MUHAMMAD MANUSIA BIASA ?
Apakah Muhammad manusia biasa
atau manusia luar biasa? Pertanyaan ini mungkin klise bagi sebagian orang,
namun dua opsi ini masing-masing meniscayakan konsekuensi teologis yang sangat
krusial.
Asumsi menyikapi agama, menerima
atau menolaknya.
Asumsi pertama: Pembawa
agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia biasa, yang berbuat salah dan
kadang lupa. Karena itu, sebagian ajarannya tidak bisa mutlak diterima dan
diterapkan, bahkan perlu dikoreksi dan diganti dengan pandangan-pandangan lain
yang dinilai lebih logis dan relevan.
Asumsi kedua:
Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal agama adalah manusia biasa. Karena biasa
(salah dan lupa), maka ajarannya biasa (salah dan lupa). Karena ajarannya
(biasa) bisa salah dan lupa, maka ajaran Tuhan yang benar tidak bisa
disampaikan. Karena tidak bisa disampaikan ke manusia, maka tidak ada agama
yang bisa diterima.
![]() |
| sholat berjamaah 2 kelompok yg berbeda |
Kelompok pertama, yang meyakini pengawal agama dan penyampai sebagai manusia biasa alias pasti berbuat salah dan lupa, menerima sepenuhnya “menu biasa” itu tanpa sedikitpun menolak atau paling tidak merevisinya agar menjadi “luar biasa”, karena memang tidak menyadari atau memang mengabaikan kritisisme. Lebih dari itu, kelompok ini menganjurkan semua kelompok untuk mengambil dan meniru pilihan menunya dengan mengerek bendera “back to origine” (alias kembali ke “salaf”).
Tidak hanya berhenti disitu,
kelompok ini memunculkan sejumlah doktrin penunjang demi memproteksi AD/ARTnya
dengan mengharamkan dan menyesatkan kelompok-kelompok lain, terutama yang
cenderung rasional dan filosofis sebagai sesat, kafir dan sejumlah atribut2
lainnya yang dijadikan sebagai palu vonis melalui kampanye dan propaganda
ekstensif dan sistematis.
Apa lacur? Karena terlanjur
memposisikan logika dan rasio sebagai musuh nomer satu, kelompok ini
menafsirkan teks-teks ayat dan riwayat metaforis secara skriptural dan literal,
terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan heran bila mereka menafsirkan
“istawa ala al`arsy” sebagai “nongkrong di atas singgasana”. Selain tidak perlu
diherankan, penafsiran mereka yang visual dan fisikal terhadap Tuhan tidak
patut disalahkan, karena ia hanyalah konsekuensi dari sebuah pandangan
fundamental, yaitu bahwa pengawal agama dan perantara Tuhan dengan manusia
tidak lebih dari ordinary man.
Keganjilan masih berlanjut.
Akibat dari pilihan nekad ini, sikap dan cara mereka menghadapi tema-tema
mutakhir, teristimewa fenomena-fenomena modernitas, benar-benar menggelikan
sekaligus menyeramkan. Karena kecanduan “visualisasi”, mereka menyatakan perang
terhadap segala sesuatu yang bersifat esoterik, mistik, abstrak dan, tentu saja
semua yang beraroma tasawuf. Siapapun yang menyimpan apresiasi terhadap
tasawuf, apalagi menjadi member ordo atau tarekat akan dibungkus oleh kelompok
“kacamata kuda” ini dalam karung “sesat” dan “bid’ah”.
Dan karena hampir selain
mereka, dianggap teridentifikasi virus bid’ah, sesat dan syirik, harga darah
kelompok lain di mata kelompok ini tidak terlalu mahal alias “biasa”. Kelompok
ini dengan bekal “agama biasa” melakukan segala aksi pemusnahan, pembunuhan dan
paling ramah, penyesatan, hanya dengan satu alasan amar makruf dan nahi munkar,
yang lagi-lagi ditafsirkan secara “biasa”. Karenanya, pengkafiran sesama muslim
pun menjadi kebiasaan. Ini semua karena “biasa”.
Kelompok kedua yang sejak
semula menganggap pewarta wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan
lupa, menerima Islam sebagai “agama biasa”.
Kelompok ini secara terbuka
mengusung jargon “Islam Liberal”. Liberalisme semula adalah sebuah ideologi,
pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa
kebebasan adalah nilai politik yang utama. Digunakanlah kata ini demi
menegaskan pandangan yang menolak apa yang disebutnya dengan “sakralitas” atau
“sakralisasi”, “kultus”, “otoritas teks” seraya mengumandangkan dekonstruksi,
lokalisasi, dan kontekstualisasi sesuai dengan mainset pandangannya.
Gagasan-gagasan kritis kelompok
ini hampir tidak pernah mengalami kemajuan. Setiap tokohnya hampir
mengulang-ulang lontaran tentang isu-isu langganan, semacam kritik terhadap apa
yang disebutnya “bias gender” dalam hukum waris, poligami dan semacamnya dalam
teks-teks suci, al-Qur’an dan Hadis. Menurut Haidar Bagir, tak sulit untuk
mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran tokoh-tokoh JIL, termasuk di
dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid
al-Syari’ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular. Ringkasnya, tidak ada
yang benar-benar fresh sebagai gagasan yang layak untuk menyita perhatian
dunia.
Sebagian besar pengkritik,
antara lain Haidar Bagir, mempersoalkan metdologi dan landasan epiostemologis
yang digunakan kelompok ini.
![]() |
| Ulil Abshar Abdala |
Karena itu, menurutnya,
Muhammad saw sebagai seorang politikus tidak harus ditiru kebijaksanaannya.
Pandangan ini menjadi biang bagi seluruh gagasan-gagasan kritis yang menuai
kontroversi.
Menurut kelompok ini, karena
Muhammad adalah manusia biasa, maka ia tidak imun dari pengaruh di luar wahyu,
dan karena itu, kebijaksanaannya selama di Madinah sangat dikondisikan oleh
konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”
Bila dikaji lebih runut, sumber
persoalannya adalah irasionalitas pandangannya tentang prinsip ketuhanan
(teologi) dan keberadaan (ontologi). Harus diakui, meski umat Islam sama-sama
meyakini Muhammad sebagai Nabi, namun landasan sikap dan keyakinan tentang
prinsip ini tidaklah melulu sama, terutama dalam detail penjabarannya.
Dalam ranah teologi Islam, kita
mungkin hanya mengenal “iman kepada Nabi”. Padahal dalam literatur Islam yang
di luar poros Mesir Sunni dan Saudi Wahabi (yang juga bisa disebut poros Islam
Arab, bagi yang hendak mencari-cari latarbelakang demografisnya), ada yang
memasukkan “iman kepada Nabi” sebagai bagian dari prinsip filosofis rasional
“iman kepada kenabian”. Ini mungkin bisa disebut sebagai pandangan Islam poros
Syiah plus representasi Islam non Arab. (Penyebutan aspek etnis “Arab” dan “non
Arab” kadang menjadi penting bagi kelompok ini karena isu “Islam lokal” yang
selalu digemborkannya).
Disarikan dari beberapa referensi @TGA Bookstore & sosmed
#lelakiPengikutAngin.Biru.Pantai.Kopi&Jeans
MUHAMMAD MANUSIA BIASA ?
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Januari 29, 2018
Rating:
Reviewed by Sofyan Saleh
on
Januari 29, 2018
Rating:












Tidak ada komentar