Caecylia Naomi
Bandung, 15 April 1986
Hujan membasahi persada kota Kembang
Mengguyur pokok cemara di halaman Asrama Lontara
Bulir air berserakan di jendela kaca patri kamarku
Berpendar membayang sosok gadis berwajah Oriental.
Kubuka halaman diaryku kuberanikan menulis surat untuk kamu sembari mendengarkan siaran Radio Oz dengan tajuk Rest Oz Relax yang dipandu Teh Iie (Trie Utami).
"Panggil aku Cecyl saja" begitu katamu dgn ramah waktu pertama kali kita kenalan di Sanggar Barli, Rangga Gempol Bandung.
Cecyl, Sebelum surat kuteruskan, aku 'harus' minta maaf atas kelancanganku menulis surat ini. Plus kelancanganku mengusik kesibukan kamu dengan harus membaca suratku ini.
Lalu, maaf pula, kalau kening kamu terpaksa berkerut. Lalu alis mata kamu mungkin akan membentuk bayangan camar... .lentaran menerima surat dari orang yang tentu saja tidak kamu sangka bakal senekad ini.
Sejak meninggalkan kotaku Makassar dan memulai perantauan yang panjang di kotamu yang penuh pikat ini. Sudah kutanamkan dalam diriku untuk tidak mencoba-coba mendekati zona asmara. Ini lantaran aku takut nanti mengganggu konsenstrasiku dalam menuntut ilmu. Padahal aku tahu orang tuaku sangat mengharapkan aku bisa fokus belajar agar kuliahku selesai tepat waktu. Namun harus kuakui terus terang, alasan utama adalah karena aku nian ngeri trauma kisah pahit yang pernah kualami, yang membuatku hilang kepercayaan terhadap kaum Kartini, terulang kembali. Karenanya rambu perboden kupancangkan kuat di ini dada. Namun demikian tidak berarti aku menutup diri dalam pergaulan dengan gadis-gadis. Aku tetap bergaul hanya saja sampai batas sebagai teman biasa.
Tahun pertama kulalui masa rantau ini dengan mulus. Tak seorangpun gadis kubiarkan singgah di pelabuhan hatiku. Bendera setengah tiang masih berkibar. Sebenarnya ada beberapa gadis yang sempat 'nyelonong boy' atau menarik perhatianku dan juga memperhatikanku. Namun perasaan-perasaan tersebut segera sirna ditelan gumpalan kekecewaan masa lalu yang 'duh masih menggantung disini. Di dada ini!.
Yeachhh...keadaan memaksaku untuk menipu diriku sendiri...... !!! merilis tahun kedua aku mulai ragu dan goyah atas sikapku selama ini. Jujur saja. Sebagai lelaki normal. Apalagi di rantau jauh dan tanpa keluarga. Aku butuh perhatian dan kasih sayang dari seseorang. Aku memerlukan seorang sahabat setia yang mampu membangkitkan semangatku dan menghadirkan kembali kepercayaan terhadap diriku sendiri. Aku butuh seorang sahabat setia yang bisa menyepak duka yang menggerogoti bathin dan menggantikannya dengan kebahagiaan, keceriaan. Dan tempat membagi suka pun duka. Tempat kusandarkan segala harapanku.
Cecyl,
Sungguh aku merasa beruntung masuk di Studio Rangga Gempol, milik pelukis terkenal Pak Barli yang seangkatan dengan Affandi. Aku masuk ke studio untuk belajar mengasah bakat melukis dan berharap bisa mengikuti test masuk Senirupa ITB tahun depan sekaligus untuk mengisi sebagian dari hari-hari sepiku.
Di studio inilah Tuhan mempertemukan kita sebagai sesama murid baru Pak Barli. Ketika berkenalan aku merasa kamu type gadis yang menyenangkan. Selalu ceria. Sosokmu yang jangkung dengan wajah oriental, Bola matamu sipit, kalau tertawa tinggal segaris, sangat lucu khas peranakan Tionghoa. Saat kutanya apa alasanmu masuk ke Studio? kamu menjelaskan bahwa kuliahmu saat ini di Fikom Unpad Sm. II kurang sesuai dengan passionmu, kamu ingin mencoba mengikuti seleksi masuk Senirupa ITB. Wah cita-cita kita sama dong! kami tergelak bersama. Ada rasa yang sama.
![]() |
| Sanggar Lukis Barli, Jl. Rangga Gempol Bandung |
Sejak pertemuan perdana itu aku merasakan detak-detak naluraniku menerawang tak menentu. Penampilanmu sehari-hari yang sederhana berbalut jeans dan busana kasual tampak selalu ceria, membuat aku menyimpan perasaan tersendiri diantara teman gadis yang lain. Nian susah melupakan belasan senyumanmu yang 'duhn..menawan berat !. Aku tidak bisa mengurai kan satu persatu tentang rasa hatiku. Sebab itu naluri yang datangnya secara mendadak dan nian sulit kumengerti. Yang jelas hari-hari yang kulalui semakin membumbungkan diriku pada kerinduan ingin selalu bertemu dengan kamu.
Setiap masuk studio yang kucari pertama adalah dirimu, Caecilia. Kadang aku kecewa bila tidak melihat sosokmu. Sejuta tanya hadir dibenakku. Sejuta jawab entah kemana. Sakitkah ia ? atau lagi sibuk di kampusnya?. Aihhh... Tuhan lindungilah ia dengan Kuasa_Mu, dengan Rahmat_Mu bimbinglah ia, gadis manis yang nian aku suka.
Cecyl,
Tanpa terasa sudah 3 purnama aku berakrab dengan studio dan.. kamu. Tak terhitung frekwensi kita mengerjakan bersama tugas dari Pak Barli melukis di pasar, taman. Ingat gak sewaktu kita melukis di Taman Maluku, tetiba hujan turun..kita berdua berlarian menggendong kanvas ke Asrama Lontara, tempat tinggalku, tak jauh dari GOR Saparua. Rambutmu yang tebal sepundak basah, sungguh mempesona. Aku membuatkan teh hangat dan kamu minum sampai habis tanpa terlihat rasa kuatir dengan minuman anak asrama. Lalu aku mengantarmu pulang ke Margahayu dengan naik angkot dan berkenalan dgn keluargamu. Akhhh...Caecilia tidakkah kamu dengar dendang hatiku yang berlagu indah?. Sudah lama goresan kuasmu terpatri di hati bersama keindahanmu. Sudah lama senyummu menggetarkan bathinku. Sudan lama pijar bola matamu yang tipis menerangi ruang jiwaku. Sampai kapan harapanku ini akan terpadu. Sedang gemuruhnya rindu kian menggebu. Kalau saja dalam hidup ini tidak ada interval, dimana segalanya langsung jadi. Sehingga tak ada kata menunggu dan filsafat sabar. Ya! tapi apa arti harapan bagi kita? Aku menggigit bibir. Menelan ludah. Menarik nafas. Mencoba tegar dalam gelisah.
Cecyl,
Kali ini aku tidak ingin menipu diriku lagi. Aku sudan bosan. Aku harus konsekwen dan percaya pada diriku sendiri. Hari ini aku sudah tidak mampu menahannya. Makin lama kutunda makin menyiksa bathinku. Ada sesuatu yang kian menyesak di dada. Dan ini akan meledak tidak karuan. Dan pasti akan berakibat jelek, kalau tidak segera aku salurkan. Maka aku buatlah pengakuan di atas lembar kertas putih ini. Seputih hatiku.
Sungguh Caecilia..... aku merasa tidak bisa tidak menyukai kamu, ughhh.... aku sayang kamu sepenuh jiwa dan aku cinta kamu sepenuh rasa. Rambu 'perboden' akan kusingkirkan. Bendera setengah tiang akan kuturunkan dan bersama kamu, aku berharap dapat berteriak lantang : "Selamat tinggal duka !".
Malam makin larut, aku sudahi dulu suratku. Tentu aku berharap kamu menerima luapan bathinku. Itu saja. Sekiranya surat ini mengusik kesibukanmu dan mengganggu kehidupanmu maka maafkan ketaksopananku....
#NaskahLombaMenulis_SuratCinta_RadioOzBandung1986
#juaraIILombaMSC_RadioOZBdg1986
![]() |
| Caecylia Naomi, kutemukan jejakmu di ig |
![]() |
| Testimoni |
![]() |
| Kamarku di Asrama Lontara Bandung |
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Maret 06, 2022
Rating:

.jpg)


.jpg)
.jpg)


.jpg)


Tidak ada komentar