BANDA NAIRA Explore D' East I
Pasca jumatan di Masjid Kesultanan Ternate menyaksikan peristiwa ritual 4 Muadzin adzan serentak dibalut sentuhan keislaman yang kuat saya bergegas ke rumah ibu Nurhidayah yang kutumpangi selama di Ternate. Setelah dijamu makan siang Papeda + ikan kuah kuning +sambal pedas yang menyegarkan saya pamitan dgn rasa terimakasih yang tak terbilang.
Saya dibonceng Sachrul Daeng Talu ke pelabuhan Achmad Yani, boarding langsung masuk ke kapal KM Sangiang yang akan berangkat jam 15.00 dengan transit di pulau Bacan, pulau Sanana, pulau Ambon, Bandaneira, Geser, Tual dgn tujuan akhir Fak-Fak Papua. Saya turun di Bandaneira dengan durasi perjalanan dari Ternate total 3 malam 4 hari,..semriwing di laut luas. Angin cukup kencang terindikasi dari gelombang ombak yang cukup kuat, sesekali membuat kapal oleng dan beberapa penumpang mengalami mabuk laut.
Alhamdulillah, beruntungnya saya termasuk mahluk Allah yang bisa cepat beradaptasi dgn alam. Saya tak gampang mabuk dengan beragam moda transportasi : bus, pesawat, kapal laut, perahu. Dari beragam obat yg siapkan utk perjalanan, Antimo tak pernah masuk dalam list.
Kini perjalanan memasuki pekan ketiga melintasi laut Maluku yg terletak di barat Samudra Pasifik dekat Provinsi Maluku.
Sepanjang mata memandang hanya laut biru berhias riak-riak tebal ditingkahi burung2 cemara terbang menari-nari bak ballerina dgn iringan simponi Mozart No. 40 in G minor.. Sesekali terbang tinggi lalu menukik ke bawah dgn kecepatan tinggi menusuk laut mencengkeram seekor ikan. Sesekali gelombang samudera menampar dinding kapal, menggoyang kapal, ayunannya membuat adrenalin di dada serasa melayang turun naik. Saat sholat di mushola Ibnu Batutah, palka dek 5 tumpuan kaki berpindah-pindah menyesuaikan irama tango ombak (semoga bukan bide'ngah)🤠Sementara sinyal Simpati sebagai operator satu2nya andalan di Timur sering senyap. Makin ke tengah samudera makin ss, sunyi sepi 😂.
Laut ini membatasi Laut Sulawesi di Utara dan Laut Banda di Selatan. Pulau pulau yang membatasi laut ini adalah kepulauan Indonesia seperti Halmahera, Ternate, Bacan, Seram, Buru, dan Sulawesi.
![]() |
| KM Sangiang |
Tampak di horison gugusan pulau-pulau : pulau Bacan, pulau Obi, pulau Sanana, pulau Buru/Namlea dan sebagainya seolah sambung menyambung. Sesungguhnya mereka terpaut sekian mil meski kenyataannya saling mencinta sebagai saudara se-Nusa dan sesama makhluk Allah SWT. Kalo teroris OPM dan RMS yang mau cerai biar didoakan dpt hidayah keindonesiaan atau ditenggelamkan saja..hhihihi
Ya, konstruksi Bungalow dgn 5 unit kamar ini dibangun di atas air, "Nyender" di punggung gunung. Transportasi sehari-hari dgn perahu katinting yg diparkir di depan Bungalow utk ke kampung Bandaneira di seberang laut. Hotel2 yg lain adanya di Bandaneira.
Sebenarnya kami sdh ketemu beberapa kali di musholla kapal tapi kami belum saling mengenal. Aku hanya memuji dalam diam.
Setelah sarapan jadilah saya dan Dini (krn belum ada tamu lain) merencanakan mengeksplor bareng keindahan Bandaneira . Sebagai pria gentleman menjadi kewajiban bagiku untuk memandu, melindungi Dini di sepanjang laut, gua, gunung, perahu, benteng2 kolonial, kebun cengkeh, makan sampai sholat qoshor berjamaah. Termasuk menemaninya ngobrol di teras Bungalow saat lampu padam berjam-jam krn gensetnya kehabisan solar.
Cahaya bulan berpendar di atas laut Banda yg sedang tenang memberi efek pencahayaan dramatis di teras bungalow tempat kami ngobrol melepas malam menanti listrik normal kembali..
Suara serangga dan burung dari gunung api ditingkahi gemericik ombak menghempas tebing seperti sebuah orkestra alam yang mengalun sangat indah. Harmoni bunyi-bunyian semesta yg tak mungkin dapat dinikmati di kota besar. Sementara di seberang tampak indah kerlap kerlip lampu rumah penduduk dan pelabuhan Banda Naira...
Ya Allah..terimakasih atas semua berkah keindahan yang Kau berikan pada kami malam ini....
"Banda Naira itu kecil, tidak butuh lama untuk melihat suasana kota di pulau Banda. Tetapi butuh waktu lama mengenal sejarah Banda Naira".
![]() |
| Prasasti Masjid Besar Banda Th. 1889 |
Kota kecil ini menyimpan banyak bangunan peninggalan masa keemasan rempah-rempah tersebut. Beberapa benteng yang masih berdiri tegak dan bangunan-bangunan lainnya turut menjadi bukti dari masa tersebut.
Beberapa bangunan rumah tinggal berlanggam arsitektur Hindia (Indische Woonhuis) terdapat di kawasan lama kota ini. Beberapa dari rumah-rumah tersebut memiliki arti penting bagi perjalanan sejarah bangsa.
Pada bangunan utama, tiga ruangan bagian depan digunakan sebagai museum yang memamerkan koleksi foto-foto tentang Bung Sjahrir milik Des Alwi. Terdapat pula gramofon yang dulu digunakan oleh Sutan Syahrir untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaan beliau, serta ada juga mesin ketik yang digunakan Bung Syahrir untuk menulis surat dan menuangkan isi pikirannya mengenai pergerakan perjuangan Indonesia.
Bangunan belakang gedung ini saat ini ditinggali oleh sebuah keluarga, mereka menempati bangunan ini sudah lama dan menggunakan dua ruangan belakang dan teras belakang pada bangunan utama dan bangunan belakang.
RUMAH PENGASINGAN MR IWA KOESOEMASOEMANTRI
Iwa Kusumasumantri merupakan salah satu pahlawan nasional yang menjabat sebagai Menteri Sosial setelah kemerdekaan Indonesia. Dirinya diasingkan di Banda Naira sampai 1941, karena tulisan pedasnya di koran Matahari Indonesia pada 17 Juli 1930. Sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar sampai Jepang masuk ke Indonesia.
Selama di Banda Naira, ia tinggal di sebuah bangunan satu lantai seluas 358 meter persegi di atas lahan seluas 672,07 meter persegi. Berlokasi di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Dwiwarna, Kecamatan Banda, Maluku Tengah, lokasinya dekat dengan Gedung Klasis Gereja Banda.
Rumah Mr. Iwa Koesoemasoemantri terdiri dari tiga bangunan yang terdiri dari bangunan utama dan 2 bangunan di bagian belakang di sisi kanan dan kiri. Bangunan utama merupakan bangunan paling besar jika dibandingkan dengan dua bangunan lainnya. Bangunan utama memiliki atap dengan tipe perisai tumpuk dengan atap menggunakan seng. Plafon menggunakan papan kayu dan kerangka atap menggunakan balok-balok kayu. Lantai yang terbuat dari ubin dengan motif bunga-bunga.Bangunan sisi kanan (timur), bangunan ini tidak menempel pada bangunan utama dan berada di belakang bangunan utama. Secara umum bangunan ini telah hancur dan menyisakan dinding, pintu dan jendelanya saja. Begitu pula dengan bangunan di sisi kiri (barat) bangunan inijuga rusak parah yang tersisa hanya dinding, jendela dan pintu saja. Kedua bangunan tersebut rusak akibat kerusuhan yang terjadi pada tahun 1999 dan hingga saat ini tidak diperbaiki.
Pada bagian belakang terdapat halaman belakang yang terdapat pohon di bagian tengahnya. Terdapat pula pintu samping di sebelah timur dari teras depan. Pintu terbuat dari kayu dengan bagian atas berbentuk melengkung. Terdapat ornamen yang mencirikan gaya Eropa pada pintu tersebut.
Rumah pengasingan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo terdiri dari tiga bangunan yakni bangunan utama dimana bangunan ini gunakan sebagai tempat tinggal dr. Tjipto, selain itu juga terdapat paviliun kanan di sisi timur dan paviliun kiri di sisi barat. Secara keseluruan bangunan ini bergaya hindis (campuran gaya eropa dan gaya lokal).
Di bagian teras depan dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari beton dengan tinggi 50 cm, memiliki pilar di teras depan dengan gaya doria, plafon menggunakan papan kayu dan atap bertipe perisai tumpuk dengan menggunakan atap berbahan seng. Secara umum pintu dan jendela di bangunan utama dibuat berlapis, bagian luar biasanya mengunakan model “krepyak” dan bagian dalam berupa pintu dengan panel-panel kaca, jendela dan pintu semua terbuat dari kayu. Di atas jendela dan pintu terdapat sebuah ventilasi yang bermotif. Lantai terbuat dari terakota dengan ukuran 30×30 cm.
Rumah Hatta berada di samping penjara atau lapas Banda Naira, tidak jauh dari benteng Belgica dan Nassau. Rumah Hatta terdiri dari tiga bangunan yakni bangunan utama, bangunan belakang dan bangunan samping. Semuanya menggunakan atap seng, bangunan utama atap bertipe perisai dan dua bangunan lain menggunakan tipe pelana. Plafon menggunakan papan kayu sedangkan lantainya menggunakan bahan terakota.
Bangunan utama terdiri dari lima ruangan dan dua teras, di depan dan di belakang. Di teras depan terdapat tangga masuk berbentuk seperempat lingkaran di samping kanan-kiri teras. Berpagar menggunakan kayu dengan tinggi 90 cm. Terdapat pintu samping di sebelah kanan dari teras depan. Pada bangunan utama ini dulu digunakan oleh Bung Hatta untuk kegiatan sehari-hari seperti menemui tamu-tamu beliau, menulis, membaca buku, tidur, dan kegiatan lainnya.
ISTANA MINI KOLONIAL DI BANDA NAIRA
Kapan tiba saatnya untuk kebahagiaanku?
Ketika lonceng menghantam waktu
Saat-saat ketika aku melihat lagi tanah airku
Jiwa keluargaku yang aku cintai dan berkati?
Jejak sejarah di Banda Neira dari abad ke-16 bisa diketahui dari ruangan ini, seperti salah satu kisah kelam saat Belanda, melalui VOC, melakukan genosida di Nusantara.
Ilustrasi pembunuhan besar-besaran yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda di Benteng Nassau bisa di lihat di Rumah Budaya
Belanda yang merebut Benteng Portugis yang ada di Ambon kemudian berpindah untuk menguasai Kepulauan Banda dan memaksa Pengusaha lokal untuk membiarkan mereka melakukan monopoli atas perdagangan pala di Kepulauan Banda. Dalam perjanjian antara Belanda yang diwakili oleh Jan Dirckszoon Lam dan pengusaha Banda, dituliskan larangan bahwa penduduk Banda dilarang memperjualbelikan rempah-rempah yang ada di pulau tersebut selain kepada orang-orang Belanda dan apabila diketahui melanggar maka orang-orang Banda tersebut harus membayarkan ganti rugi kepada pihak Belanda.
Gubernur Jenderal J.P. Coen baru bisa meredam kekuatan dan pengaruh pengusaha2 lokal di Banda Neira setelah melakukan pembantaian besar-besaran. Belanda akhirnya mendapatkan kekuasaan penuh untuk melakukan monopoli setelah berhasil mengalahkan para "Orang Kaya" ini untuk kemudian mulai melakukan eksploitasi melalui VOC.
Bangunan ini memiliki tiga ruangan dan teras depan serta belakang. Menggunakan gaya arsitektur indis, pilar-pilar yang terdapat di teras depan dengan bentuk doria dan dinding yang tebal dengan ketebalan 55 cm dengan lantai yang terbuat dari teracota. Ruang tengah berbentuk persegi panjang dengan ukuran 9,5 mx 9,15 m, ruangan ini sekarang dimanfaatkan sebagai ruang kelas perkuliahan Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Hatta-Syahrir. Ruangan kiri berukuran 9,15 meter x 5,67 meter juga dimanfaatkan sebagai ruang kuliah, sedangkan ruangan di sebelah kanan dimanfaatkan sebagai studio penyiaran radio setempat.
SOCIETEIT HARMONIE
Bangunan Societeit Harmonie Banda terletak tepat di sebelah barat Kompleks Istana Mini. Bangunan ini dibangun di atas lahan seluas 1480 m 2 dengan luas bangunan 540 m 2 . Pada masa lalu gedung ini merupakan salah satu gedung terbaik di Kota Neira, dimana para pegawai sipil, militer, perkenier dan para bangsawan lainnya berkumpul untuk menikmati minum teh sore, kartu utama atau berbincang. Bahkan menurut penuturan warga, yang mendapat cerita secara turun temurun, konon Societeit Harmonie ini lebih mewah daripada Kompleks Istana Mini.
Harmonie adalah perkumpulan ( societeit ) elite yang didirikan di kota-kota besar pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Soos – akronim dari societeit ini layaknya menjadi pusat hiburan bagi kaum kolonial. Pada saat-saat tertentu diadakan perkumpulan, perjamuan dan pesta dansa serta pertunjukan musik atauapun drama. Menurut informasi yang diperoleh, dahulu bangunan ini merupakan bangunan mewah, berlantai marmer dengan lampu gantung yang indah.
Memang masyarakat yang ada di kota lainnya tentunya juga dibuat mewah, merujuk pada kalangan elit yang dapat memasuki bangunan-bangunan tersebut. Kondisi yang tampak kini jauh berbeda dengan yang digambarkan di atas. Lantai yang semula asli telah berubah menjadi semen berplester. Tidak diketahui bagaimana bentuk asli dari bangunan ini. Berdasarkan informasi yang didapat, hanya kisi-kisi berukir yang masih asli, itupun dengan kondisi sudah berkarat.
Menurut sumber Cina di Banda Neira, klenteng dibangun pada akhir abad ke-16 dengan mendatangkan tukang-tukang dari Cina. Posisi klenteng ini pada abad ke-16 menghadap ke laut dan Pulau Gunung Api.
Klenteng dengan tembok tebal, ruang-ruangnya berderet rapi, ornamen-ornamen seperti patung dewa-dewi, meja batu sembahyang dan keramik vas bunga berukuran besar dengan warna merah serta motif flora dan fauna diimpor langsung dari Cina. Klenteng ini didirikan untuk bersembahyang kepada Tuhan sebagai rasa hormat dan terima kasih dari para pedagang yang telah diberikan berkah yang melimpah. Klenteng ini merupakan rumah ibadah para pedagang. Sebagai klenteng pedagang, terdapat kedai meminum anggur di ruang sebelah dari klenteng tersebut.
Dari atas sini serdadu kumpeni memonitor aktivitas perdagangan pala di jalur laut Lonthoir dan Naira.
Benteng Hollandia memiliki luas 450 m², berbetuk persegi dengan tambahan bastion di setiap sudutnya. Sesuai kegunaannya untuk memantau pergerakan musuh, sehingga pada setiap bastion dilengkapi ruang pengintai (rondelle) berbentuk tabung yang keletakannya berada di sudut terluar bastion. Benteng dengan arah hadap utara ini memiliki sebuah gerbang (main entrance) berbentuk arch (lengkung) serta terowongan berkonstruksi barrel vault (perpanjangan arch) yang menghubungkan interior dan eksterior benteng.
Benteng Nassau merupakan benteng pertama yang dibangun oleh Bangsa Belanda di Banda Naira. Dibangun pada tahun 1607 di bawah kepemimpinan Admiral Verhoef, benteng Nassau didirikan di atas bekas pondasi benteng milik Portugis yang pernah berkuasa di Banda Naira. Berbentuk segi empat dengan gerbang utama menghadap ke pesisir selatan Pulau Banda, tinggi dinding benteng mencapai 3 meter dengan tembok yang dibangun dengan batu karang. Sementara gerbang kedua berada di sebelah barat dari benteng.
Benteng ini dikelilingi oleh parit dengan lebar kurang lebih 4 meter yang juga terhubung dengan kanal yang menuju ke laut, tak jauh dari kanal terdapat dermaga untuk bersandarnya kapal-kapal VOC. Kanal tersebut diduga digunakan sebagai jalur bongkar muat barang dari kapal menuju benteng atau sebaliknya dengan diangkut oleh perahu kecil untuk menghemat tenaga. Terdapat empat bastion di setiap sudut benteng, bastion ini memiliki ciri khas dimana bentuk bastion menyerupai sebuah anak panah.
Benteng yang juga dikenal sebagai benteng air ini menjadi saksi dimana sejumlah “orang kaya” Banda yang ketika itu merupakan penguasa Banda dipenggal oleh samurai Jepang yang disewa oleh VOC di bawah pimpinan J.P. Coen karena tidak mau tunduk kepada VOC. Setelah kejadian tersebut orang pribumi menyerah dan melarikan diri ke pulau di luar Kep. Banda. Dengan dikuasainya Banda Naira oleh VOC, perdagangan rempah kemudian dimonopoli oleh VOC dan menjadikan Benteng Nassau sebagai pusat perdagangan, gudang penyimpanan, serta pemukiman dan kantor VOC (sebelum pindah di Istana Mini).
GEREJA HOLLANDISCHE KERK
Gereja Protestan ini merupakan salah satu gereja tertua yang ada di Kepulauan Banda. Dibangun oleh Belanda pada tanggal 20 April 1873, Gereja ini menggunakan gaya eropa dengan adanya pilar-pilar di teras depan dengan bentuk doria.
Bangunan gereja berbentuk persegi panjang dengan panjang 37, 75 meter dan lebar 12, 86 meter. Dibangun menggunakan bahan batu kapur dan batu bata, lantai dengan bahan dari batu andesit, serta atap yang saat ini telah berganti dengan menggunakan bahan seng ini dulu merupakan pusat penyebaran dan kegaitan keagamaan Kristen Protestan di Banda Naira.
Indonesia merupakan sebuah negara bangsa (nation state) yang terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa, agama, kebudayaan dan tentu saja kaya akan sejarah.
Pada prasasti di tugu bertuliskan: TUGU TJIPTAAN RAKJAT BANDA, UNTUK PENJAMBUTAN KEMERDEKAAN DAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA SERIKAT 27-12-1949. Di sisi lainnya, terdapat prasasti dengan pahatan peta wilayah Republik Indonesia, Bendera Merah Putih dan Pita yang bertuliskan REPUBLIK INDONESIA SERIKAT. Lalu disisi lainnya ada tulisan Pancasila, masih menggunakan Pancasila versi lama
Pulau Karaka ini berada di antara pulau-pulau kecil di sekitaran Gunung Api Banda.
Setiap kapal yang masuk - keluar Kepulauan Banda, pandangan penumpangnya pasti teralihkan dengan pulau tak berpenghuni ini.
Saat saya berada di geladak KM Sangiang, dari kejauhan tampak mercusuar yang seakan menyambut kedatangan kapal dan penumpangnya..
Perasaan hati dipenuhi sukacita tergambarkan sebentar lagi akan menginjakan kaki di tanah Banda Neira.
Saya, Dini dan Yuvita, seorang Beautician dari Erha Cabang Ambon ikut bergabung. Yuvita sebenarnya orang Palangkaraya yg bertugas di Erha Ambon sekitar 2 tahun dan akhir bulan akan mutasi kembali ke kotanya. Ini kesempatan pertamanya ke Banda Neira yg tentu saja tidak boleh dilewatkan sebelum ia kembali ke daerah asalnya. Seperti kata Sutan Sjahrir : "Jangan mati sebelum ke Banda Neira".
Perjalanan menuju Pulau Karaka menggunakan transportasi laut yang disebut orang lokal yakni Ketingting dengan kapasitas muat tiga hingga empat orang.
Di dermaga Banda Neira, terdapat banyak pengemudi Ketingting yang berlalu lalang di jalur transportasi laut itu.
Kami bertiga sharing cost menyewa perahu katinting untuk mengeksplor Pulau Karaka dengan harga Rp 500K. Rasa penasaran akan mercusuar yg kemarin tampak dari geladak KM Sangiang kini terbayarkan, dengan melihat dari jarak dekat saat berada di Pulau Karaka. Hanya sekitar 20 meter berdiri tegak dan kokoh di atas karang.
Semua sisi Pulau Karaka sangat pictures untuk diabadikan. Untuk bisa mencapai Pulau Karaka, traveler hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit dari Banda Naira.
Salah satu hal yang membedakan Pulau Karaka dengan pulau-pulau kecil lainnya di sekeliling Gunung Api Banda, adalah bebatuan hitam berbentuk balok. Bebatuan itu berada di pesisir Pulau Karaka, tersusun rapi dan sangat mendukung keestetikan tangkapan layar kamera traveller.
Misalnya, ketika Dini berdiri atau duduk ‘bengong’ saja tampak terlihat sangat estetik. Bebatuan hitam itu juga ada yang menjulang tinggi berbentuk tebing. Saya minta Dini memvideokan dengan i-phone nya saat saya memanjat tebing tersebut.
Pengambilan gambar dari atas tebing ini dimaksimalkan dengan landscape Gunung Api Banda sebagai latarnya.
Jika beruntung, dari posisi di atas tebing Anda bisa melihat berbagai jenis ikan kecil yang bermain di permukaan laut berwarna biru tua itu. Jika di atas permukaan laut saja sudah bisa tampak ikan-ikan kecil berwarna-warni, bisa dibayangkan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam di Pulau Karaka ini. Melihat air laut yg begitu bening, ikan-ikan berseliweran dgn latar gunung api uuugh...rasanya ingin sekali turun menceburkan diri melakukan aktivitas water sport dimanjakan dengan pemandangan berbagai jenis ikan dan terumbu karang warna-warni. Keinginan tersebut harus saya tahan karena saya tidak sendiri seperti kemarin Raja Ampat dan Ternate. Saat ini saya sedang "mengawal" dua perempuan cantik dari dua daerah yang berbeda. Beautiful Indonesia, cintaku tak sebatas kata !.
MITOS SUMUR KERAMAT DI PULAU LONTHOIR
Untuk menuju Desa Lonthoir, hanya butuh waktu 15 menit dari Banda Naira dengan menggunakan transportasi laut, yang disebut Popok oleh masyarakat setempat, dengan biaya transportasi sebesar Rp 5000 per orang.
Sumur ini bisa kita temukan di Desa Lonthoir, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah. Desa ini digunakan masyarakat untuk ritual Cuci Parigi, ritual yang dilaksanakan sekali dalam sepuluh tahun. Ketika ke Lonthoir bersama Dini, Yuvita kami mengunjungi dan melihat langsung sumur yang sangat sakral oleh masyarakat setempat. Sumur ini adalah satu-satunya sumber air bersih di Desa Lonthoir.
Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 8 meter. Sumur ini terletak di lereng pertengahan gunung, dan bukan di lokasi perkampungan desa, maka masyarakat menganggapnya sumur ini mengandung unsur-unsur magis. Karena itu mereka berpikiran untuk mengadakan suatu ritual, yang disebut cuci sumur, atau Cuci Parigi.
"Air sumur ini mempunyai kekuatan magis lho.
Siapapun yang meminum air sumur ini bisa awet muda. Dan jika para turis meminum airnya, mereka akan selalu ingin datang ke tanah Maluku, khususnya ke Kepulauan Banda"
Menurut cerita lagi, jika air sumur ini tetiba kering, maka akan terjadi kejadian buruk. Atau lebih tepatnya sumur ini memberikan petanda akan ada malapetaka besar, baik skala lokal maupun internasional.
GALLERIA BANDA NAIRA
![]() |
| Run away airport Banda |
| Seharian keliling pulau, pulang malam ke Bungalow |
Episode perjalanan berikutnya dari Banda Naira ke Ambon, napak tilas jejak Ayah di Masjid Al Fatah Ambon...
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 27, 2024
Rating:

.jpg)

.jpeg)

.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)








.jpg)







.jpg)
.jpg)
.jpg)





.jpg)
.jpg)
%20-%20Copy.jpg)
%20-%20Copy.jpg)
%20-%20Copy.jpg)





%20-%20Copy.jpg)
%20-%20Copy.jpeg)
%20-%20Copy.jpg)
%20-%20Copy.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)






.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)


.jpg)


Tidak ada komentar