SABANG ACEH Kembara C-19 Menuju Titik Nol NKRI

Keinginan untuk mengunjungi Sabang dan Banda Aceh sudah ada jauuh sejak SMP karena kepincut dengan sejarah Kerajaan Samudera Pasai sebagai gerbang masuknya Islam ke Nusantara yang waktu itu belum bernama Indonesia. Sampai kemudian terjadi gempa besar dan tsunami pada bulan Desember 2004 keinginan itu belum terealisir dan makin membuncah. Sayangnya waktu itu lagi sibuk-sibuknya kerja. Pas kuliah tidak ada uang, pas kerja tidak ada waktu. 


Begitulah kadang hidup ini, tidak sesuai dengan keinginan. Tapi jangan menyerah dengan keinginan apalagi impian, karena suatu saat impian itu bisa jadi kenyataan walau butuh proses. Sama seperti keinginanku untuk menginjakkan kaki ke Aceh akhirnya kesampaian juga di tahun 2021 justru saat pandemi Covid19 sedang bergolak dan menakutkan banyak orang untuk pegi-pegi. Backpacker No Fear!.




Setelah mengalami reschedule penerbangan sebanyak 3x akhirnya burung besi Air Asia mengangkasa juga Senin 31 Mei jam 14.30 WIB dari SHIA T2 menuju Medan dengan kondisi cuaca kurang cerah. Beberapa kali crew pesawat menyampaikan informasi agar memasang seat belt dan tidak ke toilet karena  cuaca buruk. Saya mengeluarkan Almatsurat dari saku jeans memanjangkan doa mengetuk pintu langit memohon perlindungan_Nya.


Alhamdulillah 'ala kulli haal.. dua jam kemudian burung besi melakukan landing, menyentuh landasan pacu dgn smooth tanpa goncangan berlebihan. Saya tiba di Kuala Namu International Airport Deli Serdang, Medan. Step 1, done!.



Bandar Udara Internasional Kualanamu  adalah Bandar Udara yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Bandara ini terletak 39 km dari kota Medan. Bandara ini adalah Bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Lokasi Bandara ini dulunya bekas areal perkebunan PT Perkebunan Nusantara II Tanjung Morawa yang terletak di Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara.


 Pembangunan Bandara ini dilakukan untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Polonia yang sudah berusia 85 tahun. Bandara Kualanamu diharapkan dapat menjadi “Main Hub” yaitu pangkalan transit internasional untuk kawasan Sumatera dan sekitarnya. Selain itu, adanya kebijakan untuk melakukan pembangunan Bandara Internasional Kualanamu adalah karena keberadaan Bandar Udara Internasional Polonia di tengah kota Medan yang mengalami keterbatasan Operasional dan sulit untuk dapat dikembangkan serta kondisi fasilitas yang tersedia di Bandar Udara Polonia sudah tidak mampu lagi menampung kebutuhan pelayanan angkutan udara yang cenderung meningkat.


                               



Dari bandara naik bus ALS tujuan Binjai via jalur Ring Road, Sunggal Medan. Turun persis depan pool PO Bus Jasa Rahayu Gampueng (JRG). Jam 20.10 5 menit lagi bus akan jalan. Sebelumnya saya mengontak staf JRG agar menunggu saya yg sebentar lagi tiba di Pool. Hal ini akibat keleletan bus ALS yang ngetem cukup lama di Bandara.




Alhamdulillah sampai di pool, bus baru saja parkir standby. Penumpang sudah di atas. Saya penumpang terakhir yang masuk ke bus keren ini, spesifikasi Mercedez Tronton, Scania dengan karoseri Adiputro. Uniknya bus ini menerapkan standar physical distancing dgn seat pola 1-1-1, konon ini yg pertama di Sumatera dan mungkin di Jawa. Interior bus cukup mewah. Dengan tarif Rp 280K penumpang mendapat snack box dan air mineral 600 ml. Bus JRG sangat nyaman.  



Perjalanan dari Medan ke Aceh ditempuh dari pukul 20.15 Non stop tanpa jeda busyeet..berhenti hanya saat sholat subuh!. Tiba di Terminal Bus ...sekitar jam 07.30 dan saya belum makan sejak dari bandara akibat waktu yang ngepas banget dari tiba di bandara, ke pool bus..gak ada waktu ngaso bentar buat makan besar...o maigaad..
Untungnya saya sudah terbiasa dan tabah menghadapi kondisi seperti ini hehehe.. 


Saleum Teuka ! Selamat Datang di Aceh ..Step 2, done!

Turun dari bus JRG banyak babang ojek nawarin jasa. Saya berlalu melewati mereka semua. Seorang bapak berumur menawarkan jasa, klik, saya tertarik karena beliau tidak ngoyo, sudah senior tentu beliau tidak ugal2an bawa motor. Saya tanya jam berapa ferri pertama yg menyeberang ke Sabang? Jam 08.15. Sekarang jam 07.30. wadduh mepet lagi, maksud hati mau santai ngopi2 dan makan beneran...eh harus ngejar ferri jadwal pertama uuuhh..Ya sudah, ayo Pak Udin antar saya ke Pelabuhan ferri Ulee Lheue !


Dalam perjalanan saya tanya2 dan menguji Pak Udin  seberapa besar pengetahuannya tentang destinasi wisata di kota Aceh. Hemm, cukup baik. saya menawarkan untuk charter 1 hari penuh setelah saya balik dari Sabang. Deal. 

Bunyi alarm sirene kapal ferri pertanda akan berangkat terdengar, Pak Udin memacu motornya sampai masuk ke dekat kapal sekitar 15 meter, disitu ada loket darurat. Saya segera berlari membeli tiket dan masuk ke geladak, hufft..Alhamdulilah ferri angkat jangkar dan brangkaaat... Saya naik ke atas dan masuk ke VIP room yang dingin dan jok seatnya empuk, beli air minum, duduk selonjoran memandang laut biru tenang, indah....


Kapal ferri  KM Aceh Hebat II sudah cukup jauh berlayar, saya ke musholla sholat Dhuha dan sarapan ternikmat di dunia saat berada di geladak kapal: Indomie Cup !.

  


Saat di ruang tunggu di VIP room saya baru menyadari 'senderan' (padded hipbelt) ransel yg berfungsi sbg pelindung punggung mengalami robek.  Ini terjadi karena : ranselnya sdh senior, terguncang di bagasi bus. Akhirnya padded itu sy copot saja lalu saya buang. Beruntungnya ranselnya masih bisa digunakan. Ransel ini tak akan kubuang sampai kapan pun karena telah menemani solo backpacking keliling puluhan kota di Nusantara dan di beberapa negara, Jepang, Philipina, Vietnam, Thai, Cambodia. Ransel + jaket jeans akan menjadi memorabilia legend.


    


         
            

Turun di Pelabuhan Balohan banyak yg menawarkan jasa rental mobil dan motor. Saya menyewa motor matik Yamaha Jupiter  utk 2 x 24 jam yang ditawarkan seharga Rp 200K. Sesuai dengan hasil riset sebelumnya memang segitu ya tarif rental lepas kunci. Tapi tunggu, biar saya jajal kemampuan nego si Ojeker :) dalam tempo singkat deal diangka Rp. 170K. Jago ya negosiasinya hehehe...itu salah satu ilmu seorang traveller kere ! dan sudah dipraktekkan di beberapa negara..Uhuy!


Yamaha Jupiter kubawa seorang diri langsung ngacir keluar area pelabuhan menuju Backpacker Hostel yang terletak di kota Sabang. Isi BBM full Rp 14K...sepanjang jalan mulai terlihat spot pemandangan yg mengagumkan dari sisi jalan. Sesekali saya berhenti untuk menikmati ketakjuban dan memotret panorama ciptaan Sang Kreator > samudera, pulau, gunung yang luar biasa indahnya tampak dari atas Sabang Hill.




Sabang Hill

Jika ingin melihat kota dan teluk Sabang dari ketinggian, mampirlah ke Sabang Hill. Sabang Hill sebenarnya merupakan nama hotel yang berada di area perbukitan. Namun warga masyarakat sekitar berinisiatif membangun gardu pandang yang bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk melihat pemandangan indah Kota Sabang.

                               






Menempuh perjalanan sekitar 20 menit saya sampai di I'm Backpacker Hostel. Check in untuk male dormitory selama 2 malam.






Hufft...capek banget! Nyalakan AC, meletakkan ransel dan menghempaskan body di ranjang. Ngaso kemudian mandi. Bersiap jelajah Sabang bersama Jupiter dgn dipandu aplikasi Waze. 
Langkah pertama cari makan kuliner Sabang..

Saya mengarahkan motor ke ke Tugu Simpang Garuda jln Tengku Cik DiTiro dan Yos Soedarso. Ada beberapa warung kuliner di sekitar sini, mulai dari kopi aceh, mie aceh, sate gurita. Saya memutuskan mampir di warung pojok yang tempatnya luas dan pilihan menunya beragam. Pesan seporsi gule kambing dan ayam goreng kampung bertabur daun kari yg tampak menantang selera. Pengin banget kopi aceh tapi kuatir mempengaruhi detak jantung jadi cari aman saja deh dengan pesan teh tarik macha dingin. Ini makan besar pertama saya sejak dari Jakarta, Medan, Sabang sodara-sodara!


Sabang adalah kota yang terletak di Pulau Weh dan merupakan pintu gerbang di kawasan ujung barat Indonesia. Sabang memiliki luas 156,3 kilometer persegi dengan puncak tertinggi 617 meter di atas permukaan air laut. Karena terletak di Pulau Weh banyak orang yang menyebut Pulau Weh sebagai Pulau Sabang. Pulau Weh sendiri merupakan pulau utama dan terbesar yang terpisahkan dari daratan Aceh oleh Selat Benggala. Selain berbatasan langsung dengan 3 negara yaitu Malaysia, Thailand dan India, Sabang juga merupakan sebuah daerah yang sangat unik bagi Indonesia. 
Hal itu karena di sinilah kita dapat menemukan Tugu Nol Kilometer yang merupakan cikal bakal istilah, "Dari Sabang sampai Merauke". Saat ini Sabang menjelma menjadi destinasi wisata bahari Indonesia yang menawarkan surga bagi para penyelam. Di sini kita dapat menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam untuk menemukan ratusan spesies ikan dan kekayaan terumbu karang alami yang bukan ditanam atau budidaya. 
Perairan di Sabang merupakan tempat bertemunya Samudera Hindia dan Selat Malaka. Saat ini pun Sabang memperlengkapi atraksi wisatanya dengan penyelenggaraan Sabang International Regatta.

Sabang juga mengalami gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, namun karena palung-palung di Teluk Sabang yang sangat dalam mengakibatkan Sabang selamat dari tsunami. Sabang lalu dijadikan sebagai tempat transit udara dan laut yang membawa bantuan untuk korban tsunami di daratan Aceh. 
Sabang terdiri dari lima pulau besar dan kecil, yakni Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Jumlah penduduknya sekitar 26.000 jiwa.


Kampung tengah sudah aman kenyang, sekitar jam sebelas saya memacu motor ke pantai Iboh menuju titik Kilometer Nol Pulau Weh. Berdasarkan petunjuk Google Maps jarak dari titik warung makan ini ke Km Nol di ujung barat adalah 28 Km ditempuh dgn waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan sedang. 

Untuk sampai ke Titik Kilometer Nol memang harus melewati jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun bukit. Namun, perjalanan tersebut tidak melelahkan karena pemandangan kiri dan kanan jalan yang menakjubkan. Birunya laut berpadu dengan hijaunya bukit-bukit. Di sisi kanan berupa hutan perbukitan yang nampak hijau dengan vegetasi yang rapat. Sedangkan sisi kiri terlihat deretan pantai-pantai nan eksotis dan beberapa pulau yang bakal membuat takjub mata yang melihatnya.










trek motor menuju titik nol


Melewati hutan yang cukup lebat. Tak jarang saya menjumpai kawanan monyet-monyet liar di sepanjang jalan di tengah hutan.Kotoran babi hutan juga banyak berceceran di jalan aspal yg mulus. Mungkin karena lagi pandemi jalanan sepi! hanya sesekali berpapasan dgn pengendara motor dari warga lokal. 
Setelah menembus hutan dengan trek berkelok dan menanjak, saya tiba di sebuah gapura bercat biru. Tulisan 'Kawasan Wisata KM O' terpampang yang menandakan avonturir AnggrekJingga21 sudah sampai di Tugu Kilometer O Indonesia.




Monumen atau Tugu Kilometer Nol (KM) ini berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Sesuai dengan namanya, tugu ini menjadi titik paling barat batas wilayah daratan Indonesia. 

Tugu Kilometer Nol ini pertama kali diresmikan pada tanggal 9 September 1997 oleh Wakil Presiden yang ketika itu dijabat oleh Try Sutrisno. Sekitar dua minggu setelah diresmikan, tepatnya pada tanggal 24 September, B.J. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi menambahkan semacam prasasti yang menjelaskan tentang penetapan posisi geografis 0 kilometer Indonesia, yang pengukurannya dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggunakan Global Positioning System.


   




Di sekeliling Tugu terbentang Samudra Hindia. Setelah berkali-kali mengalami renovasi, Tugu Kilometer Nol kini terlihat semakin megah. Menurut prasasti, ketinggian bangunan tugu mencapai 43,6 meter dari atas permukaan laut. Sedangkan desain dari tugu sendiri memiliki beberapa filosofi, seperti empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol batas-batas negara yaitu Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Lalu lingkaran besar yang ada di Tugu merupakan analogi dari angka 0.

Ada pula senjata rencong di tugu, yang menjadi simbol bahwa Aceh juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Segi delapan menggambarkan adanya landasan ajaran Islam, kebudayaan Aceh dan Nusantara yang berpadu dalam lingkup yang luas sesuai 8 penjuru mata angin.


Dari atas tugu hamparan lautan membentang indah. Semilir angin terasa memanjakan tubuhku yang berkeringat untuk berlama-lama menatap Samudera Hindia. Rimbun pohon di bawah dan jalanan nan mulus menambah keindahan lokasi itu.
Sebagai tempat tujuan utama wisatawan di Sabang, Tugu Kilometer Nol sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai yakni musholah, toilet, taman, dan tempat duduk yang jumlahnya cukup banyak.

Saya membuat video pendek dan meminta tolong traveller lain untuk memotret saya dgn beberapa angle di depan Tugu Km 0. Menyambangi toko suvenir yg berderet. Membeli selembar kaos dan mengurus Sertifikat Kilometer 0 dari Dinas Pariwisata Sabang.




Diantara deretan kios suvenir terdapat beberpa ibu-ibu penjual Rujak Krueng khas Aceh.  Rujak Krueng ini sama seperti rujak pada umumnya. Bumbu rujak terbuat dari campuran cabai, garam, gula kelapa, asam, dan kacang tanah. Namun, ada buah lokal yang spesial jadi campuran khas kuliner ini..yaitu buah rubiah. Karena penasaran dengan rasanya, saya dipersilahkan untuk mencicipi rasa buah rubiah ini.


Saya tertarik mencobanya. Untuk membuka buah ini, perlu digeprek karena cangkangnya lumayan keras. Warna luar buah hijau dengan tekstur kulit seperti memiliki sisik atau tonjolan-tonjolan. Ketika dibuka warna dalam buah yaitu kecoklatan dengan tekstur lembut seperti kluwak atau asam. Ternyata....Rasanya?? Oalah.... sepet, pahit gitu deh...buru- buru aku meneguk air kemasan yang kubawa. Hehe...dari bentuknya lucu dan imut sih.






Setelah mencoba rujak krueng saya bergegas ke Musholla dekat parkir motor. Sayang sekali kurang terawat. WC nya kotor, tempat berwudhu kurang nyaman. Setelah sholat musafir dan puas menikmati keindahan Tugu Kilometer Nol, lanjut untk mengunjungi beberapa objek wisata lain Pantai Pasir Putih, Pantai Iboih, kota Sabang. Ketiga objek wisata tersebut sejalan arah pulang ke Sumur  Tiga. Pantai Iboih terletak tidak begitu jauh dari Tugu KM 0, hanya sekitar 15 menit dan jalannya pun menurun. Namun cuaca yang tadinya terik menunjukkan perubahan, mendung mulai menggelayut sementara perjalanan ke kota Sabang bawah masih jauh, belum lagi nanti melintasi hutan, kalau hujan keburu turun tidak ada tempat berlindung, tidak ada kampung...judule bakal kuyup en lepek!


Setengah perjalanan pulang, melintasi hutan belumlah selesai langit makin gelap dan akhirnya menumpahkan hujan lebat di tengah hutan lebat. Motor terus kupacu karena percuma berhenti di bawah pohon di sisi hutan, akan basah juga belum lagi ancaman binatang melata. Setelah melewati hutan saya berhenti di sebuah gubuk kosong bekas warung yg berdiri di bibir tebing menghadap laut lepas. Di bawah sana ombak tampak bergulung-gulung seirama dgn badai hujan, sesekali petir berkelebat. Gubuk ini tampaknya sudah lama tak terpakai, Ngintip gelap, lantai papannya sudah bolong2. 
Sore menggeliat, kalau Harry Potter mengeluarkan tongkat ajaibnya utk minta tolong, aku mengeluarkan dari saku jeans : doa Al Matsurat lipat, membacanya dan mengharapkan pertolongan_Nya. Berharap hujan badai reda karena perjalananku ke kota Sabang masih jauh, tanpa jas hujan lagi.




Ketika hujan melemah tensinya, aku kembali memacu motor untuk kembali ke hostel. Namun tak berapa lama hujan kembali gencar. Aku menepi di sebuah warung kopi dengan view yg indah ke arah laut. Pakaian basah dgn sukses. Dingin. Aku pesan kopi susu.



 


Menjelang maghrib saya tiba di hostel. Hujan di sini sudah reda. Pakaian basah saya jemur di di bawah AC. Setelah sholat musafir, makan nasi goreng, minum obat dan Antangin saya mengistirahatkan bodi yang letih. Tidur. 


Hari ke Dua
Subuh jam 04.00 suara motorku memecah kesunyian. Gelap dan sepi, kupacu motor menuju Masjid Jami Babussalam kebanggaan warga Sabang berjarak 3/4 kilometer untuk sholat subuh berjamaah.




Ba'da sholat Isro' saya balik ke arah hostel dan mampir  di warung kopi  yg menjadi legenda warung kopi di Sabang.
Namanya Kedai Kopi Pantai Jaya. Dimana tak hanya satu jenis kopi saja yang akan kita temui di sini, namun ada beberapa. Diantaranya yakni Sigil, Takengon, dan Tangsi yang berasal dari berbagai daerah. Dalam menu kopi ini kita bisa memilih penyajiannya dalam bentuk kopi sanget, kopi susu + telur ayam, ataupun kopi hitam, semua tergantung dengan selera masing-masing. Yang paling penting semuanya menyegarkan dan nikmat untuk minum. Di warung ini tersedia juga kue2 tradisional Aceh yang beragam dengan harga cuma Rp 1000/bh.


 


Jam 07.00 aku meninggalkan hostel dan memacu kuda besi ke arah Benteng Jepang di Anoi Itam  Destinasi wisata selanjutnya menelusuri wisata sejarah yang ada di Pulau Weh, dimana terdapat sebuah peninggalan Jepang berupa benteng serta bunker.


Benteng Jepang

Dulu, Kota Sabang memiliki posisi geografis yang strategis sehingga tidak heran bila Jepang membangun benteng pertahanannya di sini. Bukan sembarang benteng tapi merupakan benteng bawah tanah. Benteng ini tersebar di area garis pantai Pulau Weh namun yang masih terlihat jelas adalah benteng yang terdapat di dekat Pantai Anoi Itam. Menurut keterangan warga sekitar, benteng ini bahkan memiliki lorong-lorong bawah tanah menuju area yang dulunya menjadi pusat komando.

Menurut sejarah, Sabang digunakan sebagai pangkalan angkatan laut jepang dalam kurun waktu 1942 sampai tahun 1945. Di sekeliling garis pantai dan perbukitan di Sabang, Jepang membangun benteng serta bunker untuk memperkuat pertahanan mereka.

Sampai saat ini benteng dan bunker tersebut menjadi saksi bisu akan cerita sejarah di masa lampau. Saking banyaknya benteng di Sabang, kota ini mendapat julukan Kota Seribu Benteng.

Diantara banyaknya benteng yang ada aku menuju yg terjauh di ujung pulau yakni Benteng Anoi Itam di kawasan Anoe Itam.
Keberadaan benteng dan bunker tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk traveler penyuka sejarah.  Sekitar jam 8 saya sampai. Belum ada pengunjung lain. Tidak ada juga penjaga loket. Saya tak melihat seorangpun. Sepi. Saya naik ke bukit melalui tangga dan melewati beberapa lorong bunker dengan pohon2 besar yang akarnya melintir mengingatkan akar pohon di Angkor Wat Cambodia. Aura magis cukup terasa dalam kesendirianku, yg terdengar hanya deburan ombak di bawah dan suara serangga dipepohonan. Aku melangkah ke dalam benteng intai ukuran 4 x 3 m. Sebuah meriam dengan laras ke arah pantai berada di tengah. Dibelakang meriam ada pintu kiri kanan ke terowongan seukuran badan manusia kate. Aku menengok ke dalam gelap dan dingin. Aku bergumam menyebut nama Allah dan sholawat. Aku keluar dari benteng dan menatap dari arah luar ke jendela benteng di mana meriam dalam posisi siap tembak. 

Sejenak aku duduk dibangku. Menikmati sepi, semilir angin dan deburan samudera Hindia membawa imajinasi melayang melewati lorong waktu menikmati nuansa Perang Dunia ke II. Apalagi dihiasi dengan panorama alam yang sangat indah. 















Puas berimajinasi nuansa Perang Dunia ke II belum juga ada orang / pengunjung lain. Aku menuruni bukit melanjutkan memacu Jupiter ke Pantai Iboih sekitar 30 km. 
Tiba di jalan by pass Cot Ba'u  mampir restoran Lambaro Na Jaya, masakan khas Aceh Besar. Aku makan menu ikan hiu dan acar udang mentah. Seperti biasa, sebagai local guide level 6 aku bikin video untuk Google Review tentang rumah makanan ini. Mudah2an riview dariku bisa meningkatkan rating rumah makanan ini sehingga makin banyak traveler yg mampir makan di sini.






Pantai Iboih

Pantai Iboih sudah menjadi ikon dari Kota Sabang. Pemandangan pantai yang memukau selalu bisa menarik perhatian pelancong untuk singgah. .
Kabarnya pantai ini memang sangat ramai di hari libur. Namun saat saya tiba suasananya datar2 saja kalo gak mau dibilang sepi. Pandemi memang melibas semua bidang usaha. Tujuanku kesini untuk snorkeling di Pulau Rubiah. Fasilitas untuk snorkeling dan diving disediakan. Harga sewanya Rp40.000 per orang (aku membawa peralatan snorkeling pribadi)). Pengunjung bisa snorkeling di laut dangkal sekitar pantai pulau. Bisa pula menyewa sampan untuk menuju titik selam yang lebih dalam.

Untuk menyeberang ke pulau Rubiah kita mesti naik boat bertarif Rp 100K pp dgn maks penumpang 4 orang. Jadi kalo share cost Rp 25K/orang. Karena sepi jadi cukup lama saya menunggu traveler lain yg akan menyeberang ke Pulau Rubiah. Tetiba muncullah sepasang anak muda ehmm..pucuk dicinta ulam tiba, bersepakatlah kami share cost menyeberang ke pulaunya Ummi Siti Rubiah.  


  




Pulau Rubiah

Tidak lengkap rasanya jika ke Sabang tanpa melakukan island hopping. Salah satu pulau yang wajib dikunjungi adalah Pulau Rubiah. Nama Pulau Rubiah ternyata di ambil dari nama Cut Nyak Rubiah karena makamnya terdapat di pulau iniDestinasi wisata yang bisa ditemui di sini tidak lain adalah Taman Laut Rubiah yang menghadirkan pesona kekayaan alam bawah laut terindah di Sabang. Meski tidak berpenghuni tapi sudah cukup banyak warung dan tempat penyewaan alat-alat snorkeling yang tersedia di sekitar pantainya. Untuk menuju ke sini kita  menyebrang dari Pantai Iboih dengan waktu tempuh kurang lebih sekitar 30 menit.




Pulau Rubiah dijuluki sebagai "surganya" para penyelam. Taman lautnya menawarkan keindahan yang memesona. Kamu bisa menemukan berbagai macam spesies ikan tropis, seperti 
angel fish, gigantic clams, dan lion fish.

Kamu gak harus punya lisensi menyelam, kok. Terdapat banyak spot diving yang aman digunakan bagi penyelam pemula sekali pun. Keindahan bawah lautnya dijamin bikin betah!


Goa Sarang

Trip selanjutnya mengunjungi Gua Sarang, yang terletak di kaki tebing dan perbukitan Hutan Lindung Pulau Weh.
Disekitarnya terdapat 5 buah mulut gua yang semuanya menghadap ke arah laut. Sebelum mengeksplor gua kita harus menuruni bukit terlebih dahulu, tangganya cukup curam dan untuk lututku yg sudah terpapar arthritis sejak turun dari Galunggung, medan ini cukup bera. Kepikir entar naiknya. omaigad! Jalan menuju gua dapat ditempuh melalui tepian tebing yg bebatuan dan licin. Siang yg sepi ini air laut cukup tinggi dan merendam jalan setapak ke Gua Sarang. Bisa juga dengan menyewa boat sebesar Rp 300K max 6 orang tapi sesepi ini, tukang perahu juga tak tampak batang hidungnya. Mungkin ia lelah menungggu tak ada orang. Akhirnya batal deh melakukan penjelajahan di dalam gua.

Selain mengeksplorasi Gua Sarang, kita juga dapat melihat indahnya pemandangan laut biru serta rimbunnya perbukitan. 
Ada beberapa ayunan yang menghadap langsung ke arah birunya laut, yang bisa digunakan membuat foto Instagramable berayun-ayun di ketinggian yang cukup membuat jantung deg-degan.
                          









Pantai Pasir Putih Keuneukai

Sebelum melanjutkan perjalanan saya memeriksa jarak dari Gua Sarang ke Pantai Pasir Putih via Google Maps, 10.2 Km. Saya tanya ke petugas di loket tentang medan jalan arah ke desa Keuneukai. Bapak itu bilang jalannya bagus dan melintasi hutan yang banyak monyet dan babi hutan. Beliau memberi tips agar pulang dari sana sebelum gelap, gak ada lampu jalan dan babi hutan berkeliaran. Kalo terlanjur gelap putar arah lebih jauh. Benar saja saya beberapa kali bertemu kawanan monyet di tepi hutan....

Apa yang dicari traveller datang ke Pantai Pasir Putih di desa Keuneukai ini?  untuk menikmati nuansanya yang tenang dan menyegarkan. Formasi pohon berada dekat dengan garis pantai, menambah suasana nyaman ke lokasi. Itu berarti pengunjung dapat duduk di bawah pohon dan menyaksikan pemandangan laut yang menakjubkan di cakrawala. Bahkan suara ombak memberikan suasana santai ke pantai. Hal yang baik adalah ombak dianggap aman bagi traveller untuk berenang. 

Hal berikutnya yang harus dilakukan di Pantai Pasir Putih Keuneukai tidak lain adalah berjalan di pantai. Pasir hangat dan menakjubkan menanti semua orang. Ada sedikit kekurangan, tekstur pasirnya tidak cukup lunak karena adanya beberapa kerikil. Dalam hal ini, wisatawan harus mempertimbangkan mengenakan sandal saat menjelajahi daerah tersebut. 


Fakta lain yang mengesankan  adalah adanya fasilitas yang dapat diandalkan di pantai ini seperti toilet, musholla dan penjual makanan kecil, kelapa muda dan tentu saja kopi Aceh!.  


                                       












Kembali ke Banda Aceh

Subuh terakhir di kota Sabang, sholat di masjid Babuttaqwa, lanjut ke kedai kopi Pantai Jaya. The Last Coffee sebelum meninggalkan Sabang dgn penuh kesan. Setelah mengembalikan motor Jupiter ke parkiran saya ke loket ferri cepat express ke Aceh cuma 45 menit.






Pelabuhan Ulhee leue


Tiba di pelabuhan Ulhee leue Banda Aceh saya dijemput Pak Udin Hasibuan, ojek yg saya charter sebelumnya. Di atas boncengannya saya mencari hotel via aplikasi RedDoors. Nemu hotel syariah Capsul. Saya langsung kesana, setelah proses check in bersama pak Udin kami city tour menuju destinasi lokasi legenda tsunami.


Simpang Lima

Museum PLTD Apung




PLTD Apung

Bayangin saja ..kapal PLTD Apung segede alaihim bisa terseret jauh masuk perkampungan







SS, Sejarah Seulawah


Masjid Rahmatullah Lampu'uk

Merupakan sebuah masjid yang terletak di Lampuuk, Aceh Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1990 dan selesai pada tahun1997. Masjid yang terletak 500 meter dari pantai ini masih berdiri setelah diterjang tsunami pada tahun 2004, meski tak benar-benar utuh. Masjid ini kemudian direnovasi dengan dana bantuan dari Bulan Sabit Merah Turki.

Turki memang punya ikatan sejarah dengan Aceh. Dulu kala, Turki pernah membantu Aceh membangun tentara laut yang tangguh. Di Aceh pula terdapat makam yang diyakini mlik ahli perang asal Turki Ottoman.

Pada 26 Desember 2006, Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Ali Sahin, bertandang ke Lampu’uk untuk meresmikan berbagai fasilitas yang dibangun Bulan Sabit Merah Turki dalam acara yang berpusat di halaman Masjid Rahmatullah.



Saksi bisu kedahsyatan tsunami


A Lone mosque stands among the damage of a coastal village near Aceh, Sumatra, Indonesia



Saat saya berkunjung 4 Juni 2021


Saya dan Pak Udin, Ojek baik hati

                             


Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Ketika tsunami dan gempa terjadi satu-satunya bangunan tersisa adalah masjid Baiturrahim padahal letaknya hanya terpaut sekitar 300 meter dari bibir pantai. Empat dusun di wilayah itu hilang ditelan gelombang, dengan 6 ribu penduduk di dalam dan sekitarnya menjadi korban.
Masjid ini menarik perhatian karena masih bisa berdiri tegak, sementara bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Meski masih berdiri kokoh, masjid ini sempat ditelan tsunami. Air masuk ke dalam masjid hingga ketinggian 20 meter.


  

 



Mesjid Raya Baiturrahman Aceh

Kota Banda Aceh porak poranda di pengujung tahun, tepatnya 26 Desember 2004. Gelombang tsunami menyapu seluruh isi ibu kota provinsi Aceh ini. Gemuruh teriakan zikir terdengar di setiap sisi.

Pagi itu, warga berhamburan di jalanan menyelamatkan diri. Ibu-ibu berlari sambil menggendong bayinya, hingga mereka yang berpisah dengan anak, suami, dan istri.

Gempa bumi berkekuatan 9,1 magnitudo disusul tsunami melanda Aceh 14 tahun lalu, tercatat sebagai bencana alam terdahsyat sepanjang abad ke-20. Lebih dari 200 ribu jiwa menjadi korban dalam musibah tersebut. Bahkan hampir seluruh bangunan ikut tersapu dan rata dengan tanah.

Di tengah porak porandanya pusat ibu kota Aceh itu, Masjid Raya Baiturrahman ikon kebanggaan masyarakat Aceh ini, masih berdiri kokoh. Meski di sekelilingnya dipenuhi lumpur dan puing-puing reruntuhan akibat hanyut dibawa air. Masjid ini, menjadi saksi bisu keganasan gelombang tsunami menggulung bumi Serambi Makkah.














Situs Kapal Apung Lampulo

Kapal Lampulo dan sebuah rumah menjadi saksi bisu tentang maha dahsyatnya tsunami yang menimpa Aceh. Bukan rumah biasa sebab di atas rumah tersebut ada sebuah kapal. Kapal ini dulu saat Tsunami mampu menyelamatkan 59 orang yang terombang-ambing oleh banjir besar.Oleh masyarakat sekitar dan pemerintah setempat, kapal yang berada di atas rumah tersebut tidak diturunkan atau di renovasi. Namun, dibiarkan begitu apa adanya sejak terkena musibah hingga saat sekarang. Dijadikan wisata sejarah. Jadi setiap orang bisa melihatnya. Termasuk saya.Nah, saya ingin melihat kondisi rumah yang di atasnya ada kapal tersebut. Sekalian untuk bertafakur dan muhasabah diri. Mengenang kejadian tsunami yang bukan saja membuat luluh lantak Aceh, namun juga mengetarkan seluruh umat manusia di dunia.








Kembali Ke Jakarta via Medan

Perjalanan mengeksplorasi Sumatera Timur mendekati akhir. Setelah sholat jumat di Msjid Baiturrahman saya kembali ke RedDoors mengemas pakaian lalu check out ke Terminal Batoh untuk naik bus JRG menuju Medan.




Meninggalkan Aceh menuju Medan dgn Bus JRG


Bus meninggalkan terminal Batoh jam 17.00 tepat. Bus yang nyaman dan body yang penat membuat saya cepat tidur. Bangun tengah malam untuk pipis di kolong bawah double decker. Tiba di kota Beureunuen bus berhenti di sebuah pasar untuk makan malam. Lanjut tidur sampai kemudian dibangunkan crew JRG untuk sholat subuh di sebuah masjid kota Tanjungpura.

Sekitar jam 7 pagi bus merapat di pool di kawasan Sunggai Ring Road Medan. Dengan naik Grab saya ke RS Siti Hajar untuk screening Antigen. Ya Allah mudah2an hasilnya Negatif. Jangan sampai dikarantina di Medan!. 
YEEEYYY...status Negative. Sebelum ke airport Kuala Namu aku mau jalan2 dulu sampai siang

 
TransDeli Medan

Rumah Tjong A Fei, Konglomerat jaman baheula








Tentang Medan bisa dilihat di blog sebelumnya : Andalas Undercover (avonturir thn 2010).
Hari sudah sore aku meluncur ke Kuala Namu dan terbang kembali ke Jakarta. 
Alhamdulillah ... tiba di Anggrek Jingga 21 dengan SS, Selamat Sentausa..hehe

        "Traveling - it gives you home in thousand strange places, then leaves you a        stranger in your own land" (Ibn Batuta)

                                                                        S E L E S A I


SABANG ACEH Kembara C-19 Menuju Titik Nol NKRI SABANG ACEH Kembara C-19 Menuju Titik Nol NKRI Reviewed by Sofyan Saleh on Juli 04, 2021 Rating: 5

1 komentar

  1. Muhibah Ziarah religi yang dikemas bungkus dengan mental nasionalisme yang tinggi yang menempatkan DIRI selalu ingat dan meng_ingat IĹÀÌHÌ *ALLAH* dimanapun berada bersama siapapun sedang apapun dan dalam keadaan bagaimanapun DZIKRULLAH telah mampu melebur dalam DIRI [MAta TElinga Hati Akal Tangan kakI MUlut] 7 lahiriah dan 7 bathiniah, latiful [QalbyRuhy Sirri Aghfa Nafsun Nathiqà Kahfì Kullu Jasad berproses mengiringi semua.
    Semoga para petugas JALAN LURUS_NYA selalu menyertai DIRI dengan terjaganya rahmat_NYA di DIRI. Aamiin YAA RABBAL 'ALAMIN 🙏

    BalasHapus

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!