungsi aslinya. Terdapat pula teras belakang dengan tiang-tiang tang terbuat dari kayu.



RUMAH PENGASINGAN DR. MOH. HATTA

Rumah Hatta berada di samping penjara atau lapas Banda Naira, tidak jauh dari benteng Belgica dan Nassau. Rumah Hatta terdiri dari tiga bangunan yakni bangunan utama, bangunan belakang dan bangunan samping. Semuanya menggunakan atap seng, bangunan utama atap bertipe perisai dan dua bangunan lain menggunakan tipe pelana. Plafon menggunakan papan kayu sedangkan lantainya  menggunakan bahan terakota.

Bangunan utama terdiri dari lima ruangan dan dua teras, di depan dan di belakang. Di teras depan terdapat tangga masuk berbentuk seperempat lingkaran di samping kanan-kiri teras. Berpagar menggunakan kayu dengan tinggi 90 cm. Terdapat pintu samping di sebelah kanan dari teras depan. Pada bangunan utama ini dulu digunakan oleh Bung Hatta untuk kegiatan sehari-hari seperti menemui tamu-tamu beliau, menulis, membaca buku, tidur, dan kegiatan lainnya.






Bung Hatta tinggal di rumah pengasingan selama 6 tahun. Bung Hatta juga memulai sekolah sore di mana ia mengajar anak-anak di sana. Rumah ini masih dilengkapi peralatan yang dipakai Bung Hatta untuk mengajar kala itu. Terdapat meja tua lengkap dengan mesin ketik antik di ruang kerja Bung Hatta. Di ruangan itu juga Hatta biasa membaca majalah atau mengetik artikel sembari minum kopi tubruk. Ia mengirim tulisannya ke beberapa media di Jawa atau Belanda. Majalah Sin Tit Po merupakan salah satu media yang cukup sering memuat tulisan Hatta saat itu.

ISTANA MINI KOLONIAL DI BANDA NAIRA

Kompleks Istana Mini merupakan bekas kantor pemerintahan VOC di Banda Naira yang ditinggali oleh seorang Gubernur VOC. Kompleks Istana Mini terdiri dari beberapa bangunan diantaranya ialah Istana Mini yang merupakan rumah dari Gubernur VOC, dermaga sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal dari tamu Gubernur VOC serta ada kantor Gubernur VOC.  Semua bangunan bercorak Eropa, lantai menggunakan marmer, terakota, serta terdapat pula lantai yang berbahan batu alam. Bangunan istana mini terdiri dari enam ruangan yang salah satu ruangannya terdapat selarik bait tergores samar di permukaan salah satu kaca jendela Istana Mini,  Bait bernada pilu itu digoreskan oleh Charles Rumpley, pada 1 September 1831, sebagaimana dikisahkan oleh Lawrence Blair dan Lorne Blair dalam buku Ring of Fire: An Indonesian Odyssey :

        Kapan tiba saatnya untuk kebahagiaanku?
        Ketika lonceng menghantam waktu
        Saat-saat ketika aku melihat lagi tanah airku
        Jiwa keluargaku yang aku cintai dan berkati?

Demikian terjemahan dari kalimat yang ditulis oleh Gubernur Perancis terakhir yang ditugaskan di pulau yang dijuluki Negeri Rempah. Tulisan tersebut, sebagaimana ulasan di laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, merupakan curahan hati sebelum memutuskan untuk bunuh diri. Menyedihkan ya...


                                   

                                   

Sedangkan pada bangunan eks. kantor gubernur terdiri dari delapan ruangan. Di teras samping terdapat beberapa prasasti dengan tulisan berbahasa Belanda. Ada pula patung Raja Willem III yang terletak di halaman samping dari bangunan eks. kantor gubernur, pada bagian bawah patung tersebut terdapat pula prasasti yang dituliskan dengan menggunakan bahasa Belanda.

Gun & Roses
 

Dermaga istana mini merupakan fasilitas yang dibangun untuk tempat bersandarnya kapal-kapal dari tamu Gubernur VOC serta kapal milik VOC. Dermaga ini dibangun di pesisir selatan Pulau Banda Naira tepat di depan bangunan Istana Mini yang berjarak kurang lebih 150 m. Di Kompleks Istana Mini juga terdapat tinggalan lain berupa meriam-meriam buatan VOC.

Dermaga depan Istana Mini

RUMAH BUDAYA

Banda Neira itu kecil, tidak butuh lama untuk melihat suasana kota di pulau Banda. Tetapi butuh waktu lama mengenal sejarah Banda Neira
Di ruangan utama Rumah Budaya Banda Neira, terdapat sebuah lukisan yang menggambarkan orang-orang VOC berdagang, sedangkan penduduk lokal bekerja keras dengan kondisi memprihatinkan.  Orang Belanda/VOC membeli pala dengan harga satu sen, sedangkan mereka menjual ke negara mereka dengan harga 10 gulden per kilogram.
Jejak sejarah di Banda Neira dari abad ke-16 bisa diketahui dari ruangan ini, seperti salah satu kisah kelam saat Belanda, melalui VOC, melakukan genosida di Nusantara.


 
 Ilustrasi pembunuhan besar-besaran yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda di Benteng Nassau bisa di lihat di Rumah Budaya

Belanda yang merebut Benteng Portugis yang ada di Ambon kemudian berpindah untuk menguasai Kepulauan Banda dan memaksa Pengusaha lokal untuk membiarkan mereka melakukan monopoli atas perdagangan pala di Kepulauan Banda. Dalam perjanjian antara Belanda yang diwakili oleh Jan Dirckszoon Lam dan pengusaha Banda, dituliskan larangan bahwa penduduk Banda dilarang memperjualbelikan rempah-rempah yang ada di pulau tersebut selain kepada orang-orang Belanda dan apabila diketahui melanggar maka orang-orang Banda tersebut harus membayarkan ganti rugi kepada pihak Belanda.

Gubernur Jenderal J.P. Coen baru bisa meredam kekuatan dan pengaruh pengusaha2 lokal di Banda Neira setelah melakukan pembantaian besar-besaran. Belanda akhirnya mendapatkan kekuasaan penuh untuk melakukan monopoli setelah berhasil mengalahkan para "Orang Kaya" ini untuk kemudian mulai melakukan eksploitasi melalui VOC. 

RUMAH CAPT CHRISTOPER COLE

Kapten Christoper Cole adalah seorang tentara Kerajaan Inggris yang memimpin pasukan untuk melakukan peperangan merebut Banda Naira dari tangan Belanda pada tahun 1810, terlebih dahulu menempati sebuah rumah yang kini kerap disebut sebagai Rumah Kapten Cole. Dalam pertempuran tersebut Inggris berhasil menaklukkan Benteng Belgica dan merebut kekuasaan Belanda atas Banda Naira.


   


Bangunan ini memiliki tiga ruangan dan teras depan serta belakang. Menggunakan gaya arsitektur indis, pilar-pilar yang terdapat di teras depan dengan bentuk doria dan dinding yang tebal dengan ketebalan 55 cm dengan lantai yang terbuat dari teracota. Ruang tengah berbentuk persegi panjang dengan ukuran 9,5 mx 9,15 m, ruangan ini sekarang dimanfaatkan sebagai ruang kelas perkuliahan Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Hatta-Syahrir. Ruangan kiri berukuran 9,15 meter x 5,67 meter juga dimanfaatkan sebagai ruang kuliah, sedangkan ruangan di sebelah kanan dimanfaatkan sebagai studio penyiaran radio setempat.

RUMAH TUAN SCHELLING

Rumah besar ini sangat menarik, memiliki halaman rindang, langit-langit tinggi dan di kamar mandi utama, terdapat bak batu yang bersandar pada dinding karang terbuka.. berlantai ubin terakota dengan 4 pilar penyangga bergaya Hindia dengan 3 pintu berderet. Ruang tamu luas dari kiri ke kanan bangunan utama lalu ada pintu lagi ke lorong simetris di tengah dgn kamar-kamar di kiri kanan lorong. Sampai ke teras belakang terdapat halaman/taman luas yg ditumbuhi pohon Pala. Di kiri kanan ada pavilyun berderet semacam tempat tinggal para budak,gudang, dapur. Di sisi kanan ada sumur besar.

Setelah taman ada rumah 2 tingkat. Pastikan untuk berjalan ke loteng khusus yang tertutup di halaman belakang. Rumah ini terkadang terbuka untuk acara komunitas. Jika tidak, carilah gantungan kuncinyaKarena sudah sore sekali dan rimbunnya pohon pala serta tidak ada lampu penerangan sehingga menimbulkan kesan mistis. Pintu kupu2nya tertutup tapi tidak terkunci. Saya ingin sekali masuk ke rumah dan naik ke loteng tapi gelap sekali...


 


Sayang sedikit sekali data mengenai pemilik rumah mewah ini selain penanda nama pemilik rumah dari marmer seukuran 10 x 30 cm : J.Schelling.
Kabarnya Schelling adalah "Perkenier" atau Tuan tanah pemilik perkebunan pala Kepulauan Banda. Di pulau Ay terdapat makam di samping gereja Betlehem (gereja tertua di Asia Tenggara) yang diduga adalah puteranya, JP Schelling. Setelah beberapa tahun kemudian ada yang bilang  rumah ini dimiliki oleh putri dari Raja Banda yang terakhir. 


SOCIETEIT HARMONIE 

Bangunan Societeit Harmonie Banda terletak tepat di sebelah barat Kompleks Istana Mini. Bangunan ini dibangun di atas lahan seluas 1480 m 2 dengan luas bangunan 540 m 2 . Pada masa lalu gedung ini merupakan salah satu gedung terbaik di Kota Neira, dimana para pegawai sipil, militer, perkenier dan para bangsawan lainnya berkumpul untuk menikmati minum teh sore, kartu utama atau berbincang. Bahkan menurut penuturan warga, yang mendapat cerita secara turun temurun, konon Societeit Harmonie ini lebih mewah daripada Kompleks Istana Mini.

Harmonie adalah perkumpulan ( societeit ) elite yang didirikan di kota-kota besar pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Soos – akronim dari societeit ini layaknya menjadi pusat hiburan bagi kaum kolonial. Pada saat-saat tertentu diadakan perkumpulan, perjamuan dan pesta dansa serta pertunjukan musik atauapun drama. Menurut informasi yang diperoleh, dahulu bangunan ini merupakan bangunan mewah, berlantai marmer dengan lampu gantung yang indah.

Memang masyarakat yang ada di kota lainnya tentunya juga dibuat mewah, merujuk pada kalangan elit yang dapat memasuki bangunan-bangunan tersebut. Kondisi yang tampak kini jauh berbeda dengan yang digambarkan di atas. Lantai yang semula asli telah berubah menjadi semen berplester. Tidak diketahui bagaimana bentuk asli dari bangunan ini. Berdasarkan informasi yang didapat, hanya kisi-kisi berukir yang masih asli, itupun dengan kondisi sudah berkarat.




KLENTENG SUN THIEN KONG

Menurut sumber Cina di Banda Neira, klenteng dibangun pada akhir abad ke-16 dengan mendatangkan tukang-tukang dari Cina. Posisi klenteng ini pada abad ke-16 menghadap ke laut dan Pulau Gunung Api.

 

 


Klenteng dengan tembok tebal, ruang-ruangnya berderet rapi, ornamen-ornamen seperti patung dewa-dewi, meja batu sembahyang dan keramik vas bunga berukuran besar dengan warna merah serta motif flora dan fauna diimpor langsung dari Cina. Klenteng ini didirikan untuk bersembahyang kepada Tuhan sebagai rasa hormat dan terima kasih dari para pedagang yang telah diberikan berkah yang melimpah. Klenteng ini merupakan rumah ibadah para pedagang. Sebagai klenteng pedagang, terdapat kedai meminum anggur di ruang sebelah dari klenteng tersebut.

BENTENG BELGICA
Sejarah Benteng Belgica: Perintah Gubernur VOC & Perlawanan Banda.

Untuk mencapai benteng ini sangat mudah. Dari penginapan, saya hanya perlu waktu 2 menit menyeberang dg perahu katinting dari kaki gunung api ke Banda Kecil lalu berjalan kaki santai tidak sampai 1 km, melewati rumah St. Syahrir, Des Alwi, Rumah Budaya dan Gereja Tua. Belok ke kiri sampailah di Benteng Belgica. Tentu perlu sedikit tenaga untuk mencapai benteng yg berada di atas bukit. Sementara di bawahnya ada benteng Nassau yg dibangun lebih awal. Benteng Belgica dibuat sbg koreksi atas posisi benteng Nassau yg menjadi bulan2an serangan meriam pejuang Banda yg ada di atas gunung api. Dari segi arsitektur, Benteng Belgica berdiri kokoh dengan material bahan bangunan dari balok batu yang disusun teratur dan direkatkan serta diplester dengan lapisan kapur.


Melansir laman Kemdikbud, benteng Belgica dibangun pada 4 September 1611 atas perintah Gubernur Jenderal VOC Pieter Both.
Tujuan didirikannya benteng Belgica adalah untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Benteng Belgica berfungsi sebagai basis militer VOC yang dibangun dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. Melalui benteng ini, hampir semua titik wilayah Neira dan sekitarnya dapat dipantau.



Letaknya yang ada di atas Bukit Tabeleku, membuat benteng Belgica dimanfaatkan tentara VOC untuk mengawasi gerak-gerik kapal yang melakukan penyelundupan rempah-rempah dan mengintai tentara Inggris.
Benteng ini juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan VOC pada zaman kolonial, sebelum akhirnya pindah ke Batavia.
  
 
BENTENG HOLLANDIA

Benteng Hollandia didirikan di Pulau Lonthoir atau Banda Besar. Benteng ini didirikan pada tahun 1642 berhadapan dengan rumah Gubernur Jendral VOC (Istana Mini) di Neira. Benteng ini awalnya bernama Fort Lonthoir (Benteng Lonthoir), kemudian berubah nama menjadi Benteng Hollandia oleh Piter Vlak. Benteng Hollandia dibangun untuk mengendalikan lalu lintas laut yang melintas selat antara Naira dan Lonthoir, terutama untuk memonitor aktivitas perdagangan pala di jalur laut Lonthoir dan Neira.



Bangunan Benteng Hollandia secara umum tersusun dari batu andesit, batu karang dan batu bata. Bahan bangunan tersebut hampir semuanya dapat ditemukan di lokasi sekitar. Beberapa bagian bangunan terlihat diplester dengan batu kapur dan sebagiannya dengan bata. Batu bata diperkirakan digunakan kemudian pada tahun 1750-an ketika bata mulai diproduksi.



Dari atas sini serdadu kumpeni memonitor aktivitas perdagangan pala di jalur laut Lonthoir dan Naira.


Benteng Hollandia memiliki luas 450 m², berbetuk persegi dengan tambahan bastion di setiap sudutnya. Sesuai kegunaannya untuk memantau pergerakan musuh, sehingga pada setiap bastion dilengkapi ruang pengintai (rondelle) berbentuk tabung yang keletakannya berada di sudut terluar bastion. Benteng dengan arah hadap utara ini memiliki sebuah gerbang (main entrance) berbentuk arch (lengkung) serta terowongan berkonstruksi barrel vault (perpanjangan arch) yang menghubungkan interior dan eksterior benteng.
 
BENTENG NASSAU

Benteng Nassau merupakan benteng pertama yang dibangun oleh Bangsa Belanda di Banda Naira. Dibangun pada tahun 1607 di bawah kepemimpinan Admiral Verhoef, benteng Nassau didirikan di atas bekas pondasi benteng milik Portugis yang pernah berkuasa di Banda Naira. Berbentuk segi empat dengan gerbang utama menghadap ke pesisir selatan Pulau Banda, tinggi dinding benteng mencapai 3 meter dengan tembok yang dibangun dengan batu karang. Sementara gerbang kedua berada di sebelah barat dari benteng.


Benteng ini dikelilingi oleh parit dengan lebar kurang lebih 4 meter yang juga terhubung dengan kanal yang menuju ke laut, tak jauh dari kanal terdapat dermaga untuk bersandarnya kapal-kapal VOC. Kanal tersebut diduga digunakan sebagai jalur bongkar muat barang dari kapal menuju benteng atau sebaliknya dengan diangkut oleh perahu kecil untuk menghemat tenaga. Terdapat empat bastion di setiap sudut benteng, bastion ini memiliki ciri khas dimana bentuk bastion menyerupai sebuah anak panah.

Benteng yang juga dikenal sebagai benteng air ini menjadi saksi dimana sejumlah “orang kaya” Banda yang ketika itu merupakan penguasa Banda dipenggal oleh samurai Jepang yang disewa oleh VOC di bawah pimpinan J.P. Coen karena tidak mau tunduk kepada VOC. Setelah kejadian tersebut orang pribumi menyerah dan melarikan diri ke pulau di luar Kep. Banda. Dengan dikuasainya Banda Naira oleh VOC, perdagangan rempah kemudian dimonopoli oleh VOC dan menjadikan Benteng Nassau sebagai pusat perdagangan, gudang penyimpanan, serta pemukiman dan kantor VOC (sebelum pindah di Istana Mini).

GEREJA HOLLANDISCHE KERK

Gereja Protestan ini merupakan salah satu gereja tertua yang ada di Kepulauan Banda. Dibangun oleh Belanda pada tanggal 20 April 1873, Gereja ini menggunakan gaya eropa dengan adanya pilar-pilar di teras depan dengan bentuk doria.

Bangunan gereja berbentuk persegi panjang dengan panjang 37, 75 meter dan lebar 12, 86 meter. Dibangun menggunakan bahan batu kapur dan batu bata, lantai dengan bahan dari batu andesit, serta atap yang saat ini telah berganti dengan menggunakan bahan seng ini dulu merupakan pusat penyebaran dan kegaitan keagamaan Kristen Protestan di Banda Naira.


Pada lantai gereja ini terdapat beberapa nisan yang terbuat dari batu andesit. Pada nisan tersebut terdapat tulisan dengan bahasa Belanda. Pada halaman belakang bengunan benteng terdapat beberapa makam orang Belanda yang merupakan tokoh agama yang meninggal ketika penyebaran agama Nasrani di Banda Naira.

TUGU REPUBLIK INDONESIA SERIKAT (RIS)

Sebagai bentuk penyambutan atas pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 27 Desember 1949, oleh masyarakat Banda, mereka membangun Tugu penyambutan Negara RIS. Ini menjadi bukti Jejak Negara RIS di Banda Neira Maluku.

Indonesia merupakan sebuah negara bangsa (nation state) yang terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa, agama, kebudayaan dan tentu saja kaya akan sejarah.



            

Pada prasasti di tugu bertuliskan: TUGU TJIPTAAN RAKJAT BANDA, UNTUK PENJAMBUTAN KEMERDEKAAN DAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT 27-12-1949. Di sisi lainnya, terdapat prasasti dengan pahatan peta wilayah Republik Indonesia, Bendera Merah Putih dan Pita yang bertuliskan REPUBLIK INDONESIA SERIKAT. Lalu disisi lainnya ada tulisan Pancasila, masih menggunakan Pancasila versi lama

         


TIGA BERTUALANG KE PULAU KARAKA

Pulau Karaka ini berada di antara pulau-pulau kecil di sekitaran Gunung Api Banda.

Setiap kapal yang masuk - keluar Kepulauan Banda, pandangan penumpangnya pasti teralihkan dengan pulau tak berpenghuni ini.

Saat saya berada di geladak KM Sangiang, dari kejauhan tampak mercusuar yang seakan menyambut kedatangan kapal dan penumpangnya..

Perasaan hati dipenuhi sukacita tergambarkan sebentar lagi akan menginjakan kaki di tanah Banda Neira. 

Saya, Dini dan Yuvita, seorang Beautician dari Erha Cabang Ambon ikut bergabung. Yuvita sebenarnya orang Palangkaraya yg bertugas di Erha Ambon sekitar 2 tahun dan akhir bulan akan mutasi kembali ke kotanya. Ini kesempatan pertamanya ke Banda Neira yg tentu saja tidak boleh dilewatkan sebelum ia kembali ke daerah asalnya. Seperti kata Sutan Sjahrir : "Jangan mati sebelum ke Banda Neira".

Perjalanan menuju Pulau Karaka menggunakan transportasi laut yang disebut orang lokal  yakni Ketingting dengan kapasitas muat tiga hingga empat orang.

Di dermaga Banda Neira, terdapat banyak pengemudi Ketingting yang berlalu lalang di jalur transportasi laut itu. 

Kami bertiga sharing cost menyewa perahu katinting untuk mengeksplor Pulau Karaka dengan harga Rp 500K. Rasa penasaran  akan mercusuar yg kemarin tampak dari geladak KM Sangiang kini terbayarkan, dengan melihat dari jarak dekat saat berada di Pulau Karaka. Hanya sekitar 20 meter berdiri tegak dan kokoh di atas karang.

Semua sisi Pulau Karaka sangat pictures untuk diabadikan. Untuk bisa mencapai Pulau Karaka, traveler  hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit dari Banda Naira.

Salah satu hal yang membedakan Pulau Karaka dengan pulau-pulau kecil lainnya di sekeliling Gunung Api Banda, adalah bebatuan hitam berbentuk balok. Bebatuan itu berada di pesisir Pulau Karaka, tersusun rapi dan sangat mendukung keestetikan tangkapan layar kamera traveller. 

Misalnya, ketika Dini  berdiri atau duduk ‘bengong’ saja tampak  terlihat sangat estetik. Bebatuan hitam itu juga ada yang menjulang tinggi berbentuk tebing. Saya minta Dini memvideokan dengan i-phone nya saat saya memanjat tebing tersebut.

Pengambilan gambar dari atas tebing ini dimaksimalkan dengan landscape Gunung Api Banda sebagai latarnya.

Jika beruntung, dari posisi di atas tebing Anda bisa melihat berbagai jenis ikan kecil yang bermain di permukaan laut berwarna biru tua itu. Jika di atas permukaan laut saja sudah bisa tampak ikan-ikan kecil berwarna-warni, bisa dibayangkan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam di Pulau Karaka ini. Melihat air laut yg begitu bening, ikan-ikan berseliweran dgn latar gunung api uuugh...rasanya ingin sekali turun menceburkan diri  melakukan aktivitas water sport  dimanjakan dengan pemandangan berbagai jenis ikan dan terumbu karang warna-warni. Keinginan tersebut harus saya tahan karena saya tidak sendiri seperti kemarin Raja Ampat dan Ternate. Saat ini saya sedang "mengawal" dua perempuan cantik dari dua daerah yang berbeda. Beautiful Indonesia, cintaku tak sebatas kata !.


MITOS SUMUR KERAMAT DI PULAU LONTHOIR 


Untuk menuju Desa Lonthoir, hanya butuh waktu 15 menit dari Banda Naira dengan menggunakan transportasi laut, yang disebut Popok oleh masyarakat setempat, dengan biaya transportasi sebesar Rp 5000 per orang.



"Sumur ini dalam sehari-hari digunakan masyarakat sebagai sumber air bersih. Sumur ini sangat ajaib, berada di ketinggian 150 meter di atas permukaan laut. Kalian pasti berpikir airnya asin kan? Tidak, airnya tawar dan sangat segar," Demikian kata anak muda yg saya gunakan Ojeknya

Sumur ini bisa kita temukan di Desa Lonthoir, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah. Desa ini digunakan masyarakat untuk ritual Cuci Parigi, ritual yang dilaksanakan sekali dalam sepuluh tahun. Ketika ke Lonthoir bersama Dini, Yuvita kami mengunjungi dan melihat langsung sumur yang sangat sakral oleh masyarakat setempat. Sumur ini adalah satu-satunya sumber air bersih di Desa Lonthoir.




Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 8 meter. Sumur ini terletak di lereng pertengahan gunung, dan bukan di lokasi perkampungan desa, maka masyarakat menganggapnya sumur ini mengandung unsur-unsur magis. Karena itu mereka berpikiran untuk mengadakan suatu ritual, yang disebut cuci sumur, atau Cuci Parigi.


"Air sumur ini mempunyai kekuatan magis lho.

 Siapapun yang meminum air sumur ini bisa awet muda. Dan jika para turis meminum airnya, mereka akan selalu ingin datang ke tanah Maluku, khususnya ke Kepulauan Banda" 


Menurut cerita lagi, jika air sumur ini tetiba kering, maka akan terjadi kejadian buruk. Atau lebih tepatnya sumur ini memberikan petanda akan ada malapetaka besar, baik skala lokal maupun internasional.



GALLERIA BANDA NAIRA


Run away airport Banda



Ujung lembah depan benteng Hollandia merupakan tujuan  yang paling ramai didatangi wisatawan. Rasanya memang tidak lengkap jika melewatkan berkunjung ke sana.  Bagaimana tidak, alam bersih dan indah, gunung api banda yang megah serta air laut nan biru jadi panorama alam yang sulit ditemukan dimanapun, hanya ada di Negeri Lonthoir Banda Naira







Mesjid Tua Lonthoir



 





          


          



         



Jika manusia, jin dan perancang busana bersatu, mereka tidak bisa meniru & mengkordinasikan paduan warna yg menghasilkan pandangan megah di Banda Naira. Kemuliaan bagi Allah SWT Sang Pencipta dan Sang Mahadaya...

 

          





                                   
   





 

 


Seharian keliling pulau, pulang malam ke Bungalow

  

                            






Episode perjalanan berikutnya dari Banda Naira ke Ambon, napak tilas jejak Ayah di Masjid Al Fatah Ambon...













BANDA NAIRA Explore D' East I BANDA NAIRA Explore D' East I Reviewed by Sofyan Saleh on Mei 27, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!