SABANG ACEH Kembara C-19 Menuju Titik Nol NKRI
Keinginan untuk mengunjungi Sabang dan Banda Aceh sudah ada jauuh sejak SMP karena kepincut dengan sejarah Kerajaan Samudera Pasai sebagai gerbang masuknya Islam ke Nusantara yang waktu itu belum bernama Indonesia. Sampai kemudian terjadi gempa besar dan tsunami pada bulan Desember 2004 keinginan itu belum terealisir dan makin membuncah. Sayangnya waktu itu lagi sibuk-sibuknya kerja. Pas kuliah tidak ada uang, pas kerja tidak ada waktu.
Begitulah kadang hidup ini, tidak sesuai dengan keinginan. Tapi jangan menyerah dengan keinginan apalagi impian, karena suatu saat impian itu bisa jadi kenyataan walau butuh proses. Sama seperti keinginanku untuk menginjakkan kaki ke Aceh akhirnya kesampaian juga di tahun 2021 justru saat pandemi Covid19 sedang bergolak dan menakutkan banyak orang untuk pegi-pegi. Backpacker No Fear!.
Alhamdulillah 'ala kulli haal.. dua jam kemudian burung besi melakukan landing, menyentuh landasan pacu dgn smooth tanpa goncangan berlebihan. Saya tiba di Kuala Namu International Airport Deli Serdang, Medan. Step 1, done!.
Bandar Udara Internasional Kualanamu adalah Bandar Udara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Bandara ini terletak 39 km dari kota Medan. Bandara ini adalah Bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Lokasi Bandara ini dulunya bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Pembangunan Bandara ini dilakukan untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Polonia yang sudah berusia 85 tahun. Bandara Kualanamu diharapkan dapat menjadi “Main Hub” yaitu pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Selain itu, adanya kebijakan untuk melakukan pembangunan Bandara Internasional Kualanamu adalah karena keberadaan Bandar Udara Internasional Polonia di tengah kota Medan yang mengalami keterbatasan Operasional dan sulit untuk dapat dikembangkan serta kondisi fasilitas yang tersedia di Bandar Udara Polonia sudah tidak mampu lagi menampung kebutuhan pelayanan angkutan udara yang cenderung meningkat.
Kapal ferri KM Aceh Hebat II sudah cukup jauh berlayar, saya ke musholla sholat Dhuha dan sarapan ternikmat di dunia saat berada di geladak kapal: Indomie Cup !.

Jika ingin melihat kota dan teluk Sabang dari ketinggian, mampirlah ke Sabang Hill. Sabang Hill sebenarnya merupakan nama hotel yang berada di area perbukitan. Namun warga masyarakat sekitar berinisiatif membangun gardu pandang yang bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk melihat pemandangan indah Kota Sabang.
Sabang juga mengalami gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, namun karena palung-palung di Teluk Sabang yang sangat dalam mengakibatkan Sabang selamat dari tsunami. Sabang lalu dijadikan sebagai tempat transit udara dan laut yang membawa bantuan untuk korban tsunami di daratan Aceh. Sabang terdiri dari lima pulau besar dan kecil, yakni Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Jumlah penduduknya sekitar 26.000 jiwa.
Kampung tengah sudah aman kenyang, sekitar jam sebelas saya memacu motor ke pantai Iboh menuju titik Kilometer Nol Pulau Weh. Berdasarkan petunjuk Google Maps jarak dari titik warung makan ini ke Km Nol di ujung barat adalah 28 Km ditempuh dgn waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan sedang.
Monumen atau Tugu Kilometer Nol (KM) ini berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Sesuai dengan namanya, tugu ini menjadi titik paling barat batas wilayah daratan Indonesia.
Tugu Kilometer Nol ini pertama kali diresmikan pada tanggal 9 September 1997 oleh Wakil Presiden yang ketika itu dijabat oleh Try Sutrisno. Sekitar dua minggu setelah diresmikan, tepatnya pada tanggal 24 September, B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi menambahkan semacam prasasti yang menjelaskan tentang penetapan posisi geografis 0 kilometer Indonesia, yang pengukurannya dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggunakan Global Positioning System.
Ada pula senjata rencong di tugu, yang menjadi simbol bahwa Aceh juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Segi delapan menggambarkan adanya landasan ajaran Islam, kebudayaan Aceh dan Nusantara yang berpadu dalam lingkup yang luas sesuai 8 penjuru mata angin.
Dari atas tugu hamparan lautan membentang indah. Semilir angin terasa memanjakan tubuhku yang berkeringat untuk berlama-lama menatap Samudera Hindia. Rimbun pohon di bawah dan jalanan nan mulus menambah keindahan lokasi itu.
Sebagai tempat tujuan utama wisatawan di Sabang, Tugu Kilometer Nol sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai yakni musholah, toilet, taman, dan tempat duduk yang jumlahnya cukup banyak.
Saya tertarik mencobanya. Untuk membuka buah ini, perlu digeprek karena cangkangnya lumayan keras. Warna luar buah hijau dengan tekstur kulit seperti memiliki sisik atau tonjolan-tonjolan. Ketika dibuka warna dalam buah yaitu kecoklatan dengan tekstur lembut seperti kluwak atau asam. Ternyata....Rasanya?? Oalah.... sepet, pahit gitu deh...buru- buru aku meneguk air kemasan yang kubawa. Hehe...dari bentuknya lucu dan imut sih.
Ba'da sholat Isro' saya balik ke arah hostel dan mampir di warung kopi yg menjadi legenda warung kopi di Sabang.
Menurut sejarah, Sabang digunakan sebagai pangkalan angkatan laut jepang dalam kurun waktu 1942 sampai tahun 1945. Di sekeliling garis pantai dan perbukitan di Sabang, Jepang membangun benteng serta bunker untuk memperkuat pertahanan mereka.
Sampai saat ini benteng dan bunker tersebut menjadi saksi bisu akan cerita sejarah di masa lampau. Saking banyaknya benteng di Sabang, kota ini mendapat julukan Kota Seribu Benteng.
Diantara banyaknya benteng yang ada aku menuju yg terjauh di ujung pulau yakni Benteng Anoi Itam di kawasan Anoe Itam.
Keberadaan benteng dan bunker tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk traveler penyuka sejarah. Sekitar jam 8 saya sampai. Belum ada pengunjung lain. Tidak ada juga penjaga loket. Saya tak melihat seorangpun. Sepi. Saya naik ke bukit melalui tangga dan melewati beberapa lorong bunker dengan pohon2 besar yang akarnya melintir mengingatkan akar pohon di Angkor Wat Cambodia. Aura magis cukup terasa dalam kesendirianku, yg terdengar hanya deburan ombak di bawah dan suara serangga dipepohonan. Aku melangkah ke dalam benteng intai ukuran 4 x 3 m. Sebuah meriam dengan laras ke arah pantai berada di tengah. Dibelakang meriam ada pintu kiri kanan ke terowongan seukuran badan manusia kate. Aku menengok ke dalam gelap dan dingin. Aku bergumam menyebut nama Allah dan sholawat. Aku keluar dari benteng dan menatap dari arah luar ke jendela benteng di mana meriam dalam posisi siap tembak.
Sejenak aku duduk dibangku. Menikmati sepi, semilir angin dan deburan samudera Hindia membawa imajinasi melayang melewati lorong waktu menikmati nuansa Perang Dunia ke II. Apalagi dihiasi dengan panorama alam yang sangat indah.
Puas berimajinasi nuansa Perang Dunia ke II belum juga ada orang / pengunjung lain. Aku menuruni bukit melanjutkan memacu Jupiter ke Pantai Iboih sekitar 30 km.
Tiba di jalan by pass Cot Ba'u mampir restoran Lambaro Na Jaya, masakan khas Aceh Besar. Aku makan menu ikan hiu dan acar udang mentah. Seperti biasa, sebagai local guide level 6 aku bikin video untuk Google Review tentang rumah makanan ini. Mudah2an riview dariku bisa meningkatkan rating rumah makanan ini sehingga makin banyak traveler yg mampir makan di sini.
Pantai Iboih
Pantai Iboih sudah menjadi ikon dari Kota Sabang. Pemandangan pantai yang memukau selalu bisa menarik perhatian pelancong untuk singgah. .
Kabarnya pantai ini memang sangat ramai di hari libur. Namun saat saya tiba suasananya datar2 saja kalo gak mau dibilang sepi. Pandemi memang melibas semua bidang usaha. Tujuanku kesini untuk snorkeling di Pulau Rubiah. Fasilitas untuk snorkeling dan diving disediakan. Harga sewanya Rp40.000 per orang (aku membawa peralatan snorkeling pribadi)). Pengunjung bisa snorkeling di laut dangkal sekitar pantai pulau. Bisa pula menyewa sampan untuk menuju titik selam yang lebih dalam.
Tidak lengkap rasanya jika ke Sabang tanpa melakukan island hopping. Salah satu pulau yang wajib dikunjungi adalah Pulau Rubiah. Nama Pulau Rubiah ternyata di ambil dari nama Cut Nyak Rubiah karena makamnya terdapat di pulau ini. Destinasi wisata yang bisa ditemui di sini tidak lain adalah Taman Laut Rubiah yang menghadirkan pesona kekayaan alam bawah laut terindah di Sabang. Meski tidak berpenghuni tapi sudah cukup banyak warung dan tempat penyewaan alat-alat snorkeling yang tersedia di sekitar pantainya. Untuk menuju ke sini kita menyebrang dari Pantai Iboih dengan waktu tempuh kurang lebih sekitar 30 menit.
Kamu gak harus punya lisensi menyelam, kok. Terdapat banyak spot diving yang aman digunakan bagi penyelam pemula sekali pun. Keindahan bawah lautnya dijamin bikin betah!
Trip selanjutnya mengunjungi Gua Sarang, yang terletak di kaki tebing dan perbukitan Hutan Lindung Pulau Weh.
Disekitarnya terdapat 5 buah mulut gua yang semuanya menghadap ke arah laut. Sebelum mengeksplor gua kita harus menuruni bukit terlebih dahulu, tangganya cukup curam dan untuk lututku yg sudah terpapar arthritis sejak turun dari Galunggung, medan ini cukup bera. Kepikir entar naiknya. omaigad! Jalan menuju gua dapat ditempuh melalui tepian tebing yg bebatuan dan licin. Siang yg sepi ini air laut cukup tinggi dan merendam jalan setapak ke Gua Sarang. Bisa juga dengan menyewa boat sebesar Rp 300K max 6 orang tapi sesepi ini, tukang perahu juga tak tampak batang hidungnya. Mungkin ia lelah menungggu tak ada orang. Akhirnya batal deh melakukan penjelajahan di dalam gua.
Selain mengeksplorasi Gua Sarang, kita juga dapat melihat indahnya pemandangan laut biru serta rimbunnya perbukitan.
Ada beberapa ayunan yang menghadap langsung ke arah birunya laut, yang bisa digunakan membuat foto Instagramable berayun-ayun di ketinggian yang cukup membuat jantung deg-degan.
Apa yang dicari traveller datang ke Pantai Pasir Putih di desa Keuneukai ini? untuk menikmati nuansanya yang tenang dan menyegarkan. Formasi pohon berada dekat dengan garis pantai, menambah suasana nyaman ke lokasi. Itu berarti pengunjung dapat duduk di bawah pohon dan menyaksikan pemandangan laut yang menakjubkan di cakrawala. Bahkan suara ombak memberikan suasana santai ke pantai. Hal yang baik adalah ombak dianggap aman bagi traveller untuk berenang.
Hal berikutnya yang harus dilakukan di Pantai Pasir Putih Keuneukai tidak lain adalah berjalan di pantai. Pasir hangat dan menakjubkan menanti semua orang. Ada sedikit kekurangan, tekstur pasirnya tidak cukup lunak karena adanya beberapa kerikil. Dalam hal ini, wisatawan harus mempertimbangkan mengenakan sandal saat menjelajahi daerah tersebut.
Fakta lain yang mengesankan adalah adanya fasilitas yang dapat diandalkan di pantai ini seperti toilet, musholla dan penjual makanan kecil, kelapa muda dan tentu saja kopi Aceh!.
![]() |
| Simpang Lima |
![]() |
| Museum PLTD Apung |
![]() |
| PLTD Apung |
![]() |
| SS, Sejarah Seulawah |
Masjid Rahmatullah Lampu'uk
Merupakan sebuah masjid yang terletak di Lampuuk, Aceh Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1990 dan selesai pada tahun1997. Masjid yang terletak 500 meter dari pantai ini masih berdiri setelah diterjang tsunami pada tahun 2004, meski tak benar-benar utuh. Masjid ini kemudian direnovasi dengan dana bantuan dari Bulan Sabit Merah Turki.
Turki memang punya ikatan sejarah dengan Aceh. Dulu kala, Turki pernah membantu Aceh membangun tentara laut yang tangguh. Di Aceh pula terdapat makam yang diyakini mlik ahli perang asal Turki Ottoman.
Pada 26 Desember 2006, Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Ali Sahin, bertandang ke Lampu’uk untuk meresmikan berbagai fasilitas yang dibangun Bulan Sabit Merah Turki dalam acara yang berpusat di halaman Masjid Rahmatullah.
![]() |
| Saksi bisu kedahsyatan tsunami |
![]() |
A Lone mosque stands among the damage of a coastal village near Aceh, Sumatra, Indonesia |
![]() |
| Saat saya berkunjung 4 Juni 2021 |
![]() |
| Saya dan Pak Udin, Ojek baik hati |
Masjid Baiturrahim Ulee Lheue
Ketika
tsunami dan gempa terjadi satu-satunya bangunan tersisa adalah masjid
Baiturrahim padahal letaknya hanya terpaut sekitar 300 meter dari bibir pantai.
Empat dusun di wilayah itu hilang ditelan gelombang, dengan 6 ribu penduduk di
dalam dan sekitarnya menjadi korban.
Masjid ini menarik perhatian karena masih bisa berdiri tegak, sementara
bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Meski masih berdiri kokoh, masjid ini
sempat ditelan tsunami. Air masuk ke dalam masjid hingga ketinggian 20 meter.
Kota Banda Aceh porak poranda di
pengujung tahun, tepatnya 26 Desember 2004. Gelombang tsunami menyapu seluruh
isi ibu kota provinsi Aceh ini. Gemuruh teriakan zikir terdengar di setiap
sisi.
Pagi itu, warga berhamburan di jalanan
menyelamatkan diri. Ibu-ibu berlari sambil menggendong bayinya, hingga mereka
yang berpisah dengan anak, suami, dan istri.
Gempa bumi berkekuatan 9,1 magnitudo
disusul tsunami melanda Aceh 14 tahun lalu, tercatat sebagai bencana alam
terdahsyat sepanjang abad ke-20. Lebih dari 200 ribu jiwa menjadi korban dalam
musibah tersebut. Bahkan hampir seluruh bangunan ikut tersapu dan rata dengan
tanah.
Di tengah porak porandanya pusat ibu
kota Aceh itu, Masjid Raya Baiturrahman ikon kebanggaan masyarakat Aceh ini,
masih berdiri kokoh. Meski di sekelilingnya dipenuhi lumpur dan puing-puing
reruntuhan akibat hanyut dibawa air. Masjid ini, menjadi saksi bisu keganasan
gelombang tsunami menggulung bumi Serambi Makkah.
![]() |
| Meninggalkan Aceh menuju Medan dgn Bus JRG |
Tentang Medan bisa dilihat di blog sebelumnya : Andalas Undercover (avonturir thn 2010).
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Juli 04, 2021
Rating:

































































































Muhibah Ziarah religi yang dikemas bungkus dengan mental nasionalisme yang tinggi yang menempatkan DIRI selalu ingat dan meng_ingat IĹÀÌHÌ *ALLAH* dimanapun berada bersama siapapun sedang apapun dan dalam keadaan bagaimanapun DZIKRULLAH telah mampu melebur dalam DIRI [MAta TElinga Hati Akal Tangan kakI MUlut] 7 lahiriah dan 7 bathiniah, latiful [QalbyRuhy Sirri Aghfa Nafsun Nathiqà Kahfì Kullu Jasad berproses mengiringi semua.
BalasHapusSemoga para petugas JALAN LURUS_NYA selalu menyertai DIRI dengan terjaganya rahmat_NYA di DIRI. Aamiin YAA RABBAL 'ALAMIN 🙏