ANDALAS UNDERCOVER Ep. 1

Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.

Desember 2010.
Masa libur alias cuti sebentar lagi tiba. Sejauh ini saya belum memutuskan akan berangkat solo trip ke mana, meskipun sebenarnya jauh-jauh hari, kira-kira sebulan sebelumnya  saya sudah memulai hunting lokasi melalui beberapa situs, blog di internet dan membaca beberapa buku-buku travelling menarik seperti ke Thailand, Vietnam dan Malaysia dengan anggaran Rp 2 jutaan? Wow!. Hal tersebut mungkin saja dengan persiapan waktu yang lebih awal, sementara saat ini saya tak punya waktu seluang itu. Mungkin tahun berikutnya ya? Who knows?.
 Lalu kemana Bro? Bali? Akh sudah berkali-kali mengunjungi Pulau Dewata rasanya bosen juga. Ke Lombok! Yeah saya tertarik dengan Lombok karena beberapa hal:  pertama, tentu saja karena saya belum pernah ke sana heheh….. Kedua, konon alamnya sangat mempesona, pantainya terkenal keindahannya seperti Pantai Senggigi, dst.

Tiba-tiba saja terjadi gempa dan tsunami  yang memporak porandakan pulau Mentawai Padang. Tak berapa lama kemudian Gunung Merapi  yang terletak di Kabupaten Sleman, wilayah DI Yogyakarta mengalami erupsi ..wedhus gembel…..mbah Marijan…banjir lava dingin..korban berjatuhan…blab bla blaa..
Menyaksikan kejadian itu di televisi hati saya berbuncah, tergugah ingin membantu dengan segala kemampuan saya. Rasanya tertarik untuk melibatkan diri menjadi bagian dari Relawan. Tak perlu di garis depan, karena saya tak punya pengalaman professional sebagai Relawan. Barangkali cukup menjadi relawan di ring 2 atau 3, barangkali memasak di dapur umum? atau mendongeng di hadapan anak-anak korban Merapi untuk pemulihan dari trauma? Saya bisa dan saya ingin ke Yogya!. Melalui internet saya mencari info tentang Relawan Yogya. Saya mengumpulkan beberapa alamat posko yang bisa saya hubungi pada saat nantinya tiba di Yogyakarta.




Pada saat yang bersamaan pekerjaan di kantor tampaknya belum memungkinkan untuk ditinggalkan begitu saja. Masih ada tugas-tugas penting yang harus diselesaikan. Mau tak mau masa cutipun mulur. Hari demi hari berlalu dalam aktivitas kerja, sementara itu intensitas dari aktivitas Merapi mulai menurun. Kondisi Yogyakarta berangsur-angsur membaik dan aman. Para pengungsi mulai kembali ke rumahnya masing-masing.

Hal ini mempengaruhi keinginan saya untuk ke Yogyakarta. Saya kembali search di Google. Saya browsing beberapa destinasi wisata tanah air. Kenali tanah airmu kenali bangsamu (jiaah kayak pejabat aja).  Setelah membaca berbagai informasi wisata domestik, arah tujuan saya berubah!. Saya ingin solo trip ke Sumatera! Daerah ini tidak begitu asing bagi saya karena di sini saya pernah bertugas selama sekitar 2,5 tahun, persisnya di kota Palembang Sumatera Selatan (1996-1999). Saya sudah pernah mengunjungi  beberapa obyek wisata seperti Danau Ranau, Museum Sriwijaya, Benteng Kutobesak, Muntok, Tanjung Pinang, Jambi dan sebagainya.


Sungai Komering Th 2009
Rental motor untuk menjelajah Tanah Komering th 2009


Rumah tua kakek , puluhan tahun ditinggal kosong msh exist
   Saya memutuskan menjelajahi Sumatera Barat sampai  ke Sumatera Utara. Dimulai dari kota Padang dan berakhir di kota Medan. Semula saya merencanakan menggunakan moda angkutan darat dari Jakarta ke Padang. Namun dengan pertimbangan harga tiket via darat versus via udara selisihnya tak seberapa berbanding  dengan waktu tempuh, maka saya memutuskan untuk ke Padang dengan moda udara. Kemudian menempuh jalur darat ke Danau Toba (Parapat) melintasi kota2 kabupaten dengan tujuan akhir Medan. Selanjutnya dari Medan kembali ke Jakarta melalui jalur udara.
Setelah mendapat kepastian jadwal cuti, 4 hari sebelum hari H, cukup mepet ya,  saya segera memesan tiket termurah diantara beberapa flight company untuk tujuan Jakarta ke Padang  dan tiket Medan ke Jakarta sepekan berikutnya. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket promo dari Lion Air untuk rute Jakarta – Padang tanggal 09 Desember 2010 jam 07.00 WIB dengan rate Rp 362.000,- dan tiket Lion Air untuk rute Medan – Jakarta tanggal 15 Desember 2010 jam 14.30 WIB dengan rate Rp 434.000,-. Keduanya menggunakan pesawat terbaru   Boeing 737 ER-900.
Setelah memperoleh tiket dan tentu saja kepastian berangkat, saya mulai menyusun ittinerary perjalanan sebagai berikut :

Tanggal 09 Desember , jam 07.00 WIB:
Dari Jakarta terbang ke Padang dengan Lion Air Boeing 737 ER-900. Rencana  kunjungan: Museum Adityawarman, Masjid Raya Muhammadiyah, Pantai Air Manis (legenda Malin Kundang), Monumen Gempa Bumi, Teluk Bayur, Pasar Raya,  Masjid Raya Gantiang. 

Tanggal  10 Desember 2010, jam 09.00 WIB:
Dari kota Padang berangkat ke Bukit Tinggi dengan menggunakan bus AKAP. Rencana obyek yang akan saya kunjungi :  Masjid Raya Bukit Tinggi, Taman Margasatwa, Benteng Fort De Kock, Taman Panorama, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai, Plaza Jam Gadang, Istana Pagaruyung, Museum Bung Hatta. Sungai Puar Desa Sariak Lereng Gunung Merapi, Rumah Buya Hamka, Danau Maninjau, Danau Singkarak.

Tanggal  11 Desember 2010, jam 17.00 WIB :
Meninggalkan  Bukit Tinggi dengan bus ALS menuju  Parapat Kabupaten Tobasa.

Tanggal 12 Desember 2010, jam 10.00 WIB:
Menyeberangi Danau Toba dengan kapal feri ke Pulau Samosir. Menginap 2 malam. Obyek kunjungan :  Desa Tomok, Ambarita, Hot Spring, Makam Raja-raja Batak, dan sebagainya

Tanggal 14 Desember 2010, jam 09.00 WIB :
Meninggalkan Toba menuju kota Medan dengan bus via Pematang Siantar dan Tebing Tinggi. Menginap di kota Medan dua malam. Rencana kunjungan ke Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimoon, Kuil Hindu dan city tour (bangunan tua,  pasar tradisional, mall to mall, jajan kuliner khas Medan).

Tangga 15 Desember 2010, jam 14.00 WIB :
Menyelesaikan perjalanan dan kembali ke Jakarta dengan Lion Air Boeing 737 ER-900. Demikian itinerary rute perjalanan meski pada kenyataannya  terjadi sedikit perubahan karena sikon di perjalanan. Allah Maha Pengatur...


Welcome to Minangkabau.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB dengan kondisi cuaca yang sangat cerah, suhu sekitar 30’ C saat burung besi  Boeing 737 ER-900 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Minangkabau.

Bandar Udara Internasional Minangkabau mempunyai lahan seluas 430 Ha terletak disepanjang pantai di Ketaping, Batang Anai wilayah Kabupaten Padang Pariaman, sekitar 23 km dari arah utara Kota Padang. Bandar udara ini merupakan  pengganti bandara Tabing yang dari segi geografis kurang menguntungkan dan tidak dapat mengakomodasi pesawat berbadan lebar jenis Airbus 330. Bandara Internasional Minangkabau  dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan penggunaannya pada tahun 2005 oleh Wapres Jusuf Kalla.


Angkot Padang Full Disco


Eagle has landed...saatnya menyusuri keindahan indonesia yg sebagian ada di sepanjang Sumbar dan Sumut. ayo angkat ranselmu kawan!
Sekitar jam 10 keluar dari bandara saya berniat naik bus bandara menuju kota Padang. Saya pikir seperti di bandara Soeta bus bandara selalu standby maka saya menggunakan waktu sebentar untuk motret-jepret suasana sekitar bandara. Setelah itu saya menuju halte bus. Rupanya bus sudah jalan, tidak ada bus lagi. Informasi petugas bus berikutnya datang jam 12.30 WIB. Wadduh!. Alternatifnya ada taksi dan ojek. Untuk menghemat saya putuskan menggunakan ojek keluar dari kawasan bandara sampai ke jalan raya dengan membayar Rp 12.000,- lalu melanjutkan perjalanan menggunakan angkot dengan ongkos Rp 3.000,- menuju Pasar Raya di pusat keramaian kota Padang.

Metromini full music. Loud!

Salah satu cara yang dilakukan oleh para supir angkot di kota Padang untuk meraih penumpang adalah dengan bersaing mendandani angkot mereka sedemikian rupa . Para supir berlomba untuk mendesain eksterior dan interior mobil mereka yang diberi berbagai macam aksesoris dan modifikasi body mobil. Jika biasanya bagian luar angkot dicat dengan warna polos, di kota Padang banyak ditemui angkot dengan beragam air brush. Tidak cukup dengan gambar air brush saja, para supir juga menambahkan berbagai stiker pada bagian body luar mobil.

Rugi kalo gak nyobain angkot modif Padang, Super Loud!


Pasar Raya yang terletak di pusat kota merupakan pasar tradisional terbesar di Kota Padang. Namun kondisi pasar tersebut jauh dari nyaman karena kumuh, becek, banyak sampah dan semrawut, karena tidak tertatanya pedagang kaki lima, terutama di sepanjang Jalan Sandang Pangan.


Pasaraya Padang


Kesemrawutan pasar diperparah macetnya jalan karena sejumlah angkot melewati Jalan Sandang Pangan. Banyaknya PKL hanya menyisakan jalan yang sempit untuk angkot yang harus berebutan dengan becak, motor, dan sepeda. Akibatnya para pengunjung jalan yang berjalan kaki merasa tidak nyaman.

Turun dari angkot saya berjalan menuju Masjid Raya Muhammadiyah, tidak jauh dari Pasar Raya, untuk istirahat sambil menunggu waktu sholat Dhuhur. Masjid ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama digunakan oleh unit-unit usaha Muhammadiyah seperti Lazis, Biro Perjalanan Haji, Fotocopy/ATK sampai Barbershop, dsb. Sepanjang halaman masjid banyak sekali orang yang berdagang Kalender 2011 buatan Muhammadiyah, tidak ada pilihan yang lain.
Lantai dua digunakan untuk beribadah dengan daya tampung 500-700 jamaah. Setelah berwudhu dibawah saya menuju ke lantai 2 sholat sunnah lalu mengikuti taklim yang sedang berlangsung sembari menunggu waktu Dhuhur. Jamaah sangat ramai seperti jumatan saja. Usai sholat Dhuhur saya iseng menghitung jumlah shaf ada 9, 1 shaf panjangnya sekitar 20 meter. Ramai kan, kalau di Jakarta dengan situasi yang sama paling banter 1 shaf sekitar 20-30 jamaah. Urang Minang selain berdagang memang dikenal religious.  Setelah berdoa saya mendekati seorang jamaah menanyakan beberapa destinasi wisata yg ada di kota Padang sekaligus dengan moda angkutannya.

Keluar dari masjid saya berjalan kaki menyusuri jalan sekitar 700 – 1000 meter menuju Museum Adityawarman. Sepanjang jalan melewati beberapa bangunan yang retak-retak, rubuh, pasca gempa bumi yang melanda kota Padang pada tanggal 30 September 2009 dengan kekuatan 7,9 SR. Guna memperingati kejadian yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, berbagai sarana-prasarana publik, rumah, serta terganggunya aktifitas warga dan pelayanan pemerintah tersebut maka pemerintah Kota Padang membuat sebuah monument yang berlokasi tidak jauh dari hotel Ambacang yang mengalami kerusakan paling parah di Jalan Gereja tepatnya di area Taman Melati, Museum Adityawarman. Monumen tersebut diresmikan pada tanggal 30 September 2010.




Untuk memasuki halaman museum yang luas, terletak di jalan Diponegoro No. 10, terlebih dahulu saya membeli tiket di loket seharga Rp 3.000,-. 
Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat mulai dibangun  pada tahun 1974 dan diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977. Pada tanggal 28 Mei  1979, museum tersebut diberi nama "Adityawarman". Nama Adityawarman  diambil dari nama seorang Raja besar yang pernah berkuasa di Minangkabau, sezaman  dengan Kerajaan Majapahit pada masa Patih Gajah Mada.






Museum Adityawarman merupakan museum budaya  terpenting di Sumatera Barat. Museum tersebut berfungsi sebagai tempat  menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah seperti cagar budaya  Minangkabau, cagar budaya Mentawai dan cagar budaya Nusantara. Untuk menjaga kelestarian  koleksi benda-benda bersejarah tersebut, pemerintah setempat membentuk tim kecil  yang bertugas sebagai tenaga educator, konservator, preparator dan pustakawan.


Koleksi utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam sepuluh macam jenis koleksi, yaitu: Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika /Heraldika, Filolo­gika, Keramologika, Seni Rupa  dan Teknalogika.  Dari sepuluh macam jenis koleksi tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
Jenis Geologika/Geografika, terdiri dari beraneka ragam Permata, Granit, Andesit Peta, dan alat pemetaan. Jenis Biologika, terdiri dari beberapa rangka manusia purba, rangka hewan dan tumbu­h-tumbuhan.
Jenis Etnografika, terdiri dari benda-benda bersejarah yang menggambarkan suatu kegiatan budaya dan identitas suatu etnis. Jenis Arkeologika terdiri dari benda-benda bersejarah hasil budaya yang dihasilkan pada masa pra-sejarah  hingga masa masuknya budaya Barat. Jenis Historika koleksinya terdiri dari benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan keorganisasian, tokoh dan negara.
Jenis Numismatika /Heraldika koleksinya terdiri dari beraneka ragam jenis mata uang atau alat tukar, tanda jasa berupa pangkat, cap dan stempel. Jenis  kolesi Filolo­gika koleksinya terdiri dari naskah-naskah kuno. Jenis Keramologika koleksinya terdiri dari barang-barang pecah belah peniggalan masa lalu.
Jenis kelompok  seni rupa koleksinya terdiri dari seni pengalaman artistik yang dapat dilihat  melalui objek-objek 2 dimensi dan 3 dimensi. Terakhir jenis kelompok Teknologika, koleksinya  terdiri dari benda-benda peninggalan yang menggambarkan perkembangan  teknologi dari tradisional sampai modern.

Koleksi pendukung yang dimiliki Museum Adityawarman  adalah benda purbakala peninggalan Kerajaan  Dharmasraya, yaitu berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa. Di samping itu juga ada koleksi pending yang terbuat dari perak yang dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan  dilengkapi permata berwarna putih mengkilat pada bagian tengahnya. Pending sering  dipakai oleh penghulu pada setiap upacara adat di Minangkabau.






Koleksi museum terletak dalam sebuah bangunan rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang) dengan gaya bangunan Gajah Maharam. Di depan bangunan museum tersebut, terdapat dua buah lumbung padi sebagai pelengkap bangunan Rumah Gadang, kemudian dipadukan dengan miniatur pedati, bendi dan pesawat perang sisa peninggalan perang dunia ke-II.
Sebelum meninggalkan museum saya menghampiri petugas museum menanyakan rute angkot ke Pantai Air Manis tempat ber’semayam’ si Malin Kundang. Sementara itu kampung tengah   mulai perih. Sudah jam 14.15 WIB. Sebuah koloni di dalam perut menuntut suplay energy. Tengok kiri tengok kanan mencari rumah makan Padang tapi tidak ada. Di seberang museum di depan sekolah Katholik ada sate Padang, ya sudah makan siang dengan sate Padang. Seporsi Rp 9.000,-. Hemmm…tapi rasanya kok lebih enak sate padang yang di Jakarta ya? 


Legenda Malin Kundang

Setelah perut terisi seporsi sate padang+ketupat saya melanjutkan perjalanan. Dari depan museum Adityawarman naik angkot 03 berwarna biru rute Pasar Raya – Teluk Bayur PP. saya memilih duduk di kursi depan samping Pak Sopir biar bisa menikmati perjalanan  melihat-lihat suasana kota Padang. Sesekali ngobrol dengan sopir. Saya sampaikan ke Pak Sopir agar saya diturunkan sebelum Pelabuhan Teluk Bayur, tepatnya di simpang tiga jurusan  ke Pantai Air Manis.
Selang 30 menit perjalanan angkot telah sampai di ujung rute yaitu Teluk Bayur, arah selatan kota Padang. Lho kelewatan dong? Pak sopir minta maaf lupa menurunkan saya di simpang tiga. Saya bilang nggak masalah. Namanya juga jalan-jalan, nyasar adalah hal yang lumrah. Saya ikut aja lagi di angkot yang sama balik ke arah Pasar Raya. Sesampainya di simpang tiga saya turun dan membayar Rp 3.000,-.

Dari simpang tiga  menuju ke Pantai Air Manis dapat ditempuh dengan angkot atau ojek yang banyak mangkal di simpang. Pengojek menawarkan jasa dengan tarif nego Rp. 10.000 – Rp 20.000,-. Saya menunggu angkot saja. Tarif hanya Rp 3.000,-. Cukup lama saya menunggu tapi kok angkot nggak ada yang lewat ya? Kata seorang pelajar, memang jarang dan sudah sore. Saat dalam penantian, seorang anak muda mendekati dan menyapa. Kami berkenalan. Saya waspada…siapa tau mau usil. Eh dia mengira saya seorang anggota Jamaah Tabligh, karena melihat potongan celana saya yang ‘nggantung’ di betis dengan peci coklat penutup kepala. Rupanya dia sering ikut pengajian Jamaah Tabligh. Saya berterus terang bahwa saya bukan anggota jamaah, meski hal itu tak asing bagi saya. Saya hanya pengelana. Obrolan tampaknya nyambung. Matahari makin meninggi. Kecurigaan saya luntur, tampaknya dia orang baik-baik. Bahkan, akhirnya dia menawarkan boncengan menuju Pantai Air Manis. Pucuk dicinta ulam tiba! Kami berboncengan motor menuju pantai. Melewati jalan berbukit-bukit dengan rindang pohon sekeliling yang hijau menyegarkan. 10 menit kemudian sampailah kami di Pantai Air Manis. Saya diantar ke bongkahan karang di bibir pantai yang menyerupai kapal karam dan tak jauh dari situ terdapat karang yang menyerupai manusia tertelungkup. Dia adalah legenda si anak durhaka, Malin Kundang!.


Pantai Air Manis @ Teluk Bayur, disinilah Malin Kundang terkapar dilaknat Bundo Kanduang


Alkisah, pada suatu waktu, ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.
Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpahkan anaknya, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".
Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.







Matahari kian meninggi, kami beranjak kembali meninggalkan pantai. Kami mampir di sebuah surau yang ramai bocah-bocah sedang mengaji. Setelah sholat ashar saya diantar ke simpang tiga. Sebagai tanda terimakasih saya memberikan uang pengganti bensin Rp 20.000,-
Hari sudah sore. Saya  kembali naik angkot menuju Pasar Raya sebagai titik sentral, sambil berpikir di mana malam ini saya menurunkan ransel lalu istirahat tidur?.

Dicurigai Teroris!

Hari makin sore. Beberapa pedagang pasar mulai membereskan dagangannya. Sementara pedagang lain baru membuka lapaknya untuk pasar malam, seperti pedagang makanan, cd bajakan, pakaian dan sebagainya. Saya menyempatkan berkeliling di dalam pasar siapa tau menemukan sesuatu yang unik. Tak jauh dari pintu masuk pasar ada warung tenda yang tampak ramai pembeli. Menunya soto padang dan es cendol. Saya mampir dan memesan es cendol. Disajikan dalam mangkuk berisi es cendol berwarna merah, ketan dan duren sebiji. Hemm.., daging durennya tebal bercampur dengan bulir ketan..aneh tapi enaknya wuiih..! harganya Rp 6.000,-



Keluar dari pasar sekitar 100 meter di tepi jalan  saya melihat warung soto Padang yang dipenuhi pelanggan. Enak kali ya? Mampir akh nyobain sekalian makan malam, waktu  maghrib kan sebentar lagi datang. 1 porsi soto dalam mangkuk kecil berisi potongan-potongan daging, babat yang sudah digoreng + perkedel kecil + laksa + kerupuk merah + nasi sepiring. Sambelnya encer. Rasanya? Biasa saja kalau tak ingin disebut tak enak. Tapi ramai ya? Apa lidah saya yang tidak cocok? lidah terbiasa dgn Coto Makassar Heheheh…



Saya melanjutkanperjalanan dgn  naik angkot, tak jauh. Turun di Masjid Nurul Iman. Masjid Nurul Iman berada di pertigaan Jalan Imam Bonjol dan Jalan MH Thamrin di pusat kota Padang.
Setelah mandi, sholat maghrib sampai Isya saya memutuskan untuk istirahat malam ini di koridor masjid. Ruang masuk ke mesjid ditutup. Saya hampiri seorang pemuda tampaknya pengurus masjid. saya sampaikan permohonan ijin untuk menginap di koridor masjid. Dia mempersilakan saya utk ijin ke marbot masjid. Dia mengantar saya ke sebuah bilik/paviliun di samping masjid. Pintu bilik sdh ditutup. 



Anak itu setengah berteriak dgn logat Minang yg kental "Pak....Pak....ada orang mau ketemu, musafir, mau bermalam di masjid"
Dari dalam terdengar suara : "gak boleh!. Atau ijin dulu ke Pos Kodim!" Dalam hati busyeet ...saya dicurigai teroris. Menghormati bapak marbot yg tak nampak batang hidungnya saya jawab "Baik pak saya akan melapor, nanti saya ke sini lagi" 
"kasi liat KTPnya dan periksa ranselnya ya"
Saya terperangah, sialan juga dia ngomong dari dalam, sama sekali gak memperlihatkan wajahnya. Gak sopan. Sabaaaar...
Saya melapor ke pos jaga Kodim yg jaraknya sepelemparan batu dgn masjid.
Di pos Kodim petugas jaga cuma menanyakan maksud dan KTP. Mereka gak memeriksa isi ransel saya. Malah saya yg mengajukan : Pak silakan periksa ransel saya, sesuai keinginan marbot masjid :)

Kembali ke mess marbot, saya teriak lagi depan pintunya bahwa saya sudah diijinkan Kodim. Marbot Almukarrom itu cuma mengiyyakan dari dalam kamarnya. Hanya terdengar suaranya yg cempreng, dia  tetap tidak memperlihatkan memperlihatkan wajahnya. Mungkin dia terlalu mulia untuk bertemu dgn seorang pengembara avonturir. 

Sekitar jam 22.00 suasana sepi banget, sudah sejam dua jam merebahkan diri, menjadikan ransel sbg bantalan kepala sambil membaca biografi Gus Dur biar cepet tidur tapi kok belum bisa merem. Suasana hening, sepi, area masjid yg luas, malam jumat pula bikin pikiran rada2 halusinasi. Tiba2 datang Bpk. Prada Nasrullah, Komandan Jaga Pos Kodim malam itu. Kami ngobrollah tentang tujuan, asal usul, tentang buku yg saya baca dan buku lain yg saya bawa (saya merasa dia menginterogasi saya secara halus). Beliau juga menyampaikan pandangannya terhadap Gus Dur. Ujungnya beliau  menyampaikan kekhawatirannya kalau saya tidur di koridor masjid yg sangat sepi. Beliau menawarkan ke Mesjid Keling, katanya di situ sangat ramai apalagi ini malam jumat ada mudzakarah. Kalo di sana Bapak aman.
"Oh masjid Jamaah Tabligh ya Pak"

Saya ceritakanlah bahwa banyak teman saya yg di JT. 
"Ok pak kalo begitu biar saya ke sana..."
"mari saya antar"
"gak usah pak, gampang.. nanti saya naik ojek"
Buku yang saya baca saya hadiahkan dengan ikhlas ke Pak Nasrullah. Beliau sangat senang.

Lagi nunggu ojek di tepi jalan MH Thamrin yang sudah sepi, tiba2 mendekat sebuah motor ternyata Pak Nasrullah.
"Ayo saya antar.. saya biasa ikut mudzakarah di sana cuma sekarang lagi tugas" 
"Terimakasih Komandan !"

Alhamdulillaaah, hari ini  Allah sudah mengirim 2 org baik untuk menolongku. Allah punya skenario...


 tidur di emperan Masjid Keling Padang
Masjid Muhammadan atau populernya Masjid Keling adalah salah satu masjid tertua di Indonesia (th 1843) sekaligus cagar budaya yang terletak di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota PadangSumatra Barat. Masjid ini merupakan masjid peninggalan sejumlah Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1843. Masjid dengan arsitektur bercorak India ini berada dalam kawasan Kota Tua Padang, yakni kawasan sehiliran Batang Arau di sekitar pelabuhan Muara.
Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang. Masjid ini berada di Jalan Pasa Batipuh yang berdiri berjejer mengikuti rangkaian bangunan tua di sepanjang jalan tersebut.
Saat ini selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid berlantai tiga ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar, bahkan juga menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di Kota Padang.

Masjid Keling malam itu sangat ramai dengan jamaah tabligh, tak ada space yg tak terisi jamaah. Saya 'dapet' tempat di emperan sisi trotoar parkiran motor. Lumayan buat istirahat baring di atas tikar yg sdh tersedia. 

Bersiap melanjutkan langkah ke Bukit Tinggi besok fajar...terus melangkah bersama takdir Ilahi..sekian kabupaten, sekian surau, sekian desa/nagari, sekian angkot/bus sampai ke Istana Maimoon Tanah Deli...

Jam 03 dinihari saya bangun mandi, ikut itikaf sambil menunggu subuh. Pagi setelah sarapan lontong (Rp 6000K) di warung yg tak jauh dari masjid saya lanjut berjalan kaki menuju jalan besar, naik angkot (Rp 3000K) ke pool mobil travel dan melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi dgn minivan (Rp 20.000K).

Padang merupakan salah satu gerbang untuk memulai menjelajah wilayah Sumatera Barat, Padang – Bukittinggi memiliki jarak sekitar 96 Km.

Waktu tempuh perjalanan dalam kondisi normal dapat di tempuh sekitar 2,5 jam, dengan kecepatan kendaraan rata-rata 40 Km, jika perjalan di saat hari libur atau di akhir minggu biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 3 – 3,5 Jam, hal ini dapat di sebabkan kondisi jalan yang sangat ramai, atau terjadinya longsor di beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Lembah Anai.



Dari Padang ke Bukittinggi, melewati beberapa kabupaten dan kotamadya, selepas kota Padang memasuki kabupaten Padang Pariaman, ini merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan kota Padang.
Selanjutnya memasuki Kota Padang Panjang, di perbatasan Padang Pariaman dan Padang Panjang, terdapat daerah yang terkenal dengan jajanan telur asin, yaitu daerah Sicincin. Penjual telur asin dapat kita jumpai depan terminal daerah Sicincin dan dekat masjid yang digunakan kendaraan pribadi untuk istirahat sambil melakukan ibadah di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi.
Melewati Lembah Anai kita dapat melihat lintasan kareta api peninggalan jaman kolonial Belanda yang dulu di gunakan sebagai transportasi membawa batu bara dari daerah Sawahlunto ke Kota Padang.
Menikmati landscape atau pemandangan dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Merapi dari sisi barat.View dua gunung ini menjadi salah satu pemandangan yang sangat menarik sepanjang perjalanan dari Padang Panjang menuju Bukittinggi. Sangat indah ! 

Turun di terminal Aur Kuning saya langsung naik angkot ke ikon Bukit Tinggi yaitu Jam Gadang lalu lanjut ke :
1. Masjid Raya
2. Taman Panorama Rp 3K
3. Taman Margasatwa Rp 5K
4. Ngarai Sianok  
5. Lobang Jepang + Guide lokal Rp 30K
               


  
Setelah mengikuti sholat jumat dan menikmati keaslian Nasi Kapau di Pasar Atas kembali saya mengeksplor beberapa destinasi wisata Bukit Tinggi.

  

Tempat penyiksaan tahanan Pejuang

Benteng Fort De Kock

Museum Hatta
  
  

Ngarai Sianok



Taman Panorama

Pintu masuk Taman Margasatwa


 Bubua Sianok : duren, ketan item & merah, cendol, sumsum, pisang, santan, gula merah....Rp. 8000, mau lagiiiiii!



Tak terasa hari sudah mulai sore, mulai mikir nginap di mana ? Saya kembali ke terminal Aur Kuning. Dari deretan angkot parkir dengan berbagai jurusan, saya kok tertarik melihat jurusan ke Sungai Sariak. (pikirku pasti dekat sungai) Saya naik saja. Sudah sejaman angkot berjalan, penumpang satu-dua sudah turun sampai tinggal saya. 
"Bapak turun di mana?" tanya sopir.
"sampai ujung saja"
"ini sudah habis pak, mau muter balik, Bapak itu mau ke mana?"
"mau cari sodara di desa Sariak" jawabku sekenanya 
"Ya sudah turun di sini saja Uda..tks" 


Saya turun tak jauh dari pangkalan ojek di gerbang desa. Kata sopir naik ojek aja ke dalam. Saya berjalan melewati pangkalan ojek sekitar 20 m dgn biasa agar tidak dikira orang pendatang, baru saya bertanya ke seorang Ibu.
"Assalamualaikum...permisi Bu, kalo mau ke mesjid terdekat di sini di mana bu?"
"Di dalam (desa) pak, lumayan jauh" jawabnya dgn logat Minang yg kental.
"Maaf Bu, kalo naik ojek kira2 brapa?"
Setelah tau "harga normal" saya baru ke pangkalan ojek....hehehe daripada kena scam?
Ojek menurunkanku di depan masjid Syuhada, saya membayar ojek Rp 10K.



view dari depan Masjid Syuhada, sawah menguning dgn latar lereng Gunung Singgalang



Masjid Syuhada tampak dari bukit
Saya seperti mendapat durian runtuh "nyasar" ke sebuah masjid tua di tepi sawah yang sangat indah dengan mata air yang tak pernah kering. Eh mana sungainya ya?.

Dalam buku “Masdjid dan Makam Doenia Islam”, cetakan Balai Poestaka–Weltevreden tahun 1926 memuat foto serta komentar singkat sebagai berikut:   “Inilah seboeah lagi masdjid jang didirikan mendoeroet matjam baroe. Masdjid Sarik ini boekan boeatannja sadja jang bagoes, tetapi letaknja djoega, disisimata air jang besar, di lereng goenoeng Merapi, berpemandangan bagoes ke kaki goenoeng Singgalang dan ke Fort de Kock. Menaranja jang tjantik itoe soedah roboh tatkala gempa boemi jang terdjadi dengan takdir Toehan di Soematera Barat”.
ALLAHU AKBAR ! tak hentinya saya mengucapkan syukur bisa sampai ke sini.





Salah satu masjid tua di Sumbar ini didirikan pertama kali tahun 1800-an. Semula bangunannya terbuat dari kayu kemudian diganti dengan tembok. Meski masjid ini berlantai dua, namun tidak menggunakan kerangka besi. Bahan perekatnya bukan pula semen, melainkan dari kapur sirih yang dicampur dengan pasir.   Seperempat abad setelah berdirinya masjid, tahun 1926 gempa bumi vulkanik dengan kekuatan 6,5 SR, yang terkenal dengan gempa Padang Panjang, menggoncangkan seluruh bangunan di sekitar Gunung Merapi. Ajaibnya, bangunan masjid tersebut tidak mengalami apa – apa, kecuali menara masjid yang mirip dengan menara masjid Kudus roboh separohnya. Pada sisa bangunan menara, dibangun saja kuncup atap seperti sebelumnya. Sehingga tinggi menara tidak lagi setinggi pertama sekali dibuat. Kubah baru tanpa menggunakan pipa besi untuk penyangganya. Untuk perekat tembok masih menggunakan kapur sirih. Masjid lama berarsitektur asli dengan bentuk atap punden berundak.  



Di masjid saya berkenalan dengan Bang Ijan, seorang pemuda usia sekitar 26 tahun. Ba'da sholat Isya ia mengajak saya nginap di rumahnya. Mungkin rasa kemanusiannya yg tinggi gak tega melihat seorang pengembara sendirian di masjid. Biasanya kalo  ada "tawaran" dari orang asing, feeling dan intuisi saya langsung bekerja cepat untuk membaca situasi apakah ini sebuah peluang atau ancaman? Saya memutuskan menerima tawaran Ijan. Di tengah kegelapan desa
di lereng Singgalang yang listriknya bersumber  dari sebuah mesin genset kecil karenanya penerangan sangat terbatas, kami berjalan, saya agak terseok-seok krn belum beradaptasi dgn lingkungan. 
Di depan rumah gubuk Ijan anjing2 pemburu miliknya menyalak dg liur menetes. Gilak, aku merinding. 

Rumah berdinding kayu dan gedek ini cukup besar layaknya rumah di kebanyakan desa. Bang Ijan tinggal sendiri. Ruang dapur dgn tungku kayu bakar, kamar mandi/WC terletak di samping dengan penyekat pintu ke ruang tamu/keluarga dengan kamar berderet 3. Kamar pertama adalah kamar Bang Ijan, Kamar kedua kamar kosong dulunya ditempati nenek Bang Ijan (kabarnya sudah lama ke Jakarta dan tak pulang). Kamar paling ujung kosong, bekas kamar orangtua Ijan yang sudah meninggal.  Malam itu Ijan memanggil Uwaknya yang tinggal tak jauh dari rumah Ijan, untuk menyiapkan makan malam mendadak
Sebetulnya dari masjid tadi saya mengajak Ijan untuk makan ke warung, tapi kata Ijan di sini gak ada warung, harus ke kota kecamatan naik motor.

Uwak Bang Ijan memasak : sayur tumis, goreng telur, ikan asin.  Uwaknya sudah lebih dulu balik sebelum kami makan. Kami makan bertiga dengan ponakan Ijan (putera Uwaknya). Saya makan sangat lahap, emang lapar siih..mana dingiiin :)
Ya Allah, untuk kesekian kalinya Engkau mendatangkan penolong bagiku. Pengembara kere yang selalu bersyukur dan hanya takut pada-Mu.

Selesai makan dan ngobrol Ijan dan ponakannya izin meninggalkan rumah untuk musyawarah dengan teman2nya sesama penggerak PNPM Mandiri. Sebelum pergi ia menunjuk kamar tengah untuk istirahat (kamar nenek). Kamar nenek berukuran sekitar 2.5 x 3.5 berisi 1 ranjang besi jaman doeloe + kelambu, lemari pakaian dan tumpukan barang2 lama spt kasur, selimut dsb. Dinding kamar dari papan dan langit2 tanpa plafon.
 

Tinggallah saya sendiri di rumah dengan penerangan hanya satu  buah lampu bohlam 10 Watt dengan cahaya kuning (warm light) di ruang keluarga. Oh my God! Horor banget ini mah... :(  Saya ke belakang mengendap-endap utk berwudhu lalu sholat di ruang keluarga depan jendela kaca tanpa gorden. Di luar sana gelap gulita dan lolongan anjing.

Saya masuk kamar nenek merebahkan diri di ranjang besi. Setiap tubuhku bergerak ranjang berderit-derit. Saya memandang atap rumah, mata seperti tak mau berkedip. Imajinasiku berkembang liar dan menakutkan. Di sebelahku kamar alm. oragtua Ijan. Kosong. Sebelah lagi kamar Ijan. Kosong.  Di luar suara anjing2 pemburu sesekali masih menyalak dan melolong sedih di kandang. Apakah "ada yang dilihatnya?"  
Ini bener2 uji nyali. Saya berharap Ijan segera pulang. Tapi sampai jam 1 malam Ijan tak kembali (ternyata dia memang nginap di rumah temannya dan baru balik pagi).
Sekitar jam 2 malam panggilan rutin pipis datang. Kukuatkan iman dan mentalku, ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi. Tak bisa kuhindari. Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Saya ke ruang belakang yg gelap gulita, tanganku meraba-raba mencari tombol lampu. Adrenalinku mengalir bergerak cepat. Lama kucari, kuraba..alhamdulilah akhirnya kutemukan juga.

Lega. Selesai menunaikan hajat aku mengintip ke luar jendela. Gelap. Daun2 bergerak ditiup angin Singgalang. Aku kembali ke ranjang. Aku tak menurunkan kelambunya, rasanya malah bikin tambah teringat Suzana. Aku tidur2 ayam menunggu subuh. 



Pagi cerah aku mengitari dusun sariak di lereng gunung Merapi Singgalang ditemani Ijan, bkn mbah Marijan yak ?! bang ijan anak muda peladang juga Kordinator  PNPM Mandiri. 



Profil Bang Ijan


Rumah besar2 tapi kosong ditinggal merantau. Sepi.


Jam 09.00 saya menyewa Ojek teman Ijan untuk mengantarku ke Danau Maninjau, Museum Hamka, Danau Singkarak dan berakhir di terminal Aur Kuning. 
Saya pamitan dengan Ijan dgn ucapan teriimakasih yg sebesar-besarnya dan berharap suatu ketika bertemu kembali. Saya memberikan kartu nama dan berharap kalau ke Jakarta menghubungi saya. Alhamdulillah indahnya silaturahmi.

Ojeker Danau Maninjau
Uda Edi dari Nagari Sariak, Ojek spesial
  

Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung RayaKabupaten Agam, provinsi Sumatra BaratIndonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibu kota Sumatra Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam.
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera dari letusan besar gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km3 material piroklastik. Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatra yang bernama gunung Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m (Verbeek, 1883 dalam Pribadi, A. dkk., 2007).
Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.
Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.
Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatra Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.


Danau Maninjau di bawah sana...
Mampir ke Rumah Buya Hamka






GO Danau Singkarak




Uda Edi memacu motor Astreanya menuju Danau Singkarak yang berjarak 98 Km melalui jalan Padang Lua, melewati Tanjung Barulak.
Tanjung Barulak

Danau Singkarak adalah destinasi wisata alam yang menarik perhatian para pengunjung saat bertandang ke Sumatra Barat. Danau terbesar di Sumbar ini menyimpan banyak cerita menarik. Utamanya ada kisah turun temurun di kalangan masyarakat sekitar danau.
Salah satunya cerita terowongan yang menghubungkan Danau Singkarak ke Danau Maninjau. Sulit memang jika dicerna dengan logika. Hingga kini, belum satu pun penemuan yang bisa membuktikan keberadaan terowongan tersebut.
Cerita terowongan ini sering dikaitkan dengan keberadaan Tangga Batu Basurek di dasar Danau Singkarak yang diyakini berada di Sumpur Kudus. Cerita mistis ini tidak sepenuhnya diamini masyarakat setempat.





Menjelang jam 5 saya sudah di Terminal Aur Kuning. Menunaikan upah Uda Edi Rp 100K. Thankyou Uda. Nih kartu nama saya, kalo ke Jakarta main ke tempat saya ya....
Bersama 2 orang bekpeker dari Denmark terjebak akal2an calo terminal. Tiket tujuan Parapat Toba dengan bus ALS kok sekarang dioper ke mobil travel (Grandmax) dan tambah duit pula. Alasannya Bus lama, dengan van lebih cepat sampai ke Toba. Janji berangkat jam 17.. skr? sdh jam 18 too late! tu lalit khas Melayu...

Mobil travel keluar terminal menuju Toba? Belum! kami diturunkan di pinggir jalan raya Bukit Tinggi Km. 5 di sebuah warung Sanjay, warung oleh2 Minang. Lalu van kembali ke kota menjemput penumpang.
Sejam dua jam berlalu van belum balik jua. Saya tercenung di warung sanjai .. Kapan jalan? tiba2 rasa kangen menjalar..kangen my sweet heart: aini, dhea n diva...i luv u all!

baring2 dibawah display keripik sanjay

Bad news bikin mengkal, hampir jam 22 ..jam segini belum jg berangkat? uang transport mereka sudah terima..tersandra deh, si bule sdh ngomel2 piye to? sabar mister..ini sudah skenario-Nya ! (menghibur diri gue).
Akhirnya jam 22 van muncul membawa penumpang tambahan 2 gadis bule dan 1 pribumi. 
Kami meluncur ke Rantau Parapat bersama 4 bule: Skotlandia, England, Denmark. Duduk di kursi paling belakang bersama mereka. Kami kenalan, akuh jadi Tarzan euy!..


To be continued...

5 backpacker senasib sepenanggungan dalam berbagai tantangan di perjalanan menuju Toba


ANDALAS UNDERCOVER Ep. 2

ANDALAS UNDERCOVER Ep. 1 ANDALAS UNDERCOVER Ep. 1 Reviewed by Sofyan Saleh on September 20, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar

Disqus Shortname

theme-daddy

Comments System

[blogger][disqus][facebook]

Travel everywhere!