MANILA & GAGAL KE MAKKAH





Salah satu ketidaknyamanan dari tiket promo adalah jam terbangnya yang ajaib. Seperti jam terbang saya ke Manila ini, 2 Februari 2015 jam 00.25, jamnya saat kuntilanak buang anak. Tapi sekali lagi mengingat harga, rasanya berlebihan kalau mengeluh terlalu banyak :) . Untung saja Cebu Pacific yang terkenal suka delay kali ini terbangnya tepat waktu dan nggak molor. Jadi dengan lancar jam 05.25 (sekitar 3 jam) saya mendarat di Bandara Internasional Manila, Ninoy Aquino International Airport atau sering disingkat NAIA.

     

Terletak sekitar 7 km dari pusat kota, NAIA seperti juga Soekarno Hatta memiliki banyak terminal yang terpisah satu sama lain. Transportasi antar terminal juga dilayani dengan shuttle bus, bersamaan dengan Clark International Airport, NAIA melayani penerbangan domestik dan internasional untuk area Manila. Sedang Clark International Airport lebih dikhususkan untuk penerbangan Low Cost Carrier karena landing fee-nya yang lebih rendah daripada NAIA.


Maccasares vs Moro, Moslem Brotherhood 

                 

NAIA memiliki 5 terminal dan Cebu Pacific bersama dengan Airphil Express menjadi tenant utama di Terminal 3. Terminal ini merupakan terminal terbaru dan terbesar dalam komplek NAIA. NAIA Terminal 3 gak seluas Changi Airport/KLIA2, gak perlu sering naik turun eskalator. Hanya beberapa belokan setelah menyusuri koridor yang lumayan panjang, akhirnya saya tiba di counter imigrasi. Langsung isi formulir kedatangan lalu kasih ke Petugas imigrasi bersamaan passport. 
Imigrasi di NAIA Terminal 3 cukup mudah.  cuma ditanya pertanyaan lumrah seperti mau ngapain ke Manila, saya bilang liburan dan kasih bukti print out tiket kepulangan ke petugas imigrasi. Gak lama bertambahlah satu cap lagi di passport saya dan langsung cari toilet terdekat buat bersih-bersih.

Pertama kali mempelajari transportasi di bandara ini, saya agak risau juga mengingat shuttle bisnya yang agak ruwet.Tapi untunglah, pesawat Cebu menuju Caticlan juga terbang dari terminal 3. Mungkin lain cerita kalau untuk penerbangan berikutnya saya harus naik Tiger yang mangkal di terminal 4. Saat riset transportasi, nemu info tersedianya Shuttle Bus yang menghubungkan terminal 1 sampai 3 NAIA. 

Penerbangan saya selanjutnya besok pagi berangkat jam 05.30 jadi adaa banyak waktu untuk menjelajah area sekitar Manila City. Rencana awal adalah menitipkan tas di luggage storage dan jalan kaki menuju Resort World Manila yang berjarak kurang lebih 1 km dari bandara. Tapi ternyata Allah punya skenario lain. Saat berjalan keluar dari pemeriksaan Imigrasi Ninoy Intl Airport saya bertanya ke seorang petugas Bandara di mana letak pray room alias musholla eh kebetulan dia seorang Muslim Moro, saya diantar ke musholla yg dinamai Matare Mosque. Ternyata di NAIA T3 disediakan mushola dengan tempat wudhu yang menyatu dengan toilet umum. Lokasinya di samping eskalator ke lantai 3 foodcourt. Musholanya agak sempit, tapi lumayan adem karena full AC.
Di musholla saya berkenalan dengan imam musholla yg bernama Ust Sultan Abdurrahman dari Moronau. Seorang anak muda berpenampilan trendy dengan blue jean + kemeja biru. Amboi sekilas wajah ustad ini mirip Jenderal Prabowo. Setelah mandi seadanya di toilet, saya sholat Shubuh. 


Bersama "Prabowo" di Mushola Matare Ninoy Intl Airport

Ada Rasil AM 720 di Manila :)

Fasilitas di terminal 3 ini cukup lengkap, selain mushola tersedia juga luggage storage yang terletak di Departure Area. Untuk backpack biaya sewanya 300 PHP perhari dan 150 PHP per 3 jam. Untuk menghemat cost saya menitipkan backpack ke Arham (12 tahun) ponakan Ust. Sultan yang menunggui Musholla sambil jualan makanan/snack halal ala kadarnya karena tempatnya yang sempit.
Kue Dagangan Arham

Arham, anak yatim putera pejuang Moro

"Magandang umaga, Kumostaka ?" Selamat pagi apakabar? bangun pagi, berada di tempat asing dgn bahasa Tagalog yang asing ditelinga adalah sebuah sensasi yg mengasyikkan. Setiap saat aku mesti berpikir, ingin bilang apa, mereka bicara apa? Manila di siang terlebih malam hari konon kurang aman. Sering terjadi  scam, sopir taxi & tricycle sering melakukan jebakan betmen, belum lagi penampilan sopir tricycle yg dekil2 butut. Meski garis wajah dan perawakan mirip2 kita tapi masih kerenanlah ojekers jakarta...
Setelah tanya2 ke Ust. Abdurrahman dengan bahasa Inggeris lumayan broken saya diberitahu beberapa tips naik angkot. Setelah mencatat nomer2 angkot saya melangkah keluar bandara. berjalan kaki sekitar 100 meter sampai ketemu jalan raya. Di sisi jalan sudah ada beberapa Jeepney ngetem. Senengnya liat Jeepney..horeeee ! kayak anak kecil di Pakujaya liat odong2 :). 


 


Saya naik jeepney turun di stasiun MRT di Baclaran kemudian naik MRT sampe jauuuh mentok di Quezon City. Lumayanlah liat kota Manila dari atas MRT. Balik dari Quezon turun di stasiun MRT terdekat dengan lokasi Rizal Park lalu berjalan kaki sampailah di taman kota yang konon terbesar di Asia. Ternyata emang luas banget. Saya jalan kaki dong dari ujung ke ujung, uhhuy.  Tamannya indah, pohonnya banyak, ada kolamnya, di tengah kolam ada pulau-pulau buatan yang kayaknya gugusan pulau-pulau Filipina, ada air mancurnya, ada auditorium outdoor, ada Chinese/Japanese Garden dll.   Selain indah, Rizal Park ternyata punya sejarah penting buat orang Filipina. Jadi dahulu kala ketika Revolusi Filipna melawan Penjajah Spanyol, salah satu pahlawan nasional Filipina dieksekusi mati di sini, namanya Jose Rizal. Dari situ namanya diabadikan jadi nama taman.


Kabayan punya Hotel di Manila, Euy !

Rizal Memorial Park


Saya melanjutkan perjalanan kaki menuju Walled City of Intramuros. Saya tanya seorang pria kira2 berapa jauh jarak ke Intramuros, katanya sekitar 2 km. wow ! Sebetulnyasih bisa mampir ke Istana Malacanang dekat Pusat Kebudayaan Filipina dekat2 sini tapi kakiku sudah mulai pegal dan tidak terlalu tertarik. 
Di jantung Walled City of Intramuros, saya mengunjungi Casa Manila, sebuah gedung bergaya Spanyol yang direkonstruksi dari pertengahan 1800-an . Museum ini menampilkan gaya hidup kolonial  kelas atas Filipina pada pergantian abad lalu.

Tepat di seberang Casa Manila adalah Gereja San Augustin dan Museum . Pertama dibangun tahun 1571 , struktur ini selesai pada 1604 , menggunakan desain begitu stabil dengan mitos kutukan gereja Barok Filipina bahwa gempa bumi tidak bisa menjatuhkan gereja tersebut. Ini adalah gereja pertama di Manila bergaya Eropa desain Spanyol dan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1993. Di samping Gereja adalah Museum yang menampilkan koleksi seperti jubah gereja era Spanyol, furniture dan karya seni religius.

Perhentian terakhir langkah kaki adalah Museum Nasional yang menampilkan artefak yang ditemukan dari Galleon Spanyol (kapal dagang) yang mengangkut barang  dan tenggelam antara Filipina dan Meksiko. Koleksi yang paling terkenal adalah "San Diego", yang melayari rute Manila - Acapulco. Terpaan topan menenggelamkan galleon yang penuh dengan porselen, emas, perhiasan dan senjata China.

Seniman Intramuros



Saint Augustine Church





Entrance Gate Intramuros


Guide tour dadakan Kristin dan Chrystal

Sejak tiba di Manila senin pagi Hp saya entah mengapa mengalami trouble, gambar hilang2. Tau kenapa? karena saya tak mau beli paket data provider Manila dan agak2 gaptek nyetting wi-fi hehehe..Jadinya lost contact dgn keluarga di Bintaro. Disyukuri saja, ikhlas. Anggap saja masih hidup di jaman belum ada Hp. Bukankah petualangan makin seru....? Losta masta!.

Manila katanya dangerous city. Satpam minimarket aja yg saya tanya arah pulang ke Bandara, bentuknya tegap kekar dilengkapi pistol, busyeet dah, kayak satpam bank di Jakarta. 
Alhamdulillah...eksplore Manila hari ini ketemu orang baik2. Ketika bingung nanya jalan pulang kepada 2 orang gadis/mahasiswi eh malah dibantuin "ngusir' sopir tricycle yang mepet maksa make jasanya. Malah kemudian Kristin dan Chrystal begitu nama kedua gadis tersebut bersedia menemani memandu jalan kaki mengitari kota tua  Intramuros sambil ngobrol english broken tentang keluarga, pekerjaan dan travelling. Meski saya kelihatan masih muda dan gagah hahahhheheh.. saya tak mau bohong, sy memperlihatkan foto isteri dan kedua puteriku Dea dan Diva yang nyempil di sisi dalam dompet lusuh.

City Hall

Gadis kiriman Tuhan



Monumen KKK, bagi rakyat Filipina ini memiliki arti yang sangat mendalam. Pasalnya, revolusi pertama rakyat Filipina berawal dari perlawanan kelompok Katipunan (KKK) melawan Spanyol pada 1896. Berdasarkan sejarah, kelompok KKK ini didirikan oleh Andres Bonifacio yang juga pahlawan nasional Filipina.




Saya, Chrystal dan Kristin berjalan sekitar 3 Km dari kawasan Intramuros melewati jalan-jalan utama. Kami melintasi beberapa gedung dan monumen bersejarah. Kristin dan Chrystal sangat antusias memandu dan menjelaskan secara singkat bangunan tersebut. Saya menawarkan untuk mentraktir jajanan kaki lima depan Monumen KKK atau mampir minum di cafe mahasiswa depan Universidad De Manila. Namun dengan ramah mereka menolak. Akhirnya sampailah kami di stasiun MRT Taft Avenue. Di sini kami berpisah. saya membeli tiket kembali ke Bandara via Baclaran. Sebelum berpisah saya menitip alamat di Bintaro. "One time you are traveling to jakarta contact me. I will repay all your good. Thank you very much !" Coba, broken kan basa enggresku?

Tiket MRT

Stasiun MRT Taft Avenue

Terbang dari Manila ke Boracay Island

Ada tiga pilihan transportasi dari Manila menuju Boracay. Pilihan pertama, adalah menggunakan ferry dari Manila menuju Provinsi Caticlan. Berangkatnya dari Batangas Port dengan lama perjalanan 12 sampai 16 jam. Salah satu perusahaan yang mengoperasikan ferry menuju Caticlan adalah 2GO Travel dengan harga tiket dan jadwal keberangkatan dapat dicek di web. Pilihan kedua yang agak lebih cepat, adalah kombinasi ferry dan bis. Dari Batangas Port naik ferry ke Calapan (kurang lebih 2 jam), kemudian disambung naik bis ke Port of Roxas (3-4 jam). Dari Port of Roxas ini naik ferry lagi ke Caticlan (4-5 jam). Nah kalau pas dapat tiket promo mending pakai pilihan ketiga yaitu naik pesawat. Sebenarnya tidak ada penerbangan langsung menuju Boracay, semua penerbangan akan mendarat di Caticlan atau Kalibo. Beberapa maskapai penerbangan yang mendarat di Caticlan antara lain : Cebu Pacific, Seair, Airphil Express dan Zest Air sedangkan yang mendarat di Kalibo adalah Tiger Airways, Philippine Airlines, Air Asia dan Cebu Pacific.

Penerbangan Manila – Caticlan
Setelah membeli tiket promo Jakarta – Manila pp, ada promo lagi dari Cebu Pacific dengan tujuan domestik. Setelah dicari tanggal yang cocok dapatlah tiket Manila – Caticlan seharga 783 Php/Rp. 223.000 (Cebu SJ 907). Karena harga untuk pulangnya dari Caticlan tergolong mahal maka saya mengalihkan tujuan kepulangan bukan dari Caticlan tetapi dari Kalibo yang jaraknya lebih jauh. Harga promo yang saya dapat Kalibo - Manila adalah 598 Php /Rp. 170.000,- (Cebu DG 7059). Pilihan ini ada enaknya juga karena bisa merasakan pergi dari dua bandara sekaligus.

                                   
Dari Manila, Cebu Pacific tujuan Caticlan terbang dari Terminal 3 dengan lama penerbangan kurang lebih 1 jam. Jadi kalau terbang dari Jakarta menggunakan Cebu Pacific tidak perlu repot-repot pindah terminal. Caticlan Airport atau disebut juga Geodofredo P. Ramos Airport dan sekarang malah lebih ngetop disebut Boracay Airport. 

Bandara ini memiliki landasan pendek (kurang lebih 950 mt) sehingga hanya pesawat-pesawat berukuran kecil yang bisa mendarat disana. Apalagi setelah hari gelap semua penerbangan tidak dapat mendarat di Caticlan jadi kalau cuaca benar-benar tidak mendukung ada beberapa penerbangan yang terpaksa direroute ke Kalibo Airport. Selain itu, karena jenis pesawat yang dipakai adalah Propheler Plane (pesawat berbaling-baling) berkapasitas 72 orang, maka mereka benar-benar ketat soal bagasi. Batas maksimal berat bagasi adalah 15 kg, 10 kg dimasukkan bagasi dan 5 kg dibawa masuk ke kabin. Selain itu semua tas yang masuk kabin harus mendapat bag tag dari maskapai. Walaupun demikian Alhamdulillah backpack saya yang beratnya kurang lebih 7 kg diijinkan juga masuk ke kabin.


Pertama kali naik pesawat berbaling-baling itu rasanya ngeri-ngeri sedap. Ngeri karena badannya yang kecil bikin turbulence makin terasa. Apalagi pas mau sampai di Caticlan kena turbulence hebat sampai pesawatnya tergoncang-goncang. Bener-bener shock. Saya hanya bisa pasrah dan berdzikir, saya berpikir simple saja kalau memang kejadian pesawatnya nyemplung ke laut, resikonya cuma dua : mati dan terkubur di laut atau celaka tapi selamat lalu jadi seleb di halaman berita utama media sejagad :). 

Makanya kalau punya bagasi banyak dan lebih suka naik pesawat gede yang anteng mending turun di Kalibo saja yang ukuran airportnya lebih besar. Untung saja tiba di Caticlan mendarat dengan selamat dan semangat untuk menjelajah kota yang baru.

Kesan Sporty. Pramugari cuma ber T-Shirt & Celana Bermuda

Sebelum keluar dari airport ada satu hobi saya yang sebenarnya tidak baik untuk ditiru yaitu berfoto di Airport Apron atau biasa disebut Tarmac. Saya paling suka foto disini terutama bila Tarmacnya bertuliskan nama airport. Norak ya? kan buat koleksi getooh.

Dari beberapa artiket tentang penerbangan yang saya baca, sebenarnya berbahaya sekali foto disini. Kenapa? airport apron biasanya digunakan untuk bongkar muat barang, mengisi bahan bakar dan menaik turunkan penumpang. Terbayang nggak sih berapa banyak mobil yang lalu lalang untuk menunaikan tugas tersebut. Nah, biasanya kalau sudah narsis kita pasti tidak akan konsentrasi pada keadaan sekeliling takutnya saat sedang asyik-asyiknya gaya tanpa sengaja menabrak salah satu mobil yang lalu lalang tersebut.
Alasan kedua, Airport Apron juga tempat berkumpulnya beberapa jenis pesawat baik yang besar maupun yang kecil. Kebayang lagi asyik-asyiknya motret sambil jalan mundur dan tanpa sadar mendekati pesawat jet atau propeler yang sedang menyalakan mesinnya. Apa nggak ngeri tuh badan kesedot mesin? :) . 

Kalau alasan ketiga sebenarnya didasarkan pada adanya aturan untuk tidak menyalakan handphone paling tidak 15 meter dari pesawat yang sedang diisi bahan bakar karena ada kemungkinan menimbulkan ledakan.Jadi yang mengambil foto pakai HP harus lebih hati-hati.
Alasan keempat, beberapa airport memang melarang orang-orang yang tidak berkepentingan untuk mengambil foto bandara karena alasan keamanan negara.
Nah dengan beberapa alasan tersebut sudah saatnya saya menghentikan hobi berfoto di Tarmac, toh setelah keluar dari airport bisa juga kok foto-foto di lokasi lain yang ada nama airportnya seperti gambar dibawah ini :).


Naik Tricycle ke Tabon Jetty Port

Sebenarnya ada dua pelabuhan yang biasanya digunakan untuk menyeberang ke Boracay. Penggunaan keduanya tergantung pada musim. Saat musim panas yang digunakan adalah Caticlan’s jetty port yang berjarak kurang lebih 5 menit sedangkan saat musim hujan (sekitar Juli-Oktober), mereka menggunakan Caticlan’s Tabon Port sekitar 10-15 menit naik tricycle. Karena saya datang saat Habagat season dimana angin barat bertiup kencang, dari Tabon Port ferry menuju Boracay biasanya dialihkan ke Tambisaan Jetty Port.

Begitu turun dari pesawat dan masuk ke bangunan bandara (bandaranya kecil sekali), petugas langsung mengarahkan ke loket untuk mengisi semacam formulir kedatangan dan membeli  tiket tricycle dan boat menuju Boracay. Isi formulirnya standar seperti nama, no paspor, tujuan ke Boracay dan menginap dimana. Setelah mengisi formulir, saya membayar 165 PHP perorang untuk satu paket transportasi ke Cagban Port atau Tambisaan Port (pelabuhan boat di Boracay) dengan rincian sebagai berikut:
·         Tiket Tricycle dari Caticlan Airport ke Tabon Jetty Port 40 PHP per orang.
·         Tiket Pump Boat dari Tabon Jetty Port ke Tambisaan Port Boracay 25 PHP
·         Enviromental Fee 75 PHP
·         Tabon Jetty Port Terminal Fee 25 PHP


Pengaturan semacam ini memang memudahkan pengunjung karena tidak perlu tawar menawar lagi dengan sopir tricyle. Apalagi harga-harganya tertera dengan jelas jadi kita tahu uang sebesar itu untuk transportasi apa saja. Selesai membayar dan mendapat tiket, saya diarahkan keluar dari bandara. Pas di seberang bandara sudah ada terminal tricyle yang akan mengantar kita ke Caticlan atau Tabon Jetty Port. Sepertinya satu tricycle berlaku satu rombongan (kecuali kalau rombongannya besar) karena saya sendiri jadi ditempatkan di satu tricycle  dicampur dengan orang lain.  Lumayan dempet2an, ehemm !
Tricycle di Caticlan
Apa itu Tricycle?. Tricycle ini bentuknya seperti becak yang sebelahnya ditempeli sepeda motor jadi hampir mirip-mirip bentor-lah. Sama-sama beroda tiga hanya saja sepeda motornya terletak disamping. Tricycle ini menjadi sarana transportasi yang penting di Filipina terutama di kota kecil dan daerah pinggiran. Buku-buku panduan semacam Lonely Planet sampai blog-blog perjalanan banyak menyarankan pakai transportasi ini terutama di daerah yang tidak memiliki angkutan umum seperti bis atau angkot. Bahkan di Boracay tricycle menjadi satu-satunya sarana transportasi yang tersedia. 

Tricycle ini memiliki bentuk dan gaya yang berbeda-beda antara kota yang satu dengan yang lain. Tricyle di Boracay beda dengan tricycle yang ada di Palawan, keduanya juga berbeda dengan tricyle di Caticlan. Kalau soal harga, tricyle ini lebih murah daripada taxi tapi lebih mahal dari Jeepney. Harganya bervariasi antara 6 – 250 PHP tergantung jarak, tempat serta jumlah penumpang (mau dipakai sendiri atau berbagi dengan penumpang lain).

Antri yaa..

sebelum naik boat, "nyuruh" orang poto sayah :)

Naik Pump Boat ke Tambisaan Jetty Port

Begitu turun di Tabon Jetty Port penumpang langsung diarahkan ke pump boat yang sudah menunggu. Sebenarnya ada dua alternatif perahu menuju Boracay, yang pertama menggunakan pump boat atau perahu bangka dengan tiket 25 PHP. Kedua menggunakan ferry Montenegro Lines yang memiliki ruangan ber AC dengan tiket 30 PHP. Kedua jenis perahu yang melayani jalur Caticlan – Boracay ini mulai beroperasi jam 5:00 pagi dengan penyeberangan terakhir jam 10 malam. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 15-30 menit. Diatas boat banyak tersedia life jackets yang digantung-gantung saja di atas kursi penumpang walaupun sampai naikpun tidak ada instruksi untuk memakai. Kebayang kalau kapalnya mau tenggelam kita baru akan berebutan mencari dan memakai jaket pelampung itu :) . Tergantung pada keadaan cuaca biasanya pada musim panas antara bulan Desember dan Mei ferry menuju Boracay biasanya dialihkan ke Cagban Jetty Port.

Sesampai di Tambisaan Port saya turun melalui tangga kayu sempit yang menghubungkan kapal dengan daratan.Tangga kayunya tidak permanen dan bergoyang-goyang mengikuti gerakan ombak dan kapal. Beruntung cuma bawa backpack, terbayang betapa repotnya kalau bawa koper....


Montenegro Lines Ferry

Naik Tricycle ke Hotel

Di Tambisaan Port ini penumpang langsung disambut dengan meriah oleh para calo dan sopir tricycle. Semuanya beramai-ramai menawarkan hotel sambil menunjukkan brosur berisi contoh-contoh kamar.  Karena sudah pesan hotel, saya berjalan melewati mereka menuju pangkalan tricycle. Kebetulan ada satu tricycle yang mangkal dan siap berangkat, saya menyebutkan nama Danaru Hotel dan pak sopir bertanya mau dicharter atau tidak, karena saya menjawab tidak jadilah sepanjang perjalanan dia juga mengangkuti para penumpang lain.
Sayangnya, tricycle ini tidak dapat mengantar kita sampai kedepan hotel karena adanya larangan untuk mengendarai motor di area White Beach. Tricycle hanya menurunkan kita di jalan besar saja dan selanjutnya kita harus berjalan kaki menuju hotel.
Sticker Legal

Tricycle, tarriik maaang...!

Karena tidak mencharter saya dikenai biaya 20 PHP. Pak sopirnya lumayan ngebut dan di beberapa tanjakan saya mulai kuatir tricyclenya tidak kuat naik karena kebanyakan penumpang.Tapi Alhamdulillah walaupun nyetirnya seperti dikejar setan akhirnya sampai juga dengan selamat. Saya diturunkan di mulut gang menuju station 3, sambil mengikuti arah peta yang sudah diprint dari Google Map mulailah saya jalan kaki menuju hotel di zona Bulabog Beach.
Pada dasarnya area paling populer di Boracay adalah di seputaran White Beach, pantai berpasir putih yang terbentang sejauh 4 km di sebelah selatan pulau. Area ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu Boat Station 1, Boat Station 2 dan Boat Station 3. Dinamai Boat Station karena dulunya merupakan tempat pemberhentian perahu yang datang dari Caticlan sebelum dipindahkan ke Cagban Pier di ujung selatan pulau.Walaupun banyak orang yang menyayangkan pemindahan ini, hal tersebut ternyata menjadikan pantai White Beach lebih tenang, bersih dan nyaman.
Diantara ketiga area tersebut, boleh dibilang Station 2 merupakan area yang paling sibuk. Jadi tidaklah mengherankan bila hotel-hotel di daerah tersebut lebih mahal dibanding area yang lain karena memang lokasinya yang paling ‘happening’. Bila ingin ketenangan bisa memilih hotel di station 1 dan station 3. Hotel-hotel berkelas mewah lebih banyak berada di station 1, sedangkan yang tergolong murah terletak di station 3. Dengan pertimbangan harga dan lokasi saya memilih Danaru Spa Hotel Boracay yang dipesan lewat situs Booking.com. Saya memesan kamar dormitory yang harganya 39 USD per 2 malam. Tipe pemesanan free cancellation sampai 5 hari sebelum tanggal kedatangan dan dibayar keseluruhan saat saya tiba di Danaru Hotel.

Hanya 30 m dari garis pantai. Rimbun.



Secara keseluruhan hotel ini memang nyaman, suasananya tenang dan cukup bersih. Sayangnya selimutnya aneh karena bahannya terbuat dari tirai yang biasanya dipasang untuk menutupi jendela.

Ada Apa Di Bulabog Beach & White Beach.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi ketika saya masuk untuk check inn. Setelah istirahat sejenak di hotel, saya pun siap menjelajah pantai Bulabog Beach. Percaya atau tidak sebenarnya banyak sekali pantai indah di Boracay selain pantai ini. Sejajar dengan White Beach terdapat Diniwid Beach yang lebih sepi, disebelah utara pulau terdapat Puka Beach dan disebelah barat terdapat Ilig-iligan Beach yang memiliki pemandangan lebih indah daripada White Beach. Tapi dari kesemua pantai itu, White Beachlah yang paling ramai dan paling banyak dikembangkan sehingga mencapai batas maksimal. Pantai ini memang istimewa dengan pasir putih berbentuk serbuk halus sehingga sepanjang garis pantainya hanya warna putih yang terlihat.

Bulabog Beach



Kite Surfing

White Beach



Hari Kedua rute walking tour saya di White Beach cukup sederhana. Saya hanya berjalan lurus mengikuti garis pantai dari station 3 ke station 1 dengan sesekali mampir ke tempat-tempat yang menurut saya menarik. Perjalanan sepanjang 6 km  itu saya tempuh dengan berjalan kaki bolak balik dengan rute sebagai berikut :

Pasar D’Talipapa

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengisi perut. Hasil informasi di internet, salah satu tempat makan halal di Boracay adalah Khalil Muslim Food Stall yang terletak di bagian belakang toko souvenir Kim Nor di pasar D’Talipapa station 2. Menemukan tempat ini ternyata mudah saja. Dari hotel berjalanlah lurus ke arah station 2 sampai menemukan penunjuk yang bertuliskan D’Talipapa. Sesampai di pasar ini cari jajaran toko souvenir. Kim Nor adalah kios souvenir no. 74 merangkap "warteg" :). Bila ingin makan tanya saja sama penjaga kiosnya apakah wartegnya buka, kalau buka kita akan dipersilahkan masuk ke dalam.

Saat  tiba disana, jam makan siang sudah berakhir jadi mereka hanya menunjukkan menu yang tersisa di etalase. Pilihan yang tersisa adalah ikan. Cukup enak dan harganya sangat murah dibandingkan warung makan lain di Boracay yg tidak terjamin kehalalannya. Harga sepiring set makanan lengkap yang terdiri dari 1 nasi, 2 ikan adalah 53 PHP (Philippine Peso) atau dalam IDR sekitar Rp..........? aakh itung aja sendiri..hehehe.

Menu Proletar Halalan Thoyyiban

Siapa yg nyangka ada warteg tersembunyi di #74 ini? 

Suvenir Boracay


Wet Market


Kau Sarap ?
Setelah kenyang, saya siap mengeksplore pasar ini. Selain berjualan souvenir, pasar ini juga terkenal dengan pasar basah (wet market) yang menjual berbagai hasil laut untuk dimasak di restoran sekitarnya atau yang disebut Paluto. Karena sudah makan saya memutuskan untuk mencoba paluto besok malam. Di wet market ini selain hasil laut juga tersedia sayuran, buah-buahan segar dan bahan pangan lainnya. Bila Paluto dirasa terlalu mahal di pasar ini juga tersedia Filipino fast food restaurants seperti Mang Inasal dan Andok’s dengan harga berkisar Php 60 per sekali makan. Sayangnya selama di Filipina saya belum pernah mencoba makan di fast food restorant lokal seperti Jolly Bee atau Mang Inasal karena terus terang saya meragukan kehalalannya.
D’Mall

Tersambung dengan D’ Talipapa adalah D’ Mall yang merupakan mall dengan bentuk terbuka atau outdoor.Terletak diantara Station 1 dan 2 kualitas dan harga barang-barangnya diatas D’ Talipapa. Kebanyakan yang dijual adalah baju-baju kasual, baju-baju pantai dan beberapa souvenir. Bila mencari barang bermerk di Boracay disinilah tempatnya karena beberapa merk terkenal seperti Toms, Hawaiinas, Fit Flops membuka butik tersendiri disini. Di dalam mall ini juga terdapat mini park dengan komidi putar berbentuk balon yang disebut Ballon Wheel. Disediakan juga fasilitas Wall Climbing bagi yang suka panjat memanjat.







Willy’s Rock

Batu ini merupakan ikon dari White Beach Boracay.Hampir semua foto-foto tentang Boracay pasti mengacu pada batu ini. Batu yang cukup terkenal ini sebenarnya merupakan pulau karang kecil yang terletak kurang kurang lebih 100 meter dari pantai yang berlokasi persis di depan Willy Beach Hotel yang terletak di Station 1. Diatas pulau tersebut terdapat sebuah kapel kecil dengan patung Bunda Maria didalamnya. Sayangnya saat saya kesana hari sudah malam jadi pulaunya hanya terlihat samar-samar. Paling bagus kalau kesininya pagi atau siang sehingga kita bisa berjalan menyeberangi laut dan naik tangga menuju kapelnya.
Willy's Rock di siang hari (Photo By : Rick St.John)

Istana Pasir di White Beach

Menjelang maghrib saya memutuskan untuk mencari musholla. Tidak sulit menemukan Muslim di kawasan ini, meskipun minoritas. Mereka dikenali dari fashion yang mereka gunakan. Prianya menggunakan gamis atau sarung, perempuannya menggunakan hijab atau kerudung. 

Masih di kawasan White Beach Pasar D' Talipapa di lorong yang sempit penghubung antara pasar dan bibir pantai ada musholla di atas cafe Blue Veranda yg dikelola Muslim Moro. Saya sholat maghrib berjamaah. Ba'da Maghrib sampe Isya saya ngobrol dgn Ustad Hanafie Imam surau bersama jama'ah komunitas Moro dengan bapak2nya, bocah2nya. Kami menggunakan 3 bahasa : Inggeris, Melayu, Tagalog. Pusiiing sayahhh... Mereka mengerubuti saya kayak ketemu bintang pilem aja. Semula mereka mengira saya dari Malaysia. Malaysia lebih tenar? Hmm..

Sebagai sesama Muslim mereka sangat senang bertemu ,apalagi mereka di sini minoritas. Bapak2nya bertanya tentang Indonesia : Soekarno, Soeharto, Buya Hamka. Saya ikut memuji pemimpin Muslim Moronian Muhammad Nur Misuari. Saya merasa terharu dan senang ketemu mereka. Tau begini saya gak tinggal di Danaru Hotel...tinggal di musholla ini lebih asyik, banyak sodara seakidah meski mungkin beda madzhab yg penting untuk Islam yang Satu heheh.


Sunset di White Beach


Silaturahim Islam Yang Satu di Surau Blue Veranda



Makan malam di warung sebelah surau 

Setelah sholat Isya dan makan malam di warung saya kembali berjalan mengeksplore suasana kehidupan malam di bibir pantai White Beach dengan arah kembali ke hotel.  

Di sepanjang perjalanan saya banyak melihat bangunan istana pasir yang indah bertuliskan Boracay dengan lilin-lilin didalamnya. Sepanjang pengetahuan saya pembangunan istana pasir ini sudah dilarang di Boracay. Sejak tahun 2008, Pemerintah sudah memberlakukan biaya ijin (Permit Fee) sebesar 100-600 PHP perhari untuk per square meter tempat yang digunakan untuk membangun istana pasir. Itupun hanya berlaku maksimal selama 5 hari. Alasan utamanya untuk menjaga kualitas pasir Boracay yang memang istimewa itu. Mereka memandang pembangunan istana pasir menjadi salah satu penyebab erosi pantai dan berkurangnya kualitas pasir baik warna maupun bentuknya. Peraturan ini memang masih bersifat pro dan kontra karena beberapa pihak menuding bahwa hal tersebut hanyalah salah satu cara pemerintah untuk meningkatkan pendapatan dari pembangunan istana pasir yang menjadi salah satu trade mark Boracay.


Muslimah Moronian

Fire Dancing

Live Music


Istana Pasir

Malam makin larut saya memutuskan kembali ke hotel. Jalanan mulai sepi tapi masih ada warung yang buka untuk membeli persediaan air putih. Sesekali ketemu bule mabok, egp lah. Sesampai di hotel jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Seharian explore yang cukup menyenangkan di White Beach, menikmati sunset, makan halal, minum jus dan menikmati keindahan sand castles di sepanjang pantainya. What A day…..

Di kamar dorm saya berkenalan dengan tamu baru seorang bekpeker muda dari Korea bernama 'lucu' Oh Tae Pyoeng, dia seorang tentara muda Korea...Hmm, lagi2 ketemu orang baik. Kami ngobrol sambil buka Google Translate di laptop Mas Biyung eh Pyoeng. Saya mengetik bhs Indonesia terjemahan Korea. Mas Biyung ketik bhs Korea terjemahan Indonesia. Betapa hebatnya teknologi mempersatukan kami dari ras yang berbeda.
Paginya sambil sarapan di teras hotel saya dipinjemin laptopnya untuk menulis status di fesbukku agar keluargaku di Makassar dan Jakarta, anak-anakku dan teman2 tau di mana posisiku sekarang berada...nun jauuuuh di pulau Boracay, Philipina.

Penerbangan dari Kalibo ke Manila

Penerbangan menuju Manila dijadwalkan berangkat jam 18.55 PM dengan pesawat Cebu Pacific yang akan berangkat lewat Kalibo, berjarak 72 km dari Boracay. Teorinya, perjalanan Boracay – Kalibo akan memakan waktu 1.5 jam. Kalau mau sebenarnya saya masih bisa berangkat siang-siang dan main-main sebentar di White Beach. Tapi tidak mau ambil resiko saya memilih berangkat pagi-pagi dari Boracay dan sisa waktu yang ada rencananya akan saya gunakan menjelajah kota Kalibo saja.

Selesai sarapan dan check out, akhirnya jam 07.00 tepat mulailah perjalanan menuju Kalibo. Memang enak rasanya keluar hotel pagi-pagi, hawa yang sejuk dan pemandangan White Beach di pagi hari membuat saya ogah pergi. Dari hotel saya berjalan kaki menyusuri pantai menuju jalan besar di Station 3 dan dari situ saya mencegat tricyle yang lewat untuk mengantar ke Tambisaan Port. Karena tidak mencharter, saya hanya membayar 20 PHP perorang dengan lama perjalanan sekitar 30 menit termasuk waktu tunggu.
Setibanya di Tambisaan Port, saya langsung diarahkan petugas pelabuhan ke loket untuk membayar terminal fee 20 PHP dan biaya boat sekaligus minivan ke Kalibo sebesar 200 PHP perorang. Pengaturannya enak juga karena saya tidak perlu lagi mencari-cari transportasi menuju Kalibo. Setelah perahunya datang, langsung berangkat menuju Tabon Port.
Turun dari kapal, kita langsung diarahkan ke minivan menuju Kalibo. Minivan yang penuh langsung bisa berangkat tapi yang tidak penuh akan menunggu perahu berikutnya dari Tambisaan. Alhamdulillah saat saya datang minivan sudah terisi setengah hingga tak perlu nunggu lama minivan sudah penuh lalu langsung cabut menuju Kalibo. Perjalanan dari Tambisaan Port menuju Kalibo Airport memakan waktu kurang lebih 1.5 jam.

Sesampai di Kalibo Airport masih ada waktu 5 jam sebelum pesawat  berangkat. Tidak ada yang saya lakukan selain jalan-jalan seputaran airport Kalibo yang kecil mungil itu. Selain melayani penerbangan ke Boracay, Kalibo airport ini juga berfungsi melayani daerah Kalibo dan sekitarnya. Kalibo sendiri merupakan ibukota provinsi Aklan. Walaupun tingkat penerbangannya tumbuh cukup cepat sekitar 50-100% pertahun, bangunan airportnya kecil dan tidak banyak fasilitas didalamnya. Bahkan tempat duduk di ruang tunggu luar saja sangat minim sehingga banyak orang glesotan di lantai menunggu loket penerbangan buka untuk boarding. Bahkan ada yang telanjang dada berjemur matahari. Dalam penerbangan ini harga airport tax tidak termasuk dalam tiket, jadi kita masih harus membayar lagi 100 PHP untuk airport tax (Terminal Fee).
Penerbangan ke Manila memakan waktu 1 jam 15 menit dengan menggunakan pesawat Cebu Pacific. Untunglah Cebu terbang dalam kondisi cuaca yang baik, apalagi dengan bodi pesawat yang lebih besar guncangan saat turbulence jadi tidak begitu terasa. 


Minivan dari Caticlan ke Kalibo 


Kalibo Int Airport

Berjemur di halte bandara 

Non halal

Bego Bos depan bandara, sebelahnya ada Warnet.

Pak, bisa taro dulu sapunya, foto saya?

Halal Food Special Request

Numpang sholat di warung Nasrani

Menulis di wall fesbuk sambil ngopi di BegoBos

  


Aku masuk ke warnet membuka e-mail lalu menulis pesan singkat untuk keluargaku : "Alhamdulillah sampai saat ini saya masih sehat walafiat meski tanpa alat komunikasi. Sekarang saya di kios internet di depan Kalibo Int airport, Aklan city, 2 jam naik minivan dari Caticlan. Jam 19.00 malam ini saya akan kembali ke Manila. Besok pagi masih ada waktu untuk naik jeepney ke Golden Mosque di Carrioda dan main ke SM Mall of Asia".

Kemudian lanjut menulis di wall fesbuk komunitas Bekpeker : "Temans, jam 10 pagi tadi saya tiba di Kalibo dalam keadaan lapar tapi tak brani makan. Bukan karena tak punya duit hheheh..saya mampir di beberapa "warteg" dan selalu menunjuk menunya di etalase dan bertanya " this is pork?". Kalau salah satu menunya pork tentu menu lain juga mengalami "keterpengaruhan" alias terpapar keharaman heheheh...
Saya mengambil mie cup instant baca ingredientnya tajam2, maklum sdh rabun...ternyata mengandung pork juga. Malu juga, tiap masuk warung pelototin ingredients, periksa satu-satu..taunya gak jadi beli..emak2 yg punya warung kesel juga tampaknya, dlm bhs Tagalog mungkin dia bilang "sampeyan itu maunya apa kok kayak orang linglung???"

Ruang tunggu bandara yg imut

Avonturir Back to Manila
  

Saat tiba jam 20.30 malam di Ninoy Airport-T4. Cari aman sy menunggu shuttle bus utk ke T3.... 1 jam.... 2 jam.... bandara sudah sepi. Sialan lama sekali. Saya memutuskan berjalan keluar bandara domestik menembus kepekatan malam yang mulai dingin, menuju pangkalan jeepney dan tricycle sekitar 500 m. Saya bejalan cepat dan menghalau calo2 taxi betmen. Sampai di pangkalan wuiih remang2.. dan jeepneynya ga operasi lagi sdh jam 22 lewat , kata org situ : "no more". Ya sutralah drpd kena scam taxi tejo (gak jelas) mending kembali masuk ke bandara domestik berjalan layaknya atlit jalan cepat dan pasang wajah sangar berkerut. Ayoo preman mana yang mau mendekat? Kualleanna tallanga natowalia. Begitu saja kok, karena jiwamu ada dalam takdir_Nya...jadi kalem saja. 
Setelah di dalam bandara saya pake taxi resmi 100 peso sampe deh ke T3.. sialan banget kan, tau gitu dari tadi aja ya... :(
Akhirnya sampe deh di airport T3. Saya langsung menuju lt. 3 tepatnya di mushola Matare  bertemu kembali dgn saudara Muslim Moro ku. Kids Arham dan beberapa muslim petugas bandara yang sedang istirahat...

Lepas sholat subuh, aku mencatat baik-baik orang-orang baik yang dikirim Allah membantuku: Kristin & Crystal, 2 mahasiswi hebat yg menemani jalan kaki sekitar 3 km, bocah Arham yang membuat hpku bisa digunakan pagi ini, Ust. Abdurrahman imam musholla bandara yg memberi tumpangan, Ustad Hanafi imam musholla Blue Veranda di lorong sempit White Beach, Oh Tae Pyoeng bekpeker dari Korea yg meminjamkan laptopnya utk kontak keluargaku.. 
Man jadda wa jadda! 




Awas Copeet !

Kardinal Sin adalah Tokoh People Power bersama Qorry Aquino


Masuk ke dalam Gereja Basilika





Peramal





Reman neeech...

Muslim di Metro Manila.


Bicara Filipina dan Islam, maka yang terbayang di benak kebanyakan orang adalah konflik yang tak kunjung usai antara Pemerintah Filipina dan umat Islam di Kepulauan Mindanao. Sejatinya, umat Islam di Filipina tak hanya ada di Mindanao. Di kota metropolitan Manila, ibu kota negara ini, ada pula komunitas Muslim yang hidup berdampingan secara damai dengan umat Nasrani sebagai kelompok mayoritas.
Jika ditarik mundur ke belakang, sejarah Muslim di Filipina, khususnya di Manila, sudah ada sejak masa sebelum Perang Dunia II. Sempat menghilang saat kolonisasi Spanyol, Muslim di Manila muncul kembali saat terjadi kolonisasi Amerika Serikat, khususnya wilayah Moro.
Islam datang ke Filipina melalui jalur perdagangan. Masyarakat Arab pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14 datang ke sana untuk berniaga. Ada juga pedagang melayu yang datang ke Kepulauan Sulu dan Mindanao.
Islam menyebar di Filipina sampai ke Kerajaan Tondo yang mengikuti Brunei di Kerajaan Manila. Ketika penjajah Spanyol tiba pada pertengahan abad ke-15, di Seludong , mereka merasa cemas untuk bertemu dengan masyarakat lokal.

Sekitar tahun 1575 orang Spanyol mulai menyebarkan ajaran Katolik di di Filipina melalui penggunaan misionaris. Meskipun sebagian besar orang Filipina berpindah agama, orang-orang Moro dapat mempertahankan iman mereka. Masjid merupakan salah satu warisan Muslim tertua yang masih ada hingga saat ini.
Keberadaan masjid di Manila, seperti diterangkan dalam laman ryukoku.ac. id, berawal pada 1949 ketika Dewan Perwakilan Ombra Amilbangsa dan beberapa tokoh Muslim berinisiatif membentuk sebuah Asosiasi Muslim Filipina (Muslim Association of the Philippines). Ini merupakan organisasi untuk mem per- satukan umat Islam di Filipina.
‘Prestasi’ awal organisasi ini ada lah berdirinya Islamic Center di Distrik San Miguel, Manila. Resmi ber operasi pada 1964, Islamic Center ini dibangun melalui perjuangan panjang dan berliku. Mulai dari sulitnya mendapatkan lahan, pinjaman uang, sampai didera masalah bangkrutnya bank.
Berdirinya Pusat Islam di San Miguel ini menjadi pemacu dibangunnya beberapa masjid di Manila. Pada satu masa, yakni pengujung dekade 1980-an hingga pertengahan 1990-an, terjadi booming pembangunan masjid di Manila. Saat itu, seiring kian ber tambahnya jumlah Muslim di Manila akibat konflik berkepanjangan di Mindanao, masjid-masjid pun ber munculan. Geliat Islam di Manila pada masa itu didorong pula oleh hadir nya para penggiat dakwah dari Pakistan yang tergabung dalam Jamaah Tabligh.

Menjamurnya masjid agaknya membuat gerah Pemerintah Filipina. Untuk mengerem laju pertumbuhan masjid, pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan tentang syarat pembangunan sebuah masjid.
Di antara syarat itu adalah masjid harus memiliki jamaah yang secara rutin shalat berjamaah lima waktu minimal lima orang. Syarat lainnya, jumlah jamaah saat shalat Jumat minimal 40 orang. Masjid ini pun harus terdaftar secara resmi, baik di pemerintahan lokal maupun pusat. Pada 2002, di Manila terdapat 32 masjid yang terdaftar sedangkan masjid yang tidak terdaftar lebih dari 80 buah.

Qaddhafi & Golden Mosque Cultural Center

Saat riset saya dengar lingkungan disini sangat menakutkan, banyak kejahatan dll. tetapi saya merasa 'ngotot' ingin sholat dan bertemu Bangsa Moro di masjid ini. Saya bertanya ke warga lokal lalu ke sini menggunakan transportasi umum yang unik yaitu jeepney yang berhenti di depan sebuah pasar yang konon banyak copet. Masjid ini berada di area slum 'texas" di lingkungan pasar. awalnya saya cukup  kesulitan menemukannya karena faktor bahasa, tetapi untunglah saya ketemu seorang yang dari busananya adalah Jamaah Tabligh. Ia memberi petunjuk dalam bhs Tagalog campur Inggeris. Ternyata posisinya ada di seberang jalan besar, akhirnya sampe depan masjid. dan kengerian yang saya baca ternyata tidak saya lihat sama sekali. segala aman terkendali.

Masjid Al Dahab ini lebih dikenal dengan nama The Golden Mosque atau Masjid Emas atau dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita del Globo de Oro dan dalam bahasa Tagalog Filipino disebut Moskeng Ginto. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di Manila dan disebut dengan masjid emas karena kubahnya yang dicat dengan warna keemasan yang berkilauan.


 Masjid ini dibangun tahun 1976 di distrik Quiapo, dalam kota Metro Manila dimasa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos berkuasa di Philippina, di bawah pengawasan langsung dari ibu negara Filipina kala itu, Imelda Marcos. Pembangunan masjid Al-Dahab ini ditujukan untuk menyambut kedatangan Presiden Libya Muammar Qaddafi yang sedianya akan datang ke Filipina untuk kunjungan kenegaraan (walaupun nantinya dibatalkan) dalam upaya menengahi pertikaian antara pemerintah Filippina dengan pejuang kemerdekaan Moro (MNLF-Moro National Liberation Front) yang ingin mendirikan Negara berasaskan Islam di gugus kepualauan selatan Filippina yaitu di kepulauan Sulu, Mindanao dan Palawan.   




Masjid Al-Dahab berdiri di ujung jalan Globo de Oro, nama jalan yang berarti “bola dunia ke-emasan”. Masjid ini berada di distrik Quiapo yang didiami oleh komunitas muslim Metro Manila. Di sekitar masjid di distrik Quiapo banyak terdapat toko, warung dan rumah makan yang menyajikan makanan halal dan buah buahan segar dari pulau Mindanao, meski pengunjungnya dari beragam latar belakang termasuk pengunjung non muslim.

Masjid ini terbuka untuk kunjungan dari kalangan manapun termasuk non muslim yang ingin berkunjung ke masjid hingga ke bagian dalamMasjid berkubah warna emas ini cukup megah di tengah kota Manila, interior masjid di penuhi dengan lengkungan lengkungan yang elegan. Meski tampak bahwa eksterior masjid tampak sedikit kurang terawat dengan baik, namun interior masjid dengan nuansa warna kuning terang ini cukup apik dan memberikan kekhususan bagi setiap jemaahnya.

  
                                                     eh ada juga organisasi komunitas Syiah tak jauh dari masjid                                                                                                                                                     
Saya makan ini di ruko seberang masjid


Street food komunitas Muslim
                                                                                            

Al Wasath Mosque
Matahari sudah semakin tergelincir ke barat, saya terus berjalan  tak kenal lelah dengan tas selempang, melintas di depan Quiapo Church, saya mengambil arah kiri. Dari kejauhan tampak sebuah menara masjid berwarna hijau, tetapi kubahnya tidak kelihatan. Saya terus menyusuri jalan besar menuju ke arah menara masjid tersebut. Pundak terasa seperti terbakar, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah gang sempit yang bertuliskan “Welcome to Barangay 648 – Zone 67. District VI, San Miguel – Manila “, dan di dalam gang nampak sebuah menara masjid hijau yang  kecil. Saya sepertinya pernah mendengar nama daerah ini sebelumnya di sebuah acara backpacker yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dengan sedikit rasa was-was dan penasaran, saya mencoba memasuki gang utama perkampungan ini. Saya berpapasan dengan wanita-wanita yang mengenakan kerudung, sedangkan laki-lakinya mengenakan kopyah, dan juga tricycle yang dihias dengan tulisan-tulisan islami.

Begitu sampai di perkampungan, saya seperti mengalami dejavu karena apa yg saya lihat di tv sekarang saya alami sendiri. Inilah perkampungan muslim yang padat penduduk, warganya tinggal di rumah sederhana yang berhimpitan antara rumah satu dengan yang lainnya, seperti rumah susun padat penduduk di Jakarta. Begitu saya melintas, perhatian warga yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan otomatis tertuju pada saya, saya merasa seperti orang aneh jadinya. Dengan selempang backpack yang saya gendong, mungkin saya teridentifikasi sebagai orang asing disini. Saya hanya berjalan dengan penuh waspada, melintasi kerumunan warga dan anak-anak yang sedang bermain di jalan. 
Seorang bapak yang nongkrong di warung mengacungkan jempol tangannya kepada saya sambil merapatkan kedua bibirnya. entah apa maksudnya...apa ungkapan “salut” sudah berani masuk ke kampung ini ? heheh. Begitu sampai di masjid, saya melihat ada dua orang bapak-bapak yang sedang nongkrong di depan masjid. Saya mencoba ramah untuk senyum dan mengucap salam kepada mereka berdua, tapi jawabanya hanya senyum kecut dan tidak membalas salam saya dengan baik. Suasana hati terasa kelu, karena saya sudah tau sebelumnya tentang distrik ini yang konon merupakan distrik yang sangat rawan kriminalitas. Saya masuk ke masjid untuk sholat, mencoba untuk tenang dan santai menghadapi suasana yang agak aneh ini. Begitu masuk masjid saya terkejut karena kondisinya yang kurang terawat. Karpetnya kumal. Barang2 perlengkapan masjid semrawut.
Setelah sholat selesai, saya mencoba ngobrol dan memperkenalkan diri dengan kedua bapak yang duduk di depan masjid tadi. Kampung ini ternyata sudah ada sejak tahun 1964, dihuni oleh pendatang muslim dari Mindanao. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang menghuni kampung ini, kesemua warganya beragama Islam. Karena mungkin mencium keluguan saya, bapak itu memperingatkan kepada saya untuk tidak masuk ke gang-gang sempit yang ada di kampung ini. Saya disarankan untuk melintasi jalan utama di kampung ini saja, karena sangat berbahaya jika masuk ke gang yang lebih dalam. Kata beliau, saya bisa ditusuk dan dirampok oleh warga yang berniat jahat disini. Wah, ternyata benar juga info yang saya dengar sebelumnya tentang kampung ini. Kampung ini diketuai oleh seorang wanita, yaitu Chairwomen Bae Norhaina Macabato. Dan ternyata bapak yang ngobrol dengan saya tadi adalah adik dari bu Norhaina tersebut, saya sedikit lega ketika tahu hal itu, setidaknya saya ngobrol dengan orang yang baik. 
Terima kasih Ya Allah lagi2 Engkau mengirimkan orang baik.







Ditraktir Ust. Sultan Abdurrahman, "Adik Angkat"ku





SM Mall Of Asia. Mall terbesar di Asia Tenggara

                                               Mangan ra Mangan Pokoke Pesta Sarap !

 World Of Resort Manila





 Kejutan : Gagal Ke Baitullah

 "kapan kamu berangkat haji, Nak? Menyusul kakakmu yang sudah berhaji. Banyak negeri yang sudah kamu datangi. Yang ibu harapkan, kamu bisa sampai ke Mekkah dan Madinah..."

Kalimat itu keluar dari lisan ibuku yang lembut, saat aku pulang kampung menemuinya sekitar tahun 2012. Ucapan yang terdengar biasa, tapi terasa magis di hati. Bukan hanya harapan, tapi seakan menjadi amanah, yang diam-diam mengikat langkahku sejak saat itu.

"Insya Allah, Bu," jawabku lirih. Jawaban sederhana yang penuh keraguan, tapi juga tekad. Aku tahu, ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah mimpi suci yang harus kuikhtiarkan dengan sungguh-sungguh.

Maka pada April 2013, aku melangkah ke Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan. Aku mendaftarkan diri untuk berhaji. Sebuah langkah awal yang kecil, tapi penuh harap. Waktu tunggu sekitar 12 tahun membuatku merenung—haruskah aku menanti selama itu? Naluri perjalananku sebagai backpacker, sebagai penjelajah negeri-negeri asing, mulai merancang rute alternatif.

Tahun 2015 inilah saatnya..., tanpa memberi tahu Ibu, aku diam-diam menyusun rencana nekat: perjalanan melintasi beberapa negara menuju Tanah Suci.
Rutenya: Jakarta – Manila – Boracay - Manila - Dammam (Arab Saudi), lalu naik bus darat menyusuri padang pasir menuju Madinah, Mekkah, hingga Jeddah. Visa kubuat di seorang agen Umroh di Tebet sedang tiket perjalanan multi city sudah kubuat via Tiger Air-Cebu Pacific. 
Aku ingin memberikan kejutan terbesar dalam hidupku kepada Ibu:
Bu, aku sampai ke Baitullah...

Terbayang keagungan dan kemegahan ka’bah. Rumah Tuhan. Pasti penuh kedamaian. Pasti menentramkan. Terlepas semua beban keduniawian. Saya juga penasaran, ada apa di dalam kubus batu yang menjadi kiblat sholat manusia sejagat itu? Saya membayangkan bisa memeluknya. Pasti akan sangat senang sekali. Lebih menyenangkan dari membayangkan memeluk Isteri. Hihihi.

Saya juga sempat protes: kenapa tanah suci koq jauh sekali. Mahal lagi. Kenapa sih ga buka cabang aja? Pasti rame dan menguntungkan. Atau di ekspor untuk pemerataan tempat spiritual di muka bumi gitu, sehingga ga perlu harus ke Arab sana

Apa saya bisa pergi kesana? Seorang karyawan kullu-kullu dengan IPK pas-pasan dan duit cuma cukup sekedar pendaringan ngebul.

Tapi saya masih ingat qutipan dari film Great Debaters (Denzel Washington, 2007) yang sering saya rapalkan berulang:

“Do what you can do, so you can do what you wanna do”.

Lakukan apa yang bisa dilakukan. Agar kamu bisa melakukan apa yang ingin kamu lakukan.

Action

Hidup adalah sekumpulan rangkaian aksi. Hanya terkadang manusia lupa diri, dan terlarut dalam banyak mimpi. Semua aksi pasti menghasilkan reaksi. Sederhana kan? Tapi memang Sang Pencipta memiliki logika yang berbeda. Jika kita ingin melakukan perjalanan dari point A ke point B, terkadang Tuhan memaksa kita “berputar” ke point C, D, E, F sampai Z, baru kembali ke point B.

    


Hal yang tak kuduga ternyata  Allah Sang Maha Daya punya skenario lain.
Di bandara Ninoy Aquino Manila, Kamis malam jumat 5 Februari 2015, aku ditolak naik pesawat yang akan menuju Dammam, Saudi. Petugas menyatakan visa umrahku  tak berlaku untuk jalur itu. Aku bahkan terancam dideportasi. Innalillahi...




Itinerary yang sudah kususun rapi, tiket pesawat dan hotel yang sudah dibayar—semuanya hangus. Aku tersedak. Kerongkonganku pekat. Aku berdebat sembari memohon. Tak jua luluh. Akhirnya kupasrahkan semuanya kepada Yang Maha Mengatur
Disana saya akhirnya sadar:

Ada yang lebih berharga daripada harta.

Ada yang lebih berkuasa daripada tahta.

Ada yang lebih memesona daripada wanita.

Ada yang lebih penting daripada dunia dan isinya.

Apakah itu?

Saudaraku yang tercinta, silahkan datang ke rumah-Nya dan insya Allah Anda akan menemukan jawaban-Nya.

Mungkin ini yang disebut Mestakung (meminjam Prof Yohanes Surya) atau Law of Attraction-nya Rhonda Byrne. Tapi menurut saya, apa yang saya lakukan disebut ikhtiar. Bukan magic. Bukan kekuatan supra natural. Bukan the power of mind.

Di tengah kekacauan itu, teman2 Muslim Moro yang kukenal di Musholla Matare (Ust. Sultan, Arham dkk) mencoba menghiburku. Sungguh mereka sangat baik. Aku lalu menghubungi Ibu melalui hubungan internasional ke Makassar. Ternyata ibuku sedang sakit.
Dengan terbata dan penuh sesal, aku ceritakan bahwa rencana kejutan ke Tanah Suci gagal total.
Ibu hanya terdiam... lalu pelan menjawab,
"Nda papa, Nak. Pulang saja dulu... Ibu kangen."

 Dari Manila, aku memutuskan pulang. Tapi tidak ke rumah di Bintaro. Aku terbang ke Makassar—menemui ibuku, meminta maaf, memohon doa, dan memeluknya hangat. Dalam hati aku berdoa,

"Ya Allah, sehatkanlah ibuku. Ampunilah aku yang mencoba menempuh jalan sendiri, tanpa restunya."

Manila - Makassar

Sejak saat itu, aku berjanji, aku akan ke Baitullah dengan cara yang benar, dengan niat yang lurus, dan restu dari ibu yang menjadi pijakan langkahku. Dan Insya Allah setelah 10-an tahun menanti, panggilan itu akan tiba pada waktunya.

Dan aku kelak akan melangkah, membawa amanah ibuku dalam hati, menuju Tanah Suci...

"Maafkan aku, Ibu..."


Ust Sultan menemani di Ninoy Airport

 



 

Ya Allah Ya Tuhanku,
Di sini hamba-Mu mengetuk pintu
Izinkan hamba berkunjung ke rumah-Mu
Mengunjungi kiblat yang selama ini belum pernah hamba lihat

Ya Allah yang Maha Kuasa,
Di sini hamba-Mu berdoa
Agar nanti hamba bisa pergi ke sana
Tanah suci tempat para nabi berada

Memang benar,
Engkau hanya mengundang orang-orang pilihan
Mereka yang mengerti,
Bahwa iman adalah sebaik-baiknya harta yang sejati

Karena itu, hamba berdoa:

Mudahkanlah
Dekatkanlah
Bukakanlah

Tolong Izinkan hamba berdoa di depan Ka’bah..
Izinkan hamba memenuhi panggilanmu ya Allah..





Ali bin Abi Thalib dikenal karena kata-katanya yang bijaksana, termasuk mengenai pentingnya menghargai ibu. Beliau pernah mengatakan, "Jangan gunakan ketajaman kata-katamu pada ibumu yang mengajarimu cara berbicara". Ungkapan ini menekankan pentingnya menghormati dan tidak menyakiti perasaan ibu yang telah berjasa dalam kehidupan anak. Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga berkata bahwa ibu adalah pintu rahmat yang Allah bukakan untuk kita. 

  • "Ibunda, kau adalah orang terbaik dalam hidupku."
  • "Ibu adalah pemberian Allah SWT yang sangat berharga."
  • "Surga ada di bawah telapak kakimu."          

Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, Sayyidina Ali, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.


               -------------------------------------------- Selesai ---------------------------------------------


MANILA & GAGAL KE MAKKAH   MANILA & GAGAL KE MAKKAH Reviewed by Sofyan Saleh on Maret 11, 2018 Rating: 5

1 komentar

  1. Mantap kali nih orang jalan jalan nya, ngajak ngajak ngapah ....

    BalasHapus

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!