PEKANBARU, BUKITTINGGI Kembara C19 Meniti Istana Siak dan Pagaruyung
Hari beranjak malam ketika saya ke Klinik Insan Permata untuk melakukan rapid Antigen. Sehari sebelumnya saya juga ke Laboratoriun memeriksakan darah (Hb, Kolesterol dan asam urat). Alhamdulillah hasil swab antigen dinyatakan Negatif. Saya segera pulang dan mengemas pakaian, memilih pakaian kasual dan perlengkapan pribadi seperti obat penambah darah, dsb.
Seperti biasa, sebagai penggemar ransel beberapa potong pakaian dan lainnya semua saya masukkan ke ransel ukuran 40 L. Ranselnya meski tampak butut, padded hipbelt nya sdh tdk ada/patah tapi rasanya ransel fave ini masih cukup kuat untuk perjalanan kali ini.
Rabu 16 Februari jam 08.00 saya berangkat ke Airport, lebih awal lebih baik daripada ketinggalan pesawat. Jam 12.30 pesawat Air Asia QZ 190 take off dari Jakarta menuju Pekanbaru dengan harga tiket Rp. 90.000 program AA Unlimited Passenger !...
Sekitar jam 14.20 roda ban pesawat menginjak tanah Melayu Bumi Lancang Kuning dengan mulus tanpa guncangan yg berarti....
Kota Pekanbaru adalah ibukota dan kota terbesar di Provinsi Riau. Kota ini merupakan salah satu sentra ekonomi terbesar di Pulau Sumatera dan termasuk kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi, dan urbanisasi yang tinggi
Pekanbaru terletak di tepian Sungai Siak dan pada awalnya merupakan sebuah kota kecil yang memiliki pasar (pekan) yang bernama Payung Sekaki atau Senapelan. Pada abad ke-18, wilayah yang kini menjadi Pekanbaru berada pada lingkar pengaruh Kesultanan Siak. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah secara luas dianggap sebagai pendiri kota Pekanbaru modern; hari jadi kota ini ditetapkan pada tanggal 23 Juni 1784. Pekanbaru menjadi sebuah "kota kecil" pada tahun 1948 dan kotapraja pada tahun 1956, sebelum ditetapkan menjadi ibu kota provinsi Riau sebagai pengganti dari Tanjung Pinang pada tahun 1959.
Perekonomian Pekanbaru didukung oleh perdagangan dan pertambangan minyak bumi. Kota ini memiliki sebuah bandar udara Internasional, terminal bus antar kota dan antar provinsi, serta dua pelabuhan. Populasi Pekanbaru bersifat kosmopolitan, dipengaruhi oleh letak strategisnya di tengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Beberapa etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini antara lain adalah suku Minang, Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa dan Orang Ocu.
Saya berjalan keluar dari lobbi bandara, tidak ada bagasi, hanya membawa backpack di punggung yang mulai merapuh...hihihi. Sesuai riset awal saya langsung berjalan kaki keluar bandara, mengapa tak cari bus bandara? tidak. Jarak antara peron bandara sampai ke jalan raya poros berjarak 1.3 Km, hanya 15 menit jalan santai menuju warung Sate Inyiak Datuk untuk menikmati seporsi sate dan kesegaran secangkir kopi hitam...sluuurpp hmmmm.
| Bandingkan cost rental motor dan tiket pesawat |
Kebetulan letak masjid hanya sepelemparan batu dari hotel sekitar 80 meter. Setelah check in saya melepaskan kepenatan di kamar 204. Menunggu maghrib untuk kembali ke Masjid An Nur.
Masjid Raya An - Nur
Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya provinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.
Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.
Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas
Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor. Selain itu, Masjid Agung An Nur memiliki Radio Penyiaran Komunitas bernama A n Nuur FM 107.7 MHz. Mesjid dibangun tahun 1963. masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.
Pasca sholat subuh saya melipir ke seberang masjid mengisi perut dengan seporsi ketupat gulai paku + segelas kopi talua dari warung legendaris Ketupat Gulai Paku Onen. sekitar 30 menit santai saya mulai mengenakan jaket, pasang helm, setel google maps : jarak tempuh 111 Km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 40 menit.
Dengan Bismillah meluncur ke Kabupaten Siak dengan Si Scoopy. Keluar dari kota Pekanbaru di jalur lintas timur Sumatera terjadi kemacetan yang luarbiasa panjangnya akibat pengecoran/pembetonan ruas jalan sepanjang 1 kilometer. Ngeri juga melihat truk-truk besar bermuatan sawit. Beruntungnya menggunakan motor sehingga bisa menyelinap diantara kendaraan2 tentunya dengan keakuratan dan ketrampilan motoris. Kalau tidak hati-hati bisa kesenggol pantat truk. Setelah melewati kemacetan suasana pandangan berubah. Sepanjang jalan hutan sawit kiri kanan yang cukup sepi. Kondisi aspal cukup baik. Pemandangan yg kurang variasi cukup membosankan. Untuk membuang kejenuhan dan kantuk sepanjang jalan kulantunkan dzikir dan sholawatan. Meski sendirian saya yakin Allah bersama saya. Selalu begitu kemanapun saya pergi....
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam setengah yang sepii, luruuuus saja dan membosankan akhirnya tibalah di Kab. Siak yang ditandai dengan ikon jembatan Siak yang cukup megah.
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah
Jembatan ini terletak di Kota Siak Sri Indrapura yang menjembatani antara kota Siak dengan Kecamatan Mempura. Jembatan ini dibangun dengan tujuan memperlancar transportasi Siak-Pekanbaru sehingga terdapat jalur alternative melalui darat di samping melalui sungai. Jembatan ini memiliki panjang 1.196 meter dan lebar 16.95 meter ditambah 2 buah trotoar selebar 2.25 meter yang mengapit sisi kanan dan kiri jembatan. Ketinggian jembatan Siak mencapai 23 meter diatas permukaan air Sungai Siak yang lebarnya sekitar 300 meter. Di atas jembatan berdiri 2 menara setinggi masing-masing 80 meter yang dilengkapi dengan 2 buah lift untuk menuju puncak menara. Pembangunan jembatan Agung Sultanah Latifah di Kabupaten Siak yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, telah membuka akses transportasi kelancaran arus lalu lintas antar daerah dan wilayah di Kabupaten Siak yang dipisahkan oleh sungai. Pengunjung dapat menikmati keindahan dan kemegahan Jembatan Siak terutama pada malam hari. Selain itu kita juga dapat melihat matahari terbenam.
Istana Siak adalah bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau. Masa jaya Kerajaan Siak berawal dari abad ke 16 sampai abad ke 20, dan silsilah Sultan Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1723 M dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Kini, kita dapat melihat peninggalan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama Asseraiyah Al Hasyimiah. Istana Asseraiyah Al Hasyimiah yang disebut juga Istana Matahari Timur dilakukan oleh arsitek dari Jerman yang mengadopsi gaya arsitek Eropa, India dan Arab dengan perpaduan Melayu Tradisional. Keindahan Istana terlihat mulai dari memasuki pintu gerbang Istana yang dihiasi sepasang burung elang menyambar dengan mata yang memancar tajam yang terbuat dari perunggu dan pada 4 buah pilar Istana di ujung puncaknya. Burung elang ini merupakan tanda kebesaran dan keberanian serta kemegahan Kerajaan Siak pada masanya.
Selain itu, keindahan Istana juga terlihat pada dinding Istana yang dihiasi dengan keramik dari Eropa dan ruangan ruangan yang terdapat di dalam Istana serta benda benda koleksi peninggalan Kerajaan Siak. Bangunan Istana Asseraiyah Al Hasyimiah terdiri dari dua lantai, pada lantai dasar terdapat 5 ruangan besar utama yang digunakan untuk: Ruangan Depan Istana, merupakan ruang tunggu para tamu, di dalamnya terdapat dua bagian ruang, untuk para tamu terhormat disebut ruangan Kursi Gading, berkain gorden warna hijau lumut khusus untuk tamu kaum laki laki, dan satu ruang terhormat berikutnya untuk kaum perempuan. Ruangan di sisi kanan adalah ruang sidang kerajaan dan sekaligus digunakan sebagai ruang pesta. Ruangan di sisi kiri, adalah upacara adat kerajaan Melayu dipergunakan untuk pelantikan, perwakilan, upacara menjunjung Duli dan upacara hari hari besar keagamaan.
Kapal Kato adalah sebuah kapal besi dengan bahan bakar batu bara dimiliki oleh Sultan Siak, dan selalu digunakan pada saat berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya. Kapal ini berukuran panjang 12 m dengan berat 15 ton
Memasuki bagian dalam Istana Siak Sri Indrapura, saya jumpai banyak barang peninggalan yang masih terawat dengan baik. Beberapa bahkan masih berfungsi sebagaimana mestinya. Mulai dari singgasana raja, replica mahkota raja, aneka keramik alat makan, hingga kursi kristal yang dibuat pada tahun 1896.
Untuk memasuki Istana Siak Sri Indrapura, pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 10.000/orang untuk dewasa dan Rp 5.000/orang untuk anak-anak. Istana yang kini dikelola oleh Pemda Kabupaten Siak ini buka untuk umum setiap hari pukul 09.00-17.00.
Masjid Raya Shahabuddin.
Masjid ini dibangun pada tahun 1882 pada masa pemerintah Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak Ke-XI) dengan arsitektur sederhana terbuat dari kayu. Pada zaman pemerintahan Sultan Syarif Kasim II (sultan Siak ke 12) tepat nya tahun 1926 mesjid dibangun dengan permanen berpaduan arsitektur Eropa Barat dan Turki. Di dalam nya terdapat pilar-pilar mesjid yang diselimuti beton terlihat sangat kokoh dengan 4 pilar tersebut. Dan ada sebuah mimbar yang terbuat dari jati khusus didatangkan dari Jepara. Masjid Sultan ini terletak sekitar 500 meter di depan Istana Siak, dengan bentuk yang khas dan unik. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari kayu berukir indah bermotifkan daun, sulur dan bunga. Di sebelah barat Mesjid ini terdapat pemakaman Sultan Syarif Kasim beserta Permaisuri dan istrinya, Panglima Sultan, yang selalu diziarahi oleh pengunjungnya. Pada masa Kerajaan Siak, Masjid ini memiliki nama Masjid Syahabuddin.
| Sholat maghrib -Isya di Masjid SAS |
Malam ke dua, selepas maghrib saya menyusuri pedesterian jalan Sudirman seberang pasar Pusat, melihat-lihat suasana kuliner malam dgn berjalan kaki. Cocok banget nih pas lapar. Pedagang disini menyajikan makanan enak seperti nasi goreng, sate, miso, kembang tahu, sekoteng dan juga martabak mesir, sate padang, roti canai. Kopi/teh talua.
Spot yang bersebelahan dengan Bank CIMB Niaga ini adalah salah satu jalanan yang ramai dikunjungi, khususnya di malam minggu. Para pedagang sudah buka dari jam 6 sore dan tutup jam 5 pagi. Harga makanannya bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000.
Spot kuliner malam di Jalan Sudirman ini panjang sampai menuju arah lokasi MTQ. Saat mendekati lokasi tersebut, dari kejauhan akan terlihat asap putih yang membumbung tinggi. Itu adalah asap dari hasil pembakaran arang para penjual jagung bakar. Tidak hanya 1 atau dua orang, tapi banyak banget penjualnya. Mereka menjajakan dagangannya di pedestrian sepanjang depan MTQ dari jam 6 sore sampai jam 1 pagi.
Syair Perpustakaan Soeman HsTersusun indah pustaka ini
Tertata rapi buku-buku penuh maknawi
Isi hari dengan berkunjung kesini
Pustaka terbaik di negeri ini
Sejuk nyaman membaca buku
Perpustakaan Soeman Hs gudang ilmu
Seringlah kesana agar dirimu mampu
Membuka semua cakrawala dalam hidupmu...Demikian penggalan syair Sastrawan Soeman HS yang ada di perpustakaan Soeman HS yg terletak di Jl. Jend. Sudirman. Perpustakaan ini menggunakan konsep transformasi arsitektur modern. Hal ini dapat dilihat dari bentuk lengkungan yang menyerupai sebuah buku tebal yang terbuka jika dilihat dari atas gedung. Konstruksi yang digunakan dalam pembuatan bangunan ini menggunakan baja konstruksi, ini dapat dilihat dari pilar-pilar yang melengkung pada bagian atap bangunan.
Gedung ini memiliki tampilan mewah berarsitektur modern tropis dan menyerupai buku terbuka atau rehal (bangku kecil untuk alas membaca Al Quran), memiliki daya tampung setiap lantainya sebanyak 1.000 pengunjung. Arsitektur perpustakaan ini memadukan antara arsitektur khas budaya melayu dan moderen.
Menuju ke Bukittinggi
| Silaturahim ke Buya Gusrizal Ketua MUI Sumbar |
Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Istano Basa atau lebih populer dengan sebutan Istana Pagaruyung. Istana ini terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana adalah salah satu destinasi wisaya budaya paling terkenal di Sumatera Barat.
Istana Pagaruyung yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istana Pagaruyung yang asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali, namun kembali terbakar tahun 1966.
Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.
Sayangnya, pada 27 Februari 2007, Istana Pagaruyung mengalami kembali kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Menurut situs minangtourism.com, sebagian dokumen peninggalan serta kain-kain hiasan ikut terbakar. Diperkirakan, hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.
Sementara itu, biaya pendirian kembali istana ini diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar. Kini bangunan Istana Pagaruyung sudah berdiri sempurna setelah perbaikan. Bangunan ini memancarkan simbol kemewahan, bahawa tanah minang ini adalah tanah yang megah dan kaya raya.
Senja merambat pelan ketika aku meninggalkan rumah tukang pijit di dekat Istana Pagaruyung. Langit berwarna tembaga, seolah ikut menahan perih yang berdenyut di kuku jempol kaki kananku—kuku yang hampir lepas, daging yang mulai membengkak dari betis hingga telapak. Aku memacu Supra X pelan, bukan karena tak berani cepat, tapi karena setiap getaran mesin terasa seperti palu kecil yang menghantam luka.
Entah karena nyeri atau pikiran yang tak lagi jernih, aku tersesat. Rute yang tadi pagi terasa akrab kini seperti labirin asing. Dua jam kemudian aku tiba di vila di atas bukit—sunyi, lengang, terlalu sepi untuk disebut tempat singgah. Satu-satunya bangunan di sana, banyak kamar tapi kosong. Rumah-rumah penduduk berjauhan. Angin berdesir seperti bisikan yang tak ingin kupahami.
Selepas magrib, dengan langkah pincang dan napas tertahan, aku kembali menyalakan motor. Kucari Bapak penjaga vila yang siang hari bekerja sebagai tukang parkir di lapak Nasi Kapau Uni Linda, dekat Museum Hatta. Kepadanya kuceritakan insiden tadi siang. Ia memanggil seorang teman—tukang urut. Aku kembali direbahkan, kali ini di pos parkir. Teriakanku pecah di antara suara kendaraan dan aroma gulai. Sakitnya seperti ditarik dari tulang.
Malam itu aku kembali sendirian ke vila. Tubuhku lelah, tapi tidur tak mau singgah. Setelah diurut, rasa sakit justru terasa lebih menggila. Jempolku berdenyut—nyut… nyut… nyut—seperti detik jam yang kejam. Di jendela, seekor kucing hitam terus mengeong. Suaranya memanjang, seperti ratapan yang tak selesai. Sunyi semakin menekan dada.
Esoknya, sesuai rencana, aku seharusnya ke Padang. Ingin menjejakkan kaki di Masjid Raya Padang dan Masjid Terapung Al Hakim, menyempurnakan perjalanan kecilku di Ranah Minang. Namun takdir menuliskan bab lain.
Sekitar pukul 01.30 dini hari, saat aku masih terjaga dalam gelisah, telepon berdering. Suara istriku di ujung sana bergetar. Ibu mertua telah berpulang di RS Omni Alam Sutera.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kalimat itu seperti mematikan seluruh peta di kepalaku. Padang mendadak menjadi jauh dan tak lagi penting. Yang ada hanya satu arah: pulang.
Pukul lima subuh, sebuah minivan travel menjemputku di vila. Bersama dua penumpang lain, aku menuju Bandara Minangkabau. Di lobi bandara aku tak lagi mampu berjalan. Kakiku semakin parah, nyeri menjalar tanpa ampun. Petugas bandara mendorongku dengan kursi roda hingga ruang tunggu. Saat mendarat di Soekarno-Hatta, aku kembali “diangkut” menuju taksi.
Seorang avonturir yang biasa melangkah bebas, kali itu pulang dalam keadaan terdorong.
Di rumah, suasana telah selesai. Ibu mertuaku tercinta sudah dimakamkan. Aku terlambat. Rasa duka bercampur sesal, seperti luka yang tak bisa diurut, tak bisa dibebat.
Tiga hari kemudian dokter memutuskan kuku jempol kakiku harus dicopot. Sudah membusuk dan bernanah. Aku mengangguk setuju. Bedah kecil itu terasa seperti simbol: ada bagian dari perjalanan yang memang harus dilepaskan, agar tubuh dan jiwa bisa sembuh.
Padang urung kudatangi. Tapi perjalanan mengajarkanku satu hal—tak semua rencana harus sampai tujuan. Kadang yang lebih penting adalah pulang, meski dengan kaki pincang dan hati yang retak.
Dan dari luka itu, aku tahu, suatu hari nanti aku akan melangkah lagi.


Tidak ada komentar