BUKET UNTUK PHUKET
TRAVELING ALA BACKPACKER
SG - KL - PHUKET
Jam 14.00 taksi meninggalkan kawasan Graha Raya Bintaro menuju Airport Soeta. Jalan tidak terlalu padat karena ini hari Sabtu, 21 Oktober 2017.
Jam 17.40 WIB pesawat AA take off menuju Changi SG. Sekitar jam 8 malam waktu setempat pesawat landing. Sesuai rencana malam ini kami menginap di bandara Changi. Besok pagi-pagi baru kami meninggalkan Changi menuju Merlion Park.
![]() |
| Changi |
| Cavanagh Bridge |
![]() |
| MRT Rafless |
Puas eksplor kawasan Merlion kami lanjut naik MRT ke Bugis exit Victoria Street. Berjalan sekitar 10 menitan ke Kampong Gelam, Haji Lane, Masjid Sultan dan Rafless Hospital.
Kampung Gelam dulunya merupakan kota pelabuhan yang berkembang dan kawasan perkotaan tertua di Singapura. Dalam bahasa Melayu, istilah kampong berarti "pedesaan", sementara "gelam" sering kali dikaitkan dengan pohon gelam (pohon paperbark berdaun panjang, sejenis kayu putih), yang banyak ditemukan di area ini dan digunakan oleh warga lokal untuk pembuatan kapal, obat-obatan, bahkan bumbu masak.
Tahun 1822, Sir Stamford Raffles mengalokasikan area ini bagi komunitas Melayu, Arab, dan Bugis. Setelahnya area ini menjadi salah satu tahta kerajaan Melayu di Singapura.
Masjid Sultan
![]() |
| Masjid Sultan, kampong Glam |
Saat baru selesai dibangun pada tahun 1826, masjid ini sama sekali berbeda dengan bangunan yang ada sekarang. Awalnya, masjid hanya memiliki satu lantai dengan atap 2 tingkat. Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren yang merancang masjid baru tersebut untuk dibangun di atas lahan masjid lama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan. Seluruh pembiayaan juga di tanggung keluarga Sultan denga kontribusi dari komunitas muslim Singapura kala itu termasuk sumbangan botol kaca hijau hijau dari kaum miskin ketika itu. botol botol yang kemudian di jadikan ornamen bawah kubah masjid. Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal.
Tidak jauh dari Masjid Sultan, terdapat sebuah Museum Budaya Melayu. Kok di Kampong Arab ada budaya Melayu? Kampong Arab ini memang unik. Selain budaya Arab, ada juga budaya Melayu dan Bugis di sini.
Salah satu area yang kami datangi ialah Kampong Bugis atau Bugis Village. Di Bugis Street terdapat toko-toko berisi barang-barang souvenir SG yg terjangkau. Di seberangnya ada Bugis Junction yang berbentuk seperti mal dan menjual barang dengan harga lebih mahal.
![]() |
| Armada Phinisi Des Maccasares Menjelajah Dunia |
Namun, pada 1808, penemu Singapura, Sir Stamford Raffles, bertemu dengan masyarakat Bugis untuk pertama kalinya di daerah Penang, Malaysia. Raffles langsung terkesan dengan kemampuan dagang masyarakat Bugis. Dia pun langsung mengajak masyarakat Bugis untuk bekerja sama melahirkan Singapura. Singkat cerita, pada 1819, ketika Singapura ditemukan, pangeran Bugis kala itu dibunuh Belanda saat berada di Riau. Saudara laki-laki sang pangeran pun memberontak dan kemudian berlindung di Singapura bersama 500 pengikutnya. Sejak itu, Raffles memberi nama Bugis Town dan membiarkan masyarakat Bugis berkembang di sana.
![]() |
| Jejak Sirri' Na Pesse di SG |
Apakah mereka tergusur Kapitalisme?
Seorang teman bergurau, “Belum afdol ke Singapura kalau belum pergi ke Haji Lane". Kawasan ini sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1800an, meski baru populer sebagai destinasi wisata di Singapura beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Singapura lalu mendandani kawasan ini menjadi area komersil tanpa mengubah wujud klasik aslinya. Kini Haji Lane dan kawasan sekitarnya sudah menjadi ikon wisata Singapura wajib kunjung, khususnya bagi mereka pencinta fotografi
Dari SG ke JB Sentral
- Tak terasa keliling lorong ke lorong menikmati art street, aneka seni mural yg konon berganti dalam beberapa bulan. Akhirnya tiba saat maghrib. Kami mampir ke masjid untk sholat musafir Maghrib / Isya diQoshor. Dari Masjid Sultan kami berjalan kaki 300 m / 5 menit menuju terminal bus di Queen Street. Kami memilih armada Causeway Link yg jam berangkatnya setiap 15-30 menit sekali. Dalam hal jadwal mereka sangat tertib. Tidak ada calo, tidak ada bus ngetem sehingga terminal tidak hiruk pikuk seperti di Jakarta.
Sekitar jam 20.00 kami sdh di atas bus Causeway Link dgn kecepatan yg terjaga, berhenti di Woodlands dan Johor Baru CIQ sebelum akhirnya sampai di Larkin Terminal Johor Baru sekitar jam 22.00. Alhamdulillah tidak ada masalah saat melewati pemeriksaan imigrasi kedua border negara. Namun antri bus saat menuju JB CIQ (Check Imigration Quarantine) cukup makan waktu.
Cukup bosan menunggu akhirnya jam 12 tengah malam kami melanjutkan perjalanan ke Bandar Tasik KL dgn naik Bus Transnasional yg kami beli online via EasyBook. Waktunya tidur....
- KUALA LUMPUR
Subuh kami tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Terminal Bersepadu Selatan (TBS) adalah terminal bus paling baru dan paling moderen di Kuala Lumpur.
Mulai beroperasi pada tahun 2011, Terminal Bersepadu Selatan (TBS) juga dikenal dengan nama Bandar Tasik Selatan (BTS) adalah terminal bus paling mewah dan paling megah di seantero Malaysia serta mungkin juga di seluruh Asia Tenggara. Fasilitas dan penampilannya sangat bagus seperti layaknya sebuah bandar udara berkelas internasional.
Terminal Bersepadu Selatan atau Bandar Tasik Selatan ini terletak di sisi selatan pusat kota Kuala Lumpur. Berjarak sekitar 30-45 menit dengan taksi dari daerah Bukit Bintang (biaya sekitar 30-45 MYR) tergantung kondisi lalu lintas.
Jika berencana berangkat dari tempat ini, sediakan waktu setidaknya 60 menit hingga 90 menit sebelum jadwal keberangkatan bus kita.
LOKER di KL Sentral
Seharian ini kami akan melakukan city tour. Agar tidak rempong bawa carrier kami mencari loker titipan. Lokasi pertama ada didekat ruang tunggu KTM
dibagian atas, seberangnya KFC. Di belakang Customer Service,
kan ada tangga naik ke atas, nah setelah itu, belok kiri deh. Loker itu ada
disudut dibawah eskalator menuju ke atas (yang dulunya menuju foodcourt itu). Di sini, tersebar dibeberapa
sudut, sekilas mata memandang ke arah kanan, kamu akan melihat barisan loker
warna merah.
Harga untuk loker ukuran medium RM
20 dan ukuran besar RM 40, itu hanya untuk sekali pakai ya. Jadi pastikan
barang yang mau kamu bawa serta, sebelum pintunya ditutup. Atau kamu harus
bayar 2 kali.
Tujuan pertama kami adalah ke destinasi terjauh yaitu Batu Caves dgn MRT, ongkos 2.75 RM/orang.
Batu Caves
Bukit kapur Batu Caves adalah lokasi kuil Hindu terpopuler di luar India yang dipersembahkan untuk Dewa Murugan. Objek wisata religius yang juga merupakan spot utama untuk perayaan festival Thaipusam di Malaysia ini terletak sekitar 13 km dari Kuala Lumpur, dan tidak dikenakan biaya masuk untuk mengunjungi kawasan tersebut.
Pertama kali kami menapak ke dalam kawasan religius ini, objek pertama yang paling menarik perhatian adalah landmark berupa patung emas Dewa Murugan tertinggi di dunia (tingginya 42,7 meter) dan di belakangnya terlihat 272 anak tangga curam yang menuju sebuah gua di atas bukit kapur yang berfungsi sebagai kuil. Belum hilang keterpukauan saya, dari belakang bahu saya terdengar desahan pelan, "Astaghfirullah..." Isteri saya juga sangat terpukau melihat tingginya kuil di atas bukit tersebut dan langsung memutuskan untuk tidak ikut naik ke atas, he-he-he... ratusan anak tangga tersebut terlihat amat sangat mengintimidasi kami.
Untuk mencapai kuil gua di ujung tangga bernama Temple Cave, tentunya kita harus mendaki ratusan anak tangga tersebut. Sekilas mengingatkan saya akan puluhan anak tangga di Gunung Galunggung. Itu saja membuat saya tersengal-sengal hampir kehabisan nafas. Menantang sekali memang. Belum lagi ditambah panasnya matahari yang cukup menusuk kulit. Kami menyerah dehh..heheheh...
Sebelum meninggalkan kawasan kuil kami mampir di sebuah restoran Tambi/Tamil menikmati roti canai lalu kembali ke KL Sentral via MRT. Dari KL Sentral lalu kami ke KLCC / Twin Tower dgn moda bus Go KL Green Line yang free. Bisa juga sih naik LRT lebih cepat dgn cost 1.5 RM namun saya memilih naik Go KL agar bisa menikmati panorama kota KL dgn leluasa. Go KL berhenti persis di halte Suria Mall yang terletak di kaki gedung Petronas yang menjangkau langit.
Dari KLCC kami ke Bukit Bintang, kawasan mall2 mewah dgn naik GO KL Green Line turun di depan Fahrenheit. Muter-muter dan jajan kuliner
Hari makin siang kami lanjutkan city tour dari Bukit Bintang ke Pasar Seni (Central Market) di China Town dgn naik bus Go KL Purple Line.
| Bus Go KL, GratiSS puas! |
Kaki mulai penat dan lapar lagi, kami mampir di sebuah warung Indonesia di samping stasiun LRT depan Pasar Seni. Hampir setiap ke KL saya selalu mampir makan di warung Mbak Mimi yang berasal dari Jawa Timur. Hampir jam 3 sore kami kembali ke KL Sentral dgn naik LRT (1.5 RM/orang) langsung menuju loker penitipan (lugage deposit). Setelah ambil koper lanjut beli tiket Skybus (12 RM/orang) dan meluncur ke KLIA2.
Jam 17.00 waktu setempat kami check in di konter Air Asia. Melewati boarding imigrasi dengan lancar. Jam 18.30 kami berempat sudah duduk manis di perut pesawat AA kode penerbangan AK 820 terbang mengantarkan kami menuju Phuket, Thailand.
PHUKET
ยินดีต้อนรับสู่เมืองภูเก็ต ....Yindī t̂xnrạb s̄ū̀ meụ̄xng p̣hūkĕt!
"Selamat datang di kota Phuket !"
Keluar dari lobi Bandara kami menggunakan mini van menuju ke hotel Bel Aire Resort di Patong dgn tarif nego damai 180 THB untuk Islam yang Satu hehehe (sopirnya kebetulan Muslim Thai) .
![]() |
| Kedatangan dari KL |
![]() |
| Bel Aire Resort |
Patong Beach merupakan pantai yang
berdekatan dengan kawasan Bangla Road. Pantai ini kurang lebih serupa dengan
pantai Kuta di Bali. Di dekat lokasi pantai banyak sekali café dan bar di
sepanjang jalan yang bisa dinikmati para wisatawan yang berkunjung ke sana.
Pantai ini juga dikenal sebagai pantai yang memiliki spot sunset yang ciamik.
Meski dipadati oleh banyak wisatawan domestic dan mancanegara, pantai ini bisa
terbilang sangat bersih sehingga nyaman untuk dinikmati bersama keluarga dan
kerabat.
![]() |
| Cafe Bel Aire |
![]() |
| Kuliner Malin Plaza, banyak pedagang Muslim |
![]() |
| jetsky rental |
2. Bangla
Road
Lokasi Bangla Road sangat dekat
sekali dengan Patong Beach. Bahkan kalian dapat menelusuri sepanjang Bangla Road
untuk dapat menikmati Patong Beach. Jika Patong Beach menawarkan keindahan
wisata pantainya, Bangla Road lebih menawarkan asyiknya kehidupan malam di kota
Phuket. Di sepanjang Bangla Road, banyak sekali terdapat nightclub, bar, resto
dan bahkan tattoo store untuk kalian yang berencana untuk mengabadikan karya
seni indah di tubuh kalian. Bangla Road ini juga terkenal dengan ragam
pertunjukan ladyboy yang bisa kamu temui di sepanjang jalan. Tapi jangan sampai
mengajak anak-anak di bawah umur ke sini ya, karena banyak pertunjukan yang
belum pantas untuk dilihat mereka.
![]() |
| Bangla Road |
![]() |
| Hard Rock Cafe, Bangla Road |
3. Kata
Beach
Lokasi Kata Beach ini sebetulnya
tidak terletak terlalu jauh dari Patong Beach. Keistimewaan Kata Beach kita dapat menikmati free wi-fi di sini. Sehingga kita dapat
bersantai sembari update status di social media mengenai liburan kita. Pantai
ini cenderung lebih sepi jika dibandingkan dengan Patong Beach. Jika menikmati suasana pantai yang tak terlalu padat, maka Kata Beach
merupakan spot pantai yang wajib dikunjungi.
Ingin menikmati viewpoint di sebuah
laguna cantik di Phuket? Maka kamu wajib mendatangi lokasi ini. Dari pelabuhan,
jarak tempuh untuk mencapai lokasi ini sekitar 40 menit menggunakan speed boat.
Kalian dapat menikmati pemandangan tebing-tebing di tengah lautan luas yang
cantik sekali untuk berfoto atau sekedar berenang bersama teman-teman.
Kuil ini merupakan salah satu kuil
yang paling bersejarah di Phuket. Kamu dapat menikmati kemegahan bangunan kuil
yang dibalut pesona keemasan di hampir setiap sudut bangunannya. Namun, jika
hendak ke sini kamu harus berpakaian sopan. Sebab bagaimanapun, kuil ini
merupakan tempat ibadahnya orang Buddha yang berada di Phuket. Oh ya, jangan
kaget ya ketika berkunjung kalian pasti akan dikejutkan oleh suara petasan yang
menyala tiba-tiba. Sebab ini adalah salah satu cara beribadah mereka di kuil
tersebut. Unik, bukan?
6. Old
Phuket Town
Tidak hanya wisata alam saja, namun
Phuket juga memiliki wisata perkotaan tua yang sangat menawan. Old Phuket Town
berjarak sekitar 30 menit dari Patong Beach. Di sini banyak sekali
bangunan-bangunan lama yang memiliki arsitektur Cina-Portugis. Bangunan yang
berwarna-warni juga menjadi salah satu daya tarik kota tua ini. Jika berminat,
datanglah pada malam hari, maka kamu akan terkesima oleh pantulan warna warni
lampion-lampion yang menerangi bangunan-bangunan di kota tua ini.
7. Phi-Phi
Island
Selain pantai-pantainya, kepulauan
yang ada di sekitar Phuket juga tak kalah menarik. Salah satu pulau yang
terkenal dari Phuket adalah Phi-Phi Island. Siapa yang tak kenal pulau yang
pernah dipakai oleh Leonardo di Caprio saat berperan dalam film Blue Lagoon?
Meskipun saat ini Phi-Phi island sudah dipenuhi oleh turis dan wisatawan asing,
namun keindahannya bisa tetap dapat dinikmati.
Bukan hanya indah namun kebersihan dan kenyamanan semua tujuan wisata yang ditawarkan Phuket patut diacungi jempol. Di kawasan pantainya saja, tak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk merokok sembarangan. Untuk para perokok, kalian harus masuk lebih dalam ke area hutan untuk mendapatkan smoking area. Berbeda dengan di Indonesia, saat kamu hendak snorkeling di Phuket jangan coba-coba untuk memberi makan ikan dan makhluk-makhluk yang hidup di bawah laut ya. Sebab pemerintah Thailand melarang keras warga lokal maupun asing untuk memberi makan fauna laut karena akan membuat laut menjadi kotor. Hebat, kan?
![]() |
| Hotel Phi Phi Island |
![]() |
| Di atas Cruise |
![]() |
| Menikmati makan siang di Phi Phi Hotel |
9. Karon Beach
Karon Beach dikenal sebagai pantai ketiga terluas dan destinasi kedua yang paling banyak dikunjungi setelah Patong. Berbeda dgn Patong yang lebih 'liar' pantai ini terletak di pesisir barat Phuket, pantai ini menawarkan keramaian dan keindahan yang cocok untuk keluarga.
| Kamar mandi di KLIA2 |
![]() |
| Melelahkan tapi mengasikkan.. |
![]() |
| tidur menanti penerbangan terakhir.. |
![]() |
| Ke Jakarta aku kan kembali... |
Alhamdulillah....jarak tempuh 3 negara sekitar 5000 Km, Jumlah foto 780 pcs.
wa_SS_alam




















































































Tidak ada komentar