PATTANI - KRABI Kembara C-19 Rumpun Melayu
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.
Sewindu sebelum Maret 2020 saya membeli tiket pesawat
untuk jelajah avonturir dengan rute eksotis yaitu KL - Beijing – Xi’an balik
via KL. Saya melakukan riset tentang destinasi wisata, transportasi kereta/bus,
guest house dan kulineran untuk penyusunan detail rencana perjalanan (cost
& itinerary).
Tanggal 16 Januari 2020 mulai mengurus Permohonan Visa
ke Kedubes China di Mega Kuningan. Saat itu issue virus di Wuhan China sedang
menggguncang dunia. Banyak Negara sudah membuat travel warning agar warganya
menghindari ke China. Sepekan kemudian dapat kabar permohonan Visa saya ditolak, bukan
karena peristiwa Wuhan tapi karena saya salah dalam menulis kosakata China dengan "Cina" di form aplikasi.
Menurut petugas Kedubes, kata “Cina” itu bersifat rasis. Padahal hanya 1 kata “Cina”
yang typo, yang lain sudah sesuai ejaan yg benar. Hangus deh tuh duit 500 ribu. Saya
diminta mengulang registrasi dan menulis yang salah itu dengan “China” . Saya
sempat protes bahwa saat aplikasi diajukan ke counter, kan petugas
memeriksa dan membaca semua dokumen (foto, KTP, dsb). Berarti staf Kedubes yang
memeriksa dokumen aplikasi kurang jeli!. Hallaah..mengulang berarti bayar lagi
dong 500 ribu. Dasar kapitalis!.
Setelah registrasi ulang, akhirnya tgl 31 Januari Visa saya disetujui dengan No. M0553775. Berlaku sampai 30 April 2020. Alhamdulillah ala kulli hal…
Ndilalaahh…pekan pertama Februari 2020 makin banyak Negara yang mengeluarkan travel warning. Maskapai penerbangan ramai-ramai menghentikan sementara penerbangan ke China sampai waktu yg tidak ditentukan.Virus corona Covid-19 menyebar dengan cepat ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali negara-negara tujuan para wisatawan, seperti China, Singapura, Korea, Jepang, hingga Italia.
Dilema pun datang bagaimana dengan tiket pesawat yang
sudah saya beli sejak jauh-jauh hari? Urus
Visa yang cukup menghabiskan energy bolak balik Kedubes?. Haruskah membatalkan
perjalanan?
Karena ke China resmi dilarang, suka tak suka ..dengan
hati gundah gulana saya menghubungi maskapai Air Asia untuk membatalkan
tiket dari Kualalumpur ke Beijing dan
dari Xi’an ke Kualalumpur. Alhamdulillah karena ini kebijakan Government maka tiket bisa direfund. Bagaimana dgn tiket Jakarta – Kualalumpur PP? belum
bisa direfund karena belum ada kebijakan dari Government. Buat saya no problem,
tinggal merubah rute perjalanan saja. Saya memutuskan untuk menjelajah negeri
Puak Melayu. Riset lagi dan merubah itinerary dengan tujuan baru KL- Hatyai –
Pattani – Krabi lewat darat / overland.
Dilansir dari CNN, disebutkan bahwa risiko penularan virus
corona Covid-19 tertinggi berada pada pelancong lanjut usia dan pelancong
dengan masalah kesehatan. Jadi, jika
tidak termasuk dalam kategori yang disebut, sebenarnya tak perlu
khawatir. Saya merasa berada dalam kondisi sehat dan fit, boleh saja
melakukan perjalanan…hehehe pede doong!
Di tengah situasi virus corona yang merebak saya tetap
merealisasikan rencana perjalanan. Membawa bekal tambahan di ransel yaitu masker + minyak kayu putih.
1 Maret 2020 jam 10.00 WIB masuk bandara Soeta tanpa kendala, pemeriksaan belum ketat, Pemerintah RI masih ngentengin haha.. Akhirnya terbang ke KL dan landing dengan mulus di KLIA2 Sepang Malaysia jam 13.25 waktu setempat.
Selesai sholat musafir di bandara KLIA, saya ke KL Sentral dgn bus (12 RM). Lanjut shuttle bus GO KL yg gratisan ke Bukit Bintang. Cari makan siang street food yg enak dan murmer. Jalan Alor menjadi salah satu pusat kuliner favorit di KL. Lokasinya di belakang Jalan Bukit Bintang yang menjadi destinasi buat para penggemar wisata belanja.
Menjelang maghrib di Petronas saya bergegas ke stesen MRT untuk ke Terminal Bersepadu Selatan. Lalu ke konter tiket bus express Kesatuan untuk menukar voucher bus yang kubeli 18 Februari 2020 lalu via EasyBook.com seharga MYR 63. Lanjut ke Surau sholat musafir.
Bepergian seorang diri itu memerlukan mental dan keyakinan diri yang kuat. Apa yang menguatkan? Ya kita masih punya Allah SWT, jadi nggak perlu takut. Selama perjalanan jangan pernah meninggalkan sholat. Mintalah perlindungan pada Allah. Niscaya bila dalam kesendirian kita mengalami kesulitan, akan ada bantuan-bantuan tak terduga. Toh di dunia ini orang baik masih mendominasi kok.
Bus yang akan kutumpangi ke Hatyai jadwal berangkatnya jam 20.00. Masih ada waktu untuk menunggu sambil melihat-lihat keadaan terminal terpadu yang luas banget ini.
![]() |
| Kumpulan Doa di saku jeans |
Naik ke lantai 2 untuk makan di kedai / foodcourt. Menikmati makan malam mie karee dan teh tarik.
Pukul 20.00 di ruang tunggu pelepasan bus…lewat 10 menit…lewat 30 menit…45 menit..21.00.. halah ngaret juga
nih jadwalnya. Kantuk mulai menyerang.
Pukul 22.00 bus Kesatuan Express baru datang itupun parkirnya di platform sebelah. Portir mengatur koper2 ke bagasi. Hanya membawa ransel punggung, saya langsung naik ke bus yang gak penuh. Ransel kuletakkan di seat sebelahku. Joknya empuk dan jarak antar bangku cukup lapang. Setiap penumpang dibagikan selimut dan air mineral. AC-nya dingin banget sehingga saya matikan, biar udara sejuk mengalir dari samping dan depan saja. Tak perlu waktu lama setelah bus meninggalkan TBS saya langsung molor dengan sukses.
Menempuh perjalanan ke negeri Gajah putih bagian selatan ini sekitar 9 jam. Melewati perbatasan kedua negara Malaysia di Bukit Kayu Hitam dan Thailand di Sadao. Kalau dari wilayah Malaysia ke Thailand waktunya lebih lambat satu jam dan arah sebaliknya, waktunya lebih cepat satu jam.
Melintasi Imigrasi Malaysia sekitar jam 02.00 dinihari
lancar-lancar saja. Berbeda dengan Imigrasi Thailand. Di sini terjadi antrian panjang, sehingga waktu
tempuh ke Hatyai jadi molor. Antrian mengular ini
disebabkan adanya skrining Covid 19 dengan pemeriksaan suhu tubuh secara ketat
menggunakan thermo gun. Pelintas batas yang suhunya di bawah 37° keluar ke kiri, yang
suhunya melewati 37°C dibelok ke kanan..quarrantine? wadduh gawat! Matemija!.
Makin was-was rasanya
karena seorang Chines tua yang berada dibelakangku sering bersin dan bau minyak
angin yg menyengat, maskernya sudah kucel. Saya merangsek ke depan menjaga jarak dan
berdzikir..
Tiba saatnya melewati
proses pemeriksaan sidik jari dan skrining suhu, petugas imigrasi yg air
mukanya kecut matanya tajam meminta saya keluar lewat pintu keluar
kiri…Alhamdulillah, Allahu Akbar! Legaaaaaa….kuatir dipanggil lagi petugas
imigrasi saya berlari-lari kecil melewati lorong ke luar secepatnya.
Langsung cari toilet, pipis akibat dibuat stress pak tua & skrining !
Lepas hajat langsung naik ke bus lagi…Ugh! Alhamdulillah lolos…
![]() |
| Borderline imigrasi @ Sadao Thailand |
Provinsi Pattani
Saya mencari tau cara ke terminal bus utk ke Pattani dgn bertanya pada beberapa orang, ya beberapa org karena kendala bahasa - sampai menemukan org yang bisa memberikan penjelasan. Dan orang itu adalah perempuan Melayu berparas cantik berhijab pemilik Restaurant Salma. Setelah bincang kepo, beliau memanggilkan tuktuk, bernego lalu memberitahu : berapa ongkos yang harus kubayar. Wah betapa senang dengan keramahan Mak Cik.
Tiba di terminal, minivan Hiace yang akan ke Pattani sebentar lagi berangkat. Saya membeli tiket di loket seharga 120 Baht. Belum
sempat sarapan karena minivan segera berangkat. Di ransel masih ada persediaan
air minum dan biscuit.
Perjalanan ke kota Pattani kata sopir yang Muslim
sekitar 2 jam. Sebelumnya saya selalu mengira kalau Pattani tidak aman, sebagaimana yang dilansir berbagai
media bahwa sering ada bom meledak di berbagai tempat, baku hantam dan
sejenisnya. Namun hal itu tidak mempengaruhi tekadku ke Pattani.
Nyawa urusan di Atas. Ikhtiar jalan terus. Pantang phinisi balik badan hanya karena ombak besar, kualleanna tallanga na towalia...
Jangan heran, untuk memasuki Pattani banyak penjagaan oleh militer bersenjata lengkap. Posnya dikelilingi tumpukan karung pasir dan mobil Barracuda yang siaga di posisinya. Kalau naik minivan tampak aman-aman saja. Sebab kendaraan umum tersebut sering mondar-mandir Hatyai - Pattani. Lagi pula wajahku mirip wajah orang Thailand. Di setiap pos, minivan hanya berjalan pelan zig zag diantara traffic cone dan membuka kaca jendela. Kalau ada aktifitas yang mengundang perhatian, kemungkinan bakal diperiksa. Itulah Pattani yang tampak bebas tapi sesungguhnya berada dalam pengawasan setiap saat.
Memasuki Pattani badan saya terasa letih, lepek/kumal,
perutku lapar dan mual. Badan agak demam. Penumpang2
sudah turun di beberapa tujuan sampai saya tinggal sendiri. Di depan
Universitas Songkhla makin terasa mual dan pening. Sopir bertanya mau diantar
kemana. Saya minta diturunkan di Pattani Central Mosque. Tak jauh dari kampus
Songkhla. Turun di seberang masjid ingin mencari makan tapi saat menyeberang
mual makin kuat. Saya berlari menyeberang jalan ke masjid. Di tepi jalan saya
tak kuat lagi menahan dan muntah-muntah hebat di pepohonan pagar masjid. Ada
kecemasan yang menyelimuti : virus Covid kah? Semoga bukan. Ya Allah, kepada_Mu saya menyerahkan takdir hidupku. Semangat bombang tallua!
Saya masuk ke pelataran masjid. Rebahan melepaskan letih, minum Antangin & Parasetamol kemudian
ke peturasan untuk mandi dan wudhu.
Masjid
Raya Pattani (Pattani Central Mosque)
Masjid ini diakui sebagai masjid paling indah di Thailand. Terletak di Jalan Yarang, distrik Mueang. Pemerintah Thailand pada tahun 1954 menyetujui anggaran untuk pembangunan masjid ini. Butuh sembilan tahun untuk pembangunan masjid megah ini, yang selesai pada tahun 1963.
Mesjid ini serasa mengobati hati dari rasa iba hati terhadap kehidupan Muslim Melayu di wilayah Thailand Selatan. Saya membayangkan suasana yang identik dengan kebekuan dibawah kekuasaan negara yang berkeyakinan lain, ternyata berbeda dengan kenyataannya. Saya turut merasakan bahwa mesjid menjadi makmur karena ada yang meramaikannya. Suasana lingkungan mesjid mencerminkan peradaban Islam dan dalam tatanan kehidupan masyarakat di sana juga terjaga baik.
Mandi, ganti pakaian dan sholat membuat badan terasa
mulai segar. Aku menggendong
ransel mencari makan. Tak jauh dari samping masjid ada warung tenda. Pemiliknya wanita berhijab, wajah khas Thai, kulit putih, wajah tirus. Taksiranku usianya sekitar 40 tahun. Saya pesan makan nasi + ikan + sayuran dan teh Thai
panas.
Sambil makan saya bincang2 Tarzan dengan pemilik warung dgn bahasa Melayu dialek Makassar, dia bicara Melayu dialek Satun Thailand sesekali campur Inggeris. Sesekali meledak tawa renyah karena kebingungan makna. Dia menanyakan saya dari mana, mau kemana dan apakah ada keluarga di sini? Seperti biasa di perjalanan avonturir lainnya, jawabanku membuat penanya terperangah. Dari Indonesia? Sendirian?. Setelah makan kusampaikan akan ke Masjid Raja Fatoni dan Masjid Krue Se. Saya tak bisa menggunakan Google Maps karena sejauh ini berjalan saya belum beli paket data… saya menyukai sensasi pepatah lama "malas bertanya sesat dijalan" maka bertanyalah hehehe …
Lagi-lagi perEmpu-an ini membantu saya dengan
memanggil seorang bapak di depan warung sembako. Mereka berbicara dalam bahasa
Thai. Saya menyimak, rada mengerti bahwa ibu ini sedang menolongku membantu nego
dgn orang itu untuk mengantarkanku ke dua tempat tersebut. Gagal. No deal.
Beliau memanggil pria lainnya. Alhamdulillah…tampaknya deal. Perempuan yang manis
dan baik hatinya ini mengatakan bahwa saya bisa diantar ke tujuanku dengan
ongkos ojek 60 Bath. Sebelum pamit saya membayar makanan saya, lebih dari yang semestinya.
“Berapa Mae?” (Mae = Ibu dlm bhs Satun)
“15 Bath sahaja (IDR 6.650)”
“Hah tidak salah, very cheap..murah sekali Mae?”
“Special price for you coz musafir moslem..hati hati”
Lihat, orang baik ada di mana2, belakangan saya
membaca di komunitas backpacker ongkos ojek utk tujuan yg sama itu sekitar 200
Bath. Subhanallah, mudah2an rejeki Mae terus mengalir penuh berkah,
mudah2an warung tendanya kelak bisa pindah ke ruko. Aamiinn..
Mungkin belum banyak yang tahu bahwa mayoritas
muslim Pattani berbicara bahasa Melayu dengan dialek yang sedikit berbeda
dengan Melayu-nya orang Malaysia. Mereka selalu bangga menyampaikan bahwa nenek
moyang mereka berasal dari Malaysia. Sebagian juga fasih berbahasa Inggris.
Namun untuk percakapan sehari-hari mereka berbahasa Thai.
Pattani yang berada di sebelah selatan Thailand ini
bersama Yala, Narathiwat dan Songkhla adalah kota-kota kecil dengan mayoritas
penduduk beragama Islam. Dahulunya ada kerajaan Islam Pattani yang kemudian
ditundukkan oleh kerajaan Siam (Thailand) tahun 1785. Sekian lama
masyarakat muslim Pattani merasakan perlakuan yang tidak adil karena itu muncul
kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Thailand. Inilah asal muasal
sering terjadi kasus pengeboman atau penembakan dengan sasaran para polisi atau
tentara.
Namun sekitar 30 tahun terakhir, muslim Pattani
memilih berjuang dengan cara lain. Mereka membangun lembaga pendidikan berkualitas,
mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi, juga menguatkan berbagai lembaga
sosial termasuk membangun Rumah Sakit skala nasional. Tahun 2013 lalu mereka
membangun komplek Darul Iman Madinah Al Salam perumahan
yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan, masjid, pusat perbelanjaan dan
rumah sakit. Mereka mengirimkan mahasiswa-mahasiswa untuk sekolah ke luar
negeri serta memberikan beasiswa-beasiswa untuk mahasiswa asing untuk belajar
ke Prince of Songkhla University.
Jadi jangan mengira para muslim di Pattani tertindas, miskin, tidak berpendidikan, mereka justru menampilkan dirinya sebagai keluarga-keluarga mandiri, banyak yang menjadi pengusaha makanan, minuman, pemilik kedai makan bahkan pom bensin besar. Banyak muslimah yang berprofesi sebagai dokter, dosen, peneliti, dan lain lain.
Masjid
Krue Se.
Masjid ini dibangun pada tahun 1538, tapi tidak pernah
selesai karena perebutan kekuasaan antara Sultan Pattani dan saudaranya. Nama
resmi Masjid Krue Se disebut pula “Masjid Sultan Muzaffar Shah”. Inilah masjid
yang pertama di Asia Tenggara yang dibangun dengan menggunakan bata merah
buatan kampung Tarab Bata (sekarang Mukim Gamia, Muang, Pattani).
Semula saya berpikir ketika melihat keadaan mesjid
ini. Apakah karena ketiadaan dana kah ? Ternyata tidak. Pembangunannya
berdasarkan arsitektur Timur Tengah dan Eropa. Cara penyusunan batanya
dilakukan dengan menggunakan campuran kulit kerang dengan beras ketan hitam
yang ditumbuk lumat kemudian dicampur bahan tersebut dengan adonan telur putih
dengan manisan cair. Cara ini merupakan salah satu kearifan lokal Melayu pada
masa itu. Hingga kini bangunan yang ada tetap dipertahankan untuk pelaksanaan
sholat 5 waktu.
Masjid tak berkubah
ini (akibat serangan militer) terletak di Kampung Krisek dan
berada dalam mukim Tanyong Lu Lo, sekitar 7 km dari pusat kota Pattani
sekarang.
Seorang perantau asal Cina bernama Lim Tau Khiang
ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan masjid tersebut. Sumber sejarah
lokal mencatat, Lim Tau Khiang telah lebih dulu masuk Islam dan berkhidmat
sebagai seorang prajurit pilihan di Kesultanan Pattani.
Masjid ini adalah saksi bisu ketika pejuang muslim
Pattani menjadikannya sebagai benteng pertahanan saat melawan serangan pasukan
Siam dalam empat pertempuran yang terjadi pada tahun 1603, 1632, 1634, dan
1638. Masjid Krue Se berkali-kali
menjadi sasaran serangan prajurit Kerajaan Siam karena masyarakat setempat
menjadikannya sebagai pusat gerakan.
Yang menyedihkan dari laman LBH Jakarta saya peroleh info, bahwa pada tanggal 28 April 2004, Militer pernah menyerbu masjid
Krue Se setelah pengepungan selama tujuh jam.. Terjadi pembantaian 32 gerilyawan Muslim oleh
militer Thailand. Pembantaian Krue Se salah satu penyebab krisis Thailand
Selatan yang berlanjut hingga hari ini. Serangan itu telah menjadi subjek
penyelidikan internasional yang menyimpulkan penggunaan kekuatan militer yang
berlebihan
Selepas Shalat Dhuhur kami saling bersalaman dan
berbincang dengan jamaah dan imam masjid. Cerita singkat sejarah masjid
dari imam saya dengarkan dengan seksama.
![]() |
| Imam Masjid |
![]() |
| Kembara Anggrek Jingga |
Masjid
Raja Fathoni
Masjid yang terletak di Chabangtiko, Mueang Pattani District, Pattani merupakan sebuah warisan yang mengingatkan kepada masyarakat Patani di zaman pemerintahan raja-raja Melayu Patani yang pernah mencapai masa keemasan dan sebagai lambang perjuangan raja-raja Melayu Patani pada masa lalu.
Di ujung siang saya melangkah ke Terminal Pattani untuk kembali ke Hatyai. Dalam perjalanan kembali ke Hatyai para pelintas antar kota bisa merasakan dan menyaksikan kekuatan militer ditempatkan pada jarak tertentu. Ada tentara lengkap dengan persenjataan serta tumpukan karung pasir. Agak berlebihan bila kendaraan yang melewati pos tentara Thailand harus berjalan zig-zag melewati pos penjagaan.
Tiba sore di terminal Hatyai. Saya ke seberang terminal membeli tiket mini van ke Krabi magrib ini (290 Bath). Rasa penasaran dengan perEmpuan Melayu yang pagi2 tadi membantu memanggilkan songtheaw/, maka kuputuskan kembali ke Restoran Salma untuk ngopi, makan dan kenalan. Turun di depan Lee Garden Plaza di Prachathipat Road, lalu menuju Restoran. Di dalam resto yg cukup besar itu hanya saya pengunjungnya. Setelah pesan kopi dan nasi goreng saya menanyakan Mak Cik tadi kepada mbak Pramusaji. Keterangan dari Pramusaji Mak Cik hanya datang pagi hari mengecek persiapan buka resto. “tolong sampaikan ya rasa terimakasih saya” kataku kepada Kasier sebelum melangkah ke Lee Garden untuk membeli paket data internet.


![]() |
| Kopi. Ransel. Jeans belel : Rest & Relax. |
Melangkah masuk ke mall, Satpam sigap melakukan prosedur skrining C-19. Mampir di gallery Hp yang SPG nya seorang gadis berhijab yang sangat cantik dengan pipi kemerah-merahan. Wah kalo di Jakarta sudah direkrut nih sama talent scout. Gadis Melayu Pattani yang bernama Salma Jasmine ini memberitahu untuk membeli paket data ada di lantai basement. Saya pun bergegas.
![]() |
| Membeli paket data sama adik muslimah ini |
Saya membeli paket data internet untuk keperluan
seminggu (150 Bath) lalu kembali menemui Salma Jasmine untuk menanyakan
berbagai informasi dan berbagi alamat. Sempat saya becandai “apakah kamu puteri
dari pemilik Restoran Salma?” Salma tergelak dan mengatakan hanya kebetulan
saja namanya sama.
![]() |
| Salma Jasmine, Muslimah Pattani |
Hampir maghrib mini van meninggalkan terminal Hatyai melanjutkan pengembaraan ke Krabi Town dan Ao Nang.Beach.
Provinsi
Krabi
Kalau kita menyebut Phuket atau Bangkok langsung terbayang itu di Thailand. Nah saat kita menyebut Krabi tak begitu banyak yang ngeh dan sebagian besar akan bertanya Where is Krabi ?
Krabi adalah salah satu provinsi yang terletak di bagian selatan Thailand, sepanjang garis pantai Laut Andaman, 814 km dari Bangkok. Krabi berbatasan dengan provinsi Phan Nga, Surat Thani, Nakhon Si Thammarat & Trang. Krabi Town atau Kota Krabi merupakan kota utama dan tujuan wisata yang terdapat di provinsi ini. Sepanjang perjalanan mulai terlihat suasana kota Krabi, gak jauh beda sih sama Negara kita, banyak tetokoan, bengkel dan semak belukar dipinggir jalan, yah masih kategori serumpun lah klo situ tanyain ke saya, di setiap baliho jalanan liat abjad huruf mereka mirip Rerumpunan, bener kan negeri Serumpun?
Saya memesan hotel B & B secara online via agoda.com, jadi tinggal menyebutkan nama dan alamat hotel itu ke sopir minivan untuk di antar dan dijawab “Okey..Okey..”.
Okeh okeh doang..kenyataannya dengan alasan sudah
malam (sekitar 21.30) masih banyak penumpang tujuan Ao Nang, saya diturunkan di
satu tempat transit pangkalan ojek. Blamma!Sontoloyo !. Terpaksa merogoh kocek lagi
untuk naik ojek ke hotel sebesar 70 Bath, itupun setelah abis2an tawar
menawar. Posisi tawarku memang rendah krn sudah malam, kota kecil ini sudah
sepi.
Dasar memang traveler kere, pantang ada yang namanya ‘biaya
lain-lain tak terduga’. Semua harus sesuai riset, schedule dan budget. Hidup kere!!!
Di hotel, saya menempati dormintory di lantai 2. Sendirian. Kamar
mandi di luar. Hotelnya sepi senyap pake banget. Kayaknya tamunya saya sendiri.
Tak terlihat seliweran penghuni hotel. Mungkin gegara corona attack!…EGP lah. Masuk
kamar, bebersih, sholat lanjut bobo pulaSS……
Jam 08.00 check out dari B & B, mampir sarapan
dan ngeteh di warung Melayu. Harga makanan di sini cenderung lebih
murah daripada di Phuket, Di Krabi kita bisa menemukan kedai-kedai kecil
mulai dari warung roti canai, kari, seafood sampai restoran fast food spt Mc Donald, KFC.
Tentu saya memilih menu denyut lokal di street food. Jangan khawatir karena
Krabi merupakan kota dengan jumlah muslim yang cukup banyak, dimana-mana kita
akan menemukan halal food.
Sudah kenyang? Lanjut naik songtheaw/angkot, menuju pesisir Ao Nang yang berjarak 14.2 Km. Waktu tempuh sekitar 15 menit dengan jalan yang mulus tanpa kemacetan. Songtheaw memasuki kawasan Ao Nang, menyusuri jalan yg bersisian dgn pantai dan aneka resort, hotel dan toko2 suvenir. Saya minta sopir turunkan di depan masjid Ao Nang..heheh selalu depan masjid, tempat paling aman bagi traveller kere seperti saya.
Seorang penumpang lokal wanita berhijab mengingatkanku bahwa Masjid Ao Nang sebentar lagi sampai. Saya bersiap-siap memencet bel angkot untuk berhenti. Turun persis di depan Masjid Aonang atau Al Munawaroh yang cukup megah dengan satu kubah besar diapit dua menara yg indah. Di seberang hotel terletak Ibis Hotel, akh itu bukan level avonturir proletar.
![]() |
| Haleeva Sunshine Hotel |
Terik mentari begitu menyengat. Dari masjid saya berjalan 20 meteran untuk mencapai Haleeva Sunshine Hotel yang kubooking melalui Agoda tiga pekan lalu. Berdasarkan review pengunjung, hotel kelas bintang tiga ini diminati karena letaknya yang strategis di tepi jalan utama, dekat masjid, dekat pantai, crew-nya ramah, banyak toko makanan/minuman halal food. Resepsionistnya juga menggunakan hijab. Setelah check in kuputuskan untuk istirahat di dormitory hotel menanti waktu Dhuhur.
Selesai berjamaah di masjid, waktunya cari makan. Soal makanan halal tak perlu ruwet karena di sini banyak Muslim. Saya ke “warteg” gak jauh dari masjid. Makan nasi + ikan, 60 Bath. Cukup mahal dibanding warteg di Tangerang. Ngobrol dgn ibu pemilik warung yang berhijab. Kemudian menyusuri jalan arah ke Haleeva.
Sepanjang jalan banyak agen-agen yang menawarkan paket tour. Ada pilihan paket 4 Island (setengah hari) atau 7 Island + Sunset + Fireworks (full day). Paling diminati paket 4 pulau. Harganya bergantung jenis boat yg digunakan : Big boat, Speed boat atau perahu tradisional Thai yaitu Long Tail Boat. Saya menemukan agen tour yang brani memberikan harga untuk paket full day tour 7 Island dengan pilihan long tail boat, karena rasanya lebih menantang dgn perahu kayu dan 2 kali snorkelling + melihat plankton bio-luminescence. Harga pasaran paket 7 pulau 1200 bath. Saya sukses menekan sampai 900 Bath. Itupun tanpa tambahan charge utk masuk kawasan National Park sebesar 400 Bath/pax. Cuaan...
Deal ! Saya langsung bayar DP 400 Bath. Besok pagi jam 09.00 mereka akan pick up dgn mini van ke hotel. Siang yang terik menyengat. Saya kembali ke hotel untuk
ngadem.
Sore hari saya berjalan menyisir pantai Ao Nang. Sepanjang jalan cuma kelihatan beberapa bule yang lagi berjemur atau sekedar berenang santai di pinggir pantai. Suasana pantai tidak sehectic di Pattaya, pantai Kuta atau pantai Boracay Philipina. Trotoar di sepanjang jalan menuju pantai cukup lebar dan nyaman dilewati pejalan kaki, mengingatkan dengan suasana di Malioboro. Hanya saja di sini kios-kiosnya berjajar rapi di pinggir jalan, trotoar yang cukup lebar membuat kita leluasa berjalan dan nggak sampai sikut-sikutan dengan pejalan lain. Yang bikin happy, setiap beberapa puluh meter ada tong sampah serta trash bag yang diletakkan di pinggir jalan. Makanya kawasan ini bersiiiiiih banget, pokoknya jauh dari kesan kumuh. Saya juga nggak kebingungan harus buang sampah ke mana karena hampir di setiap sudut ada trash bag. Wah, Indonesia harus belajar banyak nih dari Thailand.


Di sekitar Masjid Al Munawaroh di malam hari terdapat jejeran penjual makanan seperti layaknya bazaar di Indonesia. Pilhan menunya beragam. Paling terkenal khas nya adalah Banana Pancake. Hampir di sepanjang jalan di area wisata Krabi seperti di pesisir pantai Ao Nang ataupun di Krabi Town, terdapat penjual banana pancake. Biasanya mereka mulai menggelar dagangannya di sore hari hingga malam hari.
![]() |
| Banana Pancake Coconut |
Rabu Pagi. Setelah sholat subuh di masjid Almunawaroh. Saya berkhidmad lagi dengan jamaah. Obrolannya kadang kumaknai, kadang blank. Pulang dari masjid mampir beli nasi biryani untuk sarapan pagi di teras Haleeva, cuma 30 Bath, makan dulu sebelum pick up travel datang.
Rute pertama long tail boat menuju Hong Island dan Tup
Island. Pulau Tup terletak di sepanjang
Koh Dam Khwan. Saat air pasang surut, laut secara bertahap dipisahkan oleh
pasir putih dan pantai kapur yang akan tampak menghubungkan kedua pulau secara
menakjubkan saat air surut.
![]() |
| Long Tail Boat |
Poda Island, pantai berpasir putih yang indah, ideal untuk berjemur, berenang dan snorkeling. Nikmati petualangan bawah laut yang luar biasa, jelajahi karang warna-warni dan ikan karang.
Chicken Island, di sini kita tidak merapat ke pantainya tapi melakukan snorkelling di perairan Andaman. Airnya begitu bersih sehingga ikan2 yg lalu lalang terlihat jelas. Ingat namanya dan ingat bentuk bukitnya yang lucu: terlihat seperti ayam. Lokasi ini populer untuk snorkelling, kehidupan biota laut di sini akan membuat takjub.
Setelah snorkelling perahu menuju Railay Beach. Di pulau ini peserta menikmati makan siang dengan menu BBQ (seafood) sudah disiapkan oleh crew. Sangat pas waktu lagi lapar2nya.
Tour berlanjut ke Phranang Cave Island, di sini kita diberi waktu yang cukup lama untuk menunggu dan melihat sunset.
![]() |
| Yoga |
Setelah sunset berlalu peserta kembali ke long tail boat menuju bukit karts. Hari sudah gelap. Saat tiba di lokasi penerangan perahu dipadamkan, kita dipersilahkan snorkeling menyaksikan pertunjukan cahaya bawah laut yang menakjubkan. Tepat di depan mata kita bisa melihat bio-luminescence dgn duduk di atas kapal atau dengan sekedar menggantung kaki di air. Namun untuk mendapatkan hasil maksimal kita harus nyebur ke laut dalam gelap gulita. Tentu saja saya tak mau melewatkan kesempatan, nyebur ke dalam laut dengan kacamata snorkel untuk bisa melihat sensasi pertunjukan cahaya psychedelic yang terbaik dari plankton, wow..seperti kunang2 dibawah laut ya dalam jumlah ratusan yg mendekati kita…amazing!Fenomena bio-luminescence merupakan salah satu peristiwa yang terjadi ketika makhuk hidup mengalami sebuah reaksi kimia tertentu yang mampu menghasilkan emisi cahaya. Peristiwa ini sering ditemukan dan kerap terjadi di laut, membuatnya bersinar di tengah gelapnya malam. Bio-luminescence ditemukan di seluruh biosfer, tetapi hanya pada vertebrata laut, invertebrata dan beberapa jenis tumbuhan seperti plankton, ubur-ubur. Di daratan sendiri, bioluminescence biasanya ditemukan pada beberapa jenis serangga, kunang-kunang, kumbang, ulat (glow-worm).
Akhirnya long tail boat yg kita tumpangi sampai di Ao Nang Jetty, tour ditutup dengan
pertunjukan fire dance dari awak boat, nih videonya...
Jam 08.00 pagi check out dari Haleeva Hotel kembali ke Krabi Town dengan menumpang songtheaw (10 Bath). Check in di hotel Holiday Station. Hotel ini bagus, lobbynya luas dan dormitorynya sangat bersih.
Saya menjelajahi Krabi town dengan berjalan kaki ke Vogue Mall, Maharaj Market, Crab Statue. Lalu naik angkot ke Wat Thum Sua / Tiger Cave dan sore sampai malam menikmati Krabi Night Market nya yang kesohor itu, dengan bumbu bumbu keseruan, keindahan dan kekonyolan..![]() |
| Crab Sculpture @ Krabi Town |
Pesawat AA landing dgn mulus di KL International Airport Sepang jam 10.30. Pesawat yang akan mengantarku kembali ke Jakarta, besok jam 08.35. Masih lama kan? pengin main ke KL lagi tapi sudah capek dan dompet cekak. Maka saya putuskan maen di sekitar KLIA 1 dan KLIA 2 dengan shuttle gratis.
Makan di airport itu selalu mahal. Lumrah.
Untuk menyiasatinya musafir kere spt saya hrs tau lekuk bandara : di mana makan yg terjangkau bin murah, enak dan mengenyangkan...maka sy bergegas ke KLIA 1 dgn free shuttle bus sekitar 10 menit perjalanan. Shuttle ini ada setiap 10 menit 24 jam. Turun dari bus berjalan 50 an langkah menuju stasiun bus platform 1 dekat ruang tunggu penumpang bus komersial. Nah di situ ada kantin Hameed Dalca Kopitiam, yg jualan orang Tambi/Tamil. Menunya variatif dari roti canai, kari kambing, ayam dsb. Porsinya ukuran kuli pelabuhan:) Maaf, bukan bermaksud rasis, org Tambi itu klo makan emang bujug buneeeng. Porsi 3 org pake tampah utk sendiri. Huft!. Sekarang sudah kenyang, saatnya selonjoran menanti malam. Setelah mandi dan sholat di KLIA 1, kembali lagi ke kantin Hameed untuk makan malam lalu dengan free shuttle kembali ke KLIA 2 utk tidur dan kembali ke tanah air besok pagi
![]() |
| Menu makan siang |
![]() |
| Menu makan malam |
![]() |
| Menginap di KLIA 2 |
Hari ke 7. Jam 05.00 .. bangun mandi pagi dan sholat subuh lalu ke konter AA check in. Melewati Imigrasi dgn prosedur Covid yang kini sudah ketat. Alhamdulillah melewati screening dgn sukses, diberikan sertifikat lalu jam 08.35 pesawat AA – AK 388 take off dengan mulus menuju Jakarta. Kembali ke Graha Raya Bintaro dan masuk karantina 14 hari, OMMALEEE...
. Masjid Al Munawaroh, Ao Nang
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Maret 14, 2021
Rating:


























































































Tidak ada komentar