RAJA AMPAT Explore D' East I
Perjalanan ke Papua mestinya kulakukan sejak Mei 2021 dengan maskapai Air Asia . Tiket Jkt - Sorong PP sudah aku beli. Namun oleh pihak maskapai diundur ke Oktober 2021. Jadwal ini pun gagal juga karena Air Asia akhirnya mendelete semua penerbangan ke Papua terkait kondisi keamanan gangguan teroris KKB yang meningkat.
Kecewa juga sih, sdh capek2 browsing, riset destinasi wisata & sosiokultur, perencanaan keuangan perjalanan, kontak2 agen di Papua,.. akhirnya buyar semua!.
Meski demikian, sebagai seorang Muslim mesti yakin bahwa skenario Allah pasti yang terbaik. Sebagai hamba kembara mesti yakin bahwa kegagalan itu pasti ada hikmahnya dan Allah pasti punya rencana yg lebih baik sehingga tak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Tetap yakin bahwa impian menjejakkan kaki di Tanah Papua hanya soal waktu.
Dan tibalah waktunya sekarang di bulan Mei - Juni 2023, dengan itinerary yang kubuat lebih menantang adrenalin, ekspresif dan ketahanan mental karena perjalanan akan kutempuh lebih banyak lewat transportasi laut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, hujan, angin, ombak! Akibatnya kurang bisa diprediksi berapa lama tinggalnya di suatu daerah.
Itinerary perjalanan ini lebih variatif destinasinya. Lebih luas jangkauan wilayahnya. Bukan hanya ke Sorong, Papua (1400 Km dari titik start Makassar), namun juga berlanjut ke Maluku Utara, Ternate (468 Km), dari Ternate ke Morotai (205 Km), ke Pulau Bacan ( 152 Km), lalu naik kapal laut lagi ke Maluku Tengah, transit pulau Sanana dan pulau Buru/Namlea menuju Pulau Ambon (625 Km), lalu ke pulau Bandaneira. Lanjut ke Tual, Maluku Tenggara. Perjalanan akan menempuh jarak total sekitar 3000 Km dan memakan waktu cukup lama sekitar 25 - 30 totl 33 hari akibat jadwal kapal yg tidak menentu.
Perjalanan ini akan menggenapi petualanganku menjejakkan kaki dari ujung Barat sampai ke Timur wilayah NKRI tercinta.
Mengutip filosofi Pelaut Makassar : Ada laut yg sengaja dilayari karena ada harapan yg mesti diwujudkan. Ingat, kita ini keturunan Pelaut Penjelajah.
بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَمُرْسَهَآاِنَّ رَبِّىْ لَغَفُوْرٌرَّحِيْمٌ
Bismillaahi majrahaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim.
"Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (HR Imam Nawawi).
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala Ali Sayyidina Muhammad.
Semoga perjalanan ini berjalan dengan baik, ketemu orang2 baik dan dijauhi dari marabahaya serta senantiasa dilindungi dan dijaga oleh Allah SWT...Aaamiin Ya Rabbal Alamiin...
Berbekal keyakinan dan kepercayaan diri, solo trip ini kumulai dengan terbang ke Makassar dengan Lion Air. Selanjutnya tgl 17 Mei jam 01.00 menumpang KM Bukit Siguntang berlayar ke Sorong. Lama perjalanan 3 Malam dan tiba di Pelabuhan Sorong tgl 19 Mei 2023.
Keteledoran awal terjadi, aku ke Pelabuhan Soekarno Hatta tgl 17 Mei jam 21.00. Ternyata KM Bukit Siguntang sudah berlayar dari dinihari jam 01.00. Mestinya aku ke pelabuhan tgl 16 Mei jam 21.00. Haddeuhh..tiket seharga Rp 750K hangus!
Sempat nervous, bingung. Menunggu kapal lain masih 3 hari lagi. The show must go on, terpaksa aku beli tiket pesawat Lion Air dari Makassar ke Sorong seharga Rp 1.7 juta.
Tanggal 20 Mei aku landing di Bandar Udara Doumine Edward Osok, Sorong, sekitar jam tiga siang. Menginap di homestay Al Munasirah, 2 lantai (mirip rumah kos-kosan) jalan atau tepatnya lorong Pendidikan, Sorong Mainao, dekat bandara bertarif Rp 300K /malam dengan fasilitas cuma sepetak kamar ber AC tanpa air minum, toiletries. Kecewa tapi biarlah..tak cukup waktu untuk hunting, mana panasnya menyengat.
![]() |
| Bandara Doumine Eduard Sorong |
Jam tujuh pagi aku meluncur ke pelabuhan. Di Sorong ada beberapa pelabuhan penyeberangan selain pelabuhan utama yang untuk kapal-kapal besar dan pelabuhan perahu katinting utk transportasi pulau2 terdekat. Untuk ke pulau Waigeo, kota Waisai Raja Ampat menyeberangnya melalui Pelabuhan Rakyat yg berjarak sekitar 3.9 Km dari homestay (10 menit). Jadwal feri kapal cepat setiap hari ada 2 kali yaitu jam 09.00 dan jam 12.00. Durasi perjalanan laut sekitar dua jam.
Aku memutuskan untuk naik kapal jadwal paling pagi yaitu jam 09.00 WIB dan membeli tiket Kapal Bahari Express kelas ekonomi seharga Rp 125.000 per orang untuk sekali jalan. Selain tiket kelas ekonomi, jika ingin lebih private, bisa membeli tiket kelas VIP seharga Rp 250.000 per orang untuk sekali jalan, tentunya dengan fasilitas ruangan yang lebih private (tidak diperolehkan orang lain keluar masuk di ruangan VIP), serta fasilitas lainnya yang pasti berbeda dengan kelas ekonomi.
Buatku yang ala backpacker sih, kelas ekonomi udah cukup bagus ya.
Ruangannya ber AC dan jok kursinya empuk. Nah, beli tiketnya di loket resmi di Pelabuhan Rakyatnya aja ya, pasti dapet kursi kok, karena kapalnya cukup besar dengan kapasitas penumpang ratusan orang. Beli tiket belum bisa order online, jadi pede aja langsung ke pelabuhan dan beli tiketnya on the spot di loket resmi saat mau berangkat. Meskipun di pelabuhan banyak juga porter berseliweran, tapi tidak ada calo koq, mereka justru hanya menawarkan jasa mengangkat barang bawaan dan ojek. Aku memonitor profil penumpang tampaknya sedikit sekali traveler. Ada sekitar 7 orang bule dan cuma aku wisman lokal selebihnya penumpang reguler.
Kabarnya waktu yg tepat mengunjungi Raja Ampat adalah bulan Oktober Nopember dimana cuaca dan ombak bersahabat. Juni Juli cuaca sulit diprediksi.
Di atas kapal tersedia kantin kecil yang menjual aneka makanan/ minuman. Paling laris tentu Mie Cup dan kopi heheh... di palka atas kita bisa ngopi sambil menikmati pemandangan laut disertai semilir anging mamiri dan pulau-pulau yang dilalui kapal cepat ini.
Saat tiba di Pelabuhan Waisai tampak gedung baru pelayanan penumpang yg cukup megah tapi belum dibuka karena masih dalam proses penyelesaian. Seperti di pelabuhan lainnya banyak abang ojek yg menawarkan jasa antar ke penginapan.
Alhamdulillah 1 langkah dalam perjalanan ini sudah tercapai. Thankyou Allah !
Kepulauan Raja Ampat berada di bagian paling barat Papua dan membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektar. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari 4 pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool, dan 1.847 pulau-pulau kecil lainnya. Nah, nama Raja Ampat sendiri diyakini berasal dari legenda masyarakat setempat yang percaya bahwa zaman dahulu kala ada seorang wanita yang menemukan tujuh telur, empat telur tersebut menetas menjadi raja-raja yang berkuasa di empat pulau utama. Tersisa tiga lainnya, satu menjadi batu, satu menjadi wanita, dan satu lagi menjadi makhluk gaib atau hantu.Terlepas legenda yang dipercayai masyarakat setempat, keindahan yang disuguhkan oleh Raja Ampat merupakan fakta yang tak bisa diganggu gugat. Kota Waisai ini berada di Pulau Waigeo.
Waisai adalah kota
kecil yang ramai dan begitu berkarakter. Untuk urusan fasilitas, tidak perlu
khawatir karena kota ini memiliki hampir semua sarana-prasarana yang dibutuhkan
sebuah kota. Bank, sekolah, Rumah Sakit, Puskesmas, pasar, tempat ibadah,
pelabuhan, bahkan Pusat Konvensi sudah tersedia di kota ini. Waisai juga sudah
menjadi pusat segala kegiatan pariwisata yang ada di Raja Ampat, sektor ekonomi
dan pemerintahan pun terpusat di kota ini.
Sebagai ibukota sebuah kabupaten yang menonjol dalam hal pariwisata,
tentu saja Waisai dituntut untuk selalu tampil cantik dan indah. Hal ini
ditunjukan dengan tempat-tempat wisata di sekitarnya yang selalu dirawat dan
dikelola baik oleh warga maupun pemerintah. Contohnya adalah Pantai Saleo yang
dikelola secara pribadi oleh warga setempat. Pantai ini dikenal indah dan tidak
perlu uang banyak untuk menikmatinya. Tempat lainnya adalah pantai WTC yang
menjadi pusat segala kegiatan pariwisata kota Waisai, seperti berbagai konser
dan acara kenegaraan yang sifatnya seremonial. Bila menuju wilayah pinggiran
Waisai saat pagi menjelang, kita juga dapat hiking di sebuah bukit dan
menyaksikan keindahan burung Cendrawasih secara langsung. Waisai sudah cukup
mewakili Raja Ampat yang memukau.
Berbagai keindahan pariwisata tentu akan diikuti dengan perkembangan
macam-macam usaha di bidang ini seperti penginapan, restoran, atau resort.
Macamnya pun beragam, mulau dari yang mahal hingga yang murah, sebenarnya semua
dapat disesuaikan dengan kemampuan yang disanggupi. Bila ingin mencari
informasi seputar pariwisata Raja Ampat, tidak perlu merasa kesulitan karena
setiap penginapan biasanya sudah memiliki paket-paket wisata dengan harga yang
menarik. Karena Waisai tidak terlalu besar, biasanya antar pengelola penginapan
sudah saling mengenal dan persaingan antar mereka pun dilakukan secara sehat
Satu hal yang cukup membuat terkejut bagi wisatawan yang pertama menginjakkan kaki di Waisai adalah harga-harga yang mahal dan terasa tidak masuk akal. Hal ini dikarenakan distribusi barang yang tidak mudah dan membutuhkan proses yang panjang, wajar karena lokasi Raja Ampat yang berupa kepulauan dan jauh dari kota besar Sorong. Namun, Kabupaten Raja Ampat dikenal memiliki biaya otonomi khusus yang paling besar dibanding daerah lainnya, selain itu hasil dari pendapatan daerahnya sendiri sudah cukup besar, terutama dari sektor pariwisata. Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah yang sebagian besar terpusat di kota Waisai.
Waisai memiliki pesona yang berbeda bila dibandingkan kota-kota lain di Raja Ampat. Saya sangat menikmati berada di kota ini, karena selain situasi yang tenang, kota ini seperti menyimpan banyak sekali cerita tentang alam yang begitu menawan. Tak hanya keindahan bawah lautnya yang luar biasa, pemandangan di atas permukaan juga tak kalah memesona. Panorama deretan pulau-pulau batu di tengah gradasi air biru terlihat begitu surgawi saat dilihat dari atas bukit. Siapkan fisik yang kuat dan lakukan trekking ke atas puncak bukitnya untuk melihat pemandangan indah seperti ini, ya!
Sedangkan pantai WTC yang saya kunjungi ini adalah pantai yang menjadi tempat dimana Kabupaten Raja Ampat dibuka pertama kali. Dulunya, pantai ini dikenal dengan sebutan Tewas atau Tembok Waisai. WTC adalah singkatan dari Waisai Torang Cinta yang artinya Waisai Saya Cinta.
Sepanjang pantai ini dibuat tembok pemecah ombak, karena memang berhadapan langsung dengan lautan bagian selatan, yang mana ketika memasuki musim angin selatan maka akan berfungsi memecah ombak yang cukup besar.
Pantai WTC menjadi saksi bisu ketika event pariwisata nasional yang dikenal dengan "Sail Raja Ampat” yang dilaksanakan pada tahun 2014 lalu.Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang membuka secara resmi kegiatan tersebut.
Selain masyarakat umum, pantai WTC juga sering digunakan oleh pemerintah setempat untuk berbagai kegiatan seperti upacara kemerdekaan maupun berbagai festival yang diselenggarakan di ibukota kabupaten
BLUE WATER CAVE
Raja Ampat selain keindahan bawah lautnya yang menakjubkan, kawasan Papua Barat ini juga memiliki sungai dengan air biru jernih yang tersembunyi di antara hutan yang asri.
Namanya Kali Biru, terletak di Desa Warsambin, Kawasan Teluk Mayalibit, Raja Ampat. Sungai air jernih ini mengandung beberapa fitur alam dan kaya akan legenda. Kedalaman sungai diperkirakan lebih dari 5 meter, sedangkan di beberapa bagian sungai kedalamannya 2-3 meter. Aliran sungainya cukup Keistimewaan lainnya adalah suhu air yang terbagi dua. Ada dingin dan panas. Secara ilmiah, hal ini bisa terjadi karena sebagian sungai terkena sinar matahari sedangkan sebagian lainnya tertutup pepohonan yang lebat. Suhu air sungai ini berkisar antara 10-20 derajat Celcius. Air ini juga bisa langsung diminum karena berasal dari mata air pegunungan.
Popularitas Kali Biru juga erat dengan legenda masyarakat Suku Mayalibit yang menganggap sebagai tempat keramat/sakral.
Meski diperbolehkan berenang di Kalibiru, namun pengunjung tidak diperbolehkan berenang di mata air yang terletak di dekat Kalibiru. Selain demi menjaga kemurnian air, juga bentuk penghormatan kepada leluhur.
Dikisahkan dahulu kala sebelum pergi pertempuran, para prajurit berendam di sungai agar lebih kuat untuk mengalahkan musuh. Legenda masyarakat lainnya menceritakan buaya putih yang tinggal di sungai ini akan menampakkan wujudnya sebagai petunjuk ada masyarakat yang melanggar hukum adat.
Cara menuju Kali Biru
Kali Biru terletak di kampung Warsambin Distrik Teluk Mayalibit. Dari ibu kota Waisai, dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapainya dengan mobil (rental Bang Eman, Hp. No. 085244971151) sepanjang jalan kita disuguhin pemandangan indah dengan jalan berkelok sampai tiba di sebuah marina untuk parkir mobil. Di sini ada kafe untuk ngaso ngopi santai sebelum menyeberang dengan perahu katinting.
Untuk menuju ke Kali Biru, kita harus menyewa perahu ke warga lokal. Jarak tempuh dengan perahu sekitar 15 menit, Lalu kita harus trekking menyusuri hulu sungai dan masuk ke dalam hutan sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan, kita akan ditemani dengan suara ragam burung dan serangga hutan, pemandangan yang indah dan asri hingga melihat surga kecil yang tersembunyi di akhir perjalanan. Dari laut, kita menyusuri sungai yang lebih dangkal hingga akhirnya tiba di perairan dangkal tepi hutan. Perjalanan pun kembali dilanjutkan dengan berjalan kaki ke dalam hutan tempat kali biru.
KORPAK VILLA & RESORT
Villa dan resort ini terletak di poros jalan utama desa Sopokren sekitar 1.5 Km dari Bandara Marinda Raja Ampat. Resort ini terbuka 24 jam dengan fasilitas kolam renang, wi-fi dan villa-villa eksklusif yang menjorok keluar pantai dengan panorama laut yang biru membentang. Indah dan tenang sekali. Dari kawasan pusat kota Waisai ke Korpak dapat ditempuh 15 menit, jarak 8.4 Km.
Bagi kalian yang ingin merasakan dan menikmati nuansa pantai seperti di Maldives dengan resortnya yang indah, tak perlu harus ke Maldives karena di Raja Ampat Papua Barat, banyak pilihan resort dengan nuansa pantai dan bawah lautnya yang indah. Salah satunya yakni AFU Resort. Beberapa bentuk bangunan resortnya mirip yang ada di Maldives. Alam Raja Ampat Papua, terutama deretan pantai sampai bawah laut yang eksotis. Demikian juga Resort yang ada disini tak kalah seperti di Maldives.
Sejak selasa 23 Mei saya menunggu kabar dari agen tur untuk rombongan open trip ke Pianemo. Namun sampai 3 hari tidak ada tanda adanya rombongan trip. Memang menurut operator kapal boat, kunjungan wisatawan ke Raja Ampat pasca Covid belum pulih benar. Sedangkan untuk pergi sendiri atau 2-3 orang saja (sharing cost) jelas berat diongkos. Untuk sewa 1 unit boat saja antara 15 - 25 juta, belum lagi makannya.
Sementara kapal yg akan kutumpangi dari Sorong ke Ternate sebentar lagi tiba. Akhirnya tgl 26 Mei 2023 jam 09.00 saya meninggalkan kota Waisai Kabupaten Raja Ampat kembali ke Sorong dengan kapal cepat Belibis. Waisai adalah kota yang tidak akan kulupakan.
Setibanya di Pelabuhan Rakyat Sorong dari Waisai Raja Ampat saya menuju ke kantor Pelni utk menukar tiket digital ke tiket konvensional untuk ke Ternate malam ini (26/5/23).
Alhamdulillah ketemu orang baik di kapal tadi dan menawarkan saya tumpangan ke Pelni yg berjarak 4.5 Km. Setelah melapor sy menitipkan ranselku ke pos Satpam dgn alasan mau Jumatan. Mengikuti Google Maps sy berjalan kaki ke penyeberangan sekitar 200 m menembus teriknya mentari Papua. Tiba di sana sdh ada beberapa, org lokal menyebutnya 'taksi laut' yg ngetem. Jika ingin menunggu penumpang lain tarifnya Rp 5000 saja. Jika ingin cepat zonder ngetem bisa dicarter Rp 30K. Sy memutuskan carter saja selain tak punya waktu banyak, juga antisipasi angin kencang , ombak tampak berayun tebal.
MASJID BERSEJARAH DI PULAU DOOM
Masjid Jami Pulau Doom berada sejak tahun 1911. Doom menyimpan jejak sejarah sebagai salah satu pusat peradaban islam di wilayah Sorong. Pulau Doom yang dijuluki sebagai Kota Tua dulunya merupakan pusat pemerintahan oleh pemerintah kolonial Belanda. Masjid Jami di Pulau Doom, Kota Sorong, merupakan tempat ibadah umat muslim yang pertama di wilayah Papua Barat Daya. Masjid ini menjadi saksi sejarah masuknya agama Islam di wilayah Kepulauan Sorong hingga Raja Ampat.
Perjalanan dari & ke Pulau Doom dengan perahu motor hanya memakan waktu sekitar 10 menit.
Setelah selesai sholat Jumat di masjid bersejarah ini saya menemui Imam masjid dan Khotibnya Ust. Habib Moi Al Hafidz yg juga Ketua Majelis Muslim Papua. Kami ngobrol dan sy memberikan 2 bh cendera mata.
Pulau Doom ini berkait erat dengan kesultanan Ternate, Raja Ampat dan Demak di Jawa. Salah satu yang tersisa bukti tertulis hubungan keislaman itu kitab Tajul Muluk dalam bentuk manuskrip dengan beberapa bahasa seperti Arab, Melayu dan sebagainya.
Pulau Dom, berubah namanya menjadi Doom oleh kolonial Belanda. Arti kata Dom dan Doom sungguh berbeda. Dom dalam bahasa Moi itu nama pohon di pulau Dom. Masjid Doom adalah contoh penggunaan kayu Dom sendiri. Mimbar khutbah, tongkat maupun bedugnya dibuat dari kayu Dom.
Seperti lazimnya kolonial, beberapa peninggalan sejarah asal daerah dimusnahkan. Menurut penuturan bapak imam masjid Dom, masjid pertama di kota Sorong juga diratakan menjadi tanah lapangan sepak bola. Masjid yang diratakan itu mirip masjid Demak. Sayangnya, tidak ada foto atau bukti lain yang mendukungnya.
Sebagai pintu gerbang transportasi laut pada saat itu, pelabuhan di pulau Dom merupakan kota metropolitan. Bahkan dituturkan, semua kapal yang ingin ke pulau Raja Ampat-pun harus melewati pulau Dom. Sekalipun, di pulau kecil nan indah pada masanya itu tidak ada kerajaan atau tokoh-tokoh penting di negeri Papua. Dua kolonial, yaitu Jepang dan Belanda, pernah menguasai pulau itu sebagai kawasan pertahanannya.
Pulau Doom, atau yang biasa disebut juga Pulau Dum oleh masyarakat asli setempat (suku Malamooi) memiliki arti pulau yang ditumbuhi banyak pohon buah. Hal ini beralasan karena banyak sekali tanaman buah-buahan yang tumbuh di pulau ini, terutama buah sukun yang paling mendominasi. Pulau ini tidak terlalu besar karena memiliki luas hanya sekitar 5 kilometer persegi dan dapat dikelilingi habis hanya dalam waktu 45 menit saja. Walaupun demikian, Pulau ini termasuk padat dan banyak ditinggali oleh para pendatang yang umumnya suku Jawa, Buton, Bugis, atau Toraja.
Istimewanya pulau ini adalah nilai sejarah yang dimilikinya. Belanda sudah melirik keberadaan pulau ini sejak tahun 1800-an dan kemudian sekitar tahun 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai ibukota pusat pemerintahan Sorong yang disebut Onderafdeling. Pada masa itu, Sorong sama sekali belum berbentuk kota, pusat kegiatan sepenuhnya berada di Pulau Doom. Hal ini tentu saja membuat Doom lebih dulu mendapat aliran listrik, infrastruktur dan berbagai fasilitas dibandingkan Sorong daratan. Jadi, tidak heran bila pada saat itu Pulau Doom lah yang paling bersinar diantara tempat-tempat lain di perairan Sorong. Oleh karena terang cahaya itu, masyarakat setempat juga menyebut Pulau Doom dengan sebutan pulau bintang.Tidak hanya Belanda, Jepang pun pernah merasakan tinggal di pulau ini. Pada masa perang dunia ke dua, Jepang menjadikan Pulau Doom sebagai basis pertahanan mereka di wilayah perairan Hollandia. Tentara Jepang banyak membuat gua-gua yang saling terhubung dengan banyak bunker-bunker pertahanan ala strategi perang Jepang kala itu. Oleh karenanya, tidak aneh bila saat ini kita akan menemukan banyak sekali gua-gua peninggalan Jepang tersebar luas di wilayah daratan Pulau Doom.
Keberadaaan Belanda dan Jepang ini tentu saja memunculkan sebuah kondisi khusus bagi Pulau Doom di masa sekarang ini. Pertama saya menjejakkan kaki di pulau ini, aura sejarah sudah sangat terasa sekali. Bangunan-bangunan di pulau Doom memiliki arsitektur yang sangat berbeda dengan wilayah Papua manapun, termasuk kota Sorong. Biasanya rumah masyarakat Papua pada umumnya berbentuk rumah panggung dan dibuat dari kayu, namun di Pulau Doom kita akan menyaksikan rumah-rumah khas Belanda dengan konstruksinya yang terkenal kuat dan tersusun rapih. Berbagai peninggalan fasilitas Belanda seperti Gardu Listrik, Gereja dan Gedung Serba Guna pun masih dapat kami lihat berdiri kokoh. Saya merasa seperti tidak berada di wilayah Sorong.
pembelian tiket Pelni. Ingin rebahan tapi dilarang sama Pak Satpam karena ada CCTV takut
dimarain Komandan katanya hehehe...
Pengin muter-muter kota Sorong cuma gak semangat karena panas yg menggigit kulit dan rasanya kurang tertarik, palagi angkotnya pake musik jedag jedug yg memekakkan telinga..kuatir juga nanti telat, bisa ditinggal kapal lagi...
![]() |
| Masjid Raodah Sorong |
![]() |
| Pelabuhan Waisai Raja Ampat |
![]() |
| Bersama Bang Eman & Keluarga, Operator Tour Raja Ampat |
![]() |
| Restoran Makassar |
https://youtu.be/XwR6G8bmYZs?si=meAMBGsPzaxgGqr4

.jpg)



.jpeg)
.jpg)
.jpg)












.jpg)








































Tidak ada komentar