Kata Cinta Tanpa Kata

Sudah sekian lamaaa gak posting status di FB. Memasuki hari ke 7 isolasi C-19 di RS tetiba ingin posting puisi yang kutulis di atas lembaran tissue + 1 foto dg perawat berpakaian hazmat. Aku sekedar ingin menyampaikan motivasi, keceriaan dan semangat menjalani masa karantina C19 kepada teman2 yang mengalami nasib yang sama : Positif Covid 19. 





                                    Menghitung hari bakal tak berhenti

                                    langit belumlah sepi

                                    usia merambat

                                    membilang saat keramat

                                    membilang uban merayap

                                    melepas waktu yang melekat

                                    almanak luluh dalam malam

                                    yang gaduh dengan jerit kebebasan dan

                                    teriak kebosanan

                                    sedang harapan diam

                                    tertikam tanggal buram

                                    sedang mimpi-mimpi lepas

                                    mencari batas

                                    menghitung hari

                                    menghitung mati ...




Beberapa teman memberi "like" dan komen ikut memberi semangat. Di antara respon tersebut ada satu respon yg mengiris romantisme dari seorang perempuan. Seseorang yang sdh bertahun-tahun gak terjadi kontak baik di medsos, terlebih di line telepon karena sudah kehilangan no kontaknya. Tetiba ia muncul menyebut nama akrabku dulu dg lirih...

Hanya satu kata namun aku merasakan getaran yg melambungkan semangatku dan imajinasiku penuh tentang dia. Satu kata bermuatan kekhawatiran dan doa yang di dalamnya mengalir rasa yang pernah ada. Semua episode pertemuan yang kulalui dengannya terbayang melintas di pelupuk mata, seperti pita kaset celluloid direwind. Perjumpaan perdana berawal  saat aku backpacking ke Kab. Luwu (beribukota Palopo) tak jauh dari perbatasan Sulsel dan Sulteng. Dia di SMAN 2 Palopo Kls 1. Aku Kls 2 di SMAN Makassar. Tamat sekolah aku hijrah ke Bandung untuk kuliah. Ia melanjutkan kuliahnya di Unhas.

Sekian tahun lewat tanpa terasa kami bertemu saat ia & rombongan prodinya melaksanakan study perbandingan ke Unpad selama 3 hari. Selama 2 malam di Bandung ia dan rombongannya menginap di Asrama Mahasiswa Lontara, tempat aku tinggal.


                                         Asrama Mahasiswa Lontara Bandung, Jln Aceh/Flores
                                                  

Malam yang tak terlupakan ketika aku dan dia berjalan kaki sekitar 2 Km menembus malam yang dingin dari Lontara menuju warung bandrek sebelah RRI Bandung yg hip di masa itu. 

Tampil casual dengan celana jeans belel, kemeja jeans gombrong dengan untaian scarf panjang melilit lehernya yang jenjang menyelip diantara rambutnya yg nge-bob, imut manis dan rada maskulin. Bola matanya ..duh mata yg membuatku merasa harus berkenalan dengannya di kampungnya dulu. Malam itu sambil berjalan pulang sempat secara refleks kugenggam tangannya setiap menyeberang jalan. Sesekali ia lebih dulu merengkuh tanganku saat menyeberangi jalan Riau yang ramai. Aku merasakan hatiku bergemuruh seperti ketika berjumpa dalam beberapa kesempatan teraweh bareng di masjid dekat rumah sepupunya (tetanggaku di kota) saat libur kenaikan kelas.

Rasa yg ada namun tak pernah tersampaikan secara verbal. 


Aku tak mampu meng-utarakannya, dia pun mungkin gengsi men-selatankannya. Utara Selatan biarlah menjadi jarak diantara kami. Aku jalani saja apa adanya sebab durasi setiap ketemu waktunya juga singkat2. Saat SMA dia di Palopo, saya di kota Makassar. Saat dia hijrah ke kota Makassar melanjutkan kuliah, saya hijrah ke Bandung kuliah. Sekembalinya ke Makassar kami sempat surat menyurat meski tidak begitu intens karena aktivitas kuliah dan saya banyak bokeknya untuk membeli perangko atau Kilat Khusus . 

Korespondensi kami masih saya simpan rapih sampai saat ini bersama surat-surat lainnya....



Draft balasan surat

ss_Xfilekorespondensi_teman2PerEmpuan


Beberapa tahun kemudian sekitar tahun 1990 kami bertemu di Ibukota Jakarta, ia sudah bekerja di Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan (Kementerian Keuangan, red), lapangan Banteng. Sementara aku masih kuliah sambil bekerja (maklum saja malas sampai 3x pindah kampus). Dalam beberapa kesempatan kami sering janjian bertemu makan siang di kawasan Pasar Baru. Setiap selesai makan dan chit chat aku mengantarkan pulang, lagi-lagi dengan berjalan kaki sekitar 1 Km menyusuri jalan, sekali dua menggenggam tangan 
 melewati Gedung Dewan Kesenian lurus ke arah Departemen Keuangan, lapangan Banteng, samping Hotel Borobudur..


Kesibukan kerja mengejar karir dan prestasi membuat jarak kami semakin terpaut jauh. Apalagi pola kerjaku yg sering mutasi dari mall ke mall  di Jakarta. Mungkin juga karena pindah sana – pindah sini, akupun berkenalan dengan beberapa gadis teman kantor, demikian juga teman kuliah.Ia pun mungkin begitu. Akhirnya kami saling melupakan. Meski rasa itu ada dan tak pernah tersampaikan secara verbal. Mungkin juga karena tak terawat.


Beberapa tahun kemudian aku mendengar ia menikah dan memiliki anak 2 orang putera. Tak lama aku juga menikah dan memiliki 2 puteri.

Puluhan tahun kemudian Allah mempertemukan kami kembali lewat cara yang tak terduga. Ketika itu aku sedang membantu bisnis property teman di Group Recapital. Untuk sebuah urusan perbankan aku menemani teman ke Bank Tabungan Negara di Kuningan untuk bertemu dengan Manajer Kredit. Ndilalah…Manajer Kredit itu adalah dia. Amboi Tuhan….mata itu - mata yang tak pernah berubah dan tak terlupakan dari SMAN di Palopo sampai menjadi Manajer perbankan di Ibukota. Tidak banyak yang berubah. Penampilannya makin metropolis saja signifikan  dgn peningkatan kualitas hidupnya. Mudah2an ia selalu berbahagia bersama keluarga tercinta..


“Phian…..” suara lirih difesbuk  itu menghujam romantisme masa lalu antara Palopo - Bandung - Jakarta.. Rasa tiba-tiba menguasai dan menjadi dominan sekali. Namun cinta sampai kapanpun tak pernah mampu tersampaikan secara verbal walau tetap terasa hangat dalam setiap pertemuan berdurasi pendek.


Demikian kisah yang pernah ada, dulu. Kini, mungkinkah ada cinta yang demikian. Cinta tanpa tendensi dan pretensi yang 'bukan-bukan'. Cinta tanpa perhitungan matematis. Cinta tanpa tuntutan yang macam-macam kecuali cinta itu sendiri. Cinta tanpa kata. Apakah benar ada : i love you just the way you are? Masih ada, mungkin. Walau sedikit dan sangat langka. Sebab jaman membuat kita jadi lain.

    SERENADE
    
    Selain kaleng tergeletak di taman tertimpa cahaya bulan
    adakah khabar?

    Di kejauhan butir embun mengkristal di pucuk pinus. Pantulan cahaya ;
    Lontara demikian dinginnya 

    IRONI

    Di kotak kaca sekerat rempeyek menyeringai
    Di depan kaca sepotong hasrat menggapai


Lontara Boarding Room 1986




#puisi@anakLontara_1986
#AnggrekJingga21
#Pandemi_SurvivorCovid19

.

 





Kata Cinta Tanpa Kata Kata Cinta Tanpa Kata Reviewed by Sofyan Saleh on Februari 04, 2021 Rating: 5

1 komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!