Ada tiga pilihan
transportasi dari Manila menuju Boracay. Pilihan pertama,
adalah menggunakan ferry dari Manila menuju Provinsi Caticlan. Berangkatnya dari Batangas
Port dengan lama perjalanan 12 sampai 16 jam. Salah satu perusahaan yang
mengoperasikan ferry menuju Caticlan adalah 2GO Travel dengan harga tiket dan
jadwal keberangkatan dapat dicek di web. Pilihan kedua yang
agak lebih cepat, adalah kombinasi ferry dan bis. Dari Batangas Port naik ferry
ke Calapan (kurang lebih 2 jam), kemudian disambung naik bis ke Port of Roxas
(3-4 jam). Dari Port of Roxas ini naik ferry lagi ke Caticlan (4-5 jam). Nah
kalau pas dapat tiket promo mending pakai pilihan ketiga yaitu
naik pesawat. Sebenarnya tidak ada penerbangan langsung menuju Boracay, semua
penerbangan akan mendarat di Caticlan atau Kalibo. Beberapa maskapai
penerbangan yang mendarat di Caticlan antara lain : Cebu Pacific, Seair,
Airphil Express dan Zest Air sedangkan yang mendarat di Kalibo adalah Tiger
Airways, Philippine Airlines, Air Asia dan Cebu Pacific.
Penerbangan Manila –
Caticlan
Setelah membeli
tiket promo Jakarta – Manila pp, ada promo lagi dari Cebu Pacific dengan tujuan
domestik. Setelah dicari tanggal yang cocok dapatlah tiket Manila – Caticlan
seharga 783 Php/Rp. 223.000 (Cebu SJ 907). Karena harga untuk pulangnya dari Caticlan tergolong mahal maka saya mengalihkan tujuan kepulangan
bukan dari Caticlan tetapi dari Kalibo yang jaraknya lebih jauh. Harga promo yang saya dapat Kalibo - Manila adalah 598 Php /Rp. 170.000,- (Cebu DG 7059). Pilihan ini
ada enaknya juga karena bisa merasakan pergi dari dua bandara sekaligus.

Dari Manila, Cebu Pacific tujuan
Caticlan terbang dari Terminal 3 dengan lama penerbangan kurang lebih 1 jam.
Jadi kalau terbang dari Jakarta menggunakan Cebu Pacific tidak perlu
repot-repot pindah terminal. Caticlan Airport atau disebut juga Geodofredo P. Ramos
Airport dan sekarang malah lebih ngetop disebut Boracay Airport.
Bandara ini memiliki
landasan pendek (kurang lebih 950 mt) sehingga hanya pesawat-pesawat berukuran
kecil yang bisa mendarat disana. Apalagi setelah hari gelap semua penerbangan
tidak dapat mendarat di Caticlan jadi kalau cuaca benar-benar tidak mendukung
ada beberapa penerbangan yang terpaksa direroute ke Kalibo Airport. Selain itu,
karena jenis pesawat yang dipakai adalah Propheler Plane (pesawat
berbaling-baling) berkapasitas 72 orang, maka mereka benar-benar ketat soal
bagasi. Batas maksimal berat bagasi adalah 15 kg, 10 kg dimasukkan bagasi dan 5
kg dibawa masuk ke kabin. Selain itu semua tas yang masuk kabin harus mendapat
bag tag dari maskapai. Walaupun demikian Alhamdulillah backpack saya yang beratnya
kurang lebih 7 kg diijinkan juga masuk ke kabin.
Pertama kali naik
pesawat berbaling-baling itu rasanya ngeri-ngeri sedap. Ngeri karena badannya
yang kecil bikin turbulence makin terasa. Apalagi pas mau sampai di Caticlan
kena turbulence hebat sampai pesawatnya tergoncang-goncang. Bener-bener shock. Saya hanya
bisa pasrah dan berdzikir, saya berpikir simple saja kalau memang kejadian pesawatnya nyemplung ke laut, resikonya cuma dua : mati dan terkubur di laut atau celaka tapi selamat lalu jadi seleb di halaman berita utama media sejagad :).
Makanya kalau
punya bagasi banyak dan lebih suka naik pesawat gede yang anteng mending turun
di Kalibo saja yang ukuran airportnya lebih besar. Untung saja tiba di Caticlan mendarat dengan selamat dan semangat untuk menjelajah kota
yang baru.
 |
| Kesan Sporty. Pramugari cuma ber T-Shirt & Celana Bermuda |
Sebelum keluar dari
airport ada satu hobi saya yang sebenarnya tidak baik untuk ditiru yaitu
berfoto di Airport Apron atau biasa disebut Tarmac. Saya paling suka foto
disini terutama bila Tarmacnya bertuliskan nama airport. Norak ya? kan buat koleksi getooh.
Dari beberapa artiket tentang penerbangan yang saya baca,
sebenarnya berbahaya sekali foto disini. Kenapa? airport
apron biasanya digunakan untuk bongkar muat barang, mengisi bahan bakar dan
menaik turunkan penumpang. Terbayang nggak sih berapa banyak mobil yang lalu
lalang untuk menunaikan tugas tersebut. Nah, biasanya kalau sudah narsis kita
pasti tidak akan konsentrasi pada keadaan sekeliling takutnya saat sedang
asyik-asyiknya gaya tanpa sengaja menabrak salah satu mobil yang lalu lalang
tersebut.
Alasan kedua, Airport Apron juga tempat
berkumpulnya beberapa jenis pesawat baik yang besar maupun yang kecil. Kebayang
lagi asyik-asyiknya motret sambil jalan mundur dan tanpa sadar mendekati
pesawat jet atau propeler yang sedang menyalakan mesinnya. Apa nggak ngeri tuh
badan kesedot mesin? :) .
Kalau alasan ketiga sebenarnya didasarkan pada adanya aturan
untuk tidak menyalakan handphone paling tidak 15 meter dari pesawat yang sedang
diisi bahan bakar karena ada kemungkinan menimbulkan ledakan.Jadi yang
mengambil foto pakai HP harus lebih hati-hati.
Alasan keempat, beberapa airport memang melarang orang-orang
yang tidak berkepentingan untuk mengambil foto bandara karena
alasan keamanan negara.
Nah dengan beberapa alasan tersebut sudah saatnya saya
menghentikan hobi berfoto di Tarmac, toh setelah keluar dari airport bisa juga
kok foto-foto di lokasi lain yang ada nama airportnya seperti gambar dibawah
ini :).
Naik Tricycle ke Tabon Jetty
Port
Sebenarnya ada dua
pelabuhan yang biasanya digunakan untuk menyeberang ke Boracay. Penggunaan
keduanya tergantung pada musim. Saat musim panas yang digunakan adalah
Caticlan’s jetty port yang berjarak kurang lebih 5 menit sedangkan saat musim
hujan (sekitar Juli-Oktober), mereka menggunakan Caticlan’s Tabon Port sekitar
10-15 menit naik tricycle. Karena saya datang saat Habagat season
dimana angin barat bertiup kencang, dari Tabon Port ferry menuju Boracay
biasanya dialihkan ke Tambisaan Jetty Port.
Begitu turun dari pesawat dan masuk
ke bangunan bandara (bandaranya kecil sekali), petugas langsung mengarahkan ke
loket untuk mengisi semacam formulir kedatangan dan membeli tiket
tricycle dan boat menuju Boracay. Isi formulirnya standar seperti nama, no
paspor, tujuan ke Boracay dan menginap dimana. Setelah mengisi formulir, saya membayar 165 PHP perorang untuk satu paket transportasi ke Cagban Port atau
Tambisaan Port (pelabuhan boat di Boracay) dengan rincian sebagai berikut:
·
Tiket Tricycle dari Caticlan Airport
ke Tabon Jetty Port 40 PHP per orang.
·
Tiket Pump Boat dari Tabon Jetty Port
ke Tambisaan Port Boracay 25 PHP
·
Enviromental Fee 75 PHP
·
Tabon Jetty Port Terminal Fee 25 PHP
Pengaturan semacam ini memang
memudahkan pengunjung karena tidak perlu tawar menawar lagi dengan sopir
tricyle. Apalagi harga-harganya tertera dengan jelas jadi kita tahu uang
sebesar itu untuk transportasi apa saja. Selesai membayar dan mendapat tiket, saya
diarahkan keluar dari bandara. Pas di seberang bandara sudah ada terminal
tricyle yang akan mengantar kita ke Caticlan atau Tabon Jetty Port. Sepertinya
satu tricycle berlaku satu rombongan (kecuali kalau rombongannya besar) karena saya
sendiri jadi ditempatkan di satu tricycle dicampur dengan orang lain. Lumayan dempet2an, ehemm !
 |
| Tricycle di Caticlan |
Apa itu Tricycle?. Tricycle ini bentuknya seperti becak yang sebelahnya ditempeli
sepeda motor jadi hampir mirip-mirip bentor-lah. Sama-sama beroda tiga hanya
saja sepeda motornya terletak disamping. Tricycle ini menjadi sarana
transportasi yang penting di Filipina terutama di kota kecil dan daerah
pinggiran. Buku-buku panduan semacam Lonely Planet sampai blog-blog perjalanan
banyak menyarankan pakai transportasi ini terutama di daerah yang tidak
memiliki angkutan umum seperti bis atau angkot. Bahkan di Boracay tricycle
menjadi satu-satunya sarana transportasi yang tersedia.
Tricycle ini memiliki
bentuk dan gaya yang berbeda-beda antara kota yang satu dengan yang lain.
Tricyle di Boracay beda dengan tricycle yang ada di Palawan, keduanya juga
berbeda dengan tricyle di Caticlan. Kalau soal harga, tricyle ini
lebih murah daripada taxi tapi lebih mahal dari Jeepney. Harganya bervariasi
antara 6 – 250 PHP tergantung jarak, tempat serta jumlah penumpang (mau dipakai
sendiri atau berbagi dengan penumpang lain).
 |
| Antri yaa.. |
 |
| sebelum naik boat, "nyuruh" orang poto sayah :) |
Naik Pump Boat ke Tambisaan
Jetty Port
Begitu turun di
Tabon Jetty Port penumpang langsung diarahkan ke pump boat yang sudah menunggu.
Sebenarnya ada dua alternatif perahu menuju Boracay, yang pertama menggunakan pump boat atau perahu bangka
dengan tiket 25 PHP. Kedua menggunakan
ferry Montenegro Lines yang memiliki ruangan ber AC dengan
tiket 30 PHP. Kedua jenis perahu yang melayani jalur Caticlan – Boracay ini mulai beroperasi jam 5:00 pagi dengan
penyeberangan terakhir jam 10 malam. Perjalanan memakan waktu kurang lebih
15-30 menit. Diatas boat banyak tersedia life jackets yang digantung-gantung
saja di atas kursi penumpang walaupun sampai naikpun tidak ada instruksi untuk
memakai. Kebayang kalau kapalnya mau tenggelam kita baru akan berebutan mencari
dan memakai jaket pelampung itu :) . Tergantung pada keadaan cuaca
biasanya pada musim panas antara bulan Desember dan Mei ferry menuju Boracay
biasanya dialihkan ke Cagban Jetty Port.
Sesampai di
Tambisaan Port saya turun melalui tangga kayu sempit yang menghubungkan kapal
dengan daratan.Tangga kayunya tidak permanen dan bergoyang-goyang mengikuti
gerakan ombak dan kapal. Beruntung cuma bawa backpack, terbayang
betapa repotnya kalau bawa koper....
 |
| Montenegro Lines Ferry |
Naik Tricycle ke Hotel
Di Tambisaan Port ini penumpang langsung
disambut dengan meriah oleh para calo dan sopir tricycle. Semuanya beramai-ramai
menawarkan hotel sambil menunjukkan brosur berisi contoh-contoh kamar.
Karena sudah pesan hotel, saya berjalan melewati mereka menuju pangkalan
tricycle. Kebetulan ada satu tricycle yang mangkal dan siap berangkat, saya
menyebutkan nama Danaru Hotel dan pak sopir bertanya mau dicharter atau
tidak, karena saya menjawab tidak jadilah sepanjang perjalanan dia juga
mengangkuti para penumpang lain.
Sayangnya, tricycle ini tidak dapat mengantar
kita sampai kedepan hotel karena adanya larangan untuk mengendarai motor di
area White Beach. Tricycle hanya menurunkan kita di jalan besar saja dan selanjutnya kita harus berjalan kaki menuju hotel.
 |
| Sticker Legal |
 |
| Tricycle, tarriik maaang...! |
Karena tidak mencharter saya dikenai
biaya 20 PHP. Pak sopirnya lumayan ngebut dan di beberapa tanjakan saya mulai kuatir tricyclenya tidak kuat naik karena kebanyakan penumpang.Tapi
Alhamdulillah walaupun nyetirnya seperti dikejar setan akhirnya sampai juga
dengan selamat. Saya diturunkan di mulut gang menuju station 3, sambil
mengikuti arah peta yang sudah diprint dari Google Map mulailah saya jalan kaki
menuju hotel di zona Bulabog Beach.
Pada dasarnya area paling populer di
Boracay adalah di seputaran White Beach, pantai berpasir putih yang terbentang
sejauh 4 km di sebelah selatan pulau. Area ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu
Boat Station 1, Boat Station 2 dan Boat Station 3. Dinamai Boat Station karena
dulunya merupakan tempat pemberhentian perahu yang datang dari Caticlan sebelum
dipindahkan ke Cagban Pier di ujung selatan pulau.Walaupun banyak orang yang
menyayangkan pemindahan ini, hal tersebut ternyata menjadikan pantai White
Beach lebih tenang, bersih dan nyaman.
Diantara ketiga
area tersebut, boleh dibilang Station 2 merupakan area yang paling sibuk. Jadi
tidaklah mengherankan bila hotel-hotel di daerah tersebut lebih mahal dibanding
area yang lain karena memang lokasinya yang paling ‘happening’. Bila ingin
ketenangan bisa memilih hotel di station 1 dan station 3. Hotel-hotel berkelas
mewah lebih banyak berada di station 1, sedangkan yang tergolong murah terletak
di station 3. Dengan pertimbangan harga dan lokasi saya memilih Danaru Spa Hotel Boracay yang dipesan lewat situs Booking.com. Saya memesan kamar dormitory
yang harganya 39 USD per 2 malam. Tipe pemesanan free cancellation sampai 5 hari sebelum
tanggal kedatangan dan dibayar keseluruhan saat saya tiba di Danaru Hotel.
 |
| Hanya 30 m dari garis pantai. Rimbun. |
Secara keseluruhan hotel ini memang nyaman, suasananya tenang dan cukup
bersih. Sayangnya selimutnya aneh karena bahannya terbuat dari tirai yang
biasanya dipasang untuk menutupi jendela.
Ada Apa Di Bulabog Beach & White Beach.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi ketika saya masuk untuk check inn. Setelah istirahat sejenak
di hotel, saya pun siap menjelajah pantai Bulabog Beach. Percaya atau
tidak sebenarnya banyak sekali pantai indah di Boracay selain pantai ini.
Sejajar dengan White Beach terdapat Diniwid Beach yang lebih sepi, disebelah
utara pulau terdapat Puka Beach dan disebelah barat terdapat Ilig-iligan Beach
yang memiliki pemandangan lebih indah daripada White Beach. Tapi dari kesemua
pantai itu, White Beachlah yang paling ramai dan paling banyak dikembangkan
sehingga mencapai batas maksimal. Pantai ini memang istimewa dengan pasir putih
berbentuk serbuk halus sehingga sepanjang garis pantainya hanya warna putih
yang terlihat.
 |
| Bulabog Beach |
 |
| Kite Surfing |
 |
| White Beach |
Hari Kedua rute walking tour saya di White Beach
cukup sederhana. Saya hanya berjalan lurus mengikuti garis pantai dari station
3 ke station 1 dengan sesekali mampir ke tempat-tempat yang menurut saya menarik. Perjalanan sepanjang 6 km itu saya tempuh dengan berjalan
kaki bolak balik dengan rute sebagai berikut :
Pasar D’Talipapa
Hal pertama yang saya
lakukan adalah mengisi perut. Hasil informasi di internet, salah satu tempat makan
halal di Boracay adalah Khalil Muslim Food Stall yang
terletak di bagian belakang toko souvenir Kim Nor di pasar D’Talipapa station
2. Menemukan tempat ini ternyata mudah saja. Dari hotel berjalanlah lurus ke
arah station 2 sampai menemukan penunjuk yang bertuliskan D’Talipapa. Sesampai
di pasar ini cari jajaran toko souvenir. Kim Nor adalah kios souvenir no. 74
merangkap "warteg" :). Bila ingin makan tanya saja sama penjaga kiosnya apakah wartegnya buka, kalau buka kita akan dipersilahkan masuk ke dalam.
Saat tiba disana, jam makan
siang sudah berakhir jadi mereka hanya menunjukkan menu yang tersisa di
etalase. Pilihan yang tersisa adalah ikan. Cukup enak dan harganya sangat murah dibandingkan warung makan lain di
Boracay yg tidak terjamin kehalalannya. Harga sepiring set makanan lengkap yang terdiri dari 1 nasi, 2 ikan adalah 53 PHP (Philippine Peso) atau dalam IDR sekitar Rp..........? aakh itung aja sendiri..hehehe.
 |
| Menu Proletar Halalan Thoyyiban |
 |
| Siapa yg nyangka ada warteg tersembunyi di #74 ini? |
 |
| Suvenir Boracay |
 |
| Wet Market |
 |
| Kau Sarap ? |
Setelah kenyang, saya siap
mengeksplore pasar ini. Selain berjualan souvenir, pasar ini juga terkenal dengan
pasar basah (wet market) yang menjual berbagai hasil laut untuk dimasak di
restoran sekitarnya atau yang disebut Paluto. Karena sudah makan saya memutuskan
untuk mencoba paluto besok malam. Di wet market ini selain hasil laut juga
tersedia sayuran, buah-buahan segar dan bahan pangan lainnya. Bila Paluto
dirasa terlalu mahal di pasar ini juga tersedia Filipino fast food restaurants seperti
Mang Inasal dan Andok’s dengan harga berkisar Php 60 per sekali makan.
Sayangnya selama di Filipina saya belum pernah mencoba makan di fast food
restorant lokal seperti Jolly Bee atau Mang Inasal karena terus terang saya
meragukan kehalalannya.
D’Mall
Tersambung dengan D’ Talipapa adalah
D’ Mall yang merupakan mall dengan bentuk terbuka atau outdoor.Terletak
diantara Station 1 dan 2 kualitas dan harga barang-barangnya diatas D’
Talipapa. Kebanyakan yang dijual adalah baju-baju kasual, baju-baju pantai dan
beberapa souvenir. Bila mencari barang bermerk di Boracay disinilah tempatnya
karena beberapa merk terkenal seperti Toms, Hawaiinas, Fit Flops membuka butik
tersendiri disini. Di dalam mall ini juga terdapat mini park dengan komidi putar
berbentuk balon yang disebut Ballon Wheel. Disediakan juga fasilitas Wall
Climbing bagi yang suka panjat memanjat.
Willy’s Rock
Batu ini merupakan ikon dari White
Beach Boracay.Hampir semua foto-foto tentang Boracay pasti mengacu pada batu
ini. Batu yang cukup terkenal ini sebenarnya merupakan pulau karang kecil yang
terletak kurang kurang lebih 100 meter dari pantai yang berlokasi persis di
depan Willy Beach Hotel yang terletak di Station 1. Diatas pulau tersebut
terdapat sebuah kapel kecil dengan patung Bunda Maria didalamnya. Sayangnya saat
saya kesana hari sudah malam jadi pulaunya hanya terlihat samar-samar. Paling
bagus kalau kesininya pagi atau siang sehingga kita bisa berjalan menyeberangi
laut dan naik tangga menuju kapelnya.
 |
Willy's Rock di siang hari (Photo By : Rick St.John)
|
Istana Pasir di White Beach
Menjelang maghrib saya memutuskan untuk mencari musholla. Tidak sulit menemukan Muslim di kawasan ini, meskipun minoritas. Mereka dikenali dari fashion yang mereka gunakan. Prianya menggunakan gamis atau sarung, perempuannya menggunakan hijab atau kerudung.
Masih di kawasan White Beach Pasar D' Talipapa di lorong yang sempit penghubung antara pasar dan bibir pantai ada musholla di atas cafe Blue Veranda yg dikelola Muslim Moro. Saya sholat maghrib berjamaah. Ba'da Maghrib sampe Isya saya ngobrol dgn Ustad Hanafie Imam surau bersama jama'ah komunitas Moro dengan bapak2nya, bocah2nya. Kami menggunakan 3 bahasa : Inggeris, Melayu, Tagalog. Pusiiing sayahhh... Mereka mengerubuti saya kayak ketemu bintang pilem aja. Semula mereka mengira saya dari Malaysia. Malaysia lebih tenar? Hmm..
Sebagai sesama Muslim mereka sangat senang bertemu ,apalagi mereka di sini minoritas. Bapak2nya bertanya tentang Indonesia : Soekarno, Soeharto, Buya Hamka. Saya ikut memuji pemimpin Muslim Moronian Muhammad Nur Misuari. Saya merasa terharu dan senang ketemu mereka. Tau begini saya gak tinggal di Danaru Hotel...tinggal di musholla ini lebih asyik, banyak sodara seakidah meski mungkin beda madzhab yg penting untuk Islam yang Satu heheh.
 |
| Sunset di White Beach |
 |
| Silaturahim Islam Yang Satu di Surau Blue Veranda |
 |
| Makan malam di warung sebelah surau |
Setelah sholat Isya dan makan malam di warung saya kembali berjalan mengeksplore suasana kehidupan malam di bibir pantai White Beach dengan arah kembali ke hotel.
Di sepanjang perjalanan saya banyak melihat bangunan
istana pasir yang indah bertuliskan Boracay dengan lilin-lilin
didalamnya. Sepanjang pengetahuan saya pembangunan istana pasir ini sudah
dilarang di Boracay. Sejak tahun 2008, Pemerintah sudah memberlakukan biaya ijin
(Permit Fee) sebesar 100-600 PHP perhari untuk per square meter tempat yang
digunakan untuk membangun istana pasir. Itupun hanya berlaku maksimal selama 5
hari. Alasan utamanya untuk menjaga kualitas pasir Boracay yang memang istimewa
itu. Mereka memandang pembangunan istana pasir menjadi salah satu penyebab
erosi pantai dan berkurangnya kualitas pasir baik warna maupun bentuknya.
Peraturan ini memang masih bersifat pro dan kontra karena beberapa pihak
menuding bahwa hal tersebut hanyalah salah satu cara pemerintah untuk meningkatkan
pendapatan dari pembangunan istana pasir yang menjadi salah satu trade mark
Boracay.
 |
| Muslimah Moronian |
 |
| Fire Dancing |
 |
| Live Music |
 |
| Istana Pasir |
Malam makin larut saya memutuskan kembali ke hotel. Jalanan mulai sepi tapi masih ada warung
yang buka untuk membeli persediaan air putih. Sesekali ketemu bule mabok, egp lah. Sesampai di hotel jam sudah menunjukkan pukul 22.00, Seharian explore yang cukup
menyenangkan di White Beach, menikmati sunset, makan halal, minum jus dan
menikmati keindahan sand castles di sepanjang pantainya. What A day…..
Di kamar dorm saya berkenalan dengan tamu baru seorang bekpeker muda dari Korea bernama 'lucu' Oh Tae Pyoeng, dia seorang tentara muda Korea...Hmm, lagi2 ketemu orang baik. Kami ngobrol sambil buka Google Translate di laptop Mas Biyung eh Pyoeng. Saya mengetik bhs Indonesia terjemahan Korea. Mas Biyung ketik bhs Korea terjemahan Indonesia. Betapa hebatnya teknologi mempersatukan kami dari ras yang berbeda.
Paginya sambil sarapan di teras hotel saya dipinjemin laptopnya untuk menulis status di fesbukku agar keluargaku di Makassar dan Jakarta, anak-anakku dan teman2 tau di mana posisiku sekarang berada...nun jauuuuh di pulau Boracay, Philipina.
Penerbangan dari Kalibo ke Manila
Penerbangan menuju Manila dijadwalkan berangkat jam 18.55 PM dengan pesawat Cebu Pacific yang akan berangkat lewat Kalibo, berjarak 72 km dari
Boracay. Teorinya, perjalanan Boracay – Kalibo akan memakan waktu 1.5 jam.
Kalau mau sebenarnya saya masih bisa berangkat siang-siang dan main-main
sebentar di White Beach. Tapi tidak mau ambil resiko saya memilih berangkat pagi-pagi
dari Boracay dan sisa waktu yang ada rencananya akan saya gunakan menjelajah
kota Kalibo saja.
Selesai sarapan dan check out, akhirnya jam 07.00 tepat
mulailah perjalanan menuju Kalibo. Memang enak rasanya keluar hotel
pagi-pagi, hawa yang sejuk dan pemandangan White Beach di pagi hari membuat
saya ogah pergi. Dari hotel saya berjalan kaki menyusuri pantai menuju jalan
besar di Station 3 dan dari situ saya mencegat tricyle yang lewat untuk
mengantar ke Tambisaan Port. Karena tidak mencharter, saya hanya membayar 20 PHP perorang
dengan lama perjalanan sekitar 30 menit termasuk waktu tunggu.
Setibanya di Tambisaan Port, saya langsung diarahkan petugas
pelabuhan ke loket untuk membayar terminal fee 20 PHP dan biaya boat sekaligus
minivan ke Kalibo sebesar 200 PHP perorang. Pengaturannya enak juga karena saya tidak perlu lagi mencari-cari transportasi menuju Kalibo. Setelah perahunya
datang, langsung berangkat menuju Tabon Port.
Turun dari kapal, kita langsung diarahkan ke minivan menuju
Kalibo. Minivan yang penuh langsung bisa berangkat tapi yang tidak penuh akan
menunggu perahu berikutnya dari Tambisaan. Alhamdulillah saat saya datang minivan sudah terisi setengah hingga tak perlu nunggu lama minivan sudah penuh lalu langsung cabut menuju Kalibo. Perjalanan dari Tambisaan Port
menuju Kalibo Airport memakan waktu kurang lebih 1.5 jam.
Sesampai di Kalibo Airport masih ada waktu 5 jam sebelum
pesawat berangkat. Tidak ada yang saya lakukan selain jalan-jalan
seputaran airport Kalibo yang kecil mungil itu. Selain melayani penerbangan ke
Boracay, Kalibo airport ini juga berfungsi melayani daerah Kalibo dan
sekitarnya. Kalibo sendiri merupakan ibukota provinsi Aklan. Walaupun tingkat
penerbangannya tumbuh cukup cepat sekitar 50-100% pertahun, bangunan airportnya
kecil dan tidak banyak fasilitas didalamnya. Bahkan tempat duduk di ruang
tunggu luar saja sangat minim sehingga banyak orang glesotan di lantai menunggu
loket penerbangan buka untuk boarding. Bahkan ada yang telanjang dada berjemur matahari. Dalam penerbangan ini harga airport tax
tidak termasuk dalam tiket, jadi kita masih harus membayar lagi 100 PHP untuk
airport tax (Terminal Fee).
Penerbangan ke Manila memakan waktu 1 jam 15 menit dengan
menggunakan pesawat Cebu Pacific. Untunglah Cebu terbang dalam kondisi cuaca
yang baik, apalagi dengan bodi pesawat yang lebih besar guncangan saat
turbulence jadi tidak begitu terasa.
 |
| Minivan dari Caticlan ke Kalibo |
 |
| Kalibo Int Airport |
 |
| Berjemur di halte bandara |
 |
| Non halal |
 |
| Bego Bos depan bandara, sebelahnya ada Warnet. |
 |
| Pak, bisa taro dulu sapunya, foto saya? |
 |
| Halal Food Special Request |
 |
| Numpang sholat di warung Nasrani |
 |
| Menulis di wall fesbuk sambil ngopi di BegoBos |

Aku masuk ke warnet membuka e-mail lalu menulis pesan singkat untuk keluargaku : "Alhamdulillah sampai saat ini saya masih sehat walafiat meski tanpa alat komunikasi. Sekarang saya di kios internet di depan Kalibo Int airport, Aklan city, 2 jam naik minivan dari Caticlan. Jam 19.00 malam ini saya akan kembali ke Manila. Besok pagi masih ada waktu untuk naik jeepney ke Golden Mosque di Carrioda dan main ke SM Mall of Asia".
Kemudian lanjut menulis di wall fesbuk komunitas Bekpeker :
"Temans, jam 10 pagi tadi saya tiba di Kalibo dalam keadaan lapar tapi tak brani makan. Bukan karena tak punya duit hheheh..saya mampir di beberapa "warteg" dan selalu menunjuk menunya di etalase dan bertanya " this is pork?". Kalau salah satu menunya pork tentu menu lain juga mengalami "keterpengaruhan" alias terpapar keharaman heheheh...
Saya mengambil mie cup instant baca ingredientnya tajam2, maklum sdh rabun...ternyata mengandung pork juga. Malu juga, tiap masuk warung pelototin ingredients, periksa satu-satu..taunya gak jadi beli..emak2 yg punya warung kesel juga tampaknya, dlm bhs Tagalog mungkin dia bilang "sampeyan itu maunya apa kok kayak orang linglung???"
Akhirnya sampe deh di airport T3. Saya langsung menuju lt. 3 tepatnya di mushola Matare bertemu kembali dgn saudara Muslim Moro ku. Kids Arham dan beberapa muslim petugas bandara yang sedang istirahat...
Lepas sholat subuh, aku mencatat baik-baik orang-orang baik yang dikirim Allah membantuku:
Kristin & Crystal, 2 mahasiswi hebat yg menemani jalan kaki sekitar 3 km, bocah
Arham yang membuat hpku bisa digunakan pagi ini, Ust. Abdurrahman imam musholla
bandara yg memberi tumpangan, Ustad Hanafi imam musholla Blue Veranda di lorong sempit White Beach, Oh Tae Pyoeng bekpeker dari Korea yg meminjamkan laptopnya utk kontak
keluargaku..
Man jadda wa jadda!
 |
| Awas Copeet ! |
 |
| Kardinal Sin adalah Tokoh People Power bersama Qorry Aquino |
 |
| Masuk ke dalam Gereja Basilika |
 |
| Peramal |
 |
| Reman neeech... |
Muslim di Metro Manila.
Bicara Filipina dan Islam,
maka yang terbayang di benak kebanyakan orang adalah konflik yang tak kunjung
usai antara Pemerintah Filipina dan umat Islam di Kepulauan Mindanao.
Sejatinya, umat Islam di Filipina tak hanya ada di Mindanao. Di kota metropolitan
Manila, ibu kota negara ini, ada pula komunitas Muslim yang hidup berdampingan secara damai dengan umat Nasrani sebagai kelompok mayoritas.
Jika ditarik mundur ke belakang, sejarah Muslim di Filipina,
khususnya di Manila, sudah ada sejak masa sebelum Perang Dunia II. Sempat
menghilang saat kolonisasi Spanyol, Muslim di Manila muncul kembali saat
terjadi kolonisasi Amerika Serikat, khususnya wilayah Moro.
Islam datang ke Filipina melalui jalur perdagangan.
Masyarakat Arab pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14 datang ke sana untuk
berniaga. Ada juga pedagang melayu yang datang ke Kepulauan Sulu dan Mindanao.
Islam menyebar di Filipina sampai ke Kerajaan Tondo yang
mengikuti Brunei di Kerajaan Manila. Ketika penjajah Spanyol tiba pada
pertengahan abad ke-15, di Seludong , mereka merasa cemas untuk bertemu dengan
masyarakat lokal.
Sekitar tahun 1575 orang Spanyol mulai menyebarkan ajaran
Katolik di di Filipina melalui penggunaan misionaris. Meskipun sebagian besar
orang Filipina berpindah agama, orang-orang Moro dapat mempertahankan iman
mereka. Masjid merupakan salah satu warisan Muslim tertua yang masih ada hingga
saat ini.
Keberadaan masjid di Manila, seperti diterangkan dalam laman
ryukoku.ac. id, berawal pada 1949 ketika Dewan Perwakilan Ombra Amilbangsa dan
beberapa tokoh Muslim berinisiatif membentuk sebuah Asosiasi Muslim Filipina
(Muslim Association of the Philippines). Ini merupakan organisasi untuk mem
per- satukan umat Islam di Filipina.
‘Prestasi’ awal organisasi ini ada lah berdirinya Islamic
Center di Distrik San Miguel, Manila. Resmi ber operasi pada 1964, Islamic
Center ini dibangun melalui perjuangan panjang dan berliku. Mulai dari sulitnya
mendapatkan lahan, pinjaman uang, sampai didera masalah bangkrutnya bank.
Berdirinya Pusat Islam di San Miguel ini menjadi pemacu
dibangunnya beberapa masjid di Manila. Pada satu masa, yakni pengujung dekade
1980-an hingga pertengahan 1990-an, terjadi booming pembangunan masjid di
Manila. Saat itu, seiring kian ber tambahnya jumlah Muslim di Manila akibat
konflik berkepanjangan di Mindanao, masjid-masjid pun ber munculan. Geliat
Islam di Manila pada masa itu didorong pula oleh hadir nya para penggiat dakwah
dari Pakistan yang tergabung dalam Jamaah Tabligh.
Menjamurnya masjid agaknya membuat gerah Pemerintah
Filipina. Untuk mengerem laju pertumbuhan masjid, pemerintah kemudian
mengeluarkan peraturan tentang syarat pembangunan sebuah masjid.
Di antara syarat itu adalah masjid harus memiliki jamaah
yang secara rutin shalat berjamaah lima waktu minimal lima orang. Syarat
lainnya, jumlah jamaah saat shalat Jumat minimal 40 orang. Masjid ini pun harus
terdaftar secara resmi, baik di pemerintahan lokal maupun pusat. Pada 2002, di
Manila terdapat 32 masjid yang terdaftar sedangkan masjid yang tidak terdaftar
lebih dari 80 buah.
Qaddhafi & Golden Mosque Cultural Center
Saat riset saya dengar lingkungan disini sangat menakutkan, banyak kejahatan dll. tetapi saya merasa 'ngotot' ingin sholat dan bertemu Bangsa Moro di masjid ini. Saya bertanya ke warga lokal lalu ke sini menggunakan transportasi umum yang unik yaitu jeepney yang berhenti di depan sebuah pasar yang konon banyak copet. Masjid ini berada di area slum 'texas" di lingkungan pasar. awalnya saya cukup kesulitan menemukannya karena faktor bahasa, tetapi untunglah saya ketemu seorang yang dari busananya adalah Jamaah Tabligh. Ia memberi petunjuk dalam bhs Tagalog campur Inggeris. Ternyata posisinya ada di seberang jalan besar, akhirnya sampe depan masjid. dan kengerian yang saya baca ternyata tidak saya lihat sama sekali. segala aman terkendali.
Masjid Al Dahab ini lebih dikenal dengan nama The Golden Mosque atau Masjid Emas atau dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita del Globo de Oro dan dalam bahasa Tagalog Filipino disebut Moskeng Ginto. Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar di Manila dan disebut dengan masjid emas karena kubahnya yang dicat dengan warna keemasan yang berkilauan.

Masjid ini dibangun tahun 1976 di
distrik Quiapo, dalam kota Metro Manila dimasa pemerintahan Presiden Ferdinand
Marcos berkuasa di Philippina, di bawah pengawasan langsung dari ibu negara
Filipina kala itu, Imelda Marcos. Pembangunan masjid Al-Dahab ini ditujukan
untuk menyambut kedatangan Presiden Libya Muammar Qaddafi yang sedianya akan
datang ke Filipina untuk kunjungan kenegaraan (walaupun nantinya dibatalkan)
dalam upaya menengahi pertikaian antara pemerintah Filippina dengan pejuang
kemerdekaan Moro (MNLF-Moro National Liberation Front) yang ingin mendirikan
Negara berasaskan Islam di gugus kepualauan selatan Filippina yaitu di kepulauan
Sulu, Mindanao dan Palawan.

Masjid Al-Dahab berdiri di ujung jalan Globo de Oro, nama jalan yang berarti “bola dunia ke-emasan”. Masjid ini berada di distrik Quiapo yang didiami oleh komunitas muslim Metro Manila. Di sekitar masjid di distrik Quiapo banyak terdapat toko, warung dan rumah makan yang menyajikan makanan halal dan buah buahan segar dari pulau Mindanao, meski pengunjungnya dari beragam latar belakang termasuk pengunjung non muslim.
Masjid ini terbuka untuk kunjungan dari kalangan manapun termasuk non muslim yang ingin berkunjung ke masjid hingga ke bagian dalam. Masjid berkubah warna emas ini cukup megah di tengah kota Manila, interior masjid di penuhi dengan lengkungan lengkungan yang elegan. Meski tampak bahwa eksterior masjid tampak sedikit kurang terawat dengan baik, namun interior masjid dengan nuansa warna kuning terang ini cukup apik dan memberikan kekhususan bagi setiap jemaahnya.
 |
| eh ada juga organisasi komunitas Syiah tak jauh dari masjid |
 |
| Saya makan ini di ruko seberang masjid |
 |
| Street food komunitas Muslim |
Al Wasath Mosque
Matahari sudah semakin tergelincir ke barat, saya terus berjalan tak kenal lelah dengan tas selempang, melintas di depan Quiapo Church, saya mengambil arah kiri. Dari kejauhan tampak sebuah menara masjid berwarna hijau, tetapi kubahnya tidak kelihatan. Saya terus menyusuri jalan besar menuju ke arah menara masjid tersebut. Pundak terasa seperti terbakar, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah gang sempit yang bertuliskan “Welcome to Barangay 648 – Zone 67. District VI, San Miguel – Manila “, dan di dalam gang nampak sebuah menara masjid hijau yang kecil. Saya sepertinya pernah mendengar nama daerah ini sebelumnya di sebuah acara backpacker yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dengan sedikit rasa was-was dan penasaran, saya mencoba memasuki gang utama perkampungan ini. Saya berpapasan dengan wanita-wanita yang mengenakan kerudung, sedangkan laki-lakinya mengenakan kopyah, dan juga tricycle yang dihias dengan tulisan-tulisan islami.

Begitu sampai di perkampungan, saya seperti mengalami dejavu
karena apa yg saya lihat di tv sekarang saya alami sendiri. Inilah perkampungan
muslim yang padat penduduk, warganya tinggal di rumah sederhana yang
berhimpitan antara rumah satu dengan yang lainnya, seperti rumah susun padat
penduduk di Jakarta. Begitu saya melintas, perhatian warga yang sedang
duduk-duduk di pinggir jalan otomatis tertuju pada saya, saya merasa seperti
orang aneh jadinya. Dengan selempang backpack yang saya gendong, mungkin saya
teridentifikasi sebagai orang asing disini. Saya hanya berjalan dengan penuh
waspada, melintasi kerumunan warga dan anak-anak yang sedang bermain di jalan.
Seorang bapak yang nongkrong
di warung mengacungkan jempol tangannya kepada saya sambil merapatkan kedua
bibirnya. entah apa maksudnya...apa ungkapan “salut” sudah berani masuk ke
kampung ini ? heheh. Begitu sampai di masjid, saya melihat ada dua orang bapak-bapak
yang sedang nongkrong di depan masjid. Saya mencoba ramah untuk senyum dan
mengucap salam kepada mereka berdua, tapi jawabanya hanya senyum kecut dan
tidak membalas salam saya dengan baik. Suasana hati terasa kelu, karena
saya sudah tau sebelumnya tentang distrik ini yang konon merupakan distrik yang
sangat rawan kriminalitas. Saya masuk ke masjid untuk sholat, mencoba untuk
tenang dan santai menghadapi suasana yang agak aneh ini. Begitu masuk masjid
saya terkejut karena kondisinya yang kurang terawat. Karpetnya kumal. Barang2 perlengkapan masjid semrawut.
Setelah sholat selesai, saya
mencoba ngobrol dan memperkenalkan diri dengan kedua bapak yang duduk di depan
masjid tadi. Kampung ini ternyata sudah ada sejak tahun 1964, dihuni oleh
pendatang muslim dari Mindanao. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang menghuni
kampung ini, kesemua warganya beragama Islam. Karena mungkin mencium keluguan
saya, bapak itu memperingatkan kepada saya untuk tidak masuk ke gang-gang
sempit yang ada di kampung ini. Saya disarankan untuk melintasi jalan utama di
kampung ini saja, karena sangat berbahaya jika masuk ke gang yang lebih dalam.
Kata beliau, saya bisa ditusuk dan dirampok oleh warga yang berniat jahat
disini. Wah, ternyata benar juga info yang saya dengar sebelumnya tentang
kampung ini. Kampung ini diketuai oleh seorang wanita, yaitu Chairwomen Bae
Norhaina Macabato. Dan ternyata bapak yang ngobrol dengan saya tadi adalah adik
dari bu Norhaina tersebut, saya sedikit lega ketika tahu hal itu, setidaknya
saya ngobrol dengan orang yang baik.
Terima kasih Ya Allah lagi2
Engkau mengirimkan orang baik.


 |
| Ditraktir Ust. Sultan Abdurrahman, "Adik Angkat"ku |
SM Mall Of Asia. Mall terbesar di Asia Tenggara
Mangan ra Mangan Pokoke Pesta Sarap !
World Of Resort Manila


Kejutan : Gagal Ke Baitullah
"kapan kamu berangkat haji, Nak? Menyusul kakakmu yang sudah
berhaji. Banyak negeri yang sudah kamu datangi. Yang ibu harapkan, kamu bisa
sampai ke Mekkah dan Madinah..."
Kalimat itu keluar dari lisan ibuku yang lembut, saat aku pulang kampung
menemuinya sekitar tahun 2012. Ucapan yang terdengar biasa, tapi terasa magis
di hati. Bukan hanya harapan, tapi seakan menjadi amanah, yang diam-diam
mengikat langkahku sejak saat itu.
"Insya Allah, Bu," jawabku lirih. Jawaban sederhana yang penuh
keraguan, tapi juga tekad. Aku tahu, ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah
mimpi suci yang harus kuikhtiarkan dengan sungguh-sungguh.
Maka pada April 2013, aku melangkah ke Kementerian Agama Kota Tangerang
Selatan. Aku mendaftarkan diri untuk berhaji. Sebuah langkah awal yang kecil,
tapi penuh harap. Waktu tunggu sekitar 12 tahun membuatku merenung—haruskah aku
menanti selama itu? Naluri perjalananku sebagai backpacker, sebagai penjelajah
negeri-negeri asing, mulai merancang rute alternatif.
Tahun 2015 inilah saatnya..., tanpa memberi tahu Ibu, aku diam-diam menyusun rencana
nekat: perjalanan melintasi beberapa negara menuju Tanah Suci.
Rutenya: Jakarta – Manila – Boracay - Manila - Dammam (Arab Saudi), lalu naik bus darat
menyusuri padang pasir menuju Madinah, Mekkah, hingga Jeddah. Visa kubuat di seorang agen Umroh di Tebet sedang tiket perjalanan multi city sudah kubuat via Tiger Air-Cebu Pacific.
Aku ingin memberikan kejutan terbesar dalam hidupku kepada Ibu:
“Bu, aku sampai ke Baitullah...”
Terbayang keagungan dan kemegahan ka’bah. Rumah
Tuhan. Pasti penuh kedamaian. Pasti menentramkan. Terlepas semua beban
keduniawian. Saya juga penasaran, ada apa di dalam kubus batu yang menjadi
kiblat sholat manusia sejagat itu? Saya membayangkan bisa memeluknya. Pasti
akan sangat senang sekali. Lebih menyenangkan dari membayangkan memeluk Isteri.
Hihihi.
Saya juga sempat protes:
kenapa tanah suci koq jauh sekali. Mahal lagi. Kenapa sih ga buka cabang aja?
Pasti rame dan menguntungkan. Atau di ekspor untuk pemerataan tempat spiritual
di muka bumi gitu, sehingga ga perlu harus ke Arab sanaApa saya bisa pergi kesana? Seorang karyawan kullu-kullu dengan IPK pas-pasan dan duit cuma cukup sekedar pendaringan ngebul.
Tapi saya masih ingat qutipan dari film Great
Debaters (Denzel Washington, 2007) yang sering saya rapalkan berulang:
“Do what you can do, so you can do what you
wanna do”.
Lakukan apa yang bisa dilakukan. Agar kamu bisa melakukan apa yang ingin kamu lakukan.
Action
Hidup adalah sekumpulan rangkaian aksi. Hanya
terkadang manusia lupa diri, dan terlarut dalam banyak mimpi. Semua aksi pasti
menghasilkan reaksi. Sederhana kan? Tapi memang Sang Pencipta memiliki logika
yang berbeda. Jika kita ingin melakukan perjalanan dari point A ke point B,
terkadang Tuhan memaksa kita “berputar” ke point C, D, E, F sampai Z, baru
kembali ke point B.
Hal yang tak kuduga ternyata Allah Sang Maha Daya punya skenario lain.
Di bandara Ninoy Aquino Manila, Kamis malam jumat 5 Februari 2015, aku ditolak naik pesawat yang akan menuju Dammam, Saudi. Petugas menyatakan
visa umrahku tak berlaku untuk jalur itu. Aku bahkan terancam dideportasi. Innalillahi...
Itinerary yang sudah kususun rapi, tiket pesawat dan hotel yang sudah
dibayar—semuanya hangus. Aku tersedak. Kerongkonganku pekat. Aku berdebat sembari memohon. Tak jua luluh. Akhirnya kupasrahkan semuanya kepada Yang
Maha Mengatur. Disana saya akhirnya sadar:Ada yang lebih berharga daripada harta.
Ada yang lebih berkuasa daripada tahta.
Ada yang lebih memesona daripada wanita.
Ada yang lebih penting daripada dunia dan isinya.
Apakah itu?
Saudaraku yang tercinta, silahkan datang ke rumah-Nya dan
insya Allah Anda akan menemukan jawaban-Nya.
Mungkin ini yang disebut Mestakung (meminjam
Prof Yohanes Surya) atau Law of Attraction-nya Rhonda Byrne. Tapi menurut saya,
apa yang saya lakukan disebut ikhtiar. Bukan magic. Bukan kekuatan supra
natural. Bukan the power of mind.
Di tengah kekacauan itu, teman2 Muslim Moro yang kukenal di Musholla
Matare (Ust. Sultan, Arham dkk) mencoba menghiburku. Sungguh mereka sangat
baik. Aku lalu menghubungi Ibu melalui hubungan internasional ke Makassar.
Ternyata ibuku sedang sakit.
Dengan terbata dan penuh sesal, aku ceritakan bahwa rencana kejutan ke Tanah
Suci gagal total.
Ibu hanya terdiam... lalu pelan menjawab,
"Nda papa, Nak. Pulang saja dulu... Ibu kangen."
Dari Manila, aku memutuskan pulang. Tapi tidak ke rumah di Bintaro. Aku
terbang ke Makassar—menemui ibuku, meminta maaf, memohon doa, dan memeluknya
hangat. Dalam hati aku berdoa,
"Ya Allah, sehatkanlah ibuku. Ampunilah aku yang mencoba menempuh
jalan sendiri, tanpa restunya."
 |
| Manila - Makassar |
Sejak saat itu, aku berjanji, aku akan ke Baitullah dengan cara yang
benar, dengan niat yang lurus, dan restu dari ibu yang menjadi pijakan
langkahku. Dan Insya Allah setelah 10-an tahun menanti, panggilan itu akan tiba pada waktunya.
Dan aku kelak akan melangkah, membawa amanah ibuku dalam hati, menuju Tanah Suci...
 |
"Maafkan aku, Ibu..."
|
 |
| Ust Sultan menemani di Ninoy Airport |
Ya Allah Ya Tuhanku,
Di sini hamba-Mu mengetuk pintu
Izinkan hamba berkunjung ke rumah-Mu
Mengunjungi kiblat yang selama ini belum pernah hamba lihat
Ya Allah yang Maha Kuasa,
Di sini hamba-Mu berdoa
Agar nanti hamba bisa pergi ke sana
Tanah suci tempat para nabi berada
Memang benar,
Engkau hanya mengundang orang-orang pilihan
Mereka yang mengerti,
Bahwa iman adalah sebaik-baiknya harta yang sejati
Karena itu, hamba berdoa:
Mudahkanlah
Dekatkanlah
Bukakanlah
Tolong Izinkan hamba berdoa di depan Ka’bah..
Izinkan hamba memenuhi panggilanmu ya Allah..
Ali bin Abi Thalib dikenal karena kata-katanya yang bijaksana, termasuk mengenai pentingnya menghargai ibu. Beliau pernah mengatakan, "Jangan gunakan ketajaman kata-katamu pada ibumu yang mengajarimu cara berbicara". Ungkapan ini menekankan pentingnya menghormati dan tidak menyakiti perasaan ibu yang telah berjasa dalam kehidupan anak. Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga berkata bahwa ibu adalah pintu rahmat yang Allah bukakan untuk kita.
- "Ibunda, kau adalah orang terbaik dalam hidupku."
- "Ibu adalah pemberian Allah SWT yang sangat berharga."
- "Surga ada di bawah telapak kakimu."
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, Sayyidina Ali, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.
-------------------------------------------- Selesai ---------------------------------------------
Mantap kali nih orang jalan jalan nya, ngajak ngajak ngapah ....
BalasHapus