SEBUAH KEPUTUSAN
Hujan lagi. Dengan malas Echil bangun dari ranjangnya. Sore tadi dia menjemur jeans dan dua potong kemeja, tidak ada siapa-siapa yang bisa diharapkan mengangkatnya. Malam minggu begini tempat kost memang sepi.
"Hujan nak Echil?" ibu kost tergesa-gesa keluar dari dapur.
"Iya Bu, tapi tidak banyak jemuran kok, biar saya angkat sendiri saja" cegah Echil melihat ibu kostnya ikut berhujan ria.
"Tumben malam minggu nak Echil tidak keluar" kata ibu kost melewati dapur.
Echil tersenyum tanpa komentar. Tadi Ody, Chaman dan Ari juga telah menyatakan keheranannya.
"kau tidak khawatir Vien diapeli cowok lain?" goda Ari.
Echil cuma menyeringai. Diapeli atau tidak bukan haknya untuk khawatir. Dan sesungguhnya dia tidak pernah punya hak untuk merasa khawatir. Toh Vien bukan apa-apanya. Bukan apa-apaku? Echil tersenyum galau menatap foto seorang gadis berambut sebahu, berwajah tirus yang tersenyum manis, amat manis di atas meja tulisnya.
"Saya juga mencintai Echil, saya juga tidak mau kehilangan Echil, tapi toh saya tidak berhak memiliki cinta Echil. Saya tidak akan pernah berhak".
Echil tidak akan pernah melupakan bibir Vien yang bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu. Dia berjuang menahan tangis waktu itu.
Angin dingin menerobos masuk lewat jendela kamarnya yang terbuka. Echil berdiri menutup jendelanya. Melihat kaki-kaki hujan yang seolah saling berkejaran di luar kamar. Pikirannya melayang kembali pada gadis berambut sebatas bahu itu, tirus wajahnya. Ehm.
"Saya suka hujan" Vien pernah berkata begitu ketika mereka duduk di teras rumahnya
"Saya tidak, hujan selalu membuat kota terendam air"
Vien tersenyum "tentu saja hujan membuat kota terendam air. Saya belum pernah mendengar ada kota yang terendam duit karena hujan".
Echil menjentik ujung hidungnya dan Vien yang lucu itu tersenyum menang.
Ugh, Vien sedang apa kamu? sekarang hujan lho. Echil menarik foto berfigura warna emas itu, menatapnya lekat-lekat. Mata di dalam foto itu seolah balas menatap dengan senyum teramat manis.
Mata Vien yang selalu berbinar senyum itulah yang membuat Echil tertarik padanya begitu melihatnya beberapa bulan lalu.
Sesungguhnya Echil bukan tipe pemuda yang begitu mudah jatuh cinta setiap melihat gadis yang menarik dan Vien juga tidak terlalu istimewa untuk "dijatuhcintai" pada pandangan pertama.
Tetapi entahlah, saat itu memang di luar dugaan dan di luar rencana tentu saja.
"Saya masih punya pacar, hubungan kami sedang mencapai taraf jenuh dan pada saat-saat kritis itu saya bertemu dengan kamu di luar keinginan saya. Saya jatuh cinta".
Sebulan lalu Echil mengakui dosanya di depan Vien.
Sedetik Echil menangkap riak kecil di mata gadis itu. Hanya sedetik. Gadis itu amat pandai menenangkan perasaannya.
"Kamu dapat menghapus perasaan insidentilmu itu Chil, saya akan..."
"Perasaan saya tidak insidentil" Sela Echil.
"Saya yakin ini bukan perasaan yang bersifat sementara. Bukan Vien. Saya serius, kamu harus percaya"
Vien ketika itu menatapnya. Matanya tidak tersenyum seperti biasa.
"Kamu masih punya pacar bukan? kamu kan masih mencintainya. Kamu harus bisa menetralisir perasaanmu terhadap saya".
"Entahlah, saya tidak tahu...apakah saya masih mencintai Chika" keluh Echil.
"Chil kamu sedang goyah" dengan sikap simpatik Vien memegang tangannya, seolah ingin memberi kekuatan.
Tiga pekan kemudian..Echil terpaksa memproklamirkan perasaannya sekali lagi. Mendustai diri sendiri amat tidak menyenangkan.
"Echil, boleh saya berkata jujur?" Vien berucap pelan.
"Katakanlah..."
"Saya...saya juga tertarik dan suka padamu. Mungkin perasaan kita sama, tapi saya selalu menyadarkan diri saya bahwa kamu milik orang lain. Saya tidak boleh membiarkan perasaanku ini tumbuh".
Selama Vien berbicara, di luar kebiasaannya mendadak ia tidak berani menatap Vien. Ada yang bergejolak di dada Echil. Ia menghela nafas.
"Sudah hampir lima bulan kami tidak berkomunikasi. Oyaa..Chika tinggal di kota lain. Saya belum pernah cerita ya?".
"Tapi dia tetap merupakan pacar kamu Chil. Kalian belum putus khan?".
Echil terpaksa merenung lagi. Dia belum putus dengan Chika meski hampir setengah tahun mereka tidak saling berhubungan. Surat Chika yang terakhir 5 bulan lalu sampai sekarang belum sempat ia balas.
"Bisa jadi Chika tidak akan pernah tahu mengenai hubungan kita, andai kita berhubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi kita, terutama saya, tidak mungkin membohongi diri sendiri terus menerus. Hati saya tahu bahwa kamu adalah milik Chika dan saya tidak akan sanggup berjalan di sisimu dengan perasaan bersalah".
Echil semakin tercenung.
"Saya tidak bermaksud memojokkan kamu Chil. Saya tahu ini sulit bagi kamu...tapi kamu harus bisa menentukan sikap. Kamu toh tidak bermaksud mempunyai dua kekasih bukan?"
Kenyataannya Echil memang terpojok. Dia merasa berada di suatu tempat yang amat sulit. Dia mencintai Vien. Dia yakin itu. Namun dia juga tidak mampu melepaskan Chika. Padahal sungguh mati, dia tidak ingin memiliki pacar lebih dari satu orang.
"Kita bersahabat saja" Putus Vien ketika hari berikutnya Echil datang lagi. Lalu dengan suara lirih disambungnya "selama Echil tidak bisa melepaskan Chika..."
"Vien, saya ingin melepaskan Chika tapi tidak mudah". Kata Echil cepat.
"Saya mengerti Chil, saya juga tidak ingin kamu tergesa-gesa melepaskan Chika, kamu toh belum merasa pasti dengan perasaan kamu sendiri".
"Kamu tidak percaya dengan keseriusan saya mencintaimu?" Echil menatap Vien lekat-lekat. Gadis itu mengelak.
"Saya percaya Chil..saya percaya. Tapi kita juga harus memikirkan Chika, memikirkan perasaannya andai dia tahu bahwa dia dikhianati. Persoalannya akan lain kalau kamu berani berterus terang sejak sekarang".
"Saya tidak tega"
"Cepat atau lambat kamu harus tega berterus terang kepadanya. Chika lebih sakit hati jika dia merasa didustai. Perasaan dibohongi jauh lebih sakit dari pada perasaan ditinggalkan"
Tidak mudah bagi Echil melepaskan Chika. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja walau dengan komunikasi yang seret. Selama ini Chika selalu setia dan amat baik. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Cinta? Ohhh..Echil tidak tahu mana yang lebih utama cinta atau kesetiaan..?
"Mungkin lebih baik bagi kita adalah belajar saling melupakan, Echil..." kata Vien seperti berbisik.
"Kamu bisa melupakan saya?"
"Sekarang mungkin belum, tapi saya mau belajar. Saya harus bisa".
Ada perasaan sedih di dada Echil mendengar betapa pasrah ucapan Vien. Betapa ikhlas kedengarannya.
"Vien, saya tidak tega melepaskan Chika, namun ...saya juga takut kehilangan kamu..". Echil melihat kelopak mata gadis itu berkaca-kaca.
"Saya juga tidak ingin kehilangan Echil...tapi bagaimanapun juga saya tidak berhak memiliki Echil. Kita harus menyadari ini. Kita harus belajar menerima kenyataan ini. Kita harus realistis Chil....!".
"Walau kita hancur....?" sambung Echil mirip keluhan.
"Walau kita hancur..." angguk Vien.
"Sesuatu yang realistis memang lebih sering terasa pahit dan sakit. Andai saja menuruti emosi saya, sejak dulu-dulu saya menerima kamu tanpa memikirkan Chika dan perasaannya"
Vien tampak begitu kuat padahal Echil tahu dia sakit dan hatinya hancur berkeping.
"Saya ingin sekuat kamu Vien. Seharusnya saya malu, saya cowok tapi saya lebih lemah" kata Echil jujur.
"Saya juga akan seperti kamu andai saya jadi kamu, posisi kamu memang sulit Chil.."
"Kamu selalu penuh pengertian Vien" Kata Echil terharu. Ia semakin yakin bahwa ia mencintai Vien.
"Mungkin karena saya sayang padamu" kata Vien sambil menatapnya.
"Cinta itu luas. Orang yang saling mencintai tidak harus menjadi sepasang kekasih. Cinta itu realistis bukan sekedar mimpi dan Echil...kamu percaya kan cinta itu tidak egois?".
Dan demi cinta yang tidak egois....uuh, Echil menghela nafas berat.
Di luar hujan masih deras. Just for you-nya Richar Cocciante terngiang ditelinga...
When she wakes I'll try to tell her everything I have to say.
saat dia terbangun akan kucoba untuk mengatakan semua yang harus aku katakan
And the night so dark inside me makes me finally understand...
Hawa dingin kota Bandung menyelimuti Echil. Ada debar di dada saat kakinya menginjak kerikil di halaman rumah Chika. Rasanya telah berabad dia tidak kemari. Rasanya telah berabad pula dia tidak bertemu dengan Chika, gadis yang telah mengisi hari-harinya di tahun silam.
Echil merasa tangannya gemetar ketika menekan bel di atas pintu.
"Belajarlah menata kembali perasaanmu terhadap Chika" Vien menasehatinya beberapa waktu lalu. Itulah yang mendorongnya berkunjung ke kota Chika seusai mid semester.
Chika tidak berubah. Dia tetap manis, lembut dan matanya tetap syarat dengan rindu dan kasih sayang. Sebersit rasa bersalah muncul dipermukaan hati Echil. Dia hampir mengotori cinta Chika dengan sebuah penghianatan cinta Chika yang tulus dan seluas samudera.
" Ya Kak Echil ..dengan cinta saya yang seluas samudera ini rasanya saya bisa menerima andai Kak Echil memutuskan...."
"Chika !" Echil sungguh terperanjat. Ucapan Chika sungguh tak terduga.
"Kak Echil..saya melihat gadis lain di mata kak Echil. Saya merasa kak Echil mencintai dia. Saya mengerti...". Chika menunduk.
"Jatuh cinta memang di luar kehendak kita, tapi kita tidak bisa menghindarinya...saya mengerti".
Echil terlonjak.
"Tidak Chika, saya tetap mencintai kamu. Sungguh saya tak bermaksud memutuskan hubungan kita".
Chika tersenyum.
"Saya percaya. Tapi saya tak mau egois. Boleh saya tahu siapa nama dia?".
"Namanya Vien.." sahut Echil lemah.
"Saya memang mencintai dia, namun saya akan berupaya melupakannya. Kami hanya bersahabat."
Echil melihat dengan jelas mata yang sarat dengan kasih sayang itu beriak pelan.Chika tentu terluka.
"Chika..saya tidak bermaksud...."
"Kak Echil saya memang merasa sakit, tapi saya bisa menerimanya. Saya ingin lebih belajar. Lebih realistis. Yang lebih utama lagi, saya ingin belajar untuk tidak egois"
Echil terpana. Vien dan Chika mengucapkan kata-kata yang nyaris serupa. Berbicara tentang cinta yang realistis dan tidak egois. Padahal jelas mereka tidak saling mengenal.
"Kamu mencintai laki-laki lain?" Ragu-ragu Echil bertanya pelan.
"Sesaat mata Chika menyala. Mata dari hati yang terluka.
"Tak perlu berprasangka Kak. Saya tetap mencintai kak Echil sampai saat ini". Kata Chika seperti berbisik sebelum Echil pulang.
Echil termangu.
Barangkali inilah batas ego kasih sayang. Echil memejamkan matanya. Vien melintas...ada senyum di matanya. Mestinya Echil merasa bahagia karena Chika merelakannya kembali kepada Vien yang ia cintai. Seharusnya. Tapi demi Tuhan, bagamana mungkin dia mampu tertawa di atas tangis orang lain?.
Cinta itu luas. Tidak egois.
Echil menarik nafas dalam-dalam. Dia telah tiba pada satu keputusan : dengan cintanya yang luas dia akan menyayangi Chika dan..Vien, sebagai seorang Sahabat.
Echil melangkah pulang sambil mengingat-ingat bait lagu just for you dari Richard Cocciante :
The love we share is sweet the love we know is real,
cinta yang kita bagi adalah manis dan cinta yang kita tahu adalah sesuatu yang nyata
That love is not the dream but last the life than long.
cinta yang seperti itu bukanlah mimpi tapi akan bertahan selamanya
Because you love and mine be give without dreaming all we need,
karena cintamu dan cintaku akan ada tanpa mimpi-mimpi yang kita butuhkan
And the love that we have given returns to us to win.
dan cinta yang telah kita berikan akan kembali kepada kita dengan kemenangan
Cos your love for me is not begining and the end,
karena cinta mu bagiku tidak ada awal dan akhirnya
your love and mine, this love, for me, forever...
cintamu dan cintaku, cinta ini, untukku, selamanya
You love for me forever...
kau cinta padaku untuk selamanya.
(Buat SR dan NA yang melahirkan inspirasi, i love you all...)
END.
Note : Cerpen ini aku tulis sekitar Juni 1987. Draft awal di tulis di teras perpustakaan Stovia, Kwitang, tempat biasa aku mangkal jika mencari data berkaitan dengan tugas kuliah.
Sengaja aku salin ulang ke blog hari ini, ahad 20 Mei 2018 saat sedang puasa dan saat anakku milad ke 24. Ini hadiah untuk anakku Dea, semoga sehat dan sukses serta diberkati Allah SWT.
"Hujan nak Echil?" ibu kost tergesa-gesa keluar dari dapur.
"Iya Bu, tapi tidak banyak jemuran kok, biar saya angkat sendiri saja" cegah Echil melihat ibu kostnya ikut berhujan ria.
"Tumben malam minggu nak Echil tidak keluar" kata ibu kost melewati dapur.
Echil tersenyum tanpa komentar. Tadi Ody, Chaman dan Ari juga telah menyatakan keheranannya.
"kau tidak khawatir Vien diapeli cowok lain?" goda Ari.
Echil cuma menyeringai. Diapeli atau tidak bukan haknya untuk khawatir. Dan sesungguhnya dia tidak pernah punya hak untuk merasa khawatir. Toh Vien bukan apa-apanya. Bukan apa-apaku? Echil tersenyum galau menatap foto seorang gadis berambut sebahu, berwajah tirus yang tersenyum manis, amat manis di atas meja tulisnya.
"Saya juga mencintai Echil, saya juga tidak mau kehilangan Echil, tapi toh saya tidak berhak memiliki cinta Echil. Saya tidak akan pernah berhak".
Echil tidak akan pernah melupakan bibir Vien yang bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu. Dia berjuang menahan tangis waktu itu.
Angin dingin menerobos masuk lewat jendela kamarnya yang terbuka. Echil berdiri menutup jendelanya. Melihat kaki-kaki hujan yang seolah saling berkejaran di luar kamar. Pikirannya melayang kembali pada gadis berambut sebatas bahu itu, tirus wajahnya. Ehm.
"Saya suka hujan" Vien pernah berkata begitu ketika mereka duduk di teras rumahnya
"Saya tidak, hujan selalu membuat kota terendam air"
Vien tersenyum "tentu saja hujan membuat kota terendam air. Saya belum pernah mendengar ada kota yang terendam duit karena hujan".
Echil menjentik ujung hidungnya dan Vien yang lucu itu tersenyum menang.
Ugh, Vien sedang apa kamu? sekarang hujan lho. Echil menarik foto berfigura warna emas itu, menatapnya lekat-lekat. Mata di dalam foto itu seolah balas menatap dengan senyum teramat manis.
Mata Vien yang selalu berbinar senyum itulah yang membuat Echil tertarik padanya begitu melihatnya beberapa bulan lalu.
Sesungguhnya Echil bukan tipe pemuda yang begitu mudah jatuh cinta setiap melihat gadis yang menarik dan Vien juga tidak terlalu istimewa untuk "dijatuhcintai" pada pandangan pertama.
Tetapi entahlah, saat itu memang di luar dugaan dan di luar rencana tentu saja.
"Saya masih punya pacar, hubungan kami sedang mencapai taraf jenuh dan pada saat-saat kritis itu saya bertemu dengan kamu di luar keinginan saya. Saya jatuh cinta".
Sebulan lalu Echil mengakui dosanya di depan Vien.
Sedetik Echil menangkap riak kecil di mata gadis itu. Hanya sedetik. Gadis itu amat pandai menenangkan perasaannya.
"Kamu dapat menghapus perasaan insidentilmu itu Chil, saya akan..."
"Perasaan saya tidak insidentil" Sela Echil.
"Saya yakin ini bukan perasaan yang bersifat sementara. Bukan Vien. Saya serius, kamu harus percaya"
Vien ketika itu menatapnya. Matanya tidak tersenyum seperti biasa.
"Kamu masih punya pacar bukan? kamu kan masih mencintainya. Kamu harus bisa menetralisir perasaanmu terhadap saya".
"Entahlah, saya tidak tahu...apakah saya masih mencintai Chika" keluh Echil.
"Chil kamu sedang goyah" dengan sikap simpatik Vien memegang tangannya, seolah ingin memberi kekuatan.
Tiga pekan kemudian..Echil terpaksa memproklamirkan perasaannya sekali lagi. Mendustai diri sendiri amat tidak menyenangkan.
"Echil, boleh saya berkata jujur?" Vien berucap pelan.
"Katakanlah..."
"Saya...saya juga tertarik dan suka padamu. Mungkin perasaan kita sama, tapi saya selalu menyadarkan diri saya bahwa kamu milik orang lain. Saya tidak boleh membiarkan perasaanku ini tumbuh".
Selama Vien berbicara, di luar kebiasaannya mendadak ia tidak berani menatap Vien. Ada yang bergejolak di dada Echil. Ia menghela nafas.
"Sudah hampir lima bulan kami tidak berkomunikasi. Oyaa..Chika tinggal di kota lain. Saya belum pernah cerita ya?".
"Tapi dia tetap merupakan pacar kamu Chil. Kalian belum putus khan?".
Echil terpaksa merenung lagi. Dia belum putus dengan Chika meski hampir setengah tahun mereka tidak saling berhubungan. Surat Chika yang terakhir 5 bulan lalu sampai sekarang belum sempat ia balas.
"Bisa jadi Chika tidak akan pernah tahu mengenai hubungan kita, andai kita berhubungan sebagai sepasang kekasih. Tapi kita, terutama saya, tidak mungkin membohongi diri sendiri terus menerus. Hati saya tahu bahwa kamu adalah milik Chika dan saya tidak akan sanggup berjalan di sisimu dengan perasaan bersalah".
Echil semakin tercenung.
"Saya tidak bermaksud memojokkan kamu Chil. Saya tahu ini sulit bagi kamu...tapi kamu harus bisa menentukan sikap. Kamu toh tidak bermaksud mempunyai dua kekasih bukan?"
Kenyataannya Echil memang terpojok. Dia merasa berada di suatu tempat yang amat sulit. Dia mencintai Vien. Dia yakin itu. Namun dia juga tidak mampu melepaskan Chika. Padahal sungguh mati, dia tidak ingin memiliki pacar lebih dari satu orang.
"Kita bersahabat saja" Putus Vien ketika hari berikutnya Echil datang lagi. Lalu dengan suara lirih disambungnya "selama Echil tidak bisa melepaskan Chika..."
"Vien, saya ingin melepaskan Chika tapi tidak mudah". Kata Echil cepat.
"Saya mengerti Chil, saya juga tidak ingin kamu tergesa-gesa melepaskan Chika, kamu toh belum merasa pasti dengan perasaan kamu sendiri".
"Kamu tidak percaya dengan keseriusan saya mencintaimu?" Echil menatap Vien lekat-lekat. Gadis itu mengelak.
"Saya percaya Chil..saya percaya. Tapi kita juga harus memikirkan Chika, memikirkan perasaannya andai dia tahu bahwa dia dikhianati. Persoalannya akan lain kalau kamu berani berterus terang sejak sekarang".
"Saya tidak tega"
"Cepat atau lambat kamu harus tega berterus terang kepadanya. Chika lebih sakit hati jika dia merasa didustai. Perasaan dibohongi jauh lebih sakit dari pada perasaan ditinggalkan"
Tidak mudah bagi Echil melepaskan Chika. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja walau dengan komunikasi yang seret. Selama ini Chika selalu setia dan amat baik. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Cinta? Ohhh..Echil tidak tahu mana yang lebih utama cinta atau kesetiaan..?
"Mungkin lebih baik bagi kita adalah belajar saling melupakan, Echil..." kata Vien seperti berbisik.
"Kamu bisa melupakan saya?"
"Sekarang mungkin belum, tapi saya mau belajar. Saya harus bisa".
Ada perasaan sedih di dada Echil mendengar betapa pasrah ucapan Vien. Betapa ikhlas kedengarannya.
"Vien, saya tidak tega melepaskan Chika, namun ...saya juga takut kehilangan kamu..". Echil melihat kelopak mata gadis itu berkaca-kaca.
"Saya juga tidak ingin kehilangan Echil...tapi bagaimanapun juga saya tidak berhak memiliki Echil. Kita harus menyadari ini. Kita harus belajar menerima kenyataan ini. Kita harus realistis Chil....!".
"Walau kita hancur....?" sambung Echil mirip keluhan.
"Walau kita hancur..." angguk Vien.
"Sesuatu yang realistis memang lebih sering terasa pahit dan sakit. Andai saja menuruti emosi saya, sejak dulu-dulu saya menerima kamu tanpa memikirkan Chika dan perasaannya"
Vien tampak begitu kuat padahal Echil tahu dia sakit dan hatinya hancur berkeping.
"Saya ingin sekuat kamu Vien. Seharusnya saya malu, saya cowok tapi saya lebih lemah" kata Echil jujur.
"Saya juga akan seperti kamu andai saya jadi kamu, posisi kamu memang sulit Chil.."
"Kamu selalu penuh pengertian Vien" Kata Echil terharu. Ia semakin yakin bahwa ia mencintai Vien.
"Mungkin karena saya sayang padamu" kata Vien sambil menatapnya.
"Cinta itu luas. Orang yang saling mencintai tidak harus menjadi sepasang kekasih. Cinta itu realistis bukan sekedar mimpi dan Echil...kamu percaya kan cinta itu tidak egois?".
Dan demi cinta yang tidak egois....uuh, Echil menghela nafas berat.
Di luar hujan masih deras. Just for you-nya Richar Cocciante terngiang ditelinga...
When she wakes I'll try to tell her everything I have to say.
saat dia terbangun akan kucoba untuk mengatakan semua yang harus aku katakan
And the night so dark inside me makes me finally understand...
Hawa dingin kota Bandung menyelimuti Echil. Ada debar di dada saat kakinya menginjak kerikil di halaman rumah Chika. Rasanya telah berabad dia tidak kemari. Rasanya telah berabad pula dia tidak bertemu dengan Chika, gadis yang telah mengisi hari-harinya di tahun silam.
Echil merasa tangannya gemetar ketika menekan bel di atas pintu.
"Belajarlah menata kembali perasaanmu terhadap Chika" Vien menasehatinya beberapa waktu lalu. Itulah yang mendorongnya berkunjung ke kota Chika seusai mid semester.
Chika tidak berubah. Dia tetap manis, lembut dan matanya tetap syarat dengan rindu dan kasih sayang. Sebersit rasa bersalah muncul dipermukaan hati Echil. Dia hampir mengotori cinta Chika dengan sebuah penghianatan cinta Chika yang tulus dan seluas samudera.
" Ya Kak Echil ..dengan cinta saya yang seluas samudera ini rasanya saya bisa menerima andai Kak Echil memutuskan...."
"Chika !" Echil sungguh terperanjat. Ucapan Chika sungguh tak terduga.
"Kak Echil..saya melihat gadis lain di mata kak Echil. Saya merasa kak Echil mencintai dia. Saya mengerti...". Chika menunduk.
"Jatuh cinta memang di luar kehendak kita, tapi kita tidak bisa menghindarinya...saya mengerti".
Echil terlonjak.
"Tidak Chika, saya tetap mencintai kamu. Sungguh saya tak bermaksud memutuskan hubungan kita".
Chika tersenyum.
"Saya percaya. Tapi saya tak mau egois. Boleh saya tahu siapa nama dia?".
"Namanya Vien.." sahut Echil lemah.
"Saya memang mencintai dia, namun saya akan berupaya melupakannya. Kami hanya bersahabat."
Echil melihat dengan jelas mata yang sarat dengan kasih sayang itu beriak pelan.Chika tentu terluka.
"Chika..saya tidak bermaksud...."
"Kak Echil saya memang merasa sakit, tapi saya bisa menerimanya. Saya ingin lebih belajar. Lebih realistis. Yang lebih utama lagi, saya ingin belajar untuk tidak egois"
Echil terpana. Vien dan Chika mengucapkan kata-kata yang nyaris serupa. Berbicara tentang cinta yang realistis dan tidak egois. Padahal jelas mereka tidak saling mengenal.
"Kamu mencintai laki-laki lain?" Ragu-ragu Echil bertanya pelan.
"Sesaat mata Chika menyala. Mata dari hati yang terluka.
"Tak perlu berprasangka Kak. Saya tetap mencintai kak Echil sampai saat ini". Kata Chika seperti berbisik sebelum Echil pulang.
Echil termangu.
Barangkali inilah batas ego kasih sayang. Echil memejamkan matanya. Vien melintas...ada senyum di matanya. Mestinya Echil merasa bahagia karena Chika merelakannya kembali kepada Vien yang ia cintai. Seharusnya. Tapi demi Tuhan, bagamana mungkin dia mampu tertawa di atas tangis orang lain?.
Cinta itu luas. Tidak egois.
Echil menarik nafas dalam-dalam. Dia telah tiba pada satu keputusan : dengan cintanya yang luas dia akan menyayangi Chika dan..Vien, sebagai seorang Sahabat.
Echil melangkah pulang sambil mengingat-ingat bait lagu just for you dari Richard Cocciante :
The love we share is sweet the love we know is real,
cinta yang kita bagi adalah manis dan cinta yang kita tahu adalah sesuatu yang nyata
That love is not the dream but last the life than long.
cinta yang seperti itu bukanlah mimpi tapi akan bertahan selamanya
Because you love and mine be give without dreaming all we need,
karena cintamu dan cintaku akan ada tanpa mimpi-mimpi yang kita butuhkan
And the love that we have given returns to us to win.
dan cinta yang telah kita berikan akan kembali kepada kita dengan kemenangan
Cos your love for me is not begining and the end,
karena cinta mu bagiku tidak ada awal dan akhirnya
your love and mine, this love, for me, forever...
cintamu dan cintaku, cinta ini, untukku, selamanya
You love for me forever...
kau cinta padaku untuk selamanya.
(Buat SR dan NA yang melahirkan inspirasi, i love you all...)
END.
Note : Cerpen ini aku tulis sekitar Juni 1987. Draft awal di tulis di teras perpustakaan Stovia, Kwitang, tempat biasa aku mangkal jika mencari data berkaitan dengan tugas kuliah.
Sengaja aku salin ulang ke blog hari ini, ahad 20 Mei 2018 saat sedang puasa dan saat anakku milad ke 24. Ini hadiah untuk anakku Dea, semoga sehat dan sukses serta diberkati Allah SWT.
SEBUAH KEPUTUSAN
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 20, 2018
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Mei 20, 2018
Rating:



Tidak ada komentar