TERNATE & TIDORE Explore D' East I

  


Ternate. Destinasi dengan sejuta kesan dan kejutan. Bukan cuma karena makanan, lanskap alam, dan ritme kehidupannya yang berbeda. Tapi juga karena di sini saya menemukan persaudaraan.

KM Labobar yang saya tumpangi lepas jangkar di pelabuhan Sorong jam 23.00. Menyusuri samudera dgn kecepatan terukur. Kekuatan angin sedang sehingga ombak tidak menjadi kendala dalam perjalanan menuju Ternate. Aku tidur di dek ekonomi berbaur dengan tante, mamak, abang2 yang mau hendak ke Ternate, Bitung, dsb. Akhirnya kapal berlabuh di pelabuhan Ahmad Yani Ternate sekitar jam 11 siang. 


   



Cukup letih menempuh perjalanan laut dengan menu sajian kapal yg hambar dan kurang gizi. untungnya ada jual Mie Instan meski harganya 3x lipat. Manalagi sudah 2 minggu saya puasa kopi karena maag.. haddeuh asem! gak ada dopping kopi hitam. Badan lelah kumis janggut rambut tumbuh panjang liar.  Tidak jauh dari pelabuhan saya berhenti di tukang cukur pinggir jalan. "Potong pendek dik, kumis janggut bersihkan" kataku.


                                              


TRIP KE TIDORE


Masih ingat dengan uang kertas pecahan seribuan? Jika masih, tentu tak asing dengan gambar nelayan yang sedang mencari ikan di laut. Di baliknya, tersembul gunung. Tampak mengilap puncak gunung itu. Ya, itu adalah gunung Kie Marijang, yang artinya gunung atau pulau yang begitu indah. Gunung itu ada di Tidore dan terlihat tegak anggun dari puncak Fitu lereng Gamalama. Pulau ini terletak disebelah barat Pulau Halmahera, letak pulaunya yang sangat dekat dengan Ternate. Perjalanan menyeberang laut ke Tidore sendiri hanya memakan waktu sekitar 20 - 40 menit tergantung moda transportasi yang digunakan dari Ternate. Selain speedboat ada kapal Ferry ASDP dan kapal kayu bermesin yang beroperasi hingga sore hari. 


Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, Pulau Tidore dikenal dengan nama Limau Duko atau Kie Duko yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan itu sesuai dengan kondisi Tidore yang memiliki gunung api, bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku. Gunung itu dinamakan Kie Marijang dan Kie Maburu. Dua gunung api tersebut adalah gunung yang telah tua Saat ini, gunung/kie Marijang sudah tidak aktif lagi, sedangkan kie Maburu masih aktif. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu to ado re artinya aku telah sampai. 


Kesultanan Tidore adalah Kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara. Pada masa kejayaan Kesultanan Tidore (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera Selatan. Pulau Buru, Ambon, dan masih banyak pulau di pesisir Papua Barat > Sorong, Raja Ampat, dsb.

Terdapat 2 benteng peninggalan bangsa Portugis di Tidore, yaitu Benteng Tohulu dan Toware (Tore). Benteng tersebut hanya berupa sisa-sisa batu dan reruntuhan, tetapi dari luar (pantai) terlihat jelas bentuk benteng yang luas dan gagah. 2 benteng Portugis ini hancur karena diserang oleh Belanda diabad ke-17. 2 Benteng ini letaknya dibagian Barat laut pulau Tidore.


BENTENG TAHULA / FUERTE DE LA CIUDAD DE HULA TIDORE.

Berada di Jalan Sultan Syaifuddin di Desa Soasio, dekat Kedaton Tidore, komplek benteng yang berstatus cagar budaya ini tak memiliki area parkir. Jadi pengunjung bisa memarkir kendaraannya di tepi jalan. Lalu untuk mencapai lokasi benteng kita mesti menaiki tangga yang cukup tinggi, sebanyak 100-an lebih anak tangga. Ada beberapa anak tangga yang terlalu berjarak sehingga perlu kehati-hatian terutama saat turunnya. Tapi aman kok, kondisi tangganya rapi dan ada pegangannya


Julukannya : Benteng Seribu tangga


                                         





Pembangunan Benteng Tahula melalui beberapa fase kepemimpinan Gubernur Spanyol. Tahula dibangun pada tahun 1607, satu tahun setelah penaklukan Ternate. oleh Juan de Esquivel, Gubernur Spanyol di Maluku Pertama yang menjabat sejak 1606-1609. Namun pembangunan benteng, tidak terlaksana karena minimnya tenaga kerja. 


Barulah pada tahun 1610 pembangunan benteng tersebut dimulai, oleh Cristobal di Azcqueta Manchacha, Gubernur Spanyol pada waktu itu.Tapi benteng masih belum bisa diselesaikan juga, baru selesai tahun 1615 saat masa Gubernur Spanyol yang baru menjabat, Don Jeronimo de Silva. Karena itu benteng ini diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore atau Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore. Nggak ditemukan penjelasan kenapa benteng ini akhirnya disebut Tohula yang artinya Kota Hula.


Benteng ini digunakan sebagai pertahanan militer Spanyol hingga tahun 1662. Posisinya memang sangat strategis, dibangun di atas bebatuan karang di tempat yang tinggi sehingga dari atas sini bisa mengamati wilayah daratan dan perairan Tidore.  Benteng ini dihuni 50 org tentara Spanyol dilengkapi senjata artileri yg bertugas melindungi kapal2 Spanyol yang berlabuh.


 


 


T
ahun 1707 Spanyol hengkang dari Pulau Tidore karena datangnya Belanda. Belanda pun memerintahkan agar benteng tak bertuan tersebut diruntuhkan. Untungnya Sultan Hamzah Fahroedin, Sultan Tidore yang saat itu berkuasa, mengajukan agar benteng itu dijadikan tempat tinggal Kesultanan Tidore di bawah pengawasan Belanda. Jadilah kita bisa
 menikmatinya hingga sekarang. 
https://youtu.be/X_Lgq0g-eLE?si=WS5cVZ9siTUh5Xpr

                                               


BENTENG TORRE

Berdasarkan buku Documenta Malucensia, benteng ini dibangun tahun 1578 oleh Portugis atas perintah Sancho de Vasconcelos yang mendapat ijin dari Sultan Gapi Baguna tanggal 6 Januari 1578. Nama benteng “Torre” kemungkinan berhubungan dengan nama Kapten Portugis pada saat itu yaitu Hernando De La Torre.
Benteng Torre terletak di Soa Sio Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.  Lokasi benteng ini dekat dengan Benteng Tahula. Lokasi keduanya berada di pesisir barat Tidore, lebih tepatnya menghadap Pulau Ternate. Fungsi benteng tersebut adalah sebagai pusat pertahanan Portugis dan akhirnya hancur ketika Spanyol datang.





        
Pendudukan Spanyol atas Tidore memaksa Portugis  menyudahi sepak terjang mereka di pulau ini dan memilih untuk fokus di pulau seberang : Ternate. Atas perintah Gubernur Cristobal de Azcqueta Menchacha, pembangunan benteng ini dituntaskan bersamaan dengan Benteng Santiago yang di kemudian hari dikenal dengan nama Benteng Tahula. Jadilah Pulau Tidore mempunyai sepasang benteng kembar yang menggawangi pantai timur mereka.

Dahulu kala benteng ini punya dua fungsi utama, yaitu sebagai menara pandang untuk mengamati situasi laut sekaligus sebagai pusat pertahanan para pelaut Spanyol di dalam memperebutkan hegemoni atas produksi rempah-rempah di arkipelago Maluku.
Torre merupakan salah satu benteng eksotis yang  saya kunjungi. Perjalanan ke benteng tersebut tidak terlalu sulit, karena sudah ada jalur yang biasa digunakan oleh wisatawan dengan jalan beraspal mulus. 


MAKAM SULTAN NUKU, PAHLAWAN NASIONAL

Lahir dengan nama Muhammad Amiruddin yang merupakan putra Sultan Jamaluddin (1757-1779) dari Kerajaan Tidore. Pada 13 April 1779 dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Syaedul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mabus Kaicil Paparangan Jou Barakati. Jou Barakati ini adalah sebutan untuk panglima perang. Nuku berjuang selama 25 tahun untuk mempertahankan tanah airnya dari tangan kolonialisme. Hingga atas kegigihannya tersebut, ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah kebanggaan dari masa lalu hingga masa depan bagi Tidore yang tidak dapat dipisahkan.




Sultan Nuku adalah salah satu pejuang yang mati-matian berjuang melawan penjajah. Sultan Nuku merupakan Sultan Tidore ke-30 yang berkuasa dan membawa banyak perubahan, seperti perluasan wilayah kekuasaan mulai dari Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, Pulau Seram dan sekitarnya hingga Papua dan Gugusan Pulau Raja Ampat.

Sultan Nuku wafat pada 14 November 1805 di Tidore dan dimakamkan di Tidore, kini lokasi makam tersebut termasuk di wilayah Soa Sio. Soa Sio di masa lalu adalah sebuah kawasan Kedaton Sultan Tidore, dan masa sekarang adalah ibukota Tidore Kepulauan. Sebuah tempat yang sangat strategis dan bermakna dari kedua masa. Akses mencapai makam sangat gampang, karena terletak di pinggir jalan. Kondisi makam Sultan Nuku sendiri masih terawat dan sudah mengalami pemugaran, namun bentuk dan bahan batu nisan masih asli. Makam Sultan Nuku pun ternyata tidak sendiri karena ada beberapa makam Sultan lainnya yang turut dimakamkan di sana. 

  













 




CARA KE TIDORE DARI TERNATE

Rentang Ternate ke Pulau Tidore tidaklah jauh, keduanya hanya dipisahkan selat sekitar 2 Km. Penyeberangan dengan kapal feri sekitar 45 menit (memuat roda 2 - 4). Kalo ingin lebih cepat bisa dengan feri / perahu kayu (bisa memuat kendaraan roda dua di atap). Lebih cepat lagi bisa dengan speedboat hanya muat penumpang. Tarifnya tentu berbeda. Saya menggunakan  motor Yamaha NMAX yang bisa kamu rental atau pinjam sama teman atau sodara, seperti saya hahah... Berangkat dari pelabuhan Bastiong Ternate saya menyeberang dgn feri ASDP maka penyeberangan pun cukup memakan waktu sekitar 45 menit. Tapi bukan berarti tak berkesan. Sepanjang perjalanan  saya dibuat terpana karena bisa melihat langsung Pulau Meitara dengan gunungnya yg jadi ikon pecahan uang kertas Rp.1.000. 

                                       

 


Pelabuhan Rum menjadi tempat saya menginjakkan kaki di Pulau Tidore untuk pertama kalinya. Keluar dari kawasan pelabuhan motor kupacu mengikuti Google Maps. Kami berdua berboncengan naik motor melewati jalan satu-satunya jalan utama di pulau ini. Rutenya meliuk mengitari pulau dengan deretan rumah perkampungan yg rapih bersih di tepinya. Jalan sangat mulus, tidak terlalu ramai. Sepanjang jalan banyak sekali masjid dengan arsitektur yg indah. 





Sekitar 45 menit berkendara dengan latar kaki gunung di kiri dan bentangan Pantai di kanan jalan, saya  akhirnya tiba di Benteng Spanyol Santiago de Los Caballeros, Desa Soa Sio, Tidore. Setelah mendaki benteng Santiago kami turun dan melanjutkan memacu motor ke Makam Sultan Nuku, Kedaton Sultan Tidore dan benteng Fuerte Torre - Fortaleza Española del Sultanato de Ternaté, masih di Soa Sio, Tidore. 


 


Matahari sudah cukup tinggi dan terik. Perut sudah mulai keroncongan. Herannya saya tak ketemu warung makan, rakyatnya berarti makmur ya! Sebetulnya masih mau hunting masjid tertua di Tidore untuk sholat tetapi kami harus mengejar jadwal terakhir kapal ferri ke Ternate. Saya putuskan kembali ke pelabuhan, dekat pelabuhan ada mesjid dan warung makan.


Kedaton Sultan Tidore

Singgasana Sultan & Permaisuri Tidore


Yamaha NMAX hitam meluncur kembali ke pelabuhan Rum. di sekitar pelabuhan kami sholat di masjid kemudian makan siang di warung yang menghadap ke laut di mana kami bisa menyaksikan aktivitas feri rakyat menurunkan dan menaikkan penumpang. Saya putuskan tak menunggu feri ASDP, kami langsung mendaftar utk menyeberang dengan perahu kayu tradisional bermotor. Kapal rakyat berbobot 6-7 GT ini  berkapasitas 20 penumpang + 12 motor yg diparkir di atap. Sebenarnya moda angkutan ini sdh pernah dilarang krn faktor keselamatan dari kejadian yang sudah2 namun karena kebutuhan dan harganya yang murah serta frekwensinya yg lebih sering dibanding feri ASDP sehingga masyarakat tetap membutuhkan feri alternatif ini.


 


MENGELILINGI GUNUNG GAMALAMA DENGAN MOTOR RX KING

Pesona wisata Ternate semacam doping tambahan bagi saya yang sudah datang jauh-jauh dari Tangerang. Saya terpikat untuk menyusuri Jalan Lingkar Pulau Ternate sejauh lebih kurang 42 kilometer untuk mengelilingi pulau dengan luas 37,23 kilometer persegi itu dengan moda motor Yamaha RX King.

Saya sudah menikmati sajian panorama pesisir pantai, peninggalan bangsa kolonial pada zaman perburuan rempah-rempah, warisan budaya Kesultanan Ternate, hingga jejak letusan Gunung Gamalama yang masih aktif hingga sekarang. 

Yang juga tak luput dari perhatian adalah komoditas khas, seperti buah pala, bunga pala, dan cengkeh yang dijemur warga di sisi jalan. 


 

Di Pulau Ternate terdapat banyak benteng kolonial, seperti Benteng Oranje yang didirikan pada 1607 oleh Belanda dalam misi monopoli rempah-rempah.

Pedagang Eropa pertama kali tiba di Indonesia pada abad ke-16 dan langsung mencari sumber rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Benteng yang masih kokoh berdiri di tengah kota itu dahulu menjadi pusat pemerintahan Belanda di Indonesia.



 

Benteng Oranje menjadi markas pertama kongsi dagang Belanda Vereenigde Oost-Indesche Compagnie (VOC) di Indonesia sebelum dipindahkan gubernur jenderal keempat Belanda, Jan Pieterszoon, ke Batavia atau Jakarta kini. Demikian ditulis M Sofyan Daud dalam bukunya, Ternate Mozaik Kota Pusaka, terbitan 2012.

Ada pula benteng Portugis bernama Nuestra Senora del Rosario yang kini tinggal reruntuhan. Di benteng itu, Sultan Khairun dibunuh karena menolak permintaan monopoli rempah-rempah oleh Portugis. Anak Khairun, Babullah, kemudian mengobarkan perlawanan.

Untuk dikenang lintas generasi, Khairun kini dijadikan nama Universitas Khairun, sedangkan Babullah menjadi nama bandar udara Ternate.

Masih di pusat kota yang berada di sisi timur pulau itu terdapat Kedaton Sultan Ternate, kesultanan Islam yang hingga saat ini masih eksis dan memiliki pengaruh kuat di Ternate, bahkan Maluku Utara. Sultan terakhir yang memimpin ialah sultan ke-48 bernama Mudaffar Sjah (1935-2015). Sejak Mudaffar mangkat belum ada penggantinya. 



 

Kedaton Sultan Ternate


Kedaton kesultanan Ternate sangat kental dgn nuansa islam. Bukti kekuasaan dan kemegahan Kerajaan Ternate bisa dilihat dari salah satu koleksi yang dipajang di sana yaitu baju berlapis emas yang biasa dipakai oleh raja dan para permaisuri.

Ornamen lain seperti mahkota, cincin, dan gelang menjadi salah satu saksi sejarah Kerajaan Ternate. Semua peninggalan ini bisa dinikmati karena semua koleksinya tersusun dengan rapi

Di kompleks kedaton kesultanan juga terdapat tempat keramat, seperti Ake Sentosa atau Air Sentosa. Air itu diyakini banyak orang dari berbagai suku, agama, atau daerah di Indonesia memiliki kekuatan menyembuhkan penyakit hingga mengusir roh jahat yang merasuk ke dalam diri seseorang.
Saat menepi ke pinggiran kota, pesona alam mulai menggoda. Jika bergerak ke selatan, Pulau Tidore dan Maitara yang dikelilingi laut nan biru lebih dulu menyapa. Akan tampak pemandangan seperti gambar pada pecahan uang kertas Rp 1.000 yang kini beredar.

                       

Begitu pula ketika mengelilingi Ternate melalui utara, tersaji beberapa pesisir pantai, seperti Sulamadaha yang menjadi pilihan akhir pekan warga.


Landmark Kota Ternate

Ada Pulau Hiri berdiri di seberang Sulamadaha, yang pada 1980 menjadi tempat berlindung bagi sebagian warga Ternate saat Gunung Gamalama meletus selama hampir satu bulan.

Jejak letusan Gunung Gamalama dari waktu ke waktu kini menjadi pelengkap paket wisata Ternate. Kota Ternate dibangun di tubuh salah satu gunung api aktif di Indonesia itu.

Hingga saat ini, status gunung masih Waspada setelah letusan terakhir pada Agustus 2015. Ternate pun dijuluki sebagai pulau vulkanik. Beberapa jejak letusan kini menjadi lokasi wisata, seperti Batu Angus dan Danau Tolire Besar.

Tonton di sini : https://youtu.be/Ksb-1-Y9Bio?si=_StgJWxy0vhcaky1


Zona Batu Angus




Dari catatan Kompas, 11 Juli 2015, Batu Angus adalah aliran lava yang membeku saat terjadi letusan pada 1907. Aliran itu sampai ke pesisir pantai bertebing tinggi.

Danau Tolire

Sementara Danau Tolire Besar timbul akibat letusan freatik pada 5-7 September 1775. Permukaan air danau berbentuk elips dengan diameter 500-800 meter itu berwarna hijau muda. Keindahan Danau Tolire dan Batu Angus menantang untuk berfoto atau swafoto.


 

 



Awalnya, Benteng Tolukko dibangun oleh bangsa Portugis yang saat itu menduduki Ternate sebagai pertahanannya dalam menguasai cengkeh di pulau ini dan juga memperkuat dominasinya di antara bangsa Eropa lain yang ketika itu berebut menduduki Indonesia.

Meski dibangun oleh Portugis, benteng ini kemudian berhasil diambil alih oleh Belanda pada 1610. Saat itu, Belanda sudah menjadi bangsa yang mendominasi wilayah Maluku, termasuk Ternate.

Meski sudah berusia ratusan tahun, benteng ini masih terlihat kokoh dan terawat. Dari atas benteng ini, Anda dapat melihat pemandangan laut dan Pulau Tidore di kejauhan, sementara bila menghadap ke arah depan benteng, Anda dapat melihat kemegahan Gunung Gamalama, yang memang pemandangannya mendominasi Kota Ternate

Benteng ini kini dijaga oleh keluarga Arsyad Muhammad (60), seorang pensiunan polisi.  Di pintu masuk kawasan benteng, Arsyad berkantor, dan di situ kita dapat bertanya apa saja mengenai benteng ini.

TRADISI SHOLAT JUMAT DI MASJID SULTAN TERNATE 

Empat  Muadzin sekaligus  mengumandangkan adzan saat sholat Jumat  di Masjid Kesultanan Ternate, Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat  (2/6/2023). Masjid Kesultanan Ternate yang dibangun sekitar tahun 1606 di masa kekuasaan Sultan Saidi Barakati masih mempertahankan tradisi dan keunikannya saat melaksanakan shalat Jumat yang tidak dimiliki masjid-masjid lain di Kota Ternate.

Masjid ini menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur Nusantara ini. Kesultanan Ternate mulai menganut Islam sejak raja ke-18, yaitu Kolano Marhum yang bertahta sekitar 1465-1486 M.
Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Dia lah yang makin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam dengan mengganti gelar Kolano menjadi Sultan.

Zainal Abdin juga menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, lalu memberlakukan syariat Islam, serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.  

Masjid Kesultanan Ternate menjadi tujuan utama bagi saya saat berkunjung ke Ternate,  karena memiliki kekhasan, baik dari segi arsitektur bangunan maupun cara beribadah.

Masjid Kesultanan Ternate yang terletak di kelurahan Soa Sio atau sekitar 100 meter dari Kedaton Ternate merupakan salah satu masjid tertua di Ternate dan hingga kini masih mempertahankan tradisi beribadah yang diwariskan para leluhur.
Jamaah yang mengikuti shalat Jum'at di Masjid Kesultanan Ternate, semua laki-laki harus memakai celana panjang serta penutup kepala atau peci yang sudah menjadi ketentuan sejak zaman dahulu.
tonton di sini : https://youtu.be/rgsNi2W5q_M?si=Aamnvbo1BAxO-s4Q

Masjid Kesultanan Ternate tidak hanya memiliki kekhasan dalam tradisi beribadah, tetapi juga arsitektur bangunannya, seperti atapnya yang bertingkat tujuh sebagai simbol tujuh lapis langit dan adanya tempat khusus di masjid itu untuk Sultan ketika melaksanakan ibadah.
Arsitektur ini nampaknya merupakan gaya arsitektur khas masjid-masjid awal di Nusantara, seperti halnya masjid-masjid kuno di Jawa yang tak memiliki kubah, melainkan limasan.

CENGKEH AFO

Bagaikan emas dan permata, harum dan kehangatan cengkih menjadi harta karun berharga di abad ke-15 hingga menjadi rebutan bangsa-bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda. Mereka rela berlayar mengarungi ombak besar, membelah laut dari Barat ke wilayah Timur hingga tiba di tanah Maluku Utara. Sejarah mencatat kedatangan bangsa Portugis di wilayah Maluku Utara, tepatnya ke Ternate, pada 1512. Tujuannya mencari dan menemukan pulau rempah-rempah. Pada masa itu, Sultan Bayanullah memberikan hak kepada Portugis untuk melakukan perdagangan rempah-rempah, termasuk sang primadona, cengkih. 

Di lereng Gunung Gamalama, Ternate,  ada sebuah pohon cengkeh berusia sekitar 200 tahun. Pohon bernama Cengkeh Afo III itu kemungkinan adalah pohon cengkeh tertua di Indonesia, bahkan di dunia saat ini.





Cengkeh Afo III adalah ”cucu” dari Cengkeh Afo I yang sebelumnya disebut sebagai pohon cengkeh tertua di dunia. Cengkeh Afo I relatif besar dengan tinggi 36,6 meter dan diameter 1,98 meter. Pohon tersebut hidup hingga usia 416 tahun. Karena alasan usia, Cengkeh Afo I akhirnya mati pada tahun 2000.

Sebelum mati, bibit Cengkeh Afo I diambil dan ditanam. Bibit yang berhasil tumbuh itu lantas dinamai Cengkeh Afo II. “Anak” dari Cengkeh Afo I tersebut hidup hingga usia sekitar 250 tahun, namun tumbang pada 2019 karena faktor usia. Adapun bibit Cengkeh Afo II juga diambil, ditanam, dan pohonnya kini disebut Cengkeh Afo III.

Cengkeh Afo punya segudang sejarah. 
Pada masa perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Companie (VOC) berkuasa di pulau ini di abad ke-17 hingga ke-19, pohon-pohon cengkih pernah dimusnahkan melalui kebijakan extirpatie. Dengan kebijakan ini seluruh pohon cengkih dan pala ditebang. Pohon cengkeh hanya boleh ada di kebun milik VOC. Pribumi pada masa itu tidak diperbolehkan menanam dan atau memelihara pohon-pohon rempah dengan tujuan agar menjaga monopoli perdagangan rempah dunia. Cengkeh Afo I merupakan satu-satunya pohon cengkeh yang selamat. 
Menurut cerita rakyat di Ternate, ada seorang warga yang resah dengan langkah VOC. Ia khawatir anak-cucu di masa depan tidak akan mengenal pohon cengkeh. Padahal, Maluku bagian Utara terkenal sebagai penghasil cengkeh dan pala.
Pamor Maluku Utara sebagai penghasil rempah tersebar di Nusantara, Asia, hingga Eropa. Bahkan, hingga awal abad ke-17, cengkeh dan pala hanya bisa ditemukan di Maluku bagian utara dan Banda. 
Itu sebabnya, warga tersebut nekat menyelamatkan bibit pohon cengkeh. Bibit itu ditanam di balik pohon besar di lereng Gunung Gamalama, tersembunyi dari pantauan VOC. Berdasarkan cerita rakyat, warga itu bernama Aufat. Namanya digunakan untuk menamai pohon cengkeh yang ia selamatkan. Dari Aufat, jadi Cengkeh Afo.
Pada 1770, seorang Perancis berhasil mengambil bibit Cengkeh Afo dan dibawa ke Perancis. Bibit pohon cengkeh tersebut juga menyebar hingga ke Zanzibar, Tanzania, yang kini menjadi salah satu negara penghasil rempah.

Kini tersisa Cengkeh Afo III yang tumbuh di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi tepatnya di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate.

Pohon itu masih berbuah setahun sekali, tetapi tidak memungkinkan dipanen karena batangnya lapuk. Menurut Johar, keberadaan Cengkeh Afo III mesti dipertahankan kendati kelangsungan hidup pohon berdiameter 3,9 meter itu menghadapi sejumlah tantangan. 


Belakangan diketahui bahwa Cengkih Afo merupakan varietas cengkeh dengan kualitas tertinggi, hingga bibitnya menjadi bibit induk dari pohon-pohon cengkeh yang tersebar di daratan Maluku Utara, bahkan seluruh nusantara. 


HIGHLIGHT DI KOTA TERNATE








Ragam Sagu di pasar
       

Minuman Guraka


    

Singkong, Pisang Goroho + Sambal



    


Cara menikmati Papeda



Kampung Makassar di Ternate

Komunitas Bugis-Makassar di Ternate diketahui telah ada setidaknya sejak tahun 1680. Sebagian besar generasi pertama penduduknya adalah pedagang yang telah menetap sebelum Belanda berhasil menguasai perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Ternate pada tahun 1607. Gubernur VOC di Ternate, Robertus Padtbrugge, menginstruksikan komunitas pedagang ini untuk tinggal di sebelah utara Benteng Oranje (dibangun pada tahun 1607), berbatasan dengan Soa Siu, yaitu wilayah para rakyat Sultan Ternate. Karena mayoritas pedagang Muslim ‘asing’ di kepulauan ini adalah orang Makassar, wilayah ini kemudian dikenal sebagai Kampung Makassar. Namun, selain orang Makassar, sejumlah Melayu dan Jawa juga diizinkan tinggal di sana (De Clercq 1890:17).

Sebelum pasukan pengawal kota di Ternate dibentuk, sebuah unit militer yang terdiri dari orang Bugis-Makassar, Melayu, dan Jawa dipimpin oleh seorang bernama Tete dan telah membantu pasukan Belanda dalam menumpas pemberontakan di Tidore dan Halmahera. Unit ini kemudian dimasukkan ke dalam pasukan pengawal kota, dan pemimpinnya diberi gelar kapitein der Maccassaren. Keikutsertaan orang Bugis-Makassar dalam pasukan ini berlanjut hingga dekade terakhir abad kesembilan belas (Staatsblad 1896, no. 203), meskipun orang Jawa dikeluarkan pada tahun 1838 (Staatsblad 1838, no. 22). Institusi kapitein der Maccassaren bertahan hingga abad kedua puluh.

Struktur Sosial Komunitas Bugis-Makassar di Ternate

Para pemimpin komunitas Bugis-Makassar di Ternate bukan hanya pemimpin militer dalam pasukan pengawal kota, tetapi juga memiliki otoritas sosial dan ekonomi dalam komunitas mereka. Mereka bertindak sebagai perantara antara komunitas dengan pemerintah kolonial dan juga mengurus berbagai urusan internal komunitas. Para pemimpin ini umumnya berasal dari keluarga-keluarga pedagang terkemuka yang telah lama menetap di Ternate.

Seperti komunitas Tionghoa yang memiliki kapitein mereka sendiri, komunitas Bugis-Makassar juga memiliki kapitein der Maccassaren, yang berfungsi sebagai pemimpin formal yang diakui oleh otoritas kolonial. Posisi ini diwariskan dalam keluarga tertentu dan sering kali dipegang oleh individu yang memiliki hubungan baik dengan Belanda. Salah satu kapitein yang paling terkenal adalah Kapitein Daeng Matara, yang menjabat pada pertengahan abad ke-19.

Selain kapitein, ada juga luitenant dan sersan, yang bertanggung jawab atas urusan militer dan administrasi komunitas. Mereka bertugas mengawasi kepatuhan komunitas terhadap peraturan kolonial serta menyelesaikan sengketa internal.

Dari segi ekonomi, komunitas Bugis-Makassar di Ternate memainkan peran penting dalam perdagangan lokal dan regional. Mereka terlibat dalam perdagangan hasil bumi, seperti cengkeh dan pala, serta barang-barang impor dari luar Maluku. Selain itu, mereka juga menjadi pengrajin dan nelayan.

 




Munajat Sandal Gunung

Sepasang sandal gunung, bermunajat di halaman masjid
Ia berdoa tanpa ingin menjadi ini itu
Ia sadar takdirnya adalah  menjadi pelindung kaki tuannya yang kian rapuh

Sandal gunung hitam oranye
menatap tegak
langit biru
oh syahdu

Ia tahan terik mentari, dinginnya pegunungan, lautan, sungai, danau
menemani kaki-kaki yang melangkah menelusuri waktu.
Di aspal jalanan dan fatamorgana menempel di alas tumpuan
Baginya keluh tiada menyelesaikan perjalanan

Ia selesaikan
tugas langkahnya
dalam rumah
pahala

Sandal gunung  mengantar tirakat laku hingga usai
Kesederhanaan menampilkan aura ketulusan dalam batin.

Landmark Ternate, penghujung Mei 2023


Pemain bola gantung sepatu kalo pejalan gantung sendal yg sudah menemani dalam banyak perjalanan, puluhan kota, dalam dan luar negeri, di aspal yg berdebu, di danau / sungai dangkal, di gunung yg curam & landai. Seperti property yg lain takkan kucampakkan, kusimpan sebagai memorabilia nostalgia pribadi.


to be continued ..bersama kapal KM Sangiang ke Bandaneira via Ambon 


 " Sebut saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai petualangan. Ali Bin Abi Thalib. Kopi dan Kata. Blue Jean & Oblong. "
TERNATE & TIDORE Explore D' East I TERNATE & TIDORE Explore D' East I Reviewed by Sofyan Saleh on September 27, 2023 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!