PELARIAN I : Backpacker Anak Kampung


Bagi sebagian anak muda Makassar generasi tahun '70 sampai paruh '80an yang hobi bepergian /traveling ke luar Makassar  mengenal istilah "Pelarian" atau dalam dialek khas Makassar dilisankan "Pelariang", sering diledek sbg kelebihan vitamin G.

Defenisi Pelariang : pergi ke Pulau Jawa/Kalimantan/Maluku dsb menggunakan transportasi kapal laut antar pulau (waktu itu naik pesawat masih merupakan barang mewah hanya milik horang kayah). Membawa uang ala kadarnya sekedar untuk makan sehari-hari, tidak membayar ongkos kapal dgn cara bersembunyi di sudut2 kapal yang diperkirakan luput dari pemeriksaan petugas keamanan kapal. Terakhir, pergi tidak pamitan sama ortu, opa oma om tante apalagi sama tetangga !

Pada saat itu belum ada kapal khusus penumpang seperti milik Pelni sekarang (baru ada sekitar th 1984), yang ada hanyalah kapal barang antar pulau.
Terinspirasi dari tetangga yg sering Pelarian ke Jawa, maka pada saat liburan sekolah  kenaikan ke kelas 2 SMA, tahun 1982 - aku bersama 2 teman sekelas merealisasikan keinginan yang sudah terpendam dan membara setiap liburan sekolah. Kami sudah bosan dengan destinasi lokal dan saatnya "meningkatkan level" dengan perjalanan merambah ke pulau Jawa Bali!  Kami pun menyusun rencana, bertanya dan minta trick & tips pada Senior dan akhirnya melaksanakan aksi "Pelariang" pertama kami dengan tujuan utama Bali, Surabaya dan Malang.. Wwooww !.

Waktunya pun tiba. Menjelang maghrib kami bertiga remaja nekad sudah standby di dermaga pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Pelabuhan begitu ramai dengan lalu-lalang penumpang,  keluarga penumpang dan portir. Hiruk pikuk ini tampaknya mempengaruhi rendahnya intensitas pengawasan aparat keamanan sehingga tentu saja menjadi peluang bagi kami untuk memuluskan rencana menyusup naik ke kapal KM Brantas tujuan Surabaya yang sedang berlabuh dan proses  loading.
Alhamdulillah ... tanpa kesulitan berarti kami berhasil melewati petugas dan menyusup masuk ke kapal dan “bersembunyi” dengan membaur bersama penumpang yang penuh sesak di dek bawah, udah kayak sarden deh..

Kapal meninggalkan dermaga sekitar waktu Isya. Perjalanan dari pelabuhan Makassar ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya memakan waktu sekitar 16 jam. Pemeriksaan penumpang dilakukan petugas keamanan sekitar 5 – 6 jam setelah kapal lepas jangkar, itu artinya saatnya kami main petak umpet dgn petugas. Kami bertiga berpencar. Petugas ke arah Timur kami ke Barat. Petugas ke palka kami ke pantry atau ngumpet di WC. Motivasi yang kami dengar dari “senior” kalau pun kami tertangkap jangan kuatir kami tidak akan dibuang ke laut, wow. Biasanya diberi hukuman disetrap membersihkan WC, ngepel ruang Nakhoda/ Mualim atau membantu di dapur umum. Resiko itu kami siap tanggung. Pemeriksaan hanya sekali dan Alhamdulillah kami bertiga lolos sampai turun menginjakkan kaki di dermaga Tanjung Perak.

Inilah kali perdana kami menginjak tanah Jawa. Perasaan takjub, senang dan bangga meliputi hati kami semua. Hip Hip Huraaa…
Kami keluar dari kawasan pelabuhan berjalan menuju terminal bus kota lalu lanjut ke Stasiun Semut. Kami membeli tiket paket KA-Damri tujuan Denpasar. KA kelas rakyat yg kumuh, panas, pedagang berjubel, banyak malingnya dan setiap stasiun berhenti. Gila bener… sebetulnya menurut Senior, kita bisa gratis naik kereta sampai Banyuwangi dgn main petak umpet dgn petugas atau naik kereta pengangkut pasir, batubara. Wah kami tak memilih cara itu karena kami masih kullu-kullu. Beginner.


Tiba di Banyuwangi jelang maghrib. Turun dari kereta kami langsung naik Bus Damri yang siap mengantar ke terminal bus Denpasar. Di pelabuhan ferry Ketapang cukup lama kami tertahan menunggu antrian menyeberang ke Gili Manuk. Perjalanan menembus malam melewati beberapa Kabupaten di Bali.
Alhamdulillah .. akhirnya tengah malam buta sampai juga kami ke terminal bus Ubung Denpasar. Di sini kami istirahat tidur bergantian menunggu pagi. Di terminal kami hampir berkelahi dgn petugas WC karena ketika keluar dari kamar mandi kami disuruh bayar. Kami 3 anak muda kullu2 kampungan baru tau bahwa buang air bayar? Cuci muka saja bayar? sungguh aneh! di Makassar tidak ada WC yg bayar (dulu ya hehehe..). Kami tak mau bayar.

Seminggu di Bali kami mengunjungi destinasi wisata yang selama ini hanya bisa kami pandangi di almanak dan membuat kami meriang :) seperti Kintamani, Tanah Lot, Bedugul, Tampak Siring, Besakih, Uluwatu, Pantai Kuta, Nusa Dua. 
Kisah paling hits selama di Bali adalah ketika kami ke Pantai Kuta misalnya pengalaman pertama melihat orang dewasa berjemur di bibir pantai nyaris telanjang karena hanya menggunakan sempak yg keciiil betul, tidak menggunakan kutang, susunya diumbar kemana-mana. Wuidiih ada yang  tau2 celananya basah dan tembus membentuk pulau Madura, Pulang jalan kaki kan berasa gak enak..lengket2 hahaha.. Maklum kami anak kampung ndesiit yang baru mau naik kelas dua SMA. Belum pernah pacaran pulak. Khayalan tingkat tinggi...


Kereta Rakyat





Seminggu di Bali kami melanjutkan pelarian kami ke Malang mengunjungi spot wisata  : Batu, Senggoriti dan Selecta. Pertama kali lihat pohon apel wuiiihh kerreeen banget. Buah apel menggantung ranum dan bisa dipegang..ckckck takjub! Norak banget ya kitah (di Makassar seumur-umur belum pernah lihat pohon apel).


Tanah Lot



Selecta, Malang
Bersambung...
(latah kayak komik Khoo Ping Ho yg bersambung teeeerusss..)



PELARIAN I : Backpacker Anak Kampung PELARIAN I : Backpacker Anak Kampung Reviewed by Sofyan Saleh on September 17, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!