PATTANI - KRABI Kembara C-19 Rumpun Melayu

 

Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.

Sewindu sebelum Maret 2020 saya membeli tiket pesawat untuk jelajah avonturir dengan rute eksotis yaitu KL - Beijing – Xi’an balik via KL. Saya melakukan riset tentang destinasi wisata, transportasi kereta/bus, guest house dan kulineran untuk penyusunan detail rencana perjalanan (cost & itinerary).

                    

Tanggal 16 Januari 2020  mulai mengurus Permohonan Visa ke Kedubes China di Mega Kuningan. Saat itu issue virus di Wuhan China sedang menggguncang dunia. Banyak Negara sudah membuat travel warning agar warganya menghindari ke China. Sepekan kemudian dapat kabar permohonan Visa saya ditolak, bukan karena peristiwa Wuhan tapi karena saya salah dalam menulis kosakata China dengan "Cina" di form aplikasi. Menurut petugas Kedubes, kata “Cina” itu bersifat rasis. Padahal hanya 1 kata “Cina” yang typo, yang lain sudah sesuai ejaan yg benar. Hangus deh tuh duit 500 ribu. Saya diminta mengulang registrasi dan menulis yang salah itu dengan “China” . Saya sempat protes bahwa saat aplikasi diajukan ke counter, kan petugas memeriksa dan membaca semua dokumen (foto, KTP, dsb). Berarti staf Kedubes yang memeriksa dokumen aplikasi kurang jeli!. Hallaah..mengulang berarti bayar lagi dong 500 ribu. Dasar kapitalis!.

Setelah registrasi ulang, akhirnya tgl 31 Januari Visa saya disetujui dengan No. M0553775. Berlaku sampai 30 April 2020. Alhamdulillah ala kulli hal…


Ndilalaahh…pekan pertama Februari 2020 makin banyak Negara yang mengeluarkan travel warning. Maskapai penerbangan ramai-ramai menghentikan sementara penerbangan ke China sampai waktu yg tidak ditentukan.Virus corona Covid-19 menyebar dengan cepat ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali negara-negara tujuan para wisatawan, seperti China, Singapura, Korea, Jepang, hingga Italia.

Dilema pun datang bagaimana dengan tiket pesawat yang sudah saya  beli sejak jauh-jauh hari? Urus Visa yang cukup menghabiskan energy bolak balik Kedubes?. Haruskah membatalkan perjalanan?

Karena ke China resmi dilarang, suka tak suka ..dengan hati gundah gulana saya menghubungi maskapai Air Asia untuk membatalkan tiket  dari Kualalumpur ke Beijing dan dari Xi’an ke Kualalumpur. Alhamdulillah karena ini kebijakan Government maka tiket bisa direfund. Bagaimana dgn tiket Jakarta – Kualalumpur PP? belum bisa direfund karena belum ada kebijakan dari Government. Buat saya no problem, tinggal merubah rute perjalanan saja. Saya memutuskan untuk menjelajah negeri Puak Melayu. Riset lagi dan merubah itinerary dengan tujuan baru KL- Hatyai – Pattani – Krabi lewat darat / overland. 

Dilansir dari CNN, disebutkan bahwa risiko penularan virus corona Covid-19 tertinggi berada pada pelancong lanjut usia dan pelancong dengan masalah kesehatan. Jadi, jika  tidak termasuk dalam kategori yang disebut, sebenarnya tak perlu khawatir. Saya merasa berada dalam kondisi sehat dan fit, boleh saja melakukan perjalanan…hehehe pede doong!

Di tengah situasi virus corona yang merebak  saya tetap merealisasikan rencana perjalanan. Membawa bekal tambahan di ransel yaitu masker + minyak kayu putih.



1 Maret 2020 jam 10.00 WIB masuk bandara Soeta tanpa kendala, pemeriksaan belum ketat, Pemerintah RI masih ngentengin haha.. Akhirnya terbang ke KL dan landing dengan mulus di KLIA2 Sepang Malaysia jam 13.25 waktu setempat.

Selesai sholat musafir di bandara KLIA, saya ke KL Sentral dgn bus (12 RM). Lanjut shuttle bus GO KL yg gratisan ke Bukit Bintang. Cari makan siang street food yg enak dan murmer. Jalan Alor menjadi salah satu pusat kuliner favorit di KL. Lokasinya di belakang Jalan Bukit Bintang yang menjadi destinasi buat para penggemar wisata belanja. 


                             






Around around sampe pegal. Jalan…brenti…jajaan. Jalaan…brentiii liat street music di simpang McD dgn music pop. Sudah itu jalaan lagi…. brenti lagi di simpang berikutnya menonton sajian music Top 40. Menikmati permainan musisi jalan yg professional sambil mengamati kalo ada perempuan keceh, baik orang lokal maupun turis bule heheh..

Menjelang maghrib di Petronas saya bergegas ke stesen MRT untuk ke Terminal Bersepadu Selatan. Lalu ke konter tiket bus express Kesatuan untuk menukar voucher bus yang kubeli 18 Februari 2020 lalu via EasyBook.com seharga MYR 63. Lanjut ke Surau sholat musafir. 

Bepergian seorang diri itu memerlukan mental dan keyakinan diri yang kuat. Apa yang menguatkan? Ya kita masih punya Allah SWT, jadi nggak perlu takut. Selama perjalanan jangan pernah meninggalkan sholat. Mintalah perlindungan pada Allah. Niscaya bila dalam kesendirian kita mengalami kesulitan, akan ada bantuan-bantuan tak terduga. Toh di dunia ini orang baik masih mendominasi kok.

Bus yang akan kutumpangi ke Hatyai jadwal berangkatnya jam 20.00. Masih ada waktu untuk menunggu sambil melihat-lihat keadaan terminal terpadu yang luas banget ini.


Kumpulan Doa di saku jeans

Naik ke lantai 2 untuk makan di kedai / foodcourt. Menikmati makan malam mie karee dan teh tarik.

                             


Pukul 20.00 di ruang tunggu  pelepasan bus…lewat 10 menit…lewat 30 menit…45 menit..21.00.. halah ngaret juga nih jadwalnya. Kantuk mulai menyerang.

Pukul 22.00 bus Kesatuan Express baru datang itupun parkirnya di platform sebelah. Portir mengatur koper2 ke bagasi. Hanya membawa ransel punggung, saya langsung naik ke bus yang gak penuh. Ransel kuletakkan di seat sebelahku. Joknya empuk dan jarak antar bangku cukup lapang. Setiap penumpang dibagikan selimut dan air mineral. AC-nya dingin banget sehingga saya matikan, biar udara sejuk mengalir dari samping dan depan saja. Tak perlu waktu lama setelah bus meninggalkan TBS saya langsung molor dengan sukses.

Menempuh perjalanan ke negeri Gajah putih bagian selatan ini sekitar 9 jam. Melewati perbatasan kedua negara Malaysia di Bukit Kayu Hitam dan Thailand di Sadao. Kalau dari wilayah Malaysia  ke Thailand waktunya lebih lambat satu jam dan arah sebaliknya, waktunya lebih cepat satu jam.

Melintasi Imigrasi Malaysia sekitar jam 02.00 dinihari lancar-lancar saja. Berbeda dengan Imigrasi Thailand. Di sini  terjadi antrian panjang, sehingga waktu tempuh ke Hatyai jadi molor. Antrian mengular ini disebabkan adanya skrining Covid 19 dengan pemeriksaan suhu tubuh secara ketat menggunakan thermo gun. Pelintas batas yang suhunya di bawah 37° keluar ke kiri, yang suhunya melewati 37°C dibelok ke kanan..quarrantine? wadduh gawat! Matemija!.

Makin was-was rasanya karena seorang Chines tua yang berada dibelakangku sering bersin dan bau minyak angin yg menyengat, maskernya sudah kucel. Saya merangsek ke depan menjaga jarak dan berdzikir..

Tiba saatnya melewati proses pemeriksaan sidik jari dan skrining suhu, petugas imigrasi yg air mukanya kecut matanya tajam meminta saya keluar lewat pintu keluar kiri…Alhamdulillah, Allahu Akbar! Legaaaaaa….kuatir dipanggil lagi petugas imigrasi saya berlari-lari kecil melewati lorong ke luar secepatnya. Langsung cari toilet, pipis akibat dibuat stress pak tua & skrining ! Lepas hajat langsung naik ke bus lagi…Ugh! Alhamdulillah lolos…

Borderline imigrasi @ Sadao Thailand

Sekitar jam 06 pagi bus tiba di Hatyai dan menurunkan penumpang di depan Pusat Perbelanjaan Lee Garden.

Provinsi Pattani

Saya mencari tau cara ke terminal bus utk ke Pattani dgn bertanya pada beberapa orang, ya beberapa org karena kendala bahasa - sampai menemukan org yang bisa memberikan penjelasan. Dan orang itu adalah perempuan Melayu berparas cantik berhijab pemilik Restaurant Salma. Setelah bincang kepo, beliau memanggilkan tuktuk, bernego lalu memberitahu : berapa ongkos yang harus kubayar. Wah betapa senang  dengan keramahan Mak Cik.

Tiba di terminal, minivan Hiace yang akan ke Pattani sebentar lagi berangkat. Saya membeli tiket di loket seharga 120 Baht. Belum sempat sarapan karena minivan segera berangkat. Di ransel masih ada persediaan air minum dan biscuit.

 

Perjalanan ke kota Pattani kata sopir yang Muslim sekitar 2 jam.   Sebelumnya saya selalu mengira kalau Pattani tidak aman, sebagaimana yang dilansir berbagai media bahwa sering ada bom meledak di berbagai tempat, baku hantam dan sejenisnya. Namun hal itu tidak mempengaruhi tekadku ke Pattani. Nyawa urusan di Atas. Ikhtiar jalan terus. Pantang phinisi balik badan hanya karena ombak besar, kualleanna tallanga na towalia...

Jangan heran, untuk memasuki Pattani banyak penjagaan oleh militer bersenjata lengkap. Posnya dikelilingi tumpukan karung pasir dan mobil Barracuda yang siaga di posisinya. Kalau naik minivan tampak aman-aman saja. Sebab kendaraan umum tersebut sering mondar-mandir Hatyai - Pattani. Lagi pula  wajahku mirip wajah orang Thailand. Di setiap pos, minivan hanya berjalan pelan zig zag diantara traffic cone dan membuka kaca jendela. Kalau ada aktifitas yang mengundang perhatian, kemungkinan bakal diperiksa. Itulah Pattani yang tampak bebas tapi sesungguhnya berada dalam pengawasan setiap saat.

Memasuki Pattani badan saya terasa letih, lepek/kumal, perutku lapar dan mual. Badan agak demam. Penumpang2 sudah turun di beberapa tujuan sampai saya tinggal sendiri. Di depan Universitas Songkhla makin terasa mual dan pening. Sopir bertanya mau diantar kemana. Saya minta diturunkan di Pattani Central Mosque. Tak jauh dari kampus Songkhla. Turun di seberang masjid ingin mencari makan tapi saat menyeberang mual makin kuat. Saya berlari menyeberang jalan ke masjid. Di tepi jalan saya tak kuat lagi menahan dan muntah-muntah hebat di pepohonan pagar masjid. Ada kecemasan yang menyelimuti : virus Covid kah? Semoga bukan. Ya Allah, kepada_Mu saya menyerahkan takdir hidupku. Semangat bombang tallua!

Saya masuk ke pelataran masjid. Rebahan melepaskan letih, minum Antangin & Parasetamol kemudian ke peturasan untuk mandi dan wudhu.


Masjid Raya Pattani (Pattani Central Mosque)

Masjid ini diakui sebagai masjid paling indah di Thailand. Terletak di Jalan Yarang, distrik Mueang. Pemerintah Thailand pada tahun 1954 menyetujui anggaran untuk pembangunan masjid ini. Butuh sembilan tahun untuk pembangunan masjid megah ini, yang selesai pada tahun 1963.




Tanggal 21 Oktober 1993, pemerintah merenovasi masjid ini. Masjid terdiri dari bangunan dua lantai dan bentuk arsitekturalnya terlihat seperti Taj Mahal India. Memiliki kubah besar yang dikelilingi oleh 4 kubah yang lebih kecil. Ada dua menara di kedua sisi bangunan. Terdapat sebuah kolam besar di depan masjid. Di dalam masjid, ada ruang sholat besar dan koridor panjang. Masjid ini  diakui sebagai simbol Pattani.

Mesjid ini serasa mengobati hati dari rasa iba hati terhadap kehidupan Muslim Melayu di wilayah Thailand Selatan. Saya membayangkan suasana yang identik dengan kebekuan dibawah kekuasaan negara yang berkeyakinan lain, ternyata berbeda dengan kenyataannya. Saya turut merasakan bahwa mesjid menjadi makmur karena ada yang meramaikannya. Suasana lingkungan mesjid mencerminkan peradaban Islam dan dalam tatanan kehidupan masyarakat di sana juga terjaga baik. 

Mandi, ganti pakaian dan sholat membuat badan terasa mulai segar.  Aku menggendong ransel mencari makan. Tak jauh dari samping masjid ada warung tenda. Pemiliknya wanita berhijab, wajah khas Thai, kulit putih, wajah tirus. Taksiranku usianya sekitar 40 tahun. Saya pesan makan nasi + ikan + sayuran dan teh Thai panas.

Sambil makan saya bincang2 Tarzan dengan pemilik warung dgn bahasa Melayu dialek Makassar, dia bicara Melayu dialek Satun Thailand sesekali campur Inggeris. Sesekali meledak tawa renyah karena kebingungan makna. Dia menanyakan saya dari mana, mau kemana dan apakah ada keluarga di sini? Seperti biasa di perjalanan avonturir lainnya, jawabanku membuat penanya terperangah. Dari Indonesia? Sendirian?. Setelah makan kusampaikan akan ke Masjid Raja Fatoni dan Masjid Krue Se. Saya tak bisa menggunakan Google Maps karena sejauh ini berjalan saya belum beli paket data… saya menyukai sensasi pepatah lama "malas bertanya sesat dijalan" maka bertanyalah hehehe …

Lagi-lagi perEmpu-an ini membantu saya dengan memanggil seorang bapak di depan warung sembako. Mereka berbicara dalam bahasa Thai. Saya menyimak, rada mengerti bahwa ibu ini sedang menolongku membantu nego dgn orang itu untuk mengantarkanku ke dua tempat tersebut. Gagal. No deal. Beliau memanggil pria lainnya. Alhamdulillah…tampaknya deal. Perempuan yang manis dan baik hatinya ini mengatakan bahwa saya bisa diantar ke tujuanku dengan ongkos ojek 60 Bath. Sebelum pamit saya membayar makanan saya, lebih dari yang semestinya.

“Berapa Mae?” (Mae = Ibu dlm bhs Satun)

“15 Bath sahaja (IDR 6.650)”

“Hah tidak salah, very cheap..murah sekali Mae?”

“Special price for you coz musafir moslem..hati hati”

Lihat, orang baik ada di mana2, belakangan saya membaca di komunitas backpacker ongkos ojek utk tujuan yg sama itu sekitar 200 Bath. Subhanallah, mudah2an rejeki Mae terus mengalir penuh berkah, mudah2an warung tendanya kelak bisa pindah ke ruko. Aamiinn..

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa mayoritas muslim Pattani berbicara bahasa Melayu dengan dialek yang sedikit berbeda dengan Melayu-nya orang Malaysia. Mereka selalu bangga menyampaikan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Malaysia. Sebagian juga fasih berbahasa Inggris. Namun untuk percakapan sehari-hari mereka berbahasa Thai.

Pattani yang berada di sebelah selatan Thailand ini bersama Yala, Narathiwat dan Songkhla adalah kota-kota kecil dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Dahulunya ada kerajaan Islam Pattani yang kemudian ditundukkan oleh kerajaan Siam (Thailand) tahun 1785.  Sekian lama masyarakat muslim Pattani merasakan perlakuan yang tidak adil karena itu muncul kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Thailand. Inilah asal muasal sering terjadi kasus pengeboman atau penembakan dengan sasaran para polisi atau tentara.

Namun sekitar 30 tahun terakhir, muslim Pattani memilih berjuang dengan cara lain. Mereka membangun lembaga pendidikan berkualitas, mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi, juga menguatkan berbagai lembaga sosial termasuk membangun Rumah Sakit skala nasional. Tahun 2013 lalu mereka membangun komplek Darul Iman Madinah Al Salam perumahan yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan, masjid, pusat perbelanjaan dan rumah sakit. Mereka mengirimkan mahasiswa-mahasiswa untuk sekolah ke luar negeri serta memberikan beasiswa-beasiswa untuk mahasiswa asing untuk belajar ke Prince of Songkhla University.

Jadi jangan mengira para muslim di Pattani tertindas, miskin, tidak berpendidikan, mereka justru menampilkan dirinya sebagai keluarga-keluarga mandiri, banyak yang menjadi pengusaha makanan, minuman, pemilik kedai makan bahkan pom bensin besar. Banyak muslimah yang berprofesi sebagai dokter, dosen, peneliti, dan lain lain.


Masjid Krue Se.

Masjid ini dibangun pada tahun 1538, tapi tidak pernah selesai karena perebutan kekuasaan antara Sultan Pattani dan saudaranya. Nama resmi Masjid Krue Se disebut pula “Masjid Sultan Muzaffar Shah”. Inilah masjid yang pertama di Asia Tenggara yang dibangun dengan menggunakan bata merah buatan kampung Tarab Bata (sekarang Mukim Gamia, Muang, Pattani).

Ornamen langit2 dari kayu




Masjid ini dibangun pada zaman Sultan 
Muzaffar Shah  berdasarkan rekomendasi Syeikh Shafiyuddin Al-Abbas (ulama Fiqih yang digelar Dato ‘Faqih Kerajaan). Setelah selesai pembangunannya, Masjid Krue Se ini dianggap sebagai Masjid Resmi Kerajaan Melayu Pattani Darussalam. Selain berperan sebagai tempat ibadah, di sini juga dijadikan pusat urusan agama Islam.

Semula saya berpikir ketika melihat keadaan mesjid ini. Apakah karena ketiadaan dana kah ? Ternyata tidak. Pembangunannya berdasarkan arsitektur Timur Tengah dan Eropa. Cara penyusunan batanya dilakukan dengan menggunakan campuran kulit kerang dengan beras ketan hitam yang ditumbuk lumat kemudian dicampur bahan tersebut dengan adonan telur putih dengan manisan cair. Cara ini merupakan salah satu kearifan lokal Melayu pada masa itu. Hingga kini bangunan yang ada tetap dipertahankan untuk pelaksanaan sholat 5 waktu.


Masjid tak berkubah ini (akibat serangan militer) terletak di Kampung Krisek dan berada dalam mukim Tanyong Lu Lo, sekitar 7 km dari pusat kota Pattani sekarang.  

Seorang perantau asal Cina bernama Lim Tau Khiang ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan masjid tersebut. Sumber sejarah lokal mencatat, Lim Tau Khiang telah lebih dulu masuk Islam dan berkhidmat sebagai seorang prajurit pilihan di Kesultanan Pattani.


Masjid ini adalah saksi bisu ketika pejuang muslim Pattani menjadikannya sebagai benteng pertahanan saat melawan serangan pasukan Siam dalam empat pertempuran yang terjadi pada tahun 1603, 1632, 1634, dan 1638. Masjid Krue Se  berkali-kali menjadi sasaran serangan prajurit Kerajaan Siam karena masyarakat setempat menjadikannya sebagai pusat gerakan.

Yang menyedihkan dari laman LBH Jakarta saya peroleh info, bahwa pada tanggal 28 April 2004, Militer pernah menyerbu masjid Krue Se setelah pengepungan selama tujuh jam.. Terjadi pembantaian 32 gerilyawan Muslim oleh militer Thailand. Pembantaian Krue Se salah satu penyebab krisis Thailand Selatan yang berlanjut hingga hari ini. Serangan itu telah menjadi subjek penyelidikan internasional yang menyimpulkan penggunaan kekuatan militer yang berlebihan

Selepas Shalat Dhuhur kami saling bersalaman dan berbincang dengan jamaah dan imam masjid. Cerita singkat sejarah masjid dari imam saya dengarkan dengan seksama.

Imam Masjid
Kembara Anggrek Jingga


Di sini saya merasakan  sekali ketulusan dan kehangatan persaudaraan muslim..  mereka memiliki karakter yang khas : sikap santun, rendah hati, namun akrab dan sangat tulus dalam melayani tamu.
Sebagai tanda tali ikatan silaturahmi, saya memberikan Pak Imam suvenir sarung Bugis yang saya bawa dari tanah air. Senyum bahagia dari Pak Imam dan yang lain membuat saya terharu. In shaa Allah mudah2an ada takdir ke sini lagi.

Masjid Raja Fathoni

Masjid yang terletak di Chabangtiko, Mueang Pattani District, Pattani  merupakan sebuah warisan yang mengingatkan kepada masyarakat Patani di zaman pemerintahan raja-raja Melayu Patani yang pernah mencapai masa keemasan dan sebagai lambang perjuangan raja-raja Melayu Patani pada masa lalu.

 



Masjid ini asalnya dibangun dengan menggunakan kayu pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad (1845 – 1856), yaitu salah seorang kerabat diraja Kelantan yang diangkat menjadi Raja Patani. 
Setelah itu, masjid  direnovasi atau diubah bangunan menggunakan batu pada zaman pemerintahan Tengku Putih (1856 – 1880), yaitu anak kepala Sultan Muhammad.

Di ujung siang saya melangkah ke Terminal Pattani untuk kembali ke Hatyai. Dalam perjalanan kembali ke Hatyai para pelintas antar kota bisa merasakan dan menyaksikan kekuatan militer ditempatkan pada jarak tertentu. Ada tentara lengkap dengan persenjataan serta tumpukan karung pasir. Agak berlebihan bila kendaraan yang melewati pos tentara Thailand  harus berjalan zig-zag melewati pos penjagaan.



Tiba sore  di terminal Hatyai. Saya ke seberang terminal  membeli tiket mini van ke Krabi magrib ini (290 Bath). Rasa penasaran dengan perEmpuan Melayu yang pagi2 tadi membantu memanggilkan songtheaw/, maka kuputuskan kembali ke Restoran Salma untuk ngopi, makan dan kenalan. Turun di depan Lee Garden Plaza di Prachathipat Road, lalu menuju Restoran. Di dalam resto yg cukup besar itu hanya saya pengunjungnya. Setelah pesan kopi dan nasi goreng saya menanyakan Mak Cik tadi kepada mbak Pramusaji. Keterangan dari Pramusaji Mak Cik hanya datang pagi hari mengecek persiapan buka resto. “tolong sampaikan ya rasa terimakasih saya” kataku kepada Kasier sebelum melangkah ke Lee Garden untuk membeli paket data internet. 



Kopi. Ransel. Jeans belel : Rest & Relax.


Melangkah masuk ke mall, Satpam sigap melakukan prosedur skrining C-19. Mampir di gallery Hp yang SPG nya seorang gadis berhijab yang sangat cantik dengan pipi kemerah-merahan. Wah kalo di Jakarta sudah direkrut nih sama talent scout. Gadis Melayu Pattani yang bernama Salma Jasmine ini memberitahu untuk membeli paket data ada di lantai basement. Saya pun bergegas.

Membeli paket data sama adik muslimah ini


Saya membeli paket data internet untuk keperluan seminggu (150 Bath) lalu kembali menemui Salma Jasmine untuk menanyakan berbagai informasi dan berbagi alamat. Sempat saya becandai “apakah kamu puteri dari pemilik Restoran Salma?” Salma tergelak dan mengatakan hanya kebetulan saja namanya sama. 



Salma Jasmine, Muslimah Pattani

Hampir maghrib mini van meninggalkan terminal Hatyai melanjutkan pengembaraan ke Krabi Town dan Ao Nang.Beach.


Provinsi Krabi

Kalau kita menyebut Phuket atau Bangkok langsung terbayang itu di Thailand.  Nah saat kita menyebut Krabi tak begitu banyak yang ngeh dan sebagian besar akan bertanya Where is Krabi ?

Krabi adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Thailand, sepanjang garis pantai Laut Andaman, 814 km dari Bangkok.  Krabi berbatasan dengan provinsi Phan Nga, Surat Thani, Nakhon Si Thammarat & Trang.  Krabi Town atau Kota Krabi merupakan kota utama dan tujuan wisata yang terdapat di provinsi ini. Sepanjang perjalanan mulai terlihat suasana kota Krabi, gak jauh beda sih sama Negara kita, banyak tetokoan, bengkel dan semak belukar dipinggir jalan, yah masih kategori serumpun lah klo situ tanyain ke saya, di setiap baliho jalanan liat abjad huruf mereka mirip Rerumpunan, bener kan negeri Serumpun? 

                    


Saya memesan hotel B & B secara online via agoda.com, jadi tinggal menyebutkan nama dan alamat hotel itu ke sopir minivan untuk di antar dan dijawab “Okey..Okey..”.

Okeh okeh doang..kenyataannya dengan alasan sudah malam (sekitar 21.30) masih banyak penumpang tujuan Ao Nang, saya diturunkan di satu tempat transit pangkalan ojek. Blamma!Sontoloyo !. Terpaksa merogoh kocek lagi untuk naik ojek ke hotel sebesar 70 Bath, itupun setelah abis2an tawar menawar. Posisi tawarku memang rendah krn sudah malam, kota kecil ini sudah sepi.


Dasar memang traveler kere, pantang ada yang namanya ‘biaya lain-lain tak terduga’. Semua harus sesuai riset, schedule dan budget. Hidup kere!!!


Di hotel,  saya menempati dormintory di lantai 2. Sendirian. Kamar mandi di luar. Hotelnya sepi senyap pake banget. Kayaknya tamunya saya sendiri. Tak terlihat seliweran penghuni hotel. Mungkin gegara corona attack!…EGP lah. Masuk kamar, bebersih, sholat lanjut bobo pulaSS……

Jam 08.00 check out dari B & B, mampir sarapan dan ngeteh di warung Melayu. Harga makanan  di sini cenderung lebih murah daripada di Phuket,  Di Krabi kita bisa menemukan kedai-kedai kecil mulai dari warung roti canai, kari, seafood sampai restoran fast food spt Mc Donald, KFC. Tentu saya memilih menu denyut lokal di street food. Jangan khawatir karena Krabi merupakan kota dengan jumlah muslim yang cukup banyak, dimana-mana kita akan menemukan halal food. 




Sudah kenyang? Lanjut naik songtheaw/angkot, menuju pesisir Ao Nang yang berjarak 14.2 Km. Waktu tempuh sekitar 15 menit dengan jalan yang mulus tanpa kemacetan. Songtheaw memasuki kawasan Ao Nang, menyusuri jalan yg bersisian dgn pantai dan aneka resort, hotel dan toko2 suvenir. Saya minta sopir turunkan di depan masjid Ao Nang..heheh selalu depan masjid, tempat paling aman bagi traveller kere seperti saya.

Seorang penumpang lokal wanita berhijab mengingatkanku bahwa Masjid Ao Nang sebentar lagi sampai. Saya bersiap-siap memencet bel angkot untuk berhenti. Turun persis di depan Masjid Aonang atau Al Munawaroh yang cukup megah dengan satu kubah besar diapit dua menara yg indah. Di seberang hotel terletak Ibis Hotel, akh itu bukan level avonturir proletar.

Haleeva Sunshine Hotel




Terik mentari begitu menyengat. Dari masjid saya berjalan 20 meteran untuk mencapai Haleeva Sunshine Hotel yang kubooking melalui Agoda tiga pekan lalu. Berdasarkan review pengunjung, hotel kelas bintang tiga ini diminati   karena letaknya yang strategis di tepi jalan utama, dekat masjid, dekat pantai, crew-nya ramah, banyak toko makanan/minuman halal food. Resepsionistnya juga menggunakan hijab. Setelah check in kuputuskan untuk istirahat di dormitory hotel menanti waktu Dhuhur.


Selesai berjamaah di masjid, waktunya cari makan. Soal makanan halal tak perlu ruwet  karena di sini banyak Muslim. Saya ke “warteg” gak jauh dari masjid. Makan nasi + ikan, 60 Bath. Cukup mahal dibanding warteg di Tangerang.  Ngobrol dgn ibu pemilik warung yang berhijab. Kemudian menyusuri jalan arah ke Haleeva. 


Sepanjang jalan banyak agen-agen yang menawarkan paket tour. Ada pilihan paket 4 Island (setengah hari) atau 7 Island + Sunset + Fireworks (full day). Paling diminati paket 4 pulau.  Harganya bergantung jenis boat yg digunakan : Big boat, Speed boat atau perahu tradisional Thai yaitu Long Tail Boat. Saya menemukan agen tour yang brani memberikan harga untuk paket full day tour 7 Island dengan pilihan long tail boat, karena rasanya lebih menantang dgn perahu kayu dan 2 kali snorkelling + melihat plankton bio-luminescence. Harga pasaran paket 7 pulau 1200 bath. Saya sukses menekan sampai 900 Bath. Itupun tanpa tambahan charge utk masuk kawasan National Park sebesar 400 Bath/pax. Cuaan...

Deal ! Saya langsung bayar DP 400 Bath. Besok pagi jam 09.00 mereka akan pick up dgn mini van ke hotel. Siang yang terik menyengat. Saya kembali ke hotel untuk ngadem.

Sore hari saya berjalan menyisir pantai Ao Nang. Sepanjang jalan cuma kelihatan beberapa bule yang lagi berjemur atau sekedar berenang santai di pinggir pantai. Suasana pantai tidak sehectic di Pattaya, pantai Kuta atau pantai Boracay Philipina. Trotoar di sepanjang jalan menuju pantai cukup lebar dan nyaman dilewati pejalan kaki, mengingatkan dengan suasana di Malioboro. Hanya saja di sini kios-kiosnya berjajar rapi di pinggir jalan, trotoar yang cukup lebar membuat kita leluasa berjalan dan nggak sampai sikut-sikutan dengan pejalan lain. Yang bikin happy, setiap beberapa puluh meter ada tong sampah serta trash bag yang diletakkan di pinggir jalan. Makanya kawasan ini bersiiiiiih banget, pokoknya jauh dari kesan kumuh. Saya juga nggak kebingungan harus buang sampah ke mana karena hampir di setiap sudut ada trash bag. Wah, Indonesia harus belajar banyak nih dari Thailand.






Menjelang maghrib saya kembali ke Haleeva mandi lalu mengenakan lipa’ sabbe sarung khas Bugis Makassar pemberian Almarhum Ibuku (sarung ini juga yg kupakai di kereta Metro Tokyo thn 2018 lalu). Adzan sudah terdengar, saya bergegas    ke masjid. Ba’da sholat saya bersilaturahmi dengan Pak Imam dan jamaah masjid Al Munawaroh. Rasanya senang bertemu dgn saudara Muslim. Beda bahasa, beda bangsa, mungkin beda madzhab namun sirna sekat untuk Islam yang Satu.



  

   


Di sekitar  Masjid Al Munawaroh di malam hari terdapat jejeran penjual makanan seperti layaknya bazaar di Indonesia. Pilhan menunya beragam. Paling terkenal khas nya adalah Banana Pancake. Hampir di sepanjang jalan di area wisata Krabi seperti di pesisir pantai Ao Nang ataupun di Krabi Town, terdapat penjual banana pancake. Biasanya mereka mulai menggelar dagangannya di sore hari hingga malam hari.



Banana Pancake Coconut



Rabu Pagi. Setelah sholat subuh di masjid Almunawaroh. Saya berkhidmad lagi dengan jamaah. Obrolannya kadang kumaknai, kadang blank. Pulang dari masjid mampir beli nasi biryani untuk sarapan pagi di teras Haleeva, cuma 30 Bath, makan dulu sebelum pick up travel datang.


Agak telat dari waktu yg dijanjikan akhirnya mini van nongol juga. Di atas van sudah ada beberapa turis bule dan turis lokal. Selain saya ada turis lain dari hotel sebelah. Kami  menuju hotel lain menjemput  peserta terakhir kemudian  ke pelabuhan Ao Nang Jetty. Yeeii…kami akan menikmati full day  7 Island Tour, bukit karts yang “nyembul” di permukaan laut, menikmati sunset dari salah satu pulau, snorkelling di depan Chicken Island, snorkelling malam hari di   pulau karang dekat pantai Railay untuk menyaksikan bio-luminescence plankton di bawah laut.

Rute pertama long tail boat menuju Hong Island dan Tup Island. Pulau Tup  terletak di sepanjang Koh Dam Khwan. Saat air pasang surut, laut secara bertahap dipisahkan oleh pasir putih dan pantai kapur yang akan tampak menghubungkan kedua pulau secara menakjubkan saat air surut.






Long Tail Boat

Poda Island, pantai berpasir putih yang indah, ideal untuk berjemur, berenang dan snorkeling. Nikmati petualangan bawah laut yang luar biasa, jelajahi karang warna-warni dan ikan karang.





Chicken Island, di sini kita tidak merapat ke pantainya tapi melakukan snorkelling di perairan Andaman. Airnya begitu bersih sehingga ikan2 yg lalu lalang terlihat jelas. Ingat namanya dan ingat bentuk bukitnya yang lucu: terlihat seperti ayam. Lokasi ini populer untuk snorkelling, kehidupan biota laut di sini akan membuat takjub.







   

Setelah snorkelling perahu menuju Railay Beach. Di pulau ini peserta menikmati makan siang dengan menu BBQ (seafood) sudah disiapkan oleh crew. Sangat pas waktu lagi lapar2nya.





Tour berlanjut ke Phranang Cave Island, di sini kita diberi waktu yang cukup lama untuk menunggu dan melihat sunset.



Yoga

Setelah sunset berlalu peserta kembali ke long tail boat menuju bukit karts. Hari sudah gelap. Saat tiba di lokasi penerangan perahu dipadamkan, kita dipersilahkan snorkeling menyaksikan  pertunjukan cahaya bawah laut yang menakjubkan. Tepat di depan mata kita bisa melihat bio-luminescence dgn duduk di atas kapal atau dengan sekedar menggantung kaki di air.  Namun untuk mendapatkan hasil maksimal  kita harus nyebur ke laut dalam gelap gulita.  Tentu saja saya tak mau melewatkan kesempatan, nyebur ke dalam laut dengan kacamata snorkel untuk bisa melihat sensasi pertunjukan cahaya psychedelic yang terbaik dari plankton, wow..seperti kunang2 dibawah laut ya dalam jumlah ratusan yg mendekati kita…amazing!

Fenomena bio-luminescence merupakan salah satu peristiwa yang terjadi ketika makhuk hidup mengalami sebuah reaksi kimia tertentu yang mampu menghasilkan emisi cahaya. Peristiwa ini sering ditemukan dan kerap terjadi di laut, membuatnya bersinar di tengah gelapnya malam. Bio-luminescence ditemukan di seluruh biosfer, tetapi hanya pada vertebrata laut, invertebrata dan beberapa jenis tumbuhan seperti plankton, ubur-ubur. Di daratan sendiri, bioluminescence biasanya ditemukan pada beberapa jenis serangga, kunang-kunang, kumbang, ulat (glow-worm).
Sebelum perahu meninggalkan lokasi, crew tour mengambil seember air dari laut kemudian menumpahkan di atas dek perahu, seketika dek berkilau kelap kelip. warna kebiruan berpendar-pendar. Keren !.

Akhirnya long tail boat yg kita tumpangi sampai di Ao Nang Jetty, tour ditutup dengan pertunjukan fire dance dari awak boat, nih videonya...

Jam 20.00 mini van kembali merapat ke Ao Nang, peserta tour diantar ke hotelnya masing-masing. Drop off. Sungguh meletihkan sekaligus menyenangkan dan puas. Mandi. Makan… tidur pulas..

Jam 08.00 pagi check out dari Haleeva Hotel kembali ke Krabi Town dengan menumpang songtheaw (10 Bath). Check in di hotel Holiday Station. Hotel ini bagus, lobbynya luas dan dormitorynya sangat bersih. 

 Saya menjelajahi  Krabi town dengan berjalan kaki ke Vogue Mall,   Maharaj  Market, Crab Statue. Lalu naik angkot ke Wat Thum Sua / Tiger   Cave dan sore sampai malam menikmati Krabi Night Market nya yang   kesohor itu, dengan bumbu bumbu keseruan, keindahan dan kekonyolan..

 






Crab Sculpture @ Krabi Town

Bersua "Julia Roberts" di Krabi Town



Hari ke 6. Pagi-pagi check out dari Holiday Station Hotel dengan minivan (130 Bath) menuju Krabi International Airport. Melewati screening C-19 dengan mudah lalu jam 08.25 take off ke KL...

Krabi Airport







Pesawat AA landing dgn mulus di KL International Airport Sepang jam 10.30. Pesawat yang akan mengantarku kembali ke Jakarta, besok jam 08.35. Masih lama kan? pengin main ke KL lagi tapi sudah capek dan dompet cekak. Maka saya putuskan maen di sekitar KLIA 1 dan KLIA 2 dengan shuttle gratis.

Makan di airport itu selalu mahal. Lumrah.

Untuk menyiasatinya musafir kere spt saya hrs tau lekuk bandara : di mana makan yg terjangkau bin murah, enak dan mengenyangkan...maka sy bergegas ke KLIA 1 dgn free shuttle bus sekitar 10 menit perjalanan. Shuttle ini ada setiap 10 menit 24 jam. Turun dari bus berjalan 50 an langkah menuju stasiun bus platform 1 dekat ruang tunggu penumpang bus komersial. Nah di situ ada kantin Hameed Dalca Kopitiam, yg jualan orang Tambi/Tamil. Menunya variatif dari roti canai, kari kambing, ayam dsb. Porsinya ukuran kuli pelabuhan:) Maaf, bukan bermaksud rasis, org Tambi itu klo makan emang bujug buneeeng. Porsi 3 org pake tampah utk sendiri. Huft!. Sekarang  sudah kenyang, saatnya selonjoran menanti malam. Setelah mandi dan sholat di KLIA 1, kembali lagi ke kantin Hameed untuk makan malam lalu dengan free shuttle kembali ke KLIA 2 utk tidur dan kembali ke tanah air besok pagi 

Menu makan siang

Menu makan malam

Menginap di KLIA 2

Hari ke 7. Jam 05.00 .. bangun mandi pagi dan sholat subuh lalu ke konter AA check in. Melewati Imigrasi dgn prosedur Covid yang kini sudah ketat. Alhamdulillah melewati screening dgn sukses, diberikan sertifikat lalu jam 08.35 pesawat AA – AK 388 take off dengan mulus menuju Jakarta. Kembali ke Graha Raya Bintaro dan masuk karantina 14 hari, OMMALEEE...


.                                              Masjid Al Munawaroh, Ao Nang


#ARTventure_AnggrekJingga
Sedikit bicara dengan orang lain. Banyak bicara dengan diri sendiri.

"Traveling - it offers you a hundred roads to adventure, and gives you heart wings " 
Ibn Batuta

PATTANI - KRABI Kembara C-19 Rumpun Melayu PATTANI - KRABI Kembara C-19 Rumpun Melayu Reviewed by Sofyan Saleh on Maret 14, 2021 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!