ANDALAS UNDERCOVER Ep. 1
Panggil saja SS. Lelaki pengikut angin. Menyukai berdiam dan berjalan sendiri, bintang, warna biru, kopi dan kata-kata. Tidak suka hujan.
Desember 2010.
Masa libur alias cuti sebentar lagi tiba. Sejauh ini saya belum memutuskan akan berangkat solo trip ke mana, meskipun sebenarnya jauh-jauh hari, kira-kira sebulan sebelumnya saya sudah memulai hunting lokasi melalui beberapa situs, blog di internet dan membaca beberapa buku-buku travelling menarik seperti ke Thailand, Vietnam dan Malaysia dengan anggaran Rp 2 jutaan? Wow!. Hal tersebut mungkin saja dengan persiapan waktu yang lebih awal, sementara saat ini saya tak punya waktu seluang itu. Mungkin tahun berikutnya ya? Who knows?.
Masa libur alias cuti sebentar lagi tiba. Sejauh ini saya belum memutuskan akan berangkat solo trip ke mana, meskipun sebenarnya jauh-jauh hari, kira-kira sebulan sebelumnya saya sudah memulai hunting lokasi melalui beberapa situs, blog di internet dan membaca beberapa buku-buku travelling menarik seperti ke Thailand, Vietnam dan Malaysia dengan anggaran Rp 2 jutaan? Wow!. Hal tersebut mungkin saja dengan persiapan waktu yang lebih awal, sementara saat ini saya tak punya waktu seluang itu. Mungkin tahun berikutnya ya? Who knows?.
Lalu kemana Bro? Bali?
Akh sudah berkali-kali mengunjungi Pulau Dewata rasanya bosen juga. Ke Lombok! Yeah
saya tertarik dengan Lombok karena beberapa hal: pertama, tentu saja karena saya belum pernah
ke sana heheh….. Kedua, konon alamnya sangat mempesona, pantainya terkenal
keindahannya seperti Pantai Senggigi, dst.
Tiba-tiba saja terjadi gempa dan tsunami yang memporak porandakan pulau Mentawai Padang. Tak berapa lama kemudian Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman, wilayah DI Yogyakarta mengalami erupsi ..wedhus gembel…..mbah Marijan…banjir lava dingin..korban berjatuhan…blab bla blaa..
Tiba-tiba saja terjadi gempa dan tsunami yang memporak porandakan pulau Mentawai Padang. Tak berapa lama kemudian Gunung Merapi yang terletak di Kabupaten Sleman, wilayah DI Yogyakarta mengalami erupsi ..wedhus gembel…..mbah Marijan…banjir lava dingin..korban berjatuhan…blab bla blaa..
Menyaksikan
kejadian itu di televisi hati saya berbuncah, tergugah ingin membantu
dengan segala kemampuan saya. Rasanya tertarik untuk melibatkan diri menjadi bagian
dari Relawan. Tak perlu di garis depan, karena saya tak punya pengalaman
professional sebagai Relawan. Barangkali cukup menjadi relawan di ring 2 atau 3,
barangkali memasak di dapur umum? atau mendongeng di hadapan anak-anak korban
Merapi untuk pemulihan dari trauma? Saya bisa dan saya ingin ke Yogya!. Melalui
internet saya mencari info tentang Relawan Yogya. Saya mengumpulkan beberapa
alamat posko yang bisa saya hubungi pada saat nantinya tiba di Yogyakarta.

Pada saat yang bersamaan pekerjaan di kantor tampaknya belum memungkinkan untuk ditinggalkan begitu saja. Masih ada tugas-tugas penting yang harus diselesaikan. Mau tak mau masa cutipun mulur. Hari demi hari berlalu dalam aktivitas kerja, sementara itu intensitas dari aktivitas Merapi mulai menurun. Kondisi Yogyakarta berangsur-angsur membaik dan aman. Para pengungsi mulai kembali ke rumahnya masing-masing.

Pada saat yang bersamaan pekerjaan di kantor tampaknya belum memungkinkan untuk ditinggalkan begitu saja. Masih ada tugas-tugas penting yang harus diselesaikan. Mau tak mau masa cutipun mulur. Hari demi hari berlalu dalam aktivitas kerja, sementara itu intensitas dari aktivitas Merapi mulai menurun. Kondisi Yogyakarta berangsur-angsur membaik dan aman. Para pengungsi mulai kembali ke rumahnya masing-masing.
Hal
ini mempengaruhi keinginan saya untuk ke Yogyakarta. Saya kembali search di
Google. Saya browsing beberapa destinasi wisata tanah air. Kenali tanah airmu
kenali bangsamu (jiaah kayak pejabat aja).
Setelah membaca berbagai informasi wisata domestik, arah tujuan saya
berubah!. Saya ingin solo trip ke Sumatera! Daerah ini tidak begitu asing bagi saya
karena di sini saya pernah bertugas selama sekitar 2,5 tahun, persisnya di kota
Palembang Sumatera Selatan (1996-1999). Saya sudah pernah mengunjungi beberapa obyek wisata seperti Danau Ranau, Museum
Sriwijaya, Benteng Kutobesak, Muntok, Tanjung Pinang, Jambi dan
sebagainya.
Saya
memutuskan menjelajahi Sumatera Barat sampai
ke Sumatera Utara. Dimulai dari kota Padang dan berakhir di kota Medan.
Semula saya merencanakan menggunakan moda angkutan darat dari Jakarta ke
Padang. Namun dengan pertimbangan harga tiket via darat versus via udara
selisihnya tak seberapa berbanding
dengan waktu tempuh, maka saya memutuskan untuk ke Padang dengan moda
udara. Kemudian menempuh jalur darat ke Danau Toba (Parapat) melintasi kota2 kabupaten dengan tujuan akhir Medan.
Selanjutnya dari Medan kembali ke Jakarta melalui jalur udara.
| Sungai Komering Th 2009 |
| Rental motor untuk menjelajah Tanah Komering th 2009 |
| Rumah tua kakek , puluhan tahun ditinggal kosong msh exist |
Setelah
mendapat kepastian jadwal cuti, 4 hari sebelum hari H, cukup mepet ya, saya segera memesan tiket termurah diantara beberapa flight company untuk tujuan
Jakarta ke Padang dan tiket Medan ke Jakarta
sepekan berikutnya. Alhamdulillah saya mendapatkan tiket promo dari Lion Air
untuk rute Jakarta – Padang tanggal 09 Desember 2010 jam 07.00 WIB dengan rate
Rp 362.000,- dan tiket Lion Air untuk rute Medan – Jakarta tanggal 15 Desember
2010 jam 14.30 WIB dengan rate Rp 434.000,-. Keduanya menggunakan pesawat
terbaru Boeing 737 ER-900.
Setelah
memperoleh tiket dan tentu saja kepastian berangkat, saya mulai menyusun
ittinerary perjalanan sebagai berikut :
Tanggal
09 Desember , jam 07.00 WIB:
Dari
Jakarta terbang ke Padang dengan Lion Air Boeing 737 ER-900. Rencana kunjungan: Museum Adityawarman, Masjid Raya
Muhammadiyah, Pantai Air Manis (legenda Malin Kundang), Monumen Gempa Bumi,
Teluk Bayur, Pasar Raya, Masjid Raya Gantiang.
Tanggal 10 Desember 2010, jam 09.00 WIB:
Dari kota
Padang berangkat ke Bukit Tinggi dengan menggunakan bus AKAP. Rencana obyek
yang akan saya kunjungi : Masjid Raya
Bukit Tinggi, Taman Margasatwa, Benteng Fort De Kock, Taman Panorama, Lobang
Jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai, Plaza Jam Gadang, Istana Pagaruyung, Museum
Bung Hatta. Sungai Puar Desa Sariak Lereng Gunung Merapi, Rumah Buya Hamka, Danau
Maninjau, Danau Singkarak.
Tanggal 11 Desember 2010, jam 17.00 WIB :
Meninggalkan
Bukit Tinggi dengan bus ALS menuju Parapat Kabupaten Tobasa.
Tanggal 12
Desember 2010, jam 10.00 WIB:
Menyeberangi
Danau Toba dengan kapal feri ke Pulau Samosir. Menginap 2 malam. Obyek
kunjungan : Desa Tomok, Ambarita, Hot
Spring, Makam Raja-raja Batak, dan sebagainya
Tanggal 14 Desember 2010, jam 09.00 WIB :
Meninggalkan
Toba menuju kota Medan dengan bus via Pematang Siantar dan Tebing Tinggi.
Menginap di kota Medan dua malam. Rencana kunjungan ke Masjid Raya Al Mashun,
Istana Maimoon, Kuil Hindu dan city tour (bangunan tua, pasar tradisional, mall to mall, jajan
kuliner khas Medan).
Tangga 15
Desember 2010, jam 14.00 WIB :
Menyelesaikan
perjalanan dan kembali ke Jakarta dengan Lion Air Boeing 737 ER-900.
Demikian itinerary rute perjalanan meski pada kenyataannya terjadi sedikit perubahan karena sikon di
perjalanan. Allah Maha Pengatur...
Welcome
to Minangkabau.
Waktu
menunjukkan pukul 09.00 WIB dengan kondisi cuaca yang sangat cerah, suhu
sekitar 30’ C saat burung besi Boeing
737 ER-900 mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Minangkabau.
Bandar
Udara Internasional Minangkabau mempunyai lahan seluas 430 Ha terletak
disepanjang pantai di Ketaping, Batang Anai wilayah Kabupaten Padang Pariaman,
sekitar 23 km dari arah utara Kota Padang. Bandar udara ini merupakan pengganti bandara Tabing yang dari segi
geografis kurang menguntungkan dan tidak dapat mengakomodasi pesawat berbadan
lebar jenis Airbus 330. Bandara Internasional Minangkabau dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan
penggunaannya pada tahun 2005 oleh Wapres Jusuf Kalla.
![]() |
| Angkot Padang Full Disco |
Eagle has
landed...saatnya menyusuri keindahan indonesia yg sebagian ada di sepanjang Sumbar dan
Sumut. ayo angkat ranselmu kawan!
Sekitar
jam 10 keluar dari bandara saya berniat naik bus bandara menuju kota Padang.
Saya pikir seperti di bandara Soeta bus bandara selalu standby maka saya
menggunakan waktu sebentar untuk motret-jepret suasana sekitar bandara. Setelah
itu saya menuju halte bus. Rupanya bus sudah jalan, tidak ada bus lagi.
Informasi petugas bus berikutnya datang jam 12.30 WIB. Wadduh!. Alternatifnya ada
taksi dan ojek. Untuk menghemat saya putuskan menggunakan ojek keluar dari
kawasan bandara sampai ke jalan raya dengan membayar Rp 12.000,- lalu
melanjutkan perjalanan menggunakan angkot dengan ongkos Rp 3.000,- menuju Pasar
Raya di pusat keramaian kota Padang.
![]() |
| Metromini full music. Loud! |
Salah satu cara yang dilakukan oleh para supir angkot di kota Padang untuk meraih penumpang adalah dengan bersaing mendandani angkot mereka sedemikian rupa . Para supir berlomba untuk mendesain eksterior dan interior mobil mereka yang diberi berbagai macam aksesoris dan modifikasi body mobil. Jika biasanya bagian luar angkot dicat dengan warna polos, di kota Padang banyak ditemui angkot dengan beragam air brush. Tidak cukup dengan gambar air brush saja, para supir juga menambahkan berbagai stiker pada bagian body luar mobil.
![]() |
| Rugi kalo gak nyobain angkot modif Padang, Super Loud! |
Pasar
Raya yang terletak di pusat kota merupakan pasar tradisional terbesar di Kota
Padang. Namun kondisi pasar tersebut jauh dari nyaman karena kumuh, becek,
banyak sampah dan semrawut, karena tidak tertatanya pedagang kaki lima,
terutama di sepanjang Jalan Sandang Pangan.
![]() |
| Pasaraya Padang |
Kesemrawutan pasar diperparah macetnya jalan karena sejumlah angkot melewati Jalan Sandang Pangan. Banyaknya PKL hanya menyisakan jalan yang sempit untuk angkot yang harus berebutan dengan becak, motor, dan sepeda. Akibatnya para pengunjung jalan yang berjalan kaki merasa tidak nyaman.
Turun
dari angkot saya berjalan menuju Masjid Raya Muhammadiyah, tidak jauh dari
Pasar Raya, untuk istirahat sambil menunggu waktu sholat Dhuhur. Masjid ini
terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama digunakan oleh unit-unit usaha
Muhammadiyah seperti Lazis, Biro Perjalanan Haji, Fotocopy/ATK sampai
Barbershop, dsb. Sepanjang halaman masjid banyak sekali orang yang berdagang
Kalender 2011 buatan Muhammadiyah, tidak ada pilihan yang lain.
Lantai
dua digunakan untuk beribadah dengan daya tampung 500-700 jamaah. Setelah
berwudhu dibawah saya menuju ke lantai 2 sholat sunnah lalu mengikuti taklim
yang sedang berlangsung sembari menunggu waktu Dhuhur. Jamaah sangat ramai
seperti jumatan saja. Usai sholat Dhuhur saya iseng menghitung jumlah shaf ada
9, 1 shaf panjangnya sekitar 20 meter. Ramai kan, kalau di Jakarta dengan situasi
yang sama paling banter 1 shaf sekitar 20-30 jamaah. Urang Minang selain
berdagang memang dikenal religious. Setelah
berdoa saya mendekati seorang jamaah menanyakan beberapa destinasi wisata yg
ada di kota Padang sekaligus dengan moda angkutannya.
Keluar
dari masjid saya berjalan kaki menyusuri jalan sekitar 700 – 1000 meter menuju
Museum Adityawarman. Sepanjang jalan melewati beberapa bangunan yang
retak-retak, rubuh, pasca gempa bumi yang melanda kota Padang pada tanggal 30
September 2009 dengan kekuatan 7,9 SR. Guna memperingati kejadian yang
mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, berbagai sarana-prasarana
publik, rumah, serta terganggunya aktifitas warga dan pelayanan pemerintah
tersebut maka pemerintah Kota Padang membuat sebuah monument yang berlokasi tidak
jauh dari hotel Ambacang yang mengalami kerusakan paling parah di Jalan Gereja
tepatnya di area Taman Melati, Museum Adityawarman. Monumen tersebut diresmikan
pada tanggal 30 September 2010.
Untuk
memasuki halaman museum yang luas, terletak di jalan Diponegoro No. 10,
terlebih dahulu saya membeli tiket di loket seharga Rp 3.000,-.
Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977. Pada tanggal 28 Mei 1979, museum tersebut diberi nama "Adityawarman". Nama Adityawarman diambil dari nama seorang Raja besar yang pernah berkuasa di Minangkabau, sezaman dengan Kerajaan Majapahit pada masa Patih Gajah Mada.
Museum Adityawarman merupakan museum budaya terpenting di Sumatera Barat.
Museum tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan
benda-benda bersejarah seperti cagar budaya Minangkabau, cagar budaya
Mentawai dan cagar budaya Nusantara. Untuk menjaga kelestarian koleksi
benda-benda bersejarah tersebut, pemerintah setempat membentuk tim kecil
yang bertugas sebagai tenaga educator, konservator, preparator dan pustakawan.
Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tanggal 16 Maret 1977. Pada tanggal 28 Mei 1979, museum tersebut diberi nama "Adityawarman". Nama Adityawarman diambil dari nama seorang Raja besar yang pernah berkuasa di Minangkabau, sezaman dengan Kerajaan Majapahit pada masa Patih Gajah Mada.
Koleksi
utama yang terdapat di Museum Adityawarman dikelompokkan ke dalam sepuluh macam
jenis koleksi, yaitu: Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika,
Arkeologika, Historika, Numismatika /Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni
Rupa dan Teknalogika. Dari sepuluh macam jenis koleksi tersebut
dapat dirinci sebagai berikut.
Jenis
Geologika/Geografika, terdiri dari beraneka ragam Permata, Granit, Andesit
Peta, dan alat pemetaan. Jenis Biologika, terdiri dari beberapa rangka manusia
purba, rangka hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Jenis
Etnografika, terdiri dari benda-benda bersejarah yang menggambarkan suatu
kegiatan budaya dan identitas suatu etnis. Jenis Arkeologika terdiri dari
benda-benda bersejarah hasil budaya yang dihasilkan pada masa pra-sejarah
hingga masa masuknya budaya Barat. Jenis Historika koleksinya terdiri dari
benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan keorganisasian, tokoh dan negara.
Jenis
Numismatika /Heraldika koleksinya terdiri dari beraneka ragam jenis mata uang
atau alat tukar, tanda jasa berupa pangkat, cap dan stempel. Jenis kolesi
Filologika koleksinya terdiri dari naskah-naskah kuno. Jenis Keramologika koleksinya
terdiri dari barang-barang pecah belah peniggalan masa lalu.
Jenis
kelompok seni rupa koleksinya terdiri dari seni pengalaman artistik yang
dapat dilihat melalui objek-objek 2 dimensi dan 3 dimensi. Terakhir jenis
kelompok Teknologika, koleksinya terdiri
dari benda-benda peninggalan yang menggambarkan perkembangan teknologi
dari tradisional sampai modern.
Koleksi pendukung yang dimiliki Museum Adityawarman adalah benda purbakala peninggalan Kerajaan Dharmasraya, yaitu berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa. Di samping itu juga ada koleksi pending yang terbuat dari perak yang dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan dilengkapi permata berwarna putih mengkilat pada bagian tengahnya. Pending sering dipakai oleh penghulu pada setiap upacara adat di Minangkabau.

Koleksi pendukung yang dimiliki Museum Adityawarman adalah benda purbakala peninggalan Kerajaan Dharmasraya, yaitu berupa duplikat patung Bhairawa dan patung Amoghapasa. Di samping itu juga ada koleksi pending yang terbuat dari perak yang dilapisi emas tua seberat 17,5 gram dan dilengkapi permata berwarna putih mengkilat pada bagian tengahnya. Pending sering dipakai oleh penghulu pada setiap upacara adat di Minangkabau.
Koleksi museum terletak dalam sebuah bangunan rumah adat Minangkabau (Rumah
Gadang) dengan gaya bangunan Gajah Maharam. Di depan bangunan museum tersebut,
terdapat dua buah lumbung padi sebagai pelengkap bangunan Rumah Gadang,
kemudian dipadukan dengan miniatur pedati, bendi dan pesawat perang sisa
peninggalan perang dunia ke-II.
Sebelum
meninggalkan museum saya menghampiri petugas museum menanyakan rute angkot ke
Pantai Air Manis tempat ber’semayam’ si Malin Kundang. Sementara itu kampung
tengah mulai perih. Sudah jam 14.15
WIB. Sebuah koloni di dalam perut menuntut suplay energy. Tengok kiri tengok
kanan mencari rumah makan Padang tapi tidak ada. Di seberang museum di depan
sekolah Katholik ada sate Padang, ya sudah makan siang dengan sate Padang.
Seporsi Rp 9.000,-. Hemmm…tapi rasanya kok lebih enak sate padang yang di
Jakarta ya?
Legenda
Malin Kundang
Setelah
perut terisi seporsi sate padang+ketupat saya melanjutkan perjalanan. Dari
depan museum Adityawarman naik angkot 03 berwarna biru rute Pasar Raya – Teluk
Bayur PP. saya memilih duduk di kursi depan samping Pak Sopir biar bisa
menikmati perjalanan melihat-lihat
suasana kota Padang. Sesekali ngobrol dengan sopir. Saya sampaikan ke Pak Sopir
agar saya diturunkan sebelum Pelabuhan Teluk Bayur, tepatnya di simpang tiga jurusan
ke Pantai Air Manis.
Selang
30 menit perjalanan angkot telah sampai di ujung rute yaitu Teluk Bayur, arah
selatan kota Padang. Lho kelewatan dong? Pak sopir minta maaf lupa menurunkan
saya di simpang tiga. Saya bilang nggak masalah. Namanya juga jalan-jalan,
nyasar adalah hal yang lumrah. Saya ikut aja lagi di angkot yang sama balik ke
arah Pasar Raya. Sesampainya di simpang tiga saya turun dan membayar Rp
3.000,-.
Dari
simpang tiga menuju ke Pantai Air Manis dapat
ditempuh dengan angkot atau ojek yang banyak mangkal di simpang. Pengojek
menawarkan jasa dengan tarif nego Rp. 10.000 – Rp 20.000,-. Saya menunggu
angkot saja. Tarif hanya Rp 3.000,-. Cukup lama saya menunggu tapi kok angkot
nggak ada yang lewat ya? Kata seorang pelajar, memang jarang dan sudah sore.
Saat dalam penantian, seorang anak muda mendekati dan menyapa. Kami berkenalan.
Saya waspada…siapa tau mau usil. Eh dia mengira saya seorang anggota Jamaah
Tabligh, karena melihat potongan celana saya yang ‘nggantung’ di betis dengan
peci coklat penutup kepala. Rupanya dia sering ikut pengajian Jamaah Tabligh.
Saya berterus terang bahwa saya bukan anggota jamaah, meski hal itu tak asing
bagi saya. Saya hanya pengelana. Obrolan tampaknya nyambung. Matahari makin
meninggi. Kecurigaan saya luntur, tampaknya dia orang baik-baik. Bahkan, akhirnya
dia menawarkan boncengan menuju Pantai Air Manis. Pucuk dicinta ulam tiba! Kami
berboncengan motor menuju pantai. Melewati jalan berbukit-bukit dengan rindang
pohon sekeliling yang hijau menyegarkan. 10 menit kemudian sampailah kami di
Pantai Air Manis. Saya diantar ke bongkahan karang di bibir pantai yang
menyerupai kapal karam dan tak jauh dari situ terdapat karang yang menyerupai
manusia tertelungkup. Dia adalah legenda si anak durhaka, Malin Kundang!.
Alkisah, pada suatu waktu, ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Pantai Air Manis @
Teluk Bayur, disinilah Malin Kundang terkapar dilaknat Bundo Kanduang
|
Alkisah, pada suatu waktu, ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin
termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan
memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia
tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi
berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena
merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk
membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi
kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
Awalnya
Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali
setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela
melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama
berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak
buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di
tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh
bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas
oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di
kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia
sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak
dibunuh oleh para bajak laut.
Malin
Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang
ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin
Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin
terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia
memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100
orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis
untuk menjadi istrinya.
Berita
Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada
ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira
anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga,
menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah
beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak
buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan
kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak
kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang
beserta istrinya.
Ibu
Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka
dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati
adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu
lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang.
Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin
Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah
ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak
buahnya.
Mendapat
perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak
menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu
Malin menyumpahkan anaknya, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi
dia menjadi sebuah batu".
Tidak
berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah
perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu
tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk
menjadi sebuah batu karang.
Matahari kian
meninggi, kami beranjak kembali meninggalkan pantai. Kami mampir di sebuah
surau yang ramai bocah-bocah sedang mengaji. Setelah sholat ashar saya diantar
ke simpang tiga. Sebagai tanda terimakasih saya memberikan uang pengganti
bensin Rp 20.000,-
Hari sudah
sore. Saya kembali naik angkot menuju
Pasar Raya sebagai titik sentral, sambil berpikir di mana malam ini saya
menurunkan ransel lalu istirahat tidur?.
Dicurigai Teroris!
Hari
makin sore. Beberapa pedagang pasar mulai membereskan dagangannya. Sementara
pedagang lain baru membuka lapaknya untuk pasar malam, seperti pedagang
makanan, cd bajakan, pakaian dan sebagainya. Saya menyempatkan berkeliling di
dalam pasar siapa tau menemukan sesuatu yang unik. Tak jauh dari pintu masuk
pasar ada warung tenda yang tampak ramai pembeli. Menunya soto padang dan es
cendol. Saya mampir dan memesan es cendol. Disajikan dalam mangkuk berisi es
cendol berwarna merah, ketan dan duren sebiji. Hemm.., daging durennya tebal
bercampur dengan bulir ketan..aneh tapi enaknya wuiih..! harganya Rp 6.000,-
Keluar
dari pasar sekitar 100 meter di tepi jalan
saya melihat warung soto Padang yang dipenuhi pelanggan. Enak kali ya?
Mampir akh nyobain sekalian makan malam, waktu
maghrib kan sebentar lagi datang. 1 porsi soto dalam mangkuk kecil
berisi potongan-potongan daging, babat yang sudah digoreng + perkedel kecil +
laksa + kerupuk merah + nasi sepiring. Sambelnya encer. Rasanya? Biasa saja
kalau tak ingin disebut tak enak. Tapi ramai ya? Apa lidah saya yang tidak
cocok? lidah terbiasa dgn Coto Makassar Heheheh…
Saya melanjutkanperjalanan dgn naik angkot, tak jauh. Turun di Masjid Nurul Iman. Masjid Nurul Iman berada di pertigaan Jalan Imam Bonjol dan Jalan MH Thamrin di pusat kota Padang.
Setelah mandi, sholat maghrib sampai Isya saya memutuskan untuk istirahat malam ini di koridor masjid. Ruang masuk ke mesjid ditutup. Saya hampiri seorang pemuda tampaknya pengurus masjid. saya sampaikan permohonan ijin untuk menginap di koridor masjid. Dia mempersilakan saya utk ijin ke marbot masjid. Dia mengantar saya ke sebuah bilik/paviliun di samping masjid. Pintu bilik sdh ditutup.

Anak itu setengah berteriak dgn logat Minang yg kental "Pak....Pak....ada orang mau ketemu, musafir, mau bermalam di masjid"
Dari dalam terdengar suara : "gak boleh!. Atau ijin dulu ke Pos Kodim!" Dalam hati busyeet ...saya dicurigai teroris. Menghormati bapak marbot yg tak nampak batang hidungnya saya jawab "Baik pak saya akan melapor, nanti saya ke sini lagi"
"kasi liat KTPnya dan periksa ranselnya ya"
Saya terperangah, sialan juga dia ngomong dari dalam, sama sekali gak memperlihatkan wajahnya. Gak sopan. Sabaaaar...
Saya melapor ke pos jaga Kodim yg jaraknya sepelemparan batu dgn masjid.
Di pos Kodim petugas jaga cuma menanyakan maksud dan KTP. Mereka gak memeriksa isi ransel saya. Malah saya yg mengajukan : Pak silakan periksa ransel saya, sesuai keinginan marbot masjid :)
Kembali ke mess marbot, saya teriak lagi depan pintunya bahwa saya sudah diijinkan Kodim. Marbot Almukarrom itu cuma mengiyyakan dari dalam kamarnya. Hanya terdengar suaranya yg cempreng, dia tetap tidak memperlihatkan memperlihatkan wajahnya. Mungkin dia terlalu mulia untuk bertemu dgn seorang pengembara avonturir.
Sekitar jam 22.00 suasana sepi banget, sudah sejam dua jam merebahkan diri, menjadikan ransel sbg bantalan kepala sambil membaca biografi Gus Dur biar cepet tidur tapi kok belum bisa merem. Suasana hening, sepi, area masjid yg luas, malam jumat pula bikin pikiran rada2 halusinasi. Tiba2 datang Bpk. Prada Nasrullah, Komandan Jaga Pos Kodim malam itu. Kami ngobrollah tentang tujuan, asal usul, tentang buku yg saya baca dan buku lain yg saya bawa (saya merasa dia menginterogasi saya secara halus). Beliau juga menyampaikan pandangannya terhadap Gus Dur. Ujungnya beliau menyampaikan kekhawatirannya kalau saya tidur di koridor masjid yg sangat sepi. Beliau menawarkan ke Mesjid Keling, katanya di situ sangat ramai apalagi ini malam jumat ada mudzakarah. Kalo di sana Bapak aman.
"Oh masjid Jamaah Tabligh ya Pak"
Saya ceritakanlah bahwa banyak teman saya yg di JT.
"Ok pak kalo begitu biar saya ke sana..."
"mari saya antar"
"gak usah pak, gampang.. nanti saya naik ojek"
Buku yang saya baca saya hadiahkan dengan ikhlas ke Pak Nasrullah. Beliau sangat senang.
Lagi nunggu ojek di tepi jalan MH Thamrin yang sudah sepi, tiba2 mendekat sebuah motor ternyata Pak Nasrullah.
"Ayo saya antar.. saya biasa ikut mudzakarah di sana cuma sekarang lagi tugas"
Alhamdulillaaah, hari ini Allah sudah mengirim 2 org baik untuk menolongku. Allah punya skenario...
Masjid Keling malam itu sangat ramai dengan jamaah tabligh, tak ada space yg tak terisi jamaah. Saya 'dapet' tempat di emperan sisi trotoar parkiran motor. Lumayan buat istirahat baring di atas tikar yg sdh tersedia.

Anak itu setengah berteriak dgn logat Minang yg kental "Pak....Pak....ada orang mau ketemu, musafir, mau bermalam di masjid"
Dari dalam terdengar suara : "gak boleh!. Atau ijin dulu ke Pos Kodim!" Dalam hati busyeet ...saya dicurigai teroris. Menghormati bapak marbot yg tak nampak batang hidungnya saya jawab "Baik pak saya akan melapor, nanti saya ke sini lagi"
"kasi liat KTPnya dan periksa ranselnya ya"
Saya terperangah, sialan juga dia ngomong dari dalam, sama sekali gak memperlihatkan wajahnya. Gak sopan. Sabaaaar...
Saya melapor ke pos jaga Kodim yg jaraknya sepelemparan batu dgn masjid.
Di pos Kodim petugas jaga cuma menanyakan maksud dan KTP. Mereka gak memeriksa isi ransel saya. Malah saya yg mengajukan : Pak silakan periksa ransel saya, sesuai keinginan marbot masjid :)
Kembali ke mess marbot, saya teriak lagi depan pintunya bahwa saya sudah diijinkan Kodim. Marbot Almukarrom itu cuma mengiyyakan dari dalam kamarnya. Hanya terdengar suaranya yg cempreng, dia tetap tidak memperlihatkan memperlihatkan wajahnya. Mungkin dia terlalu mulia untuk bertemu dgn seorang pengembara avonturir.
Sekitar jam 22.00 suasana sepi banget, sudah sejam dua jam merebahkan diri, menjadikan ransel sbg bantalan kepala sambil membaca biografi Gus Dur biar cepet tidur tapi kok belum bisa merem. Suasana hening, sepi, area masjid yg luas, malam jumat pula bikin pikiran rada2 halusinasi. Tiba2 datang Bpk. Prada Nasrullah, Komandan Jaga Pos Kodim malam itu. Kami ngobrollah tentang tujuan, asal usul, tentang buku yg saya baca dan buku lain yg saya bawa (saya merasa dia menginterogasi saya secara halus). Beliau juga menyampaikan pandangannya terhadap Gus Dur. Ujungnya beliau menyampaikan kekhawatirannya kalau saya tidur di koridor masjid yg sangat sepi. Beliau menawarkan ke Mesjid Keling, katanya di situ sangat ramai apalagi ini malam jumat ada mudzakarah. Kalo di sana Bapak aman.
"Oh masjid Jamaah Tabligh ya Pak"
Saya ceritakanlah bahwa banyak teman saya yg di JT.
"Ok pak kalo begitu biar saya ke sana..."
"mari saya antar"
"gak usah pak, gampang.. nanti saya naik ojek"
Buku yang saya baca saya hadiahkan dengan ikhlas ke Pak Nasrullah. Beliau sangat senang.
Lagi nunggu ojek di tepi jalan MH Thamrin yang sudah sepi, tiba2 mendekat sebuah motor ternyata Pak Nasrullah.
"Ayo saya antar.. saya biasa ikut mudzakarah di sana cuma sekarang lagi tugas"
"Terimakasih Komandan !"
![]() |
| tidur di emperan Masjid Keling Padang |
Masjid Muhammadan atau populernya Masjid Keling adalah salah satu masjid tertua di Indonesia (th 1843) sekaligus cagar budaya yang terletak di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat. Masjid ini merupakan masjid peninggalan sejumlah Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1843. Masjid dengan arsitektur bercorak India ini berada dalam kawasan Kota Tua Padang, yakni kawasan sehiliran Batang Arau di sekitar pelabuhan Muara.
Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang. Masjid ini berada di Jalan Pasa Batipuh yang berdiri berjejer mengikuti rangkaian bangunan tua di sepanjang jalan tersebut.
Saat ini selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid berlantai tiga ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar, bahkan juga menjadi salah satu daya tarik wisata terkenal di Kota Padang.
Bersiap melanjutkan langkah ke Bukit Tinggi besok fajar...terus melangkah bersama takdir Ilahi..sekian kabupaten, sekian surau, sekian desa/nagari, sekian angkot/bus sampai ke Istana Maimoon Tanah Deli...
Jam 03 dinihari saya bangun mandi, ikut itikaf sambil menunggu subuh. Pagi setelah sarapan lontong (Rp 6000K) di warung yg tak jauh dari masjid saya lanjut berjalan kaki menuju jalan besar, naik angkot (Rp 3000K) ke pool mobil travel dan melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi dgn minivan (Rp 20.000K).
Padang merupakan salah satu gerbang untuk memulai menjelajah wilayah Sumatera Barat, Padang – Bukittinggi memiliki jarak sekitar 96 Km.
Waktu tempuh perjalanan dalam kondisi normal dapat di tempuh sekitar 2,5 jam, dengan kecepatan kendaraan rata-rata 40 Km, jika perjalan di saat hari libur atau di akhir minggu biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 3 – 3,5 Jam, hal ini dapat di sebabkan kondisi jalan yang sangat ramai, atau terjadinya longsor di beberapa daerah yang rawan longsor seperti di Lembah Anai.
Dari Padang ke Bukittinggi, melewati beberapa kabupaten dan kotamadya, selepas kota Padang memasuki kabupaten Padang Pariaman, ini merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan kota Padang.
Selanjutnya memasuki Kota Padang Panjang, di perbatasan Padang Pariaman dan Padang Panjang, terdapat daerah yang terkenal dengan jajanan telur asin, yaitu daerah Sicincin. Penjual telur asin dapat kita jumpai depan terminal daerah Sicincin dan dekat masjid yang digunakan kendaraan pribadi untuk istirahat sambil melakukan ibadah di pinggir jalan raya Padang-Bukittinggi.
Melewati Lembah Anai kita dapat melihat lintasan kareta api peninggalan jaman kolonial Belanda yang dulu di gunakan sebagai transportasi membawa batu bara dari daerah Sawahlunto ke Kota Padang.
Menikmati landscape atau pemandangan dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Merapi dari sisi barat.View dua gunung ini menjadi salah satu pemandangan yang sangat menarik sepanjang perjalanan dari Padang Panjang menuju Bukittinggi. Sangat indah !
Turun di terminal Aur Kuning saya langsung naik angkot ke ikon Bukit Tinggi yaitu Jam Gadang lalu lanjut ke :
1. Masjid Raya
2. Taman Panorama Rp 3K
3. Taman Margasatwa Rp 5K
4. Ngarai Sianok
5. Lobang Jepang + Guide lokal Rp 30K
|
Setelah mengikuti sholat jumat dan menikmati keaslian Nasi Kapau di Pasar Atas kembali saya mengeksplor beberapa destinasi wisata Bukit Tinggi.
|

![]() |
| Tempat penyiksaan tahanan Pejuang |
| Benteng Fort De Kock |
| Museum Hatta |

![]() |
| Ngarai Sianok |
| Taman Panorama |
| Pintu masuk Taman Margasatwa |
Tak terasa hari sudah mulai sore, mulai mikir nginap di mana ? Saya kembali ke terminal Aur Kuning. Dari deretan angkot parkir dengan berbagai jurusan, saya kok tertarik melihat jurusan ke Sungai Sariak. (pikirku pasti dekat sungai) Saya naik saja. Sudah sejaman angkot berjalan, penumpang satu-dua sudah turun sampai tinggal saya.
"Bapak turun di mana?" tanya sopir.
"sampai ujung saja"
"ini sudah habis pak, mau muter balik, Bapak itu mau ke mana?"
"mau cari sodara di desa Sariak" jawabku sekenanya
"Ya sudah turun di sini saja Uda..tks"
"Assalamualaikum...permisi Bu, kalo mau ke mesjid terdekat di sini di mana bu?"
"Di dalam (desa) pak, lumayan jauh" jawabnya dgn logat Minang yg kental.
"Maaf Bu, kalo naik ojek kira2 brapa?"
Setelah tau "harga normal" saya baru ke pangkalan ojek....hehehe daripada kena scam?
Ojek menurunkanku di depan masjid Syuhada, saya membayar ojek Rp 10K.
view dari depan Masjid Syuhada, sawah menguning dgn latar lereng Gunung Singgalang
| Masjid Syuhada tampak dari bukit |
Dalam buku “Masdjid dan Makam Doenia Islam”, cetakan Balai Poestaka–Weltevreden tahun 1926 memuat foto serta komentar singkat sebagai berikut: “Inilah seboeah lagi masdjid jang didirikan mendoeroet matjam baroe. Masdjid Sarik ini boekan boeatannja sadja jang bagoes, tetapi letaknja djoega, disisimata air jang besar, di lereng goenoeng Merapi, berpemandangan bagoes ke kaki goenoeng Singgalang dan ke Fort de Kock. Menaranja jang tjantik itoe soedah roboh tatkala gempa boemi jang terdjadi dengan takdir Toehan di Soematera Barat”.
ALLAHU AKBAR ! tak hentinya saya mengucapkan syukur bisa sampai ke sini.
Salah satu masjid tua di Sumbar ini didirikan pertama kali tahun 1800-an. Semula bangunannya terbuat dari kayu kemudian diganti dengan tembok. Meski masjid ini berlantai dua, namun tidak menggunakan kerangka besi. Bahan perekatnya bukan pula semen, melainkan dari kapur sirih yang dicampur dengan pasir. Seperempat abad setelah berdirinya masjid, tahun 1926 gempa bumi vulkanik dengan kekuatan 6,5 SR, yang terkenal dengan gempa Padang Panjang, menggoncangkan seluruh bangunan di sekitar Gunung Merapi. Ajaibnya, bangunan masjid tersebut tidak mengalami apa – apa, kecuali menara masjid yang mirip dengan menara masjid Kudus roboh separohnya. Pada sisa bangunan menara, dibangun saja kuncup atap seperti sebelumnya. Sehingga tinggi menara tidak lagi setinggi pertama sekali dibuat. Kubah baru tanpa menggunakan pipa besi untuk penyangganya. Untuk perekat tembok masih menggunakan kapur sirih. Masjid lama berarsitektur asli dengan bentuk atap punden berundak.
Di masjid saya berkenalan dengan Bang Ijan, seorang pemuda usia sekitar 26 tahun. Ba'da sholat Isya ia mengajak saya nginap di rumahnya. Mungkin rasa kemanusiannya yg tinggi gak tega melihat seorang pengembara sendirian di masjid. Biasanya kalo ada "tawaran" dari orang asing, feeling dan intuisi saya langsung bekerja cepat untuk membaca situasi apakah ini sebuah peluang atau ancaman? Saya memutuskan menerima tawaran Ijan. Di tengah kegelapan desa
di lereng Singgalang yang listriknya bersumber dari sebuah mesin genset kecil karenanya penerangan sangat terbatas, kami berjalan, saya agak terseok-seok krn belum beradaptasi dgn lingkungan.
Di depan rumah gubuk Ijan anjing2 pemburu miliknya menyalak dg liur menetes. Gilak, aku merinding.
Rumah berdinding kayu dan gedek ini cukup besar layaknya rumah di kebanyakan desa. Bang Ijan tinggal sendiri. Ruang dapur dgn tungku kayu bakar, kamar mandi/WC terletak di samping dengan penyekat pintu ke ruang tamu/keluarga dengan kamar berderet 3. Kamar pertama adalah kamar Bang Ijan, Kamar kedua kamar kosong dulunya ditempati nenek Bang Ijan (kabarnya sudah lama ke Jakarta dan tak pulang). Kamar paling ujung kosong, bekas kamar orangtua Ijan yang sudah meninggal. Malam itu Ijan memanggil Uwaknya yang tinggal tak jauh dari rumah Ijan, untuk menyiapkan makan malam mendadak
Sebetulnya dari masjid tadi saya mengajak Ijan untuk makan ke warung, tapi kata Ijan di sini gak ada warung, harus ke kota kecamatan naik motor.
Uwak Bang Ijan memasak : sayur tumis, goreng telur, ikan asin. Uwaknya sudah lebih dulu balik sebelum kami makan. Kami makan bertiga dengan ponakan Ijan (putera Uwaknya). Saya makan sangat lahap, emang lapar siih..mana dingiiin :)
Ya Allah, untuk kesekian kalinya Engkau mendatangkan penolong bagiku. Pengembara kere yang selalu bersyukur dan hanya takut pada-Mu.
Selesai makan dan ngobrol Ijan dan ponakannya izin meninggalkan rumah untuk musyawarah dengan teman2nya sesama penggerak PNPM Mandiri. Sebelum pergi ia menunjuk kamar tengah untuk istirahat (kamar nenek). Kamar nenek berukuran sekitar 2.5 x 3.5 berisi 1 ranjang besi jaman doeloe + kelambu, lemari pakaian dan tumpukan barang2 lama spt kasur, selimut dsb. Dinding kamar dari papan dan langit2 tanpa plafon.
Tinggallah saya sendiri di rumah dengan penerangan hanya satu buah lampu bohlam 10 Watt dengan cahaya kuning (warm light) di ruang keluarga. Oh my God! Horor banget ini mah... :( Saya ke belakang mengendap-endap utk berwudhu lalu sholat di ruang keluarga depan jendela kaca tanpa gorden. Di luar sana gelap gulita dan lolongan anjing.
Saya masuk kamar nenek merebahkan diri di ranjang besi. Setiap tubuhku bergerak ranjang berderit-derit. Saya memandang atap rumah, mata seperti tak mau berkedip. Imajinasiku berkembang liar dan menakutkan. Di sebelahku kamar alm. oragtua Ijan. Kosong. Sebelah lagi kamar Ijan. Kosong. Di luar suara anjing2 pemburu sesekali masih menyalak dan melolong sedih di kandang. Apakah "ada yang dilihatnya?"
Ini bener2 uji nyali. Saya berharap Ijan segera pulang. Tapi sampai jam 1 malam Ijan tak kembali (ternyata dia memang nginap di rumah temannya dan baru balik pagi).
Sekitar jam 2 malam panggilan rutin pipis datang. Kukuatkan iman dan mentalku, ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi. Tak bisa kuhindari. Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Saya ke ruang belakang yg gelap gulita, tanganku meraba-raba mencari tombol lampu. Adrenalinku mengalir bergerak cepat. Lama kucari, kuraba..alhamdulilah akhirnya kutemukan juga.
Lega. Selesai menunaikan hajat aku mengintip ke luar jendela. Gelap. Daun2 bergerak ditiup angin Singgalang. Aku kembali ke ranjang. Aku tak menurunkan kelambunya, rasanya malah bikin tambah teringat Suzana. Aku tidur2 ayam menunggu subuh.
Mampir ke Rumah Buya Hamka
GO Danau Singkarak
Uda Edi memacu motor Astreanya menuju Danau Singkarak yang berjarak 98 Km melalui jalan Padang Lua, melewati Tanjung Barulak.
Menjelang jam 5 saya sudah di Terminal Aur Kuning. Menunaikan upah Uda Edi Rp 100K. Thankyou Uda. Nih kartu nama saya, kalo ke Jakarta main ke tempat saya ya....
Selesai makan dan ngobrol Ijan dan ponakannya izin meninggalkan rumah untuk musyawarah dengan teman2nya sesama penggerak PNPM Mandiri. Sebelum pergi ia menunjuk kamar tengah untuk istirahat (kamar nenek). Kamar nenek berukuran sekitar 2.5 x 3.5 berisi 1 ranjang besi jaman doeloe + kelambu, lemari pakaian dan tumpukan barang2 lama spt kasur, selimut dsb. Dinding kamar dari papan dan langit2 tanpa plafon.
Tinggallah saya sendiri di rumah dengan penerangan hanya satu buah lampu bohlam 10 Watt dengan cahaya kuning (warm light) di ruang keluarga. Oh my God! Horor banget ini mah... :( Saya ke belakang mengendap-endap utk berwudhu lalu sholat di ruang keluarga depan jendela kaca tanpa gorden. Di luar sana gelap gulita dan lolongan anjing.
Saya masuk kamar nenek merebahkan diri di ranjang besi. Setiap tubuhku bergerak ranjang berderit-derit. Saya memandang atap rumah, mata seperti tak mau berkedip. Imajinasiku berkembang liar dan menakutkan. Di sebelahku kamar alm. oragtua Ijan. Kosong. Sebelah lagi kamar Ijan. Kosong. Di luar suara anjing2 pemburu sesekali masih menyalak dan melolong sedih di kandang. Apakah "ada yang dilihatnya?"
Ini bener2 uji nyali. Saya berharap Ijan segera pulang. Tapi sampai jam 1 malam Ijan tak kembali (ternyata dia memang nginap di rumah temannya dan baru balik pagi).
Sekitar jam 2 malam panggilan rutin pipis datang. Kukuatkan iman dan mentalku, ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi. Tak bisa kuhindari. Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Saya ke ruang belakang yg gelap gulita, tanganku meraba-raba mencari tombol lampu. Adrenalinku mengalir bergerak cepat. Lama kucari, kuraba..alhamdulilah akhirnya kutemukan juga.
Lega. Selesai menunaikan hajat aku mengintip ke luar jendela. Gelap. Daun2 bergerak ditiup angin Singgalang. Aku kembali ke ranjang. Aku tak menurunkan kelambunya, rasanya malah bikin tambah teringat Suzana. Aku tidur2 ayam menunggu subuh.
Pagi cerah aku mengitari
dusun sariak di lereng gunung Merapi Singgalang ditemani Ijan, bkn mbah Marijan yak ?! bang ijan
anak muda peladang juga Kordinator PNPM Mandiri.
Profil Bang Ijan
| Rumah besar2 tapi kosong ditinggal merantau. Sepi. |
Jam 09.00 saya menyewa Ojek teman Ijan untuk mengantarku ke Danau Maninjau, Museum Hamka, Danau Singkarak dan berakhir di terminal Aur Kuning.
Saya pamitan dengan Ijan dgn ucapan teriimakasih yg sebesar-besarnya dan berharap suatu ketika bertemu kembali. Saya memberikan kartu nama dan berharap kalau ke Jakarta menghubungi saya. Alhamdulillah indahnya silaturahmi.
Ojeker Danau Maninjau
| Uda Edi dari Nagari Sariak, Ojek spesial |
Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibu kota Sumatra Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam.
Danau Maninjau merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera dari letusan besar gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km3 material piroklastik. Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatra yang bernama gunung Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m (Verbeek, 1883 dalam Pribadi, A. dkk., 2007).
Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.
Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Sri Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.
Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatra Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.
| Danau Maninjau di bawah sana... |
GO Danau Singkarak
| Tanjung Barulak |
Danau Singkarak adalah destinasi wisata alam yang menarik perhatian para pengunjung saat bertandang ke Sumatra Barat. Danau terbesar di Sumbar ini menyimpan banyak cerita menarik. Utamanya ada kisah turun temurun di kalangan masyarakat sekitar danau.
Salah satunya cerita terowongan yang menghubungkan Danau Singkarak ke Danau Maninjau. Sulit memang jika dicerna dengan logika. Hingga kini, belum satu pun penemuan yang bisa membuktikan keberadaan terowongan tersebut.
Cerita terowongan ini sering dikaitkan dengan keberadaan Tangga Batu Basurek di dasar Danau Singkarak yang diyakini berada di Sumpur Kudus. Cerita mistis ini tidak sepenuhnya diamini masyarakat setempat.
Bersama 2 orang bekpeker
dari Denmark terjebak akal2an calo terminal. Tiket tujuan Parapat Toba dengan bus ALS kok
sekarang dioper ke mobil travel (Grandmax) dan tambah duit pula. Alasannya Bus lama, dengan van lebih cepat sampai ke Toba. Janji berangkat jam 17.. skr? sdh jam 18 too late! tu lalit
khas Melayu...
Mobil travel keluar terminal menuju Toba? Belum! kami diturunkan di pinggir jalan raya Bukit Tinggi Km. 5 di sebuah warung Sanjay, warung oleh2 Minang. Lalu van kembali ke kota menjemput penumpang.
Sejam dua jam berlalu van belum balik jua. Saya tercenung di warung
sanjai .. Kapan jalan? tiba2 rasa kangen menjalar..kangen my sweet heart: aini,
dhea n diva...i luv u all!
| baring2 dibawah display keripik sanjay |
Bad news bikin mengkal, hampir jam 22 ..jam
segini belum jg berangkat? uang transport mereka sudah terima..tersandra deh, si bule sdh ngomel2 piye
to? sabar mister..ini sudah skenario-Nya ! (menghibur diri gue).
Akhirnya jam 22 van muncul membawa penumpang tambahan 2 gadis bule dan 1 pribumi.
Kami meluncur ke Rantau Parapat bersama 4 bule: Skotlandia, England, Denmark. Duduk di kursi paling belakang bersama mereka. Kami kenalan, akuh jadi Tarzan euy!..
To be continued...
| 5 backpacker senasib sepenanggungan dalam berbagai tantangan di perjalanan menuju Toba |
ANDALAS UNDERCOVER Ep. 2
ANDALAS UNDERCOVER Ep. 1
Reviewed by Sofyan Saleh
on
September 20, 2017
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
September 20, 2017
Rating:
































Tidak ada komentar