TOKYO Land Of The Rising Sun
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata. Imam Ali. Tidak suka hujan.
Kembali Jumat, 14 September 2018, Jam 11.00 Waktu Tokyo
Seperti kesetanan, saya menyelesaikan kerjaan di kantor, gak ada teman yang tau (dan memang gak perlu tau hihi) kalo malam ini saya akan memulai perjalanan impian saya. Jam 5 teng..teng! saya meluncur pulang mengecek ulang isi ransel berkapasitas 40 lt:
- 3 lbr kaos
- 1 lbr kemeja putih
- 1 lbr celana jeans 3/4
- 1 lbr celana cargo
- 1 bh syal
- 1 keping CD Krakatau Band, suvenir untuk Rei Narita, musisi jazz Jepang kenalanku.
- 1 bh sendal jepit
- 2 bh topi (peci & topi outdoor)
- 10 bh CD Disposable
- 10 bh Mie Instan
- 10 bh Bubur Ayam Instan
- 100 Gr Kopi bubuk Toraja Original
- 250 Gr Empal goreng
- 500 Gr Sambal goreng kentang +teri + kacang
- Mini Rice Cooker Electric..?
Sabtu, Hari Pertama.

Gak ada yang ngalahin perasaan lega dan excited saat tiba di tempat impian. Apalagi setelah kelamaan duduk di kursi pesawat kelas ekonomi, sekitar 7.5 jam!. Space kaki yang sempit membuat paha dan bokong pegel cekat-cekut. Bersakit-sakit dahulu, stretching klimaks kemudian.
Dengan perasaan haru dan semangat menggebu, sekitar jam 09 pagi waktu setempat, akhirnya saya menginjakkan kaki di Narita International Airport, Jepang.
Ada beberapa perusahaan bus yang beroperasi di Bandara Narita. Jika berbicara mengenai variasi rute yang ditawarkan dan frekuensi keberangkatan bus, maka Airport Limousine (dengan simbol warna jingga) merupakan pilihan yang paling nyaman, itu kalo kamu rich traveler.. Selain menyediakan rute ke area Stasiun Tokyo, Nihonbashi dan Ginza, Ikebukuro, Shinjuku, Shibuya, dan lainnya, perusahaan bus ini juga menyediakan rute langsung ke Disneyland Tokyo.
Saya memilih Tokyo Shuttle Bus bertarif ramping “1.000-Yen” yang dioperasikan oleh 4 perusahaan bis. Salah satunya Keisei Highway Bus yang terkenal dengan tarifnya yang murah dan waktu keberangkatan yang tepat. Setiap bis dilengkapi dengan free Wi-Fi dan kursi yang lega dan nyaman. Jadwal bis setiap 20 menit sekali. Loket penjualan tiket ada tepat di depan lobby begitu kita keluar dari pintu imigrasi. Namun saya membeli tiket via online sepekan lalu.
Tiba di Tokyo Station, rencana awal mau langsung eksplor ke Odaiba, namun kepala cenat cenut effek jetlag dan tentu saja lapar mendera. Akhirnya saya putuskan untuk check in ke hostel dulu di distrik Taito dekat stasiun Uguisudani.
Untuk naik train tentu harus memiliki kartu akses penumpang. Dari beberapa pilihan dgn plus minusnya, saya memilih : Suica. Kartu ini sebenarnya adalah kartu transportasi IC dari JR East. Namun, kartu ini juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran untuk subway dan bus, bahkan juga di beberapa toko. Hal ini membuat Suica menjadi alat pembayaran yang memudahkan penggunanya.
Kartu ini fungsinya sama seperti Ez Link Card di Singapore, Touch n’ Go di KL. Suica worth it untuk dimiliki meskipun mungkin kita hanya berada disini dalam beberapa hari.
Dari stasiun Tokyo saya menuju Yamanote Line, naik kereta menuju stasiun Uguisudani. Kesan pertama kali menginjakkan kaki di MRT adalah kebersihan keretanya, cara masyarakat lokal yg antri dgn tertib, pakaiannya yang rapih dan santun, informasi digital stasiun by stasiun, serta tidak ada yg cekikan, ngobrol dgn menggunakan handphone di atas gerbong.
Tiba di stasiun Uguisudani saya berjalan kaki 5 menitan menuju Base Inn Hostel yang berjarak sekitar 500 m.


Bekal ransum dari Indonesia di loker hostel


Toilet Hostel Tampak depan hostel, sepi...
Bersama Owner Base Inn, Mio San
Anak Nippon Pulang Sekolah
Moda transportasi yang paling direkomendasikan adalah kereta Yurikamome. Kereta Yurikamome adalah kereta otomatis yang beroperasi dari Stasiun Shimbashi memutari Odaiba sampai ke Stasiun Toyosu.

Rainbow Bridge dari jendela MRT

Odaiba, berlokasi sekitar 30 menit dari stasiun Tokyo. Odaiba itu ternyata pulau buatan manusia yang terpisah dari daratan utama dan dihubungkan dengan beberapa jembatan. Cara terbaik untuk kesini adalah naik Yurikamome monorail ke Daiba Station. Pemandangan tepi laut Tokyo yang terlihat dari monorail sungguh keren! Setelah sampai di Daiba station, jalan kaki kurang lebih 5 menit, sudah tampak patung Liberty!
Hi, baby. I’m in New York City! Kamu bisa menipu followers di Instagram dengan pose disini. Kalo beruntung, mereka akan percaya. Kalo engga, image mu akan hancur. Saya belum pernah melihat patung Liberty asli di New York, tapi setidaknya pernah melihat versi mini nya disini, dengan latar Rainbow Bridge, lumayanlah!
Dari replika patung Liberty, kurang lebih 12 menit jalan kaki saya sampai di depan Diver City Tokyu Plaza dimana Gundam raksasa berdiri dengan gagah, patung gundamnya bergerak kaya robot lagi senam. Alhamdulillah puas foto-foto dan mengagumi Gundam light show.


Jump ! Gotcha ! CCTV Mall

Puas mengeksplor kawasan Odaiba, malam makin gelap sementara gumpalan darah makin menumpuk di betis dan kampung tengah tampaknya tak cukup sekedar asupan biskuit, ia meminta lebih. Saya memutuskan melangkahkan kaki ke stasiun Daiba, kembali ke hostel via sta. Uguisudani.
Huft...! tiba di hostel bikin kopi, mandi air hangat, masak mie instant. Ngobrol sebentar dengan Mr. Bola Ayub, pelancong dari Mesir. Kemudian Sholat musafir eh mas Bola membetulkan arah kiblatku, padahal dia seorang Nasrani. Thanks Fren!.
Ahad, Hari Ke Dua.
SHINJUKU
YOYOGI UEHARA
Sarapan pagi dengan nasi sisa kemarin, mie instant, empal dan kopi. Satu dua backpacker berkemas. Ada yang pulang atau melanjutkan perjalanan ke kota lain. Ada juga yang baru check in.
Lets go..jalan kaki sejauh 483 meter menuju ke Sta. Uguisudani tujuan Sta. Shinjuku.

Setiap area memiliki suasana yang berbeda. Ada berbagai macam cara menikmati Shinjuku. Misalnya, melihat pemandangan kota dari atas melalui ruang observasi Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo atau bersantai di taman yang luas.
Stasiun Shinjuku yang menjadi pintu masuk menuju wilayah Shinjuku yang sangat luas merupakan stasiun dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia. Di dalam stasiun besar ini terdapat banyak orang yang berlalu-lalang sehingga tidak heran jika banyak yang kehilangan arah menuju pinju keluar. Jumlah gerbang tiket juga ada banyak sehingga terkadang ada yang salah keluar melalui gerbang tiket yang jauh dari tempat tujuan.
Shinjuku Gyoen National Park







Senin, Hari Ke Tiga.
KAMAKURA
SHIBUYA
HARAJUKU
Kamakura adalah sebuah kota pesisir di Prefektur Kanagawa, kurang dari satu jam di sebelah selatan Tokyo. Kamakura menjadi pusat politik Jepang, ketika Minamoto Yoritomo memilih kota tersebut sebagai tempat duduk untuk pemerintahan militer barunya di tahun 1192. Pemerintah Kamakura terus memerintah Jepang selama lebih dari satu abad, pertama di bawah shogun Minamoto dan kemudian di bawah bupati Hojo.Setelah turunnya pemerintahan Kamakura pada abad ke-14 dan pembentukan penggantinya, pemerintahan Muromachi atau Ashikaga di Kyoto, Kamakura tetap menjadi pusat politik Jepang Timur beberapa waktu sebelum kehilangan posisinya di kota-kota lain.
Kuil Hokokuji





Nah, Tsurugaoka Hachiman-Gu ini adalah salah satu aset berharga dari zaman lampau yang sekarang ini menjadi salah satu tempat bersejarah di Jepang. Stasiun terdekat : Jalan kaki 15 menit dari pintu timur Stasiun Kamakura.
Setibanya di halaman Hachiman-Gu, kita dapat menjumpai kawanan burung merpati. Sebenarnya burung merpati ini mempunyai hubungan mendalam dengan Hachiman-Gu lho! Mengapa ya?
Konon pada awal zaman Kamakura ketika pusat Jepang dari Usa Jingu dan Iwashimizu Hachiman Gu di Kyoto dipindahkan ke Hachiman-Gu yang sekarang ini, jalan menuju ke Hachiman-Gu ditunjukan oleh kawanan burung merpati.
Tsurugaoka Hachiman-Gu pun, sebelumnya tidak berlokasi di tempat yang sekarang ini. Pada saat dipindahkan dari lokasi yang sebelumnya, konon juga terjadi hal yang sama, ditunjukan jalannya oleh kawanan burung merpati. Untuk menghormati burung-burung merpati tersebut, maka di depan Tsurugaoka Hachiman-Gu terdapat lukisan burung merpati
Udara dingin berselaput halimun menerpa kawasan danau Kawaguchiko dan tentu saja menutupi wajah gunung Fujiyama. Sayang ya... (biarin, i will be back!).
Ada dua jenis bus yang dapat membawa kita ke tempat-tempat wisata di Kawaguchiko. Pertama adalah Red Line yang rutenya mengelilingi area di sekitar Danau Kawaguchiko. Sementara Green Line, rutenya mengelilingi area di sekitar Danau Saiko. Karena saat itu saya hanya berniat untuk pergi ke Lake Kawaguchiko dan desa tradisional Iyashino Sato, saya lebih memilih untuk tidak membeli 2-days ticket ini. Saya cukup membayar dengan cash ke kotak kecil yang telah disediakan di sebelah driver saat turun dari bus.
View desa tradisional Iyashino Sato



Tokyo Imperial Palace
Istana selalu menjadi objek yang dicari wisatawan saat traveling ke sebuah negara kerajaan. Berwisata ke Tokyo, Jepang semakin seru ketika kita mengunjungi Imperial Palace, istana Kekaisaran Jepang.
Imperial Palace, adalah sebuah area yang sangat luas ini terletak di pusat kota Tokyo dan dikelilingi oleh aliran sungai. Di dalam kawasan Imperial Palace terdapat Sebuah bangunan bernama Edo Castle, yang pernah dijadikan istana pemerintahan Shogun Tokugawa yang berkuasa pada tahun 1603 sampai 1867.
Ditengok dari situs resmi Imperial Castle, Rabu (7/10/2014) Edo Castle yang dulunya Istana Shogun berubah nama menjadi The Palace Castle (Kyujo) pada tahun 1868. Lalu sejak tahun 1888-1948 resmi berganti nama menjadi The Imperial Palace atau Istana Kekaisaran.

Di area Imperial Palace ini terdapat beberapa objek yang menarik untuk dilihat, seperti Imperial Residence, The Fukiage Omiya, Gedung Imperial Household Agency, The Imperial Palace East Gardens, Jembatan Nijubashi yaitu dua jembatan yang menghubungkan ke pintu masuk dan dan sebuah benteng pertahanan yang bernama Menara Edo.
Tokyo Avenue
Stasiun Tokyo adalah stasiun kereta api yang terletak di distrik perkantoran Marunouchi, Tokyo. Stasiun Tokyo merupakan titik awal dan titik akhir bagi kebanyakan shinkansen yang beroperasi di Jepang, dan juga merupakan stasiun penting untuk banyak jalur kereta api lokal dan kereta bawah tanah.
Akihabara adalah salah satu distrik paling sibuk di Kota Tokyo. Distrik ini juga disebut sebagai "Kota Elektronik". Soalnya, ada banyak banget toko elektronik besar yang tersebar di seluruh penjuru Akibahara.
Meski demikian, enggak diraguin lagi kalau saat ini Akihabara lebih dikenal sebagai "Mekkah-nya” pencinta subkultur populer Jepang. Sebagai otaku/pencinta anime, manga, situ bakal nemuin banyak hal menarik di sini. Mulai dari toko komik, DVD, action figure, hingga ketemu sesama penggemar grup idol.



“Is it OK?”
Saya menyusuri jembatan setelah itu belok kiri ke sisi sungai Sumida, melewati bangunan kompleks Balaikota. Sepanjang sisi sungai pemandangan taman yg tertata sangat menarik membuat jarak sejauh 1.8 km tak terasa. Setelah melewati jalan pintas akhirnya sampailah saya di depan Tokyo Skytree.
Menara ini memiliki ketinggian 634 meter dan dinobatkan sebagai bangunan menara tertinggi di dunia oleh Guinness Book of Records. Di ketinggian 350 meter dan 450 meter di dalam menara ini terdapat beraneka ragam pemandangan yang dapat kita nikmati.
Di Tokyo Skytree Town®, terdapat fasilitas perbelanjaan terpadu yang bernama Tokyo Solamachi. Selain itu, ada juga Aquarium Sumida, Planetarium, dan fasilitas lainnya yang merupakan daya tarik dari Tokyo Skytree.
TOKYO TOWER.
Untuk dapat kemari, saya menggunakan jalur Hibiya Line dan turun di stasiun Kamiyacho, keluar exit No.2, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki santai sekitar 5 menit.
Namun justru dibalik kesederhanaannya, keindahan Tokyo Tower lebih terpancar. Old school never die. Lampu orange yang menyala di malam hari, membuat menara kuno ini terlihat eksotis. Seperti ada romansa yang berbeda dibanding Tokyo Sky Tree.
TSUKIJI FISH MARKET
Akses dari stasiun Tsukiji ke Pasar ikan Tsukiji saya tempuh berjalan kaki sekitar 5 menit (plus mampir di depan Kuil Budha Hongan-ji). Tsukiji Fish Market berada di Chuo-ku, Tokyo, merupakan pasar ikan terbesar di dunia. Tiap harinya banyak ikan segar dan hasil laut lainnya diperjualbelikan di sini. Selain itu, di sini juga terdapat banyak kedai makanan, terutama sushi dan donburi seafood (donburi adalah masakan Jepang berupa nasi dan lauk yang disajikan dalam mangkuk).
Berkunjung ke Tsukiji, hal yang harus dilakukan adalah mencicipi sushi dari bahan seafood segar. Terdapat banyak restoran sushi yang ada di area Pasar Ikan Tsukiji. Berdasarkan referensi saya mampir ke salah satu restoran rekomendasi yang memiliki menu berbahasa Inggris dan itamae-nya (koki yang memasak di restoran masakan Jepang) dapat berbicara bahasa Inggris. Restoran tersebut adalah “Sushi Zanmai Honten”, yaitu restoran pusat dari chain store Sushi Zanmai yang terkenal.

Jelang magrib saya kembali ke hostel untuk mengambil ransel. Membereskan dan menata ulang ransel dan memeriksa 'keamanan' ransel dari kemungkinan adanya oknum yang menyelipkan barang terlarang yang dapat mengantarkan ke tiang gantungan..
Setelah mandi saya pamitan dengan Mio San- owner hostel. Masih ada sisa Indomie + Bon Cabe saya hibahkan ke Yamada, traveler dari Kyoto. Ia menerima dgn sangat senang. Akhirnya saya harus meninggalkan hostel yang menyenangkan ini. Bahagia bisa berkenalan dengan beberapa backpacker dari negeri2 nun jauh di sana.
Jumat, Hari Ke Tujuh
NARITA AIRPORT
Dari stasiun Uguisudani saya naik metro, turun di stasiun Nishin Nippori lalu pindah jalur yang ke arah Narita Airport. Sekitar jam 19 malam saya tiba di bandara. Jadwal penerbanganku ke Jakarta Sabtu besok jam 10. Sekarang cari tempat yg asyik untuk bubu ganteng.
Bagi para backpackers, melakukan perjalanan dengan biaya sehemat mungkin adalah hal utama yang harus dilakukan. Salah satunya yaitu dengan menghemat biaya penginapan.
Selain tempatnya nyaman untuk beristirahat, fasilitas yang tersedia di sini juga sangatlah memadai (free Wi-fi, tempat untuk charger, ruang ibadah, toilet, water tap, vending machine dan konbini / Sevel).
Daftar yang terakhir ini kemudian saya keluarkan dari ransel. Selain berat2in kayaknya mana sempat menanak nasi hihihi, apalagi di hostel tersedia microwave dan ketel listrik, confirmed.
Sekitar jam 12 malam pesawat Air Asia take off dari T3 Soekarno Hatta terbang langsung menuju Tokyo, membelah pekatnya malam.
BASE INN @TAITO
ODAIBA
Gak ada yang ngalahin perasaan lega dan excited saat tiba di tempat impian. Apalagi setelah kelamaan duduk di kursi pesawat kelas ekonomi, sekitar 7.5 jam!. Space kaki yang sempit membuat paha dan bokong pegel cekat-cekut. Bersakit-sakit dahulu, stretching klimaks kemudian.
Dengan perasaan haru dan semangat menggebu, sekitar jam 09 pagi waktu setempat, akhirnya saya menginjakkan kaki di Narita International Airport, Jepang.
Impian masa remaja yang menjadi kenyataan. Walaupun sudah tua-tua keledai, mimpi seorang remaja penyuka Mayumi "Kokoro Notomo" Itsuwa, Casiopea, Kitaro, Novel Mushashi, masih terngiang jelas. Belum lagi komik : The Last Samurai, Tsubasa, Doraemon, Shinchan, Hamtaro. One Pice.
Tidak ada kesulitan saat keluar melalui check point imigrasi. Pemeriksaan berlangsung cepat dan lancar. Di lobby kedatangan (arrival) saya langsung mencari dan menemukan dengan mudah counter money changer. Saya membawa uang dollar namun sedih juga melihat sebuah tulisan pemberitahuan di atas meja pelayanan yang tidak menerima penukaran uang Rupiah. Di sini IDR gak direken cuy !
Saya memilih Tokyo Shuttle Bus bertarif ramping “1.000-Yen” yang dioperasikan oleh 4 perusahaan bis. Salah satunya Keisei Highway Bus yang terkenal dengan tarifnya yang murah dan waktu keberangkatan yang tepat. Setiap bis dilengkapi dengan free Wi-Fi dan kursi yang lega dan nyaman. Jadwal bis setiap 20 menit sekali. Loket penjualan tiket ada tepat di depan lobby begitu kita keluar dari pintu imigrasi. Namun saya membeli tiket via online sepekan lalu.
Untuk naik train tentu harus memiliki kartu akses penumpang. Dari beberapa pilihan dgn plus minusnya, saya memilih : Suica. Kartu ini sebenarnya adalah kartu transportasi IC dari JR East. Namun, kartu ini juga bisa digunakan sebagai alat pembayaran untuk subway dan bus, bahkan juga di beberapa toko. Hal ini membuat Suica menjadi alat pembayaran yang memudahkan penggunanya.
Kartu ini fungsinya sama seperti Ez Link Card di Singapore, Touch n’ Go di KL. Suica worth it untuk dimiliki meskipun mungkin kita hanya berada disini dalam beberapa hari.
Kartu Suica atau Pasmo merupakan kartu debet khusus transportasi.
Kartu Suica membuat jalan-jalan lebih hemat, mudah dan cepat. Tinggal Tap Suica ke pintu masuk mesin, tarifnya otomatis terpotong dari kartunya. Di Jepang, Suica juga dapat digunakan sebagai alat pembayaran (e-money). Beli ice cream, air mineral, dan kopi dari vending machine, tinggal Tap, praktis!
Di mana membeli Suica Card?
Kita bisa membeli Suica di bandara Narita maupun Haneda, di sebagian besar stasiun kereta JR East, kantor tiket JR, di mesin penjual tiket multifungsi, dan pusat layanan travel yang tersebar di seluruh Tokyo. Suica dijual dengan harga 1000 Yen (Rp. 130,000), termasuk didalamnya 500 Yen sebagai deposit yang bisa diuangkan kembali saat kamu mengembalikan kartu ini di kantor tiket JR terdekat. Untuk tinggal 7 hari di Tokyo saya mengisi Suica sebesar 10.000 Yen (Rp. 1.3 jeti) dan ternyata nilai itu pas, dari awal datang sampai saya balik ke Narita lagi utk pulang ke Jakarta.
Kalo kita merasa ga perlu-perlu amat duit depositnya, atau males menukar kartu tersebut saat pulang, kita bisa menyimpannya karena bisa digunakan kembali jika berkunjung ke Jepang suatu hari nanti.
Tokyo Subway Route Map....hebring ! Puyeng Blass !
Tiba di stasiun Uguisudani saya berjalan kaki 5 menitan menuju Base Inn Hostel yang berjarak sekitar 500 m.
Uguisudani Station
Base Inn Hostel


Bekal ransum dari Indonesia di loker hostel


Toilet Hostel Tampak depan hostel, sepi...
Bersama Owner Base Inn, Mio San
Check in lebih awal sekitar jam 11, lalu ngaso sejenak luruskan tulang rusuk. Mandi dan segelas kopi Toraja lumayan membuat fresh dan menghilangkan cenat cenut di kepala. Makan siang dengan bekal nasi, sambal teri, daging empal...gila nikmat bingits!
Setelah sholat qoshor Dhuhur dan Ashar saya meninggalkan hostel menuju stasiun Uguisudani lanjut ke stasiun Kanda lalu ganti kereta Yurikamome (monorail).
Moda transportasi yang paling direkomendasikan adalah kereta Yurikamome. Kereta Yurikamome adalah kereta otomatis yang beroperasi dari Stasiun Shimbashi memutari Odaiba sampai ke Stasiun Toyosu.
Kereta ini mengelilingi Odaiba, sehingga bisa dibilang merupakan jalur yang mempermudah akses ke fasilitas-fasilitas bisnis dan tempat-tempat wisata seperti Odaiba Kaihama Koen (Taman Odaiba Kaihama), Venus Fort, Tokyo Big Sight, dan lain-lain.
Selain itu, karena kereta ini merupakan kereta otomatis, penumpang dapat duduk di kursi masinis yang berada di bagian paling depan. Walaupun bukan berarti bisa mengoperasikan kereta, tapi tempat ini menjadi tempat yang sangat populer untuk menikmati pemandangan jalur kereta dari bagian kereta paling depan.

Rainbow Bridge dari jendela MRT

Odaiba, berlokasi sekitar 30 menit dari stasiun Tokyo. Odaiba itu ternyata pulau buatan manusia yang terpisah dari daratan utama dan dihubungkan dengan beberapa jembatan. Cara terbaik untuk kesini adalah naik Yurikamome monorail ke Daiba Station. Pemandangan tepi laut Tokyo yang terlihat dari monorail sungguh keren! Setelah sampai di Daiba station, jalan kaki kurang lebih 5 menit, sudah tampak patung Liberty!
Hi, baby. I’m in New York City! Kamu bisa menipu followers di Instagram dengan pose disini. Kalo beruntung, mereka akan percaya. Kalo engga, image mu akan hancur. Saya belum pernah melihat patung Liberty asli di New York, tapi setidaknya pernah melihat versi mini nya disini, dengan latar Rainbow Bridge, lumayanlah!
Dari replika patung Liberty, kurang lebih 12 menit jalan kaki saya sampai di depan Diver City Tokyu Plaza dimana Gundam raksasa berdiri dengan gagah, patung gundamnya bergerak kaya robot lagi senam. Alhamdulillah puas foto-foto dan mengagumi Gundam light show.


Jump ! Gotcha ! CCTV Mall
Jelang maghrib di sisi teluk Tokyo
![]() |
| Liberty Park |

Puas mengeksplor kawasan Odaiba, malam makin gelap sementara gumpalan darah makin menumpuk di betis dan kampung tengah tampaknya tak cukup sekedar asupan biskuit, ia meminta lebih. Saya memutuskan melangkahkan kaki ke stasiun Daiba, kembali ke hostel via sta. Uguisudani.
Huft...! tiba di hostel bikin kopi, mandi air hangat, masak mie instant. Ngobrol sebentar dengan Mr. Bola Ayub, pelancong dari Mesir. Kemudian Sholat musafir eh mas Bola membetulkan arah kiblatku, padahal dia seorang Nasrani. Thanks Fren!.
Ahad, Hari Ke Dua.
SHINJUKU
YOYOGI UEHARA
Sarapan pagi dengan nasi sisa kemarin, mie instant, empal dan kopi. Satu dua backpacker berkemas. Ada yang pulang atau melanjutkan perjalanan ke kota lain. Ada juga yang baru check in.
Lets go..jalan kaki sejauh 483 meter menuju ke Sta. Uguisudani tujuan Sta. Shinjuku.

Shinjuku merupakan wilayah hiburan unggulan yang ada di Tokyo. Di Shinjuku ini terdapat berbagai macam izakaya (semacam lapo), bar, toko elektronik yang menjual peralatan elektronik canggih, pusat perbelanjaan mulai dari department store mewah hingga toko pakaian kasual, toko obat, dan lain-lain. Shinjuku menyediakan segala kebutuhan orang dari berbagai kalangan.
Setiap area memiliki suasana yang berbeda. Ada berbagai macam cara menikmati Shinjuku. Misalnya, melihat pemandangan kota dari atas melalui ruang observasi Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo atau bersantai di taman yang luas.
Stasiun Shinjuku yang menjadi pintu masuk menuju wilayah Shinjuku yang sangat luas merupakan stasiun dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia. Di dalam stasiun besar ini terdapat banyak orang yang berlalu-lalang sehingga tidak heran jika banyak yang kehilangan arah menuju pinju keluar. Jumlah gerbang tiket juga ada banyak sehingga terkadang ada yang salah keluar melalui gerbang tiket yang jauh dari tempat tujuan.
Shinjuku Gyoen National Park
Untuk menuju Shinjuku Gyoen National Park, saya keluar dari exit gate Minamiguchi
lalu berjalan kaki 900 meter sampai depan gerbang Gyoen.
Jam 12 saya kembali ke Sta. Shinjuku. Sesuai janji saya akan bertemu Reporter Nazaya Zulaikha dari HMJ - Halal Media Japan. Saya bertemu Aya, begitu panggilannya, di salah satu meeting Point di Sta. Shinjuku. Menggunakan hijab berwarna mocca berpadu dengan blouse dan kulot warna coklat muda. Gaya perempuan milenial.
Ngobrol sebentar mengakrabkan diri. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Masjid Tokyo Camii, dengan naik MRT turun di Sta. Yoyogi Uehara, lalu berjalan kaki sekitar 5 menit. Chit chat penuh keramahan dan informasi tentang Jepang dari berbagai aspek.
Aya@Turkish Culture Center Travel Guide milik Mio San
Di seluruh penjuru negeri Jepang, terdapat sekitar 80 masjid. Di antara 80 masjid tersebut, ada masjid jami terbesar bernama Tokyo Camii & Turkish Culture Center yang selalu digunakan untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.
Tampilan luar masjid memberikan kesan khidmat dan indah, bebas dari kebisingan area pemukiman Yoyogi Uehara.
Tokyo Camii disebut sebagai masjid terindah di Asia. Keindahan dan kenyamanan rancangan masjid serta suasana khidmatnya dapat mencuri hati semua orang. Selain sebagai fasilitas ibadah, Tokyo Camii pun bisa kita amati sebagai bangunan yang memiliki nilai seni tinggi.
Tempat yang pertama kali dikunjungi oleh Presiden Turki, Erdogan di tahun 2015 pada saat melaksanakan kunjungan ke Jepang adalah Tokyo Camii.




Nurullah Ayaz, Imam Masjid Tokyo Camii
Saya sholat musafir dhuhur dan ashar. Di lantai 1 kami diberi minuman teh hangat dan kurma Turki...Alhamdulillah abis makan kurma badanku terasa fresh kembali. Kami kemudian kembali ke Shinjuku, eksplor kawasan Kabukicho. Aya mengajak makan siang dengan menu halal di Coco Ichibanya Halal Curry yang terletak di lantai 1 sebuah gedung.
Selfie bersama Pramusaji, seorang Muslimah Jepang yg menarik hijabnya menjadi cadar


![]() |
| Ada Godzilla di atap gedung ! |
Belanja dikiiit di toko Don Quijote
![]() |
| LUSH ! Shinjuku -Tokyo |

Senin, Hari Ke Tiga.
KAMAKURA
SHIBUYA
HARAJUKU
Kamakura adalah sebuah kota pesisir di Prefektur Kanagawa, kurang dari satu jam di sebelah selatan Tokyo. Kamakura menjadi pusat politik Jepang, ketika Minamoto Yoritomo memilih kota tersebut sebagai tempat duduk untuk pemerintahan militer barunya di tahun 1192. Pemerintah Kamakura terus memerintah Jepang selama lebih dari satu abad, pertama di bawah shogun Minamoto dan kemudian di bawah bupati Hojo.Setelah turunnya pemerintahan Kamakura pada abad ke-14 dan pembentukan penggantinya, pemerintahan Muromachi atau Ashikaga di Kyoto, Kamakura tetap menjadi pusat politik Jepang Timur beberapa waktu sebelum kehilangan posisinya di kota-kota lain.
Kuil Hokokuji
Kuil ini terkenal dengan sebutan kuil bamboo karena di penuhi dengan rumpun bambu tumbuh yang tumbuh subur di pekarangan kuil ini. Berkeliling di kuil ini kita disuguhi banyak lentera batu dan patung-patung Buddha.
Akses:
- Dengan Bis Keihinkyuko jurusan Kamakurareien Shomenmae Tachiarai dan Stasiun Kanazawa Hakkei / Highland dari Stasiun Kamakura JR
- Turun Halte Bis “Kuil Jomyoji” dan berjalan kaki sekitar 3 menit
Harga: tiket masuk 200 Yen, Matcha (teh Jepang + snack) 500 Yen




Tsurugaoka Hachiman-Gu
Nah, Tsurugaoka Hachiman-Gu ini adalah salah satu aset berharga dari zaman lampau yang sekarang ini menjadi salah satu tempat bersejarah di Jepang. Stasiun terdekat : Jalan kaki 15 menit dari pintu timur Stasiun Kamakura.
Setibanya di halaman Hachiman-Gu, kita dapat menjumpai kawanan burung merpati. Sebenarnya burung merpati ini mempunyai hubungan mendalam dengan Hachiman-Gu lho! Mengapa ya?
Konon pada awal zaman Kamakura ketika pusat Jepang dari Usa Jingu dan Iwashimizu Hachiman Gu di Kyoto dipindahkan ke Hachiman-Gu yang sekarang ini, jalan menuju ke Hachiman-Gu ditunjukan oleh kawanan burung merpati.
Tsurugaoka Hachiman-Gu pun, sebelumnya tidak berlokasi di tempat yang sekarang ini. Pada saat dipindahkan dari lokasi yang sebelumnya, konon juga terjadi hal yang sama, ditunjukan jalannya oleh kawanan burung merpati. Untuk menghormati burung-burung merpati tersebut, maka di depan Tsurugaoka Hachiman-Gu terdapat lukisan burung merpati
Berkunjung ke Kamakura jangan lupa datang ke Kamakura Komachidori, sebuah jalan yang menyebar dari rotari di depan stasiun Kamakura ke utara menuju Kamakura Hachiman-gu. Menurut legenda, lokasi ini dimulai saat sebuah pasar dibuka di depan kuil. Jalanan yang sangat unik dan menarik ini dipenuhi dengan kafe kafe mewah, tempat nonkgrong, kafe manis bergaya Jepang, dan toko yang menjual souvenir dan bermacam-macam barang unik untuk yang tidak akan ditemukan di Indonesia. Banyak jalan samping cabang dari kedua sisi Jalan Komachi-dori. Kita bisa berjalan-jalan ke gang-gang sempit dan menemukan rumah-rumah gaya lama bergaya Barat dengan suasana bersejarah dan toko-toko tradisional yang tersembunyi.
Dari Stasiun Kamakura saya melanjutkan perjalanan ke Shibuya untuk bertemu dengan seorang kawan. Turun di Sta. Shibuya hujan rintik2 panjang membasahi Shibuya yang padat. Terlihat pemandangan warga lokal menggunakan payung transparant dan menjadi pemandangan unik yang selama ini saya tahu hanya melalui gambar komik maupun foto di media sosial.
Sesuai janji kami bertemu di depan patung Hatchiko yang legendaris. Meski suasana Shibuya cukup padat manusia yang lalu lalang namun tidak perlu waktu lama untuk bertemu Misaki Hirota, gadis Jepang yang anggun & periang, tentu saja ia pribadi yang menyenangkan...rinai hujan menjadi pelengkap suasana pertemuan saya dan Misaki.
Bersama Misaki saya melangkahkan kaki menyusuri pertokoan dan menyeberang di simpang Shibuya yang konon menjadi simpang terpadat di dunia.





Dari Stasiun Shibuya kami melanjutkan perjalanan dgn kereta menuju Stasiun Harajuku yang hanya terpaut satu stasiun dari Shibuya. Meski hujan terus turun tidak mengurangi semangat kami keluar masuk toko/outlet sekedar window shopping dan merasakan atmosfer Harajuku yang fenomenal.dengan fashionnya.
Belanja dikit di Daisho Takeshita Street : gantungan kunci karakter medis 2 pc @ 800Yen. Barang semini itu harganya bikin sakit gigi, mules (kalo bukan buat special someone ogah..hihiyy)
Puas di Harajuku kami kembali ke Shibuya untuk bertemu dengan Rei Narita, seorang musisi jazz genre smooth jazz yang pernah ke Jakarta mengisi pentas Java Jazz 2016, festival Jepang dan beberapa festival lainnya. Kami bertemu di Purikura Shibuya 109 kemudian bertiga berjalan kaki menembus gerimis menyusuri sisi rel kereta api menuju Ebisu untuk makan malam di Honolu Halal Ramen. Resto ini atau lebih tepat disebut warung mie ramen tempatnya kecil nyempil di tepi jalan di seberang rel kereta api. Namun meski kecil warung ini ternyata sudah di sambangi beberapa musisi Indonesia papan atas, seperti Tantri Kotak, Raisa, Marissa Haque, dsb. Itu terlihat dari testimoni yg ada di dinding warung.Bersama Misaki saya melangkahkan kaki menyusuri pertokoan dan menyeberang di simpang Shibuya yang konon menjadi simpang terpadat di dunia.





Rainy Days, Tatsuro Yamashita
![]() |
| Takeshita Street |
Belanja dikit di Daisho Takeshita Street : gantungan kunci karakter medis 2 pc @ 800Yen. Barang semini itu harganya bikin sakit gigi, mules (kalo bukan buat special someone ogah..hihiyy)
Harajuku Takeshita Street
![]() |
'bertemu', Raisa, Tantri Kotak
|
Java Jazz Th 2016
Sebelum berpisah dengan Rei Narita saya memberikan suvenir album CD Krakatau Band. Malam sudah larut. Kami berpisah di stasiun Shibuya. Saya dan Misaki naik kereta yang sama. Misaki turun di Stasiun Kanda, saya masih lanjut ke Stasiun Uguisudani. Malam yang tak terlupakan.
Selasa, Hari Ke Empat.
LAKE KAWAGUCHI
CHIYODA TOKYO
AKIHABARA
Bangun sholat subuh, masih jam 5 pagi saya bergegas ke Stasiun Uguisudani naik kereta ke terminal bus Shinjuku. Pagi ini saya akan Kawaguchiko, desa tradisional Iyashi no Sato. Kalau beruntung saya akan melihat gunung Fujiyama. Agak pesimis memang karena bulan September bukan saat yang paling tepat untuk menyaksikan kecantikan gunug Fujiyama.
Transportasi paling efektif dari Tokyo menuju ke Lake Kawaguchi jika tidak memiliki JR Pass adalah dengan naik bus. Fujikyu dan Keio Bus menyediakan 2 bus per jamnya yang mengantar langsung dari Terminal Bus Shinjuku ke Kawaguchiko Station di Fuji Five Lakes. Perjalanannya memakan waktu sekitar 2 jam dan biayanya 1750 yen | Rp. 223,000. Sebagian besar bus berhenti di Fujisan Station dan Fuji Q Highland sebelum tiba di Stasiun Kawaguchiko. Japan Rail Pass tidak berlaku di bus ini.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, sampailah kami di terminal Kawaguchi.
![]() |
| Tiket Bus Green Line |
![]() |
| Fuji - Route Bus |
![]() |
| Danau Kawaguchi |
Udara dingin berselaput halimun menerpa kawasan danau Kawaguchiko dan tentu saja menutupi wajah gunung Fujiyama. Sayang ya... (biarin, i will be back!).
Ada dua jenis bus yang dapat membawa kita ke tempat-tempat wisata di Kawaguchiko. Pertama adalah Red Line yang rutenya mengelilingi area di sekitar Danau Kawaguchiko. Sementara Green Line, rutenya mengelilingi area di sekitar Danau Saiko. Karena saat itu saya hanya berniat untuk pergi ke Lake Kawaguchiko dan desa tradisional Iyashino Sato, saya lebih memilih untuk tidak membeli 2-days ticket ini. Saya cukup membayar dengan cash ke kotak kecil yang telah disediakan di sebelah driver saat turun dari bus.
![]() |
| Matcha Ice Cream by Tomi, paling hip di Tokyo |
View desa tradisional Iyashino Sato
![]() |
| 1 ekor ikan bakar dari danau ini harganya 500 Yen alias 69 rebu...tobat! |



Tokyo Imperial Palace
Istana selalu menjadi objek yang dicari wisatawan saat traveling ke sebuah negara kerajaan. Berwisata ke Tokyo, Jepang semakin seru ketika kita mengunjungi Imperial Palace, istana Kekaisaran Jepang.
Imperial Palace, adalah sebuah area yang sangat luas ini terletak di pusat kota Tokyo dan dikelilingi oleh aliran sungai. Di dalam kawasan Imperial Palace terdapat Sebuah bangunan bernama Edo Castle, yang pernah dijadikan istana pemerintahan Shogun Tokugawa yang berkuasa pada tahun 1603 sampai 1867.
Ditengok dari situs resmi Imperial Castle, Rabu (7/10/2014) Edo Castle yang dulunya Istana Shogun berubah nama menjadi The Palace Castle (Kyujo) pada tahun 1868. Lalu sejak tahun 1888-1948 resmi berganti nama menjadi The Imperial Palace atau Istana Kekaisaran.

Di area Imperial Palace ini terdapat beberapa objek yang menarik untuk dilihat, seperti Imperial Residence, The Fukiage Omiya, Gedung Imperial Household Agency, The Imperial Palace East Gardens, Jembatan Nijubashi yaitu dua jembatan yang menghubungkan ke pintu masuk dan dan sebuah benteng pertahanan yang bernama Menara Edo.
Tokyo Station
didesain oleh arsitek bernama Kingo Tatsuno. Bangunan arsitektur bergaya modern ini memiliki daya tarik berupa interior yang elegan dengan batu bata berwarna merah. Bangunan ini sedang direnovasi untuk menyambut Olimpiade Tokyo di tahun 2020 mendatang. Renovasi ini bertujuan untuk menggabungkan banyak bangunan lokal ke bangunan utama, melalui jaringan jalan bawah tanah. Selain banyaknya toko oleh-oleh yang terkenal dari seluruh Jepang, di sini juga terdapat banyak restoran yang terkenal di seluruh dunia.
Nama stasiun Tokyo mempresentasikan sebuah stasiun di tengah2 kota Tokyo. Dan karena ini berada di distrik mewah Marunouchi, stasiun ini sangat dekat dengan Istana Kekaisaran Jepang dan Ginza, distrik super mewah untuk komersial.
Akihabara
Meski demikian, enggak diraguin lagi kalau saat ini Akihabara lebih dikenal sebagai "Mekkah-nya” pencinta subkultur populer Jepang. Sebagai otaku/pencinta anime, manga, situ bakal nemuin banyak hal menarik di sini. Mulai dari toko komik, DVD, action figure, hingga ketemu sesama penggemar grup idol.



Di sinilah lahir grup idol bernama AKB48 yang merupakan singkatan dari AKiBa (Akihabara). Teater yang sekaligus jadi kafe dan toko resmi AKB48 ini bisa kamu temuin enggak jauh dari Stasiun Akihabara. Makanya, kamu bakal nemuin makanan atau minuman bertema AKB48 serta merchandise resmi, seperti kostum dan hal-hal apa pun yang berkaitan sama para anggotanya. Grup idol yang jumlah anggotanya mirip pendemo ini juga menular ke Jakarta dgn grup JKT48.
Yang aneh menurutku, kalo di Indonesia AKB48-JKT48 diminati para ABG eh di sini kok malah ? Saat saya masuk ke lobby ruang konser, saya tak melihat satupun abege atau gadis2 belia - tak satupun!- malah semua pria2 dewasa....hiiii jijay !
Rabu, Hari ke Lima.
ASAKUSA
TOKYO SKYTREE
ASAKUSA
TOKYO SKYTREE
SHIMOKITAZAWA
GINZA
Keluar dari Asakusa Station saya sedikit keder ke kanan apa ke kiri? feelingku kanan tapi kok langkahku ke kiri ya. Setelah berjalan beberapa meter lalu menyeberang jalan langkah kaki dan otak makin gak padu. kayaknya salah arah nih. Tanya ke orang pertama, laki...ia tak mampu English bahkan JapaEng (Japan English hihi) ...zooonk! Tanya lagi seorang pemuda rada parlente, potongan pegawe bank di Jekardah, lumayan dapat petunjuk. Ia menunjuk ke arah berlawanan dengan jari telunjuk! Bedanya dgn di Jekardah, atas nama kesantunan orang menunjuk dgn jempol, meski sebenernya jadi kurang terang (kalo telunjuk kan panjang jadi lgs terang hihihi).
Tuu kan tadi kata hati sudah bilang kanan. Antum ngeyel ke kiri...
Setelah berjalan kurleb 1 km / 5 menitan melewati toko, restoran dan perkantoran yg ramai akhirnya sampailah di gerbang Kuil Sensoji. Kalau tak mau jalan kaki bisa naik becak yang ditarik anak muda bertubuh atletis, berpakaian tempoe doeloe (mengingatkanku komik Pendekar Sato Ichi di masa lampau).
Menimbang sisi humanisme (eccieeeh....) dan terutama sih cost yg harus dirogoh cukup mampu mengharubirukan dompet, maka haqqul yaqin saya memilih 'jappa paruntang' wal nyeker penuh suka hati dan riang gembira...hikssss!

Penarik Rickshaw dan Pemandu Cantik : Sugoii..!
Sensoji Temple
Asakusa adalah daerah wisata paling terkenal di Tokyo. Di daerah ini masih terdapat bangunan kuno khas Jepang seperti Kuil Sensoji. Kita juga bisa menikmati kerajinan, pemandangan jalanan, dan makanan tradisional Jepang.
Nakamise Dori - adalah shopping street yang membentang dari Gerbang Kaminarimon sampai aula utama Kuil Sensoji. Sudah ada selama lebih dari 130 tahun sehingga dijuluki pusat perbelanjaan tertua di Jepang dan terdapat lebih dari 90 toko yang berderet di sepanjang jalan.
Di sepanjang Nakamise Street, dipenuhi pertokoan yang menjual pernak pernik dan oleh-oleh lucu khas Jepang. Terdapat juga food stall yang menjual berbagai macam makanan dan snack cemilan yang enak, unik dan Instagram-able! Saya juga melihat banyak gadis berseliweran mengenakan baju tradisional Yukata. Aaaahh… indahnya cuci mata. Scene Miyabi mendadak berputar dikepala...hihihihi..


Setelah mencicipi beraneka snack dan melihat berbagai macam keunikan barang disepanjang jalan Nakamise Shopping Street, sampailah saya di kuil tertua di Jepang. Jangan lupa sebelum masuk, cuci tangan dulu di Chozuya. Sebuah kolam air mancur batu berkepala naga. Murnikan dirimu dengan 'centong' air yang telah disediakan. Cuci tangan sebagai lambang ‘membersihkan diri’ dari segala noda dunia.
Cara cuci tangan adalah pegang 'centong' air dengan tangan kanan, lalu tuangkan air ke tangan kiri bilas-bilas, kemudian pindahkan centong ke tangan kiri dan tuangkan air ke tangan kanan bilas-bilas. Kamu juga bisa menuangkan air ke tangan, lalu membersihkan mulut dengan menempelkan sedikit air di bibir.
Kaminarimon Gate adalah lampion merah raksasa yang menyambut kedatanganku di Sensoji Temple. Salah satu Tourist attraction yang wajib dikunjungi. Walaupun Kaminarimon Gate selalu disesaki turis, berfoto ala model disini ga boleh ter lewatkan. At least once in your life, it makes you look Sugoiii!/
Asakusa is the right place to feel the real traditional Tokyo experience
GINZA
Keluar dari Asakusa Station saya sedikit keder ke kanan apa ke kiri? feelingku kanan tapi kok langkahku ke kiri ya. Setelah berjalan beberapa meter lalu menyeberang jalan langkah kaki dan otak makin gak padu. kayaknya salah arah nih. Tanya ke orang pertama, laki...ia tak mampu English bahkan JapaEng (Japan English hihi) ...zooonk! Tanya lagi seorang pemuda rada parlente, potongan pegawe bank di Jekardah, lumayan dapat petunjuk. Ia menunjuk ke arah berlawanan dengan jari telunjuk! Bedanya dgn di Jekardah, atas nama kesantunan orang menunjuk dgn jempol, meski sebenernya jadi kurang terang (kalo telunjuk kan panjang jadi lgs terang hihihi).
Tuu kan tadi kata hati sudah bilang kanan. Antum ngeyel ke kiri...
Setelah berjalan kurleb 1 km / 5 menitan melewati toko, restoran dan perkantoran yg ramai akhirnya sampailah di gerbang Kuil Sensoji. Kalau tak mau jalan kaki bisa naik becak yang ditarik anak muda bertubuh atletis, berpakaian tempoe doeloe (mengingatkanku komik Pendekar Sato Ichi di masa lampau).
Menimbang sisi humanisme (eccieeeh....) dan terutama sih cost yg harus dirogoh cukup mampu mengharubirukan dompet, maka haqqul yaqin saya memilih 'jappa paruntang' wal nyeker penuh suka hati dan riang gembira...hikssss!

Penarik Rickshaw dan Pemandu Cantik : Sugoii..!
Sensoji Temple
Asakusa adalah daerah wisata paling terkenal di Tokyo. Di daerah ini masih terdapat bangunan kuno khas Jepang seperti Kuil Sensoji. Kita juga bisa menikmati kerajinan, pemandangan jalanan, dan makanan tradisional Jepang.
Nakamise Dori - adalah shopping street yang membentang dari Gerbang Kaminarimon sampai aula utama Kuil Sensoji. Sudah ada selama lebih dari 130 tahun sehingga dijuluki pusat perbelanjaan tertua di Jepang dan terdapat lebih dari 90 toko yang berderet di sepanjang jalan.
Di sepanjang Nakamise Street, dipenuhi pertokoan yang menjual pernak pernik dan oleh-oleh lucu khas Jepang. Terdapat juga food stall yang menjual berbagai macam makanan dan snack cemilan yang enak, unik dan Instagram-able! Saya juga melihat banyak gadis berseliweran mengenakan baju tradisional Yukata. Aaaahh… indahnya cuci mata. Scene Miyabi mendadak berputar dikepala...hihihihi..

![]() |
| Cukup Empat! |

Setelah mencicipi beraneka snack dan melihat berbagai macam keunikan barang disepanjang jalan Nakamise Shopping Street, sampailah saya di kuil tertua di Jepang. Jangan lupa sebelum masuk, cuci tangan dulu di Chozuya. Sebuah kolam air mancur batu berkepala naga. Murnikan dirimu dengan 'centong' air yang telah disediakan. Cuci tangan sebagai lambang ‘membersihkan diri’ dari segala noda dunia.
Cara cuci tangan adalah pegang 'centong' air dengan tangan kanan, lalu tuangkan air ke tangan kiri bilas-bilas, kemudian pindahkan centong ke tangan kiri dan tuangkan air ke tangan kanan bilas-bilas. Kamu juga bisa menuangkan air ke tangan, lalu membersihkan mulut dengan menempelkan sedikit air di bibir.
Kaminarimon Gate adalah lampion merah raksasa yang menyambut kedatanganku di Sensoji Temple. Salah satu Tourist attraction yang wajib dikunjungi. Walaupun Kaminarimon Gate selalu disesaki turis, berfoto ala model disini ga boleh ter lewatkan. At least once in your life, it makes you look Sugoiii!/
Asakusa is the right place to feel the real traditional Tokyo experience
Ketika saya tengah asyik memotret, ada sepasang couple berwajah asia mendatangi saya dan berkata
“Hi, can you help us to take a picture?"
“Yeah, sure” jawab saya sambil mengangguk. Wah pas banget, baru mau minta tolong motretin juga.
Kemudian saya mulai fotoin mereka dari bawah sambil jongkok, portrait dan landscape berbagai sudut dan berlagak seperti fotografer professional. Setelah selesai motoin, sayapun gantian minta tolong mereka buat potoin. Hukum bisnis, timbal balik yang asik.“Where do you come from?” tanya saya kepada mereka.
“We’re from Thailand” jawab salah satu dari mereka.
“Oh, i see. Sawaddee kaaaaab!!” Sapa saya sok ngerti bahasa Thailand sambil menundukkan badan ala orang Jepang, ga tau juga kenapa saat itu saya spontan menundukkan badan (Ojigi dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan kesopanan terhadap lawan bicara.).
Mereka pun tersenyum getir, mungkin tau pengejaan bahasa Thailand saya super salah.
Kemudian mereka bertanya tentang hasil foto yang mereka ambil,
“Is it OK?”
“Hmmm… yeah, i think it’s nice” jawab saya sambil mengecek foto, walaupun sebenarnya hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Saya merasa ga enak kalo terlalu jujur dan berkata “it’s damn ugly. Can you even take a picture? Please shoot it like a pro! siapa gue?”
Hening.
Membaca dari reaksi wajah saya, pasangan ini menawarkan saya untuk berfoto menggunakan kamera DSLR yang mereka miliki. Wah, lumayan nih, pikir saya. Boleh deh boleh! Merekapun mengabadikan moment saya disana layaknya model papan triplek. Saat itu saya ga terlalu ngerti tentang fotografi, jadi satu satunya kamera yang saya punya adalah Xiaomai tanpa saus kacang!
Dan saya pun setuju dengan perkataan Wiremu Ratcliffe :
Setelah itu kami sempat duduk dan ngobrol sebentar, sambil menikmati pemandangan. Saya pun meminta foto yang mereka shoot. Whooaaa, it looks good, photogenic! Mereka pun tersenyum. Foto yang mereka jepret, bisa kalian liat di sini. There’s always a good people out there, a kind tourist that will help you enjoy the journey.
Pengalaman yang tak terlupakan. Serunya Asakusa melebihi asa. Hal-hal sederhana yang menjadi kenangan membahagiakan. Dari mimpi dunia cartoon masa kecil, dari cuma membayangkan saat membaca komik, dari cuma ngeliat foto di Instagram, dari cuma nonton di film-film. Sampai ngerasain sendiri betapa Sugoiii-nya Jepang.Dan saya pun setuju dengan perkataan Wiremu Ratcliffe :
“I travel because … ngeliat poto dan brosur doang ga cukup, datang dan merasakan dengan mata kepala sendiri itu segala-galanya!”
TOKYO SKYTREE
Tokyo Skytree adalah bangunan menara yang berdiri di Distrik Sumida dan letaknya berada di dekat Sungai Sumida yang berseberangan dengan Asakusa. Dari stasiun Asakusa saya berjalan kaki melalui Azuma Bridge. Di sekitaran jembatan Azuma-bashi yang memotong Sumida River cukup banyak pelancong yg menikmati view Tokyo Skytree, gedung Asahi. Dari atas jembatan kita juga bisa melihat lalu lalang water bus Himiko. Himiko adalah nama moda transportasi karya Reydzi Matsumoto. Kreator bus ini memberinya nama Himiko sebagai bentuk penghormatan pada Ratu Legendaris Jepang Kuno yang bernama sama.
Menara ini memiliki ketinggian 634 meter dan dinobatkan sebagai bangunan menara tertinggi di dunia oleh Guinness Book of Records. Di ketinggian 350 meter dan 450 meter di dalam menara ini terdapat beraneka ragam pemandangan yang dapat kita nikmati.
Di Tokyo Skytree Town®, terdapat fasilitas perbelanjaan terpadu yang bernama Tokyo Solamachi. Selain itu, ada juga Aquarium Sumida, Planetarium, dan fasilitas lainnya yang merupakan daya tarik dari Tokyo Skytree.
Vintage @Shimokitazawa
Disamping suasana kota yang ramai dan sibuk, ternyata Tokyo tetap memiliki tempat dimana kita bisa berjalan-jalan santai sambil menikmati suasana sekitar.
Hanya berjarak sekitar 7 menit sebelah barat dari Shinjuku, atau 3 menit sebelah barat dari Shibuya, terdapat satu distrik yang sangat keren. Shimokitazawa, atau yang biasa dikenal dengan "Shimokita" merupakan distrik kecil yang terletak di bagian barat Kota Tokyo. Namun meskipun kecil, distrik ini sangat terkenal di kalangan traveler.
Hanya berjarak sekitar 7 menit sebelah barat dari Shinjuku, atau 3 menit sebelah barat dari Shibuya, terdapat satu distrik yang sangat keren. Shimokitazawa, atau yang biasa dikenal dengan "Shimokita" merupakan distrik kecil yang terletak di bagian barat Kota Tokyo. Namun meskipun kecil, distrik ini sangat terkenal di kalangan traveler.
vintage fashion
Sedikit mirip dengan Harajuku, Shimokitazawa menawarkan suasana kota yang penuh dengan nuansa seni yang keren. Karena kota kecil ini memang menjadi pusatnya para seniman-seniman lokal, sehingga ketika menyusuri jalanan kota Shimokita, kita akan menemukan hal-hal yang menarik mata di setiap sudutnya.
Tidak hanya tempat yang cocok untuk yang ingin bersantai, Shimokitazawa juga merupakan surganya orang yang ingin berbelanja barang dengan harga miring. Karena di sini kita akan menemukan banyak toko barang second dengan kualitas yang masih sangat bagus. Ditambah lagi dengan nuansa arsitektur bangunan yang terkesan retro dan vintage, membuat pengalaman berbelanja semakin menyenangkan.
Tokyu Ginza
Ginza dikenal sebagai salah satu distrik perbelanjaan kelas atas di Tokyo. Di sepanjang jalan utamanya berjajar butik-butik dengan merek papan atas ataupun toko-toko barang kebutuhan sehari-hari.
Kamis, Hari ke Enam.
SHIBAKOEN MINATO
AMEYOKO OKACHIMACHI
TSUKIJI FISH MARKET
Ini hari terakhir saya tinggal di Base inn Hostel, besok pagi sudah harus kembali ke Indonesia. Sesuai itin saya akan nginap di Bandara Narita malam ini.
Setelah mengemas pakaian dan sedikit oleh2 ke dalam ransel saya check out namun ransel masih saya titip di depan loker. Saya masih akan kembali sore ini mengambil ransel dan mandi sebelum ke bandara.
Pagi ini saya akan mengunjungi Tokyo Tower di Shibakoen dan Pasar Ameyoko Okachimachi.
Untuk menuju Ameyoko, bagi pemegang Japan Rail Pass bisa lebih berhemat karena kita bisa naik kereta melalui jalur JR Yamanote Line atau JR Keihin-Tohoku Line lalu turun di Stasiun Ueno dan keluar dari Pintu Keluar Shinobazu. Atau kalau naik Oedo Subway Line, kita bisa turun di Stasiun Ueno-Okamachi dan hanya tinggal berjalan kaki sedikit ke arah bawah.
Wisata ke Jepang kurang lengkap kalau tidak membeli berbagai oleh-oleh yang ada di sana. Tetapi kalau mengingat tingginya harga barang di Jepang, jadi keder untuk membeli banyak barang. Nah, di Tokyo ada kok, tempat belanja cokelat dan oleh-oleh camilan khas Jepang dengan harga murah meriah. Datang saja ke shopping street di daerah Ameya Yokocho atau Ameyoko.
Shopping Street Ameyoko ini merupakan area belanja yang sangat luas dan tersebar di sepanjang jalan antara daerah Ueno dan Okachimachi. Sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh lebih dari 450 toko yang menjual berbagai macam produk mulai dari baju, sepatu, tas tangan, aksesoris Jepang untuk wanita, kebab turki, pakaian, pernak-pernik kosmetik, kue tradisional, cokelat, alat rumah tangga, bumbu masak, barang sehari-hari, restoran, cafe, bahan makanan, makanan kering, ikan segar, bahkan perhiasan. Semua dijual dengan harga murah meriah.
Meski saya terbilang traveler budgeter kudu sempatin ke Ginza, Cuma sekedar jalan2 saja karena saya tahu, Ginza hanya bisa atau boleh lihat saja. Hahaha ..... karena harga barang2 disana bisa membuat saya gulung tikar ......
Ya, Ginza adalah distrik mewah komersial. Semua merk dunia ada disana. Jika New York punya Mahattan dengan toko2 mewahnya, Los Angeles punya Beverly Hills dan Paris punya Champs Ellyessee, Tokyo punya Ginza.![]() |
| Tokyu Plaza Ginza |
SHIBAKOEN MINATO
AMEYOKO OKACHIMACHI
TSUKIJI FISH MARKET
Ini hari terakhir saya tinggal di Base inn Hostel, besok pagi sudah harus kembali ke Indonesia. Sesuai itin saya akan nginap di Bandara Narita malam ini.
Setelah mengemas pakaian dan sedikit oleh2 ke dalam ransel saya check out namun ransel masih saya titip di depan loker. Saya masih akan kembali sore ini mengambil ransel dan mandi sebelum ke bandara.
Pagi ini saya akan mengunjungi Tokyo Tower di Shibakoen dan Pasar Ameyoko Okachimachi.
Untuk menuju Ameyoko, bagi pemegang Japan Rail Pass bisa lebih berhemat karena kita bisa naik kereta melalui jalur JR Yamanote Line atau JR Keihin-Tohoku Line lalu turun di Stasiun Ueno dan keluar dari Pintu Keluar Shinobazu. Atau kalau naik Oedo Subway Line, kita bisa turun di Stasiun Ueno-Okamachi dan hanya tinggal berjalan kaki sedikit ke arah bawah.
Wisata ke Jepang kurang lengkap kalau tidak membeli berbagai oleh-oleh yang ada di sana. Tetapi kalau mengingat tingginya harga barang di Jepang, jadi keder untuk membeli banyak barang. Nah, di Tokyo ada kok, tempat belanja cokelat dan oleh-oleh camilan khas Jepang dengan harga murah meriah. Datang saja ke shopping street di daerah Ameya Yokocho atau Ameyoko.
Shopping Street Ameyoko ini merupakan area belanja yang sangat luas dan tersebar di sepanjang jalan antara daerah Ueno dan Okachimachi. Sepanjang jalan tersebut dipenuhi oleh lebih dari 450 toko yang menjual berbagai macam produk mulai dari baju, sepatu, tas tangan, aksesoris Jepang untuk wanita, kebab turki, pakaian, pernak-pernik kosmetik, kue tradisional, cokelat, alat rumah tangga, bumbu masak, barang sehari-hari, restoran, cafe, bahan makanan, makanan kering, ikan segar, bahkan perhiasan. Semua dijual dengan harga murah meriah.
ganjel perut dgn Onigiri, nasi sekepal berisi tuna, 120 Yen / Rp 16.800
Ameyoko juga kental dengan sejarah. Dulu pada masa Perang Dunia II, karena terjadi krisis bahan makanan, tempat ini digunakan oleh para tentara Amerika untuk menjual berbagai barang miliknya (termasuk permen dan aneka kue khas Amerika) demi mendapatkan yen. Dengan kata lain, dulu di sinilah tempatnya untuk mendapatkan barang-barang selundupan (pasar gelap) dari Amerika.Karena itulah nama tempatnya pun mengambil dengan awalan Ameya Yokocho (Ame=permen, ya=toko, yokocho=lorong/jalan) atau disingkat Ameyoko. Atau menurut versi yang lain, Ameya Yokocho juga dapat berarti “Ame” = Amerika, “ya” = toko, “yokocho” = lorong/jalan, yang berarti jalan di mana terdapat tokonya orang Amerika atau barang-barang Amerika.
Meski bujet terbatas rasanya kismin banget kalo gak belanja oleh2 di Ameyoko. Maka tak perlu mikir lama untuk pulang bawa tentengan berisi : spokat 2 bh, jam tangan 3 bh, gelang hias dari batu akik berpadu , blouse.
Sambil menikmati Arirang Hotdog dan segelas Fanta Hijau saya berjalan ke stasiun Okachimaci, melanjutkan perjalanan ke Tokyo Tower.
| 4 Penjuru Angin, langsung kupakai |
Untuk dapat kemari, saya menggunakan jalur Hibiya Line dan turun di stasiun Kamiyacho, keluar exit No.2, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki santai sekitar 5 menit.
Daaann...Sampailah saya di salah satu landmark tercantik di Tokyo. Menara yang terinspirasi dari Eiffel Tower. Yang ternyata lebih tinggi 13 meter dibandingkan Eiffel. Tinggi Tokyo Tower mencapai 333 meter. Menara ini dibangun pada tahun 1958 sebagai lambang pemulihan dari kehancuran Jepang akibat Perang Dunia ke-2.
Menaranya terbuat dari baja yang dicat orange dan putih. Tokyo Tower memang kalah pamor dibanding saudari tirinya Tokyo Skytree. Walaupun sama-sama berfungsi sebagai menara broadcast, Tokyo Sky Tree yang menjadi menara tertinggi ke-2 dunia setelah Burj Khalifa, jauh lebih populer. Lingkungan di sekitar Tokyo Sky Tree dan Asakusa pun jauh lebih hidup.
Namun justru dibalik kesederhanaannya, keindahan Tokyo Tower lebih terpancar. Old school never die. Lampu orange yang menyala di malam hari, membuat menara kuno ini terlihat eksotis. Seperti ada romansa yang berbeda dibanding Tokyo Sky Tree.
TSUKIJI FISH MARKET
Akses dari stasiun Tsukiji ke Pasar ikan Tsukiji saya tempuh berjalan kaki sekitar 5 menit (plus mampir di depan Kuil Budha Hongan-ji). Tsukiji Fish Market berada di Chuo-ku, Tokyo, merupakan pasar ikan terbesar di dunia. Tiap harinya banyak ikan segar dan hasil laut lainnya diperjualbelikan di sini. Selain itu, di sini juga terdapat banyak kedai makanan, terutama sushi dan donburi seafood (donburi adalah masakan Jepang berupa nasi dan lauk yang disajikan dalam mangkuk).
Berkunjung ke Tsukiji, hal yang harus dilakukan adalah mencicipi sushi dari bahan seafood segar. Terdapat banyak restoran sushi yang ada di area Pasar Ikan Tsukiji. Berdasarkan referensi saya mampir ke salah satu restoran rekomendasi yang memiliki menu berbahasa Inggris dan itamae-nya (koki yang memasak di restoran masakan Jepang) dapat berbicara bahasa Inggris. Restoran tersebut adalah “Sushi Zanmai Honten”, yaitu restoran pusat dari chain store Sushi Zanmai yang terkenal.
Itamae Sushizanmai
Tepat di sebelah Pasar Tsukiji terdapat kuil beraliran Jodishinshu (salah satu aliran Buddha). Kuil ini memiliki bentuk aliran Buddha India zaman dahulu, bentuknya seperti istana, kemudian terdapat pipa organ yang terbuat dari kaca patri (jenis kaca berwarna). Berbeda dengan kuil-kuil Jepang pada umumnya, di sini sayaa dapat menikmati suasana campuran antara budaya Jepang dan Eropa. Konon setiap bulan di jam makan siang hari jumat terakhir, diadakan konser organ pipa yang dibalut dengan wangi dupa. Pada malam hari, di aula utamanya lampu-lampu menyala indah, memberikan suasana yang misterius.

![]() |
| horang kayah lokal juga jalan kaki kok... |
Setelah mandi saya pamitan dengan Mio San- owner hostel. Masih ada sisa Indomie + Bon Cabe saya hibahkan ke Yamada, traveler dari Kyoto. Ia menerima dgn sangat senang. Akhirnya saya harus meninggalkan hostel yang menyenangkan ini. Bahagia bisa berkenalan dengan beberapa backpacker dari negeri2 nun jauh di sana.
NARITA AIRPORT
Dari stasiun Uguisudani saya naik metro, turun di stasiun Nishin Nippori lalu pindah jalur yang ke arah Narita Airport. Sekitar jam 19 malam saya tiba di bandara. Jadwal penerbanganku ke Jakarta Sabtu besok jam 10. Sekarang cari tempat yg asyik untuk bubu ganteng.
Bagi para backpackers, melakukan perjalanan dengan biaya sehemat mungkin adalah hal utama yang harus dilakukan. Salah satunya yaitu dengan menghemat biaya penginapan.
Untuk bisa menginap di NARITA Airport, tempat terbaik, teraman (gak ditanya-tanyain oleh petugas) dan paling banyak penginapnya adalah di Terminal 2 tepatnya di lantai 1 depan toilet di pintu masuk tengah (CHUO). Nah bila kamu tibanya di Terminal 1 atau 3, maka silahkan pindah menuju Terminal 2 bisa dengan berjalan kaki (+/- 15 menit) ataupun menggunakan Free Shuttle Bus (+/- 3 menit).
Saya beruntung, mendapatkan spot terbaik yaitu hamparan busa hitam empuk yang ada di depan toilet digital yang maha bersih dan wangi. Jikalau tidak pun, kursi tunggu adalah pilihan yang nyaman juga untuk beristirahat. Akan banyak petugas petugas yang mondar-mondir untuk selalu mengontrol keamanan disitu.Selain tempatnya nyaman untuk beristirahat, fasilitas yang tersedia di sini juga sangatlah memadai (free Wi-fi, tempat untuk charger, ruang ibadah, toilet, water tap, vending machine dan konbini / Sevel).
Sarapan di Sevel Narita Toilet Digital
Tokyo sungguh diluar batas akal, dipenuhi kegilaan menakjubkan. Modern-nya kota berpadu manis dengan uniknya tradisi. Pasar ikan yang keren, istana kekaisaran yang megah, transportasi publik yang nyaman, sushi dan ramen yang lezat, kehidupan malam yang ga ada matinya!
Selama disini, saya belajar banyak tentang kombinasi budaya dan kemajuan teknologi, kerendahan hati dan kedisiplinan. Karakter orang Jepang membuat saya malu saat berkaca. Apa yang telah saya lakukan selama ini ga ada apa-apanya.
TOKYO Land Of The Rising Sun
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Oktober 25, 2018
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Oktober 25, 2018
Rating:











































































































































































Tidak ada komentar