TERNATE & TIDORE Explore D' East I
Masih ingat dengan uang kertas pecahan seribuan? Jika masih, tentu tak asing dengan gambar nelayan yang sedang mencari ikan di laut. Di baliknya, tersembul gunung. Tampak mengilap puncak gunung itu. Ya, itu adalah gunung Kie Marijang, yang artinya gunung atau pulau yang begitu indah. Gunung itu ada di Tidore dan terlihat tegak anggun dari puncak Fitu lereng Gamalama. Pulau ini terletak disebelah barat Pulau Halmahera, letak pulaunya yang sangat dekat dengan Ternate. Perjalanan menyeberang laut ke Tidore sendiri hanya memakan waktu sekitar 20 - 40 menit tergantung moda transportasi yang digunakan dari Ternate. Selain speedboat ada kapal Ferry ASDP dan kapal kayu bermesin yang beroperasi hingga sore hari.
Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, Pulau Tidore dikenal dengan nama Limau Duko atau Kie Duko yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan itu sesuai dengan kondisi Tidore yang memiliki gunung api, bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku. Gunung itu dinamakan Kie Marijang dan Kie Maburu. Dua gunung api tersebut adalah gunung yang telah tua. Saat ini, gunung/kie Marijang sudah tidak aktif lagi, sedangkan kie Maburu masih aktif. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu to ado re artinya aku telah sampai.
Kesultanan Tidore adalah Kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara. Pada masa kejayaan Kesultanan Tidore (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera Selatan. Pulau Buru, Ambon, dan masih banyak pulau di pesisir Papua Barat > Sorong, Raja Ampat, dsb.
Terdapat 2 benteng peninggalan bangsa Portugis di Tidore, yaitu Benteng Tohulu dan Toware (Tore). Benteng tersebut hanya berupa sisa-sisa batu dan reruntuhan, tetapi dari luar (pantai) terlihat jelas bentuk benteng yang luas dan gagah. 2 benteng Portugis ini hancur karena diserang oleh Belanda diabad ke-17. 2 Benteng ini letaknya dibagian Barat laut pulau Tidore.
BENTENG TAHULA / FUERTE DE LA CIUDAD DE HULA TIDORE.
Berada di Jalan Sultan Syaifuddin di Desa Soasio, dekat Kedaton Tidore, komplek benteng yang berstatus cagar budaya ini tak memiliki area parkir. Jadi pengunjung bisa memarkir kendaraannya di tepi jalan. Lalu untuk mencapai lokasi benteng kita mesti menaiki tangga yang cukup tinggi, sebanyak 100-an lebih anak tangga. Ada beberapa anak tangga yang terlalu berjarak sehingga perlu kehati-hatian terutama saat turunnya. Tapi aman kok, kondisi tangganya rapi dan ada pegangannya.
![]() |
| Julukannya : Benteng Seribu tangga |

Pembangunan Benteng Tahula melalui beberapa fase kepemimpinan Gubernur Spanyol. Tahula dibangun pada tahun 1607, satu tahun setelah penaklukan Ternate. oleh Juan de Esquivel, Gubernur Spanyol di Maluku Pertama yang menjabat sejak 1606-1609. Namun pembangunan benteng, tidak terlaksana karena minimnya tenaga kerja.
Barulah pada tahun 1610 pembangunan benteng tersebut dimulai, oleh Cristobal di Azcqueta Manchacha, Gubernur Spanyol pada waktu itu.Tapi benteng masih belum bisa diselesaikan juga, baru selesai tahun 1615 saat masa Gubernur Spanyol yang baru menjabat, Don Jeronimo de Silva. Karena itu benteng ini diberi nama Santiago de los Caballeros de Tidore atau Sanctiago Caualleros de los de la de ysla Tidore. Nggak ditemukan penjelasan kenapa benteng ini akhirnya disebut Tohula yang artinya Kota Hula.
Benteng ini digunakan sebagai pertahanan militer Spanyol hingga tahun 1662. Posisinya memang sangat strategis, dibangun di atas bebatuan karang di tempat yang tinggi sehingga dari atas sini bisa mengamati wilayah daratan dan perairan Tidore. Benteng ini dihuni 50 org tentara Spanyol dilengkapi senjata artileri yg bertugas melindungi kapal2 Spanyol yang berlabuh.

BENTENG TORRE
Berdasarkan buku Documenta Malucensia, benteng ini dibangun tahun 1578 oleh Portugis atas perintah Sancho de Vasconcelos yang mendapat ijin dari Sultan Gapi Baguna tanggal 6 Januari 1578. Nama benteng “Torre” kemungkinan berhubungan dengan nama Kapten Portugis pada saat itu yaitu Hernando De La Torre.Lahir dengan nama Muhammad Amiruddin yang merupakan putra Sultan Jamaluddin (1757-1779) dari Kerajaan Tidore. Pada 13 April 1779 dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Paduka Maha Tuan Sultan Syaedul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mabus Kaicil Paparangan Jou Barakati. Jou Barakati ini adalah sebutan untuk panglima perang. Nuku berjuang selama 25 tahun untuk mempertahankan tanah airnya dari tangan kolonialisme. Hingga atas kegigihannya tersebut, ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah kebanggaan dari masa lalu hingga masa depan bagi Tidore yang tidak dapat dipisahkan.
Sultan Nuku wafat pada 14 November 1805 di Tidore dan dimakamkan di Tidore, kini lokasi makam tersebut termasuk di wilayah Soa Sio. Soa Sio di masa lalu adalah sebuah kawasan Kedaton Sultan Tidore, dan masa sekarang adalah ibukota Tidore Kepulauan. Sebuah tempat yang sangat strategis dan bermakna dari kedua masa. Akses mencapai makam sangat gampang, karena terletak di pinggir jalan. Kondisi makam Sultan Nuku sendiri masih terawat dan sudah mengalami pemugaran, namun bentuk dan bahan batu nisan masih asli. Makam Sultan Nuku pun ternyata tidak sendiri karena ada beberapa makam Sultan lainnya yang turut dimakamkan di sana.

![]() |
| Kedaton Sultan Tidore |
![]() |
| Singgasana Sultan & Permaisuri Tidore |
Saya sudah menikmati sajian panorama pesisir pantai, peninggalan bangsa kolonial pada zaman perburuan rempah-rempah, warisan budaya Kesultanan Ternate, hingga jejak letusan Gunung Gamalama yang masih aktif hingga sekarang.
Yang juga tak luput dari perhatian adalah komoditas khas, seperti buah pala, bunga pala, dan cengkeh yang dijemur warga di sisi jalan.
Pedagang Eropa pertama kali tiba di Indonesia pada abad ke-16 dan langsung mencari sumber rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Benteng yang masih kokoh berdiri di tengah kota itu dahulu menjadi pusat pemerintahan Belanda di Indonesia.
Benteng Oranje menjadi markas pertama kongsi dagang Belanda Vereenigde Oost-Indesche Compagnie (VOC) di Indonesia sebelum dipindahkan gubernur jenderal keempat Belanda, Jan Pieterszoon, ke Batavia atau Jakarta kini. Demikian ditulis M Sofyan Daud dalam bukunya, Ternate Mozaik Kota Pusaka, terbitan 2012.
Ada pula benteng Portugis bernama Nuestra Senora del Rosario yang kini tinggal reruntuhan. Di benteng itu, Sultan Khairun dibunuh karena menolak permintaan monopoli rempah-rempah oleh Portugis. Anak Khairun, Babullah, kemudian mengobarkan perlawanan.
Untuk dikenang lintas generasi, Khairun kini dijadikan nama Universitas Khairun, sedangkan Babullah menjadi nama bandar udara Ternate.
Masih di pusat kota yang berada di sisi timur pulau itu terdapat Kedaton Sultan Ternate, kesultanan Islam yang hingga saat ini masih eksis dan memiliki pengaruh kuat di Ternate, bahkan Maluku Utara. Sultan terakhir yang memimpin ialah sultan ke-48 bernama Mudaffar Sjah (1935-2015). Sejak Mudaffar mangkat belum ada penggantinya.
| Kedaton Sultan Ternate |
Kedaton kesultanan Ternate sangat kental dgn nuansa islam. Bukti kekuasaan dan kemegahan Kerajaan Ternate bisa dilihat dari salah satu koleksi yang dipajang di sana yaitu baju berlapis emas yang biasa dipakai oleh raja dan para permaisuri.
Begitu pula ketika mengelilingi Ternate melalui utara, tersaji beberapa pesisir pantai, seperti Sulamadaha yang menjadi pilihan akhir pekan warga.
![]() |
| Landmark Kota Ternate |
Ada Pulau Hiri berdiri di seberang Sulamadaha, yang pada 1980 menjadi tempat berlindung bagi sebagian warga Ternate saat Gunung Gamalama meletus selama hampir satu bulan.
Jejak letusan Gunung Gamalama dari waktu ke waktu kini menjadi pelengkap paket wisata Ternate. Kota Ternate dibangun di tubuh salah satu gunung api aktif di Indonesia itu.
Hingga saat ini, status gunung masih Waspada setelah letusan terakhir pada Agustus 2015. Ternate pun dijuluki sebagai pulau vulkanik. Beberapa jejak letusan kini menjadi lokasi wisata, seperti Batu Angus dan Danau Tolire Besar.
Tonton di sini : https://youtu.be/Ksb-1-Y9Bio?si=_StgJWxy0vhcaky1
![]() |
| Zona Batu Angus |
| Danau Tolire |
Awalnya, Benteng Tolukko dibangun oleh bangsa Portugis yang saat itu menduduki Ternate sebagai pertahanannya dalam menguasai cengkeh di pulau ini dan juga memperkuat dominasinya di antara bangsa Eropa lain yang ketika itu berebut menduduki Indonesia.
Meski dibangun oleh Portugis, benteng ini kemudian berhasil diambil alih oleh Belanda pada 1610. Saat itu, Belanda sudah menjadi bangsa yang mendominasi wilayah Maluku, termasuk Ternate.
Meski sudah berusia ratusan tahun, benteng ini masih terlihat kokoh dan terawat. Dari atas benteng ini, Anda dapat melihat pemandangan laut dan Pulau Tidore di kejauhan, sementara bila menghadap ke arah depan benteng, Anda dapat melihat kemegahan Gunung Gamalama, yang memang pemandangannya mendominasi Kota Ternate
Sebelum mati, bibit Cengkeh Afo I diambil dan ditanam. Bibit yang berhasil tumbuh itu lantas dinamai Cengkeh Afo II. “Anak” dari Cengkeh Afo I tersebut hidup hingga usia sekitar 250 tahun, namun tumbang pada 2019 karena faktor usia. Adapun bibit Cengkeh Afo II juga diambil, ditanam, dan pohonnya kini disebut Cengkeh Afo III.
Cengkeh Afo punya segudang sejarah. Pada masa perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Companie (VOC) berkuasa di pulau ini di abad ke-17 hingga ke-19, pohon-pohon cengkih pernah dimusnahkan melalui kebijakan extirpatie. Dengan kebijakan ini seluruh pohon cengkih dan pala ditebang. Pohon cengkeh hanya boleh ada di kebun milik VOC. Pribumi pada masa itu tidak diperbolehkan menanam dan atau memelihara pohon-pohon rempah dengan tujuan agar menjaga monopoli perdagangan rempah dunia. Cengkeh Afo I merupakan satu-satunya pohon cengkeh yang selamat.
Pohon itu masih berbuah setahun sekali, tetapi tidak memungkinkan dipanen karena batangnya lapuk. Menurut Johar, keberadaan Cengkeh Afo III mesti dipertahankan kendati kelangsungan hidup pohon berdiameter 3,9 meter itu menghadapi sejumlah tantangan.
![]() |
| Singkong, Pisang Goroho + Sambal |
Komunitas Bugis-Makassar di Ternate diketahui telah ada setidaknya sejak tahun 1680. Sebagian besar generasi pertama penduduknya adalah pedagang yang telah menetap sebelum Belanda berhasil menguasai perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Ternate pada tahun 1607. Gubernur VOC di Ternate, Robertus Padtbrugge, menginstruksikan komunitas pedagang ini untuk tinggal di sebelah utara Benteng Oranje (dibangun pada tahun 1607), berbatasan dengan Soa Siu, yaitu wilayah para rakyat Sultan Ternate. Karena mayoritas pedagang Muslim ‘asing’ di kepulauan ini adalah orang Makassar, wilayah ini kemudian dikenal sebagai Kampung Makassar. Namun, selain orang Makassar, sejumlah Melayu dan Jawa juga diizinkan tinggal di sana (De Clercq 1890:17).
Sebelum pasukan pengawal kota di Ternate dibentuk, sebuah unit militer yang terdiri dari orang Bugis-Makassar, Melayu, dan Jawa dipimpin oleh seorang bernama Tete dan telah membantu pasukan Belanda dalam menumpas pemberontakan di Tidore dan Halmahera. Unit ini kemudian dimasukkan ke dalam pasukan pengawal kota, dan pemimpinnya diberi gelar kapitein der Maccassaren. Keikutsertaan orang Bugis-Makassar dalam pasukan ini berlanjut hingga dekade terakhir abad kesembilan belas (Staatsblad 1896, no. 203), meskipun orang Jawa dikeluarkan pada tahun 1838 (Staatsblad 1838, no. 22). Institusi kapitein der Maccassaren bertahan hingga abad kedua puluh.
Struktur Sosial Komunitas Bugis-Makassar di Ternate
Para pemimpin komunitas Bugis-Makassar di Ternate bukan hanya pemimpin militer dalam pasukan pengawal kota, tetapi juga memiliki otoritas sosial dan ekonomi dalam komunitas mereka. Mereka bertindak sebagai perantara antara komunitas dengan pemerintah kolonial dan juga mengurus berbagai urusan internal komunitas. Para pemimpin ini umumnya berasal dari keluarga-keluarga pedagang terkemuka yang telah lama menetap di Ternate.
Seperti komunitas Tionghoa yang memiliki kapitein mereka sendiri, komunitas Bugis-Makassar juga memiliki kapitein der Maccassaren, yang berfungsi sebagai pemimpin formal yang diakui oleh otoritas kolonial. Posisi ini diwariskan dalam keluarga tertentu dan sering kali dipegang oleh individu yang memiliki hubungan baik dengan Belanda. Salah satu kapitein yang paling terkenal adalah Kapitein Daeng Matara, yang menjabat pada pertengahan abad ke-19.
Selain kapitein, ada juga luitenant dan sersan, yang bertanggung jawab atas urusan militer dan administrasi komunitas. Mereka bertugas mengawasi kepatuhan komunitas terhadap peraturan kolonial serta menyelesaikan sengketa internal.
Dari segi ekonomi, komunitas Bugis-Makassar di Ternate memainkan peran penting dalam perdagangan lokal dan regional. Mereka terlibat dalam perdagangan hasil bumi, seperti cengkeh dan pala, serta barang-barang impor dari luar Maluku. Selain itu, mereka juga menjadi pengrajin dan nelayan.
Pemain bola gantung sepatu kalo pejalan gantung sendal yg sudah menemani dalam banyak perjalanan, puluhan kota, dalam dan luar negeri, di aspal yg berdebu, di danau / sungai dangkal, di gunung yg curam & landai. Seperti property yg lain takkan kucampakkan, kusimpan sebagai memorabilia nostalgia pribadi.
Reviewed by Sofyan Saleh
on
September 27, 2023
Rating:

.jpg)
























.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)


.jpg)
.jpg)
.jpeg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

























Tidak ada komentar