PELARIAN II : JUMP !
PELARIANG, BACKPACKER ANAK LORONG
Sejauh ini Pelarian kami telah menghantarkan kami bertiga ke Surabaya, Bali dan Malang. Sebagai anak kampung ndesit dari keluarga dengan latar belakang ekonomi kebanyakan capaian ini cukup luarbiasa, kalo boleh ge-er, secemerlang nilai rapor kami yang selalu masuk dalam jajaran top 5 ranking di sekolah kami yang terbilang sekolah favorit/unggulan berdurasi 4 tahun proyek perintis program Soeharto (meski sikapku adalah oposisi orba, pro Petisi 50).
Setelah survive selama sekitar 10 hari dan liburan sekolah sebentar lagi berakhir saatnya kami akan kembali ke kampung. Dengan moda apa? tentu saja bukan dengan pesawat karena itu hal hil yang tak mungkin..tak mungkin (inget lagu D'Lloyd ya ?). Tidak ada lain tentu dengan kapal laut dan dengan cara yang sama saat pergi, yaitu : pelarianG ! alias gratis dgn menyusup ke kapal laut.
Hampir menjelang magrib di pelabuhan di Tg. Perak, dua teman saya sudah berhasil naik ke kapal dgn melompat dari bibir dermaga ..."happ" tangan memegang ke pagar besi/railing kapal. Setelah teman diatas, tas ransel kami lempar ke atas geladak dan diterima teman (kayak maen bola basket hehe).
![]() |
| Kelas kami |
Setelah survive selama sekitar 10 hari dan liburan sekolah sebentar lagi berakhir saatnya kami akan kembali ke kampung. Dengan moda apa? tentu saja bukan dengan pesawat karena itu hal hil yang tak mungkin..tak mungkin (inget lagu D'Lloyd ya ?). Tidak ada lain tentu dengan kapal laut dan dengan cara yang sama saat pergi, yaitu : pelarianG ! alias gratis dgn menyusup ke kapal laut.
Hampir menjelang magrib di pelabuhan di Tg. Perak, dua teman saya sudah berhasil naik ke kapal dgn melompat dari bibir dermaga ..."happ" tangan memegang ke pagar besi/railing kapal. Setelah teman diatas, tas ransel kami lempar ke atas geladak dan diterima teman (kayak maen bola basket hehe).
Pluit kapal sudah berbunyi yang ke dua, namun aku belum juga bisa melompat. Aku sudah mencoba namun setiap sampai bibir dermaga aku gak yakin bisa memegang pagar besi kapal. Di bawah tampak air hitam menggelagak, aku tak bisa berenang! Aku takut.
Kapal mulai bergerak. Teman2 terus berteriak menyemangati dari atas "cepakko!..lompa mako! ayooo! lompakko" (red. cepatlah !! lompat lah !!) Jarak kapal dgn dermaga tambah melebar, aku tak jua sanggup melompat!.
“Oee, cepatlah !…segera loncat!! Jangan takut…saya pegang ko !!!”
Aku menengok kiri-kanan melihat situasi. Polisi KPLP yang berjaga tinggal seorang. Aku mundur ke belakang sekitar 6 meter untuk mengambil ancang-ancang agar aku dapat melompat dgn kekuatan penuh. Aku ingat Pak Mustafa, guru olahraga kami yang mengajarkan atletik lompat jauh di lapangan bola Unhas, jalan Sunu persis depan sekolah kami. Meskipun nilai lompatanku sering mendapat nilai kurang bagus, tapi kali ini aku harus bisa melompati jarak antara bibir dermaga dan railing kapal yang terpaut sekitar 1.5 meter. Hari makin gelap sebentar lagi maghrib tiba. Pluit kapal berbunyi lagi, ini lompatan terakhir. Aku harus bisa!.
Teman2 di atas terus memberi semangat dan mengambil posisi di tepi pagar siap-siap “menangkap” dan memegangku. Aku mengumpulkan seluruh kekuatan lalu, swiiiiiiiing… aku berlari sekencang-kencangnya agar lompatanku bisa menggapai pagar besi kapal…
Teman2 di atas terus memberi semangat dan mengambil posisi di tepi pagar siap-siap “menangkap” dan memegangku. Aku mengumpulkan seluruh kekuatan lalu, swiiiiiiiing… aku berlari sekencang-kencangnya agar lompatanku bisa menggapai pagar besi kapal…
“Hufft !” langkahku kembali terhenti di bibir dermaga beton. Aku takut jatuh. Bagaimana kalo tappeccoro (terpeleset) di dinding kapal? Gemuruh dumba’-dumba (mpot2an) di dadaku mengalahkan gemuruh ombak di bawah dermaga yang tampak menggelegak mencekam seolah siap menelanku.
Aku menyerah ! Aku menyerah !
Jarak makin melebar dan tak mungkin lagi untuk melakukan lompatan yang sangat beresiko.
Akhirnya ranselku dilempar lagi ke bawah, ke dermaga, tertinggallah aku di Surabaya dalam kegalauan tingkat tinggi.
Aku merasa menjadi anak Makassar paling ‘ballorang’ (penakut) sedunia. Aku merasa gak pantas menjadi keturunan pelaut perkasa yg menghadapi ‘bombang tallua’ dengan filosofi agung “kualleanna tallanga na towalia !” (kupilih tenggelam dari pada pulang membawa malu).
Aku tertunduk lesu, malu dan sedih…
Matahari di ufuk barat tenggelam. Hiruk pikuk suasana dermaga pelabuhan Tanjung Perak mulai menyusut. Meredup. Satu-satu pengantar, porter pelabuhan meninggalkan dermaga yang mulai sepi.
![]() |
| Sengkaling, Malang |
Aku terkulai lemas di teras dermaga dengan perasaan berkecamuk melihat kapal makin menjauh. Gema suara teriakan teman2, penumpang dan pengantar yang sahut menyahut makin terdengar pelan terbawa angin laut. Lambaian tangan ‘berdada-dada’ makin mengecil tertelan kabut. Perlahan kapal pun makin menjauh dari lepas pantai menuju kotaku Makassar… Ommalee !

Aku melangkah gontai menuju Musholla di sudut pelabuhan. Badanku lepek, kaosku basah keringat. Sepatu kets cap “Tiger” (paling top dipake anak sekolah di Makassar) dengan 3 strip sudah penuh debu. Suasana di halaman pelabuhan ramai tapi aku merasa sangat kesepian. Aku merasa terasing. Aku mendengar percakapan orang2 dengan dialek Madura yang kental. Madura? Wah mereka ini katanya sangar dan kasar, tapi itu kan stereotype saja (di Makassar orang Maduranya baik-baik kok) . Mudah2an aku gak ketemu yg demikian. Meski begitu aku harus waspada! Aku tak mau dipalak? Uang tinggal tak seberapa. Badik kecil yang kubawa dan kuletakkan di dasar ransel kupindahkan ke sisi atas agar mudah kuraih jika terjadi hal-hal yang tak kuinginkan.
Aku mengambil wudhu sesenggukan. Lelaki remaja usia 18 tahun itu menangis sembunyi-sembunyi dalam wudhunya. Air wudhu dan air mata berbaur menjadi satu.
Langit di luar.
Langit di badan.
Bersatu dalam jiwa.
Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku ya Allah….
Selepas sholat aku berdoa sebisanya seperti aku sedang berbicara dengan pak Presiden : "tolong aku Ya Allah, datangkanlah kapal minggu depan. Jangan menelantarkan aku di Surabaya seorang diri, jadi apa aku disini, bagaimana cari makan? Di mana aku tinggal ? Setumpuk pertanyaan datang bertubi. Aku gak bisa ngamen. Aku gak mau ngemis apalagi jadi copet? Libur sekolah 4 hari lagi berakhir,
Pammopporanga ya Allah..ampuni kenakalanku ya Allah. Berilah aku kenalan. Mudahkanlah..… ? Mudahkanlah….??? Cling! Ya, mudahkanlah aku bertemu dengan orang sekampung yang ada di Surabaya!.
Mudah-mudahan aku dapat segera ketemu orang Bugis/Makassar…."
Subhanallah, pertolongan Allah begitu cepat datangnya.
Allah mengirimkan seorang Bapak yang baik hatinya “menemukan” aku di Musholla pelabuhan. Aku diajak tinggal di rumahnya di belakang Masjid Mujahidin, jalan Teluk Nibung, masih di kawasan Tg. Perak.
To Be Continued : Diajak ABK ke kompleks Bangun Rejo!
#anggrekjinggamemoar1982
#backpackermakassar” Fb-Posting Maret 2015.
PELARIAN II : JUMP !
Reviewed by Sofyan Saleh
on
September 17, 2017
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
September 17, 2017
Rating:




Tidak ada komentar