PENANG NAN GENTING


Jumat, 12 April 2019 jam 13.30 pesawat  AA flight QZ-226 menerbangkan kami langsung ke Penang. Sekitar jam 17 waktu setempat kami sekeluarga berempat mendarat mulus di bandara Penang Int'l Airport. Traveling ala Backpacker mode On. Oya, ini perjalanan ke dua saya ke George Town (2014).




Keluar ke lobby bandara, tampak berbagai moda transportasi yang bisa digunakan untuk melanjutkan perjalanan. Salah satunya moda Rapid Penang yang murmer yaitu bus Rapid Penang sudah berjajar di halte dengan berbagai kode dan rute. Halte Rapid berada di luar pintu kedatangan, keluar pintu belok kiri beberapa meter saja, lalu menyeberang satu ruas jalan.


Kami naik bus dengan kode 401 tujuan Komtar. Awalnya saya mengira Komtar itu nama area, ternyata singkatan dari frasa Kompleks Tun Abdul Razak, sebuah kawasan pertokoan, hiburan, dan perkantoran yang berada di pusat kota George Town. 
Menurut informasi, penamaan kawasan tersebut sebagai penghormatan terhadap seorang mantan Perdana Menteri yaitu Tun Abdul Razak.

Awak Bus Rapid ini hanya sopir, tanpa kondektur. Bus memiliki dua pintu di samping kiri, pintu depan untuk masuk dan pintu tengah untuk keluar. 





Penumpang harus antre di pintu depan dengan tertib dan sabar karena setiap penumpang yang naik menyampaikan tujuannya kepada sopir, disebutkan tarifnya oleh sopir, bayar dengan uang pas, dientri di system box yang berada di samping kiri sopir (di hadapan calon penumpang saat masuk bus), kemudian mendapat print out tiket.

Naah, setelah itu penumpang bebas memilih tempat duduk selama masih ada seat yang kosong, kalau penuh ya harus siap berdiri dengan pegangan tali yang bergelantungan. 

Tiket Bus Rapid tergolong murah, hanya RM 2,70 dengan jarak tempuh sekitar 20 km dari bandara menuju Komtar. Oh ya, tidak semua Bus Rapid Penang di bandara dengan kode 401 menuju Komtar. Makanya sebelum duduk nanya sopirnya dulu heheh..

Sepanjang perjalanan, bus berhenti di setiap halte hanya untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Suasana dalam bus cukup tenang, tidak ada suara pemberitahuan siapa turun di mana. Oleh karena itu penumpang yang belum mengenal medan harus berpesan kepada sopir atau penumpang lain agar diberitahu saat sampai di tempat tujuan. Saya minta diturunkan di Chulia Street.



Pulau Penang merupakan Negara Bagian di Wilayah Kerajaan Malaysia, dipimpin oleh Yang Di-Pertuan Negeri (Gubernur). (Pulau Penang inilah yang pernah menjadi tempat diasingkannya Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwana II, (Gusti Raden Mas Sundara) oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada tahun 1810 karena perlawanannya terhadap Belanda, juga dicurigai terlibat dalam aksi perlawanan yang dilakukan Bupati Madiun, Raden Rangga Prawiradirja). Ibu kota Pulau Penang adalah George Town, sebuah kota yang merupakan salah satu pelabuhan ternama di Selat Malaka.

Selain itu, George Town merupakan kota tua yang memiliki banyak peninggalan bersejarah sejak zaman penjajahan Kolonial. Ros Heritage Motel yang kami tuju berada di simpang jalan Chulia Street. Hanya sepelemparan batu dari Masjid Kapitan Keling yang dibangun  pada tahun 1801 abad ke-19 oleh pedagang Muslim India di George Town. Masjid ini lokasinya terletak di sudut Buckingham Street dan Pitt Street. 

Di sepanjang jalan sangat banyak ditemukan gedung tua berarsitektur kolonial Britania Raya, itulah salah satu ciri khas yang mencerminkan George Town sebagai daerah bekas jajahan Inggris. Demikian juga dengan nama-nama jalan dan tempat-tempat yang berbau Inggris. Gaya seni dan arsitektur yang indah tampak pada bangunan di sepanjang jalan yang kami lewati termasuk Hotel Majestic.

Bus berhenti di halte persis depan Motel & Restoran Ros Mutiara. Hmm.. lokasinya sangat strategis karena dekat dengan Masjid Jamek Kapitan Keling, tempat Nasi Kandar Beratur yg enak dan legend serta hanya 270 meter ke Penang Art Street. Motel kami berada di lantai 2 restoran yang dikelola keturunan India. Hmm..bau rempah kari menyeruak. Perut sudah lapar. Kami langsung menurunkan koper, ransel dan duduk memesan makanan, diantaranya nasi kandar, mee kari, nasgor ikan asin, Roti Canai, Teh tarik, Kopi O. Rasa lapar dan dahaga telah sirna, kami check in motel di kasir restoran lalu menuju ke kamar. Kami memesan online 2 kamar melalui Booking.com. 




Setelah check in, bersih diri, istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan kota  dari jendela kamar motel. Bersama Istri kami menyeberang ke Masjid Keling untuk sholat musafir maghrib-Isya. Malam ini kami akan menikmati suasana George Town ...

  


Masjid Kapiten Keling

Jajan malam Street Food di Little India

 Penang Art Street
 Hari kedua, pagi2 kami meninggalkan motel berjalan kaki menuju Penang Art Street yg berjarak 270 meter. Di sini terdapat beberapa mural unik yang Instagramable dibuat di sekitar kawasan Lebuh Armenian.
   

                       

Kami kunjungi mural yang sangat populer di Lebuh Chulia seperti Brother & Sister Swing, ketemu sosok Spiderman yg nangkring di Vespa (orang beneran dgn kostum yg sangat mirip di film) dsb.


 

                                  

Puas berfoto kami berjalan ke halte depan Hotel Container untuk naik Rapid Penang No 204 ke Bukit Bendera Penang Hill.

Menanti bus Rapid Penang


Penang Hill 

Naik Rapid Penang ke Bukit Bendera dari Chulia Street tiketnya seharga 2RM dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Dari mana saya tau rute ini? Dari bertanya. Hehehe…saya sebenarnya tidak mempersiapkan itinerary dan informasi apapun ketika ke sini. Saya bahkan tidak browsing-browsing tentang Penang, seperti yang seharusnya saya lakukan. Pokoknya prinsip saya, kali ini tripnya mengalir saja, informasinya saya akan gunakan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat saja. Kalau nyasar, ya sudahlah…
Rapid Penang ini cukup baik kondisinya. Bus ber-AC yang lega dengan jendela-jendela besar yang bersih sehingga bisa melihat ke luar dengan jelas. Untuk membayarnya, cukup sebutkan tujuan, lalu masukkan uang pas ke kotak khusus. Mesti uang pas, karena si kotak tak bisa memberikan kembalian. Ada 4 tarif, RM1,4; RM2; RM2,7; dan RM3,4 tergantung jarak tujuan. Makin jauh, makin mahal tarifnya.
Penang Hill adalah sebutan dalam Bahasa Inggris untuk Bukit Bendera. Nama awalnya adalah Bukit Bendera Pulau Penang atau Flag Hill. Namun karena dari bukit ini menjadi titik tertinggi (sekitar 830 meter diatas Kota George Town) untuk bisa melihat Pulau Pinang secara keseluruhan, maka disebutlah ini menjadi Bukit Penang atau Penang Hill yang sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1923 dan menjadi salah satu tempat paling favorit bagi penduduk Pulau Penang kalau lagi suntuk.
Sampai di Bukit Bendera kami harus antri panjang untuk membeli tiket trem (kereta funikular) untuk naik ke atas. Harganya lumayan mahal, RM30/orang. Trem ini awalnya diperuntukkan bagi warga kolonial Inggeris untuk pakansi ke atas Bukit Bendera. Bentuk kereta sudah berubah beberapa kali seiring dgn kemajuan teknologi. Lama perjalanan ke atas sekitar 30 menit.



Love Padlocks

Gembok Cinta






View George Town dari puncak Penang Hill 

Puas cuci mata di puncak Penang kami turun, tentu dgn trem funicular tadi bergegas menuju tujuan selanjutnya: Kek Lok Si Temple. Saya kembali menaiki bus 204. Baru saja pantat ini duduk, bus berhenti di Pasar Ayer Itam. Untuk mencapai kuil yang lumayan jauh berjalan di siang yg terik ini. Setelah berjalan sekitar 10 menit kami sampai di halaman temple eh sudah lelah dan malah jadi malas masuk. Kami balik kembali ke arah pasar menikmati Es Cendol dan Laksa Penang Air Aitam yang terkenal.



Laksa Air Itam Penang


 

Penang International Food Festival (PIFF)

Kembali ke motel istirahat sejenak. Persiapan malam nanti ke PIFF. Setelah mandi sore kami mengayunkan langkah kembali ke Penang Art Street melalui Lebuh Armenian. Belanja suvenir. Lanjut dengan bus gratis CAT ke lokasi PIFF di venue Lebuh Pantai tak jauh dari Little India. Hujan yg amat deras menyambut kehadiran kami namun tak mengurangi semangat kami. Alhamdulillah setelah sejam kurleb hujan berhenti, pedagang mulai membuka kembali tenda kuliner, panggung musik kembali berdentum. 







Nasi Kandar Beratur
Nasi Ungu

Genting Highland.

Hari ketiga ba'da sholat subuh kami check out dari motel, ngeGrab menuju Komtar untuk melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Genting Highland.

Rute bus Executive Penang - First World Genting



 

Rest area Perak

Ke Genting kami menggunakan bus ekspress armada Beh Travel & Tour Sdn Berhad yang kami beli online via EasyBook. Seatnya 2 - 1 dengan jok yg empuk, sangat nyaman untuk tidur. Sekitar 4 jam perjalanan akhirnya tibalah kami di lobby First World Hotel yang sangat besar. Konon kamarnya ada 1000 kamar yg menampung para penjudi, pegiat Casino dari seluruh dunia. Dari First World kami ngeGrab ke apartemen  MildHill tempat kami menginap. Lokasinya di atas bukit yg indah.


 

 









 

 





 



wa - SS - alam






PENANG NAN GENTING PENANG NAN GENTING Reviewed by Sofyan Saleh on Desember 24, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!