PEKANBARU, BUKITTINGGI Kembara C19 Meniti Istana Siak dan Pagaruyung

Hari beranjak malam ketika saya ke Klinik Insan Permata untuk melakukan rapid Antigen.  Sehari sebelumnya saya juga ke Laboratoriun memeriksakan darah (Hb, Kolesterol dan asam urat). Alhamdulillah hasil swab antigen dinyatakan Negatif. Saya segera pulang dan mengemas pakaian, memilih pakaian kasual dan perlengkapan pribadi seperti obat penambah darah, dsb. 

Seperti biasa, sebagai penggemar ransel beberapa potong pakaian dan lainnya semua saya masukkan ke ransel ukuran 40 L. Ranselnya meski tampak butut, padded hipbelt nya sdh tdk ada/patah tapi rasanya ransel fave ini masih cukup kuat untuk perjalanan kali ini.


Rabu 16 Februari jam 08.00 saya berangkat ke Airport, lebih awal lebih baik daripada ketinggalan pesawat. Jam 12.30 pesawat Air Asia QZ 190 take off dari Jakarta menuju Pekanbaru dengan harga tiket Rp. 90.000 program AA Unlimited Passenger !.

..

Sekitar jam 14.20 roda ban pesawat menginjak tanah Melayu Bumi Lancang Kuning dengan mulus tanpa guncangan yg berarti....








Kota Pekanbaru adalah ibukota dan kota terbesar di Provinsi Riau. Kota ini merupakan salah satu sentra ekonomi terbesar di Pulau Sumatera dan termasuk kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi, dan urbanisasi yang tinggi

Pekanbaru terletak di tepian Sungai Siak dan pada awalnya merupakan sebuah kota kecil yang memiliki pasar (pekan) yang bernama Payung Sekaki atau Senapelan. Pada abad ke-18, wilayah yang kini menjadi Pekanbaru berada pada lingkar pengaruh Kesultanan Siak. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah secara luas dianggap sebagai pendiri kota Pekanbaru modern; hari jadi kota ini ditetapkan pada tanggal 23 Juni 1784. Pekanbaru menjadi sebuah "kota kecil" pada tahun 1948 dan kotapraja pada tahun 1956, sebelum ditetapkan menjadi ibu kota provinsi Riau sebagai pengganti dari Tanjung Pinang pada tahun 1959.

Perekonomian Pekanbaru didukung oleh perdagangan dan pertambangan minyak bumi. Kota ini memiliki sebuah bandar udara Internasional, terminal bus antar kota dan antar provinsi, serta dua pelabuhan. Populasi Pekanbaru bersifat kosmopolitan, dipengaruhi oleh letak strategisnya di tengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatera. Beberapa etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini antara lain adalah suku Minang, Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa dan Orang Ocu.

Saya berjalan keluar dari lobbi bandara, tidak ada bagasi, hanya membawa backpack di punggung yang mulai merapuh...hihihi. Sesuai riset awal saya langsung berjalan kaki keluar bandara, mengapa tak cari bus bandara? tidak. Jarak antara peron bandara sampai ke jalan raya poros berjarak 1.3 Km, hanya 15 menit jalan santai menuju warung Sate Inyiak Datuk untuk menikmati seporsi sate dan kesegaran secangkir kopi hitam...sluuurpp hmmmm.




Setelah bodi terasa segar, kampung tengah sudah hangat dgn seporsi sate inyiak saya memesan Grab ke lokasi rental motor Pak Hendra Situmorang.
Setelah serah terima motor Scoopy New saya melanjutkan perjalanan ke pusat kota Pekanbaru menuju Cordex Hotel yang saya pesan via aplikasi agoda.com.

Bandingkan cost rental motor dan tiket pesawat



Berbekal panduan Google Maps tidak terlalu sulit menyusuri jalan dari pinggiran kota menuju pusat kota. Hari sudah sore, saya melewati Masjid Raya An Nur dan memutuskan untuk mampir melihat suasana sekitar masjid karena sebelumnya saya sdh melaksanakan sholat musafir. 

Kebetulan letak masjid hanya sepelemparan batu dari hotel sekitar 80 meter. Setelah check in saya melepaskan kepenatan di kamar 204. Menunggu maghrib untuk kembali ke Masjid An Nur.


Masjid Raya An - Nur

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya provinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.

Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.

Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas

Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor. Selain itu, Masjid Agung An Nur memiliki Radio Penyiaran Komunitas bernama A n Nuur FM 107.7 MHz. Mesjid dibangun tahun 1963. masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.














Ketupat Gulai Paku Onen


 

One of favourite place for big breakfast in pekanbaru.. menu khas disini adalah lontong dgn berbagai varian kuah seperti kuah nangka, kuah tauco dan kuah gulai paku.. buat pecinta kue lupis wajibbb banget cobain.. enaaaakkkk bngt... harganya juga lumayan murah.. dan air putih gratis lohhhh kata uninya.. xixixixiii.. kalo ke pekanbaru mesti cobain yaaa..

Pasca sholat subuh saya melipir ke seberang masjid mengisi perut dengan seporsi ketupat gulai paku + segelas kopi talua dari warung legendaris Ketupat Gulai Paku Onen. sekitar 30 menit santai saya mulai mengenakan jaket, pasang helm, setel google maps : jarak tempuh 111 Km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 40 menit. 

Dengan Bismillah meluncur ke Kabupaten Siak dengan Si Scoopy. Keluar dari kota Pekanbaru di jalur lintas timur Sumatera terjadi kemacetan yang luarbiasa panjangnya akibat pengecoran/pembetonan ruas jalan sepanjang 1 kilometer. Ngeri juga melihat truk-truk besar bermuatan sawit. Beruntungnya menggunakan motor sehingga bisa menyelinap diantara kendaraan2 tentunya dengan keakuratan dan ketrampilan motoris. Kalau tidak hati-hati bisa kesenggol pantat truk. Setelah melewati kemacetan suasana pandangan berubah. Sepanjang jalan hutan sawit kiri kanan yang cukup sepi. Kondisi aspal cukup baik. Pemandangan yg kurang variasi cukup membosankan. Untuk membuang kejenuhan dan kantuk sepanjang jalan kulantunkan dzikir dan sholawatan. Meski sendirian saya yakin Allah bersama saya. Selalu begitu kemanapun saya pergi...




 



Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam setengah yang sepii, luruuuus saja dan membosankan akhirnya tibalah di Kab. Siak yang ditandai dengan ikon jembatan Siak yang cukup megah.

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Jembatan ini terletak di Kota Siak Sri Indrapura yang menjembatani antara kota Siak dengan Kecamatan Mempura. Jembatan ini dibangun dengan tujuan memperlancar transportasi Siak-Pekanbaru sehingga terdapat jalur alternative melalui darat di samping melalui sungai. Jembatan ini memiliki panjang 1.196 meter dan lebar 16.95 meter ditambah 2 buah trotoar selebar 2.25 meter yang mengapit sisi kanan dan kiri jembatan. Ketinggian jembatan Siak mencapai 23 meter diatas permukaan air Sungai Siak yang lebarnya sekitar 300 meter. Di atas jembatan berdiri 2 menara setinggi masing-masing 80 meter yang dilengkapi dengan 2 buah lift untuk menuju puncak menara. Pembangunan jembatan Agung Sultanah Latifah di Kabupaten Siak yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, telah membuka akses transportasi kelancaran arus lalu lintas antar daerah dan wilayah di Kabupaten Siak yang dipisahkan oleh sungai. Pengunjung dapat menikmati keindahan dan kemegahan Jembatan Siak terutama pada malam hari. Selain itu kita juga dapat melihat matahari terbenam.

Istana Siak Sri Indrapura (Asserayah Hasyimiyah)

Istana Siak adalah bukti sejarah kebesaran kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau. Masa jaya Kerajaan Siak berawal dari abad ke 16 sampai abad ke 20, dan silsilah Sultan Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1723 M dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Kini, kita dapat melihat peninggalan kerajaan berupa kompleks Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama Asseraiyah Al Hasyimiah. Istana Asseraiyah Al Hasyimiah yang disebut juga Istana Matahari Timur dilakukan oleh arsitek dari Jerman yang mengadopsi gaya arsitek Eropa, India dan Arab dengan perpaduan Melayu Tradisional. Keindahan Istana terlihat mulai dari memasuki pintu gerbang Istana yang dihiasi sepasang burung elang menyambar dengan mata yang memancar tajam yang terbuat dari perunggu dan pada 4 buah pilar Istana di ujung puncaknya. Burung elang ini merupakan tanda kebesaran dan keberanian serta kemegahan Kerajaan Siak pada masanya.

                

 
Selain itu, keindahan Istana juga terlihat pada dinding Istana yang dihiasi dengan keramik dari Eropa dan ruangan ruangan yang terdapat di dalam Istana serta benda benda koleksi peninggalan Kerajaan Siak. Bangunan Istana Asseraiyah Al Hasyimiah terdiri dari dua lantai, pada lantai dasar terdapat 5 ruangan besar utama yang digunakan untuk: Ruangan Depan Istana, merupakan ruang tunggu para tamu, di dalamnya terdapat dua bagian ruang, untuk para tamu terhormat disebut ruangan Kursi Gading, berkain gorden warna hijau lumut khusus untuk tamu kaum laki laki, dan satu ruang terhormat berikutnya untuk kaum perempuan. Ruangan di sisi kanan adalah ruang sidang kerajaan dan sekaligus digunakan sebagai ruang pesta. Ruangan di sisi kiri, adalah upacara adat kerajaan Melayu dipergunakan untuk pelantikan, perwakilan, upacara menjunjung Duli dan upacara hari hari besar keagamaan.

Kapal Kato adalah sebuah kapal besi dengan bahan bakar batu bara dimiliki oleh Sultan Siak, dan selalu digunakan pada saat berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya. Kapal ini berukuran panjang 12 m dengan berat 15 ton






Ruangan belakang,adalah sebuah ruang keperluan persiapan perjamuan   makan untuk santapan para tamu dan raja raja serta pembesar kerajaan. Pada ruangan ini terdapat tangga besi spiral yang indah buatan Jerman berfungsi tangga naik ke lantai atas. Pada ruang belakang ini terdapat pelataran (koridor) sepanjang 500 m berbentuk huruf T, dipergunakan untuk jamuan makan bagi rakyat umum. Lantai atas, terdapat 4 ruangan berbentuk kamar atau bilik dan 2 ruangan berbentuk aula selasar yang dipergunakan untuk tempat istirahat para tamu, serta bagian depan terdapat pelantaran atau tempat peranginan yang menghadap ke taman bunga Panca Wisada dan Sungai Siak. Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda benda koleksi kerajaan antara lain: Mahkota Kerajaan Siak, Mahkota Kerajaan dibuat semasa pemerintahan Sultan Siak X, Assyaidis Syarif Kasim Syaifuddin (Syarif Kasim I). Mahkota ini berlapis emas dan bertaburkan permata, sedangkan yang asli terdapat di Museum Nasional Gajah Jakarta. Singgasana Kerajaan Siak, Kursi keemasan yang penuh dengan ukiran yang indah dari bahan kuningan berbalut emas (yang pernah hilang dan dikonservasi kembali oleh Museum Nasional Gajah Jakarta). Lambang dan Bendera Kerajaan Siak, Bendera berwarna kuning keemasan, di tengah terdapat lambang kerajaan bermotif kepala naga dan berjuang. Di atas terdapat kalimat Allah serta kaligrafi Muhammad bertangkup. Senjata dan Benda benda Kerajaan, antara lain tombak, keris, meriam, serta alat nobat, cermin mustika, kursi kursi, lampu lampu Kristal yang beratnya 1 ton, barang barang keramik dari Cina dan Eropa, diorama , patung perunggu Ratu Belanda Wilhemina dan patung pualam Sultan bermata berlian, benda benda upacara lain , serta piring piring, cangkir, gelas, sendok yang bermerek lambang kerajaan. Payung Kerajaan, payung ini berlambang naga berjuang dan kalimat Allah serta tulisan Muhammad bertangkup dari kain sutera kuning keemasan. Tempat pembakaran (Setanggi), merupakan wewangian yang berasal dari ramuan tumbuh tumbuhan, dengan membakar setanggi akan keluar aroma yang wangi dan ketika itu berfungsi sebagai pengharum ruangan istana. Canang, merupakan suatu barang berbentuk guci terletak di ujung ruangan jamuan istana, bila dipukul, canang ini mengeluarkan bunyi gaung, digunakan oleh Sultan untuk memanggil pelayan istana. Komet, benda sejenis gramafon raksasa terbuat dari tembaga dengan piring garis tengah 1 meter dari bahan kuningan (pelat kuningan) dapat mengeluarkan bunyi bunyian musik klasik karya Beethoven dan Mozart, buatan Jerman. Konon barang ini hanya ada 2 di dunia yaitu di Jerman sebagai pembuat dan di Istana Siak. Cermin Ratu Agung, adalah sebuah cermin yang menjadi milik para permaisuri Sultan yang dapat membuat wajah semakin cerah dan awet muda bila sering bercermin disana.




 



Memasuki bagian dalam Istana Siak Sri Indrapura, saya jumpai banyak barang peninggalan yang masih terawat dengan baik. Beberapa bahkan masih berfungsi sebagaimana mestinya. Mulai dari singgasana raja, replica mahkota raja, aneka keramik alat makan, hingga kursi kristal yang dibuat pada tahun 1896.




Untuk memasuki Istana Siak Sri Indrapura, pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 10.000/orang untuk dewasa dan Rp 5.000/orang untuk anak-anak. Istana yang kini dikelola oleh Pemda Kabupaten Siak ini buka untuk umum setiap hari pukul 09.00-17.00.

Masjid Raya Shahabuddin.

Masjid ini dibangun pada tahun 1882 pada masa pemerintah Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak Ke-XI) dengan arsitektur sederhana terbuat dari kayu. Pada zaman pemerintahan Sultan Syarif Kasim II (sultan Siak ke 12) tepat nya tahun 1926 mesjid dibangun dengan permanen berpaduan arsitektur Eropa Barat dan Turki. Di dalam nya terdapat pilar-pilar mesjid yang diselimuti beton terlihat sangat kokoh dengan 4 pilar tersebut. Dan ada sebuah mimbar yang terbuat dari jati khusus didatangkan dari Jepara. Masjid Sultan ini terletak sekitar 500 meter di depan Istana Siak, dengan bentuk yang khas dan unik. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari kayu berukir indah bermotifkan daun, sulur dan bunga. Di sebelah barat Mesjid ini terdapat pemakaman Sultan Syarif Kasim beserta Permaisuri dan istrinya, Panglima Sultan, yang selalu diziarahi oleh pengunjungnya. Pada masa Kerajaan Siak, Masjid ini memiliki nama Masjid Syahabuddin.














    


Klenteng Hock Siu Kiong 

Kelenteng ini terletak di tengah-tengah kota Siak Sri Indrapura, merupakan bagian dari daerah Pecinan di Kabupaten Siak yang tetap di pelihara. Kelenteng ini dibangun pada tahun 1871 dan merupakan bangunan tertua di Siak. Kelenteng ini mempunyai bentuk arsitektur yang unik dan juga merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kota Siak.





Setelah dirasa cukup puas mengitari kota klasik Siak, mentari makin tinggi saya harus segera kembali ke kota Pekanbaru, tancap gas sebelum jalan sepanjang kebun sawit menjadi gelap dan hening sepi... 

Mentari tak lama lagi beringsut berganti malam ketika saya tiba kembali di kota Pekanbaru. Honda Scoopy saya kembalikan ke pemiliknya lalu dengan Grab kembali ke hotel. Badan terasa penat sekali. Mandi air hangat cukup mengembalikan kondisi bodi segar kembali. Leyeh2 sejenak di kamar menanti maghrib....


Sholat maghrib -Isya di Masjid SAS


Malam ke dua, selepas maghrib saya menyusuri pedesterian jalan Sudirman seberang pasar Pusat, melihat-lihat suasana kuliner malam dgn berjalan kaki. Cocok banget nih pas lapar. Pedagang disini menyajikan makanan enak seperti nasi goreng, sate, miso, kembang tahu, sekoteng dan juga martabak mesir, sate padang, roti canai. Kopi/teh talua.

Spot yang bersebelahan dengan Bank CIMB Niaga ini adalah salah satu jalanan yang ramai dikunjungi, khususnya di malam minggu. Para pedagang sudah buka dari jam 6 sore dan tutup jam 5 pagi. Harga makanannya bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000.

Spot kuliner malam di Jalan Sudirman ini panjang sampai menuju arah lokasi MTQ. Saat mendekati lokasi tersebut, dari kejauhan akan terlihat asap putih yang membumbung tinggi. Itu adalah asap dari hasil pembakaran arang para penjual jagung bakar. Tidak hanya 1 atau dua orang, tapi banyak banget penjualnya. Mereka menjajakan dagangannya di pedestrian sepanjang depan MTQ dari jam 6 sore sampai jam 1 pagi.
Dari pengamatan saya warung yang paling ramai adalah Warung Radar sampai ada 3 ruko Radar berdekatan. Di depan rukonya ada musik live akustik. Menunya banyak macam dari kopi, sate padang, roti cane, mie dan sebagainya. Tak jauh di jejerannya ada Resto sate padang Bundo Kanduang. Menunya spesialis sate padang. Ruamee!. Saya memutuskan masuk sini, gerangan apa enaknya? sama saja kan spt di Graha Raya? Di sini banyak pilihan jenis sate mulai dari sate ayam, sate lidah, sate jantung, sate daging.
Untuk kuah yang tersedia ada dua yaitu kuah kuning kental ( Padeh ) dan kuah bumbu kacang.untuk harga satu porsi sate Bundo kanduang Pekanbaru di bandrol Rp.25.000/porsi.
Tersedia juga aneka kerupuk yang bisa di padukan dengan kuah sate yang nikmat.

Seporsi sate campur sudah di depan mata, 10 tusuk,...hmm dagingnya tampak lebih besar dari yg biasa. Irisan satenya besar dan empuk. dengan taburan bawang goreng, aromanya bikin enggak tahan begitu datang.
Kuah sausnya itu kental bin kuentel dan gurih ..ternyata memang mantap mentong ! Harganya? Rp 27K incl. segelas teh panas. Belum pernah makan sate padang seenak ini, beneran.. tapi warung sate ini tukang bohong, karena mengaku Bundo Kanduang tapi saya disuruh bayar wkwkwkkk.... Sate Bundo Kanduang sangat terkenal di Pekanbaru, dan menurut saya memang sate padang yang paling enak..hihihi





Perpustakaan Soeman HS

Sejak SD di Makassar saya sering ke perpustakaan daerah. Sepulang sekolah dgn bercelana pendek saya berjalan kaki sekitar 1 km untuk sampai ke gedung peninggalan Belanda yg disulap jadi Perpustakaan. Koleksi buku/majalahnya masih banyak berbahasa Belanda, termasuk yang paling kusuka adalah komik Trigan, Majalah Bobo. Terjemahan seperti seri Karl May >Winnetou Old Shatterhand, Time Tunnel by Lorna diterjemahkan oleh Joko Lelono : Lorong Waktu.


Syair Perpustakaan Soeman HsTersusun indah pustaka ini
Tertata rapi buku-buku penuh maknawi
Isi hari dengan berkunjung kesini
Pustaka terbaik di negeri ini

Sejuk nyaman membaca buku
Perpustakaan Soeman Hs gudang ilmu
Seringlah kesana agar dirimu mampu
Membuka semua cakrawala dalam hidupmu...
Demikian penggalan syair Sastrawan Soeman HS yang ada di perpustakaan Soeman HS yg terletak di Jl. Jend. Sudirman. Perpustakaan ini menggunakan konsep transformasi arsitektur modern. Hal ini dapat dilihat dari bentuk lengkungan yang menyerupai sebuah buku tebal yang terbuka jika dilihat dari atas gedung. Konstruksi yang digunakan dalam pembuatan bangunan ini menggunakan baja konstruksi, ini dapat dilihat dari pilar-pilar yang melengkung pada bagian atap bangunan.

Gedung ini memiliki tampilan mewah berarsitektur modern tropis dan menyerupai buku terbuka atau rehal (bangku kecil untuk alas membaca Al Quran), memiliki daya tampung setiap lantainya sebanyak 1.000 pengunjung. Arsitektur perpustakaan ini memadukan antara arsitektur khas budaya melayu dan moderen.


 

 


Menuju ke Bukittinggi 




Jam 09 pagi minivan dari SBK Travel menjemput saya yg sdh menunggu di lobby hotel. Saya penumpang pertama, berarti akan ada beberapa penumpang lain yg akan dijemput. Tak mengapa, saya malah senang bisa jalan-jalan ke wilayah lain kota Pekanbaru.
Jarak antara kota Pekanbaru, Riau dan Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia di jalan umum adalah — 220.71 km atau 136.84 mil. Jarak antara titik-titik dalam koordinat — 150 km atau 90 mil. Untuk mengatasi jarak ini dengan kecepatan kendaraan rata-rata 70 km / jam membutuhkan — 5 jam. 
Perjalanan pun dimulai dengan lagu Pop berbahasa Minang mendayu-dayu. Untuk perjalanan sejauh ini katanya jalan berkelok kelok seperti perjalanan Bandung Jakarta dulu via Puncak, maka saya pun mengawali perjalanan dengan baca doa perjalanan.. 





Memang supir minivan ini lumayan ngebut + perjalanan yang berkelok-kelok bikin efek semi rollercoaster ditambah 2x istirahat di ‘rest area’ gaje yang sebaiknya tahan saja kalau ingin buang air, tetapi pemandangannya super menyenangkan! Apalagi saya memang request duduk di jok depan samping driver.  Kami sampai di kelok 9 (walaupun tidak berhenti alias numpang lewat) sekitar pukul 4 sore dan luar biasa tertegun melihat keindahan alam yang bersatu dengan kecantikan struktur jembatan ini. Banyak mobil yang berhenti dulu untuk mengabadikan foto di Kelok 9 ini. Sebagai avonturir dari komunitas Backpacker Dunia, pemandangan Sumatera Barat ini sangat indah dan mengagumkan.

Akhirnya, sekitar jam 5 sore saya sampai di Bukittinggi. Saya diantar ke Villa Jalito di kawasan kampung Ganduik. Villa ini berada di atas sebuah bukit dengan view Gunung Singgalang dan Merapi. Kalau malam tampak kerlap kerlip penerangan jalan dan rumah2 di lereng gunung. Villa 2 lantai berbentuk rumah Gonjong ini mempunyai 6 kamar yg luas. Owner villa ini adalah H. Fahrizal, seorang Pengusaha SPBU, kawan saya di Bintaro. Alhamdulillah saya bisa bermalam di sini dengan gratis. Rejeki avonturir anak sholeeh !




View Gunung Singgalang dan Merapi

Setelah istirahat dan mandi air hangat saya meninggalkan villa menuju Jam Gadang untuk mencoba kuliner Nasi Kapau. Jarak dari villa ke Jam Gadang hanya 3.4 Km yg ditempuh dgn naik motor 10 menitan saja. Tak lama sampailah di Nasi Kapau Uni Linda yang berlokasi di jalan Setiabudi, tidak jauh dari monumen Bung Hatta.

Salah satu ciri khas dari nasi kapau di Bukittinggi adalah lauknya ditaruh di baskom-baskom alumunium,  uni-uninya akan mengambil dengan sendok centong. Kita tinggal pilih aja mau pake lauk apa. Saya  memilih lauk ikan mas bagian tengahnya. Uninya mempersilahkan saya duduk. Tak lama pesanan saya diantar, sepiring nasi berisi lauk standar kuah gulai, daun pucuk ubi, sambal cabai, bumbu rendang + sebeng berupa tempe, rendang singkong ganefo, sepotong tambusu plus ikan di piring terpisah dgn ukuran guede ! + teh hangat.   Kalo kamu tidak seperti saya yang suka makan nasi padang dengan kuah gulai yang banyak, jangan lupa request ya minta kuahnya sedikit aja.

Mengenyangkan sekali deh! Soal rasa, jujur saya susah mendeskripsikan rasa nasi Padang. Ya enak lah ya pastinya, apalagi ini cita rasanya khas dari tanah Minang. Harga nasi kapau dengan 1 lauk seperti yang saya pesan itu Rp 35.000,-. 


 

Yang saya suka dari tempat ini adalah, Uni-uninya ramah sekali. Benar-benar menyambut dengan senyum dan sabar saat saya tanya itu ini...



 

Silaturahim ke Buya Gusrizal Ketua MUI Sumbar

                               
Istano Basa Pagaruyung

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Istano Basa atau lebih populer dengan sebutan Istana Pagaruyung. Istana ini terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana adalah salah satu destinasi wisaya budaya paling terkenal di Sumatera Barat.


Sekitar jam 09 pagi saya memacu motor Honda Beat menuju ke arah Batusangkar dengan panduan Google Maps. Melintasi jalan ekonomi yang tidak terlalu luas tapi beraspal mulus dan di beberapa wilayah cukup mengasyikkan berkendara dengan jalan nan berkelok berliku turun - naik bergantian dengan panorama yang mempesona. Bukit, lembah, persawahan yang sebagian sudah menguning. Di jalan Raya Batu Sangkar Km 41  saya menepi di tepi jalan untuk memperbaiki kancing jaket. Entah remnya terlalu pakem atau rerumputan tanahnya gembur licin tetiba motor ngesot dan saya kehilangan keseimbangan jatuh tertimpa motor. Kuku jempol terkuak dan berdarah. Mata kaki terasa nyeri. 

Beruntung nya tak jauh ada IGD RSIA Sayang Ibu. Di sini oleh Suster bernama Cinta, jempol kaki saya dibersihkan lalu dibalut perban. Mata kaki bengkak. Saya melanjutkan perjalanan ke Istana Pagaruyung yang sudah dekat sekitar 5 Km. Makin dekat kaki saya makin nyeri. Saya memasuki Istana Pagaruyung yang memiliki hamparan halaman yang begitu luas dengan kaki pincang menahan nyeri. Atas info seseorang yang baik hatinya saya disarankan ke dapur Istana, di sana tersedia minyak gosok. Dan benar saja, saya mengoles minyak urut ke seluruh betis sampai kaki. Atas referensi Uni penjaga ruang dapur saya ke rumah tukang urut tak jauh dari lokasi Istana. Di sana saya diurut oleh seorang ibu dan diberikan kompres air panas. Meski sakitnya minta ampun..Alhamdulillah bengkaknya mengecil.  

Istana Pagaruyung yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istana Pagaruyung yang asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali, namun kembali terbakar tahun 1966.

Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.

Sayangnya, pada 27 Februari 2007, Istana Pagaruyung mengalami kembali kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Menurut situs minangtourism.com, sebagian dokumen peninggalan serta kain-kain hiasan ikut terbakar. Diperkirakan, hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.

Sementara itu, biaya pendirian kembali istana ini diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar. Kini bangunan Istana Pagaruyung sudah berdiri sempurna setelah perbaikan. Bangunan ini memancarkan simbol kemewahan, bahawa tanah minang ini adalah tanah yang megah dan kaya raya.













Urung ke Padang 

Senja merambat pelan ketika aku meninggalkan rumah tukang pijit di dekat Istana Pagaruyung. Langit berwarna tembaga, seolah ikut menahan perih yang berdenyut di kuku jempol kaki kananku—kuku yang hampir lepas, daging yang mulai membengkak dari betis hingga telapak. Aku memacu Supra X pelan, bukan karena tak berani cepat, tapi karena setiap getaran mesin terasa seperti palu kecil yang menghantam luka.

Entah karena nyeri atau pikiran yang tak lagi jernih, aku tersesat. Rute yang tadi pagi terasa akrab kini seperti labirin asing. Dua jam kemudian aku tiba di vila di atas bukit—sunyi, lengang, terlalu sepi untuk disebut tempat singgah. Satu-satunya bangunan di sana, banyak kamar tapi kosong. Rumah-rumah penduduk berjauhan. Angin berdesir seperti bisikan yang tak ingin kupahami.

Selepas magrib, dengan langkah pincang dan napas tertahan, aku kembali menyalakan motor. Kucari Bapak penjaga vila yang siang hari bekerja sebagai tukang parkir di lapak Nasi Kapau Uni Linda, dekat Museum Hatta. Kepadanya kuceritakan insiden tadi siang. Ia memanggil seorang teman—tukang urut. Aku kembali direbahkan, kali ini di pos parkir. Teriakanku pecah di antara suara kendaraan dan aroma gulai. Sakitnya seperti ditarik dari tulang.

Malam itu aku kembali sendirian ke vila. Tubuhku lelah, tapi tidur tak mau singgah. Setelah diurut, rasa sakit justru terasa lebih menggila. Jempolku berdenyut—nyut… nyut… nyut—seperti detik jam yang kejam. Di jendela, seekor kucing hitam terus mengeong. Suaranya memanjang, seperti ratapan yang tak selesai. Sunyi semakin menekan dada.

Esoknya, sesuai rencana, aku seharusnya ke Padang. Ingin menjejakkan kaki di Masjid Raya Padang dan Masjid Terapung Al Hakim, menyempurnakan perjalanan kecilku di Ranah Minang. Namun takdir menuliskan bab lain.

Sekitar pukul 01.30 dini hari, saat aku masih terjaga dalam gelisah, telepon berdering. Suara istriku di ujung sana bergetar. Ibu mertua telah berpulang di RS Omni Alam Sutera.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kalimat itu seperti mematikan seluruh peta di kepalaku. Padang mendadak menjadi jauh dan tak lagi penting. Yang ada hanya satu arah: pulang.

Pukul lima subuh, sebuah minivan travel menjemputku di vila. Bersama dua penumpang lain, aku menuju Bandara Minangkabau. Di lobi bandara aku tak lagi mampu berjalan. Kakiku semakin parah, nyeri menjalar tanpa ampun. Petugas bandara mendorongku dengan kursi roda hingga ruang tunggu. Saat mendarat di Soekarno-Hatta, aku kembali “diangkut” menuju taksi.

Seorang avonturir yang biasa melangkah bebas, kali itu pulang dalam keadaan terdorong.

Di rumah, suasana telah selesai. Ibu mertuaku tercinta sudah dimakamkan. Aku terlambat. Rasa duka bercampur sesal, seperti luka yang tak bisa diurut, tak bisa dibebat.

Tiga hari kemudian dokter memutuskan kuku jempol kakiku harus dicopot. Sudah membusuk dan bernanah. Aku mengangguk setuju. Bedah kecil itu terasa seperti simbol: ada bagian dari perjalanan yang memang harus dilepaskan, agar tubuh dan jiwa bisa sembuh.

Padang urung kudatangi. Tapi perjalanan mengajarkanku satu hal—tak semua rencana harus sampai tujuan. Kadang yang lebih penting adalah pulang, meski dengan kaki pincang dan hati yang retak.

Dan dari luka itu, aku tahu, suatu hari nanti aku akan melangkah lagi.











Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata. Imam Ali. Tidak suka hujan


              Travel through the Land, QS. 29 : 20
                                              Wassalam

PEKANBARU, BUKITTINGGI Kembara C19 Meniti Istana Siak dan Pagaruyung PEKANBARU, BUKITTINGGI Kembara C19 Meniti Istana Siak dan Pagaruyung Reviewed by Sofyan Saleh on Maret 06, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!