SEKILAS PANDANGAN DUNIA
Kebahagiaan seringkali datang kepada kita saat keadaan kita
biasa-biasa saja, tidak bergelimang juga tidak kekurangan. Ini sangat
memungkinkan bila 'pandangan dunia' kita benar.
Dalam filsafat ada dua jenis
pandangan dunia; Spiritual dan Material.
Kedua jenis pandangan dunia ini menentukan arah gerak, langkah,
perilaku dan sikap bagi individu dan masyarakat. Pandangan dunia spiritual dan
material, dalam catatan sejarah telah melahirkan banyak ideologi-ideologi.
Pandangan dunia spiritual melahirkan ideologi yang bersifat universal,
sementara pandangan dunia material melahirkan ideologi yang bersifat kelas.
Bila seseorang memandang dunia ini secara spiritual,
kecenderungannya ia akan melihat segala sesuatu dari sisi esensi atau kedalaman
hakikatnya. Bagi ia, kesempurnaan dan kebahagiaan sejati manusia adalah meniti
tangga-tangga keimanan, menapaki maqam-maqam spiritual, berkorban bagi sesama
demi sampai kepada Sang Dambaan.
Sebaliknya, bila seseorang berpandangan material semata, maka
yang ia lihat berupa hal-hal yang kasat mata saja. Kesempurnaan dan kebahagiaan
menurut orang-orang materialis adalah berupa kepemilikan terhadap benda-benda
atau obyek-obyek. Menurut pandangan ini, semakin sejahtera dan semakin besar
penghasilan seseorang maka semakin bahagialah seseorang itu. Pandangan ini yang
paling banyak dianut oleh individu, masyarakat dan kebanyakan negara.
Tetapi keadaannya tidak demikian, sebab kebahagiaan itu bersifat
internal (di dalam diri) bukan karena faktor-faktor eksternal. Dalam banyak
kasus kita melihat, orang-orang yang bergelimang harta tetapi hidupnya banyak
masalah, bahkan masalah sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mereka
berputar-berputar dalam malasah tanpa menemukan ketenteraman sejati. Ketika tertimpa
sedikit saja masalah, seringkali mereka tidak bisa bersabar atau tenang.
Kegelisahan, kecemasan, riuh rendah kehidupan telah mengisi ruang-ruang di
relung hati mereka.
Seringkali mereka tidak mempercayai dampak kebahagiaan dari
sebuah religiusitas, pengorbanan, altruisme, moral, ikhlas, jujur, rendah hati,
kesederhanaan dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Karena segala sesuatu
di lihat dari aspek kesempurnaan lahiriahnya, sudah barang tentu mereka tidak
akan menikmati kelezatan hidup sederhana, yang tidak terikat dan melekat pada
apa pun.
Seperti yang dikatakan Imam Ali Kw :
"Zuhud bukanlah kau tak boleh memiliki sesuatu, melainkan
tak sesuatu pun boleh memilikimu."
Sebaliknya, orang-orang yang begitu akrab dan kehidupannya
bernuansa spiritual-Ilahiah, mereka tidak terjebak pada kelas-kelas borjuasi
dan proletarian. Bagi mereka sama saja, sebab bagi mereka yang membedakan
seseorang dengan yang lainnya adalah maqam atau kedekatan dengan Sang Maha
Kuasa. Karena yang ingin mereka raih itu adalah hal yang begitu besar, yakni
Sang Maha Besar, maka mereka seringkali mencukupkan diri dengan 'merasa puas
hati.' Tetapi mereka akan bersedih bila Sang Kekasih jauh dari hati mereka.
Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali Kw:
"Tidak ada yang membedakan satu manusia dengan manusia
lainnya, kecuali keimanan dan ketakwaan."
Kehidupan orang-orang
spiritual, cenderung sederhana, karena mereka tidak tertarik kepada selain-Nya,
juga tidak terikat kepada selain-Nya, bahkan dengan kesederhanaan-kesederhanan
itu mereka mampu mengendalikan keadaan sedemikian rupa hingga mereka
betul-betul menemukan ketenteraman dalam kesedehanaan hidup.
![]() |
| Masjid Raya At Taqwa Tasikmalaya & Masjid Raya Baiturrahman Aceh |
#anggrekjingga
#untukIslamyangSatu
E N D
#untukIslamyangSatu
E N D
SEKILAS PANDANGAN DUNIA
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Februari 24, 2018
Rating:











Tidak ada komentar